4 Mei 2009

GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA


GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA

Hati terhenyak pasca membaca novel ini karena telah menyelami permainan alur dan barisan kalimat lancar sejak awal sampai akhir cerita. Hati turut terhenyak dan terhempas ke dalam bantalan pasir luas berbatu kerikil tajam mengingat penderitaan seorang perempuan bernama Arini yang tergantung dan terkatung pada akhir cerita. Hati turut tercabik dan lelah seketika mengingat jalan Arini masih sangat panjang tanpa sempat terucapkan dalam cerita. Arini masih harus ber-

juang antara bertekad memperbaiki keadaan atas pengalaman yang sama yang pernah diderita seorang perempuan yang selama ini dipanggil ibu. Pengalaman yang tidak kalah dramatis yang dialami ibunya kini mendera dirinya setelah sepuluh tahun perkawinannya.
Arini? Siapa Arini sebenarnya? Ya, dialah tokoh utama dalam Istana Kedua karya Asma Nadia yang bertutur tentang pergolakkan dahsyat seorang perempuan yang berkedudukan sebagai istri dan ibu dari buah perkawinan dengan lelaki yang sangat dicintainya itu. Arini merupakan refleksi dari jutaan wanita yang mengalami badai dahsyat rumah tangganya. Arini merupakan cerminan antara nafsu dan sabar, gelegak amarah dan tabah, serta deburan ombak cemburu dan kebisuan. Arini merupakan wakil para wanita yang tidak pernah menduga bahwa tembok cinta sekokoh apa pun akan luruh karena desakan sebaris kecil akar tanaman gulma yang sekedar ingin menampakkan diri. Arini adalah seorang wanita yang tidak pernah menduga bahwa cinta terkaribnya pada suatu saat akan tercabik dan terengut dari kalbunya.
Arini dikisahkan terbiasa dengan keindahan kisah atau dongeng sebelum tidur yang senantiasa berakhir bahagia. Selama menempuh pendidikan tingginya ia pun terbiasa dengan goresan cerita yang indah. Pada saat menikah menjelang wisuda pun ia masih terseret arus keindahan dongeng yang dihadapinya. Namun, sebagai putri di dalam kisah impiannya, Arini lupa bahwa cerita perkawinan memiliki ribuan arus yang bias antara yang lurus dan yang menyimpang. Ia terhanyut ke dalam keindahan dan impian yang memabukkan hingga ketiga buah perkawinan itu hadir menjadi pelipur pasangan itu. Arini lengah bahwa daun tempat ia berlayar bersama belahan jiwanya memiliki setitik celah yang semakin lama semakin lebar. Arini tidak pernah mempersiapkan bahwa banyak pihak yang mengintai untuk mencabut ketenangan pelayaran dirinya. Arini lupa bahwa dunia dongeng pun memiliki banyak titik hitam yang dapat mengakhiri keindahan kisahnya.
Pasca perkawinannya, Arini seakan berperanan sebagai seorang putri raja yang bersanding dengan seorang pangeran idaman yang telah memenangkan pertarungan. Ia jadikan bahu sang pangeran sebagai sandaran ternyaman di dunia untuk tempatnya berlabuh dan menenangkan segala angan dan impiannya. Ia tidak menyadari bahwa pada suatu waktu, bahu sandaran itu akan aus dan pegal sehingga mau tidak mau harus mengganti posisinya. Ia tidak menyadari bahwa di luar pagar rumahnya, banyak pula bidadari lain yang iri dan menginginkan bahu yang sama yang selama ini telah diklaim Arini sebagai miliknya seumur hidup.
Akibatnya, ketika celah pagar memuai semakin lebar dan sesosok bidadari berhasil melewati celahnya, Arini benar-benar terkesiap kaget. Ketika celah dalam bahtera daun impian Tumbelina terbuka semakin lebar, Arini merasa dihujam ribuan sembilu. Ketika aura kebahagiaan terpaksa memecah belah, Arini seakan terhempaskan ke dalam dasar jurang yang mahadalam. Ketika bahu sandaran bergeser jauh ke seberang, Arini pun tidak mampu lagi menjejakkan kedua kakinya yang kini dirasakan tidak berotot dan bertulang.
Ya, Arini alpa besar bahwa Andika Prasetia bukanlah miliknya secara mutlak seumur hidupnya. Arini lupa bahwa ribuan pasang mata perempuan lain mengincar tempat yang sama di dalam kalbu sang pangeran yang ia miliki dengan hampir tanpa hambatan yang berarti itu. Arini lupa bahwa sang pangeran hanyalah titipan Illahi yang, ibarat sebuah wayang golek, dapat digerak-gerakkan sang pencipta oleh siapa saja. Arini alpa bahwa sang pangeran bukanlah hadiah eksklusif yang Allah berikan kepadanya. Arini khilaf bahwa sang pangerang hanyalah pinjaman sesaat dari sang pencipta.
Arini yang tidak siap dengan peristiwa ‘kehilangan’ besar dalam sejarah perkawinannya itu, dihadang oleh berbagai aral melintang di depan matanya. Arini tidak bisa bersikap leluasa untuk menumpahkan segala deritanya, terutama, jika ia sedang berada di depan anak-anaknya yang memiliki ‘sensitivitas’ tinggi. Terlebih, si sulung yang bernama Nadia. Ia harus rela mencuri dan menunggu waktu yang tepat untuk menumpahkan air mata dan kekesalannya yang seakan menyodok keras rongga dada dan kelopak matanya tiada ampun. Arini pun dihadang kenyataan bahwa ‘suri teladan kemesraan’ yang selama ini ditunjukkan oleh kedua orangtuanya, ternyata dibentuk atas dasar dosa pada masa lalu yang kini menimpa dirinya. Arini akhirnya berlabuh di pangkuan ibunya setelah menyaksikan sendiri kemesraan sang pangeran kepada belahan hati yang lain. Dari wanita itulah Arini akhirnya mendapat kekuatan untuk berjuang mengambil kembali keeping-keping impiannya. Titik-titik semangat pun mulai terjalin menjadi helaian benang harapan yang ia pastikan mudah ditenunkan. Namun, semangat itu kandas di tengah kebimbangan atas situasi yang ia rasakan di dalam ‘istana kedua’ suaminya.
Istana Kedua mencerminkan gugatan seorang wanita bernama Arini terhadap salah satu hukumullah. Namun, gugatan tersebut seakan tidak pernah tersampaikan seiring menggantungnya nasib Arini pada akhir cerita. Semangat juang untuk menarik kembali sang pangeran ke dalam pelukannya terhadang situasi yang sangat tidak memungkinkan saat itu. Lidah Arini pun seakan kelu untuk menjalin kata yang dianggap ‘ampuh’ untuk merekatkan kembali fragmen sang pangeran dalam kalbunya.
Putri raja kedua dalam dunia sang pangeran rupanya sudah terpaut erat hatinya kepada lelaki pujaannya itu. Ia melakukan berbagai cara agar malaikat penolongnya itu tidak pernah menjauh dari perangkapnya. Hal itu dilakukannya karena merasa mendapatkan figur yang ia dambakan yang selama ini seakan sebuah fatamorgana dalam sejarah hidupnya. Didera trauma berkali-kali oleh beberapa kaum lelaki yang telah mempermainkannya laksana sebuah boneka usang yang koyak, sang putri, Mei Rose, tidak ingin kehilangan lagi pangeran impiannya yang ia nilai ‘berbeda dan istimewa’ itu. Lidah sang putri yang diwarisi aura kesombongan itu dengan tegas menyatakan ketidakinginan dirinya untuk melepas ‘tawanannya’ dan, bahkan, dengan terang-terangan ia menyatakan isyarat perang kepada pesaingnya dalam kalimatnya sebagai berikut.

“Sementara satu-satunya hal baik yang pernah terjadi seumur hidupku hanya Pras!” (IK, 2007:242)

Dengan kalimat itulah sang putri mengunci sang pesaing. Sang putri tidak ingin melepaskan nikmatnya tetes-tetes embun cinta yang tidak kuasa lagi dibendung benteng pertahanan sang pangeran. Ia berhasil membuat sang pangeran merasa terenyuh dengan kisah garis hidupnya yang mahadrastis itu. Jeratan itulah yang berhasil membuat sang tawanan tidak berkutik dan hampir tidak mampu melihat kehadiran ‘sang penjemput’ yang sudah di ambang batas kelelahan penantian dan harapannya untuk membawa pulang pangeran impiannya itu.
Ia menampik pernyataannya dalam sebuah pesan penuh harapan yang ia kirimkan ke sembarang pos-el bahwa ia tidak menuntut sebagai pihak full-timer kepada pasangan hidup yang berminat kepadanya (hlm.12). Ya, ia hanyalah manusia biasa dengan segala kelemahan. Ketika kenikmatan telah direguknya, tentu saja ia tidak ingin melepaskan sumber kenikmatannya itu. Arini yang semula senantiasa pasrah dengan peristiwa yang dihadapinya, terutama jika di depan sang pangeran pujaannya yang bernama Pras, tidak mampu memperjuangkan semangatnya dan kembali ketitik ketidakberdayaan. Sementara itu, pangeran yang bernama Pras tidak mampu memegang janjinya sendiri untuk menahan tembok cintanya untuk Arini ketika pada saat yang sama rekan-rekan asyik mengumbar alasan untuk mendua hati. Namun, sang pangeran bukanlah makhluk yang tercipta dari besi dan baja yang mampu bertahan dari badai yang berhembus dahsyat dari kedalaman lautan. Ia tidak mampu menahan hasrat dan mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa ia telah jatuh cinta lagi kepada putri yang lain, putri yang kedua yang tidak lain berwujud ‘itik buruk rupa’ bernama Mei Rose.
Membaca Istana Kedua seakan membaca keindahan tentang ketidakberdayaan makhluk yang bernama manusia. Ketidakberdayaan manusia untuk menahan hasrat, baik hasrat bak malaikat maupun hasrat bak setan, ketidakberdayaan terhadap kenyataan hukumullah, ketidakberdayaan untuk mengalahkan angan, dan ketidakberdayaan terhadap fakta kehidupan. Ketidakberdayaan tersebut sebenarnya telah tampak pada sampul luar novel tersebut, yaitu (1) warna kelam pada tembok kokoh sebuah istana menyiratkan duka yang menggayut di tempat itu, (2) gurat reta pada tembok menyiratkan dalamnya perih luka menari di relung kalbu penderita yang tidak lain Arini—si tokoh utama, (3) jendela indah yang temboknya terbelah menggambarkan bahwa peristiwa tersebut bisa menimpa siapa saja baik dari kalangan yang telah mapan maupun tidak, serta (4) jalinan batang mawar rambat dengan duri tajam adalah simbol dari peristiwa ‘mendua’ yang menjadi penyebab ‘kesuraman’ itu. Peristiwa mendua itu merupakan suatu keindahan pada satu pihak, biasanya diarahkan kepada kaum lelaki, yang digambarkan dengan indahnya barisan bunga mawar pada batang melingkar. Sebaliknya, peristiwa tersebut menoreh kepedihan yang tiada tara dan tiada akhir pada pihak yang lain, biasa ditujukan kepada perempuan yang tidak lain adalah istri pertama. Hal itu digambarkan dengan panjangnya batang mawar yang sarat duri tajam.
Selain sarat dengan ketidakberdayaan, Istana Kedua juga sarat dengan gugatan, yaitu gugatan terhadap fakta dan hukumullah. Hal itu tersermin dalam kutipan suara hati Arini berikut.
Jika cinta bisa mencukupkan seorang perempuan hingga setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan? (IK, 2007:242)

Boleh jadi, gugatan Arini merupakan cerminan gugatan sang penulis sendiri terhadap aturan hidup mendua itu. Gugatan lain juga datang dari tokoh Pras yang menganggap bahwa hubungan intim yang dilakukan setelah ikrar pernikahan merupakan ‘suatu kesalahan’ (hlm. 238—239). Namun, kesalahan itu disikapi secara munafik karena Pras tidak mampu menahan hasratnya kepada Mei Rose, si putri kedua dalam hatinya itu. Kalau saya boleh berasumsi, pendapat Pras terhadap ‘kesalahan’ tersebut merupakan pendapat penulis sendiri yang tidak merelakan si madu mendapatkan hal yang sama dengan istri pertamanya. Apa benar hal itu merupakan ‘suatu kesalahan’ jika hubungan intim dilakukan pascaikrar pernikahan?
Novel Istana Kedua merupakan penolakan terhadap kehidupan serbamendua yang disampaikan dengan halus dalam rangkaian kalimat indah yang terangkum setebal 248 halaman. ***

Resti Nurfaidah, S.S.
Pengamat sastra

Sumber data:
Nadia, Asma. 2007. Istana Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
"Sunny" ambon@tele2.se
"Kartono Mohamad" kmjp47@indosat.net.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar