17 Sep 2009

“Aset Negara Sebagai Obor Peningkatan Perekonomian Negara Kreatif”







“Aset Negara Sebagai Obor
Peningkatan Perekonomian Negara Kreatif”


Resti Nurfaidah


Indonesia dikenal sebagai perhiasan di khatulistiwa. Jika kita mendengarkan kata “perhiasan”, tentu saja ingatan kita akan terkait dengan segala hal yang indah. Ya, Indonesia memang negeri yang indah dan berkilau dengan segala pernak-pernik yang berkilau di dalamnya. Tidak mengherankan banyak kuku-kuku tajam yang tergoda untuk menggaruk dan menggeruk keindahan negeri ini. Berbagai cara mereka lakukan untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga mereka, di antaranya dengan menyedot sumber daya alam dan budaya, serta mengklaim tanpa tedeng aling-aling benda-benda yang jelas-jelas bukan miliknya. Belanda telah lama ‘merampas’ sumber daya alam negeri ini berupa rempah-rempah dan hasil alam lainnya selama 350 tahun lamanya. Jepang menggeruk perut bumi pertiwi dan sumber daya manusia secara radikal selama seumur jagung, tiga setengah bulan. Namun, penggerukkkan tersebut tidak berlangsung saat itu saja. Beberapa lobi dunia luar kepada penguasa negeri ini, membuat mereka leluasa menghisap isi perut bumi ini tanpa pernah memberikan kesempatan kepada penduduk di sekitarnya untuk mencicipi kemakmuran. Kita dapat melihat kemegahan Freeport dengan kontrak ekslusifnya selama 50 tahun tanpa pernah memberikan pemberdayaan kepada penduduk sekitarnya. Bukan tidak mungkin kesenjangan sosial yang terlalu tinggi itulah yang kerapkali menyulut pemberontakan kepada perusahaan milik AS itu. Tingkat pendidikan yang rendah penduduk di sekitar perusahaan tambang raksasa itu, memudahkan orang-orang dari kalangan tertentu untuk memprovokasi emosi mereka.

‘Perampokkan’ aset negara saat ini lebih beragam. Bumi pertiwi telah kehilangan wilayah Timor-Timur, kini Timor Leste. Negeri ini juga telah kehilangan pulau Sipadan dan Ligitan. Sebelumnya Ambalat juga diklaim negeri tetangga serumpun. Well, bukan tidak mungkin ada ‘udang di balik batu’ di balik semua klaim itu. Ambalat, misalnya, merupakan surga minyak yang luar biasa. Pihak negeri jiran tampak seperti ketagihan untuk ‘berbuat ulah’ dengan berbagai cara untuk menarik perhatian masyarakat negeri ini maupun di luar negeri. Bahkan, terkadang ulah mereka seperti anak kecil, bermain petak umpet dengan aparat di lautan. Hal itu juga terekam dalam kamera tv. Tampaknya negeri jiran bangga dengan ulah itu.


Negeri jiran bukan saja mengklaim beberapa pulau di negeri ini. Beberapa karya seni tradisi Indonesia juga diklaim mentah-mentah oleh mereka sebagai milik bangsa mereka. Padahal, jelas-jelas seni tradisi tersebut milik bangsa kita. Bahkan, baru-baru ini, tarian pendet dari Pulau Bali juga diklaim sebagai aset negeri jiran. Masyarakat awam pun turut mempertanyakan mengapa tarian khas pulau dewata tersebut diklaim oleh mereka? Kita semua mengetahui dengan jelas bahwa di negeri Siti Nurhaliza tersebut tidak terdapat suku bangsa yang menyerupai kebudayaannya seperti di Bali. Sementara itu, wilayah Malaysia ada pula yang menempati wilayah Pulau Borneo. Jadi, wajarlah jika negeri Petronas itu turut menampilkan wakil suku bangsa itu dalam tayangan pariwisata mereka. Berbeda dengan tari pendet! Bahkan shooting tayangan tersebut dilakukan di pulau dewata sendiri. Ketika bumi pertiwi telah meributkan hal itu, dengan ringan wakil dari negeri jiran mengatakan bahwa terjadi kesalahan dalam proses editing! That’s so nice!

Masih banyak lagi hal-hal yang diklaim oleh negeri yang pernah menjadi negeri jajahan Inggris itu. Heboh reog Ponorogo, kuda lumping, rasa sayange, angklung, bahkan wayang kulit serta lagu “Terang Bulan”. Cara mengklaim yang mereka lakukan pun bermacam-macam. Reog Ponorogo mereka ubah namanya menjadi Tarian Barongan, meskipun reog asli berbentuk macan berbulu merak bukan naga. Latar kisah tarian itu juga mengalami sedikit perubahan. Lirik lagu “Rasa Sayange” mereka poles pada beberapa bagian. Bahkan, baru-baru ini, lagu “Terang Bulan” diketahui telah diganti liriknya menjadi lagu kebangsaan Malaysia. Ternyata, konon salah seorang musisi Indonesia yang lama tinggal di negeri jiran itu mengikuti sayembara pemilihan lagu kebangsaan Malaysia yang saat itu baru saja lepas dari kelompok persemakmuran Inggris. Ia mengikutsertakan sebuah karyanya yang berjudul “Terang Bulan” dalam sayembara itu. Ternyata ia memenangkan sayembara itu. Sejak saat itulah “Terang Bulan” berganti menjadi “Negaraku”.

Lain halnya pada pengklaiman kuda kepang atau kuda lumping. Malaysia tetap mengikutsertakan asal-asul kesenian itu, berasal dari Jawa. Jika pada satu seni tradisi mereka berani melekatkan latar asal-usulnya, mengapa pada seni tradisi yang lain tidak? Peristiwa perampasan yang bertubi-tubi tersebut menunjukkan bahwa si pelaku tidak memiliki jati diri. Sementara, negeri kita kaya akan bakal harta rampasan. Bumi pertiwi memiliki ribuan, bahkan mungkin jutaan, seni tradisi yang kelak-besar kemungkinan-satu persatu siap melayang ke negeri lain.
Sudah saatnya Indonesia berjaga-jaga dengan ketat untuk menghindari pencurian aset negara. Hal itu bukan saja menjadi tugas resmi pemerintahan yang berkuasa saat ini, melainkan pula tugas masyarakat seluruh Indonesia. Tahapan pengidentifikasian sudah selayaknya dilakukan dengan cepat dan akurat agar kita dapat memiliki daftar resmi seni tradisi serta aset lain yang resmi dimiliki oleh negeri ini. Jika tahapan tersebut telah dilakukan, kita harus memiliki hak paten pada aset bangsa itu. Hal itu perlu dilakukan agar kita mendapatkan pengesahan resmi dai pihak terkait. Sudah terlalu banyak aset negeri ini yang disabot orang lain. Selain seni Tradisi, beberapa perusahaan negara juga lari ke tangan asing.
Aset negara bukan hanya untuk dinikmati oleh pancaindera. Aset tersebut dapat dijadikan sebagai sarang sumber perekonomian kita. Berapa banyak minyak yang dapat kita jadikan sebagai pengisi pundi-pundi ekonomi kita. Banyaknya pakar-pakar yang unjuk kabisa di luar negeri perlu dibaiat untuk tidak menjual aset kita ke negeri orang. Bukan tidak mungkin banyak pakar yang tinggal di luar negeri memberikan beberapa aset negara dengan sadar tidak sadar. Kasus rasa sayange tidak jauh seperti itu. Salah seorang pakar musik Indonesia, membawa serta partitur “rasa sayange” beserta lagu lainnya ke negeri jiran. Kasus yang sama juga terjadi pada lagu “Terang Bulan” yang melayang begitu saja dalam sebuah sayembara. Ada pula beberapa projek strategis yang dilakukan oleh mahasiswa asal negeri ini dalam tesis dan disertasinya. Tugas akhirnya itu kelak akan tersimpan di negeri seberang dan menjadi milik mereka.
Seyogyanya, dalam setiap hal, negeri ini perlu dipagari dengan ‘pagar’ yang kokoh. Jangan biarkan sebuah celah tumbuh di dalam pagar itu. Indahnya tradisi di negeri ini merupakan magnet berdaya besar yang sanggup menjerat perhatian dunia. Jangan sampai magnet itu kehilangan bobotnya yang sudah ‘mantap’. Peristiwa yang berulang kali terjadi tersebut menandakan bahwa pemerintah maupun penduduk negeri ini masih bersikap ongkang-ongkang kaki. Keributan hanya terjadi dari mulut ke mulut dan tulisan tangan sang jurnalis. Pakar-pakar saling melempar pendapat dalam suatu forum. Sementara pihak yang terkait dalam peristiwa perampasan tersebut, terutama kasus tari pendet, tampak saling tuding dan cuci tangan. Dalam kasus ambalat, di sebuah stasiun televisi, kejar-kejaran di antara aparat kita di lautan dan tentara diraja Malaysia memperlihatkan kelemahan pengawasan di lautan.
Banyaknya bencana di negeri ini sudah memecah perhatian pemerintah kita. Meskipun begitu, penggalakkan ‘pagar’ rapat-rapat di sekeliling kita wajib dilakukan. Salah satu pagar yang dapat kita dirikan adalah pagar budaya. Warisan seni tradisi dari nenek moyang dapat kita wariskan kepada generasi penerus agar kuat rasa cinta tanah air dan rasa memiliki seni tradisi yang kuat. Kecenderungan derasnya arus globalisasi yang lebih menonjolkan pengiyaan pada budaya global mau tidak mau telah menggerus rasa nasionalisme di segala bidang. Budaya global yang cenderung menonjolkan hal-hal yang berbau lebih mudah dan lebih praktis cukup melunturkan minta generasi muda pada seni tradisi kita.
Upaya pemertahanan aset negara juga perlu dikaitkan dengan upaya pelestarian. Jangan sampai satu aset dipertahankan tanpa membiarkan terjadinya pengembangbiakkan kader-kader penerusnya. Jika pihak yang bertahan itu suatu saat menemui ajalnya, sama saja dengan membiarkan aset itu punah. Bukankah aset negara merupakan sumber kekayaan perekonomian negara. Bukankah turis asing tertarik karena aset yang terdapat di suatu lokasi wisata? Bukankah dengan kedatangan mereka pundi-pundi keuangan negara bisa menggembung?
Ya, upaya pemertahanan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Semua pihak yang berkepentingan harus berkolaborasi dengan baik agar ‘pagar’ yang didirikan kokoh sepanjang masa. Tentu saja, ‘pagar’ tersebut tidak untuk dibangun dan dilihat saja, melainkan juga patut diawasi dan dijaga sepanjang waktu. ‘Pagar’ tersebut harus disosialisasikan kepada penduduk negeri ini agar mereka bisa menunjukkan rasa memiliki terhadap aset tersebut. Jika rasa memiliki itu sudah kuat tertanam dalam diri warga negeri ini, tentu mereka bersama-sama tidak akan membiarkan celah-celah menganga di sekeliling pagar itu. Ideal sekali! Pasti! Tinggal praktiknya …!

(Resti Nurfaidah, penulis)

Referensi
http://www.antara.co.id/view/?i=1192104044&c=NAS&s=
http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/06/03/grf,20090603-169,id.html
http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=3362
http://dendemang.wordpress.com/2007/11/22/malaysia-klaim-reog-ponorogo/
http://www.google.com/search?ie=UTF-8&oe=UTF-8&sourceid=navclient&gfns=1&q=lagu+kebangsaan+malaysia

7 Sep 2009

PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA













PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA

Bandung, 5 September 2009

Saya diundang koordinator acara PEKAN KRIYA, FLP Jabar, untuk hadir menyaksikan acara pentas sastra sekaligus buka puasa bersama. Saya bersama suami hadir sebagai undangan awal sementara deretan kursi yang jumlahnya tidak seberapa masih kosong melompong. Setengah empat sore, acara yang dipandu oleh MC interaktif, Adew Habsta, segera dibuka dengan penampilan grup musik Sadasilung.
Sadasilung merupakan grup musik yang unik karena membawakan beberapa lagu rohani dengan kocak yang diiringi perpaduan alat musik tradisional dan modern. Personelnya cukup minim karena hanya tiga orang. Masing-masing memegang alat-alat yang dikuasainya. Satu orang memegang biola merangkap vokalis, satu orang memegang maraca atau suling merangkap vokalis, dan satu orang memegang kecapi merangkap vokalis. Lagu yang dibawakan adalah Puasa, Terjemahan Al-Ashr dalam bahasa Sunda, dan sebuah lagu yang saya lupa judulnya. Penampilan mereka cukup menghangatkan suasana sore yang masih lengang.
Penampilan kedua adalah pembacaan puisi oleh Heliana Sinaga, dramawan, sutradara, aktris, dan multitalenta lain yang dikuasainya. Ana, biasa ia akrab dipanggil, sore itu membawakan empat judul puisi, Minggu Pagi, Sajak Orang Tua, Kasidah Hujan, dan sebuah puisi yang saya lupa judulnya. Ana membawakan puisi itu dengan gaya yang kocak, terkadang mendesah hebat, atau menekan dahsyat.
Penampilan berikutnya adalah tarian Melayu yang dibawakan oleh Agitsyha Dance. Tarian yang lebih cenderung menampilkan gerakan bellydance dengan kostum yang berbau Cirebonan itu sempat menemui kendala saat lagu yang dituju tidak kadung muncul.
Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi oleh Syahreja Faisal dari komunitas ASAS, UPI Bandung. Beberapa puisi yang dibawakannya ditujukan kepada rekan-rekan yang sedang didera bencana gempa kemarin di kawasan Cianjur, kampung kelahirannya.
Pascapenampilan Reza, ditampilkan mnonolog yang dibawakan oleh salah satu ‘santri’ Rendra yang sempat ngendon lama di Bengkel Teater Rendra. Monolog yang disampaikan oleh Gusjur Mahesa itu berkaitan dengan kematian I dan II si burung merak itu. Monolog yang disampaikan itu pada keesokan paginya dimuat pada halaman suplemen Khazanah, edisi Minggu, 6 September 2009.
Pengisi acara yang tampil terakhir sebelum berbuka adalah grup band Ari KPIN. Beberapa lagu eksentrik ditampilkan dengan cukup memukau hingga menarik perhatian para pengguna Jalan Ir. H. Juanda.
Acara terakhir adalah berbukan puasa bersama. Acara seperti itu seharusnya bisa mendatangkan lebih banyak pengunjung. Mungkin promo yang lebih jor-joran harus dilakukan oleh panitia agar acara serupa bisa menjadi moment yang sukses.
Bravo buat FLP Jabar.

31 Agu 2009

UMPTN NUN JAUH DI SANA ...






Duuuuhh, kalau mendengar universitas seperti terbang ke alam mimpi. Sepertinya universitas itu gerbang menuju gengsi, kesuksesan, kebahagiaan, atau … mungkin bagi sebagian orang … kekecewaan. Ya, kuliah itu rasanya sekolah paling … wahhhh. Beda banget kalau kita mendengar seseorang yang lulus dan masuk institusi pendidikan berbasis ikatan dinas. Bagi sebagian kalangan mungkin tida juga sihhh.
Kuliah di perguruan tinggi merupakan sesuatu yang asing bagiku yang saat itu masih berseragam putih abu atau saat aku baru melepas si putih abu itu. Meskipun banyak saudara dan kerabat yang sudah berkuliah lebih dulu, tetapi aku tidak pernah terjun menyelami dunia kuliah mereka. Aku nggak bisa bayangin seperti apa sih yang namanya kuliah itu?
Ikut UMPTN 1991 waktu itu lebih merupakan satu keharusan bagiku. Dengan kata lain, lebih merupakan jalur tradisi untuk menembus gerbang perguruan tinggi. Ya, untuk aku yang nggak terlalu ngebet kuliah, lewat jalur resmi, jalur UMPTN ini tidak begitu menjadi andalan dalam hidupku. Berhasil … ya syukur, nggak juga nggak apa-apa tuh. Bagiku masih banyak jalan ke Roma! Oleh karena itu, aku tidak seperti teman-temanku yang lain yang memutuskan untuk mengikuti bimbel (bimbingan belajar) pada institusi yang beken sejak tahun pertama menginjak kelas tiga SMA. Aku hanya mengikuti paket kilat bimbel selama dua minggu pada sebuah institusi yang tidak begitu beken. Kebanyakan pesertanya pun berasal dari luar daerah yang notabene ketinggalan dalam pelajaran. Yang penting, ilmu dan teknik mengerjakan soal UMPTN bisa kudapat dengan mudah dan dalam tempo yang tidak terlampau lama.
Aku tidak terlalu berambisi untuk lolos UMPTN itu karena kupikir jalan menuju sukses tidak melulu melalui jalur masal itu. Apalagi aku tidak terlampau menggeluti bidang ilmu matematika dengan giat hingga tatkala mengerjakan soal pun aku cenderung hitung kancing, meskipun membuat orat-oret di kertas buram. Kalau soa pengetahuan umum, lumayanlah. Kebetulan aku agak kuat di bidang ingat-ingatan atau hafalan.
Aku tidak merasa heran dengan ketidakhadiran namaku dalam daftar kelulusan UMPTN di halaman surat kabar. Selintas aku masih dapat menayangkan bayangan wjah teman-temanku yang berada dalam satu kelas di tempat uji. Dia … dia … dia … lulus! Selamat! Ucapku dalam hati. Aku senang mereka bisa lolos lubang jarum.
Pasca UMPTN, aku mengikuti ujiian masuk program D3 di UNPAD. Jurusan yang kuikuti adalah prodi bahasa Inggris. Alhamdulillah, aku diterima. Aku merasa pas dengan seisi kelasku dan lingkunganku di sini. Barangkali, dalam hatiku, Allah telah membuka jalan bagiku. Enaknya ikut di program D3, kita dibekali dengan materi praktis karena program ini lebih ditujukan untuk dunia kerja. Nggak enaknya, kita hanya mendapatkan sedikit ilmu sastra yang sebenarnya sangat kuminati. Alhasil penelaahan sastra kulakukan secara otodidak. Lulus dari program tersebut, kuikuti kelas angkatan pertama program ekstensi. Alhamdulillah, di kelas ini teman-temanku semakin beragam. Bukan hanya dari kelasku yang sama, maupun kelas lainnya, melainkan berasal dari beragam jurusan dan latar belakang yang berbeda. Program ini lebih tampak sebagai kelas karyawan karena sebagian dari teman-temanku sudah bekerja, bahkan berusia hampir 50 tahunan. Keragaman latar belakang teman-temanku ini lumayan melebarkan wawasan dan jaringan relasiku.
“Kelas malam” ini kuselesaikan selama hampir 3 tahun karena aku sempat dilanda mogok hati. Heeee … heee …! Jatuh cinta sempat membuatku mogok makan … eh mogok nuntasin skripsi. Akhirnya, tiba-tiba semangat 45 pun muncul dalam diriku dan kugenjot penyelesaian skripsiku hingga akhirnya pada tahun 1997 aku lulus dan diwisuda. Aku percaya, Allah akan membuka jalan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Meskipun tidak berhasil, aku tidak jemu-jemu mengkopi dan melegalisir, dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. Berkali-kali aku gagal dalam melamar pekerjaan hingga akhirnya aku bertemu jodoh dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan menikah. Saat anakku menginjak usia dua tahun, aku diterima sebagai PNS di sebuah lembaga penelitian bahasa dan ditempatkan di Bandung. Di tempat inilah aku mendapatkan bekal yang lebih berharga dan tidak kudapatkan di bangku kuliah. Dengan kata lain, duni kerja telah mengembangkan hal-hal yang kudapat di bangku kuliah dan memperkaya hal-hal baru. Kemampuan menulisku jauh lebih meningkat di tempat ini. Alhamdulillah! Allah telah memberikan jalan yang terbaik bagiku.
Untuk teman-teman, tidak perlu merasa kecewa jika tidak dapat lolos dari lubang jarum UMPTN atau SMPTN. Kedua jalur masal itu bukan merupakan satu-satunya jalan untuk mengais sukses. Banyak jalan menuju Roma! Zaman internatan gini nggak perlu khawatir meraup jalan dan ribuan pilihan. Teman-teman bisa menelusuri situs sekolah-sekolah yang membuka jalur ikatan dinas. Lumayan dengan jalur itu, teman-teman bisa menimba ilmu dengan aman tanpa harus merogoh kocek besar. Namun, jangan lupa! Seleksi jalur tersebut sangat ketat dan berat. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa lolos. Adapula jalur yang menyuguhkan penggodokan minat dan sekaligus sebagai server lowongan kerja. Mengapa tidak! Banyak perguruan tinggi yang menyuguhkan program tersebut. Tidak sedikit lulusannya yang diterima di beberapa lembaga, baik swasta maupun negeri. Jalur apa pun yang teman-teman pilih dapat dijadikan sebagai pintu gerbang menuju sukses, selama senantiasa diiringi dengan kesungguhan, konsistensi tinggi, dan kemandirian yang lumayan besar. Dunia kerja itu keras, perlu mental baja. Kita harus memupuk ketahanan mental sejak duduk di bangku kuliah. Sedapat mungkin, kita bisa melakukan hal-hal lain di luar bangku kuliah. Eskul dan kerja sambilan juga dapat kita lakukan sebagai pelatihan pengembangan diri selama bisa diseimbangkan dengan jadwal perkuliahan kita.
Bukan tidak mungkin tanpa sempat mengikuti jalur UMPTN pun kita dapat meraup sukses. Banyak pengusaha sukses tanpa sempat mengenyam pendidikan di peguruan tinggi. Mereka mengembangkan diri melalui jalur dunia maya. Bakat yang terasah dengan baik disertai teknik marketing tinggi serta jaringan relasi yang seluas-luasnya justru menjadi pendongkrak kehidupan mereka. Mereka bisa hidup dengan mapan di usia yang masih muda.
Jalur masal seperti UMPTN atau SMPTN bukan satu-satunya jalan menuju sukses. Jika kelolosan tidak berpaling kepada kita, teman-teman tidak perlu khawatir dan takut untuk menceburkan diri ke dalam jalur alternatif. Siapa tahu, jalur alternatif yang terkadang kurang dilirik orang dan dianggap sepele bisa menjadi jalan penghantar menuju gerbang kesuksesan. Yang penting, teman-teman memiliki kemampuan yang dalam untuk mengenal diri sendiri. Ya, itu penting karena mengenal diri sendiri dapat menjadikan teman-teman peka terhadap segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri sendiri. Nah, dengan mengenal hal-hal seperti itu, selanjutnya, teman-teman dapat mengukur diri. Dengan kemampuan atau kelebihan serta kekurangan yang ada dalam diri kita, apakah kita bisa mengembangkan hal itu di bangku kuliah yang lumayan lama? Jika tidak, bukan lebih baik kita segera mengasah kelebihan kita di tempat yang lebih menyuguhan penggodokan praktis daripada teoretis? Menentukan ukuran kemampuan pun perlu dilakukan untuk melakukan langkah selanjutnya. Setelah kita merasa yakin dengan ukuran yang kita miliki, teman-teman pun harus cermat memilih jalan yang tepat. Jika sudah mendapatkan pilihan jalan yang tepat, teman-teman tidak berarti ongkang-ongkang kaki. Tidak! Tidak sama sekali! Jika sudah memiliki tempat penggodokan minat yang jelas, teman-teman wajib melakukan pengembangan diri sambil memupuk kemandirian. Jadikan waktu yang berharga ini sebagai sarana untuk menentukan langkah Anda pascakeluar dari tempat penggodogan ini. Jadikan langkah yang teman-teman pilih sebagai jalan untuk meraup sukses. Jangan lupa pula bahwa kesuksesan itu tidak akan teman-teman dapatkan dengan sendirinya. Dukungan dari lingkungan sekitar pun sangat mendukung. Well, baik-baiklah dengan lingkungan sekitar dan mohon doa restu kepada mereka agar jalan kita di depan lulus, mulu, dan halus.
Selamat menuai sukses, teman-teman, meski tak harus lolos ke dalam lubang jarum UMPTN atau SMPTN! Ingat pepatah: Banyak jalan menuju Roma! Masih banyak lubang jarum yang bisa meloloskan hidup kita menjadi harum! Masih banyak wadah yang bisa membuat bakat kita menjadi tertadah! Masih banyak ayunan yang mampu menggoyangkan kita punya kemampuan! Masih banyak petak yang akan mengasah kita punya otak! Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya sengsara terkecuali umat-Nya itu sendiri yang enggan berusaha. Wallahualam bissawwab.




BIODATA
Nama : Resti Nurfaidah, S.S.
Alamat : Jalan Pluto Utara II Nomor 28
Bandung 40286
Pos-el : neneng_resti@yahoo.co.id
goresan_penaku@yahoo.com
Blog : cahayapenaku.blogspot.com
Telp & hp : 022-7560679
: 08156275203


25 Agu 2009

SEMINAR: ILMU & SILATURAHMI





SEMINAR: ILMU & SILATURAHMI


Banyak orang berpendapat bahwa menjadi pintar dalam waktu singkat adalah dengan menghadiri sebuah seminar. Kalau dikaji, benar juga sih pomeo itu! Kita bisa memetik buah pikiran para pemakalah yang pada umumnya berlatarbelakangkan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Peserta dapat pula bertanya pada pakar bidang ilmu tertentu dalam satu kesempatan yang sangat berharga.
Selain itu, seminar juga bisa dijadikan sebagai ajang eksibisi lain yang berawal dari silaturahmi. Tukar kartu nama, nomor telepon, email, facebook, cenderamata, dll bisa berujung pada ajang bisnis mutualisme. Banyak penulis yang juga memboyong buah karyanya dan dipajang dijual di meja pameran. Uppps seminar memang memperkaya kantung seseorang. Selain itu, seminar juga menjadi santapan orang-orang yang haus ilmu. Omzet gerai buku bisa didongkrak hebat dalam acara seperti ini.
Seminar bukan sekadar buah usaha panitia yang kasak-kusuk cari dana dan donatur ikhlas. Namun, seminar bisa dijadikan sebagai ajang untuk mengadu pikiran, mengasah kemampuan berbicara dan menulis, serta mengembangkan emosi ketika berhadapan dengan audiens yang mungkin lebih senior dan lebih mumpuni daripada kita.
Jangan sia-siakan diri untuk mendulang ilmu dan mendulang silaturahmi jika berada dalam sebuah seminar. Siapa tahu seminar akan membawa Anda ke jenjang kesuksesan.

SYUKUR





SYUKUR




Nuansa hijau yang menyiratkan kedamaian dan keasrian alam membuat hati ini reloa melepas kepenatan kehidupan kota. Nuansa hijau di perairan payau di sekitar pantai Batukaras, Pangandaran, menunjukkan kepada kita bahwa masih ada tempat yang tepat untuk perkawinan harmonis unsur alam. Pohon rami berbaris sesak di tepi muara menanti saat dipanen. Jenis tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Pohon tersebut berpadu asri dengan barisan pohon kelapa yang juga memberikan banyak manfaat kepada penduduk di kawasan wisata itu. Pohon yang dijadikan sebagai falsafah organisasi pramuka itu dapat dimanfaatkan seluruh bagiannya, dari akar samapai daunnya. Kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang terbuat dari batang pohon kelapa dengan atap yang juga dari jepitan daunnya. Jika kita dahaga, di kawasan wisata itu juga banyak tersedia penjaja es kelapa muda.
Allah tidak menciptakan segala sesuatu di jagat raya ini dengan tanpa guna. Semua pasti diberkahi dengan manfaat. Salah satunya tetumbuhan yang ada di tepian muara dan di kawasan pantai ini. Sudah seharusnya, penduduk di kawasan ini bersujud dan mengucap syukur kepada Sang Khalik. Peristiwa tsunami kemarin yang melanda kawasan ini sudah selayaknya dijadikan sebagai cambuk peringatan atas segala kekhilafan yang telah diperbuat mereka. Penduduk yang kebanyakan menggantungkan hidupnya dari sektor wisata tersebut tidak lantas terlena dengan budaya materi pariwisata. Uang bukan segalanya dalam hidup ini. Kemajuan di bidang perekonomian harus diiringi dengan penebalan aqidah agar tidak terseret arus keimanan yang menyesatkan. Pariwisata bisa dijadikan sebagai ladang ekonomi, ladang sosial, ladang komunikasi, dan ladang aqidah. Semua bergantung pada pelaku pariwisata itu sendiri.

Ya, Allah betapa kami kerap diselimuti kealpaan
Atas segala keindahan dan kemakmuran yang kau berikan
Atas segala kemudahan yang kau anugerahkan
Atas segala kekayaan yang kau limpahkan
Kepada kami

Tiada patut kami menolak
Bersujud rapat kepada Engkau
Panggilah kami tatkala kami alpa dari Engkau
Serulah kalbu kami ketika kami cenderung berpaling
Dari Engkau

Ampuni kami tiada henti
Seperti tiada hentinya deburan ombak di pantai ini
Curahi kami dengan hujan rahmatmu
Semudah kami menatap buih putih memecah diri
Di penghujung ombak

Tariklah diri kami ketika langkah kami
Tak lagi berpijak di gari-garis kebenaran-Mu
Seperti kuatnya arus di lautan
Menyeret kami ke dasar terdalam
Tiada yang memiliki kemampuan membenarkan diri kami
Selain Engkau


Bandung, 22 Agustus 2009

UPACARA




UPACARA



U saha tanpa imbalan

P enghormatan kami padanya

A nak-anak bangsa yang telah berjuang

C inta tanah air

A kta kemerdekaan telah ditangan

R efleksi buah perjuangan

A ndalan bangsa yang tak pernah menuntut jasa pertempuran

LAUTAN KESERAKAHAN





LAUTAN KESERAKAHAN


Mengapa manusia tak pernah
Berhenti berkaca
Dari peristiwa yang pernah terjadi
Pada masa yang lalu
Manusia-manusia serakah
Binasa sia-sia

Mengapa manusia
Tidak bisa mendengar
Jerit tangisan pilu
Manusia lain yang tak berdaya
Menatap datangnya
Lautan yang tak terduga

Sayang, lautan itu
Bukan tempat tujuan wisata
Yang bisa dinikmati
Dengan luapan kegembiraan
Lautan itu lebih
Merupakan hutan lumpur
Berbau gas tengik

Mengapa manusia tidak pernah
Memahami batas-batas alam
Demi sebuah ambisi
Bayangan Firaun
Menggayut di pelupuk mata
Sidoarjo

Uhhh, kuku tajam itu
Terlalu dalam mencengkeram
Perut bumi tiada daya
Hancur ia
Luluh binasa

Tangis sang bumi
Bukan tangis biasa
Tangis sang bumi
Tangisan derita
Tangisan siksa jelata

Lautan itu kian meluas saja
Bertangkuk-tangkuk punggung gunung
Mengubah bentuk
Menjadi dinding pengaman
Dinding … yang takkan pernah aman


Mengapa manusia di atas sana
Tidak peduli
Nasib kaumnya yang kini cemas
Takut dan depresi
Hilang harta
Hilang keluarga

Tunggul-tunggul mesjid
Tak lagi berkumandang azan
Tunggul-tunggul pabrik
Tak lagi menyanyikan
Lagu derik suara bising mesin

Kehidupan itu mati
Keceriaan itu hilang
Kebahagiaan itu telah lenyap
Kedamaian itu punah
Kehangatan itu beku

Tiada lagi cahaya
Berpendar dari lampu taman
Tiada lagi canda
Penjaga malam
Tiada lagi senandung
Nyanyian tidur malam

Gejolak perut bumi
Masih bergolak
Melempar laut
Menyembur amarah
Mengepul sesak
Takkan pernah berakhir

TEKUN





TEKUN

Seorang anak lelaki kecil bersendal jepit berlari dari tempat penginapannya ke arah pantai timur. Ia ingin menatap mentari pagi. Ufff, ia merasa kecewa ketika dilihatnya mentari bersembunyi di balik selimut mega kelabu. Si anak tidak mengetahui bahwa mentari pun sebenarnya sedang berjuang dari ikatan kuat rantai sang mega. Mentari ingin menyapa anak itu. Anak itu menatap lama ke arah bayangan mentari. Karena kecewa, anak itu menundukkan kepalanya dan berjalan di sepanjang tangga beton penahan gelombang di pantai itu.
Tiba-tiba, kedua matnya tertuju pada satu gerakan makhluk hidup yang bermain petak umpet di balik bebatuan penghalang gelombang. Kedua kaki lincahnya melompat ke kiri dan ke kanan menghindari celah batu. Sesekali badannya membungkuk. Mata tajamnya menelusuri di sebalik batu. Dilihatnya sesekali kaki-kaki makhluk yang membuatnya penasaran itu. Kepiting! Secepat kilat tangannya menyambar selembar plastik bekas pembungkus makanan yang dibuang sembarang, lalu dijimpitnya kepala kepiting. Ciiiuuuttt!!! Kepiting itu menang kali ini. Makhluk berkaki banyak itu segera melarikan diri. ‘Selamat!’ ujar kepiting tersenyum.
Si anak lagi-lagi dilanda kecewa. Ia berjalan, sesekali melompati batu. Sesekali mulutnya berseru, “Kepiting!” Ia menyerbu dan memburu kepiting itu. Lagi-lagi gagal! Si anak kecewa. Kepiting lain yang selamat itu pun tersenyum menang. Si anak melirik ke sekitarnya. Dilihatnya sebuah ranting kayu tergeletak di atas bebatuan. Ia melompati beberapa batu dan meraih ranting itu. Tubuhnya sesekali dibungkukkan lagi untuk memastikan ada tidaknya makhluk yang sedang diburu itu bersembunyi atau bertapa di balik batu. Ranting itu digores-goresnya ke balik batu untuk mengusir kepiting. “Kali aja kepitingnya mau keluar! Akan aku tangkap!” ujar si anak dalam hati.
Sesekali rantingnya tersangkut sampah di balik batu. Disingkirkannya sampah itu dari ujung ranting. Digosok-gosokkan lagi ujung ranting ke batu yang lain, sampai akhirnya ia mendapati seekor kepiting berukuran sedang berlari dari tempat persembunyiannya. Dikejarnya kepiting itu. Ditahannya makhluk yang ketakutan itu dengan ujung rantingnya agar arah pelariannya tidak jauh dari jangkauannya. Kepiting itu berusaha ditangkapnya. Lagi-lagi, ia gagal. Kepiting itu menelusup ke balik batu dan bersembunyi di tempat yang lebih dalam dan aman. Huuuuuuuffff!!! Kepiting itu menghembuskan nafas leganya. Dadanya sesak karena tadi ia berlari kencang.
Si anak dengan perasaan kecewa pergi ke bagian bebatuan penahan ombak lainnya. Kini pandangannya lebih luas lagi. Diliriknya sang mentari telah naik ke atas langit. Sementara itu, sang mega tampak tercerai berai karena amukan mentari. Si anak tidak begitu gembira dengan sapaan benda ciptaan Tuhan yang tadi sangat ditungu-tunggunya. Matanya, sejurus kemudian, kembali mengarah pada gerakan kepiting lain. “Sepertinya kepiting kecil!” gumamnya. Ia melompat ke kiri dan ke kanan. Ujung ranting ia arahkan ke tempat gerakan tadi. Uppppsss, seekor kepiting kecil, seperti yang ia sempat duga sebelumnya, muncul ke permukaan batu. Kepiting itu ingin melarikan diri. Si anak yang lincah itu segera menyambar selembar sampah plastik di dekatnya dan menahan laju pelarian si kepiting dengan ujung rantingnya. Gotcha!!!!! Kepiting itu masuk perangkap jepitannya. Makhluk kecil itu meronta sekuat tenaga. Ia ingin melepaskan dirinya. Sayang, cengkeraman si anak terlalu kuat.
Ranting penolong dilemparkan si anak begitu saja ke atas batu. Si anak kini sibuk mencari wadah untuk tempat hasil buruannya. Girang tiada terkira terpancar dari wajah si anak. Usaha dan tekad kuatnya untuk berburu kepiting membuahkan hasil. Perjuangannya tidak sia-sia. Didapatinya sebuah gelas plastik bekas minuman yang tergeletak di celah batu. Dibuangnya sisa air bandrek dari dalam gelas itu. Tuuuuukkkkk!!! Kepiting pun mendarat manis di dasar gelas. Makhluk kecil itu masih meronta hebat di dalam gelas. Apa daya, bahan dasar gelas itu licin. Usahanya untuk melarikan diri sia-sia. Selembar plastik diletakkan di mulut gelas. Matanya menelusuri sekitar. Dilihatnya sebuah karet gelang usang. Diambilnya benda itu dan diikatkan di sekeliling mulut gelas. Dilihatnya bekat pipa sedotan minuman dan diambilnya. Ditusuk-tusukannya beberapa kali permukaan plastik tadi. Ia tidak ingin membiarkan makhluk kecil hasil buruannya mati lemas. Beberapa lubang mempersilakan udara mengisi ruang gelas itu.
Kedua kaki bersandal jepit itu melompat girang meninggalkan bebatuan di pantai timur itu. Si anak melompat riang tiada henti hingga pintu penginapan. Ia ingin memperlihatkan hasil buruannya itu kepada ayah-ibunya. Sesekali gelas itu didekatkan ke wajahnya. Ditatapnya makhluk kecil yang kini lumayan pasrah itu. Senyum mengembang lebar di wajahnya. “Hmmmm … akulah pemburu kepiting terhebat di dunia ini!” ujarnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu berkali-kali. Sesekali mulutnya berteriak, “Buu … buuu … buuu!!!” Ketukan itu baru terhenti setelah seorang wanita membukakan pintu untuknya. Tanpa sempat mengucapkan salam, si anak berteriak riang dan lantang, “Buuu … lihat aku dapat kepiting!” Diangkatnya gelas berisi kepiting itu setinggi-tingginya agar ibunya dapat melihat hasil buruannya itu.

24 Agu 2009

SEMBURAT JINGGA MENTARI




SEMBURAT JINGGA MENTARI

Saat itu masih pagi, beberapa putaran jam yang lalu mentari malu-malu menampakkan diri di ufuk timur. Ahh, mentari memang pemalu pada awal kebangkitannya. Namun, ia akan berangsur-angsur berubah menjadi garang di tengah hari. Lihat! Bulatan bola emas ciptaan Tuhan tampak begitu sempurna. Ia biarkan laut menikmati keindahan warnanya. Gurat lebar bayangan berwarna emas seolah menunjukkan jalur tetap sang mentari agar tidak tersesat menyimpang menyusuri jalur orbit.

Semula, awan berupaya membungkus si bola emas agar ia tidak memberikan tariannya pada dunia. Mentari sangat tersiksa dengan balutan erat sang mega. Sementara di bawah sana makhluk bumi merasa sangat sedih karena tidak sempat menyaksikan tarian indah sang mentari. Mentari berontak karena tarian itu harus ia tunjukkan dengan pongah kepada barisan penggemarnya. Ia berhasil melepaskan ringkusan sang mega yang sebenarnya sangat iri kepadanya. Ya, mega tidak punya cahaya. Ia hanya memiliki butir air di tubuhnya. Ia ingin meminta sebagian kecil semburat cahayanya agar ia tidak terlalu gelap. Tentu saja, mentari enggan membagi kekayaannya itu. Ia tidaksang mega memiliki sejumput cahayanya. Mentari tidak rela jika nanti sang mega enggan menampug uap air bumi dan berlomba menyorotkan cahaya ke muka bumi. Uffff, pasti bumi akan kepanasan!!!

“Tidak!! Pekiknya. Aku tidak rela membagi cahayaku kepadanya. Laut pun hanya kuberikan bayanganku saja karena ia berjanji memantulkan keindahanku di atas permukaannya. Laut tidak menolak hal itu meskipun semula ia ingin memiliki cahayaku juga. Kukatakan padanya bahwa jika ia memiliki sekeping cahayaku, ia akan kehilangan semua penghuni lautan. Wajahnya akan mendidih. Laut sangat mencintai seisi perutnya. Ia rela mengalah demi kehidupan banyak nyawa dan menyisihkan ambisinya untuk memiliki sahaya seperti bintang di langit,” gumam mentari dalam hati.

Mentari berontak hebat. Gembok ketat sang mega hancur berantakkan. Mega terkejut tidak pernah menduga melihat perjuangan mentari sehebat itu. Mentari melompat mengitari orbit. Membuka selimut malam yang kelam. Menggores bayangan indah di raut wajah sahabatnya, lautan. Ahhh, penduduk bumi menyambut diriku. Haii, lihat itu speed boat terikat rapi di dekat dermaga yang dibangun darurat di atas penahan gelombang. Ya, lihat bebatuan itu tampak jelas menumpuk rapi meredam amukan gelombang pasang samudera di selatan muka bumi. Tampak beberapa kepiting berlari sembunyi di bebatuan hitam itu. lagi-lagi kepiting nggak pernah mau mengahangatkan dirinya dengan balutan sinar hangatku.

Ahh, tampak seorang wanita bergaya di depanku. Hmmm … ia sengaja ingin menonjolkan diriku dalam foto yang diambilnya. Ia membiarkan dirinya menghitam dan tampak sebagai sebuah siluet gelap dalam sebuah gambar yang indah. Langit tampak indah terang benderang. Keindahan itu tampak berpadu harmonis dengan gurat keabuan wajah tua sang lautan. Tampak bayanganku jelas terhampar di belakang wanita yang sedang berpose itu. Ahh, bumi seakan memiliki dua mentari. Mentari yang tiada pernah enggan membagi cahaya pada dunia. Akankah keharmonisan ini berjalan selamanya?

SANG FAJAR






Inilah sang fajar
Generator kehidupan manusia
Penanda masa aktif kebanyakan manusia
Pemicu curahan rezeki Illahi



SANG FAJAR


Sinar sang fajar
Kerap dinanti
Demi estetika
Atau komunika

Sang fajar
Layak menjadi tumpuan
Bagi segelintir manusia
Sebagai penanda untuk kembali
Sang fajar
Senantiasa menjadi pengharapan
Bagi sekelompok manusia
Demi menanggung beban derita

REUNI




REUNI

Ini kisah temu kangen angkatan ’67 Institut Teknologi Tekstil di Surabaya. Pertemuan yang entah ke berapa kalinya dilakukan untuk mempererat talisilaturahim di antara lulusan sebuah istitusi pendidikan yang kini bernama Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil itu. Rasa rindu kali ini terpuaskan selama beberapa jam acara berlangsung. Sementara rombongan dari Bandung sudah berpuas diri sebelumnya karena semalam sebelumnya kita sudah berhaha-hihi selama dalam perjalanan dengan kereta api dari Bandung. Sayang, tidak semua anggota alumni dapat mengikuti acara ini karena berbagai hal.
Reuni bermakna bersatu kembali dan melepaskan rindu setelah lama berpisah. Reuni ini digalakkan untuk menggalang hubungan silaturahmi antar sesama anggota terutama jika ada anggota yang mengalami kesulitan. Well, senyum yang tampak dalam gambar adalah senyum kegembiraan atas acara tatap muka di antara mereka. Akan tetapi, senyum itu bisa jadi merupakan buntut kesedihan karena besok kita harus berpisah. Ya, setiap pertemuan senantiasa diiringi dengan bayangan perpisahan yang akan menggores gurat sedih di dalam kalbu.
Reuni layak digalakkan sebagai penggalang hubungan sosial antar sesama. Akan tetapi, reuni tidak layak diselenggarakan untuk saling pamer kedudukan dan aspek materi lainnya. Bukan tidak sedikit manusia menjadi frustasi dan cenderung untuk mengundurkan diri dari lingkup pergaulan teman-teman sejawatnya hanya karena merasa
‘lebih tidak apa-apa” daripada temannya yang lain. Kesenjangan yang terlampau jauh bisa memicu bibit frustasi dalam diri seseorang apabila ia tidak dibekali dengan dinding mental yang tebal. Manusia tidak akan berada di atas puncak gunung prestasi selamanya, beberapa orang pasti akan terjungkal di kaki bukit. Nasib manusia tidak sama, ada yang berhasil dan ada pula yang tidak. Anggota kelompok yang belum berhasil sudah selayaknya diberi bantuan tanpa meninggalkan kemampuan atau potensi dalam dirinya. Memberikan bantuan sepenuhnya bukan tidak mungkin justru akan mematikan kesempatan mengembangkan dirinya.



Reuni layaknya obat mujarab
Sebuah jawab
Pemuas dahaga ikatan
yang mungkin hampir rapuh
tangis tawa hadir silih berganti
singkirkan penat di hati
reuni layak dibawa dalam hati
hingga akhir nanti

PERAHU PENOPANG HIDUP


PERAHU PENOPANG HIDUP


Perahu dalam gambar itu merupakan salah satu dari puluhan perahu yang berbaris di tepi sungai payau kawasan wisata Green Canyon. Hiiik … hiiiik … masih ada yang terpeleset dengan nama kawasan itu. Nah, mereka yang terpeleset pasti menyebutnya Grand Canyon, sebuah lembah hasill pahatan proses alam yang luar biasa indahnya. Eh, jangan salah, tuh, kalau Green Canyon juga nggak kalah indah sama icon pariwisata Amerika itu.
Green Canyon memiliki aset yang selaras dengan nama itu. Jika kita menelusuri Green Canyon tersebut, mata kita akan tertuju pada barisan dinding warna hijau di sisi kiri dan kanan sungai payau. Eitt, jangan salah duga, ya, kalau dinding yang kumaksud seperti dinding rumah! Bukan! Dinding yang kumaksud adalah tebing sepanjang sungai itu yang sarat ditumbuhi aneka pepohonan. Mata kita yang sudah sumpek dengan kehidupan kota, terasa damai tatkala memandang pemandangan hijau itu. Tidak jarang kita temuka biawak berbagai ukuran sedang bertengger di tepi sungai sambil berteduh dari terpaan sinar matahari.
Seperti halnya proses erosi alami, tebing yang berbaris di sepanjang sungai itu bentuknya menonjol di tengah. Sementara bagian bawah yang tersentuh air menjorok ke dalam karena sering tergerus air sungai. Ada satu pemandangan unik yang kita dapatkan pada bagian tebing itu. Bagian tebing yang terkena air itu sarat lubang kecil yang diameternya seukuran lilin. Selintas, bagian tersebut seperti sarang lebah. Kemungkinan besar lubang-lubang itu juga menjadi tempat berlindung beberapa makhluk payau, seperti udang, ikan kecil, atau kepiting.
Kalau kita ingin menjajal kawasan Green Canyon, kita harus menyewa perahu senilai Rp.70.000,00/perahu. Jumlah penumpang yang dapat diangkut perahu itu sebanyak lima orang dewasa. Perahu-perahu yang ada di kawasan tersebut memiliki nama sendiri, seperti Sumber Rezeki, Rahayu, dsb. Bagian dalam perahu hampir semuanya dicat dengan warna biru cerah. Kita tidak perlu merasa khawatir jika naik perahu tersebut karena dua awak perahu akan mengawal kita. Satu orang duduk di ujung terdepan, tugasnya mengendalikan perahu dengan sebuah dayung. Sementara itu, satu orang lagi duduk di bagian belakang bertugas mengendalikan perahu dari belakang sekaligus operator mesin.
Mesin dijalankan dengan kecepatan penuh selama perjalanan. Namun menjelang sampai ke bagian hulu sungai, mesin dikurangi kecepatannya bahkan dimatikan ketika tiba di bagian hulu. Perahu pada bagian hulu memadat di sekitar batu besar alam yang berfungsi sebagai pengatur aliran sungai. Untuk sampai ke atas batu itu, kita harus melalui satu-dua perahu yang disewa oleh orang lain.
Di atas sebuah batu karang yang permukaannya juga berlubang di sana-sini, sudah banyak wisatawan yang lebih dulu tiba di sana. Sebagian wisatawan memilih untuk berdiam di atas batu. Tujuan mereka tidak lain untuk berfoto ria, hanya sekadar ingin tahu, atau menunggu kerabat/teman yang sedang berenang. Ya, tukang perahu tadi bisa merangkap sebagai watertour guide yang memandu pengunjung yang ingin berenang ke hulu sungai, yang katanya sering dijadikan sebagai tempat pembuatan film.
Berenang menuju hulu memerlukan perjuangan besar karena kita harus melawan arus sungai yang lumayan deras. Bagian dasar sungai dipenuhi bongkahan batu karang yang sebagian besar permukaannya berlubang. Di bagian hulu sungai itu terdapat sebuah cekungan alami yang kerapkali dijadikan sebagai tempat bertuah yang airnya dianggap sebagai obat awet muda. Untuk kembali ke batu tadi, wisatawan tidak perlu menguras tenaga karena tubuh kita dibantu dengan pelampung yang telah tersedia di dalam setiap perahu. Pelampung itu disewakan secara pribadi oleh awak perahu senilai Rp.10.000,00/buah.
Sementara penumpang berenang, perahu yang kita sewa akan setia menanti sampai mereka kembali dari bagian hulu sungai. Setelah itu, kita akan diantar kembali ke dermaga. Jika kita amati, harga yang ditawarkan oleh awak perahu itu tergolong murah. Kita bisa menyewanya lebih dari satu jam dari dan ke dermaga. Kita bisa berlama-lama berada di atas batu atau di bagian hulu bagi yang berminat untuk berenang.
Perahu itu merupakan salah satu sumber penghasil lembaran uang bagi para pengelolanya. Perahu sewaan itu merupakan imbas atas dibukanya kawasan green canyon sebagai tempat tujuan wisata di kawasan wisata terpadu, Pangandaran. Pariwisata senantiasa dikaitkan dengan derasnya perolehan penghasilan bagi penduduk di sekitarnya. Hal itu dapat kita saksikan sendiri jika kita berada di salah satu tempat wisata. Salah satunya di Pangandaran. Kita bisa mengamati bahwa pundit-pundi uang dapat diraih penduduk sekitar dengan berbagai produk wisata, seperti menjual oleh-oleh terutama produk laut, menyewakan penginapan, penjaja kuliner atau souvenir, penyewaan alat transportasi, atau sekadar sebagai panti pijat. Meskipun demikian, pariwisata juga tidak pernah terlepas dari hujan rezeki yang berbau erotis. Kita dapat menyaksikan sendiri betapa maraknya ‘bidadari malam’ berkeliaran di sepanjang pantai, aneka klub malam, atau bahkan mafia laut yang menjajakan barang-barang ‘ilegal’.
Pariwisata dapat kita jadikan sebagai pintu rezeki baik yang halal maupun yang haram. Semua bergantung kepada diri sendiri. Tentu, menyewakan perahu merupakan salah satu lahan pencari nafkah yang halal dan sangat urgen di kawasan wisata bahari seperti Pangandaran. Perahu dan air telah lama menjalin simbiosis mutualisme. Di mana ada air, di situ ada perahu.
Penghasilan sebagai awak perahu atau pengelola penyewaan perahu dapat dijadikan sebagai sandaran pendongkrak kehidupan. Sayangnya, kasus langkanya bahan bakar turut memotong volume penghasilan mereka. Perhatian pemerintah sangat diperlukan oleh pengelola perahu tersebut untuk menopang jalannya kehidupan kepariwisataan di kawasan yang menjadi salah satu tujuan wisata utama di kawasan Jawa Barat selatan itu. Apa iya wisatawan harus bersusah payah berenang sejauh beberapa kilometer untuk mencapai hulu sungai di Green Canyon hanya karena mesin perahu tidak bisa minum bahan bakar?

PENGIBAR BENDERA


PENGIBAR BENDERA

“Bendera Siaaap!”
Lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya berkumandang.
Bendera merah putih bukan sekadar dua lembar
Kain yang dipagut benang rapi.
Bendera merah putih buah perjuangan barisan pejuang
Bangsa

Pengibar bendera
Menanggung beban tidak sampai
Membuatmu terbalik
Atau terjalin saat dibentangkan
Tidak sampai membuatmu jatuh
Sampai menyentuh tanah.

Petugas bendera berjalan tegap
hingga beberapa jarak
tepat di muka tiang
mengaitmu pada simpulan
hingga mengantarkanmu pada dunia
menebar berita hari besar bangsa kita

OMBAKKU SAYANG OMBAKKU MALANG





OMBAKKU SAYANG
OMBAKKU MALANG




Lihatlah buih putih
Penebar ajakan
Penarik minat
Manusia-manusia haus hiburan

Dengarlah bunyi deburan ombak
Memukul deras bibi pantai
Menghabisi birunya indah warna laut
Menjalin irama tak berkesudahan

Pandanglah manusia
Bergerak tiada henti
Di bibir pantai
Mengejar ombak
Menantang gelombang

Rindu mereka terpuaskan
Rindu menjadi dunia kecil
Bermain tanpa batas
Meski mata-mata menatap
Dari segala sisi

Ombakku sayang
Ombakku malang
Tiada pernah kau
Stabilkan emosimu
Kepada pendatang

Jika hatimu senang
Kau sambut kami
Dengan pukulan buihmu
Basuh tubuh kami
Seperti guyuran air gayung

Jika hatimu enggan
Tak ada senyum
Dalam usapan gelombang
Kau hisap kami
Hingga tak berdaya
Jauh ke dalam pasirmu

Di kejauhan
Engaku berbaik hati
Kepada perahu nelayan
Kau bantu dia
Menari dengan indah
Di atas tubuhmu

Ombakku sayang
Ombakku malang
Tiada pernah kau tertidur
Menghentikan suara gerammu
Di atas bibir pantai

Ombakku sayang
Ombakku malang
Kau sering jadi tertuduh
Jika kami celaka
Tapi tak pernah kau jadi pahlawan
Jika kami selamat

Ombakku sayang
Ombakku malang
Jangan pernah kauhentikan
Tarian buih putihmu itu
Jangan pernah kauhentikan
Ayunan gelombangmu itu

Kita selalu rindu
Rindu padamu
Rindu pada masa kecil
Rindu menjadi anak kecil
Rindu … rindu tak berbalas

MENDULANG ILMU MENDULANG SILATURAHMI




MENDULANG ILMU MENDULANG SILATURAHMI

Senyum di dalam foto itu merupakan akhir dari kepenatan setelah mengikuti kegiatan penulisan novel anak yang diadaptasi dari skenario film. Kelas penulisan ini merupakan kelas kecil, hanya terdiri dari tujuh peserta dari sepuluh peserta yang telah memdaftarkan diri, Mbak Titi, Mbak Erna, Mbak Ratih, Mbak Dina, Mbak Eka, Mas Hadi, dan Mas Krisna. Kelas penulisan ini menghadirkan dua pembicara yang pernah mendapatkan order menulis novel adaptasi, Mas Benny (penulis novel prekuel, Mimpi Sang Garuda) dan Mas Iwok (penulis novel King).
Kedua penutur itu memberikan hal-hal baru yang sangat berharga bagi kami semua. Semula kami menganggap mentransformasi skenario ke novel merupakan pekerjaan yang mudah. Ternyata tidak demikian, penulis harus bisa menempatkan bagian-bagian skenario yang tercerai-berai. Belum lagi tenggat waktu yang disediakan begitu pendeknya, sekitar satu minggu menjelang peluncuran film dengan judul yang sama. Novel tersebut juga akan diluncurkan secara bersamaan. Duuuh, beratnya! Tenggat waktunya itu! Belum lagi komunikasi yang harus terjalin dengan pihak produser yang bisa menguras pulsa kita. Pokoknya inti yang kita dapatkan dari kedua narasumber adalah kesiapan mental dan fisik kita sepenuhnya. Selain itu, keyakinan tinggi harus kita benamkan dalam-dalam di dasar kalbu agar kita tidak tersandung putus asa.
Kelas penulisan tersebut selain sebagai sarana pendulang ilmu yang akurat, juga merupakan sarana untuk menyambung tali silaturahmi, baik dengan narasumber maupun dengan sesame peserta. Kebetulan nih kelas kecil jadi dengan mudah mengenal satu sama lain. Koordinator acara ini, Mas Ali juga mengatakan bahwa kelas kecil lebih akurat karena setiap peserta dapat lebih terawasi dan lebih leluasa untuk mengembangkan dirinya selama di dalam kelas.





PUISI ILMU
ilmu laksana air mengalir
tak pernah berhenti mengalir
hingga ke titik terendah di muka bumi

ilmu laksana api abadi di sebuah obor
yang tak kan menyala
sampai bahan bakarnya habis

ilmu laksana pergantian siang dan malam
tak pernah terputus
hingga akhir zaman

ilmu laksana gerbang seribu jalan
sarat tawaran indah
dari setiap pilihan

ilmu laksana perjalanan waktu
terus bergulir
hingga tiba pada ketentuan Sang Khalik ilmu laksana jalan
bisa dilalui dengan waktu singkat
bisa dilalui dalam tempo yang cukup melelahkan

ilmu tidak mungkin dibendung
ia akan tumpah seperti air bah
siap menghantam … menerjang apa siapa pun yang merintanginya

ilmu laksana tali
mampu mengikat hati manusia dengan sesama
dengan musuh-musuhnya
dalam simpul keabadian

ilmu hanyalah satu titipan Illahi
patut kita telan
patut kita telaah
dan … patut kita hadapkan kepada Illahi

Awal Ramadhan 1430 H
Bandung dalam balut dinginnya, 22 Agustus 2009

MELINTASI SURAMADU






MELINTASI SURAMADU



“Ayah, katanya jembatan Suramadu dah jadi, Yah?” tanya Anto kepada ayahnya.
Ayah yang sedang asyik membaca surat kabar menangkupkan kedua tangannya. Dipandangnya anak sulungnya itu dengan sorot mata yang ramah sambil berkata, “Ya, Nak, jembatan itu sudah jadi. Dah diresmikan sama Presiden.”
“Mmmm, kalau begitu kita bisa kesana kan, Yah?” tanya Anto lagi.
Dari kejauhan terdengar suara Anti, adik Anto, berlari mendekati mereka. Rupanya ia mendengar percakapan antara ayah dan kakaknya itu. “Yah, Anti juga mau ikut, Yah!” seru Anti. Ayah tersenyum sambil menyambut Anti dan mendudukkan anak bungsunya itu dipangkuannya. “Ya, ya, tentu saja, kamu boleh ikut, Nduk.” “Asyikkkk!” ujar Anti.
“Ya, nanti hari Minggu pagi kita pergi ke Suramadu, ya, bersama ibu,” ujar ayah.
“Horreeee!” Anto dan Anti bersorak gembira.
“Tapi jangan lupa bawa bekal makanan, ya?” tanya Anti kepada ayahnya.
“Ya, nanti itu … itu urusan ibu,” ujar ayah. Tiba-tiba mereka mendengar suara rem becak berhenti di depan rumah. Tampak ibu turun sambil membawa dua kantung plastik belanjaan. Ibu baru saja pulang dari pasar. Anti dan Anto menyambut kedatangan ibu mereka.
“Bu, kata Ayah, kita nanti akan ke Suramadu hari Minggu!” ujar Anto.
“Iya, Bu, bawa bekal, ya, Bu! Anti takut lapar!” ujar Anti menimpali.
Ibu tersenyum mendengar celotehan anaknya sambil berkata, “Oh, begitu. Ibu baru tahu, nih. Ya, deh, nanti kita bawa bekal buat Anti yang suka makan!”
Anti dan Anto berebut membawakan kantung belanjaan ibu. Mereka berlari berlomba untukk lebih dulu mencapai dapur. Tentu saja, Anto yang menang karena badannya lebih tinggi dan kakinya lebih panjang. Anto tersenyum mengacungkan jempolnya ke wajah Anti sementara adiknya itu merengut sebal.
Minggu pagi tiba. Anti, Anto, Ibu, dan Ayah sudah siap di atas motor bebek merah yang akan membawa mereka ke Suramadu. Tidak lupa bekal makanan mereka tautkan di bagian depan. Anti duduk di depan sedangkan Anto duduk ditengah dijepit ayah dan ibunya. Sekitar hampir satu jam kemudian, mereka telah tiba di gerbang tol Suramadu. Setelah mengambil tiket, mereka melaju melintasi jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura itu. Ufff anginnya besar sekali. Jembatan itu rupanya terbagi atas empat jalur, dua jalur untuk pengendara sepeda motor dan dua jalur lain untuk pengendara mobil. Jembatan sepanjang 5,4 km itu dipagari dengan pagar baja kualitas tinggi di kedua sisinya. Sesekali polisi patroli telah bersiaga di menyusuri kedua jalur itu. Oh, ya, jalur untuk pengendara sepeda motor dan mobil juga dipisahkan dengan pagar baja yang sama. Pada jarak tertentu, pagar baja itu diberi warna oranye.
Beberapa rambu lalu lintas dipasang di kedua sisi jembatan itu. Anti dan Anto membaca rambu lalu lintas berbentuk bulat bergaris merah dengan tulisan 25, 40, dan 60. Mereka bergantian bertanya kepada ayahnya. Rambu tersebut adalah kecepatan minimum yang ditentukan bagi pengendara, baik sepeda motor maupun mobil. Di kiri dan kanan jembatan terhampar selat madura. Anto melihat banyak perahu nelayan yang ditambatkan di dermaga. Anti melihat pulau madura yang tampak kehijauan dari kejauhan. Sepanjang perjalanan melintasi jembatan itu, keduanya asyik berceloteh tentang segala hal yang mereka lihat di sana.
Jembatan itu menurun semakin mendekati pulau yang dikenal dengan hasil kerajinan ukiran dan batiknya itu. Setelah membayar tiket, ayah melanjutkan perjalanan. Rupanya banyak pedagang yang berjualan di sisi kiri dan kanan jalur menuju Bangkalan. Mereka beristirahat di salah satu pondok makan. Celoteh Anto dan Anti terdengar tiada henti. Mereka sangat mengagumi jembatan penghubung dua pulau itu. bahkan, dalam benak Anto terbayang berpuluh jembatan lain yang menghubungkan antarpulau di Indonesia. Wallaahualam!

LOMBA PIDATO



LOMBA PIDATO

Lomba ibarat sebuah wadah yang dapat diisi dengan segala jenis benda, seperti kelereng, permen, kue kering, mie baso, atau air. Lomba adalah wadah bagi para peserta yang tentu saja dalam jumlah yang sangat banyak untuk menyesaki rongga dalam wadah itu. Namun, untuk menjadi sesuatu yang terpilih, adakalanya kita harus mengaduk isi wadah itu lebih dulu. Dalam babak penyisihan, sebagai peserta kita akan menunjukkan kemampuan kita kepada hadirin, terutama dewan juri. Jurilah yang berhak mengaduk-aduk wadah lomba ini untuk memilih peserta yang dianggap layak maju pada babak selanjutnya. Saat yang menegangkan adalah ketika kita tiba pada saat untuk tampil ke mimbar dan ketika nama kita diumumkan.
Gambar itu menunjukkan senyum para juara yang telah selamat sampai pada tepian pesisir babak final di Jakarta. Peserta merupakan duta dari Region I (DKI) dan Refion II (Jawa dan Kalimantan) yang diselenggarakan di kota kembang. Senyum pemegang piala menandakan hilangnya ketegangan di wajah peserta. Selain itu, senyum juga dijadikan sebagai kamuflase untuk menutup kekecewaan karena tidak mendapatkan gelar juara. Namun, gelar juara, piala, dan hadiah tidak ada artinya jika kita tidak melakukan pengembangan diri selanjutnya. Menjadi juara bukan merupakan perhentian terakhir tanpa membuka diri terhadap upaya peningkatan diri lebih lanjut. Kita harus melekatkan keyakinan dalam-dalam bahwa kehidupan ini selalu berlapis. Langit pun berlapis-lapis. Kedalaman bumi pun berlapis-lapis pula. Prestasi makhluk hidup, terutama manusia, juga berlapis-lapis. Jika kita menjadi yang terbaik saat ini, tentu akan ada yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang atau bukan kemungkinan pada waktu yang bersamaan.
Batu intan tidak akan berharga tanpa gosokan dan sentuhan tangan ahli. Kilapnya tidak akan terpancar. Demikian pula dengan manusia. Manusia sebagai makhluk yang sempurna, dianugerahi Allah dengan segala benih kemampuan untuk bertahan hidup. Hanya saja, kemampuan itu baru akan muncul kepermukaan jika tersentuk oleh kondisi dan situasi. Bakat seseorang tidak akan tampak dan bermanfaat jika tidak digodok dalam lembaga dan oleh tangan ahli yang kompeten.
Situasi tertentu juga dapat memicu timbulkan kemampuan dan bakat seseorang. Kita lihat kehidupan manusia purba yang semula tidak bisa melakukan apa-apa, karena situasi yang menuntut upaya pertahanan diri, lambat laun kebudayaan mereka semakin maju. Jika semula kebudayaan mereka sarat dengan produk survival yang terbuat dari batu, lambat laun mereka pun mengenali produk-produk berbahan dasar logam.
Seorang atlet memerlukan waktu yang sangat panjang untuk mencapai prestasi gemilang baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Untuk menjadi orator yang baik, apalagi menjadi duta bagi salah satu organisasi masa yang bergerak di bidang pengembangan akhlak manusia, sponsor utama kegiatan lomba pidato tersebut, tidak cukup dengan mengasak kemampuan lahir. Kemampuan tidak kasat mata kita juga patut dibina, mulai dari hal-hal yang sepele, seperti sikap kita ketika mengamati orang lain yang sedang berbicara, sikap kita dalam menepati jadwal yang telah ditetapkan panitia, dsb. Orator yang baik harus mengenal kemampuan mengontrol emosi ketika berpidato, menghadapi audiens, serta memilih kata yang tepat yang dapat menggugah perhatian hadirin.

IRAMA LAUT





IRAMA LAUT


Ya Rabb tidak pernah sejengkal apa pun makhluk ciptaan-Mu tercipta tanpa satu irama.
Kepakkan sayap burung, deru tiupan angin, derak dahan patah, gemerisik tindihan dedaunan kering, riuh suara air hujan menabrak lempengan seng. Tidak, nada yang kau berikan kepada makhluk-Mu tiada pernah sumbang. Semua merdu mengalun membentuk berlembar-lembar komposisi harmonis sebuah partitur.

Ya, Rabb, tidak terkecuali lautan kau isi dengan air tidak berbatas. Kau jadikan angin menjadi sarana penghantar gelombang dan ombak menggaruk bibir pantai. Kau jadikan tarian ombak setinggi langit tatkala bulan menyapa sang malam.

20 Agu 2009

SURABAYA PENUH KENANGAN



SURABAYA PENUH KENANGAN


Jumat malam kami, rombongan Alumni ITT Angkatan ’67 dan beberapa keluarga, berangkat menuju Surabaya dengan menggunakan kereta api Turangga. Reuni ITT tahun ini akan diadakan di kediaman Ibu Irwasih dan Pak Anwar. Bbbbrrrrrrrrrrrrrr, udara dingin di dalam gerbong sangat menggigit. Selimut jatah penumpang tidak membuat kami bergelimang kehangatan.
Sekitar pukul 8 pagi, rombongan tiba di stasiun Gubeng. Kami dijemput tuan rumah dengan sebuah bus dan sebuah kijang. Sarapan yang telah bergeser waktunya itu dilakukan di kedai soto Pak Saidi. Setelah itu, kita dibawa ke tempat penginapan di kondominium Plaza Marina. Rombongan terbagi ke dalam beberapa kamar yang terletak di lantai 5 dan 6. Acara malam itu adalah acara pertemuan di kediaman Pak Anwar. Setelah itu, kita kembali ke Plaza Marina. Keesokkan harinya kita pergi ke Suramadu. Jembatan itu hanya berjarak 5,4 km. Sayang, pantai di sekitar jembatan tidak begitu indah. Pantai yang dilalui jembatan itu merupakan pantai nelayan yang agak berantakan. Setelah itu, kita meneruskan perjalanan ke sebuah pusat perbelanjaan di Madura. Rombongan yang kebanyakan ibu-ibu memborong batik khas Madura.
Ketua rombongan kami tiba-tiba menderita kram perut. Kami tidak jadi berkeliling di pulau Madura. Suramadu pun kami lalui untuk kedua kalinya. Setelah sampai di Surabaya, ketua rombongan berpindah ke dalam mobil kijang beserta istrinya. Sementara rombongan lain berganti dengan beberapa taksi karena bus yang kita tumpangi tiba-tiba rusak rem anginnya. Kebetulan saat itu merupakan puncak arus liburan sehingga sulit mendapatkan bus pengganti.
Malam hari, kami mendapatkan bis pengganti dan panitia menuntaskan rencana mengunjungi tempat wisata kuliner di Surabaya yang dikenal dengan nama Mini Singapura. Kebetulan pada saat itu sedang berlangsung food festival sehingga kita dapat dengan leluasa memilih jajanan yang kita sukai. Mini Singapura ditata menyerupai perumahan di Singapura yang dilengkapi dengan patung Merlion dan Raffles.
Keesokan harinya kita langsung bersiap diri untuk pergi ke Stasiun Gubeng. Rombongan akan kembali ke kota kembang dengan menggunakan kereta Argo Wilis. Kereta berangkat dari Surabaya pada jam 07.45 WIB dan tiba di Stasiun Bandung pada pukul 20.15 WIB.
Duuuhh, Oom Sukawi, kapan lagi ya bisa jalan-jalan lagi?

UPACARA AGUSTUSAN DI BALAI BAHASA BANDUNG






UPACARA AGUSTUSAN DI BALAI BAHASA BANDUNG

Sebagian besarkan pegawai Balai Bahasa Bandung mengikuti upacara memperingati hari kemerdekaan RI ke-64 di halaman Balai Bahasa Bandung. Upacara ini, seperti yang terucap dalam pidato kepala Balai Bahasa Bandung, merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap jasa para pahlawan yang telah memeras tenaga dan keringatnya dalam menegakkan kemerdekaan di negara ini.
Setelah itu, pegawai Balai Bahasa Bandung mengikuti berbagai permainan khas agustusan, seperti balap karung, balap sendok, dan balap kerupuk. Hadiah bagi para pemenang permainan berupa sekantung plastik sembako. Permainan ini diselenggarakan bukan hanya untuk berhura-hura melainkan untuk menggalang keakraban diantara pegawai Balai Bahasa Bandung.

THE WONDERFUL PANGANDARAN





THE WONDERFUL PANGANDARAN


Panitia Konferensi Internasional Kesusastraan XX kemarin mengadakan acara pembubaran panitia di Pangandaran, tepatnya di kediaman salah seorang pakar senirupa dan budaya, Acep Iwan Saidi. Kami berangkat dari Bandung hari Jumat malam, tanggal 14 Agustus 2009, dengan menggunakan bis Gagak Rimang. Jam dua malam, bis tiba di Ciamis, salah seorang sastrawan Sunda kawakan, Godi Suwarna, turut bergabung.
Rombongan tiba menjelang azan subuh di depan kediaman Pak Acep. Setelah menghabiskan sarapan dan cemilan yang disuguhkan tuan rumah, sekalian menunggu jadwal check-in di penginapan, rombongan pergi ke green canyon dan Batukaras. Well, anakku yang kebetulan ikut benar-benar puas bermain berbalut pasir laut basah. Sebagian anggota rombongan bermain sepuasnya di pesisir. Aku dan beberapa anggota rombongan lain hanya duduk bernaung di bawah pohon.
Rombongan menginap di sebuah rumah yang sudah dipesan sebelumnya olrh tuan rumah. Kang Godi ikut bersama kita. Bu Saf, Lina, Celine, dan Evy menginap di hotel sebelah karena kamarnya tidak cukup. Sekali lagi, anakku benar-benar meras puas bermain di pantai Pananjung pada sore hari itu dan pagi hari pada keesokan harinya. Sayangnya, kegembiraan kami harus tercemar sebuah musibah. Tiga orang mahasiswa ITB terseret arus. Kebetulan dua orang selamat. Sementara itu, satu orang lagi mengalami nasib naas. Ia tersedot ke dalam laut beberapa saat petugas hendak meraih tubuhnya.
Acara makan malam dilakukan dengan pesta barbeque di kediaman Kang Acep. Puasssss banget!!!! Menjelang tengah malam, rombongan meninggalkan kediaman yang cukup luas itu dan sekalian berpamitan kepada pemiliknya.
Pagi sebelum kembali ke Bandung, beberapa anggota rombongan berbelanja oleh-oleh di kios Haji Udin sekalian melihat matahari terbit yang tidak tampak kemunculannya. Awan tebal menghalangi pandangan kami. Namun, beberapa gambar eksotis sudah terekam dalam kamera digitalku. Lumayan, gambar itu bisa kupakai untuk latar makalah-makalahku. Menjelang zuhur, rombongan meninggalkan pantai indah yang terletak di bagian selatan provinsi Jawa Barat itu.

19 Agu 2009

REPORTASE KONFERENSI INTERNASIONAL KESUSASTRAAN INDONESIA XX







REPORTASE KONFERENSI INTERNASIONAL KESUSASTRAAN INDONESIA XX
“MEMBACA ULANG FUNGSI SOSIAL SASTRA DALAM MENUMBUHKAN NILAI DAN SIKAP KEBANGSAAN”


BANDUNG, 5—7 AGUSTUS 2009
AUDITORIUM ISOLA RESOR LT. 3
JALAN SETIABUDHI NOMOR 229
BANDUNG


Berlatarbelakangkan pentingnya sastra dalam pembentukan karakteristik kebangsaan, beberapa perdebatan kesusatraan dan kebudayaan senantiasa berbanding lurus dengan perdebatan bangsa dan kebangsaan. Namun, meskipun demikian, sastra jarang dilibatkan dalam berbagai penyusunan kebijakan negara. Sehubungan dengan hal itu, HISKI ingin mengangkat derajat sastra kepermukaan sebagai sarana yang dapat memberikan keleluasaan pembentukan sikap nasionalisme di tengah masyarakat kita melalui Konferensi Kesusastraan Indonesia XX yang bertemakan “membaca ulang fungsi sosial sastra dalam menumbuhkan nilai dan sikap kebangsaan”. Konferensi tersebut diselenggarakan pada tanggal 5—7 Agustus 2009 di Auditorium Isola Resor Lt. 3, Jalam Setiabudhi Nomor 229 Bandung.
Untuk memudahkan pemahaman peserta terhadap tema konferensi tersebut, HISKI Komisariat Bandung membagi tema tersebut ke dalam empat subtema sebagai berikut, yaitu (1) pengajaran sastra dalam kaitan dengan penumbuhan nilai dan sikap kebangsaan, (2) dampak produksi sastra pada pembentukan kesadaran nasional, (3) ssastra, masyarakat perbatasan atau pesisir, dan nasionalisme, dan (4) sejarah sastra sejarah bangsa. Selain para pemakalah paralel yang membawakan makalah berdasarkan keempat subtema tersebut, konferensi itu juga menampilkan beberapa pembicara utama, yaitu Prof. Dr. Melani Budianta, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Prof. Dr. Riris K. Sarumpaet, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Dr. Haryatmoko, S.J., Acep Zam-Zam Noor, dan Godi Suwarna.
Acara tersebut dapat terlaksana atas kerjasama antara Pusat Bahasa Depdiknas, Balai Bahasa Bandung, Prodi Bahasa & Sastra Inggris UPI Bandung, BNI, Gubernur Provinsi Jawa Barat, H.U. Pikiran Rakyat, Bpk. Erry Ryana Hardjapamekas, Bpk. A.R. Ruslan, Bpk. Wahyu Wijaya, MIL Tours and Travel, Center for Research in Education Social Transformation, dan para donatur yang telah memberikan bantuan moril maupun materil.

18 Agu 2009

Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato








Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato GNP-AM


Bandung, 3 Agustus 2009

Hari Senin ini bakalan jadi hari padatku. Ya, aku hanya sempat nge-print naskah pidato yang akan aku presentasikan keesokan harinya dalam “Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato”. Setelah itu, jam 10.00 tepat aku harus mengikuti rapat kepanitian kongres HISKI yang akan dilaksanakan di Isola Resort, UPI Bandung. Aku merasa menyesal karena aku tidak dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Rapat yang agak telat membuat aku terseret pada waktu rapat juri di Perpustakaan TNI AD. Seharusnya aku melakukan cek terakhir dalam konfirmasi konsumsi pada pihak hotel. Namun, terpaksa kuserahkan pada yang lain. Interval waktu yang sempit, membuat aku memilih naik taksi daripada harus berlama-lama ngendon di dalam angkot. Syukurlah, rapat bisa kuikuti.
Seusai rapat, aku harus pergi ke Pasar Baru untuk berburu kostum yang akan kukenakan dalam kongres. Setelah berputar-putar, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku perlukan. Ufff, aku kembali ke kantor dan memastikan bahwa tidak ada barang yang terlewatkan untuk keperluan selama mennjalani karantina. Ya, menjelang malam ini aku akan menjalani masa karantina sebagai peserta lomba pidato yang diselenggarakan di Hotel Grand Pasundan Bandung.
Lomba pidato dan naskah pidato tersebut kuikuti tanpa sengaja. Beberapa hari menjelang deadline, aku membaca pengumuman yang tiba-tiba hadir di balik pintu kaca. Aku sangat berminat untuk mengikuti lomba tersebut. Mau tidak mau dalam tenggat waktu yang sangat sempit itu, aku harus mencurahkan konsentrasiku untuk menulis sebuah naskah pidato, satu hal yang sangat baru bagiku. Tema kali ini adalah tema kepemimpinan. Tema yang kuanggap cukup berat dan sangat membebani diriku. Di satu sisi aku benci politik, tetapi aku harus memaksakan diri untuk memicingkan mata ke dunia itu untuk sekadar mendapatkan referensi.
Meskipun tekad dan niat begitu besar untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut, tetapi apa daya menumpuknya beban perkerjaan sehari-hariku di kantor berhasil menunda penulisan naskah itu hingga menjelang hari terakhir penerimaan naskah. Ada satu hal yang agak merepotkan diriku, keharusan menyertakan surat keterangan belum genap berusia 40 tahun dari kelurahan/kecamatan setempat. Lha, kesibukkan yang menyita waktuku menutup kesempatan untuk mengurus surat itu. Naskah yang baru jadi hari Sabtu menjelang siang, 25 Agustus 2009, membuat aku kebat-kebit karena mengejar jadwal kantor pos yang semula kukira tutup pada pukul 11.00 WIB. Mengajukan permohonan surat keterangan, yang hanya dapat kuminta dari RT setempat, cukup menyita waktu karena prosedur pembuatan yang manual. Semula aku akan melengkapinya dengan cap dan tanda tangan RW setempat, tetapi pintu pagar sekretaris RW yang sangat rapat mengurungkan niatku itu. Aku bertekad dengan menyertakan surat itu seadanya dan mengirimkan hari itu juga. Ufff, masih ada satu lagi tahap yang harus kulalui, menjilid dan membuat salinan naskah. Beruntung, tempat fotokopi langgananku kosong hingga tidak terlampau menyita waktu. Siang yang cukup menyengat membuatku menyewa sebuah becak untuk mengantarku hari itu. Beruntung pula lokasi kantor pos tidak terlampau jauh dari rumahku. Alhamdulillah, Allah Mahapemurah, pengiriman berlangsung lancar. Rupanya jadwal kantor pos pada hari itu lebih panjang satu jam dari yang kuduga semula, pukul 12.00 WIB. Lega hatiku saat langkah ini meninggalkan pintu kantor pos itu.
Hampir satu minggu kemudian, aku mendapatkan kabar bahwa naskahku diterima dan aku lolos menjadi wakil dari Jawa Barat untuk kategori umum putri. Mau tidak mau aku harus mengikuti karantina dan melakukan check-in di hotel tersebut semalam sebelum lomba. Bentrokan jadwal pada hari Senin itu membuat jantungku ini serasa menanggung dentuman yang sangat keras. Rasanya kepala ini berdenyut-denyut. Di satu sisi, aku merasa sangat senang dengan kelolosan ini. Namun, di sisi lain, aku merasa beban berat menggayut dalam hatiku. Aku tidak pernah mengira sebelumnya jika naskah itu harus dipidatokan sendiri oleh penulisnya. Berpidato! Satu hal yang asing bagiku. Aku memang telah berkali-kali tampil dalam seminar, tetapi bagiku berpidato adalah hal yang belum pernah kulakukan. Ufff, bagaimana, ya? Pidato itu harus seperti apa ya? Awalnya gimana? Pertanyaan itu terus berulang dalam batinku. Namun, aku harus menyadari bahwa aku tidak boleh menyerah begitu saja. Bukankah selama ini aku kerap berkata kepada anakku untuk menjadi pemberani. Jika aku mengundurkan diri, artinya aku manusia cengeng yang rapuh. No! Akhirnya aku nekad ikut dalam lomba itu. kulangkahkan kaki yang sedari tadi sudah lelah berjalan itu menuju lobby hotel diantar suamiku. Ya, hanya rido suami dan anakkulah yang mendorong kuat diriku untuk berada di tempat ini.
Aku berbagi kamar dengan kontingen kategori umum putri dari Banten, namanya Nur. Anaknya baik, tetapi kurang pede. Ia bertekad untuk tampil meskipun apa adanya. Aku sendiri tidak berambisi untuk memenangkan perlombaan ini. Yang terpenting bagiku adalah jalani dan percaya diri. Nur harus berjuang untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya itu.
Keesokan harinya, kami semua berkumpul di ruang Wastukancana, lantai UM. Acara perlombaan ini dibuka oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dr. Ahmad Heryawan. Setelah rombongan gubernur berlalu, acara lomba pun dimulai. Secara berurutan, peserta tampil berdasarkan kategori masing-masing, yaitu pelajar putra, pelajar putri, mahasiswa putra, mahasiswa putri, umum putra, dan umum putri. Inilah momen yang tepat bagi kita, peserta lomba untuk mengekspresikan apa yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Menjelang berkumandangnya azan maghrib, kita diminta panitia untuk membuat biodata pribadi dengan tulisan tangan yang rapi dan indah. Alhamdulillah, aku termasuk lima terbaik bersama Pak Eddy (Bogor), Pak Chairul (Tuban), Suci (Sukabumi), dan Deny (Banten). Untuk apa tujuannya, aku tidak tahu. Kami semua tidak tahu. Ternyata, setelah diumumkan, kami diminta untuk membantu panitia menulis nama peserta pada sertifikat. Pekerjaan itu harus kami lakukan dengan rapi dan cepat karena pengumuman pemenang akan dilakukan selepas makan malam nanti.
Acara pengumuman pemenang diawali dengan tayangan produk yang menampilkan kebobrokan moral bangsa kita terutama pada anak-anak dan kaum remaja. Oh, ya, penyelenggaraan lomba ini dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMP-AM), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pembinaan akhlak umat dan sedang melebarkan sayap untuk menyusun jaringan organisasi tersebut di berbagai wilayah di Indonesia. Aku pun mengenal organisasi tersebut sejak membaca brosur lomba tersebut yang ditempelkan di pintu kaca instansiku. Kegiatan lomba ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh organisasi itu. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bagian dari upaya sosialisasi organisasi tersebut ke tengah masyarakat. Bahkan, ketika membacakan pengumuman tersebut, panitia menyampaikan bahwa pemenang pidato dalam lomba ini merupakan aset yang sangat berharga bagi mereka. Dengan kata lain, pemenang lomba pidato merupakan kader organisasi yang bertugas untuk menyampaikan visi misi lembaga pembina akhlak tersebut.
Pengumuman hasil penilaian juri pun dibacakan. Alhamdulillah, aku mendapatkan tempat kedua untuk kategori umum. Dengan posisiku itu, aku harus merasa bersyukur karena masih bisa berkiprah di kongres HISKI yang akan berlangsung besok!!!! Aku tidak dapat membayangkan jika aku mendapatkan tempat pertama karena juara pertama setiap kategori harus pergi ke Jakarta untuk menjalani masa karantina selama empat hari. Wah, terbayang sedihnya aku jika tidak mengikuti momen sastra tahun ini. Belum lagi para pemenang harus mengikuti rombongan panitia yang akan berangkat pada keesokkan harinya pada pukul 06.00 WIB!!!!
Ya, deh, selamat untuk teman-teman yang meraih tempat pertama Regional I dan II, semoga kalian meraih sukses di tingkat nasional! Berita terakhir yang aku dapat adalah sebagian dari kontingen Regional I dan II meraih juara di tingkat nasional, yaitu Kategori Pelajar (Suhanda ke-1 dan Amel ke-3), Kategori Mahasiswa (Arul ke-3), dan Kategori Umum (Pak Rofiq ke-2). Selamat-selamat, ya!!!!! Nyesel aku tidak sempat melihat tayangan tunda di TVRI.