25 Agu 2009

LAUTAN KESERAKAHAN





LAUTAN KESERAKAHAN


Mengapa manusia tak pernah
Berhenti berkaca
Dari peristiwa yang pernah terjadi
Pada masa yang lalu
Manusia-manusia serakah
Binasa sia-sia

Mengapa manusia
Tidak bisa mendengar
Jerit tangisan pilu
Manusia lain yang tak berdaya
Menatap datangnya
Lautan yang tak terduga

Sayang, lautan itu
Bukan tempat tujuan wisata
Yang bisa dinikmati
Dengan luapan kegembiraan
Lautan itu lebih
Merupakan hutan lumpur
Berbau gas tengik

Mengapa manusia tidak pernah
Memahami batas-batas alam
Demi sebuah ambisi
Bayangan Firaun
Menggayut di pelupuk mata
Sidoarjo

Uhhh, kuku tajam itu
Terlalu dalam mencengkeram
Perut bumi tiada daya
Hancur ia
Luluh binasa

Tangis sang bumi
Bukan tangis biasa
Tangis sang bumi
Tangisan derita
Tangisan siksa jelata

Lautan itu kian meluas saja
Bertangkuk-tangkuk punggung gunung
Mengubah bentuk
Menjadi dinding pengaman
Dinding … yang takkan pernah aman


Mengapa manusia di atas sana
Tidak peduli
Nasib kaumnya yang kini cemas
Takut dan depresi
Hilang harta
Hilang keluarga

Tunggul-tunggul mesjid
Tak lagi berkumandang azan
Tunggul-tunggul pabrik
Tak lagi menyanyikan
Lagu derik suara bising mesin

Kehidupan itu mati
Keceriaan itu hilang
Kebahagiaan itu telah lenyap
Kedamaian itu punah
Kehangatan itu beku

Tiada lagi cahaya
Berpendar dari lampu taman
Tiada lagi canda
Penjaga malam
Tiada lagi senandung
Nyanyian tidur malam

Gejolak perut bumi
Masih bergolak
Melempar laut
Menyembur amarah
Mengepul sesak
Takkan pernah berakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar