


Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato GNP-AM
Bandung, 3 Agustus 2009
Hari Senin ini bakalan jadi hari padatku. Ya, aku hanya sempat nge-print naskah pidato yang akan aku presentasikan keesokan harinya dalam “Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato”. Setelah itu, jam 10.00 tepat aku harus mengikuti rapat kepanitian kongres HISKI yang akan dilaksanakan di Isola Resort, UPI Bandung. Aku merasa menyesal karena aku tidak dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Rapat yang agak telat membuat aku terseret pada waktu rapat juri di Perpustakaan TNI AD. Seharusnya aku melakukan cek terakhir dalam konfirmasi konsumsi pada pihak hotel. Namun, terpaksa kuserahkan pada yang lain. Interval waktu yang sempit, membuat aku memilih naik taksi daripada harus berlama-lama ngendon di dalam angkot. Syukurlah, rapat bisa kuikuti.
Seusai rapat, aku harus pergi ke Pasar Baru untuk berburu kostum yang akan kukenakan dalam kongres. Setelah berputar-putar, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku perlukan. Ufff, aku kembali ke kantor dan memastikan bahwa tidak ada barang yang terlewatkan untuk keperluan selama mennjalani karantina. Ya, menjelang malam ini aku akan menjalani masa karantina sebagai peserta lomba pidato yang diselenggarakan di Hotel Grand Pasundan Bandung.
Lomba pidato dan naskah pidato tersebut kuikuti tanpa sengaja. Beberapa hari menjelang deadline, aku membaca pengumuman yang tiba-tiba hadir di balik pintu kaca. Aku sangat berminat untuk mengikuti lomba tersebut. Mau tidak mau dalam tenggat waktu yang sangat sempit itu, aku harus mencurahkan konsentrasiku untuk menulis sebuah naskah pidato, satu hal yang sangat baru bagiku. Tema kali ini adalah tema kepemimpinan. Tema yang kuanggap cukup berat dan sangat membebani diriku. Di satu sisi aku benci politik, tetapi aku harus memaksakan diri untuk memicingkan mata ke dunia itu untuk sekadar mendapatkan referensi.
Meskipun tekad dan niat begitu besar untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut, tetapi apa daya menumpuknya beban perkerjaan sehari-hariku di kantor berhasil menunda penulisan naskah itu hingga menjelang hari terakhir penerimaan naskah. Ada satu hal yang agak merepotkan diriku, keharusan menyertakan surat keterangan belum genap berusia 40 tahun dari kelurahan/kecamatan setempat. Lha, kesibukkan yang menyita waktuku menutup kesempatan untuk mengurus surat itu. Naskah yang baru jadi hari Sabtu menjelang siang, 25 Agustus 2009, membuat aku kebat-kebit karena mengejar jadwal kantor pos yang semula kukira tutup pada pukul 11.00 WIB. Mengajukan permohonan surat keterangan, yang hanya dapat kuminta dari RT setempat, cukup menyita waktu karena prosedur pembuatan yang manual. Semula aku akan melengkapinya dengan cap dan tanda tangan RW setempat, tetapi pintu pagar sekretaris RW yang sangat rapat mengurungkan niatku itu. Aku bertekad dengan menyertakan surat itu seadanya dan mengirimkan hari itu juga. Ufff, masih ada satu lagi tahap yang harus kulalui, menjilid dan membuat salinan naskah. Beruntung, tempat fotokopi langgananku kosong hingga tidak terlampau menyita waktu. Siang yang cukup menyengat membuatku menyewa sebuah becak untuk mengantarku hari itu. Beruntung pula lokasi kantor pos tidak terlampau jauh dari rumahku. Alhamdulillah, Allah Mahapemurah, pengiriman berlangsung lancar. Rupanya jadwal kantor pos pada hari itu lebih panjang satu jam dari yang kuduga semula, pukul 12.00 WIB. Lega hatiku saat langkah ini meninggalkan pintu kantor pos itu.
Hampir satu minggu kemudian, aku mendapatkan kabar bahwa naskahku diterima dan aku lolos menjadi wakil dari Jawa Barat untuk kategori umum putri. Mau tidak mau aku harus mengikuti karantina dan melakukan check-in di hotel tersebut semalam sebelum lomba. Bentrokan jadwal pada hari Senin itu membuat jantungku ini serasa menanggung dentuman yang sangat keras. Rasanya kepala ini berdenyut-denyut. Di satu sisi, aku merasa sangat senang dengan kelolosan ini. Namun, di sisi lain, aku merasa beban berat menggayut dalam hatiku. Aku tidak pernah mengira sebelumnya jika naskah itu harus dipidatokan sendiri oleh penulisnya. Berpidato! Satu hal yang asing bagiku. Aku memang telah berkali-kali tampil dalam seminar, tetapi bagiku berpidato adalah hal yang belum pernah kulakukan. Ufff, bagaimana, ya? Pidato itu harus seperti apa ya? Awalnya gimana? Pertanyaan itu terus berulang dalam batinku. Namun, aku harus menyadari bahwa aku tidak boleh menyerah begitu saja. Bukankah selama ini aku kerap berkata kepada anakku untuk menjadi pemberani. Jika aku mengundurkan diri, artinya aku manusia cengeng yang rapuh. No! Akhirnya aku nekad ikut dalam lomba itu. kulangkahkan kaki yang sedari tadi sudah lelah berjalan itu menuju lobby hotel diantar suamiku. Ya, hanya rido suami dan anakkulah yang mendorong kuat diriku untuk berada di tempat ini.
Aku berbagi kamar dengan kontingen kategori umum putri dari Banten, namanya Nur. Anaknya baik, tetapi kurang pede. Ia bertekad untuk tampil meskipun apa adanya. Aku sendiri tidak berambisi untuk memenangkan perlombaan ini. Yang terpenting bagiku adalah jalani dan percaya diri. Nur harus berjuang untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya itu.
Keesokan harinya, kami semua berkumpul di ruang Wastukancana, lantai UM. Acara perlombaan ini dibuka oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dr. Ahmad Heryawan. Setelah rombongan gubernur berlalu, acara lomba pun dimulai. Secara berurutan, peserta tampil berdasarkan kategori masing-masing, yaitu pelajar putra, pelajar putri, mahasiswa putra, mahasiswa putri, umum putra, dan umum putri. Inilah momen yang tepat bagi kita, peserta lomba untuk mengekspresikan apa yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Menjelang berkumandangnya azan maghrib, kita diminta panitia untuk membuat biodata pribadi dengan tulisan tangan yang rapi dan indah. Alhamdulillah, aku termasuk lima terbaik bersama Pak Eddy (Bogor), Pak Chairul (Tuban), Suci (Sukabumi), dan Deny (Banten). Untuk apa tujuannya, aku tidak tahu. Kami semua tidak tahu. Ternyata, setelah diumumkan, kami diminta untuk membantu panitia menulis nama peserta pada sertifikat. Pekerjaan itu harus kami lakukan dengan rapi dan cepat karena pengumuman pemenang akan dilakukan selepas makan malam nanti.
Acara pengumuman pemenang diawali dengan tayangan produk yang menampilkan kebobrokan moral bangsa kita terutama pada anak-anak dan kaum remaja. Oh, ya, penyelenggaraan lomba ini dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMP-AM), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pembinaan akhlak umat dan sedang melebarkan sayap untuk menyusun jaringan organisasi tersebut di berbagai wilayah di Indonesia. Aku pun mengenal organisasi tersebut sejak membaca brosur lomba tersebut yang ditempelkan di pintu kaca instansiku. Kegiatan lomba ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh organisasi itu. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bagian dari upaya sosialisasi organisasi tersebut ke tengah masyarakat. Bahkan, ketika membacakan pengumuman tersebut, panitia menyampaikan bahwa pemenang pidato dalam lomba ini merupakan aset yang sangat berharga bagi mereka. Dengan kata lain, pemenang lomba pidato merupakan kader organisasi yang bertugas untuk menyampaikan visi misi lembaga pembina akhlak tersebut.
Pengumuman hasil penilaian juri pun dibacakan. Alhamdulillah, aku mendapatkan tempat kedua untuk kategori umum. Dengan posisiku itu, aku harus merasa bersyukur karena masih bisa berkiprah di kongres HISKI yang akan berlangsung besok!!!! Aku tidak dapat membayangkan jika aku mendapatkan tempat pertama karena juara pertama setiap kategori harus pergi ke Jakarta untuk menjalani masa karantina selama empat hari. Wah, terbayang sedihnya aku jika tidak mengikuti momen sastra tahun ini. Belum lagi para pemenang harus mengikuti rombongan panitia yang akan berangkat pada keesokkan harinya pada pukul 06.00 WIB!!!!
Ya, deh, selamat untuk teman-teman yang meraih tempat pertama Regional I dan II, semoga kalian meraih sukses di tingkat nasional! Berita terakhir yang aku dapat adalah sebagian dari kontingen Regional I dan II meraih juara di tingkat nasional, yaitu Kategori Pelajar (Suhanda ke-1 dan Amel ke-3), Kategori Mahasiswa (Arul ke-3), dan Kategori Umum (Pak Rofiq ke-2). Selamat-selamat, ya!!!!! Nyesel aku tidak sempat melihat tayangan tunda di TVRI.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar