31 Agu 2009

UMPTN NUN JAUH DI SANA ...






Duuuuhh, kalau mendengar universitas seperti terbang ke alam mimpi. Sepertinya universitas itu gerbang menuju gengsi, kesuksesan, kebahagiaan, atau … mungkin bagi sebagian orang … kekecewaan. Ya, kuliah itu rasanya sekolah paling … wahhhh. Beda banget kalau kita mendengar seseorang yang lulus dan masuk institusi pendidikan berbasis ikatan dinas. Bagi sebagian kalangan mungkin tida juga sihhh.
Kuliah di perguruan tinggi merupakan sesuatu yang asing bagiku yang saat itu masih berseragam putih abu atau saat aku baru melepas si putih abu itu. Meskipun banyak saudara dan kerabat yang sudah berkuliah lebih dulu, tetapi aku tidak pernah terjun menyelami dunia kuliah mereka. Aku nggak bisa bayangin seperti apa sih yang namanya kuliah itu?
Ikut UMPTN 1991 waktu itu lebih merupakan satu keharusan bagiku. Dengan kata lain, lebih merupakan jalur tradisi untuk menembus gerbang perguruan tinggi. Ya, untuk aku yang nggak terlalu ngebet kuliah, lewat jalur resmi, jalur UMPTN ini tidak begitu menjadi andalan dalam hidupku. Berhasil … ya syukur, nggak juga nggak apa-apa tuh. Bagiku masih banyak jalan ke Roma! Oleh karena itu, aku tidak seperti teman-temanku yang lain yang memutuskan untuk mengikuti bimbel (bimbingan belajar) pada institusi yang beken sejak tahun pertama menginjak kelas tiga SMA. Aku hanya mengikuti paket kilat bimbel selama dua minggu pada sebuah institusi yang tidak begitu beken. Kebanyakan pesertanya pun berasal dari luar daerah yang notabene ketinggalan dalam pelajaran. Yang penting, ilmu dan teknik mengerjakan soal UMPTN bisa kudapat dengan mudah dan dalam tempo yang tidak terlampau lama.
Aku tidak terlalu berambisi untuk lolos UMPTN itu karena kupikir jalan menuju sukses tidak melulu melalui jalur masal itu. Apalagi aku tidak terlampau menggeluti bidang ilmu matematika dengan giat hingga tatkala mengerjakan soal pun aku cenderung hitung kancing, meskipun membuat orat-oret di kertas buram. Kalau soa pengetahuan umum, lumayanlah. Kebetulan aku agak kuat di bidang ingat-ingatan atau hafalan.
Aku tidak merasa heran dengan ketidakhadiran namaku dalam daftar kelulusan UMPTN di halaman surat kabar. Selintas aku masih dapat menayangkan bayangan wjah teman-temanku yang berada dalam satu kelas di tempat uji. Dia … dia … dia … lulus! Selamat! Ucapku dalam hati. Aku senang mereka bisa lolos lubang jarum.
Pasca UMPTN, aku mengikuti ujiian masuk program D3 di UNPAD. Jurusan yang kuikuti adalah prodi bahasa Inggris. Alhamdulillah, aku diterima. Aku merasa pas dengan seisi kelasku dan lingkunganku di sini. Barangkali, dalam hatiku, Allah telah membuka jalan bagiku. Enaknya ikut di program D3, kita dibekali dengan materi praktis karena program ini lebih ditujukan untuk dunia kerja. Nggak enaknya, kita hanya mendapatkan sedikit ilmu sastra yang sebenarnya sangat kuminati. Alhasil penelaahan sastra kulakukan secara otodidak. Lulus dari program tersebut, kuikuti kelas angkatan pertama program ekstensi. Alhamdulillah, di kelas ini teman-temanku semakin beragam. Bukan hanya dari kelasku yang sama, maupun kelas lainnya, melainkan berasal dari beragam jurusan dan latar belakang yang berbeda. Program ini lebih tampak sebagai kelas karyawan karena sebagian dari teman-temanku sudah bekerja, bahkan berusia hampir 50 tahunan. Keragaman latar belakang teman-temanku ini lumayan melebarkan wawasan dan jaringan relasiku.
“Kelas malam” ini kuselesaikan selama hampir 3 tahun karena aku sempat dilanda mogok hati. Heeee … heee …! Jatuh cinta sempat membuatku mogok makan … eh mogok nuntasin skripsi. Akhirnya, tiba-tiba semangat 45 pun muncul dalam diriku dan kugenjot penyelesaian skripsiku hingga akhirnya pada tahun 1997 aku lulus dan diwisuda. Aku percaya, Allah akan membuka jalan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Meskipun tidak berhasil, aku tidak jemu-jemu mengkopi dan melegalisir, dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. Berkali-kali aku gagal dalam melamar pekerjaan hingga akhirnya aku bertemu jodoh dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan menikah. Saat anakku menginjak usia dua tahun, aku diterima sebagai PNS di sebuah lembaga penelitian bahasa dan ditempatkan di Bandung. Di tempat inilah aku mendapatkan bekal yang lebih berharga dan tidak kudapatkan di bangku kuliah. Dengan kata lain, duni kerja telah mengembangkan hal-hal yang kudapat di bangku kuliah dan memperkaya hal-hal baru. Kemampuan menulisku jauh lebih meningkat di tempat ini. Alhamdulillah! Allah telah memberikan jalan yang terbaik bagiku.
Untuk teman-teman, tidak perlu merasa kecewa jika tidak dapat lolos dari lubang jarum UMPTN atau SMPTN. Kedua jalur masal itu bukan merupakan satu-satunya jalan untuk mengais sukses. Banyak jalan menuju Roma! Zaman internatan gini nggak perlu khawatir meraup jalan dan ribuan pilihan. Teman-teman bisa menelusuri situs sekolah-sekolah yang membuka jalur ikatan dinas. Lumayan dengan jalur itu, teman-teman bisa menimba ilmu dengan aman tanpa harus merogoh kocek besar. Namun, jangan lupa! Seleksi jalur tersebut sangat ketat dan berat. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa lolos. Adapula jalur yang menyuguhkan penggodokan minat dan sekaligus sebagai server lowongan kerja. Mengapa tidak! Banyak perguruan tinggi yang menyuguhkan program tersebut. Tidak sedikit lulusannya yang diterima di beberapa lembaga, baik swasta maupun negeri. Jalur apa pun yang teman-teman pilih dapat dijadikan sebagai pintu gerbang menuju sukses, selama senantiasa diiringi dengan kesungguhan, konsistensi tinggi, dan kemandirian yang lumayan besar. Dunia kerja itu keras, perlu mental baja. Kita harus memupuk ketahanan mental sejak duduk di bangku kuliah. Sedapat mungkin, kita bisa melakukan hal-hal lain di luar bangku kuliah. Eskul dan kerja sambilan juga dapat kita lakukan sebagai pelatihan pengembangan diri selama bisa diseimbangkan dengan jadwal perkuliahan kita.
Bukan tidak mungkin tanpa sempat mengikuti jalur UMPTN pun kita dapat meraup sukses. Banyak pengusaha sukses tanpa sempat mengenyam pendidikan di peguruan tinggi. Mereka mengembangkan diri melalui jalur dunia maya. Bakat yang terasah dengan baik disertai teknik marketing tinggi serta jaringan relasi yang seluas-luasnya justru menjadi pendongkrak kehidupan mereka. Mereka bisa hidup dengan mapan di usia yang masih muda.
Jalur masal seperti UMPTN atau SMPTN bukan satu-satunya jalan menuju sukses. Jika kelolosan tidak berpaling kepada kita, teman-teman tidak perlu khawatir dan takut untuk menceburkan diri ke dalam jalur alternatif. Siapa tahu, jalur alternatif yang terkadang kurang dilirik orang dan dianggap sepele bisa menjadi jalan penghantar menuju gerbang kesuksesan. Yang penting, teman-teman memiliki kemampuan yang dalam untuk mengenal diri sendiri. Ya, itu penting karena mengenal diri sendiri dapat menjadikan teman-teman peka terhadap segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri sendiri. Nah, dengan mengenal hal-hal seperti itu, selanjutnya, teman-teman dapat mengukur diri. Dengan kemampuan atau kelebihan serta kekurangan yang ada dalam diri kita, apakah kita bisa mengembangkan hal itu di bangku kuliah yang lumayan lama? Jika tidak, bukan lebih baik kita segera mengasah kelebihan kita di tempat yang lebih menyuguhan penggodokan praktis daripada teoretis? Menentukan ukuran kemampuan pun perlu dilakukan untuk melakukan langkah selanjutnya. Setelah kita merasa yakin dengan ukuran yang kita miliki, teman-teman pun harus cermat memilih jalan yang tepat. Jika sudah mendapatkan pilihan jalan yang tepat, teman-teman tidak berarti ongkang-ongkang kaki. Tidak! Tidak sama sekali! Jika sudah memiliki tempat penggodokan minat yang jelas, teman-teman wajib melakukan pengembangan diri sambil memupuk kemandirian. Jadikan waktu yang berharga ini sebagai sarana untuk menentukan langkah Anda pascakeluar dari tempat penggodogan ini. Jadikan langkah yang teman-teman pilih sebagai jalan untuk meraup sukses. Jangan lupa pula bahwa kesuksesan itu tidak akan teman-teman dapatkan dengan sendirinya. Dukungan dari lingkungan sekitar pun sangat mendukung. Well, baik-baiklah dengan lingkungan sekitar dan mohon doa restu kepada mereka agar jalan kita di depan lulus, mulu, dan halus.
Selamat menuai sukses, teman-teman, meski tak harus lolos ke dalam lubang jarum UMPTN atau SMPTN! Ingat pepatah: Banyak jalan menuju Roma! Masih banyak lubang jarum yang bisa meloloskan hidup kita menjadi harum! Masih banyak wadah yang bisa membuat bakat kita menjadi tertadah! Masih banyak ayunan yang mampu menggoyangkan kita punya kemampuan! Masih banyak petak yang akan mengasah kita punya otak! Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya sengsara terkecuali umat-Nya itu sendiri yang enggan berusaha. Wallahualam bissawwab.




BIODATA
Nama : Resti Nurfaidah, S.S.
Alamat : Jalan Pluto Utara II Nomor 28
Bandung 40286
Pos-el : neneng_resti@yahoo.co.id
goresan_penaku@yahoo.com
Blog : cahayapenaku.blogspot.com
Telp & hp : 022-7560679
: 08156275203


Tidak ada komentar:

Posting Komentar