
LAUTAN KESERAKAHAN
Mengapa manusia tak pernah
Berhenti berkaca
Dari peristiwa yang pernah terjadi
Pada masa yang lalu
Manusia-manusia serakah
Binasa sia-sia
Mengapa manusia
Tidak bisa mendengar
Jerit tangisan pilu
Manusia lain yang tak berdaya
Menatap datangnya
Lautan yang tak terduga
Sayang, lautan itu
Bukan tempat tujuan wisata
Yang bisa dinikmati
Dengan luapan kegembiraan
Lautan itu lebih
Merupakan hutan lumpur
Berbau gas tengik
Mengapa manusia tidak pernah
Memahami batas-batas alam
Demi sebuah ambisi
Bayangan Firaun
Menggayut di pelupuk mata
Sidoarjo
Uhhh, kuku tajam itu
Terlalu dalam mencengkeram
Perut bumi tiada daya
Hancur ia
Luluh binasa
Tangis sang bumi
Bukan tangis biasa
Tangis sang bumi
Tangisan derita
Tangisan siksa jelata
Lautan itu kian meluas saja
Bertangkuk-tangkuk punggung gunung
Mengubah bentuk
Menjadi dinding pengaman
Dinding … yang takkan pernah aman
Mengapa manusia di atas sana
Tidak peduli
Nasib kaumnya yang kini cemas
Takut dan depresi
Hilang harta
Hilang keluarga
Tunggul-tunggul mesjid
Tak lagi berkumandang azan
Tunggul-tunggul pabrik
Tak lagi menyanyikan
Lagu derik suara bising mesin
Kehidupan itu mati
Keceriaan itu hilang
Kebahagiaan itu telah lenyap
Kedamaian itu punah
Kehangatan itu beku
Tiada lagi cahaya
Berpendar dari lampu taman
Tiada lagi canda
Penjaga malam
Tiada lagi senandung
Nyanyian tidur malam
Gejolak perut bumi
Masih bergolak
Melempar laut
Menyembur amarah
Mengepul sesak
Takkan pernah berakhir









Tidak ada komentar:
Posting Komentar