24 Agu 2009

REUNI




REUNI

Ini kisah temu kangen angkatan ’67 Institut Teknologi Tekstil di Surabaya. Pertemuan yang entah ke berapa kalinya dilakukan untuk mempererat talisilaturahim di antara lulusan sebuah istitusi pendidikan yang kini bernama Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil itu. Rasa rindu kali ini terpuaskan selama beberapa jam acara berlangsung. Sementara rombongan dari Bandung sudah berpuas diri sebelumnya karena semalam sebelumnya kita sudah berhaha-hihi selama dalam perjalanan dengan kereta api dari Bandung. Sayang, tidak semua anggota alumni dapat mengikuti acara ini karena berbagai hal.
Reuni bermakna bersatu kembali dan melepaskan rindu setelah lama berpisah. Reuni ini digalakkan untuk menggalang hubungan silaturahmi antar sesama anggota terutama jika ada anggota yang mengalami kesulitan. Well, senyum yang tampak dalam gambar adalah senyum kegembiraan atas acara tatap muka di antara mereka. Akan tetapi, senyum itu bisa jadi merupakan buntut kesedihan karena besok kita harus berpisah. Ya, setiap pertemuan senantiasa diiringi dengan bayangan perpisahan yang akan menggores gurat sedih di dalam kalbu.
Reuni layak digalakkan sebagai penggalang hubungan sosial antar sesama. Akan tetapi, reuni tidak layak diselenggarakan untuk saling pamer kedudukan dan aspek materi lainnya. Bukan tidak sedikit manusia menjadi frustasi dan cenderung untuk mengundurkan diri dari lingkup pergaulan teman-teman sejawatnya hanya karena merasa
‘lebih tidak apa-apa” daripada temannya yang lain. Kesenjangan yang terlampau jauh bisa memicu bibit frustasi dalam diri seseorang apabila ia tidak dibekali dengan dinding mental yang tebal. Manusia tidak akan berada di atas puncak gunung prestasi selamanya, beberapa orang pasti akan terjungkal di kaki bukit. Nasib manusia tidak sama, ada yang berhasil dan ada pula yang tidak. Anggota kelompok yang belum berhasil sudah selayaknya diberi bantuan tanpa meninggalkan kemampuan atau potensi dalam dirinya. Memberikan bantuan sepenuhnya bukan tidak mungkin justru akan mematikan kesempatan mengembangkan dirinya.



Reuni layaknya obat mujarab
Sebuah jawab
Pemuas dahaga ikatan
yang mungkin hampir rapuh
tangis tawa hadir silih berganti
singkirkan penat di hati
reuni layak dibawa dalam hati
hingga akhir nanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar