
ADA SINGA DALAM DIRIMU:
Step-by-Step Menggali Potensi dalam Diri
Resti Nurfaidah
Data buku:
Judul : Ada Singa dalam Dirimu
Penulis : Asa Mulchias
Penerbit : ProYou (kelompok Pro-U Media)
Halaman : 292 halaman
Cetakan : 2008
Sekilas, sampul buku yang berjudul Ada Singa dalam Dirimu tersebut tampak seperti sampul sebuah novel. Dalam sampul tersebut, seorang pria sedang bercermin. Namun, cermin yang ia lihat bukanlah cermin biasa. Bayangan yang ia lihat di dalam cermin bukan bayangan dirinya, melainkan bayangan seekor singa jantan yang memasang mata tajam ke arah lelaki itu. Tentu saja, pemandangan seperti itu bukanlah pemandangan biasa, tetapi lebih merupakan sesuatu hal yang perlu ditelusuri.
Kekuatan singa dan manusia sangat jauh berbeda. Tenaga manusia, tanpa berbagai alat bantu, tidak akan mampu menandingi kekuatan singa. Karena kekuatannya itu, singa senantiasa ditempatkan di tempat tertinggi dalam kawasan hutan, Raja Hutan julukannya. Dalam cerita, semua hewan senantiasa tunduk kepada makhluk yang kokoh itu.
Pria yang sedang bercermin itu rupanya dipaksa cermin untuk menelusuri makna kehadiran bayangan singa di dalamnya. Singa dalam cermin bukanlah singa yang sesungguhnya, melainkan merupakan simbol atas kekuatan, kemampuan, dan kelebihan yang ada di dalam diri manusia. Allah swt tidak sekadar menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna jika tidak dibekali dengan hal-hal yang mampu membedakannya dari makhluk lainnya. Keunikan yang diturunkan Allah kepada benda ciptaan-Nya adalah tiadanya persamaan di antara makhluk yang diciptkan-Nya itu, sekalipun terlahir atau tercipta sebagai kembar identik.
Manusia tidak terlepas dari hal itu. Kekuatan, kemampuan, dan kelebihan setiap manusia berbeda-beda. Ketiga hal itu dapat disandarkan sebagai bekal hidup di dunia dan di akhirat. Sayangnya, tidak semua manusia mampu mengenali ketiga bekalnya itu. Kebanyakan hanya dapat meraba-raba “bekal” yang lain yang belum tentu dapat dikuasainya. Sebagian lagi justru hanya berdiam diri dan menyia-nyiakan “bekal” tersebut. Hasilnya, manusia tampak seperti korban bencana kelaparan yang terdampar di tengah-tengah hamparan gurun pasir yang tidak bertepi. Penulis merasa iba dengan kondisi sesamanya yang demikian. Melalui buku ini, ia ingin mengajak teman-teman, terutama sesama Muslim, untuk belajar step-by-step menggali potensi diri.
Penulis mengawali proses penggalian diri dengan sebuah ilustrasi cerita berjudul “Raksasa Baik Hati, Serigala-Serigala Kelaparan, dan Domba-Domba yang Ketakutan”. Kisah tentang tiga makhluk berbeda jenis itu terbagi atas tiga bagian. Kisah yang pada episode selanjutnya melibatkan tokoh si Kancil yang sudah menjadi profesor tersebut memberikan gambaran bahwa seseorang yang ingin “pulih” dari penderitaannya harus memiliki kesadaran dan daya juga yang sangat tinggi. Berkat bantuan si Kancil itulah, kawanan domba selamat dari amukan serigala lapar. Serigala yang berkali-kali ingin melahap kawanan domba empuk itu tidak pernah berhasil mendapatkan impiannya karena desa domba itu senantiasa dijaga oleh seorang raksasa bernama Hugan. Untuk mewujudkan impiannya, serigala mencari siasat dengan melumpuhkan Hugan dengan obat tidur yang dahsyat buatan ular kobra kepala tiga. Namun, usahanya itu ternyata tidak membuahkan hasil karena kancil mampu membuat ramuan penangkalnya. Hugan yang telah pulih mendapati kenyataan bahwa ia kini tidak mampu berdiri apalagi menghadapi serigala seperti biasanya. Namun, kancil dan kawanan domba memberikan semangat yang tiada putusnya kepada raksasa yang malang itu. Akhirnya, Hugan pun terbuka mata hatinya dan ia berupaya keras untuk memupuk kekuatan hati maupun tubuhnya. Upaya kerasnya itu membuahkan hasil. Hugan mampu bangkit dan mengalahkan kawanan serigala. Pada akhir cerita, si Kancil membuka rahasia yang sebenarnya bahwa bukan ramuan mujarab yang mampu membangkitkan Hugan, melainkan keinginan kuat dalam diri raksasa itu untuk melawan sisi lemah dalam dirinya.
Profesor Kancil menatap Doba dengan pandangan tak jenuh. Anak muda, katanya dalam hati, jika saja, mereka menemukan tujuan hidupnya dan mengerahkan segenap tenaga untuk menjadikannya sesuatu yang luar biasa, akan selalu memancarkan sinar yang kulihat seperti di wajah domba ini. Mengagumkan….. (ASDD: 277)
Selain cerita itu, masih ada ilustrasi lain yang diberikan penulis yang diilhami kisah fabel universal, yaitu “Bebek Buruk Rupa”. Dalam cerita aslinya, seekor anak bebek mengalami keterlambatan dalam masa penetas. Ia tertinggal oleh ibu dan saudara-saudara yang lain. Tiba-tiba, datanglah seekor induk betina dan membawanya ke kandang. Di tempat itu, telur bebek itu menetas bersama telur-telur ayam itu. Pada waktu selanjutnya, bebek itu lebih mengenal budaya ayam dari pada budayanya sendiri. Dalam buku tersebut, penulis menorehkan sebuah kisah serupa yang berjudul “An Eagle Who Thinks He’s a Chicken”. Cerita tentang burung elang itu berawal dari kecerobohan seorang induk elang yang terbang meninggalkan sarangnya. Tubuhnya terbang terlalu rendah dan menepuk dahan tempat sarang itu berada. Akibatnya, satu dari dua telur itu terjatuh ke dalam kumpulan telur ayam di bawahnya tanpa cacat. Kemudian, telur-telur itu menetas dan bayi elang selanjutnya mengarungi kehidupan dalam budaya ayam. Meskipun sempat melihat makhluk sejenisnya yang dapat terbang, bayi elang itu tidak memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru yang sebenarnya akan mengembalikan kondratnya sebagai seekor elang. Namun, ia tidak memiliki daya coba yang tinggi serta dukungan dari lingkungan yang rendah, elang itu selamanya “menjadi ayam”. Kisah anak elang tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri sendiri dan potensi diri. Setelah itu, kita perlu mengembangkan sayap selebar-lebarnya ke muka dunia dengan cara mencari ilmu.
Perlahan tapi pasti, si Anak elang mulai melupakan yang sempat menimpanya. Ya, dia adalah ayam, bukan elang. Dia tak bisa terbang setinggi burung elang, tak perlu menukik tajam dari angkasa untuk menerkam mangsa. Cukup menggali tanah, menemukan binatang penggembur, mencaploknya, nyam-nyam, telan, kenyang. Selama ini dia bisa menerima hidup yang seperti itu, dan selalu menganggap itulah takdirnya. Tak perlu membuang energi untuk mencoba. Hasil akhirnya sudah pasti. (ASDD: 218)
Namun, aktivitas mencari ilmu tersebut juga memiliki norma-norma tersendiri (hlm. 143—160), yaitu (1) ikhlas lillahita’ala, (2) tujuan mencari ilmu: menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan orang lain, (3) berniat menuntut ilmu berpijak pada aqidah, (4) lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat, (5) menghormati dan memuliakan kaum ulama, dan (6) mencari kebenaran dan sabar.
Penulis, mengawali proses ini dengan memperkuat hati dan mengenali kesadaran diri. Manusia harus mengenali dengan baik siapa dirinya dan apa yang ada di dalam dirinya itu. Dengan mengenali diri dan potensi diri, Penulis mengajak manusia untuk menikmati hidup sebagai suatu anugerah (hlm. 55). Sebagai “doping” untuk memperkuat diri, manusia yang sudah dianugerahi dengan kemampuan untuk meniru, layak untuk mencari sosok teladan yang benar-benar dapat diteladani. Dalam buku ini, Penulis memberikan banyak sosok yang dapat diteladani oleh kaum muslimin dan muslimat, di antaranya Rasulullah, Khalid bin Walid, dan Abu Bakar Ash-shiddiq. Selain tokoh Islam, Penulis juga memberikan ilustrasi negeri sakura yang mampu menggeliat hebat dari keterpurukan akibat PD II di Nagasaki dan Hiroshima. Kerasnya minat dan daya juang para penghuni negeri sakura itu layak dijadikan sebagai cermin oleh kita.
Setelah itu, penulis pun beralih pada langkah-langkah penggalian potensi tersebut dengan rangkaian langkah yang disebut tarbiyah dzatiyah (hlm. 117). Tarbiyah dzatiyah yang ditawarkan penulis lebih merupakan sarana untuk menggali potensi secara Islami yang menyeluruh melalui enam langkah berikut, yaitu muhasabah, thalabul ‘ilmi, praktik, pemanfaatan waktu, berdoa, dan melawan penyakit mental. Muhasabah adalah penelusuran pada diri sendiri melalui tiga tahapan berikut, yaitu niat dan kesiapan diri, menentukan mana yang hak dan yang batil, dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Kedua, kaum muslimin digenjot Islam untuk menggeruk ilmu seluas mungkin untuk memperkuat diri sendiri. Ketiga, setelah menangguk ilmu, kaum muslimin diwajibkan untuk mengamalkan ilmu yang ia peroleh. Keempat, ilmu yang diperoleh semata-mata untuk ibadah bukan untuk kesombongan. Sehubungan dengan itu, manusia diwajibkan menundukkan kesombongan karena ilmu dengan sujud kepada Allah swt. yang telah memberikan anugerah tersebut kepada kita. Semakin tinggi ilmu yang kita peroleh semakin tinggi keharusan kita untuk melipatgandakan diri kepada Sang Pemberi Ilmu tersebut.
Penulis mengakhiri tulisan ini dengan anjuran untuk segera melaksanakan pengenalan diri dan penggalian potensi diri secepat mungkin. Jangan sampai keinginan dan angan yang setinggi langit akhirnya terkalahkan oleh hadirnya “kereta ekspres Penyesalan” yang selalu hadir lebih cepat dari jadwal seharusnya.
Life Begins at Young!
Masak sih? Bukannya “at 40”? emang ada yang bilang beitu. Tapi, buat kamu yang masih muda…, yakin mau nunggu selama itu? Bagi yang nggak mau, yuk ikut gerakan “Life Begins at Young!” Asyik, lho! Mau tahu asyiknya di mana?
Dengan mengikuti gerakan ini, kamu bakal diajarin buat bikin hidup lebih hidup! Siapa sih yang nggak mau? Sama dong! Kita semua menginginkan hal itu terjadi dalam hidup kita di dunia. Siapa juga yang nggak mau? Pasti kurang waras. Tapi, apa hanya dengan “menginginkan”, lalu sekonyong-konyong terwujud? Bakal ujug-ujug jadi warna dalam episode-episode kehidupan kamu di dunia nan indah ini? Nggak, kan? Selain menginginkan, kamu juga harus “meraihnya” dan berusaha mewujudkannya! (ASDD: 280)
Ada Singa dalam Dirimu merupakan obat yang mujarab yang aman dikonsumsi oleh berbagai kalangan yang sedang mengalami pudarnya identitas diri dan mengalami peningkatan kebuntuan hidup. Dengan bahasa gaul yang sangat lancar mengalir bak air turun dari hulu ke lembah, buku ini layak dikonsumsi tanpa dihinggapi rasa cemas, takut, dan antipati. Bahasa gaul yang dipakai dalam buku ini memang masih menyimpang dari kaidah EYD, tetapi hal itu justru mempermudah pemahaman isi buku itu, seperti dalam contoh berikut.
Sebagai (calon) penulis, ada beberapa hal yang kudu kamu list: banyak membaca, harus menulis setiap hari, sering-sering mengedit (mengedit tulisan siapa? Ya, tulisan kamu!), bergabung dengan komunitas penulis, dan menyiapkan buku khusus atau lebih bagus komputer. (ASDD: 207)
Namun, sasaran yang lebih tepat dari buku ini adalah pusat benak dan kalbu kaum ABG atau remaja. Buku ini layak dijadikan sebagai kitab suci ketiga—selain al Quran dan hadist-- sebagai pembangkit dan penguat spirit dalam diri kaum remaja yang cenderung terjerat ke dalam arus kehidupan serbaglobal, serbainstan, dan serbahedonis. Meskipun, buku ini ditujukan untuk remaja muslim, tetapi intisari di dalamnya bersifat universal dan dapat diterapkan oleh remaja yang berlatarkan keyakinan yang lain. Satu pesan utama dalam buku karya Mulchias tersebut adalah upaya pencarian jati diri yang biasa dialami oleh remaja harus berlandaskan pada sumber keimanan, yaitu agama. Dengan demikian, remaja akan mampu melalui tahapan yang paling labil dari seluruh tahap perkembangan manusia tanpa mengalami personality gap atau cultural gap.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar