17 Sep 2009

“Aset Negara Sebagai Obor Peningkatan Perekonomian Negara Kreatif”







“Aset Negara Sebagai Obor
Peningkatan Perekonomian Negara Kreatif”


Resti Nurfaidah


Indonesia dikenal sebagai perhiasan di khatulistiwa. Jika kita mendengarkan kata “perhiasan”, tentu saja ingatan kita akan terkait dengan segala hal yang indah. Ya, Indonesia memang negeri yang indah dan berkilau dengan segala pernak-pernik yang berkilau di dalamnya. Tidak mengherankan banyak kuku-kuku tajam yang tergoda untuk menggaruk dan menggeruk keindahan negeri ini. Berbagai cara mereka lakukan untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga mereka, di antaranya dengan menyedot sumber daya alam dan budaya, serta mengklaim tanpa tedeng aling-aling benda-benda yang jelas-jelas bukan miliknya. Belanda telah lama ‘merampas’ sumber daya alam negeri ini berupa rempah-rempah dan hasil alam lainnya selama 350 tahun lamanya. Jepang menggeruk perut bumi pertiwi dan sumber daya manusia secara radikal selama seumur jagung, tiga setengah bulan. Namun, penggerukkkan tersebut tidak berlangsung saat itu saja. Beberapa lobi dunia luar kepada penguasa negeri ini, membuat mereka leluasa menghisap isi perut bumi ini tanpa pernah memberikan kesempatan kepada penduduk di sekitarnya untuk mencicipi kemakmuran. Kita dapat melihat kemegahan Freeport dengan kontrak ekslusifnya selama 50 tahun tanpa pernah memberikan pemberdayaan kepada penduduk sekitarnya. Bukan tidak mungkin kesenjangan sosial yang terlalu tinggi itulah yang kerapkali menyulut pemberontakan kepada perusahaan milik AS itu. Tingkat pendidikan yang rendah penduduk di sekitar perusahaan tambang raksasa itu, memudahkan orang-orang dari kalangan tertentu untuk memprovokasi emosi mereka.

‘Perampokkan’ aset negara saat ini lebih beragam. Bumi pertiwi telah kehilangan wilayah Timor-Timur, kini Timor Leste. Negeri ini juga telah kehilangan pulau Sipadan dan Ligitan. Sebelumnya Ambalat juga diklaim negeri tetangga serumpun. Well, bukan tidak mungkin ada ‘udang di balik batu’ di balik semua klaim itu. Ambalat, misalnya, merupakan surga minyak yang luar biasa. Pihak negeri jiran tampak seperti ketagihan untuk ‘berbuat ulah’ dengan berbagai cara untuk menarik perhatian masyarakat negeri ini maupun di luar negeri. Bahkan, terkadang ulah mereka seperti anak kecil, bermain petak umpet dengan aparat di lautan. Hal itu juga terekam dalam kamera tv. Tampaknya negeri jiran bangga dengan ulah itu.


Negeri jiran bukan saja mengklaim beberapa pulau di negeri ini. Beberapa karya seni tradisi Indonesia juga diklaim mentah-mentah oleh mereka sebagai milik bangsa mereka. Padahal, jelas-jelas seni tradisi tersebut milik bangsa kita. Bahkan, baru-baru ini, tarian pendet dari Pulau Bali juga diklaim sebagai aset negeri jiran. Masyarakat awam pun turut mempertanyakan mengapa tarian khas pulau dewata tersebut diklaim oleh mereka? Kita semua mengetahui dengan jelas bahwa di negeri Siti Nurhaliza tersebut tidak terdapat suku bangsa yang menyerupai kebudayaannya seperti di Bali. Sementara itu, wilayah Malaysia ada pula yang menempati wilayah Pulau Borneo. Jadi, wajarlah jika negeri Petronas itu turut menampilkan wakil suku bangsa itu dalam tayangan pariwisata mereka. Berbeda dengan tari pendet! Bahkan shooting tayangan tersebut dilakukan di pulau dewata sendiri. Ketika bumi pertiwi telah meributkan hal itu, dengan ringan wakil dari negeri jiran mengatakan bahwa terjadi kesalahan dalam proses editing! That’s so nice!

Masih banyak lagi hal-hal yang diklaim oleh negeri yang pernah menjadi negeri jajahan Inggris itu. Heboh reog Ponorogo, kuda lumping, rasa sayange, angklung, bahkan wayang kulit serta lagu “Terang Bulan”. Cara mengklaim yang mereka lakukan pun bermacam-macam. Reog Ponorogo mereka ubah namanya menjadi Tarian Barongan, meskipun reog asli berbentuk macan berbulu merak bukan naga. Latar kisah tarian itu juga mengalami sedikit perubahan. Lirik lagu “Rasa Sayange” mereka poles pada beberapa bagian. Bahkan, baru-baru ini, lagu “Terang Bulan” diketahui telah diganti liriknya menjadi lagu kebangsaan Malaysia. Ternyata, konon salah seorang musisi Indonesia yang lama tinggal di negeri jiran itu mengikuti sayembara pemilihan lagu kebangsaan Malaysia yang saat itu baru saja lepas dari kelompok persemakmuran Inggris. Ia mengikutsertakan sebuah karyanya yang berjudul “Terang Bulan” dalam sayembara itu. Ternyata ia memenangkan sayembara itu. Sejak saat itulah “Terang Bulan” berganti menjadi “Negaraku”.

Lain halnya pada pengklaiman kuda kepang atau kuda lumping. Malaysia tetap mengikutsertakan asal-asul kesenian itu, berasal dari Jawa. Jika pada satu seni tradisi mereka berani melekatkan latar asal-usulnya, mengapa pada seni tradisi yang lain tidak? Peristiwa perampasan yang bertubi-tubi tersebut menunjukkan bahwa si pelaku tidak memiliki jati diri. Sementara, negeri kita kaya akan bakal harta rampasan. Bumi pertiwi memiliki ribuan, bahkan mungkin jutaan, seni tradisi yang kelak-besar kemungkinan-satu persatu siap melayang ke negeri lain.
Sudah saatnya Indonesia berjaga-jaga dengan ketat untuk menghindari pencurian aset negara. Hal itu bukan saja menjadi tugas resmi pemerintahan yang berkuasa saat ini, melainkan pula tugas masyarakat seluruh Indonesia. Tahapan pengidentifikasian sudah selayaknya dilakukan dengan cepat dan akurat agar kita dapat memiliki daftar resmi seni tradisi serta aset lain yang resmi dimiliki oleh negeri ini. Jika tahapan tersebut telah dilakukan, kita harus memiliki hak paten pada aset bangsa itu. Hal itu perlu dilakukan agar kita mendapatkan pengesahan resmi dai pihak terkait. Sudah terlalu banyak aset negeri ini yang disabot orang lain. Selain seni Tradisi, beberapa perusahaan negara juga lari ke tangan asing.
Aset negara bukan hanya untuk dinikmati oleh pancaindera. Aset tersebut dapat dijadikan sebagai sarang sumber perekonomian kita. Berapa banyak minyak yang dapat kita jadikan sebagai pengisi pundi-pundi ekonomi kita. Banyaknya pakar-pakar yang unjuk kabisa di luar negeri perlu dibaiat untuk tidak menjual aset kita ke negeri orang. Bukan tidak mungkin banyak pakar yang tinggal di luar negeri memberikan beberapa aset negara dengan sadar tidak sadar. Kasus rasa sayange tidak jauh seperti itu. Salah seorang pakar musik Indonesia, membawa serta partitur “rasa sayange” beserta lagu lainnya ke negeri jiran. Kasus yang sama juga terjadi pada lagu “Terang Bulan” yang melayang begitu saja dalam sebuah sayembara. Ada pula beberapa projek strategis yang dilakukan oleh mahasiswa asal negeri ini dalam tesis dan disertasinya. Tugas akhirnya itu kelak akan tersimpan di negeri seberang dan menjadi milik mereka.
Seyogyanya, dalam setiap hal, negeri ini perlu dipagari dengan ‘pagar’ yang kokoh. Jangan biarkan sebuah celah tumbuh di dalam pagar itu. Indahnya tradisi di negeri ini merupakan magnet berdaya besar yang sanggup menjerat perhatian dunia. Jangan sampai magnet itu kehilangan bobotnya yang sudah ‘mantap’. Peristiwa yang berulang kali terjadi tersebut menandakan bahwa pemerintah maupun penduduk negeri ini masih bersikap ongkang-ongkang kaki. Keributan hanya terjadi dari mulut ke mulut dan tulisan tangan sang jurnalis. Pakar-pakar saling melempar pendapat dalam suatu forum. Sementara pihak yang terkait dalam peristiwa perampasan tersebut, terutama kasus tari pendet, tampak saling tuding dan cuci tangan. Dalam kasus ambalat, di sebuah stasiun televisi, kejar-kejaran di antara aparat kita di lautan dan tentara diraja Malaysia memperlihatkan kelemahan pengawasan di lautan.
Banyaknya bencana di negeri ini sudah memecah perhatian pemerintah kita. Meskipun begitu, penggalakkan ‘pagar’ rapat-rapat di sekeliling kita wajib dilakukan. Salah satu pagar yang dapat kita dirikan adalah pagar budaya. Warisan seni tradisi dari nenek moyang dapat kita wariskan kepada generasi penerus agar kuat rasa cinta tanah air dan rasa memiliki seni tradisi yang kuat. Kecenderungan derasnya arus globalisasi yang lebih menonjolkan pengiyaan pada budaya global mau tidak mau telah menggerus rasa nasionalisme di segala bidang. Budaya global yang cenderung menonjolkan hal-hal yang berbau lebih mudah dan lebih praktis cukup melunturkan minta generasi muda pada seni tradisi kita.
Upaya pemertahanan aset negara juga perlu dikaitkan dengan upaya pelestarian. Jangan sampai satu aset dipertahankan tanpa membiarkan terjadinya pengembangbiakkan kader-kader penerusnya. Jika pihak yang bertahan itu suatu saat menemui ajalnya, sama saja dengan membiarkan aset itu punah. Bukankah aset negara merupakan sumber kekayaan perekonomian negara. Bukankah turis asing tertarik karena aset yang terdapat di suatu lokasi wisata? Bukankah dengan kedatangan mereka pundi-pundi keuangan negara bisa menggembung?
Ya, upaya pemertahanan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Semua pihak yang berkepentingan harus berkolaborasi dengan baik agar ‘pagar’ yang didirikan kokoh sepanjang masa. Tentu saja, ‘pagar’ tersebut tidak untuk dibangun dan dilihat saja, melainkan juga patut diawasi dan dijaga sepanjang waktu. ‘Pagar’ tersebut harus disosialisasikan kepada penduduk negeri ini agar mereka bisa menunjukkan rasa memiliki terhadap aset tersebut. Jika rasa memiliki itu sudah kuat tertanam dalam diri warga negeri ini, tentu mereka bersama-sama tidak akan membiarkan celah-celah menganga di sekeliling pagar itu. Ideal sekali! Pasti! Tinggal praktiknya …!

(Resti Nurfaidah, penulis)

Referensi
http://www.antara.co.id/view/?i=1192104044&c=NAS&s=
http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/06/03/grf,20090603-169,id.html
http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=3362
http://dendemang.wordpress.com/2007/11/22/malaysia-klaim-reog-ponorogo/
http://www.google.com/search?ie=UTF-8&oe=UTF-8&sourceid=navclient&gfns=1&q=lagu+kebangsaan+malaysia

7 Sep 2009

PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA













PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA

Bandung, 5 September 2009

Saya diundang koordinator acara PEKAN KRIYA, FLP Jabar, untuk hadir menyaksikan acara pentas sastra sekaligus buka puasa bersama. Saya bersama suami hadir sebagai undangan awal sementara deretan kursi yang jumlahnya tidak seberapa masih kosong melompong. Setengah empat sore, acara yang dipandu oleh MC interaktif, Adew Habsta, segera dibuka dengan penampilan grup musik Sadasilung.
Sadasilung merupakan grup musik yang unik karena membawakan beberapa lagu rohani dengan kocak yang diiringi perpaduan alat musik tradisional dan modern. Personelnya cukup minim karena hanya tiga orang. Masing-masing memegang alat-alat yang dikuasainya. Satu orang memegang biola merangkap vokalis, satu orang memegang maraca atau suling merangkap vokalis, dan satu orang memegang kecapi merangkap vokalis. Lagu yang dibawakan adalah Puasa, Terjemahan Al-Ashr dalam bahasa Sunda, dan sebuah lagu yang saya lupa judulnya. Penampilan mereka cukup menghangatkan suasana sore yang masih lengang.
Penampilan kedua adalah pembacaan puisi oleh Heliana Sinaga, dramawan, sutradara, aktris, dan multitalenta lain yang dikuasainya. Ana, biasa ia akrab dipanggil, sore itu membawakan empat judul puisi, Minggu Pagi, Sajak Orang Tua, Kasidah Hujan, dan sebuah puisi yang saya lupa judulnya. Ana membawakan puisi itu dengan gaya yang kocak, terkadang mendesah hebat, atau menekan dahsyat.
Penampilan berikutnya adalah tarian Melayu yang dibawakan oleh Agitsyha Dance. Tarian yang lebih cenderung menampilkan gerakan bellydance dengan kostum yang berbau Cirebonan itu sempat menemui kendala saat lagu yang dituju tidak kadung muncul.
Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi oleh Syahreja Faisal dari komunitas ASAS, UPI Bandung. Beberapa puisi yang dibawakannya ditujukan kepada rekan-rekan yang sedang didera bencana gempa kemarin di kawasan Cianjur, kampung kelahirannya.
Pascapenampilan Reza, ditampilkan mnonolog yang dibawakan oleh salah satu ‘santri’ Rendra yang sempat ngendon lama di Bengkel Teater Rendra. Monolog yang disampaikan oleh Gusjur Mahesa itu berkaitan dengan kematian I dan II si burung merak itu. Monolog yang disampaikan itu pada keesokan paginya dimuat pada halaman suplemen Khazanah, edisi Minggu, 6 September 2009.
Pengisi acara yang tampil terakhir sebelum berbuka adalah grup band Ari KPIN. Beberapa lagu eksentrik ditampilkan dengan cukup memukau hingga menarik perhatian para pengguna Jalan Ir. H. Juanda.
Acara terakhir adalah berbukan puasa bersama. Acara seperti itu seharusnya bisa mendatangkan lebih banyak pengunjung. Mungkin promo yang lebih jor-joran harus dilakukan oleh panitia agar acara serupa bisa menjadi moment yang sukses.
Bravo buat FLP Jabar.

31 Agu 2009

UMPTN NUN JAUH DI SANA ...






Duuuuhh, kalau mendengar universitas seperti terbang ke alam mimpi. Sepertinya universitas itu gerbang menuju gengsi, kesuksesan, kebahagiaan, atau … mungkin bagi sebagian orang … kekecewaan. Ya, kuliah itu rasanya sekolah paling … wahhhh. Beda banget kalau kita mendengar seseorang yang lulus dan masuk institusi pendidikan berbasis ikatan dinas. Bagi sebagian kalangan mungkin tida juga sihhh.
Kuliah di perguruan tinggi merupakan sesuatu yang asing bagiku yang saat itu masih berseragam putih abu atau saat aku baru melepas si putih abu itu. Meskipun banyak saudara dan kerabat yang sudah berkuliah lebih dulu, tetapi aku tidak pernah terjun menyelami dunia kuliah mereka. Aku nggak bisa bayangin seperti apa sih yang namanya kuliah itu?
Ikut UMPTN 1991 waktu itu lebih merupakan satu keharusan bagiku. Dengan kata lain, lebih merupakan jalur tradisi untuk menembus gerbang perguruan tinggi. Ya, untuk aku yang nggak terlalu ngebet kuliah, lewat jalur resmi, jalur UMPTN ini tidak begitu menjadi andalan dalam hidupku. Berhasil … ya syukur, nggak juga nggak apa-apa tuh. Bagiku masih banyak jalan ke Roma! Oleh karena itu, aku tidak seperti teman-temanku yang lain yang memutuskan untuk mengikuti bimbel (bimbingan belajar) pada institusi yang beken sejak tahun pertama menginjak kelas tiga SMA. Aku hanya mengikuti paket kilat bimbel selama dua minggu pada sebuah institusi yang tidak begitu beken. Kebanyakan pesertanya pun berasal dari luar daerah yang notabene ketinggalan dalam pelajaran. Yang penting, ilmu dan teknik mengerjakan soal UMPTN bisa kudapat dengan mudah dan dalam tempo yang tidak terlampau lama.
Aku tidak terlalu berambisi untuk lolos UMPTN itu karena kupikir jalan menuju sukses tidak melulu melalui jalur masal itu. Apalagi aku tidak terlampau menggeluti bidang ilmu matematika dengan giat hingga tatkala mengerjakan soal pun aku cenderung hitung kancing, meskipun membuat orat-oret di kertas buram. Kalau soa pengetahuan umum, lumayanlah. Kebetulan aku agak kuat di bidang ingat-ingatan atau hafalan.
Aku tidak merasa heran dengan ketidakhadiran namaku dalam daftar kelulusan UMPTN di halaman surat kabar. Selintas aku masih dapat menayangkan bayangan wjah teman-temanku yang berada dalam satu kelas di tempat uji. Dia … dia … dia … lulus! Selamat! Ucapku dalam hati. Aku senang mereka bisa lolos lubang jarum.
Pasca UMPTN, aku mengikuti ujiian masuk program D3 di UNPAD. Jurusan yang kuikuti adalah prodi bahasa Inggris. Alhamdulillah, aku diterima. Aku merasa pas dengan seisi kelasku dan lingkunganku di sini. Barangkali, dalam hatiku, Allah telah membuka jalan bagiku. Enaknya ikut di program D3, kita dibekali dengan materi praktis karena program ini lebih ditujukan untuk dunia kerja. Nggak enaknya, kita hanya mendapatkan sedikit ilmu sastra yang sebenarnya sangat kuminati. Alhasil penelaahan sastra kulakukan secara otodidak. Lulus dari program tersebut, kuikuti kelas angkatan pertama program ekstensi. Alhamdulillah, di kelas ini teman-temanku semakin beragam. Bukan hanya dari kelasku yang sama, maupun kelas lainnya, melainkan berasal dari beragam jurusan dan latar belakang yang berbeda. Program ini lebih tampak sebagai kelas karyawan karena sebagian dari teman-temanku sudah bekerja, bahkan berusia hampir 50 tahunan. Keragaman latar belakang teman-temanku ini lumayan melebarkan wawasan dan jaringan relasiku.
“Kelas malam” ini kuselesaikan selama hampir 3 tahun karena aku sempat dilanda mogok hati. Heeee … heee …! Jatuh cinta sempat membuatku mogok makan … eh mogok nuntasin skripsi. Akhirnya, tiba-tiba semangat 45 pun muncul dalam diriku dan kugenjot penyelesaian skripsiku hingga akhirnya pada tahun 1997 aku lulus dan diwisuda. Aku percaya, Allah akan membuka jalan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Meskipun tidak berhasil, aku tidak jemu-jemu mengkopi dan melegalisir, dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. Berkali-kali aku gagal dalam melamar pekerjaan hingga akhirnya aku bertemu jodoh dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan menikah. Saat anakku menginjak usia dua tahun, aku diterima sebagai PNS di sebuah lembaga penelitian bahasa dan ditempatkan di Bandung. Di tempat inilah aku mendapatkan bekal yang lebih berharga dan tidak kudapatkan di bangku kuliah. Dengan kata lain, duni kerja telah mengembangkan hal-hal yang kudapat di bangku kuliah dan memperkaya hal-hal baru. Kemampuan menulisku jauh lebih meningkat di tempat ini. Alhamdulillah! Allah telah memberikan jalan yang terbaik bagiku.
Untuk teman-teman, tidak perlu merasa kecewa jika tidak dapat lolos dari lubang jarum UMPTN atau SMPTN. Kedua jalur masal itu bukan merupakan satu-satunya jalan untuk mengais sukses. Banyak jalan menuju Roma! Zaman internatan gini nggak perlu khawatir meraup jalan dan ribuan pilihan. Teman-teman bisa menelusuri situs sekolah-sekolah yang membuka jalur ikatan dinas. Lumayan dengan jalur itu, teman-teman bisa menimba ilmu dengan aman tanpa harus merogoh kocek besar. Namun, jangan lupa! Seleksi jalur tersebut sangat ketat dan berat. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa lolos. Adapula jalur yang menyuguhkan penggodokan minat dan sekaligus sebagai server lowongan kerja. Mengapa tidak! Banyak perguruan tinggi yang menyuguhkan program tersebut. Tidak sedikit lulusannya yang diterima di beberapa lembaga, baik swasta maupun negeri. Jalur apa pun yang teman-teman pilih dapat dijadikan sebagai pintu gerbang menuju sukses, selama senantiasa diiringi dengan kesungguhan, konsistensi tinggi, dan kemandirian yang lumayan besar. Dunia kerja itu keras, perlu mental baja. Kita harus memupuk ketahanan mental sejak duduk di bangku kuliah. Sedapat mungkin, kita bisa melakukan hal-hal lain di luar bangku kuliah. Eskul dan kerja sambilan juga dapat kita lakukan sebagai pelatihan pengembangan diri selama bisa diseimbangkan dengan jadwal perkuliahan kita.
Bukan tidak mungkin tanpa sempat mengikuti jalur UMPTN pun kita dapat meraup sukses. Banyak pengusaha sukses tanpa sempat mengenyam pendidikan di peguruan tinggi. Mereka mengembangkan diri melalui jalur dunia maya. Bakat yang terasah dengan baik disertai teknik marketing tinggi serta jaringan relasi yang seluas-luasnya justru menjadi pendongkrak kehidupan mereka. Mereka bisa hidup dengan mapan di usia yang masih muda.
Jalur masal seperti UMPTN atau SMPTN bukan satu-satunya jalan menuju sukses. Jika kelolosan tidak berpaling kepada kita, teman-teman tidak perlu khawatir dan takut untuk menceburkan diri ke dalam jalur alternatif. Siapa tahu, jalur alternatif yang terkadang kurang dilirik orang dan dianggap sepele bisa menjadi jalan penghantar menuju gerbang kesuksesan. Yang penting, teman-teman memiliki kemampuan yang dalam untuk mengenal diri sendiri. Ya, itu penting karena mengenal diri sendiri dapat menjadikan teman-teman peka terhadap segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri sendiri. Nah, dengan mengenal hal-hal seperti itu, selanjutnya, teman-teman dapat mengukur diri. Dengan kemampuan atau kelebihan serta kekurangan yang ada dalam diri kita, apakah kita bisa mengembangkan hal itu di bangku kuliah yang lumayan lama? Jika tidak, bukan lebih baik kita segera mengasah kelebihan kita di tempat yang lebih menyuguhan penggodokan praktis daripada teoretis? Menentukan ukuran kemampuan pun perlu dilakukan untuk melakukan langkah selanjutnya. Setelah kita merasa yakin dengan ukuran yang kita miliki, teman-teman pun harus cermat memilih jalan yang tepat. Jika sudah mendapatkan pilihan jalan yang tepat, teman-teman tidak berarti ongkang-ongkang kaki. Tidak! Tidak sama sekali! Jika sudah memiliki tempat penggodokan minat yang jelas, teman-teman wajib melakukan pengembangan diri sambil memupuk kemandirian. Jadikan waktu yang berharga ini sebagai sarana untuk menentukan langkah Anda pascakeluar dari tempat penggodogan ini. Jadikan langkah yang teman-teman pilih sebagai jalan untuk meraup sukses. Jangan lupa pula bahwa kesuksesan itu tidak akan teman-teman dapatkan dengan sendirinya. Dukungan dari lingkungan sekitar pun sangat mendukung. Well, baik-baiklah dengan lingkungan sekitar dan mohon doa restu kepada mereka agar jalan kita di depan lulus, mulu, dan halus.
Selamat menuai sukses, teman-teman, meski tak harus lolos ke dalam lubang jarum UMPTN atau SMPTN! Ingat pepatah: Banyak jalan menuju Roma! Masih banyak lubang jarum yang bisa meloloskan hidup kita menjadi harum! Masih banyak wadah yang bisa membuat bakat kita menjadi tertadah! Masih banyak ayunan yang mampu menggoyangkan kita punya kemampuan! Masih banyak petak yang akan mengasah kita punya otak! Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya sengsara terkecuali umat-Nya itu sendiri yang enggan berusaha. Wallahualam bissawwab.




BIODATA
Nama : Resti Nurfaidah, S.S.
Alamat : Jalan Pluto Utara II Nomor 28
Bandung 40286
Pos-el : neneng_resti@yahoo.co.id
goresan_penaku@yahoo.com
Blog : cahayapenaku.blogspot.com
Telp & hp : 022-7560679
: 08156275203


25 Agu 2009

SEMINAR: ILMU & SILATURAHMI





SEMINAR: ILMU & SILATURAHMI


Banyak orang berpendapat bahwa menjadi pintar dalam waktu singkat adalah dengan menghadiri sebuah seminar. Kalau dikaji, benar juga sih pomeo itu! Kita bisa memetik buah pikiran para pemakalah yang pada umumnya berlatarbelakangkan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Peserta dapat pula bertanya pada pakar bidang ilmu tertentu dalam satu kesempatan yang sangat berharga.
Selain itu, seminar juga bisa dijadikan sebagai ajang eksibisi lain yang berawal dari silaturahmi. Tukar kartu nama, nomor telepon, email, facebook, cenderamata, dll bisa berujung pada ajang bisnis mutualisme. Banyak penulis yang juga memboyong buah karyanya dan dipajang dijual di meja pameran. Uppps seminar memang memperkaya kantung seseorang. Selain itu, seminar juga menjadi santapan orang-orang yang haus ilmu. Omzet gerai buku bisa didongkrak hebat dalam acara seperti ini.
Seminar bukan sekadar buah usaha panitia yang kasak-kusuk cari dana dan donatur ikhlas. Namun, seminar bisa dijadikan sebagai ajang untuk mengadu pikiran, mengasah kemampuan berbicara dan menulis, serta mengembangkan emosi ketika berhadapan dengan audiens yang mungkin lebih senior dan lebih mumpuni daripada kita.
Jangan sia-siakan diri untuk mendulang ilmu dan mendulang silaturahmi jika berada dalam sebuah seminar. Siapa tahu seminar akan membawa Anda ke jenjang kesuksesan.

SYUKUR





SYUKUR




Nuansa hijau yang menyiratkan kedamaian dan keasrian alam membuat hati ini reloa melepas kepenatan kehidupan kota. Nuansa hijau di perairan payau di sekitar pantai Batukaras, Pangandaran, menunjukkan kepada kita bahwa masih ada tempat yang tepat untuk perkawinan harmonis unsur alam. Pohon rami berbaris sesak di tepi muara menanti saat dipanen. Jenis tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Pohon tersebut berpadu asri dengan barisan pohon kelapa yang juga memberikan banyak manfaat kepada penduduk di kawasan wisata itu. Pohon yang dijadikan sebagai falsafah organisasi pramuka itu dapat dimanfaatkan seluruh bagiannya, dari akar samapai daunnya. Kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang terbuat dari batang pohon kelapa dengan atap yang juga dari jepitan daunnya. Jika kita dahaga, di kawasan wisata itu juga banyak tersedia penjaja es kelapa muda.
Allah tidak menciptakan segala sesuatu di jagat raya ini dengan tanpa guna. Semua pasti diberkahi dengan manfaat. Salah satunya tetumbuhan yang ada di tepian muara dan di kawasan pantai ini. Sudah seharusnya, penduduk di kawasan ini bersujud dan mengucap syukur kepada Sang Khalik. Peristiwa tsunami kemarin yang melanda kawasan ini sudah selayaknya dijadikan sebagai cambuk peringatan atas segala kekhilafan yang telah diperbuat mereka. Penduduk yang kebanyakan menggantungkan hidupnya dari sektor wisata tersebut tidak lantas terlena dengan budaya materi pariwisata. Uang bukan segalanya dalam hidup ini. Kemajuan di bidang perekonomian harus diiringi dengan penebalan aqidah agar tidak terseret arus keimanan yang menyesatkan. Pariwisata bisa dijadikan sebagai ladang ekonomi, ladang sosial, ladang komunikasi, dan ladang aqidah. Semua bergantung pada pelaku pariwisata itu sendiri.

Ya, Allah betapa kami kerap diselimuti kealpaan
Atas segala keindahan dan kemakmuran yang kau berikan
Atas segala kemudahan yang kau anugerahkan
Atas segala kekayaan yang kau limpahkan
Kepada kami

Tiada patut kami menolak
Bersujud rapat kepada Engkau
Panggilah kami tatkala kami alpa dari Engkau
Serulah kalbu kami ketika kami cenderung berpaling
Dari Engkau

Ampuni kami tiada henti
Seperti tiada hentinya deburan ombak di pantai ini
Curahi kami dengan hujan rahmatmu
Semudah kami menatap buih putih memecah diri
Di penghujung ombak

Tariklah diri kami ketika langkah kami
Tak lagi berpijak di gari-garis kebenaran-Mu
Seperti kuatnya arus di lautan
Menyeret kami ke dasar terdalam
Tiada yang memiliki kemampuan membenarkan diri kami
Selain Engkau


Bandung, 22 Agustus 2009

UPACARA




UPACARA



U saha tanpa imbalan

P enghormatan kami padanya

A nak-anak bangsa yang telah berjuang

C inta tanah air

A kta kemerdekaan telah ditangan

R efleksi buah perjuangan

A ndalan bangsa yang tak pernah menuntut jasa pertempuran

LAUTAN KESERAKAHAN





LAUTAN KESERAKAHAN


Mengapa manusia tak pernah
Berhenti berkaca
Dari peristiwa yang pernah terjadi
Pada masa yang lalu
Manusia-manusia serakah
Binasa sia-sia

Mengapa manusia
Tidak bisa mendengar
Jerit tangisan pilu
Manusia lain yang tak berdaya
Menatap datangnya
Lautan yang tak terduga

Sayang, lautan itu
Bukan tempat tujuan wisata
Yang bisa dinikmati
Dengan luapan kegembiraan
Lautan itu lebih
Merupakan hutan lumpur
Berbau gas tengik

Mengapa manusia tidak pernah
Memahami batas-batas alam
Demi sebuah ambisi
Bayangan Firaun
Menggayut di pelupuk mata
Sidoarjo

Uhhh, kuku tajam itu
Terlalu dalam mencengkeram
Perut bumi tiada daya
Hancur ia
Luluh binasa

Tangis sang bumi
Bukan tangis biasa
Tangis sang bumi
Tangisan derita
Tangisan siksa jelata

Lautan itu kian meluas saja
Bertangkuk-tangkuk punggung gunung
Mengubah bentuk
Menjadi dinding pengaman
Dinding … yang takkan pernah aman


Mengapa manusia di atas sana
Tidak peduli
Nasib kaumnya yang kini cemas
Takut dan depresi
Hilang harta
Hilang keluarga

Tunggul-tunggul mesjid
Tak lagi berkumandang azan
Tunggul-tunggul pabrik
Tak lagi menyanyikan
Lagu derik suara bising mesin

Kehidupan itu mati
Keceriaan itu hilang
Kebahagiaan itu telah lenyap
Kedamaian itu punah
Kehangatan itu beku

Tiada lagi cahaya
Berpendar dari lampu taman
Tiada lagi canda
Penjaga malam
Tiada lagi senandung
Nyanyian tidur malam

Gejolak perut bumi
Masih bergolak
Melempar laut
Menyembur amarah
Mengepul sesak
Takkan pernah berakhir