4 Mei 2009

BOOTS YANG ANGKUH

BOOTS YANG ANGKUH

Resti Nurfaidah



Hari itu, Billy diajak ibunya ke sebuah toko sepatu di Eastern Park. Ibu ingin membelika Billy sepatu yang baru. Betapa senang hati Billy mendengar hal itu. Ia jadi teringat sepasang sepatunya yang dulu kini sudah tidak bisa digunakan lagi. Bagian depan sepatunya yang sebelah kiri koyak karena gigitan Dormy, seekor anjing puddle milik tetangga. Sepatu itu sudah tidak nyaman lagi karena bagian solnya sudah aus. Bukan sekali dua kali Billy mengalami jatuh jika sedang berjalan.
Toko sepatu itu terletak di pojok jalan. Kebetulan saat itu toko tidak dipadati pengunjung. Billy dan ibunya leluasa memilih dan mencoba sepatu itu. Setelah memilah-milah model yang ditawarkan di toko itu, Billy akhirnya memilih sepasang sepatu boot berwarna hijau kecokelatan. Sepatu itu sangat bagus. Kulitnya tebal, tetapi lentur. Sebuah gesper yang kokoh menjadi penghias bagian depannya. Solnya sangat tebal sehingga aman dipakai Billy jika ia akan naik gunung atau kegiatan lainnya. Wajah senang Billy tampak terpancar dari wajahnya. Ia memeluk erat sepatu barunya selama dalam perjalanan pulang.
Sementara itu, di dalam sebuah kotak sepatu terjadi percakapan yang menyedihkan berikut ini. Sepasang sepatu yang koyak tadi berkata lirih kepada kawan-kawannya yang berjejer rapi di tempat itu.
“Duh, aku sedih. Aku sudah rusak. Billy tidak mau memakaiku lagi.”
Sepasang sepatu lain milik Billy menjawab.
“Ya. Kau tidak akan dipakai majikanmu lagi. Wajahmu sudah berlubang dan bagian pijakanmu sudah aus. Billy tidak aman bersamamu.”
Sepatu malang itu berkata, “ Ya… kawan, aku tahu itu. Namun, aku merasa sangat sedih karena sebentar lagi aku tidak akan tinggal di sini lagi. Billy atau ibunya pasti akan melemparku ke rak usang di gudang.”
“Di gudang? Masih beruntung majikanmu akan menyimpanmu di tempat itu. Kalau di tempat sampah bagaimana?” kata sepasang sepatu milik ibu Billy.
“Ahhh … kalian hanya menakut-nakuti diriku saja. Aku tidak dapat membayangkan hal itu. Aku takuuut!” ujar sepatu malang itu sambil terisak. “Aku pasti kehujanan dan kepanasan. Aku pasti bercampur dengan sampah rumah. Aku ngeri!”
“Ya … mau bagaimana lagi, kawan! Itulah nasib kita semua,” ujar sepasang sepatu ballet milik Nancy, kakak Billy.
“Dan … dan … tempatku akan digantikan sepatu baru. Kau tahu hari ini billy diajak ibunya membeli sepatu.”
“Hmmmm ….,” serempak beberapa pasang sepatu menghela nafasnya. Mereka tidak dapat berbicara apa-apa kepada kawannya yang malang itu.
Sepasang sepatu pesta berwarna perak dan bertabur manik-manik berkilauan tiba-tiba berkata.
“Hai… dengarkan!” serunya, “Itu suara mobil ibunya Billy.”
“Ya … kita lihat … siapa yang datang dan tinggal bersama kita di sini,” ujar sepasang sepatu milik ayahnya Billy.
Terdengar seruan riang Billy dengan tentengan di tangannya. Dibukanya isi kantong itu dan dikeluarkannya sepatu baru itu. Dipakainya sepatu itu. Billy berputar-putar dengan riang. Ia berjalan bak seorang model di atas pentas. Kemudian, ia beraksi sebagai seorang koboy cilik. Dooorrrrr! Katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Setelah puas memakainya, Billy melepaskan sepatu itu dan menyimpannya di dalam rak sepatu. Ya, sudah tiba waktunya bagi Billy untuk mempersiapkan pelajaran besok.
Setelah rak itu ditutup, sepatu boot yang baru itu menatap sekeliling dengan angkuh.
“Hai … kau penghuni baru di sini,” ujar sepatu milik ayah, “Kami mengucapkan selamat datang.”
Sepatu itu menjawab.
“Hmmhhhh … ya … terimakasih.”
“Semoga kau senang tinggal bersama kami di sini,” ujar sepatu pesta milik ibunya.
“Hmmm … biasa saja. Tempat ini tidak begitu menyenangkan bagiku. Sumpek. Bau. Gelap,” uajrnya dengan angkuh dan rona wajah yang masam.
“Kau tidak perlu bersikap seperti itu. Kami semua sama. Berasal dari pajangan di toko yang mewah dan terbuka, tetapi kini terdampar di rak ini,” ujar sepatu ballet.
“Mungkin! Namun, aku berbeda dengan kalian.”
“Kali in kau boleh berbangga hati. Namun, kalau kau mengalami kejadian yang menimpa dirinya?” ujar sepatu olahraga Billy.
Sepatu boot yang angkuh itu menatap sepatu yang malang itu dan berkata dengan sinis.
“Huuuhh … malang sekali nasibmu, kawan!” ujarnya sambil mendekati sepatu itu. Matanya menatap leka-lekat pada lubang menganga akibat gigitan anjing itu dan berkata, “Tampaknya kau tidak layak disimpan di sini. Kau lebih pantas tinggal di dalam kotak barang-barang usang di gudang. Kau lebih layak menjadi santapan para tikus pengunjung setia gudang atau … khmmmm … kau lebih pantas menjadi sarang kecoa!”
“Kau tega berkata buruk kepadaku!” ujar sepatu yang malang itu, “Kau tega!”
“Kau memang tidak pantas tinggal di tempat ini! Aku tidak sudi bersanding denganmu,” ujar sepatu angkuh itu.
Ia mendekati sepatu yang malang itu dan mendorong tutup rak itu hingga terbuka lebar.
“Apa … apa yang akan kau lakukan padaku?” ujar sepatu malang itu dengan penuh keheranan.
“Aku tidak ingin kau berdampingan denganku!” ujarnya dengan angkuh. Secepat kilat, sepatu boot itu menendang pasangan sepatu malang itu.
Billy yang sedang belajar dengan tekun di meja makan itu, mendengat suara gaduh dari arah rak sepatu. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke rak sepatu. Dilihatnya pintu rak sudah terbuka lebar dan sepasang sepatu malang yang tergeletak di lantai. Dipungutnya sepatu itu dan dibawanya ke halaman belakang. Dibuangnya sepatu yang tak layak itu ke dalam bak sampah, lalu Billy kembali ke dalam rumah.
Lengkap sudah penderitaan sang sepatu. Ia sangat menderita. Ia hanya berharap kalau ia masih berguna bagi majikannya. Namun, angannya itu harus ia telan mentah-mentah. Kini ia hanya dapat merenungi nasibnya yang malang itu.
***
Tidak lama setelah Billy menutup pintu belakang rumahnya, datanglah seorang pengemis tua yang senang mengais barang-barang usang di sekitar tempat itu. Seperti biasa, ia selalu berjalan mendekati bak-bak sampah di setiap rumah dan mengais-ngais benda usang yang ada di dalamnya. Ketika ia mendatangi tempat sampah di rumah Billy, ia menatap sepasang sepatu yang malang itu. Diambilnya benda yang telah koyak di bagian depannya itu. Diamatinya lekat-lekat benda itu. Sejenak ia tampak berpikir, lalu, sebuah sunggingan tampak dari sudut bibirnya yang keriput itu. Tampaknya, sebuah ide cemerlang sudah terkumpul di dalam benaknya.
Dibawanya sepasang sepatu yang malang itu, lalu dimasukkannya ke dalam tas besar yang selalu ditentengnya. Setelah itu, ia melanjutkan ritual hariannya, mengais sampah. Setelah dirasakannya cukup, pengemis tua itu kembali ke gubuknya yang ia dirikan di sebuah banguan tua bekas pabrik yang sudah lama tidak digunakan. Di tempat itu, ia mendirikan sebuah gubuk yang terbuat dari berlembar-lembar tirai dan kardus bekas yang ia temukan di bak-bak sampah yang ia aduk. Ia tidak sendirian tinggal di tempat itu. Berpuluh-puluh orang yang senasib dengannya juga tinggal di yang luas dan bertingkat tiga itu.
Gubuk pengemis tua itu sangat sempit. Ya, sekadar cukup untuk membuat pengemis tua itu dapat duduk dan tidur dengan nyenyak. Di depan gubuknya terdapat sebuah drum yang sudah ia potong setengahnya. Tempat itu ia isi dengan kayu-kayu dan kertas bekas yang berfungsi sebagai arang. Ia menyalakan tungku dari drum itu untuk menghilangkan hawa dingin yang kerapkali menggigiti sekujur tubuhnya.
Pengemis tua itu menurunkan bawaannya. Dipihnya sepatu yang ia temukan tadi. Di bawanya sepatu itu ke arah kran yang dulu berfungsi sebagai tempat cuci tangan para buruh. Dicucinya sepatu itu hingga bersih, lalu dikeringkan. Ia menjemur sepatu itu sampai benar-benar kering. Setelah itu, ia memotong bagian depan dan membuat lubang yang sama pada sepatu sebelah kanan yang masih utuh. Hasilnya, jadilah sepasang sepatu berlubang di bagian depannya. Kemudian, pengemis tua itu mengambil sepotong busa yang sudah ia bentuk sesuai dengan lekuk sepatu itu. Dimasukkannya busa itu ke dalam sepatu.
“Apa yang akan dilakukan pengemis tua itu kepadaku?” tanya sepatu dalam hatinya. Ia tidak mengerti.
Setelah menjejalkan busa tadi, pengemis tua itu memasukkan serbuk kayu pada bagian atasnya. Kemudian diambilnya beberapa batang bunga aneka warna dan ditancapkannya pada lubang yang dilapisi serbuk kayu itu. Rupanya, pengemis tua itu pandai merangkai bunga. Meskipun bunga yang dirangkainya itu merupakan barang-barang usang, rangkaian itu tampak indah. Sepasang sepatu berlubang yang malang itu kini menjelma menjadi sepasang vas dengan rangkaian bunga yang cantik di atasnya.
Sepatu itu tersenyum dalam hati. Kin, ia tidak bersedih lagi. Kini, ia bukan sepasang sepatu malang yang telah dicampakkan pemiliknya ke dalam bak sampah, melainkan telah menjelma menjadi sepasang vas bunga yang cantik.
Pengemis tua itu tersenyum bangga dengan hasil karyanya itu. Dipandanginya tiada henti vas bunga dari sepatu usang itu lekat-lekat. Ketika malam telah tersibak, kedua kelopak matanya yang berhiaskan gurat keriput itu tidak kuasa lagi untuk bertahan. Pengemis tua itu akhirnya terlelap sambil memeluk buah karnyanya yang indah itu. Sepanjang malam ia terhanyut dalam impiannya. Di dalam mimpinya itu, ia sibuk mengerjakan banyak pesanan rangkaian bunga yang vasnya terbuat dari sepatu bekas.
Keesokkan harinya, ia membawa sepasang vas sepatu itu ke Eastern Park. Pengemis tua itu ingat bahwa hari ini merupakan hari pertama festival musim panas. Setiap tahun selalu diselenggarakan di tempat itu. Ia ingin menjual vas unik buatannya itu.
“Kalau vas ini laku terjual, aku bisa mendapatkan sedikit tabungan,” gumam pengemis tua itu dengan penuh harap.
Festival musim panas itu sangat meriah. Pengunjung tumpah-ruah memadati pelataran Eastern Park yang indah. Banyak stan yang menjual aneka makanan, minuman, dan produk-produk lainnya didirikan di tempat itu. Selain itu, sebuah panggung besar didirikan di tengah pelataran dan dipadati kaum muda pecinta musikl. Ya, silih berganti kelompok pemusik tampil di atas panggung memamerkan kepiawaian mereka. Aneka permainan pun digelar di berbagai tempat, seperti pertunjukkan badut dan sulap, akrobat, bianglalau, seluncuran, komidi putar, dan masih banyak lagi.
Pengemis tua itu duduk di sebuah bangku kecil dan meletakkan kedua vas unik itu di depannya. Secarik kertas kecil bertuliskan “dijual” diletakkan di tepi barang dagangannya. Hampir lama ia menunggu ketika dilihatnya seorang wanita setengah baya dan cucunya yang sudah remaja datang menghampirinya. Wanita itu mengamati lekat-lekat pada buah karya pengemis tua itu agak lama.
“Nenek, vasnya unik sekali, tetapi serasi dengan bunga-bunga yang di atasnya,” ujar cucunya.
“Hmmmm, ya… kupikir juga demikian,” ujar sang nenek sambil terus mengamati vas bunga itu. “Kalau kuletakkan di kedua meja sudut, pasti ruang tamuku akan semakin menarik,” gumamnya dalam hati.
“Kalau begitu, beli saja, Nek!” ujar cucunya itu.
“Hmmmm … ya … ya ..., aku juga setuju. Aku akan membeli kedua vas itu.”
Tawar-menawar harga pun terjadi antara wanita itu dan pengemis tua. sejumlah uang akhirnya tercabut dari balik dompet tebal wanita itu. Pengemis tua pun menerima lembaran uang itu dengan gembira. Beberapa waktu lamanya, ia tidak perlu lagi mengais sampah karena kini memiliki uang simpanan yang lumayan besar baginya.
Sepatu yang beruntung itu kini tersenyum lebar. Ia berkata dalam hati, “Hmmmm … Dormy telah membuatku menjadi sepatu yang sangat beruntung di dunia.”
Sepatu malang yang kini telah menjelma menjadi benda pajangan yang unik itu kini bertengger di atas dua buah meja sudut di sebuah ruang tamu yang indah milik wanita pembeli itu. Hampir setiap tamu yang berkunjung ke rumah itu mengagumi sepasang vas yang unik itu.
Sementara itu, ketika pengemis tua itu tengah beranjak pulang, beberapa pengunjung yang menyukai hasil karyanya itu memintanya membuat kembali vas bunga serupa. Ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Beberapa hari kemudian, ia sudah tampak mengais mencari benda usang di tempat sampah milik penduduk. Beruntung beberapa sepatu usang yang masih dapat ia sulap menjadi benda unik. Berbekal uang yang ia dapat, pengemis tua itu membeli beberapa bunga.
Kemudian, ia kembali membuat beberapa rangkaian bunga yang tidak kalah indahnya dengan benda serupa buatan para floris ternama. Di bawanya buah karyanya itu ke tempat festival. Barang-barang yang ia jajakan laku keras. Gemerincing uang memadati saku jaket kumalnya. Bahkan, tidak sedikit yang memesan barang-barang itu kepadanya. Beberapa waktu kemudian, pengemis tua itu tidak lagi tinggal di dalam bangunan tua itu. Kini ia telah hidup berkecukupan dan mampu menyewa sebuah tempat kontrakan di pinggiran kota. Jika sedang memandang kehidupan sekitar dari balik jendela, ia akan teringat pada sepasang sepatu usang yang telah mengubah jalan hidupnya.
“Terima kasih,” gumamnya pada sepatu usang itu. Ya … sepatu usang berlubang menganga pada bagian depannya yang telah memberikannya kehidupan yang lebih baik.

***



Pada hari Minggu, Billy dan beberapa kawan sekelasnya pergi mendaki gunung. Billy pandai memanjat tebing-tebing yang terjal. Ia sangat menyukai pemandangan yang indah yang dilihatnya dari puncak gunung. Biasanya, ia selalu mengabadikan hal itu dengan kamera sakunya.
Sore itu, Billy sudah menyimpan kamera sakunya ke dalam kantung kecil jaketnya. Kemudian, ia bersama kawan-kawannya mulai menuruni bukit yang curam dan berbatu-batu itu. Tiba-tiba angin bertiup kencang mendorong Billy dan kawan-kawannya dengan kuat. Satu per satu saling menubruk. Kaki Billy terjerembab dan terjepit di antara bebatuan tajam. Ia meringis menahan rasa sakit yang tiada tara. Tangan dan wajahnya dihiasi luka lecet yang cukup banyak.
Perlahan-lahan ia berusaha mengangkat kedua kakinya yang terjepit itu. Rupanya jepitan bebatuan tajam itu sangat kuat hingga sepatu boot yang dikenakan Billy koyak di sana-sini. Melihat kondisi sepatu barunya itu, Billy merasa sangat sedih. Namun, meskipun dalam keadaan yang tidak layak, Billy dengan tertatih-tatih berusaha menyelesaikan perjalannya itu.
Setibanya di rumah ibu menyambut Billy dengan penuh kasih sayang. Dibukanya sepatu Billy dan dirawatnya luka-luka di tubuh anak lelakinya itu. Setelah itu, Billy beristirahat. Ibu meraih sepatu boot yang sudah hancur itu dan membawanya ke luar rumah.
Nasib sepatu yang angkuh itu tidak berbeda dengan temannya yang dulu. Kini ia teronggok sedih di atas tumpukan sampah rumah Billy sambil merenungi sikapnya yang sangat angkuh itu. Keesokan harinya, petugas kebersihan meraup isi bak sampah itu dan menjejalkannya pada mesin pengumpul sampah di bagian belakang mobil pengangkut sampah. Sepatu boot yang malang itu tertindih gunungan sampah yang menyesak dan menyengat. Sepatu boot yang angkuh itu kini bernasib malang.***




Sumber gambar:
• http://images.google.co.id/images?client=firefox-a&rls=org.mozilla%3Aid%3Aofficial&hl=id&q=boots&btnG=Telusuri+Gambar&gbv=2&aq=f&oq=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar