
TEKUN
Seorang anak lelaki kecil bersendal jepit berlari dari tempat penginapannya ke arah pantai timur. Ia ingin menatap mentari pagi. Ufff, ia merasa kecewa ketika dilihatnya mentari bersembunyi di balik selimut mega kelabu. Si anak tidak mengetahui bahwa mentari pun sebenarnya sedang berjuang dari ikatan kuat rantai sang mega. Mentari ingin menyapa anak itu. Anak itu menatap lama ke arah bayangan mentari. Karena kecewa, anak itu menundukkan kepalanya dan berjalan di sepanjang tangga beton penahan gelombang di pantai itu.
Tiba-tiba, kedua matnya tertuju pada satu gerakan makhluk hidup yang bermain petak umpet di balik bebatuan penghalang gelombang. Kedua kaki lincahnya melompat ke kiri dan ke kanan menghindari celah batu. Sesekali badannya membungkuk. Mata tajamnya menelusuri di sebalik batu. Dilihatnya sesekali kaki-kaki makhluk yang membuatnya penasaran itu. Kepiting! Secepat kilat tangannya menyambar selembar plastik bekas pembungkus makanan yang dibuang sembarang, lalu dijimpitnya kepala kepiting. Ciiiuuuttt!!! Kepiting itu menang kali ini. Makhluk berkaki banyak itu segera melarikan diri. ‘Selamat!’ ujar kepiting tersenyum.
Si anak lagi-lagi dilanda kecewa. Ia berjalan, sesekali melompati batu. Sesekali mulutnya berseru, “Kepiting!” Ia menyerbu dan memburu kepiting itu. Lagi-lagi gagal! Si anak kecewa. Kepiting lain yang selamat itu pun tersenyum menang. Si anak melirik ke sekitarnya. Dilihatnya sebuah ranting kayu tergeletak di atas bebatuan. Ia melompati beberapa batu dan meraih ranting itu. Tubuhnya sesekali dibungkukkan lagi untuk memastikan ada tidaknya makhluk yang sedang diburu itu bersembunyi atau bertapa di balik batu. Ranting itu digores-goresnya ke balik batu untuk mengusir kepiting. “Kali aja kepitingnya mau keluar! Akan aku tangkap!” ujar si anak dalam hati.
Sesekali rantingnya tersangkut sampah di balik batu. Disingkirkannya sampah itu dari ujung ranting. Digosok-gosokkan lagi ujung ranting ke batu yang lain, sampai akhirnya ia mendapati seekor kepiting berukuran sedang berlari dari tempat persembunyiannya. Dikejarnya kepiting itu. Ditahannya makhluk yang ketakutan itu dengan ujung rantingnya agar arah pelariannya tidak jauh dari jangkauannya. Kepiting itu berusaha ditangkapnya. Lagi-lagi, ia gagal. Kepiting itu menelusup ke balik batu dan bersembunyi di tempat yang lebih dalam dan aman. Huuuuuuuffff!!! Kepiting itu menghembuskan nafas leganya. Dadanya sesak karena tadi ia berlari kencang.
Si anak dengan perasaan kecewa pergi ke bagian bebatuan penahan ombak lainnya. Kini pandangannya lebih luas lagi. Diliriknya sang mentari telah naik ke atas langit. Sementara itu, sang mega tampak tercerai berai karena amukan mentari. Si anak tidak begitu gembira dengan sapaan benda ciptaan Tuhan yang tadi sangat ditungu-tunggunya. Matanya, sejurus kemudian, kembali mengarah pada gerakan kepiting lain. “Sepertinya kepiting kecil!” gumamnya. Ia melompat ke kiri dan ke kanan. Ujung ranting ia arahkan ke tempat gerakan tadi. Uppppsss, seekor kepiting kecil, seperti yang ia sempat duga sebelumnya, muncul ke permukaan batu. Kepiting itu ingin melarikan diri. Si anak yang lincah itu segera menyambar selembar sampah plastik di dekatnya dan menahan laju pelarian si kepiting dengan ujung rantingnya. Gotcha!!!!! Kepiting itu masuk perangkap jepitannya. Makhluk kecil itu meronta sekuat tenaga. Ia ingin melepaskan dirinya. Sayang, cengkeraman si anak terlalu kuat.
Ranting penolong dilemparkan si anak begitu saja ke atas batu. Si anak kini sibuk mencari wadah untuk tempat hasil buruannya. Girang tiada terkira terpancar dari wajah si anak. Usaha dan tekad kuatnya untuk berburu kepiting membuahkan hasil. Perjuangannya tidak sia-sia. Didapatinya sebuah gelas plastik bekas minuman yang tergeletak di celah batu. Dibuangnya sisa air bandrek dari dalam gelas itu. Tuuuuukkkkk!!! Kepiting pun mendarat manis di dasar gelas. Makhluk kecil itu masih meronta hebat di dalam gelas. Apa daya, bahan dasar gelas itu licin. Usahanya untuk melarikan diri sia-sia. Selembar plastik diletakkan di mulut gelas. Matanya menelusuri sekitar. Dilihatnya sebuah karet gelang usang. Diambilnya benda itu dan diikatkan di sekeliling mulut gelas. Dilihatnya bekat pipa sedotan minuman dan diambilnya. Ditusuk-tusukannya beberapa kali permukaan plastik tadi. Ia tidak ingin membiarkan makhluk kecil hasil buruannya mati lemas. Beberapa lubang mempersilakan udara mengisi ruang gelas itu.
Kedua kaki bersandal jepit itu melompat girang meninggalkan bebatuan di pantai timur itu. Si anak melompat riang tiada henti hingga pintu penginapan. Ia ingin memperlihatkan hasil buruannya itu kepada ayah-ibunya. Sesekali gelas itu didekatkan ke wajahnya. Ditatapnya makhluk kecil yang kini lumayan pasrah itu. Senyum mengembang lebar di wajahnya. “Hmmmm … akulah pemburu kepiting terhebat di dunia ini!” ujarnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu berkali-kali. Sesekali mulutnya berteriak, “Buu … buuu … buuu!!!” Ketukan itu baru terhenti setelah seorang wanita membukakan pintu untuknya. Tanpa sempat mengucapkan salam, si anak berteriak riang dan lantang, “Buuu … lihat aku dapat kepiting!” Diangkatnya gelas berisi kepiting itu setinggi-tingginya agar ibunya dapat melihat hasil buruannya itu.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar