
LOMBA PIDATO
Lomba ibarat sebuah wadah yang dapat diisi dengan segala jenis benda, seperti kelereng, permen, kue kering, mie baso, atau air. Lomba adalah wadah bagi para peserta yang tentu saja dalam jumlah yang sangat banyak untuk menyesaki rongga dalam wadah itu. Namun, untuk menjadi sesuatu yang terpilih, adakalanya kita harus mengaduk isi wadah itu lebih dulu. Dalam babak penyisihan, sebagai peserta kita akan menunjukkan kemampuan kita kepada hadirin, terutama dewan juri. Jurilah yang berhak mengaduk-aduk wadah lomba ini untuk memilih peserta yang dianggap layak maju pada babak selanjutnya. Saat yang menegangkan adalah ketika kita tiba pada saat untuk tampil ke mimbar dan ketika nama kita diumumkan.
Gambar itu menunjukkan senyum para juara yang telah selamat sampai pada tepian pesisir babak final di Jakarta. Peserta merupakan duta dari Region I (DKI) dan Refion II (Jawa dan Kalimantan) yang diselenggarakan di kota kembang. Senyum pemegang piala menandakan hilangnya ketegangan di wajah peserta. Selain itu, senyum juga dijadikan sebagai kamuflase untuk menutup kekecewaan karena tidak mendapatkan gelar juara. Namun, gelar juara, piala, dan hadiah tidak ada artinya jika kita tidak melakukan pengembangan diri selanjutnya. Menjadi juara bukan merupakan perhentian terakhir tanpa membuka diri terhadap upaya peningkatan diri lebih lanjut. Kita harus melekatkan keyakinan dalam-dalam bahwa kehidupan ini selalu berlapis. Langit pun berlapis-lapis. Kedalaman bumi pun berlapis-lapis pula. Prestasi makhluk hidup, terutama manusia, juga berlapis-lapis. Jika kita menjadi yang terbaik saat ini, tentu akan ada yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang atau bukan kemungkinan pada waktu yang bersamaan.
Batu intan tidak akan berharga tanpa gosokan dan sentuhan tangan ahli. Kilapnya tidak akan terpancar. Demikian pula dengan manusia. Manusia sebagai makhluk yang sempurna, dianugerahi Allah dengan segala benih kemampuan untuk bertahan hidup. Hanya saja, kemampuan itu baru akan muncul kepermukaan jika tersentuk oleh kondisi dan situasi. Bakat seseorang tidak akan tampak dan bermanfaat jika tidak digodok dalam lembaga dan oleh tangan ahli yang kompeten.
Situasi tertentu juga dapat memicu timbulkan kemampuan dan bakat seseorang. Kita lihat kehidupan manusia purba yang semula tidak bisa melakukan apa-apa, karena situasi yang menuntut upaya pertahanan diri, lambat laun kebudayaan mereka semakin maju. Jika semula kebudayaan mereka sarat dengan produk survival yang terbuat dari batu, lambat laun mereka pun mengenali produk-produk berbahan dasar logam.
Seorang atlet memerlukan waktu yang sangat panjang untuk mencapai prestasi gemilang baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Untuk menjadi orator yang baik, apalagi menjadi duta bagi salah satu organisasi masa yang bergerak di bidang pengembangan akhlak manusia, sponsor utama kegiatan lomba pidato tersebut, tidak cukup dengan mengasak kemampuan lahir. Kemampuan tidak kasat mata kita juga patut dibina, mulai dari hal-hal yang sepele, seperti sikap kita ketika mengamati orang lain yang sedang berbicara, sikap kita dalam menepati jadwal yang telah ditetapkan panitia, dsb. Orator yang baik harus mengenal kemampuan mengontrol emosi ketika berpidato, menghadapi audiens, serta memilih kata yang tepat yang dapat menggugah perhatian hadirin.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar