24 Agu 2009

MELINTASI SURAMADU






MELINTASI SURAMADU



“Ayah, katanya jembatan Suramadu dah jadi, Yah?” tanya Anto kepada ayahnya.
Ayah yang sedang asyik membaca surat kabar menangkupkan kedua tangannya. Dipandangnya anak sulungnya itu dengan sorot mata yang ramah sambil berkata, “Ya, Nak, jembatan itu sudah jadi. Dah diresmikan sama Presiden.”
“Mmmm, kalau begitu kita bisa kesana kan, Yah?” tanya Anto lagi.
Dari kejauhan terdengar suara Anti, adik Anto, berlari mendekati mereka. Rupanya ia mendengar percakapan antara ayah dan kakaknya itu. “Yah, Anti juga mau ikut, Yah!” seru Anti. Ayah tersenyum sambil menyambut Anti dan mendudukkan anak bungsunya itu dipangkuannya. “Ya, ya, tentu saja, kamu boleh ikut, Nduk.” “Asyikkkk!” ujar Anti.
“Ya, nanti hari Minggu pagi kita pergi ke Suramadu, ya, bersama ibu,” ujar ayah.
“Horreeee!” Anto dan Anti bersorak gembira.
“Tapi jangan lupa bawa bekal makanan, ya?” tanya Anti kepada ayahnya.
“Ya, nanti itu … itu urusan ibu,” ujar ayah. Tiba-tiba mereka mendengar suara rem becak berhenti di depan rumah. Tampak ibu turun sambil membawa dua kantung plastik belanjaan. Ibu baru saja pulang dari pasar. Anti dan Anto menyambut kedatangan ibu mereka.
“Bu, kata Ayah, kita nanti akan ke Suramadu hari Minggu!” ujar Anto.
“Iya, Bu, bawa bekal, ya, Bu! Anti takut lapar!” ujar Anti menimpali.
Ibu tersenyum mendengar celotehan anaknya sambil berkata, “Oh, begitu. Ibu baru tahu, nih. Ya, deh, nanti kita bawa bekal buat Anti yang suka makan!”
Anti dan Anto berebut membawakan kantung belanjaan ibu. Mereka berlari berlomba untukk lebih dulu mencapai dapur. Tentu saja, Anto yang menang karena badannya lebih tinggi dan kakinya lebih panjang. Anto tersenyum mengacungkan jempolnya ke wajah Anti sementara adiknya itu merengut sebal.
Minggu pagi tiba. Anti, Anto, Ibu, dan Ayah sudah siap di atas motor bebek merah yang akan membawa mereka ke Suramadu. Tidak lupa bekal makanan mereka tautkan di bagian depan. Anti duduk di depan sedangkan Anto duduk ditengah dijepit ayah dan ibunya. Sekitar hampir satu jam kemudian, mereka telah tiba di gerbang tol Suramadu. Setelah mengambil tiket, mereka melaju melintasi jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura itu. Ufff anginnya besar sekali. Jembatan itu rupanya terbagi atas empat jalur, dua jalur untuk pengendara sepeda motor dan dua jalur lain untuk pengendara mobil. Jembatan sepanjang 5,4 km itu dipagari dengan pagar baja kualitas tinggi di kedua sisinya. Sesekali polisi patroli telah bersiaga di menyusuri kedua jalur itu. Oh, ya, jalur untuk pengendara sepeda motor dan mobil juga dipisahkan dengan pagar baja yang sama. Pada jarak tertentu, pagar baja itu diberi warna oranye.
Beberapa rambu lalu lintas dipasang di kedua sisi jembatan itu. Anti dan Anto membaca rambu lalu lintas berbentuk bulat bergaris merah dengan tulisan 25, 40, dan 60. Mereka bergantian bertanya kepada ayahnya. Rambu tersebut adalah kecepatan minimum yang ditentukan bagi pengendara, baik sepeda motor maupun mobil. Di kiri dan kanan jembatan terhampar selat madura. Anto melihat banyak perahu nelayan yang ditambatkan di dermaga. Anti melihat pulau madura yang tampak kehijauan dari kejauhan. Sepanjang perjalanan melintasi jembatan itu, keduanya asyik berceloteh tentang segala hal yang mereka lihat di sana.
Jembatan itu menurun semakin mendekati pulau yang dikenal dengan hasil kerajinan ukiran dan batiknya itu. Setelah membayar tiket, ayah melanjutkan perjalanan. Rupanya banyak pedagang yang berjualan di sisi kiri dan kanan jalur menuju Bangkalan. Mereka beristirahat di salah satu pondok makan. Celoteh Anto dan Anti terdengar tiada henti. Mereka sangat mengagumi jembatan penghubung dua pulau itu. bahkan, dalam benak Anto terbayang berpuluh jembatan lain yang menghubungkan antarpulau di Indonesia. Wallaahualam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar