4 Mei 2009

LELAKI DI AMBANG PINTU


LELAKI DI AMBANG PINTU

Resti N.

Ya, begitulah! Seperti biasanya, lelaki itu duduk bersimpuh di ambang pintu berbentuk tangga di bagian samping rumah kami. Ambang pintu itu lebih merupakan sebuah gerbang kecil yang letaknya agak tinggi dengan beberapa anak tangga kecil khas rumah jawa pada masa lalu. Lelaki yang seringkali bersimpuh di tangga pintu itu penampilannya sangat kusam. Rambutnya panjang melewati bawah bahu dengan helaian rambut yang menyatu alias gimbal di beberapa bagiannya. Kulitnya laksana berselaput jelaga tidak merata. Entah beberapa waktu lamanya ia tidak tersentuh air mandi dan sabun. Bajunya, jangan tanya! Jelas tidak kalah kusamnya dengan warna kulitnya yang telah lama terbakar habis sang surya. Meskipun demikian, ia tidak pernah memakai baju yang compang-camping. Layaknya gembel di berbagai tempat di negeri ini, lelaki itu juga bertelanjang kaki dengan telapak yang telah menebal karena lama tercium tanah, batu, dan kerikil.
Lelaki itu setia bersimpuh setiap dua minggu sekali di ambang pintu itu. Entah sejak kapan ia lakukan hal itu. Yang jelas, aku mengingat kehadirannya sejak alat rekam di otakku mulai bekerja dengan sempurna. Namun, ada satu hal yang mengusik pikiranku adalah lelaki itu selalu menunggu ibuku. Ia dengan setia menanti kehadiran ibuku di ambang pintu. Ia baru akan pergi jika ibu sudah memberikannya bekal sebungkus nasi dan sehelai pakaian laki-laki. Ibu sering mengajaknya berbicara seolah lelaki itu teman akrabnya. Terkadang kulihat ibu meneteskan air mata menatap kepergian lelaki itu. Anehnya, jika aku mendekat, lelaki itu tampak ketakutan dan berangsur-angsur beringsut menjauh dari rumah kami. Matanya basah bersimbah air mata. Akhirnya, ibu mengatakan kepadaku bahwa aku tidak diperkenankan untuk mendekati lelaki itu. Apalah daya, aku masih terlalu kecil saat itu dan terpaksa menuruti kemauan ibuku. Si Mbok yang telah lama menjadi pengasuhku mendapatkan mandate dari ibu untuk menjauhkan diriku dari mereka. Apalah daya si Mbok yang sangat menuruti kemauan majikannya itu. Ia hanya bisa patuh terhadap perintah itu. Alhasil, aku tidak pernah diperkenankan lagi untuk mendekati mereka dan mendengarkan apa isi pembicaraan mereka. Aku hanya dapat menatap ibu dan lelaki itu dari jendela kamar yang jaraknya lumayan jauh dari ambang pintu samping.
Ribuan pertanyaan seakan menumpuk di dalam otakku. ‘Siapa lelaki itu, Ibu? Mengapa ia sering datang menemui Ibu? Mengapa Ibu seringkali menangisi kepergian lelaki itu? Mengapa lelaki itu takut kepadaku? Mengapa ia menolak kudekati? Mengapa ia segera beringsut menjauh jika melihatku? Apakah lelaki itu hanya ingin menemui Ibu? Apakah ia juga melakukan hal yang sama di rumah lain seperti yang dilakukan oleh kaum pengemis lainnya?’ Namun, pertanyaan itu seakan layu dengan sendirinya jika ibu sudah memberikan isyarat telunjuk jarinya sebagai tanda bahwa aku dilarang bertanya kepadanya tentang hal itu. Tidak ubahnya si Mbok, aku pun hanya bisa menuruti kemauan ibu. Anehnya, apa yang ibu lakukan itu selalu tanpa sepengetahuan nenek! Ya, setiap dua minggu sekali nenek pergi ke kampung untuk melihat hamparan sawah dan kebun miliknya. Waktu kunjungan ke kampung itu bertepatan dengan jadwal kedatangan lelaki itu ke rumah. Sepertinya ibu sudah mengatur jadwal kedatangan lelaki itu ke rumah! Ah, lupakan saja, tidak baik jika aku berprasangka buruk kepadanya.
Pertemuan dwimingguan itu selama ini selalu berjalan dengan lancar. Sepertinya momen seperti itu merupakan puncak kebahagiaan ibu. Wajah ibu akan berubah menjadi cerah meskipun terasa berat melepas kepergian lelaki itu. Sekali waktu mulutku yang selama ini telah tersumpal dari pertanyaan satu itu akhirnya tak taha juga. Aku yakin si Mbok pasti mengetahui hal itu. Kutanyakan hal itu pada si Mbok. Tentu saja, jawaban yang kuterima dari si Mbok adalah gelengan kepala dan bisikan kata ‘tidak!’ yang ia ucapkan dengan halus. Wanita tua yang setia mengabdi kepada keluaga nenekku itu berusaha bertahan dengan kepatuhannya pada ibuku untuk tidak membocorkan rahasia lelaki itu. Ah, si Mbok, kau hanyalah jongos ibu dan nenekku yang hanya dapat menerima perintah tanpa penolakan.
Berkali-kali aku menanyakan hal itu, si Mbok masih juga bertahan. Tanpa sepengetahuanku, si Mbok mengatakan hal itu. Ibu tampak agak cemas mendengar hal itu. Namun, ia berusaha menenangkan diri dan mengatakan pada si Mbok bahwa ia harus bungkam tentang hal itu kepadaku. Lagi-lagi si Mbok mematuhi hal itu. Jadilah pintu penasaranku terkatup rapat kembali karena keputusasaanku.
Selama ini, pertemuan rahasia itu bisa berjalan dengan rapi. Namun, ibu tidak pernah mengingat bahwa Tuhan tidak selamanya memberikan makhluknya dengan kesenangan. Tuhan juga sesekali melimpahkan makhluknya dengan kesedihan dan penderitaan. Sialnya, hari itu nenek batal pergi ke kampung. Entah mengapa ia membatalkan kepergian rutinnya itu. Biasanya, hujan, badai, dan penyakit seberat apa pun tidak pernah menjadi halangan baginya untuk melawat harta kekayaannya itu. Kali ini sangat berbeda. Nenek tampak enggan pergi. Padahal, Mbok Nah—pelayan setia nenek—telah mempersiapkan diri sejak dini hari. Sebaliknya, hari ini ibu tampak sangat cemas dan gelisah. Padahal, ia telah mempersiapkan bekal rutinnya untuk lelaki itu sejak dini hari pula. Berkali-kali ibu berjalan hilir mudik dari kamar tidur ke taman samping. Matanya sesekali menatap ambang pintu. Raut wajahnya yang tegang menyiratkan bahwa ia dilanda rasa bimbang, di satu sisi mengharap kehadiran lelaki itu sementara di sisi yang lain ia tidak mau pertemuan rutinnya itu diketahui oleh nenek. Aku enggan bertanya kepadanya dan kucurahkan perhatianku pada hamparan mainanku.
Rupanya nenek cukup jeli melihat tingkah putrinya itu. Nenek pun bertanya kepada ibu. ‘Nduk apa kamu sakit? Mengapa sikapmu sangat berbeda hari ini?’ Ibu yang dilatih sejak kecil sebagai putri penurut itu duduk di hadapan ibunya dan hanya dapat menjawab seraya berumam sambil menundukkan kepalanya. Ya, peraturan di rumah ini sangat ketat. Nenek masih menerapkan aturan ala priyayi dan kolonial di rumah ini.jangankan untuk tertawa lepas terbahak-bahak, bicara lantang pun sangat terlarang dilakukan. Huuuuhh kadang aku pun merasa sangat tersiksa dengan segudang aturan itu, tetapi sudahlah! Aku tidak mau memikirkan hal itu lebih lama lagi. Kukembalikan perhatianku pada mainanku saja.
Nenek semakin intens bertanya kepada ibuku. Tampaknya nenek merasa sangat khawatir dengan keadaan ibu yang tidak biasanya itu. Ibu hanya mampu menjawab rentetan pertanyaan nenek itu dengan jawaban, ‘tidak apa-apa!’. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara ketukan di pintu samping. Wajah ibu memucat sambil menoleh ke arah suara ketukan tadi. Nenek, yang pendengarannya masih bagus, juga mendengar suara itu. Ia menggerutu, ‘Siapa yang berani mengetuk pintu rumahku?’ Pintu samping adalah sarana komunikasi penghuni rumah ini dengan masyarakat awam atau, dengan kata lain, khusus untuk anggota masayarakat kelas bawah. Mereka dilarang nenek untuk masuk dari gerbang pintu depan rumah yang bergaya jawa klasik itu.
Mbok Nah pun dipanggil dan diperintahkan untuk membuka pintu samping. Wanita yang umurnya sebaya dengan si Mbok itu pun menuruti perintah majikannya itu. Dibukanya pintu itu dan wajahnya menyiratkan rasa terkejut yang luar biasa. Mbok Nah tidak berbicara sedikit pun dengan lelaki itu. Lelaki itu pun terkatup rapat mulutnya. Dua pasang mata itu saling menatap tak bermakna. Lama hal itu terjadi sehingga membuat nenek terusik. Ia berteriak dari dalam rumah bertanya tentang tamu yang datang itu. Mbok Nah hanya menoleh sekilas ke arah suara nenek, lalu beralih lagi pada lelaki itu. Lama kelamaan nenek habis kesabarannya. Nenek mengulangi pertanyaannya yang sama dengan nada dua tingkat lebih tinggi. Mbok Nah menoleh dengan rona bingung, tetapi mulutnya seakan terkunci. Nenek tidak sabar lagi dan segera beranjak dari kursinya. Selintas kulihat ibu semakin gelisah. Wajahnya pucat pasi. Syaraf di sekujur tubuhnya mendadak kaku. Bibirnya bergetar mengatup rapat. Mati-matian ia menahan gejolak rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Kutanya ibu. Namun, selapis tebal perekat tampak berhasil menjepit dua bibirnya yang tipi situ.
Nenek berjalan dengan tergesa menuju pintu samping. Rasa kesal yang memuncak sudah melebihi titik ubun-ubunnya. Tapi langkahnya mendadak terhenti hebat ketika melihat siapa sosok yang hadir di ambang pintu itu. Mata tajamnya menghantarkan sinyal amarah di dalam otak. Seketika rona wajahnya berubah tegang. Kulit wajahnya memerah hebat meletupkan emosi yang telah lama reda dan terkubur ke dalam relung pemakaman jiwa dalam kalbu. Kini sukma emosi itu bangkit kembali dan bereinkarnasi kembali menjadi iblis yang ganas dan menguasai ruang kendali di benak wanita tua itu. Dengan mudahnya, ia memerintahkan lidah nenek memainkan rangkaian kata-kata yang sarkastis hiperbolis. Kata-kata yang tak ubahnya menjadi hujaman tombak raja Majapahit tepat ke ulu hati lelaki itu. Mbok Nah pun tidak luput dari hujaman umpatan nenek. Ia bersimpuh dan menundukkan wajahnya. Kata-kata ‘indah’ terus menghujam lelaki itu, tetapi kedua kaki lusuhnya seakan kaku tertanam ke dalam bumi. Iblis pun kini menguasai tangan nenek. Secepat kilat diraihnya sebilah tongkat yang biasa dipakai untuk mengunci pintu itu. Diayunkannya tongkat itu ke arah lelaki yang sepertinya pernah ia kenali dulu. Melihat hal itu, ibu segera pergi berlari ke arah nenek. Dipeluknya kedua kaki ibunya dan memohon kepada wanita yang tidak pernah ia berani membantahnya untuk menghentikan hal itu. Si Mbok mengikuti ibu. Nenek tidak bergeming dan berbalik mendorong ibu dengan kayu itu hingga ia terjerembab hampir menindih tubuh si Mbok. Lelaki itu semakin terpaku. Mulutnya ternganga melihat hal itu, tetapi ia tidak mampu membuka sekat suaranya.
Ayunan kayu jati itu semakin hampir mengenai pelipis kanan lelaki itu. Beruntung, ia sempat menggelinding dan menghindari ayunan itu. Lelaki itu sempat menatap ibu lekat-lekat sebelum berlalu cepat menjaduh dan berlari entah ke mana. Ibu berteriak, “Tidddaaaaaaaaaaaaakkkkk!” Ingin ia bangkit dan berlari mengejar lelaki itu. Namun, kedua kakinya dirasakannya lumpuh layu. Ibu hanya bisa menangisi kepergian lelaki yang selalu ditunggunya itu. Nenek menghardik Mbok Nah dan memrintahkannya dengan kasar untuk mengunci pintu itu rapat-rapat, lalu ia berlalu dan mengurung diri di dalam kamar. Kedua kaki ibu benar-benar melemah. Kami harus membopongnya ke tempat tidur. Tangisannya tidak mampu kami hentikan. Ibu akhirnya pingsan lama sekali. Baru menjelang malam ia terjaga. Menangis lagi, meski kini tiada lagi bulir air mata yang dapat ia alirkan. Mulutnya hanya mampu menelan dua sendok the nasi. Hanya satu dua tetes air saja yang menggelinding ke kerongkongannya.
Ibu jatuh sakit semenjak peristiwa itu. Suhu badannya agak naik. Semangat hidupnya seakan luput dari tubuhnya seiring lenyapnya kesempatan bersua dengan lelaki itu. Ibu, siapakah lelaki itu sebenarnya, Bu. Sesekali Nenek menjenguk ibu. Namun, reaksi ibu hanyalah tatapan kosong yang sayu. Sepertinya telah terbentang jarak yang sangat jauh di antara mereka. Aku mengajak ibu ke rumah sakit. Aku merasa khawatir dengan bobot tubuhnya yang terus menyusut seiring datangnya pergantian hari. Ibu menggeleng. Dokter Suryantini, langganan keluarga kami, akhirnya tepaksa mengiyakan keinginan ibu untuk dirawat di rumah. Tampaknya ia memahami bahwa sebenarnya jiwa ibulah yang sakit bukan fisiknya. Hanya berbungkus-bungkus obat multivitamin sajalah yang diberikannya kepada ibuku.
Si Mbok dan Mbok Nah bergantian menjaga ibuku. Para pelayan setia itu selalu menungguku. Oh,ya, sejak kejadian itu, nenek jarang menegur Mbok Nah. Hanya sesekali saja nenek menyuruhnya. Tampaknya nenek masih menyimpan kekesalan tentang peristiwa itu. Ohh, nenek siapakah lelaki itu sebenarnya. Lelaki yang sempat memompa gumpalan amarah dalam dirimu. Dosa apakah yang telah ia perbuat hingga kau sanggup menghidupkan kembali putri emosi dan pangeran dendam dalam tidurnya. Jangankan bertanya kepada nenek, kepada ibu pun aku tidak pernah mendapatkan jawaban tentang itu. Si Mbok? Oh tidak. Kedua Mbok yang kukenal demikian setia mengatup rapat mulutnya jika aku bertanya-tanya.
Hari demi hari berlalu. Kondisi ibu tidak pernah berubah. Bobotnya terus menyusut. Matanya kian sembab karena seringnya ia mengundang tangisan. Tangis tanpa harapan. Ingin rasanya kucari lelaki itu agar ia dapat bertemu dengan ibuku. Tapi di mana? Sedikit pun informasi itu tidak kudapatkan. Hampir dua minggu ibu terbaring lemah di tempat tidur. Kali ini bertepatan dengan jadwal kunjungan nenek ke kampung. Anehnya, nenek tidak serta merta mengajak Mbok Nah bersamanya. Nenek hanya pergi dengan sopir setia di keluarga kami, Pak Ngadiman. Nenek hanya melihat ibu sejenak di ambang pintu kamar, lalu pergi.
Beberapa jam setelah kepergian nenek, terdengar lagi suara ketukan pintu samping. Mata ibu yang terpejam lemah sejak pagi mendadak terbuka. Senyumnya mengembang. Sepertinya ibu sudah dapat menduga siapa yang akan datang siang itu. Ia menatap Mbok Nah dan si Mbok sebagai tanda pengharapan ibu kepada keduanya untuk membukakan pintu. Kedua pelayan itu saling menatap. Keduanya tampak bimbang karena terjepit antara setia pada nenek dan iba pada ibu. kumohon kepada si Mbok untuk membukakan pintu itu. Dengan berat hati, si Mbok beranjak dan berjalan menuju pintu samping. Tentu saja karena inilah pelanggaran pertama yang mereka lakukan terhadap nenek selama rentang pengabdian yang sangat panjang yang telah mereka lakoni sejak belia. Perlahan si Mbok membuka palang pintu. Selanjutnya, ia membuka daun pintu yang terbagi dua itu.
Ternyata lelaki itu! Mbok tampak kebingungan. Anehnya kedatangannya seperti tercium dari jauh oleh ibu. mendadak ingin bangkit, meskipun sulit. Terpaksa kami membopong ibu dengan susah payah dan mendudukkannya pada sebuah balai-balai gantung besar yang terbuat dari rotan di bawah pohon sawo. Ibu menatap si Mbok. Lengannya memberi tanda agar mengajak lelaki itu mendekatinya. Mbok berkata dengan halus kepada lelaki itu agar ia menemui ibu di dalam. Semula lelaki itu tidak mau. Si Mbok mengatakan bahwa nenek tidak ada di sini dan ia tidak perlu merasa takut. Dikatakan pula oleh wanita tua itu bahwa ibu dalam keadaan sakit sejak peristiwa dua minggu silam. Berkali-kali lelaki itu diyakinkan bahwa nenek tidak ada di rumah. Akhirnya, lelaki itu beranjak dari ambang pintu. Untuk pertama kali ia melangkahkan kakinya di halaman rumah ini. Masih besar rasa ragu melingkupi sekujur tubuhnya, tampak dari sorot mata dan sikapnya. Namun, rasa sedih menyergap cepat pada dirinya tatkala ia melihat ibu terkulai lemas dibalai-balai itu. Langkahnya dipercepat dan bersimpuh di kaki ibu. Tangis lelaki itu pun pecah tanpa kata. Ibu menggenggam tangan lelaki itu dengan lemah dan memintanya duduk di sisinya. Lelaki itu menatapku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain beringsut menjauhi ibu. lelaki itu menuruti kemauan ibu, duduk di sisinya. Tanpa ragu ibu bersandar di bahu kurus lelaki itu. Lelaki itu membalasnya dengan pelukan penuh kasih. Kulihat sorot mata keduanya memancarkan indahnya kenangan masa lalu yang harus terkubur jauh ke dalam relung isi perut bumi. Lama ibu tersenyum sambil menikmati kenangan indah itu. Tiba-tiba mata ibu terpejam, bibirnya mengulas senyum indah, raut wajahnya berubah menjadi cerah, dan kepalanya terkulai lemas. Iiiibbbuuuuuuuuu! Hanya itulah yang keluar dari mulutku. Kupeluk ibu. lelaki itu memeluk dan mengelus kepala dan wajah ibu teriring rasa duka tiada tara. Tangisnya pecah lagi. Si Mbok dan Mbok Nah tak kuasa menahan haru.
Kami membopong tubuh ibu yang tak bernyawa ke atas pembaringan. Tak kusangka pertemuan ibu dengan lelaki yang sangat ditunggunya itu pertanda ajal baginya. Lelaki lusuh itu seolah tidak mau beranjak dari sisi ibu. Linangan air matanya tak henti mengalir. Aku masih dibungkam rasa heranku. Lelaki itu terpaksa beranjak ketika didengarnya suara kendaraan yang milik nenek di parker di garasi. Dengan beban duka yang sangat berat, ia pergi tergesa-gesa menuju pintu samping. Pembantu lain segera menutup dan mengunci pintu itu dengan rapi.
Aneh tak kulihat raut sedih di wajah nenek. Ia datang seperti tidak ada apa-apa. Seperti tidak ada satu kehilangan. Ada apa sebenarnya? Pertanyaan itu tak pernah terjawab.
Tiga hari setelah kematian ibu. Kubuka lemari baju antik kesayangan ibu. Kubuka salah satu laci di lemari itu dan kutemukan sebuah buku harian milik ibu bersampul merah darah berhiaskan kata diary dengan tinta emas. Lembar demi lembar halaman berhiaskan lukisan kembang setaman itulah yang membukan pintu jawaban bagiku. Ya, jawaban tentang siapa lelaki itu, siapa ibu, dan siapa nenek sebenarnya.
Satu bulan setelah kematian ibu. Tak sengaja aku berlindung dari sengatan matahari di sebuah kios penjual koran. Tak sengaja pula berputar menatap lay out koran dan majalah yang dipajang padat di dinding kios itu. Tak sengaja pula mataku tertuju pada sebuah headline satu terbitan koran hari itu lengkap dengan sebuah foto: Seorang Lelaki Tak Dikenal Tewas Tertabrak Sebuah Truk di Jalan Sukoharjo. Ya, kutatap lekat-lekat foto itu. Ya, foto lelaki itu. Lelaki di ambang pintu. *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar