“KEPRIBADIAN ALINA”: MEMBELAH SISI KELAM
DUNIA YANG RAPUH
Sumber Resensi:
Judul : “Kepribadian Alina”
Penulis : Suminaring Prasojo
Penerbit : Diva Press (Yogyakarta)
Cetakan : pertama, September 2008
Tebal : 370 halaman
Dendam akan menelusup ke relung kesadaran seorang anak akibat kekerasan yang dilakukan orang tuanya di masa kecil. Dendam membalas dan dendam kompensasi. Pada dendam membalas, anak akan melakukan tindak kekerasan yang pernah dialaminya terhadap orang lain. Sedangkan pada dendam kompensasi, anak akan bereaksi dengan sebaliknya. Ia menjadi overprotektif dan mengasihi secara berlebihan orang-orang terdekatnya. (KA:114)
Kutipan itu terdapat dalam sebuah buku yang dibaca oleh Reyssa, sahabat Alina, atas “keanehan” yang ia temukan pada sahabatnya yang kelak ingin ia miliki sebagai seorang pendamping hidupnya itu. Buku itu seakan mampu memberikan jawaban atas pengamatannya pada sosok Alina. Kutipan itu pula yang memberikan pemahaman pada sikap tokoh Alina dan Reyssa itu sendiri.
Membaca “Kepribadian Alina” dari halaman awal sampai halaman akhir seperti kita menelusuri sebuah lorong panjang gelap yang berliku, turun-naik dengan terjal, dan saling menyambung. Dengan demikian, kita akan diajak untuk melatih ketajaman naluri dalam menentukan arah cerita. Adakalanya kita salah memilih jalan yang membuat kita memutar ke kekelaman sebuah lembaran sejarah yang keji. Namun, adakalanya kita terlempar begitu pada masa depan yang terselubung kabut pekat. Lorong itu bukan hanya hadir dalam dunia cerita, tetapi kerapkali muncul dalam realita. Lorong yang tidak ubahnya seperti sebuah labirin tak berakhir itu dimiliki oleh seorang Alina dalam “Kepribadian Alina”.
Jika sebagian besar orang sangat terobsesi dengan domain putih di dalam kehidupannya dan begitu ingin disebut orang baik atau suci, mungkin Alina adalah satu pengecualian. Gadis itu lebih memilih labirin asing dengan warna kelabu. Perpaduan antara hitam dan putih. (KA:16)
Alina laksana seorang bidadari yang membungkus sebuah bom granat raksasa. Granat itu sesekali akan meledak hebat jika tekanan yang datang dari dunia di sekelilingnya sedemikian besar. Bidadari itu akan memuntahkan ledakkannya meskipun bukan untuk orang lain, tetapi karena orang lain. Jika Alina mendapatkan sandungan, tubuhnya akan mengejang hebat seperti ia sedang berhadapan dengan sebuah sosok makhluk yang sangat mengerikan. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya sebelum meledak dengan hebat. Pemandangan berikutnya adalah Alina yang mengamuk seperti seekor singa yang marah karena didatangi rivalnya. Tak ayal barang-barang di sekitarnya akan melayang hebat ke segala arah. Setelah itu, ia akan kehilangan segalanya, stamina dan kesadarannya.
Tiba-tiba sebuah buku melayang di udara, lalu menubruk vas keramik hingga terbanting ke lantai. Pecah. Buku yang lain menyusul dan menimpa monitor komputer, lantas teronggok di meja komputer. Buku-buku yang lain pun berhamburan, bertebaran ke berbagai arah dan bagian kamar. Suara robohnya rak buku terdengar kemudian. Berdebam keras, terantuk lantai. Berantai. Semua buku tak lagi berada di tempatnya semula. Sebagian halaman terkoyak, banyak yang sampulnya terlepas. (KA:34)
Begitulah Alina, seorang bidadari muda yang terbungkus selembar kertas kado eksklusif dan berhiaskan jalinan pita yang berkilauan. Performan yang indah itu mampu menyedot atensi, baik dari lawan jenis maupun sesama jenis. Ya, Alina memang cantik … sangat cantik. Kecantikan hampir sempurna yang berpadu indah dengan kecerdasan yang sangat luar biasa.
Alina terlahir sebagai putri sulung (anak kedua) dari pasangan Raharjo dan Setiawati. Alina memiliki seorang kakak laki-laki dan tiga adik perempuan. Kehidupan masa kecil Alina sangat suram. Raharjo adalah jurangan nelayan di sebuah daerah pesisir di Cilacap. Raharjo ternyata merupakan seorang lelaki pesakitan yang menanggung sejarah kelam masa lalu (hlm. 165—169). Masa lalu itu berpadu dengan tanaman fitnah yang ditancapkan sang ayah jauh ke ulu hati. Akibatnya, Raharjo sejak secil telah menaruh kebencian kepada sosok yang seharusnya ia sayangi seumur hidupnya, ibunya. Ya, ibunya memilih untuk hengkang dari kehidupan rumah tangganya dan keluarga kecilnya hanya karena sebuah penolakan atas satu hal yang paling menyakitkan dalam kehidupan wanita, poligami. Sejak itu, Raharjo memandang bahwa ibunya tidak lebih dari seorang wanita binal, yang bejat, hina-dina. Sejak saat itu, Raharjo menaruh benci pada lawan jenisnya, terkecuali kepada Setiawati—satu-satunya wanita yang bersedia untuk menikahinya.pernikahan tidak menyurutkan kebencian Raharjo pada wanita, ia meperlakukan istrinya dengan semena-mena. Selain itu, Raharjo juga berlaku sama pada anak-anaknya. Raharjo merasa kecewa karena ia hanya mendapatkan seorang anak laki-laki dalam pernikahannya. Selebihnya, ia didominasi kehadiran tiga anak perempuan. Perempuan! Sumber kebencian Raharjo.
Sejak perirtiwa itu, Raharjo tumbuh menjadi lelaki keras, sama dengan ayahnya, dan berpandangan miring terhadap perempuan. (KA:168)
Kesetiaan Setiawati tidak pernah melunturkan kebencian Raharjo. Meskipun siksaan kerapkali diterima dari suaminya, ia tetap mencintai Raharjo. Meskipun Raharjo pernah tergiur oleh godaan sahabat istrinya sendiri dan menggerus harta yang notabene milik Setiawati, tetapi wanita tabah itu bersedia menerima kembali lelaki kejam itu. Kekejaman Raharjo yang juga berlaku kepada keempat anak-anaknya juga. Akibatnya, dua anak Raharjo, Alina dan Sarah, bertekat untuk hengkang dari rumah ibarat neraka itu. Sarah pergi karena rasa kecewa yang sedemikian tinggi saat kehilangan calon suaminya, Damar. Damar batal mempersunting Sarah karena dianggap belum layak sebagai seorang suami di mata Raharjo. Sarah melarikan diri dan menikah dengan seseorang yang asing baginya. Sejak saat itu, Sarah tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya.
Tak pernah sekalipun Sarah menelepon. Sama sekali tak pernah. Hingga akhirnya, lewat email ke Alina, ia mengabarkan tentang perkawinannya dengan seorang pria yang sama sekali asing bagi keluarganya. Tak seorang pun mengetahui siapa dia. Sejak saat itu pula, Sarah memutuskan hubungan dengan keluarga besarnya. (KA:56)
Alina merupakan gadis pemberontak yang bersikeras untuk menghirup indahnya dunia seni. Seni bagi Raharjo merupakan pekerjaan tak layak bagi seorang bangsawan seperti dirinya dan keluarganya. Ia menentang keras keinginan Alina. Meskipun telah dihujani hukuman keras, tekat Alina tidak luntur sedikit pun. Dari sebuah kamar mandi usang di rumah neraka itu, Alina melayangkan surat pada sang bibi di kota seni agar ia membantu dirinya. Tangan halus dan curahan kasih sayang bibinya itulah ia mampu mengasah kepekaan dalam dirinya dan mewujudkan cita-citanya. Di sinilah ia mampu merasakan sentuhan halus dan pendidikan mental yang luar biasa. Ia seakan mendapatkan pengganti ibunya yang lebih banyak meleburkan diri dalam deritanya.
Sejak peristiwa itu, Raharjo tumbuh menjadi lelaki keras, sama dengan ayahnya, dan berpandangan miring terhadap perempuan. (KA:168)
Sepeninggal bibinya, Alina seperti serpihan kapas yang melayang tak tentu tujuannya. Alina memutuskan untuk hengkang ke metropolitan dan berkutat dengan tulisan-tulisannya yang kerap meraih kategori best-seller. Hanya dalam tulisannya itulah Alina mendapatkan tempat untuk menyampaikan segala siksaan emosi yang demikian telah membeku dalam dirinya. Meskipun demikian, Alina belum mampu menemukan obat untuk membunuh penyakit kronis yang ada dalam dirinya.
Penderitaan Alina semakin bertambah dengan ketidakberesannya dalam menjalin hubungan asmara. Sederetan nama hadir dalam kehidupannya. Namun, Alina seakan terbentur dengan tembok kekecewaan yang demikian tebal. Sejak perlakuan buruk ia terima dari ayahnya, Alina telah menghapus sedikit demi sedikit kekagumannya pada lawan jenisnya. Ia tidak dapat menerima superioritas lelaki. Ia tidak dapat menerima kelebihan lawan jenisnya yang tidak dimilikinya. Ia menganggap lelaki tidak mau mengerti dirinya dan kemauannya. Kekecewaan terbesar ia temukan pada sosok Biru—lelaki yang paling dikaguminya. Berjuta harapan telah ia gantungkan ke langit ketujuh demi menjelang kebahagiaan bersama sang pujaan. Namun, Biru seakan tidak mengerti harapan tinggi Alina dan meninggalkan bidadari yang terkapar dalam deraan depresi itu tanpa kabar berita. Kelak, pertemuan kembali dengan Biru yang sudah mapan semakin memperlebar luka lama Alina—yang sebenarnya ingin memulihkan dirinya bersama lelaki itu kembali. Kebiasaan buruk Biru yang ia saksikan sendiri telah memupuskan harapan indah miliknya yang muncul untuk kedua kalinya. Sejak saat itu, Alina berperanan sebagai seorang penguji atas kesabaran lelaki yang mau mendekatinya. Kebanyakan menemui kegagalan mutlak.
Sepeninggal Biru untuk pertama kalinya, Alina sempat berlabuh di pelukan Sapta, seorang seniman lukis yang berjuang keras untuk mewujudkan galeri impiannya. Sayang alina harus menelan kekecewaan besar karena Sapta tidak dapat memenuhi janjinya. Alina harus kehilangan Sapta untuk selama-lamanya. Nama Frans sempat hadir dalam kehidupan gadis penyendiri itu. Namun, lelaki itu dengan berat hati harus mengalah pada keinginan Alina untuk berpisah. Padahal, Frans sepenuhnya telah menaruh hati pada gadis cantik kelahiran pesisir selatan pulau Jawa itu. Alina sempat berjumpa dengan sang Captain—julukan yang ia berikan pada seorang duda cerai yang berkepribadian sangat matang. Pemahaman Captain pada Alina sangat tinggi, bahkan melebihi kepekaan Biru. Namun, entah mengapa Captain tidak berhasil menyunting Alina. Selain itu, nama Bram pun hadir sebagai lelaki terakhir dalam hidupnya. Bram seperti Captain, ia mampu memahami gejolak yang senantiasa berkecamuk dalam diri Alina.
Sebenarnya Bram dan Captain bersedia mendampingi Alina dalam suka dan duka sebagai pasangan resmi. Namun, Alina yang sudah menaruh rasa cintanya pada kedua lelaki itu tidak menginginkan mereka untuk terlibat lebih jauh ke dalam dunia kelam traumatisnya. Ia tidak ingin membiarkan mereka menyerahkan kebahagiaan sendiri demi mengobati penderitaannya. Padahal, sesungguhnya Alina membutuhkan sosok mereka—baik Captain maupun Bram—sebagai sarana terapi penyembuhan sakit batinnya itu. Sepenggal kata hati Alina untuk Bram juga mewakili harapan yang sama gadis itu, seperti yang ia tujukan juga kepada Captain.
Maafkan aku, Bram. Aku terpaksa meninggalkanmu sedemikian cepat karena aku tak ingin kau ikut tergelincir hingga hanyut dan terluka dalam buram masa laluku. Aku harus pergi untuk membuatnya jernih agar tak lagi membuatku takut bercermin. Entah apa yang akan terjadi nanti, esok, ataupun di masa datang. Apa pun itu, aku harus memutuskan pergi darimu, Bram …. (KA:329)
Alina yang sesungguhnya memerlukan perlindungan dari lawan jenisnya itu, terpaksa menekan impiannya dalam-dalam ke sebuah dasar yang tiada terukur. Demi mengamankan diri, Alina pergi melarikan diri dari kekasihnya itu. Ia kembali ke rumah bibinya di Yogyakarta, tempat ia merasa menjadi penghuni surga. Meskipun demikian, tekanan emosi yang ia bawa dari kota metropolitan sudah sedemikian tidak terukur dan tidak tertahankan. Alina menderita depresi berat dan menjadi pelanggan seorang psikiater di sebuah rumah sakit jiwa. Ternyata, obat-obatan yang diberikan bukan menjadikan Alina sembuh melainkan semakin tertekan jauh ke kedalaman yang terrendah di dasar permukaan bumi. Alina semakin menderita. Bahkan satu-satunya jalan tempat mencurahkan hatinya, menulis, tidak dapat ia lakukan. Obat-obatan antidepresan telah menutup imajinasi dan konsentrasinya. Alina tidak dapat mencurahkan isi hatinya. Ia merasa kecewa. Kebenciannya pada obat itu semakin menjadi. Obat-obatan yang harganya tidak murah itu akhirnya hanya menjadi penghuni kloset di kamar mandi rumah itu.
Di kamar, tanpa mempedulikan apa pun, secepat kilat Alina beralih ke sebuah kotak obat. Diraihnya obat-obatan antidepresan, lantas tergesa-gesa ia berlari ke toilet. Dibukanya penutup kloset dengan kasar. Tanpa berpikir panjang, Alina menumpahkan butiran-butiran obat itu, membuangnya ke lubang kloset. Tak puas dengan gelontoran air dari sistem keran di kloset, dia menyiramkan bergayung-gayung air ke lubang kloset. Rasanya begitu ingin Alina menjungkirkan seisi bak ke sana, untuk memusnahkan obat yang membelenggu jiwanya itu. (KA:339)
Selain masalah besar yang ia usung dari kamppung halamannya dan kisah cintanya yang kelabu, Alina juga memendam rasa kecewa yang luar biasa pada sebuah kehilangan yang lain. Kehilangan Rey, sahabatnya, yang selama ini cukup membuatnya mendapatkan tempat untuk curahan hatinya. Meskipun Rey menganggap kehadirannya dengan pandangan yang berbeda—Rey seorang lesbian maskulin yang menganggap Alina sebagai pasangan hidupnya yang abadi, Alina tetap menganggap Rey sebagai pelindung bagi dirinya. Meskipun yang menganggap Rey sebagai sahabat karibnya, Alina bersedia berjuang demi gadis tomboy korban perkosaan kekasihnya itu. Ketika Rey—ketua sebuah LSM yang membina PSK di kota metropolitan—mengalami kesulitan finasial karena tersandung hubungan politis dengan pihak penyantun (hingga ia tersereet ke pengadilan), Alina bersedia menyerahkan hati nuraninya demi mendapatkan dana besar yang dapat menyelesaikan masalah Rey. Sayangnya, Alina datang terlambat. Rey yang tidak mampu menahan rasa malu dan tekanan batinnya memutuskan untuk bertindak lebih cepat dari perkiraan Alina. Ia melakukan tindakan bunuh diri untuk melepaskan diri dari masalah yang melilitnya. Sekali lagi sebuah beban berat menghantam kehidupan Alina ke dalam kehancuran.
Perkawinan sejuta jalinan kekecewaan dalam novel “Kepribadian Alina” sangat memadati alur cerita. Tokoh-tokoh yang tampil dalam tidak mendapatkan ruh danau kasih sayang, terutama dari kalangan terdekatnya. Sesuai dengan salah satu sub bab yang terdapat dalam “Kepribadian Alina”, yaitu Jiwa-Jiwa yang Terpasung, seperti itulah kondisi tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Secara umum, “Kepribadian Alina” merupakan sebuah refleksi lingkungan yang isinya sarat makhluk dahaga—dahaga akan kasih sayang, dahaga akan pemahaman, dan dahaga akan penghormatan harga diri. Kini dalam kondisi yang serbaglobal dan serba instan, bukan tidak mungkin banyak bibit kehidupan yang sarat dahaga itu karena mereka telah kehilangan tokoh yang seharusnya berada di sisi mereka, ayah, ibu, saudara, atau kerabat. Berkaitan dengan kasus Alina, hal itu terjadi karena adanya salah penanganan hubungan antaranggota keluarga. Sejak awal, hubungan itu sudah rapuh dan lebih banyak dibumbui hujan kekerasan yang sangat dahsyat. Kondisi tersebut lambat laun telah memupuskan rasa hormat terhadap kedua orang tua. Lambat laun hal itu akan menanam bibit kebencian yang dapat tumbuh dengan cepat dalam waktu yang tidak terlampau lama. Kebencian yang memuncak itulah yang berperan sebagai pemicu pemberontakan radikal, seperti yang dilakukan oleh Alina dan Sarah.
Hanya saja, pemberontakan tersebut rupanya berbuntut panjang. Pemberontakan itu sempat berbuahkan kebahagiaan ketika (1) tokoh Alina bertemu dengan Biru dan Bram serta (2) tokoh Sarah bertemu dengan Doni. Namun, kebahagiaan yang seharusnya diterima mereka rupanya tidak ubahnya sebuah fatamorgana, semakin dikejar semakin menjauh. Biru ternyata tidak lebih dari seorang malaikat penjilat yang senang mengumbar janji kepada setiap makhluk terindah yang bersedia diajaknya berkencan. Padahal, pada saat yang sama, Alina telah menggantungkan sejuta harapan pada kekasihnya itu. Alina telah menghujamkan segala negative thinking yang telah dipatoknya kepada setiap lelaki. Bram sebenarnya lelaki yang baik, tetapi Alina merasa khawatir kebaikan lelaki itu akan sirna jika terseret terlampau jauh pada kekelaman dirinya. Sementara itu, Sarah sangat terobsesi dengan mendiang suaminya yang mati terbunuh tanpa terungkap kasus kematiannya itu. Sarah selalu merasa bahwa Doni itu ada dan hadir di depan mata, tetapi tatkala ia akan menjamah bayangan itu menjadi absurd dan menghilang menjejakkan duka. (Resti Nurfaidah)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









Tidak ada komentar:
Posting Komentar