25 Agu 2009

SYUKUR





SYUKUR




Nuansa hijau yang menyiratkan kedamaian dan keasrian alam membuat hati ini reloa melepas kepenatan kehidupan kota. Nuansa hijau di perairan payau di sekitar pantai Batukaras, Pangandaran, menunjukkan kepada kita bahwa masih ada tempat yang tepat untuk perkawinan harmonis unsur alam. Pohon rami berbaris sesak di tepi muara menanti saat dipanen. Jenis tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Pohon tersebut berpadu asri dengan barisan pohon kelapa yang juga memberikan banyak manfaat kepada penduduk di kawasan wisata itu. Pohon yang dijadikan sebagai falsafah organisasi pramuka itu dapat dimanfaatkan seluruh bagiannya, dari akar samapai daunnya. Kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang terbuat dari batang pohon kelapa dengan atap yang juga dari jepitan daunnya. Jika kita dahaga, di kawasan wisata itu juga banyak tersedia penjaja es kelapa muda.
Allah tidak menciptakan segala sesuatu di jagat raya ini dengan tanpa guna. Semua pasti diberkahi dengan manfaat. Salah satunya tetumbuhan yang ada di tepian muara dan di kawasan pantai ini. Sudah seharusnya, penduduk di kawasan ini bersujud dan mengucap syukur kepada Sang Khalik. Peristiwa tsunami kemarin yang melanda kawasan ini sudah selayaknya dijadikan sebagai cambuk peringatan atas segala kekhilafan yang telah diperbuat mereka. Penduduk yang kebanyakan menggantungkan hidupnya dari sektor wisata tersebut tidak lantas terlena dengan budaya materi pariwisata. Uang bukan segalanya dalam hidup ini. Kemajuan di bidang perekonomian harus diiringi dengan penebalan aqidah agar tidak terseret arus keimanan yang menyesatkan. Pariwisata bisa dijadikan sebagai ladang ekonomi, ladang sosial, ladang komunikasi, dan ladang aqidah. Semua bergantung pada pelaku pariwisata itu sendiri.

Ya, Allah betapa kami kerap diselimuti kealpaan
Atas segala keindahan dan kemakmuran yang kau berikan
Atas segala kemudahan yang kau anugerahkan
Atas segala kekayaan yang kau limpahkan
Kepada kami

Tiada patut kami menolak
Bersujud rapat kepada Engkau
Panggilah kami tatkala kami alpa dari Engkau
Serulah kalbu kami ketika kami cenderung berpaling
Dari Engkau

Ampuni kami tiada henti
Seperti tiada hentinya deburan ombak di pantai ini
Curahi kami dengan hujan rahmatmu
Semudah kami menatap buih putih memecah diri
Di penghujung ombak

Tariklah diri kami ketika langkah kami
Tak lagi berpijak di gari-garis kebenaran-Mu
Seperti kuatnya arus di lautan
Menyeret kami ke dasar terdalam
Tiada yang memiliki kemampuan membenarkan diri kami
Selain Engkau


Bandung, 22 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar