7 Sep 2009

PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA













PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA

Bandung, 5 September 2009

Saya diundang koordinator acara PEKAN KRIYA, FLP Jabar, untuk hadir menyaksikan acara pentas sastra sekaligus buka puasa bersama. Saya bersama suami hadir sebagai undangan awal sementara deretan kursi yang jumlahnya tidak seberapa masih kosong melompong. Setengah empat sore, acara yang dipandu oleh MC interaktif, Adew Habsta, segera dibuka dengan penampilan grup musik Sadasilung.
Sadasilung merupakan grup musik yang unik karena membawakan beberapa lagu rohani dengan kocak yang diiringi perpaduan alat musik tradisional dan modern. Personelnya cukup minim karena hanya tiga orang. Masing-masing memegang alat-alat yang dikuasainya. Satu orang memegang biola merangkap vokalis, satu orang memegang maraca atau suling merangkap vokalis, dan satu orang memegang kecapi merangkap vokalis. Lagu yang dibawakan adalah Puasa, Terjemahan Al-Ashr dalam bahasa Sunda, dan sebuah lagu yang saya lupa judulnya. Penampilan mereka cukup menghangatkan suasana sore yang masih lengang.
Penampilan kedua adalah pembacaan puisi oleh Heliana Sinaga, dramawan, sutradara, aktris, dan multitalenta lain yang dikuasainya. Ana, biasa ia akrab dipanggil, sore itu membawakan empat judul puisi, Minggu Pagi, Sajak Orang Tua, Kasidah Hujan, dan sebuah puisi yang saya lupa judulnya. Ana membawakan puisi itu dengan gaya yang kocak, terkadang mendesah hebat, atau menekan dahsyat.
Penampilan berikutnya adalah tarian Melayu yang dibawakan oleh Agitsyha Dance. Tarian yang lebih cenderung menampilkan gerakan bellydance dengan kostum yang berbau Cirebonan itu sempat menemui kendala saat lagu yang dituju tidak kadung muncul.
Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi oleh Syahreja Faisal dari komunitas ASAS, UPI Bandung. Beberapa puisi yang dibawakannya ditujukan kepada rekan-rekan yang sedang didera bencana gempa kemarin di kawasan Cianjur, kampung kelahirannya.
Pascapenampilan Reza, ditampilkan mnonolog yang dibawakan oleh salah satu ‘santri’ Rendra yang sempat ngendon lama di Bengkel Teater Rendra. Monolog yang disampaikan oleh Gusjur Mahesa itu berkaitan dengan kematian I dan II si burung merak itu. Monolog yang disampaikan itu pada keesokan paginya dimuat pada halaman suplemen Khazanah, edisi Minggu, 6 September 2009.
Pengisi acara yang tampil terakhir sebelum berbuka adalah grup band Ari KPIN. Beberapa lagu eksentrik ditampilkan dengan cukup memukau hingga menarik perhatian para pengguna Jalan Ir. H. Juanda.
Acara terakhir adalah berbukan puasa bersama. Acara seperti itu seharusnya bisa mendatangkan lebih banyak pengunjung. Mungkin promo yang lebih jor-joran harus dilakukan oleh panitia agar acara serupa bisa menjadi moment yang sukses.
Bravo buat FLP Jabar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar