10 Agu 2009

CERITA PELATIHAN








Bandung, 6 Juni 2009

WORKSHOP PENULISAN BUKU ANAK NONFIKSI DENGAN TEORI MATRIKS

Weleh, weleh, pagi-pagi kudu bangun nih, siap-siap buat tolabulilmi. Ihhh geer banget. Iya aku memang hendak tolabul ilmi bersama komunitas penulis-bacaan-anak! Ya, ini kali kedua aku bergabung dengan teman-teman di komunitas itu. setelah kurang lebih dua atau tiga belakangan silam, saya ikut pertemuan pertama dengan komunitas itu di STIKOM Bandung. Ikut komunitas itu telah membukakan mata lahir dan batin bahwa membuat tulisan anak itu tidak mudah dan butuh proses. Namun, dalam tanya-jawab interaktif kebanyakan bertanya tentang seluk-beluk prosedur percetakan. Wah, aku iri saat itu dengan rekan-rekan yang karyanya sudah berjajar dari Sabang sampai Merauke.

Untuk itulah kuputuskan mendaftar buru-buru setelah membaca email masuk dari Kang Ali. Pelatihan tersebut dilakukan untuk mengasah kemampuan para penulis anak dan juuga membuka wawasan newcomer seperti aku. Pelatihan tersebut bertajuk “metode menulis buku anak nonfiksi dengan teori matriks”. Mendengar kata matriks itu, saya jadi teringat ilmu matematika. Namun, rupanya dugaan saya tidak terlalu meleset. Sistem penulisan dengan metode matriks juga berkaitan dengan hitung menghitung. Namun, yang menjadi sasaran penghitungan adalah jumlah halaman. Jumlah halaman yang berlaku dalam dunia penerbitan adalah angka genap karena sehelai kertas memiliki dua halaman. Cara penghitungan tersebut dibuat skema bedah buku dalam bentuk tabel. Dalam penulisan itu, kita harus mencermati beraaa jumlah halaman untuk lembar pendahuluan, bagian isi, dan bagian akhir. Sedapat mungkin kita dapat memberikan naskah kepada penerbit dalam bentuk ‘dami’ atau model buku. Kita sudah menentukan dan memberikan contoh lay out per halaman. Kita dituntut untuk dapat memadukan kotak untuk teks, kotak untuk gambar, dan kotak untuk border atau hiasan buku lainnya.

Metode matriks yang disampaikan oleh Pak Bambang Trim, tokoh perbukuan Indonesia, itu mudah dan tidak mudah. Mudah karena kita tidak dibingungkan oleh masalah kekurangan atau kelebihan halaman, tidak mudah karena kita harus menentukan ancang-ancang jumlah halaman sebelum kita menuangkan ide-ide ke dalam kertas. Namun, dibalik itu, metode matrik semakin membuka mata kita bahwa melakukan sesuatu hal itu perlu perhitungan yang matang. Kekurangan atau kelebihan yang kita temui tentu membutuhkan kecakapan kita sebagai pelaksana metode itu.

Usai menelan teori Matrix by Mas Bambang, peserta diajak berkeliling di sekitar kawasan perbukuan Salamadani untuk mengenal proses percetakkan dan agency. Kayaknya Mbak Riyawati sangat berminat mencetak buah karyanya di tempat ini. Thanks, Mas Bambang, Mas Ali, dan teman-teman PBA lainnya. Kalian membuat acara tambah semarak, terutama acara senam penulis ala Mas Ali dan wisata keliling Salamadani book center.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar