Bandung, 1 Agustus 2009
PENULISAN CERITA ANAK: DARI SKENARIO KE NOVEL
Wuiihhh, ini dia acara yang sejak awal Juli sudah kutunggu-tunggu dan kuregistrasikan. “Pelatihan Penulisan Skenario ke Novel” yang lebih merupakan sebuah pelatihan kelas kecil. Kelas kecil? Ya, Nggak seperti yang pertama dulu yang berjejal sampai melebihi kuota karena beremberl-embel gratong, kelas pelatihan kali ini hanya diikuti oleh 7 orang peserta. Peserta dari Jakarta (tiga orang, yaitu Mbak Titi yang gelisahan takut ditinggal travelnya, Mbak Ratih yang periang dan tertawanya renyah, dan Mbah Erna yang cuek bebek tapi ramah), Depok (satu orang, yaitu Mas Hadi Pranoto—penulis Metal Boy), Cimahi (satu orang, Mbak Eka yang kalem dan penasaran pengen jadi penulis), dan Bandung (tiga orang, aku yang …, Mas Krisna yang pintar nyusun plot dadakan, dan Mbak Dina—yang iri sama Kirana karena anaknya itu sudah jadi penulis duluan.
Meskipun kita cuma kelas kecil, nggak berarti kelasnya gak seru. Lumayan aja sih!! Kalau keramaian kelasnya nanti gak konsen! Kata Mas Ali bagusnya kelas kecil biar terfokuskan!!!! Kelas kecil ini dibuka oleh Mas Ali sekaligus menjadi saat perkenalan. Selanjutnya beralih ke acara inti dengan penyampaian materi oleh dua pakar penulisan novel anak, Mas Benny dan Mas Iwok. Mas Benny adalah penulis novel anak prkuel adaptasi Mimpi Sang Garuda sedangkan Iwok adalah penulis novel adaptasi King.
Dari kedua pembicara itu, kita menjadi tahu dan paham bahwa penulisan novel adaptasi yang berawal dari sebuah scenario itu tidak mudah. Penulisan tersebut bukan hanya memindahkan isi percakapan dan paparan latar skenario ke dalam bentuk sebuah novel, melainkan harus penuh pemikiran. Bukan tidak mungkin scene yang telah tersusun rapi dalam skenario harus diobrak-abrik dan dialihpindahkan ke dalam scene lain. Dan yang lebih mengerikan lagi, tenggat waktu penulisan novel tersebut sangat singkat 7 hari. Bukan hanya termasuk penulisan saja melainkan berikut segala perintah revisi yang bisa datang kapan saja dan di mana saja. Untuk penulisan novel King, Mas Iwok terpaksa obral pulsa ke Bangkok demi berhubungan dengan pihak Alenia Production untuk urusan revisi. Novel tersebut harus selesai tepat waktu karena akan diluncurkan bersamaan waktunya dengan peluncuran filmnya.
Setelah paparan selesai, tibalah saat untuk tanya-jawab. Mas Benny segera beranjak dari tempat itu sekitar Ashar karena anaknya sakit. Selanjutnya, acara pelatihan membuat plot sebuah novel yang layak tayang berikut pembahasan yang dilakukan oleh Mas Ali dan Mas Iwok. Dari pembahasan tersebut, kita mengetahui bahwa untuk menulis novel anak saat ini kita dilarang untuk gaptek terhadap pergaulan anak sekarang, bahasa, budaya, dan perangkat canggih yang nempel dalam kehidupannya. Nah, tuhh kita harus masuk ke dunia yang super fantasi biar kebawa fantasi. Pokoknya biar kelas kecil, pelatihan kemaren cukup berkesan dan aku jadi banyak tahu.
Trims Mas Ali (kutunggu, ya, pelatihan selanjutnya!), Mas Iwok dan Mas Benny. See you next. Mbak Titi (nggak ketinggalan travelnya kan?), Mbak Ratih dan Mbak Erna (gimana sukses jalan-jalannya? Dapat apa?), Bunda Dina (Met ber-Iran mania!), Mbak Eka (Yuuukk kita nulisssssyyy!), Mas Hadi (bagi-bagi novelnya donnnnngg!), Mas Krisna (Daaahhh!)
10 Agu 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









Tidak ada komentar:
Posting Komentar