5 Mei 2009

ADA SINGA DALAM DIRIMU: Step-by-Step Menggali Potensi dalam Diri


ADA SINGA DALAM DIRIMU:
Step-by-Step Menggali Potensi dalam Diri


Resti Nurfaidah


Data buku:
Judul : Ada Singa dalam Dirimu
Penulis : Asa Mulchias
Penerbit : ProYou (kelompok Pro-U Media)
Halaman : 292 halaman
Cetakan : 2008

Sekilas, sampul buku yang berjudul Ada Singa dalam Dirimu tersebut tampak seperti sampul sebuah novel. Dalam sampul tersebut, seorang pria sedang bercermin. Namun, cermin yang ia lihat bukanlah cermin biasa. Bayangan yang ia lihat di dalam cermin bukan bayangan dirinya, melainkan bayangan seekor singa jantan yang memasang mata tajam ke arah lelaki itu. Tentu saja, pemandangan seperti itu bukanlah pemandangan biasa, tetapi lebih merupakan sesuatu hal yang perlu ditelusuri.
Kekuatan singa dan manusia sangat jauh berbeda. Tenaga manusia, tanpa berbagai alat bantu, tidak akan mampu menandingi kekuatan singa. Karena kekuatannya itu, singa senantiasa ditempatkan di tempat tertinggi dalam kawasan hutan, Raja Hutan julukannya. Dalam cerita, semua hewan senantiasa tunduk kepada makhluk yang kokoh itu.
Pria yang sedang bercermin itu rupanya dipaksa cermin untuk menelusuri makna kehadiran bayangan singa di dalamnya. Singa dalam cermin bukanlah singa yang sesungguhnya, melainkan merupakan simbol atas kekuatan, kemampuan, dan kelebihan yang ada di dalam diri manusia. Allah swt tidak sekadar menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna jika tidak dibekali dengan hal-hal yang mampu membedakannya dari makhluk lainnya. Keunikan yang diturunkan Allah kepada benda ciptaan-Nya adalah tiadanya persamaan di antara makhluk yang diciptkan-Nya itu, sekalipun terlahir atau tercipta sebagai kembar identik.
Manusia tidak terlepas dari hal itu. Kekuatan, kemampuan, dan kelebihan setiap manusia berbeda-beda. Ketiga hal itu dapat disandarkan sebagai bekal hidup di dunia dan di akhirat. Sayangnya, tidak semua manusia mampu mengenali ketiga bekalnya itu. Kebanyakan hanya dapat meraba-raba “bekal” yang lain yang belum tentu dapat dikuasainya. Sebagian lagi justru hanya berdiam diri dan menyia-nyiakan “bekal” tersebut. Hasilnya, manusia tampak seperti korban bencana kelaparan yang terdampar di tengah-tengah hamparan gurun pasir yang tidak bertepi. Penulis merasa iba dengan kondisi sesamanya yang demikian. Melalui buku ini, ia ingin mengajak teman-teman, terutama sesama Muslim, untuk belajar step-by-step menggali potensi diri.
Penulis mengawali proses penggalian diri dengan sebuah ilustrasi cerita berjudul “Raksasa Baik Hati, Serigala-Serigala Kelaparan, dan Domba-Domba yang Ketakutan”. Kisah tentang tiga makhluk berbeda jenis itu terbagi atas tiga bagian. Kisah yang pada episode selanjutnya melibatkan tokoh si Kancil yang sudah menjadi profesor tersebut memberikan gambaran bahwa seseorang yang ingin “pulih” dari penderitaannya harus memiliki kesadaran dan daya juga yang sangat tinggi. Berkat bantuan si Kancil itulah, kawanan domba selamat dari amukan serigala lapar. Serigala yang berkali-kali ingin melahap kawanan domba empuk itu tidak pernah berhasil mendapatkan impiannya karena desa domba itu senantiasa dijaga oleh seorang raksasa bernama Hugan. Untuk mewujudkan impiannya, serigala mencari siasat dengan melumpuhkan Hugan dengan obat tidur yang dahsyat buatan ular kobra kepala tiga. Namun, usahanya itu ternyata tidak membuahkan hasil karena kancil mampu membuat ramuan penangkalnya. Hugan yang telah pulih mendapati kenyataan bahwa ia kini tidak mampu berdiri apalagi menghadapi serigala seperti biasanya. Namun, kancil dan kawanan domba memberikan semangat yang tiada putusnya kepada raksasa yang malang itu. Akhirnya, Hugan pun terbuka mata hatinya dan ia berupaya keras untuk memupuk kekuatan hati maupun tubuhnya. Upaya kerasnya itu membuahkan hasil. Hugan mampu bangkit dan mengalahkan kawanan serigala. Pada akhir cerita, si Kancil membuka rahasia yang sebenarnya bahwa bukan ramuan mujarab yang mampu membangkitkan Hugan, melainkan keinginan kuat dalam diri raksasa itu untuk melawan sisi lemah dalam dirinya.
Profesor Kancil menatap Doba dengan pandangan tak jenuh. Anak muda, katanya dalam hati, jika saja, mereka menemukan tujuan hidupnya dan mengerahkan segenap tenaga untuk menjadikannya sesuatu yang luar biasa, akan selalu memancarkan sinar yang kulihat seperti di wajah domba ini. Mengagumkan….. (ASDD: 277)

Selain cerita itu, masih ada ilustrasi lain yang diberikan penulis yang diilhami kisah fabel universal, yaitu “Bebek Buruk Rupa”. Dalam cerita aslinya, seekor anak bebek mengalami keterlambatan dalam masa penetas. Ia tertinggal oleh ibu dan saudara-saudara yang lain. Tiba-tiba, datanglah seekor induk betina dan membawanya ke kandang. Di tempat itu, telur bebek itu menetas bersama telur-telur ayam itu. Pada waktu selanjutnya, bebek itu lebih mengenal budaya ayam dari pada budayanya sendiri. Dalam buku tersebut, penulis menorehkan sebuah kisah serupa yang berjudul “An Eagle Who Thinks He’s a Chicken”. Cerita tentang burung elang itu berawal dari kecerobohan seorang induk elang yang terbang meninggalkan sarangnya. Tubuhnya terbang terlalu rendah dan menepuk dahan tempat sarang itu berada. Akibatnya, satu dari dua telur itu terjatuh ke dalam kumpulan telur ayam di bawahnya tanpa cacat. Kemudian, telur-telur itu menetas dan bayi elang selanjutnya mengarungi kehidupan dalam budaya ayam. Meskipun sempat melihat makhluk sejenisnya yang dapat terbang, bayi elang itu tidak memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru yang sebenarnya akan mengembalikan kondratnya sebagai seekor elang. Namun, ia tidak memiliki daya coba yang tinggi serta dukungan dari lingkungan yang rendah, elang itu selamanya “menjadi ayam”. Kisah anak elang tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri sendiri dan potensi diri. Setelah itu, kita perlu mengembangkan sayap selebar-lebarnya ke muka dunia dengan cara mencari ilmu.
Perlahan tapi pasti, si Anak elang mulai melupakan yang sempat menimpanya. Ya, dia adalah ayam, bukan elang. Dia tak bisa terbang setinggi burung elang, tak perlu menukik tajam dari angkasa untuk menerkam mangsa. Cukup menggali tanah, menemukan binatang penggembur, mencaploknya, nyam-nyam, telan, kenyang. Selama ini dia bisa menerima hidup yang seperti itu, dan selalu menganggap itulah takdirnya. Tak perlu membuang energi untuk mencoba. Hasil akhirnya sudah pasti. (ASDD: 218)

Namun, aktivitas mencari ilmu tersebut juga memiliki norma-norma tersendiri (hlm. 143—160), yaitu (1) ikhlas lillahita’ala, (2) tujuan mencari ilmu: menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan orang lain, (3) berniat menuntut ilmu berpijak pada aqidah, (4) lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat, (5) menghormati dan memuliakan kaum ulama, dan (6) mencari kebenaran dan sabar.
Penulis, mengawali proses ini dengan memperkuat hati dan mengenali kesadaran diri. Manusia harus mengenali dengan baik siapa dirinya dan apa yang ada di dalam dirinya itu. Dengan mengenali diri dan potensi diri, Penulis mengajak manusia untuk menikmati hidup sebagai suatu anugerah (hlm. 55). Sebagai “doping” untuk memperkuat diri, manusia yang sudah dianugerahi dengan kemampuan untuk meniru, layak untuk mencari sosok teladan yang benar-benar dapat diteladani. Dalam buku ini, Penulis memberikan banyak sosok yang dapat diteladani oleh kaum muslimin dan muslimat, di antaranya Rasulullah, Khalid bin Walid, dan Abu Bakar Ash-shiddiq. Selain tokoh Islam, Penulis juga memberikan ilustrasi negeri sakura yang mampu menggeliat hebat dari keterpurukan akibat PD II di Nagasaki dan Hiroshima. Kerasnya minat dan daya juang para penghuni negeri sakura itu layak dijadikan sebagai cermin oleh kita.
Setelah itu, penulis pun beralih pada langkah-langkah penggalian potensi tersebut dengan rangkaian langkah yang disebut tarbiyah dzatiyah (hlm. 117). Tarbiyah dzatiyah yang ditawarkan penulis lebih merupakan sarana untuk menggali potensi secara Islami yang menyeluruh melalui enam langkah berikut, yaitu muhasabah, thalabul ‘ilmi, praktik, pemanfaatan waktu, berdoa, dan melawan penyakit mental. Muhasabah adalah penelusuran pada diri sendiri melalui tiga tahapan berikut, yaitu niat dan kesiapan diri, menentukan mana yang hak dan yang batil, dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Kedua, kaum muslimin digenjot Islam untuk menggeruk ilmu seluas mungkin untuk memperkuat diri sendiri. Ketiga, setelah menangguk ilmu, kaum muslimin diwajibkan untuk mengamalkan ilmu yang ia peroleh. Keempat, ilmu yang diperoleh semata-mata untuk ibadah bukan untuk kesombongan. Sehubungan dengan itu, manusia diwajibkan menundukkan kesombongan karena ilmu dengan sujud kepada Allah swt. yang telah memberikan anugerah tersebut kepada kita. Semakin tinggi ilmu yang kita peroleh semakin tinggi keharusan kita untuk melipatgandakan diri kepada Sang Pemberi Ilmu tersebut.
Penulis mengakhiri tulisan ini dengan anjuran untuk segera melaksanakan pengenalan diri dan penggalian potensi diri secepat mungkin. Jangan sampai keinginan dan angan yang setinggi langit akhirnya terkalahkan oleh hadirnya “kereta ekspres Penyesalan” yang selalu hadir lebih cepat dari jadwal seharusnya.
Life Begins at Young!
Masak sih? Bukannya “at 40”? emang ada yang bilang beitu. Tapi, buat kamu yang masih muda…, yakin mau nunggu selama itu? Bagi yang nggak mau, yuk ikut gerakan “Life Begins at Young!” Asyik, lho! Mau tahu asyiknya di mana?
Dengan mengikuti gerakan ini, kamu bakal diajarin buat bikin hidup lebih hidup! Siapa sih yang nggak mau? Sama dong! Kita semua menginginkan hal itu terjadi dalam hidup kita di dunia. Siapa juga yang nggak mau? Pasti kurang waras. Tapi, apa hanya dengan “menginginkan”, lalu sekonyong-konyong terwujud? Bakal ujug-ujug jadi warna dalam episode-episode kehidupan kamu di dunia nan indah ini? Nggak, kan? Selain menginginkan, kamu juga harus “meraihnya” dan berusaha mewujudkannya! (ASDD: 280)

Ada Singa dalam Dirimu merupakan obat yang mujarab yang aman dikonsumsi oleh berbagai kalangan yang sedang mengalami pudarnya identitas diri dan mengalami peningkatan kebuntuan hidup. Dengan bahasa gaul yang sangat lancar mengalir bak air turun dari hulu ke lembah, buku ini layak dikonsumsi tanpa dihinggapi rasa cemas, takut, dan antipati. Bahasa gaul yang dipakai dalam buku ini memang masih menyimpang dari kaidah EYD, tetapi hal itu justru mempermudah pemahaman isi buku itu, seperti dalam contoh berikut.
Sebagai (calon) penulis, ada beberapa hal yang kudu kamu list: banyak membaca, harus menulis setiap hari, sering-sering mengedit (mengedit tulisan siapa? Ya, tulisan kamu!), bergabung dengan komunitas penulis, dan menyiapkan buku khusus atau lebih bagus komputer. (ASDD: 207)

Namun, sasaran yang lebih tepat dari buku ini adalah pusat benak dan kalbu kaum ABG atau remaja. Buku ini layak dijadikan sebagai kitab suci ketiga—selain al Quran dan hadist-- sebagai pembangkit dan penguat spirit dalam diri kaum remaja yang cenderung terjerat ke dalam arus kehidupan serbaglobal, serbainstan, dan serbahedonis. Meskipun, buku ini ditujukan untuk remaja muslim, tetapi intisari di dalamnya bersifat universal dan dapat diterapkan oleh remaja yang berlatarkan keyakinan yang lain. Satu pesan utama dalam buku karya Mulchias tersebut adalah upaya pencarian jati diri yang biasa dialami oleh remaja harus berlandaskan pada sumber keimanan, yaitu agama. Dengan demikian, remaja akan mampu melalui tahapan yang paling labil dari seluruh tahap perkembangan manusia tanpa mengalami personality gap atau cultural gap.

KONSEP KEMATIAN DAN KEHIDUPAN PASCAKEMATIAN DALAM LIRIK LAGU RELIGIUS

KONSEP KEMATIAN DAN KEHIDUPAN PASCAKEMATIAN
DALAM LIRIK LAGU RELIGIUS




Resti Nurfaidah



ABSTRACT: Mostly death is considered as the last phase of the cyclus of the human’s and other creatures’ life. Whereas, firstly on the Islamic religion, the death is considered as the first phase of the other ones, called the life after the death. Some people forget that the endable life in the world is likely a facility to catch or save preparations of the life after the death itself.
Exploring this topic, the writer had taken three objects.
The object of the riset is the three religious lyrics below,Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick), Ketika Tangan dan Kaki Bicara (Chrisye),and Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo). Those that were written bythe Koranic or the words of the Prophet’s based telling us about the death itself and the life afterwards. What should be doneby the human beings, especially for the Moslems, before and after the coming of the death?


1. Pendahuluan
Dunia laksana sebuah sarana hiburan fantasi. Dunia laksana sebuah megastore perhiasan. Manusia adalah pengunjung setianya. Keindahan dan kebahagiaan yang disajikan dalam tempat hiburan dan megastore itu begitu melekat dalam ingatan manusia. Akibatnya, manusia menjadi senang dan berlama-lama untuk tinggal di kedua tempat itu. Ia tidak berniat untuk hengkang dan meninggalkan tempat itu. Manusia demikian asyik dengan kehidupannya, sehingga ia lupa bahwa ada sesuatu yang senantiasa mengintai dirinya setiap saat setiap waktu. Gazalba (1984:11) mengatakan bahwa ada hal yang tidak dapat ditolak oleh manusia, yaitu sirnanya periode kehidupan dan kedatangan sakratul maut. Kepastian datangnya maut merupakan hal yang nyata, tetapi manusia cenderung lalai untuk mempersiapkan dan menghadapinya. Kenapa manusia melupakan saat-saat akan kematiannya, sehingga ia tidak sempat mempersiapkan dirinya? Saat-saat kematian datang menjemput manusia dan apa yang akan dialami oleh manusia pascakematian, akan penulis bahas pada poin selanjutnya. Tepatnya, pada tiga objek penelitian berikut, yang berupa tiga lirik religius, yaitu Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick), Ketika Tangan dan Kaki Bicara (Chrisye), dan Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo). Ketiga lirik tersebut menyinggung soal kematian dan hal-hal yang akan dialami setelah itu. Pembahasan akan penulis lakukan disertai dengan sejumlah refernsi buku keagamaan yang relevan.

2. Konsep Kematian dan Kehidupan Pascakematian dalam Lirik Lagu Religius
Pembahasan tentang konsep kematian dan kehidupan pascakematian dalam lirik lagu religius ini akan terbagi dua. Pertama, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa dan peringatan tentang kematian, sedangkan yang kedua, mengenai hal-hal yang terjadi setelah kematian—terutama ketika manusia sedang berhadapan dengan pengadilan Allah swt untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.

2.1 Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick) dan Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo)
Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick) merupakan lirik yang berkisah tentang hal-hal yang membuat manusia terlena dengan segala keindahan kehidupan duniawi dan melalaikan kehidupan akhirat. Penyesalan manusia mendorong dirinya untuk memohon kepada Ilahi untuk dikembalikan ke dunia, tetapi Allah tidak mengizinkannya. Ia terperosok dalam kesedihan dan kesepian di alam kubur. Lirik lagu Bila Waktu Tlah Memanggil tersebut selengkapnya sebagai berikut.

Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick)

Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
Meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masihkah ada jalan bagimu untuk kembali
Mengulang ke masa lalu

Dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dan segala yang ada akan
Kembali pada-Nya

Bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah terhenti
teman sejati tinggallah sepi

Lirik lagu tadi terdiri atas empat bait. Setiap bait terdiri atas empat larik. Pada bait pertama, larik pertama yang berbunyi / Bagaimana kau merasa bangga / merupakan sebuah pertanyaan satir atau sindiran terhadap salah satu sifat manusia yang cenderung membanggakan apa yang dimilikinya. Jika manusia telah menggenggam sesuatu hal ia akan cenderung mempertahankannya, membanggakannya, dan menunjukkannya kepada orang lain. Kata bangga dalam larik tersebut menunjukkan eufemismus terhadap sikap angkuh, sombong, dan tamak dalam diri manusia. Hal itu tercermin dalam petikan ayat berikut.
“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang yang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS, 2:96)

Apa yang dibanggakan oleh manusia, tercermin pada larik kedua yang berbunyi / Akan dunia yang sementara /. Ternyata apa yang menjadi kebanggaan manusia adalah dunia yang telah memberinya kenikmatan hidup. Jerat keindahan dunia telah membuat manusia terlena dan melupakan adanya kehidupan lainnya yang lebih utama, yaitu kehidupan di alam barzah dan alam akhirat. Padahal, dunia ini hanyalah tempat persinggahan manusia sebelum menuju kehidupan yang sesungguhnya. Adanya kehidupan setelah kematian tersebut terdapat dalam petikan ayat berikut.
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain dari senda gurau dan permainan saja dan bahwa negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS, 29:64)

“[…] Kehidupan dunia ini hanya kesenangan sementara dan kahirat itulah negeri yang kekal.” (QS, 40:39)

Dari ayat tadi, dapat kita pahami bahwa umur dunia ini sangat pendek bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat kelak. Kealpaan manusia terhadap kehidupan paskakematian diperingatkan dalam larik ketiga dan keempat bait pertama yang berbunyi / Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi/ Meninggalkan dirimu /. Bunyi larik tersebut berupa pertanyaan yang tajam kepada kita tentang apa yang akan kita lakukan jika pada suatu saat kita ditinggalkan kebanggaan kita? Ingatkah kita siapa yang mengambil hal-hal yang menjadi kebanggaan kita? Manusia kerapkali melupakan semua yang kita banggakan akan kembali kepada Penciptanya.
Isi bait pertama menyambung pada bait ketiga. Larik pertama yang berbunyi / Dunia dipenuhi dengan hiasan / menyiratkan gambaran tentang hal-hal yang selalu dibanggakan dalam kehidupan manusia itu. Kata hiasan merupakan part pro toto terhadap apa saja yang selalu membuat manusia terlena dalam kehidupan duniawi, yaitu wanita, anak-anak, dan harta. Hal itu telah ditetapkan Allah swt dalam petikan ayat berikut.
“Manusia itu diberi perasaan berhasrat atau bernafsu, misalnya kepada perempuan, anak-anak, kekayaan yang melimpah-limpah, dari mas dan perak, kuda yang bagus, binatang ternak dan sawah lading; itulah kesenangan hidup di dunia. […]” (QS, 40:39)

Manusia telah dibekali kesenangan terhadap keindahan, terutama kepada perempuan, anak-anak, serta harta benda. Namun, semua itu tiada yang abadi. Gazalba (1984:195) mengatakan bahwa istri yang cantik pada suatu saat akan kehilangan kecantikannya. Anak-anak yang dibanggakan akan pergi meninggalkan kita atau, sebaliknya, kita yang meninggalkan mereka. Harta benda akan habis entah dibelanjakan atau diwariskan kepada orang lain. Saat kita mati benda-benda yang kita banggakan hanya akan menjadi saksi bisu di tempat kita bukan di dalam kubur kita. Semuanya akan habis dan kembali kepada Sang Pencipta, yaitu Allah swt. Hal itu tercermin dalam larik kedua dan ketiga pada bait ketiga yang berbunyi / Semua dan segala yang ada akan / Kembali pada-Nya /. Larik tersebut merupakan isi dari petikan ayat berikut ini.
“Kepada Allahlah kembalimu, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS, 11:4)

Istri yang cantik atau suami yang gagah lama kelamaan akan layu dan mati, harta akan habis dengan jalan apa pun, atau anak-anak yang kita banggakan akan pergi dari pelukan kita atau kita tinggalkan. Semua merupakan kehendak Illahi. Hanya Dia yang Mahapenentu.
Bait ketiga tersebut lebih tepat bila disambungkan dengan bait kedua. Setelah terlena dengan keindahan dunia, manusia dihadapkan dengan segala kejutan ketika saat ajal menjemput. Larik pertama dan kedua yang berbunyi / Bagaimanakah bila saatnya / Waktu terhenti tak kau sadari / merupakan pertanyaan yang kerapkali diabaikan oleh manusia. Dalam keterkejutan ketika bersua dengan sang pemutus kenikmatan dunia, manusia hanya dapat bersikap diam terpaku karena mereka merasa tidak siap untuk “berangkat” ke tujuan akhir itu. Keasyikan hidup di dunia membuatnya lupa akan momen transisi menuju tempat sebaik-baiknya tempat. Larik ketiga dan keempat pada bait yang sama berbunyi / Masihkah ada jalan bagimu untuk kembali / Mengulang ke masa lalu / merupakan pertanyaan satir terhadap manusia yang mati dalam keadaan merugi dan tanpa persiapan. Kaum yang demikian merasa sangat menyesal dan memohon untuk dikembalikan ke dalam kehidupan dunia untuk memperbaiki amal perbuatannya. Namun, pintu untuk kembali tidak pernah terbuka dan terkunci untuk selamanya.
Penyesalan manusia yang merugi itu digambarkan pada bait keempat berikut.
Bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah terhenti
teman sejati tinggallah sepi
Apa yang dibanggakan semasa hidup di dunia sama sekali tidak berarti dalam kehidupan di alam kubur. Manusia hanya berteman dengan amalannya dan kesepian yang tiada terhingga di alam barzah. Ajal digambarkan secara pleonasme atau berlebihan dengan frasa berikut, yaitu / Bila waktu tlah memanggil / dan / Bila waktu telah terhenti /.
Isi yang hampir sama juga terdapat dalam lirik Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo). Lirik tersebut berbunyi sebagai berikut.



Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo)
Lirik: Miftah Faridl

I II
Hidup bagaikan garis lurus
Tak pernah kembali ke masa yang lalu
Hidup bukan bulatan bola yang
Tiada ujung dan tiada pangkal
Tiga rahasia Illahi
Yang berkaitan dengan hidup manusia
Kesatu tentang kelahiran,
kedua pernikahan, ketiga kematian


Hidup ini melangkah terus
Semakin mendekat ke titik terakhir
Setiap langkah hilangkan jatah
Menikmati hidup nikmati dunia

Reff:
Pesan Nabi tentang mati
Janganlah takut mati
Karena pasti terjadi
Setiap insan pasti mati
Hanya soal waktu

Pesan Nabi tentang mati
Janganlah minta mati datang kepadamu
Dan janganlah kau berbuat
Menyebabkan mati
penuhi hidup dengan cinta
ingatkan diri saat untuk berpisah
tegakkan shalat 5 waktu
dan ingatkan diri saat dishalatkan

Reff:
Pesan Nabi tentang mati
Janganlah takut mati
Karena pasti terjadi
Setiap insan pasti mati
Hanya soal waktu

Pesan Nabi jangan takut mati
Meski kau sembunyi dia menghampiri
Takutlah pada kehidupan setelah kematian
Renungkanlah itu

Kehidupan manusia bukan merupakan suatu siklus, terutama dalam pandangan agama Islam. Jika digambarkan, kehidupan manusia itu laksana sebuah garis lurus yang ditarik pada titik awal maupun titik akhir. Kehidupan manusia sejak di alam ruh, dilahirkan dan kembali ke hadirat Ilahi bukan merupakan gambaran sebuah siklus. Yang berawal dari tempat yang sama dan berakhir di tempat yang sama. Larik pertama yang berbunyi / Hidup bagaikan garis lurus / merupakan simile dan larik ketiga / Hidup bukan bulatan bola yang / merupakan metafora terhadap bentuk perjalanan kehidupan manusia itu.
Penjelasan tentang hal tadi terdapat dalam bait kedua. Larik pertama dan kedua yang berbunyi / Hidup ini melangkah terus / Semakin mendekat ke titik terakhir / menyiratkan bahwa semakin lama langkah manusia senantiasa menuju pada ajalnya. Yang membedakan adalah cepat-lambat atau panjang-pendeknya jarak dari titik awal kehidupan ke titik akhir. Semua terserah kepada kehendak Illahi. Jika selama ini tradisi perayaan ulang tahun dikenal istilah “panjang umur”, sudah seharusnya istilah itu diganti dengan “berkah umurnya” (Hidayat, 2005:4). Akan lebih baik lagi jika perayaan ulang tahun itu dijadikan sebagai momen untuk merenungkan perjalanan hidup dan penentuan untuk menetapkan langkah di masa depan. Hidayat dalam sumber yang sama mengatakan bahwa makna panjang umur pada manusia berusia 60-an dirasakan kurang pas. Pada fase tersebut, manusia senantiasa merasakan bahwa ia telah mendekati akhir hidupnya, seperti yang tergambar pada larik ketiga / Setiap langkah hilangkan jatah / dan / Menikmati hidup nikmati dunia /.
Hidayat (2005:118) mengatakan bahwa kematian kerapkali mengundang rasa takut pada diri manusia dan juga makhluk lainnya. Terutama pada manusia, rasa takut itu muncul karena ia enggan meninggalkan segala “perhiasan” dan keindahan dunia. Ia tidak siap menghadapi dan menjalani kehidupan baru yang serbamisterius itu. Namun, rasa takut itu harus dikubur jauh-jauh sementara kematian harus kita persiapkan sejak dini. Peringatan tentang datangnya kematian tersebut tercantum dalam bait ketiga berikut.
Pesan Nabi tentang mati
Janganlah takut mati
Karena pasti terjadi
Setiap insan pasti mati
Hanya soal waktu
Nabi Muhammad saw menegaskan kepada kaumnya agar tidak bersifat fobia terhadap kematian. Kematian mutlak adanya hanya soal kedatangannya saja yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Setiap makhluk hidup pasti akan merasakan kematian. Hal itu tercermin dalam petikan ayat berikut.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS, 21:35)

Meskipun menakutkan, kematian pun kerap dianggap sebagai “hoping land” atau tanah harapan sebagai ujung dari suatu permasalahan. Hal itu tercermin dalam larik pertama dan kedua bait keempat berikut.
Pesan Nabi tentang mati
Janganlah minta mati datang kepadamu

Bukan tidak mungkin manusia melakukan hal yang diluar akal untuk menuntaskan masalah yang dihadapinya, misalnya karena putus cinta, putus asa, dan lain-lain. Allah sangat melaknat perbuatan manusia yang menyebabkan mati, seperti membunuh atau bunuh diri. Eufemesmus pada larik ketiga dan keempat berikut ditujukan untuk aktivitas membunuh dan bunuh diri.
Dan janganlah kau berbuat
Menyebabkan mati
Selain kematian, manusia dihadapkan dengan dua hal lain yang senantiasa menjadi misteri dalam kehidupannya, yaitu perjodohan atau pernikahan dan kelahiran, seperti yang tercantum dalam bait kelima berikut.
Tiga rahasia Illahi
Yang berkaitan dengan hidup manusia
Kesatu tentang kelahiran,
kedua pernikahan, ketiga kematian

Manusia tidak pernah mengetahui kapan ia akan dilahirkan dan siapa yang akan ia lahirkan. Manusia tidak akan mengenali jodohnya. Seringkali terjadi, pasangan yang telah melakukan approaching selama bertahun-tahun ternyata pada akhirnya bubar dan masing-masing menemukan jodohnya dalam tempo yang sangat cepat.
Bait keenam merupakan “usulan” atau advise kepada umat manusia untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.
penuhi hidup dengan cinta
ingatkan diri saat untuk berpisah
tegakkan shalat 5 waktu
dan ingatkan diri saat dishalatkan

Bekal yang dapat ditabung oleh manusia adalah memenuhi hidup dengan “penuh cinta”. Istilah tadi meruapakan part pro toto terhadap cinta Illahi, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada makhluk lainnya. Cinta yang terbaik adalah cinta karena Allah swt, yaitu cinta yang senantiasa didasari nilai-nilai ibadah. Ibadah yang utama bagi kaum Muslim adalah solat lima waktu. Jika ibadah itu tidak sempurna, rusaklah seluruh amalannya. Ibadah solat bukan hanya harus dilaksanakan melainkan “ditegakkan”, yaitu dengan menerapkan nilai-nilai solat ke dalam kehidupan sehari-hari. Lakukan ibadah solat dengan sungguh-sungguh seraya mengingat bahwa pada suatu saat solat kita akan terhenti, tepatnya saat ajal menjemput. Tibalah saat bagi kita untuk disalatkan orang lain.
Bait keenam merupakan repetisi utuh bait ketiga. Repetisi tersebut merupakan wujud stressing terhadap kepastian datangnya kematian dan misteri kedatangannya. Bait ketujuh menyiratkan bahwa kematian itu mutlak. Jika tiba waktunya, ia tidak akan pergi. Kemana pun kita berusaha bersembunyi, kematian pasti akan mendapatinya, seperti yang tercermin pada larik pertama dan kedua yang berbunyi / Pesan Nabi jangan takut mati / Meski kau sembunyi dia menghampiri /. Hal itu tercermin pula dalam petikan ketiga ayat berikut.
“[…] Kematian yang dari padanya kamu melarikan diri sesungguhnya akan menemui kamu, kemudian itu kamu dibawa kembali kepada Tuhan yang tahu hal yang gaib dan yang nyata.” (QS, 62:8)
“Kami telah menentukan kematian kepada kamu dan Kami tidak dapat dikalahkan.” (QS, 56:60)
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh, […].” (QS, 21:35)

Pascakematian, manusia tidak akan habis masanya begitu saja. Namun, ia akan melalui kehidupan yang lain, yaitu di alam barzah dan alam akhirat, seperti yang diungkapkan dua larik terakhir yang berbunyi / Takutlah pada kehidupan setelah kematian / Renungkanlah itu /. Kata renungkanlah itu menyiratkan agar umat Islam tidak lagi berleha-leha dan terlena di dunia serta mulai bersiaga menabung amalan sebagai teman dan sahabat pascakehidupan di dunia.

2.2 Ketika Tangan dan Kaki Bicara (Chrisye)
Lirik yang berjudul Ketika Tangan dan Kaki Bicara merupakan buah karya Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh alm. Chrisye. Lirik ini ditulis berdasarkan isi ayat suci Al-Quran, yaitu QS Yaasiin ayat 65 berikut.
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS, 36:65)

Lirik ini menggambarkan kondisi manusia pada kehidupan pascakematian, terutama ketika mereka menghadapi hisab di pengadilan yang mahaadil itu. Pada saat itu, lidah dan mulut seolah terkunci rapat dan tidak mampu mengelak menangkis kesaksian anggota tubuh lain, tangan dan kaki, atas perbuatan selama di dunia. Hal itu terungkap di dalam kutipan berikut.
Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lgi

Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba...

Bait keempat merupakan petikan doa agar terhindar dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kita pada akhirat nanti.
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya
Sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu
Yang hina

Hidayat (2005:161—162) mengatakan bahwa hidup di dunia ibarat rekreasi dan shopping. Dalam perjalanan kita dianjurkan untuk membeli barang-barang yang berguna, bukan sembarang barang yang hanya akan mempersulit jalan pulang kita. Hidup juga ibarat sebuah lemari pakaian yang kita isi dengan pakaian dan perhiasan yang indah dan layak pakai. Sementara itu, pakaian yang sudah usang dan tak layak pakai kita buang saja. Dengan demikian lemari kita akan selalu terlihat rapih dan bersih. Bahkan, Rasulullah pernah bersabda bahwa kehidupan ini ibarat masa tanam yang hasil panennya baru akan kita nikmati kelak pada kehidupan pascakematian.
Segala aktivitas kita akan terekam kuat di dalam sebuah disket berupa ruh. Rekaman data itulah yang kelak akan diolah di pengadilan akhirat nanti. Disket itu pula yang akan menjadi sahabat atau, sebaliknya, menjadi bumerang bagi pemiliknya. Semua bergantung pada amal perbuatan pemiliknya selama hidup di dunia.
Wahai kematian, selamat datang! Selamat menjemput kami dan kami akan menerima kedatanganmu dengan lapang dada. Jangan butakan mata dan hati kami terhadap kilaunya perhiasan dunia dan melupakan pembelian perhiasan akhirat. Wanita cantik, lelaki gagah, anak-anak yang lucu, dan harta yang melimpah bukan merupakan malaikat pelindung bagi pemiliknya di akhirat. Sahabat dan pelindung manusia di alam akhirat hanyalah amal perbuatannya.

3. Simpulan
Dunia dan kehidupan di dalamnya laksana kilauan perhiasan yang mampu menjerat manusia untuk merebutnya. Dunia dan perhiasannya itu laksana semilir harumnya hidangan kelas atas yang mendorong manusia untuk selalu lapar lahir dan batin untuk mencicipinya. Kehidupan di dunia tidak ubahnya seperi rekreasi ke tempat wisata. Kita selalu terdorong untuk memborong oleh-oleh yang ada di tempat itu. Kehidupan itu laksana sebuah almari yang penuh dengan jejalan pakaian dan aksesoris.
Namun, tempat rekreasi itu bukanlah tempat tinggal yang abadi. Tempat itu hanyalah persinggahan untuk melepas lelah. Lemari bukan tempat baju dan aksesori yang permanent. Baju dan perhiasan yang sudah tidak layak pakai tentu harus dikeluarkan dari tempat itu. Kehidupan di dunia bukanlah surga abadi, tetapi ada yang kehidupan lain yang lebih abadi, yaitu kehidupan pascakematian.
Kehidupan pascakematian memerlukan bekal yang sangat banyak dan akurat agar kita tidak tersesat di sana. Sedini mungkin kita harus bersosialisasi dengan sahabat yang akan mengangkat kita ke tempat yang mulia, yaitu amal perbuatan.
Sebagai sarana dakwah yang santun dan tidak menggurui, lagu religius dapat dijadikan sebagai acuan untuk bertakwa. Tiga lagu berikut berisi ajakan untuk merenungkan apa yang akan kita persiapkan dan kita perbuat dalam menyambut datangnya kematian (Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick) dan Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo)) dan kehidupan pascakematian (Ketika Tangan dan Kaki Bicara (Chrisye)). Lirik tersebut biasanya ditulis berdasarkan petikan ayat suci atau sabda Nabi Muhammad saw yang relevan.

4. Daftar Pustaka
Baiquni, N.A. 1996. Indeks Al-Qur’an: Cara Mencari Ayat Al-Qur’an. Surabaya: Arkola.
Depag RI. 2000. Al-‘Aliyy: Al-Quran dan Terjemahannya. Bandung: Penerbit Diponegoro.
Gazalba, Sidi. 1984. Maut Batas Kebudayaan dan Agama. Jakarta: PT Tintamas Indonesia.
Hidayat, Komaruddin. 2005. Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme. Bandung: Penerbit Hikmah.
Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


5. Pustaka Sumber
Bimbo. “Hidup dan Pesan Nabi” dalam album Shalawat. Jakarta: PT. Musica Studio.
Chrisye. “Ketika Tangan dan Kaki Bicara” dalam album Kala Cinta Menggoda. Jakarta: PT. Musica Studio.
Opick. “Bila Waktu Tlah Memanggil” dalam album Opick Istighfar. Jakarta: PT. Musica Studio.

BAHASA DALAM BUDAYA PUTIH







BAHASA DALAM BUDAYA PUTIH


Resti Nurfaidah, S.S.






 


Abstrak:

Agus Necholase (2007) mengatakan bahwa banyak orang yang sependapat dengan ungkapan berikut, yaitu makin tinggi atau rumit suatu bahasa semakin tinggi pula budaya yang terkandung. Ya, bagi sebagian kalangan yang percaya dengan hal itu, pasti akan menyatakan bahwa bahasa saling berkaitan erat dengan budaya. Makalah ini akan menggambarkan hal-hal yang berkaitan erat dengan bahasa dan budaya. Namun, budaya yang akan penulis kemukakan dalam tulisan tersebut adalah kaitan erat antara bahasa dan budaya putih. Mengapa demikian?
Budaya putih adalah istilah yang penulis gunakan atas fenomena yang sedang membumi, terutama di kalangan kaum hawa, secara universal. Budaya putih adalah budaya yang berkaitan dengan hal-hal yang serbaputih. Kalau dahulu kita hanya mengenal budaya melabur tembok rumah atau gedung dengan cairan kapur berwarna putih atau perendaman baju dengan zat tertentu agar kembali menjadi putih. Kini warna putih pun merebak hebat dalam berbagai hal terutama di dunia kecantikan. Banyak istilah tertentu yang digunakan untuk menyatakan ‘putih’ sebagai cara untuk membombardir kesan atau standar cantik tertentu di dunia yang paling digemari kaum hawa tersebut.
Bahasan utama dalam makalah ini adalah tumbuhnya beberapa istilah yang dipakai dalam dunia kecantikan, terutama, budaya putih tadi.

Key words: budaya putih, putih, cantik, Anti Aging, whitening, kosmetik


 




 
1. Pendahuluan
Budaya putih adalah istilah yang penulis tempatkan pada kebudayaan manusia yang sangat mengagungkan segala hal yang berbau putih. Selain baju, kini hal-hal berbau putih pun semakin bermunculan, di antaranya sabun cuci, tepung, kosmetik, termasuk bahan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu beras. Namun, meskipun mengalami pertumbuhan pesat dalam berbagai bidang kehidupan, budaya putih yang saya sebutkan tadi hanya akan saya kaitkan salah satu bidang saja, yaitu bidang kecantikan terutama yang berkaitan dengan kosmetik. Penyebabnya, di dunia yang paling digandrungi kaum hawa itu, budaya putih mengalami perkembangan yang paling pesat. Sebagai gambaran singkat, jika dahulu para di Jepang, seorang geisha (untuk meningkatkan status sosial) atau pemain opera China (untuk mempertegas karakter peranan) hanya mengenal satu kiat menjadi putih, yaitu dengan menggunakan kosmetik sejenis pasta padat yang disebut oshirei (Sylado, KJ:12), kini kaum hawa telah memiliki beragam pilihan kosmetik yang mampu menjanjikan nuansa putih pada diri mereka. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi merasa malu atau minder hanya karena memiliki cangkang yang berbeda dari pihak tertentu.
Mengapa demikian? Budaya putih bermula dari timbulnya rasa takut yang berlebihan, disadari atau tidak. Seorang wanita yang kebetulan memiliki kulit khas kebanyakan (terutama penduduk benua Asia) kerapkali mendapatkan sorotan dari lingkungan sekitar dan desakan untuk menghilangkan ciri “kebanyakannya itu” menjadi “tidak kebanyakan” atau ideal. Tekanan hebat tersebut menumbuhkan paranoia (rasa takut yang cenderung berlebihan) dan rendah diri atas sisi buruknya itu (Soekanto, 2008:29). Bukan tidak mungkin lama kelamaan tekanan dan rasa takut yang berlebihan tersebut akan menggeser akal sehatnya terhadap sikap penerimaan kodrat Illahiah. Terlebih, datangnya serangan arus globalisasi yang tiada henti-hentinya memborbardir psikis si wanita itu untuk membuka mata dan memfokuskan pada sosok ideal yang menyuarakan “kecantikan bernilai universal atau global” dalam tempo singkat tersebut. Piliang (2006:398) mengatakan bahwa globalisasi merupakan monster yang dianggap semakin mempercepat tempo kehidupan manusia yang dengan lihai mampu menggiring “korbannya” ke arah kehidupan konsumerisme dan konsumtivisme. Selain itu, globalisasi juga melesatkan anak panah penjajahan pada selera lokal menjadi universal.
Dalam serangan yang, terutama, dikendalikan oleh media dengan segala bentuk advertisingnya baik berupa argumentatif, persuasif, maupun visual yang dengan intens menyuarakan “kesempurnaan” sosok yang ditampilkan. Ditunjang janji masa perolehan menjadi “ideal” yang singkat, mangsa pariwara tersebut akhirnya akan mudah berpaling dari pendiriannya semula dan beralih pada produk yang ditawarkan tersebut. Akibatnya, menurut Adlin & Kurniasih (2006:235) di satu pihak kaum hawa dipaksa agar mereka memuja sekujur tubuhnya, sementara di lain pihak dan pada saat yang sama ia dituntut untuk berbuat keji dengan memperbudak tubuhnya itu. Salah satu sebab yang sulit dirasakan oleh kaum hawa adalah akibat yang harus diterima tubuh karena upaya keras untuk mempercantik diri itu.
Dalam dunia pariwara, hal itu akan terjadi karena promosi yang bersifat jor-jor-an tersebut tiada lain bertujuan akhir untuk mendongkrak penjualan produk, terutama yang berkaitan aneka ornamen budaya putih. Selain itu, tujuan lain yang ingin dicapai dunia advertising tersebut adalah menjaring komunitas atau umat pemuja sosok idola atau model yang ditampilkan serta pemakai produk tersebut.
Demikian kuatnya arus globalisasi yang ditunjang dengan lemahnya pendirian, kaum hawa pun tidak lagi sempat berpikir panjang, terutama, yang berkaitan dengan hal-hal yang terjadi sesudah perkenalan mereka dengan ornamen tersebut. Ibarat dalam permainan judi, seseorang tidak akan mampu menduga nasib yang akan ia terima, kalah atau menang. Bagi kelompok yang beruntung, mereka akan mendapatkan janji manis sang promotor, di antaranya mendapatkan sedikit/banyak porsi keindahan yang dimiliki sang idola. Namun, bagi kelompok yang tidak beruntung, hal itu akan menjadi peristiwa yang menorehkan jejak traumatis sepanjang hidupnya. Sikap antipati terhadap produk, produsen, atau, bahkan, si model iklan akan menjadi hadiah terindah bagi sang pemakai atau pihak produsen.
Pada akhirnya, budaya putih hanya akan menghasilkan kecantikan semu atau kecantikan yang hampa makna (Adlin & Kurniasih, 2006:237). Saat berdiri di depan sebuah cermin, seseorang mau tidak mau dipaksa untuk menanggalkan dirinya dan mengenakan topeng yang “bukan dirinya” demi memenuhi standar cantik ala industri kosmetik yang menyerangnya tiada henti. Wanita menampilkan sosok kecantikan industri yang ditujukan, tidak lain, untuk menarik perhatian lingkungan di sekitarnya, sahabat, keluarga, terutama lawan jenisnya (Arianto: 2007). Padahal, Sarwono (2008) memberikan sebuah gambaran kecantikan yang “bijaksana”, yaitu kecantikan yang bersifat harmonis dan seimbang antara lahir dan batin. Sementara itu, Baudrillard dalam Adlin & Kurniasih (2006:236) memberikan penegasan bahwa kecantikan hakiki adalah kecantikan yang mampu menimbulkan harga diri. Untuk menumbuhkan harga diri, seorang wanita wajib menumbuhkan rasa cinta pada diri sendiri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hal itu akan menimbulkan penampilan yang berkesan, yaitu penampilan yang prima dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Demikian latar timbulnya budaya putih, yaitu budaya yang memiliki kekayaan identitas tersendiri. Identitas budaya tersebut di antaranya berwujud istilah-istilah tertentu yang akrab di telinga konsumen dunia kecantikan, terutama para pemuja budaya putih itu sendiri. Istilah yang muncul dalam budaya tersebut adalah yang berkaitan dengan segala hal yang berbau putih atau kondisi yang menjanjikan putih kepada penganutnya. Dalam subbab berikut, penulis akan membahas istilah-istilah bernuansa putih tersebut.

2. Bahasa dalam Budaya Putih
Bahasa dalam budaya putih bermain pada serangkaian istilah ornamennya budaya itu. Ornamen budaya tersebut, di antaranya, berupa istilah yang digunakan untuk menamai sejumlah produk yang memberikan “tabir putih” atau “janji putih” kepada pemakaiannya, dalam hal ini kebanyakan berasal dari kaum hawa. Ornamen budaya putih penulis bagi ke dalam dua bagian, yaitu (1) Anti Aging dan (2) whitening.

2.1 Anti Aging
Anti Aging, dalam wikipedia, merupakan addresses how to prevent, slow, or reverse the effects of aging and help people live longer, healthier, happier lives (kiat untuk mencegah, memperlambat, atau meredam efek penuaan serta membantu seseorang agar dapat hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih bahagia). Kosmetik Anti Aging digunakan untuk meremajakan atau membuat kulit yang sudah menua menjadi muda kembali. Kemunculan ragam kosmetik tersebut tiada lain dilandaskan pada ketakutan manusia dalam menghadapi kondisi lansia. Seseoang, disadari atau tidak, mulai ingin menolak kenyataan (yang tidak sesuai dengan harapannya) di wajahnya. Di depan cermin, ia menaruh rasa benci pada diri sendiri. Ditanggalkannya topeng murni dirinya yang mulai dihiasi kerut merut itu dan dipakainya topeng lain (disadari atau tidak) yang membuat dirinya tidak lagi menjadi diri sendiri. Industri kecantikan menangkap kehawatiran mendalam tersebut dan dengan intensif menawarkan produk yang mampu memberikan janji kepada calon konsumennya bahwa kosmetik yang ditawarkan itu mampu mengusir tanda-tanda ketuaan dalam tempo yang singkat itu. Promosi yang jor-joran dengan menampilkan sosok model yang beraksi seolah-olah ia telah berhasil mengenyahkan tanda-tanda ketuaan tadi, ditambah dengan cerita dari mulut ke mulut antar pemakai, mendorong hasrat dalam kalbu seseorang untuk menjamah produk tersebut. Tentunya, ia berharap dengan memakai produk itu ia akan mampu memenuhi standar yang ditawarkan model industri tadi.
Penekanan utama industri kecantikan tersebut dalam menentukan ragam kosmetik adalah istilah yang dipakai sebagai merek dagang. Beberapa istilah yang bermakna “meremajakan” atau “menjadikan sesuatu menjadi muda” digunakan sebagai merek kosmetik Anti Aging. Ragam kosmetik yang tergolong ke dalam kelompok Anti Aging tersebut, antara lain, Anti Wrinkle, anti-stretch, regenerist, rejuvenate, revival, serum, botox, age defense, reversing, nourishing, firming, Anew, revitalift, anti-ageing, dan regenerist. flawless, misalnya Blue Anti Aging Day Creme-SPF 12, Belkosmex /Mirielle Cosmetic Rejuvenating Fruit Cream, Bare Escentuals Rare Minerals Skin Revival Treatment, Sk-II Lxp Ultimate Revival Cream, dan Dr. Hauschka Revitalizing Eye Cream.

Berdasarkan pada contoh yang penulis paparkan tadi, kosakata yang tergolong ke dalam kelompok anti aging tadi merupakan bagian dari trade mark suatu produk kosmetik. Kosakata tersebut sengaja dicantumkan dengan gamblang agar konsumen menaruh kepercayaan pada kosmetik tersebut bahwa produk kecantikan itu akan mengembalikan masa muda mereka.


2.2 Whitening
Sementara itu, whitening dalam Alexander (2003:1436) berasal dari verba to whiten yang bermakna to make or become white (mengubah atau menjadikan sesuatu menjadi putih).
Kelompok whitening memiliki istilah yang lebih banyak. Whitening adalah ragam kosmetik yang menawarkan konsep kulit putih dan menjadikan hal itu sebagai standar kecantikan global di seantero dunia. Penawaran konsep tersebut tampak lebih dahsyat daripada penawaran ragam kosmetik sebelumnya. Model dan kemasan yang ditawarkan pun lebih beraneka. Konsep iklan yang dihadapkan kepada para konsumen lebih bombastis, baik dalam bentuk argumentatif, persuasif, maupun visual. Dari sisi argumentatif, iklan—sebagai salah satu ciri budaya komunikasi global--menyuarakan konsep dan standar kecantikan global yang mampu mengarahkan kaum hawa pada pemaknaan bahwa wanita cantik nan modern adalah wanita yang langsing, putih tanpa noda, dan sebagainya (Rustandi, 2007:17). Salah satu contoh, dalam Prabasmoro (2003:33), terdapat sebuah analisis iklan sabun LUX pada zaman dulu yang dibintangi oleh aktris Susan Hayward. Prabasmoro menyatakan dalam iklan itu mengandung sebuah argumen bahwa menjadi cantik tidak hanya ditunjang dengan fitur wajah yang cantik, tetapi—lebih penting dari itu—harus ditunjukkan dengan kulit yang putih. Hal itu ditunjukan bukan hanya kepada wanita nonkulit putih melainkan pula kepada wanita yang sudah berkulit putih. Dengan kata lain, melalui argumentasi, baik yang tersirat maupun yang tersurat, iklan tersebut memaksa kaum hawa untuk menghilangkan citra kecantikan menurut masyarakat tradisional menjadi citra kecantikan menurut masyarakat global. Sisi persuasif iklan, terutama melalui slogan atau ungkapan, yang ditanamkan kepada kaum hawa agar mereka mau mengikuti kiat yang ditawarkan oleh model iklah tersebut. Pada sisi visual, iklan Anti Aging tersebut menampilkan seorang model indo yang notabene ditahbiskan sebagai pembawa standar kecantikan global tersebut—berkulit putih, misalnya sosok Tamara Bleszinsky dan Sofia Latjuba.
Selain peran dunia advertising yang nyaris sempurna dalam membombardir benak kaum hawa dengan konsep cantik globalnya, peran dunia industri pun tidak kalah hebatnya. Mereka berlomba-lomba menghadirkan kemasan dan merek yang menarik untuk menjerat konsumennya agar ke dalam dunia berbau “putih”. Aneka istilah, yang kebanyakan menggunakan bahasa asing, selain white juga digunakan untuk menegaskan kepada konsumen bahwa produk mereka merupakan benda ajaib yang mampu memberikan “citra putih yang global”. Berikut adalah istilah yang digunakan oleh industri kecantikan dalam kampanye putih mereka, misalnya, Aulia Whitening Day Cream II, Apple Whitening Cosmetic Set, Theraderm Whitening Cosmetics, Star Smile Advanced Light Tooth Whitening System,Jericho Face Lightening Mineral Cream, Chanel Lightening Makeup Remover, Too Faced Mini Starry Eyed Liner Set, Starry Diamond Lipstick, Starry-Eye Liquid liners, Becca Cosmetics Glossy Lip Tint, Ard Glossy Lips, Sisley - Glossy Lipgloss, Aquolina Pink Sugar Glossy Body Gel, White Jade Pearls Paste Moisture & Health, dan Kelly Pearl Cream.

Dari beberapa contoh yang penulis paparkan tadi dapat penulis simpulkan bahwa beragam kosakata yang menunjukkan makna putih, bersih, dan bercahaya tadi dicantumkan sebagai bagian dari (1) trade mark yang memberikan keyakinan sepenuhnya kepada konsumen bahwa produk tersebut benar-benar akan memberikan nuansa putih kepadanya, seperti Chanel Lightening Makeup Remover, Elizabeth Arden Flawless Finish Sponge-On Makeup, dan Morning Glory - Fairness Cream ; (2) jenis warna yang memberikan keyakinan kepada konsumen bahwa warna yang ia pilih benar-benar mampu menjadikan dirinya lebih putih atau lebih bersinar, seperti Christian Dior Nail Enamel - No. 799 Gleaming Copper, Estee Lauder Pure Color Crystal Gloss - 349 Golden Nude, dan He Face Gloss #02 Polished Amber. Selain itu, produsen kosmetik kerapkali mencantumkan lebih dari satu kata yang bermakna putih atau cerah dalam trade mark produk mereka. Hal itu semata-mata dilakukan untuk mempertegas fungsi produk yang mereka luncurkan tersebut kepada konsumen bahwa produk mereka benar-benar mampu mengembalikan sinar pada wajah atau tubuh mereka, misalnya Star Smile Advanced Light Tooth Whitening System, Garnier Light Brightening Eye Roll-O, Chen Yu-Biolia Lightening & Whitening Night Cream, Pretty Glossy Luscious Lipshine, Elizabeth Arden Bronzing Shimmer Powder, Glossy And Dustless Bleaching Powder, Skin White Bleaching Cream, dan Stila Shine On Gift of Glaze Lip Gloss Set.
Data tadi juga menunjukkan bahwa merek kosmetik lebih didominasi bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Di Indonesia ada pula beberapa produsen kosmetik yang setia menamai produk mereka dalam bahasa Indonesia, misalnya Sariayu Putih Langsat Body Lotion, Sariayu Putih Langsat Pelembab / Moisturizer, Sariayu Putih Langsat Lulur Spa 2 In 1, Viva Pelembab Bengkuang, dan Purbasari Lulur Wangi Rempah.
Sebagai tambahan, akar timbulnya budaya putih yaitu paranoid, iklan produk kecantikan yang sangat bombastik, dan serangan arus globalisasi yang mengusung konsep kecantikan global juga ditunjang oleh satu faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu budaya instan sebagai dampak era globalisasi. Konsumen tidak lagi dituntut untuk melakukan perawatan dalam tempo yang cukup lama dan melelahkan karena budaya global telah menyajikan produk industri kecantikan yang sarat janji serbaekspres dan serbamudah.. konsumen yang kurang teliti akan dengan mudah terjerat ke dalam perangkap industri tanpa memikirkan akibat yang akan ia terima kelak. Bukan tidak mungkin, seandainya tidak cocok dengan produk tersebut, ia akan menerima risiko yang berat, seperti cacat permanen, alergi, keracunan, atau bahkan kematian. Menghadapi serangan budaya instan yang terusung dalam sejumlah produk kosmetik, konsumen perlu mengetahui beberapa hal berikut, di antaranya, (1) teliti dan hati-hati dan (2) percaya dan cintai diri sendiri. Tidak ada salahnya penulis mengulang kata-kata mutiara Baudrillard dalam Adlin & Kurniasih (2006:236) berikut.
“Cintai diri Anda hingga ke ujung kaki.
Penampilan mengesankan adalah
penampilan prima dari ujung rambut
hingga ujung kaki.”


3. Penutup
Budaya putih lahir dari pertemuan antara sel paranoid yang berlebihan dan cairan hasrat yang membuncah untuk meraih kecantikan global. Melalui pertolongan dokter iklan, industri (yang berperanan sebagai induk) mampu menohok benak konsumen untuk menjerat mereka agar terjerumus ke dalam dunia cantik global dan mau tidak mau menghilangkan citra kecantikan ala masyarakat tradisional. Bukan hanya iklan dan kemasan yang menarik, industri juga menohok perhatian konsumen dengan mempermainkan istilah yang bermakna “muda” atau “putih”. Dalam tulisan ini, penulis membagi istilah yang dipakai oleh industri kecantikan menjadi dua bagian, yaitu istilah yang berkaitan dengan Anti aging dan whitening. Dalam kelompok Anti Aging tersebut terdapat serangkaian istilah berikut, yaitu anti aging, anti wrinkle, anti-stretcht, regenerist, rejuvenate, revival, serum, botox, age defense, reversing, nourishing, firming, Anew, revitalift, dan anti-ageing. Sementara itu, dalam kelompok whitening terdapat brightening, lightening, light, starry, glowing, gleaming, glittering, glossy, illuminated/illuminating, golden, pearl, luminous, lustrous, polished, shimmer, sparkling, shining/shiny, vanishing, gleaming, sheer, bleaching, fairness, glaze, dan flawless.
Kosakata yang tergolong ke dalam kelompok anti aging tadi merupakan bagian dari trade mark suatu produk kosmetik. Kosakata tersebut sengaja dicantumkan dengan gamblang agar konsumen menaruh kepercayaan pada kosmetik tersebut bahwa produk kecantikan itu akan mengembalikan masa muda mereka, misalnya Lancome Absolue Teint Revitalizing Nourishing Makeup SP dan Valie Anti-Ageing System. Dari beberapa contoh yang penulis paparkan tadi dapat penulis simpulkan bahwa beragam kosakata yang menunjukkan makna putih, bersih, dan bercahaya tadi dicantumkan sebagai bagian dari (1) trade mark yang memberikan keyakinan sepenuhnya kepada konsumen bahwa produk tersebut benar-benar akan memberikan nuansa putih kepadanya, seperti Chanel Lightening Makeup Remover, Elizabeth Arden Flawless Finish Sponge-On Makeup, dan Morning Glory - Fairness Cream ; (2) jenis warna yang memberikan keyakinan kepada konsumen bahwa warna yang ia pilih benar-benar mampu menjadikan dirinya lebih putih atau lebih bersinar, seperti Christian Dior Nail Enamel - No. 799 Gleaming Copper, Estee Lauder Pure Color Crystal Gloss - 349 Golden Nude, dan He Face Gloss #02 Polished Ambe . Selain itu, produsen kosmetik kerapkali mencantumkan lebih dari satu kata yang bermakna putih atau cerah dalam trade mark produk mereka. Hal itu semata-mata dilakukan untuk mempertegas fungsi produk yang mereka luncurkan tersebut kepada konsumen bahwa produk mereka benar-benar mampu mengembalikan sinar pada wajah atau tubuh mereka, seperti Star Smile Advanced Light Tooth Whitening System, Garnier Light Brightening Eye Roll-O, Chen Yu-Biolia Lightening & Whitening Night Cream, Pretty Glossy Luscious Lipshine, Elizabeth Arden Bronzing Shimmer Powder, Glossy And Dustless Bleaching Powder, Skin White Bleaching Cream, dan Stila Shine On Gift of Glaze Lip Gloss Set. Kebanyakan merek kosmetik ditulis dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris, termasuk di Indonesia. Hanya beberapa produsen kosmetik yang menamai produk mereka dalam bahasa Indonesia.

Resti dari berbagai sumber***


Catatan: Naskah ini telah diseminarkan di PLU-6 Medan 2-3 Maret 2009

4 Mei 2009

LELAKI DI AMBANG PINTU


LELAKI DI AMBANG PINTU

Resti N.

Ya, begitulah! Seperti biasanya, lelaki itu duduk bersimpuh di ambang pintu berbentuk tangga di bagian samping rumah kami. Ambang pintu itu lebih merupakan sebuah gerbang kecil yang letaknya agak tinggi dengan beberapa anak tangga kecil khas rumah jawa pada masa lalu. Lelaki yang seringkali bersimpuh di tangga pintu itu penampilannya sangat kusam. Rambutnya panjang melewati bawah bahu dengan helaian rambut yang menyatu alias gimbal di beberapa bagiannya. Kulitnya laksana berselaput jelaga tidak merata. Entah beberapa waktu lamanya ia tidak tersentuh air mandi dan sabun. Bajunya, jangan tanya! Jelas tidak kalah kusamnya dengan warna kulitnya yang telah lama terbakar habis sang surya. Meskipun demikian, ia tidak pernah memakai baju yang compang-camping. Layaknya gembel di berbagai tempat di negeri ini, lelaki itu juga bertelanjang kaki dengan telapak yang telah menebal karena lama tercium tanah, batu, dan kerikil.
Lelaki itu setia bersimpuh setiap dua minggu sekali di ambang pintu itu. Entah sejak kapan ia lakukan hal itu. Yang jelas, aku mengingat kehadirannya sejak alat rekam di otakku mulai bekerja dengan sempurna. Namun, ada satu hal yang mengusik pikiranku adalah lelaki itu selalu menunggu ibuku. Ia dengan setia menanti kehadiran ibuku di ambang pintu. Ia baru akan pergi jika ibu sudah memberikannya bekal sebungkus nasi dan sehelai pakaian laki-laki. Ibu sering mengajaknya berbicara seolah lelaki itu teman akrabnya. Terkadang kulihat ibu meneteskan air mata menatap kepergian lelaki itu. Anehnya, jika aku mendekat, lelaki itu tampak ketakutan dan berangsur-angsur beringsut menjauh dari rumah kami. Matanya basah bersimbah air mata. Akhirnya, ibu mengatakan kepadaku bahwa aku tidak diperkenankan untuk mendekati lelaki itu. Apalah daya, aku masih terlalu kecil saat itu dan terpaksa menuruti kemauan ibuku. Si Mbok yang telah lama menjadi pengasuhku mendapatkan mandate dari ibu untuk menjauhkan diriku dari mereka. Apalah daya si Mbok yang sangat menuruti kemauan majikannya itu. Ia hanya bisa patuh terhadap perintah itu. Alhasil, aku tidak pernah diperkenankan lagi untuk mendekati mereka dan mendengarkan apa isi pembicaraan mereka. Aku hanya dapat menatap ibu dan lelaki itu dari jendela kamar yang jaraknya lumayan jauh dari ambang pintu samping.
Ribuan pertanyaan seakan menumpuk di dalam otakku. ‘Siapa lelaki itu, Ibu? Mengapa ia sering datang menemui Ibu? Mengapa Ibu seringkali menangisi kepergian lelaki itu? Mengapa lelaki itu takut kepadaku? Mengapa ia menolak kudekati? Mengapa ia segera beringsut menjauh jika melihatku? Apakah lelaki itu hanya ingin menemui Ibu? Apakah ia juga melakukan hal yang sama di rumah lain seperti yang dilakukan oleh kaum pengemis lainnya?’ Namun, pertanyaan itu seakan layu dengan sendirinya jika ibu sudah memberikan isyarat telunjuk jarinya sebagai tanda bahwa aku dilarang bertanya kepadanya tentang hal itu. Tidak ubahnya si Mbok, aku pun hanya bisa menuruti kemauan ibu. Anehnya, apa yang ibu lakukan itu selalu tanpa sepengetahuan nenek! Ya, setiap dua minggu sekali nenek pergi ke kampung untuk melihat hamparan sawah dan kebun miliknya. Waktu kunjungan ke kampung itu bertepatan dengan jadwal kedatangan lelaki itu ke rumah. Sepertinya ibu sudah mengatur jadwal kedatangan lelaki itu ke rumah! Ah, lupakan saja, tidak baik jika aku berprasangka buruk kepadanya.
Pertemuan dwimingguan itu selama ini selalu berjalan dengan lancar. Sepertinya momen seperti itu merupakan puncak kebahagiaan ibu. Wajah ibu akan berubah menjadi cerah meskipun terasa berat melepas kepergian lelaki itu. Sekali waktu mulutku yang selama ini telah tersumpal dari pertanyaan satu itu akhirnya tak taha juga. Aku yakin si Mbok pasti mengetahui hal itu. Kutanyakan hal itu pada si Mbok. Tentu saja, jawaban yang kuterima dari si Mbok adalah gelengan kepala dan bisikan kata ‘tidak!’ yang ia ucapkan dengan halus. Wanita tua yang setia mengabdi kepada keluaga nenekku itu berusaha bertahan dengan kepatuhannya pada ibuku untuk tidak membocorkan rahasia lelaki itu. Ah, si Mbok, kau hanyalah jongos ibu dan nenekku yang hanya dapat menerima perintah tanpa penolakan.
Berkali-kali aku menanyakan hal itu, si Mbok masih juga bertahan. Tanpa sepengetahuanku, si Mbok mengatakan hal itu. Ibu tampak agak cemas mendengar hal itu. Namun, ia berusaha menenangkan diri dan mengatakan pada si Mbok bahwa ia harus bungkam tentang hal itu kepadaku. Lagi-lagi si Mbok mematuhi hal itu. Jadilah pintu penasaranku terkatup rapat kembali karena keputusasaanku.
Selama ini, pertemuan rahasia itu bisa berjalan dengan rapi. Namun, ibu tidak pernah mengingat bahwa Tuhan tidak selamanya memberikan makhluknya dengan kesenangan. Tuhan juga sesekali melimpahkan makhluknya dengan kesedihan dan penderitaan. Sialnya, hari itu nenek batal pergi ke kampung. Entah mengapa ia membatalkan kepergian rutinnya itu. Biasanya, hujan, badai, dan penyakit seberat apa pun tidak pernah menjadi halangan baginya untuk melawat harta kekayaannya itu. Kali ini sangat berbeda. Nenek tampak enggan pergi. Padahal, Mbok Nah—pelayan setia nenek—telah mempersiapkan diri sejak dini hari. Sebaliknya, hari ini ibu tampak sangat cemas dan gelisah. Padahal, ia telah mempersiapkan bekal rutinnya untuk lelaki itu sejak dini hari pula. Berkali-kali ibu berjalan hilir mudik dari kamar tidur ke taman samping. Matanya sesekali menatap ambang pintu. Raut wajahnya yang tegang menyiratkan bahwa ia dilanda rasa bimbang, di satu sisi mengharap kehadiran lelaki itu sementara di sisi yang lain ia tidak mau pertemuan rutinnya itu diketahui oleh nenek. Aku enggan bertanya kepadanya dan kucurahkan perhatianku pada hamparan mainanku.
Rupanya nenek cukup jeli melihat tingkah putrinya itu. Nenek pun bertanya kepada ibu. ‘Nduk apa kamu sakit? Mengapa sikapmu sangat berbeda hari ini?’ Ibu yang dilatih sejak kecil sebagai putri penurut itu duduk di hadapan ibunya dan hanya dapat menjawab seraya berumam sambil menundukkan kepalanya. Ya, peraturan di rumah ini sangat ketat. Nenek masih menerapkan aturan ala priyayi dan kolonial di rumah ini.jangankan untuk tertawa lepas terbahak-bahak, bicara lantang pun sangat terlarang dilakukan. Huuuuhh kadang aku pun merasa sangat tersiksa dengan segudang aturan itu, tetapi sudahlah! Aku tidak mau memikirkan hal itu lebih lama lagi. Kukembalikan perhatianku pada mainanku saja.
Nenek semakin intens bertanya kepada ibuku. Tampaknya nenek merasa sangat khawatir dengan keadaan ibu yang tidak biasanya itu. Ibu hanya mampu menjawab rentetan pertanyaan nenek itu dengan jawaban, ‘tidak apa-apa!’. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara ketukan di pintu samping. Wajah ibu memucat sambil menoleh ke arah suara ketukan tadi. Nenek, yang pendengarannya masih bagus, juga mendengar suara itu. Ia menggerutu, ‘Siapa yang berani mengetuk pintu rumahku?’ Pintu samping adalah sarana komunikasi penghuni rumah ini dengan masyarakat awam atau, dengan kata lain, khusus untuk anggota masayarakat kelas bawah. Mereka dilarang nenek untuk masuk dari gerbang pintu depan rumah yang bergaya jawa klasik itu.
Mbok Nah pun dipanggil dan diperintahkan untuk membuka pintu samping. Wanita yang umurnya sebaya dengan si Mbok itu pun menuruti perintah majikannya itu. Dibukanya pintu itu dan wajahnya menyiratkan rasa terkejut yang luar biasa. Mbok Nah tidak berbicara sedikit pun dengan lelaki itu. Lelaki itu pun terkatup rapat mulutnya. Dua pasang mata itu saling menatap tak bermakna. Lama hal itu terjadi sehingga membuat nenek terusik. Ia berteriak dari dalam rumah bertanya tentang tamu yang datang itu. Mbok Nah hanya menoleh sekilas ke arah suara nenek, lalu beralih lagi pada lelaki itu. Lama kelamaan nenek habis kesabarannya. Nenek mengulangi pertanyaannya yang sama dengan nada dua tingkat lebih tinggi. Mbok Nah menoleh dengan rona bingung, tetapi mulutnya seakan terkunci. Nenek tidak sabar lagi dan segera beranjak dari kursinya. Selintas kulihat ibu semakin gelisah. Wajahnya pucat pasi. Syaraf di sekujur tubuhnya mendadak kaku. Bibirnya bergetar mengatup rapat. Mati-matian ia menahan gejolak rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Kutanya ibu. Namun, selapis tebal perekat tampak berhasil menjepit dua bibirnya yang tipi situ.
Nenek berjalan dengan tergesa menuju pintu samping. Rasa kesal yang memuncak sudah melebihi titik ubun-ubunnya. Tapi langkahnya mendadak terhenti hebat ketika melihat siapa sosok yang hadir di ambang pintu itu. Mata tajamnya menghantarkan sinyal amarah di dalam otak. Seketika rona wajahnya berubah tegang. Kulit wajahnya memerah hebat meletupkan emosi yang telah lama reda dan terkubur ke dalam relung pemakaman jiwa dalam kalbu. Kini sukma emosi itu bangkit kembali dan bereinkarnasi kembali menjadi iblis yang ganas dan menguasai ruang kendali di benak wanita tua itu. Dengan mudahnya, ia memerintahkan lidah nenek memainkan rangkaian kata-kata yang sarkastis hiperbolis. Kata-kata yang tak ubahnya menjadi hujaman tombak raja Majapahit tepat ke ulu hati lelaki itu. Mbok Nah pun tidak luput dari hujaman umpatan nenek. Ia bersimpuh dan menundukkan wajahnya. Kata-kata ‘indah’ terus menghujam lelaki itu, tetapi kedua kaki lusuhnya seakan kaku tertanam ke dalam bumi. Iblis pun kini menguasai tangan nenek. Secepat kilat diraihnya sebilah tongkat yang biasa dipakai untuk mengunci pintu itu. Diayunkannya tongkat itu ke arah lelaki yang sepertinya pernah ia kenali dulu. Melihat hal itu, ibu segera pergi berlari ke arah nenek. Dipeluknya kedua kaki ibunya dan memohon kepada wanita yang tidak pernah ia berani membantahnya untuk menghentikan hal itu. Si Mbok mengikuti ibu. Nenek tidak bergeming dan berbalik mendorong ibu dengan kayu itu hingga ia terjerembab hampir menindih tubuh si Mbok. Lelaki itu semakin terpaku. Mulutnya ternganga melihat hal itu, tetapi ia tidak mampu membuka sekat suaranya.
Ayunan kayu jati itu semakin hampir mengenai pelipis kanan lelaki itu. Beruntung, ia sempat menggelinding dan menghindari ayunan itu. Lelaki itu sempat menatap ibu lekat-lekat sebelum berlalu cepat menjaduh dan berlari entah ke mana. Ibu berteriak, “Tidddaaaaaaaaaaaaakkkkk!” Ingin ia bangkit dan berlari mengejar lelaki itu. Namun, kedua kakinya dirasakannya lumpuh layu. Ibu hanya bisa menangisi kepergian lelaki yang selalu ditunggunya itu. Nenek menghardik Mbok Nah dan memrintahkannya dengan kasar untuk mengunci pintu itu rapat-rapat, lalu ia berlalu dan mengurung diri di dalam kamar. Kedua kaki ibu benar-benar melemah. Kami harus membopongnya ke tempat tidur. Tangisannya tidak mampu kami hentikan. Ibu akhirnya pingsan lama sekali. Baru menjelang malam ia terjaga. Menangis lagi, meski kini tiada lagi bulir air mata yang dapat ia alirkan. Mulutnya hanya mampu menelan dua sendok the nasi. Hanya satu dua tetes air saja yang menggelinding ke kerongkongannya.
Ibu jatuh sakit semenjak peristiwa itu. Suhu badannya agak naik. Semangat hidupnya seakan luput dari tubuhnya seiring lenyapnya kesempatan bersua dengan lelaki itu. Ibu, siapakah lelaki itu sebenarnya, Bu. Sesekali Nenek menjenguk ibu. Namun, reaksi ibu hanyalah tatapan kosong yang sayu. Sepertinya telah terbentang jarak yang sangat jauh di antara mereka. Aku mengajak ibu ke rumah sakit. Aku merasa khawatir dengan bobot tubuhnya yang terus menyusut seiring datangnya pergantian hari. Ibu menggeleng. Dokter Suryantini, langganan keluarga kami, akhirnya tepaksa mengiyakan keinginan ibu untuk dirawat di rumah. Tampaknya ia memahami bahwa sebenarnya jiwa ibulah yang sakit bukan fisiknya. Hanya berbungkus-bungkus obat multivitamin sajalah yang diberikannya kepada ibuku.
Si Mbok dan Mbok Nah bergantian menjaga ibuku. Para pelayan setia itu selalu menungguku. Oh,ya, sejak kejadian itu, nenek jarang menegur Mbok Nah. Hanya sesekali saja nenek menyuruhnya. Tampaknya nenek masih menyimpan kekesalan tentang peristiwa itu. Ohh, nenek siapakah lelaki itu sebenarnya. Lelaki yang sempat memompa gumpalan amarah dalam dirimu. Dosa apakah yang telah ia perbuat hingga kau sanggup menghidupkan kembali putri emosi dan pangeran dendam dalam tidurnya. Jangankan bertanya kepada nenek, kepada ibu pun aku tidak pernah mendapatkan jawaban tentang itu. Si Mbok? Oh tidak. Kedua Mbok yang kukenal demikian setia mengatup rapat mulutnya jika aku bertanya-tanya.
Hari demi hari berlalu. Kondisi ibu tidak pernah berubah. Bobotnya terus menyusut. Matanya kian sembab karena seringnya ia mengundang tangisan. Tangis tanpa harapan. Ingin rasanya kucari lelaki itu agar ia dapat bertemu dengan ibuku. Tapi di mana? Sedikit pun informasi itu tidak kudapatkan. Hampir dua minggu ibu terbaring lemah di tempat tidur. Kali ini bertepatan dengan jadwal kunjungan nenek ke kampung. Anehnya, nenek tidak serta merta mengajak Mbok Nah bersamanya. Nenek hanya pergi dengan sopir setia di keluarga kami, Pak Ngadiman. Nenek hanya melihat ibu sejenak di ambang pintu kamar, lalu pergi.
Beberapa jam setelah kepergian nenek, terdengar lagi suara ketukan pintu samping. Mata ibu yang terpejam lemah sejak pagi mendadak terbuka. Senyumnya mengembang. Sepertinya ibu sudah dapat menduga siapa yang akan datang siang itu. Ia menatap Mbok Nah dan si Mbok sebagai tanda pengharapan ibu kepada keduanya untuk membukakan pintu. Kedua pelayan itu saling menatap. Keduanya tampak bimbang karena terjepit antara setia pada nenek dan iba pada ibu. kumohon kepada si Mbok untuk membukakan pintu itu. Dengan berat hati, si Mbok beranjak dan berjalan menuju pintu samping. Tentu saja karena inilah pelanggaran pertama yang mereka lakukan terhadap nenek selama rentang pengabdian yang sangat panjang yang telah mereka lakoni sejak belia. Perlahan si Mbok membuka palang pintu. Selanjutnya, ia membuka daun pintu yang terbagi dua itu.
Ternyata lelaki itu! Mbok tampak kebingungan. Anehnya kedatangannya seperti tercium dari jauh oleh ibu. mendadak ingin bangkit, meskipun sulit. Terpaksa kami membopong ibu dengan susah payah dan mendudukkannya pada sebuah balai-balai gantung besar yang terbuat dari rotan di bawah pohon sawo. Ibu menatap si Mbok. Lengannya memberi tanda agar mengajak lelaki itu mendekatinya. Mbok berkata dengan halus kepada lelaki itu agar ia menemui ibu di dalam. Semula lelaki itu tidak mau. Si Mbok mengatakan bahwa nenek tidak ada di sini dan ia tidak perlu merasa takut. Dikatakan pula oleh wanita tua itu bahwa ibu dalam keadaan sakit sejak peristiwa dua minggu silam. Berkali-kali lelaki itu diyakinkan bahwa nenek tidak ada di rumah. Akhirnya, lelaki itu beranjak dari ambang pintu. Untuk pertama kali ia melangkahkan kakinya di halaman rumah ini. Masih besar rasa ragu melingkupi sekujur tubuhnya, tampak dari sorot mata dan sikapnya. Namun, rasa sedih menyergap cepat pada dirinya tatkala ia melihat ibu terkulai lemas dibalai-balai itu. Langkahnya dipercepat dan bersimpuh di kaki ibu. Tangis lelaki itu pun pecah tanpa kata. Ibu menggenggam tangan lelaki itu dengan lemah dan memintanya duduk di sisinya. Lelaki itu menatapku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain beringsut menjauhi ibu. lelaki itu menuruti kemauan ibu, duduk di sisinya. Tanpa ragu ibu bersandar di bahu kurus lelaki itu. Lelaki itu membalasnya dengan pelukan penuh kasih. Kulihat sorot mata keduanya memancarkan indahnya kenangan masa lalu yang harus terkubur jauh ke dalam relung isi perut bumi. Lama ibu tersenyum sambil menikmati kenangan indah itu. Tiba-tiba mata ibu terpejam, bibirnya mengulas senyum indah, raut wajahnya berubah menjadi cerah, dan kepalanya terkulai lemas. Iiiibbbuuuuuuuuu! Hanya itulah yang keluar dari mulutku. Kupeluk ibu. lelaki itu memeluk dan mengelus kepala dan wajah ibu teriring rasa duka tiada tara. Tangisnya pecah lagi. Si Mbok dan Mbok Nah tak kuasa menahan haru.
Kami membopong tubuh ibu yang tak bernyawa ke atas pembaringan. Tak kusangka pertemuan ibu dengan lelaki yang sangat ditunggunya itu pertanda ajal baginya. Lelaki lusuh itu seolah tidak mau beranjak dari sisi ibu. Linangan air matanya tak henti mengalir. Aku masih dibungkam rasa heranku. Lelaki itu terpaksa beranjak ketika didengarnya suara kendaraan yang milik nenek di parker di garasi. Dengan beban duka yang sangat berat, ia pergi tergesa-gesa menuju pintu samping. Pembantu lain segera menutup dan mengunci pintu itu dengan rapi.
Aneh tak kulihat raut sedih di wajah nenek. Ia datang seperti tidak ada apa-apa. Seperti tidak ada satu kehilangan. Ada apa sebenarnya? Pertanyaan itu tak pernah terjawab.
Tiga hari setelah kematian ibu. Kubuka lemari baju antik kesayangan ibu. Kubuka salah satu laci di lemari itu dan kutemukan sebuah buku harian milik ibu bersampul merah darah berhiaskan kata diary dengan tinta emas. Lembar demi lembar halaman berhiaskan lukisan kembang setaman itulah yang membukan pintu jawaban bagiku. Ya, jawaban tentang siapa lelaki itu, siapa ibu, dan siapa nenek sebenarnya.
Satu bulan setelah kematian ibu. Tak sengaja aku berlindung dari sengatan matahari di sebuah kios penjual koran. Tak sengaja pula berputar menatap lay out koran dan majalah yang dipajang padat di dinding kios itu. Tak sengaja pula mataku tertuju pada sebuah headline satu terbitan koran hari itu lengkap dengan sebuah foto: Seorang Lelaki Tak Dikenal Tewas Tertabrak Sebuah Truk di Jalan Sukoharjo. Ya, kutatap lekat-lekat foto itu. Ya, foto lelaki itu. Lelaki di ambang pintu. *****

“KEPRIBADIAN ALINA”: MEMBELAH SISI KELAM DUNIA YANG RAPUH

“KEPRIBADIAN ALINA”: MEMBELAH SISI KELAM
DUNIA YANG RAPUH




Sumber Resensi:
Judul : “Kepribadian Alina”
Penulis : Suminaring Prasojo
Penerbit : Diva Press (Yogyakarta)
Cetakan : pertama, September 2008
Tebal : 370 halaman



Dendam akan menelusup ke relung kesadaran seorang anak akibat kekerasan yang dilakukan orang tuanya di masa kecil. Dendam membalas dan dendam kompensasi. Pada dendam membalas, anak akan melakukan tindak kekerasan yang pernah dialaminya terhadap orang lain. Sedangkan pada dendam kompensasi, anak akan bereaksi dengan sebaliknya. Ia menjadi overprotektif dan mengasihi secara berlebihan orang-orang terdekatnya. (KA:114)


Kutipan itu terdapat dalam sebuah buku yang dibaca oleh Reyssa, sahabat Alina, atas “keanehan” yang ia temukan pada sahabatnya yang kelak ingin ia miliki sebagai seorang pendamping hidupnya itu. Buku itu seakan mampu memberikan jawaban atas pengamatannya pada sosok Alina. Kutipan itu pula yang memberikan pemahaman pada sikap tokoh Alina dan Reyssa itu sendiri.
Membaca “Kepribadian Alina” dari halaman awal sampai halaman akhir seperti kita menelusuri sebuah lorong panjang gelap yang berliku, turun-naik dengan terjal, dan saling menyambung. Dengan demikian, kita akan diajak untuk melatih ketajaman naluri dalam menentukan arah cerita. Adakalanya kita salah memilih jalan yang membuat kita memutar ke kekelaman sebuah lembaran sejarah yang keji. Namun, adakalanya kita terlempar begitu pada masa depan yang terselubung kabut pekat. Lorong itu bukan hanya hadir dalam dunia cerita, tetapi kerapkali muncul dalam realita. Lorong yang tidak ubahnya seperti sebuah labirin tak berakhir itu dimiliki oleh seorang Alina dalam “Kepribadian Alina”.

Jika sebagian besar orang sangat terobsesi dengan domain putih di dalam kehidupannya dan begitu ingin disebut orang baik atau suci, mungkin Alina adalah satu pengecualian. Gadis itu lebih memilih labirin asing dengan warna kelabu. Perpaduan antara hitam dan putih. (KA:16)

Alina laksana seorang bidadari yang membungkus sebuah bom granat raksasa. Granat itu sesekali akan meledak hebat jika tekanan yang datang dari dunia di sekelilingnya sedemikian besar. Bidadari itu akan memuntahkan ledakkannya meskipun bukan untuk orang lain, tetapi karena orang lain. Jika Alina mendapatkan sandungan, tubuhnya akan mengejang hebat seperti ia sedang berhadapan dengan sebuah sosok makhluk yang sangat mengerikan. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya sebelum meledak dengan hebat. Pemandangan berikutnya adalah Alina yang mengamuk seperti seekor singa yang marah karena didatangi rivalnya. Tak ayal barang-barang di sekitarnya akan melayang hebat ke segala arah. Setelah itu, ia akan kehilangan segalanya, stamina dan kesadarannya.

Tiba-tiba sebuah buku melayang di udara, lalu menubruk vas keramik hingga terbanting ke lantai. Pecah. Buku yang lain menyusul dan menimpa monitor komputer, lantas teronggok di meja komputer. Buku-buku yang lain pun berhamburan, bertebaran ke berbagai arah dan bagian kamar. Suara robohnya rak buku terdengar kemudian. Berdebam keras, terantuk lantai. Berantai. Semua buku tak lagi berada di tempatnya semula. Sebagian halaman terkoyak, banyak yang sampulnya terlepas. (KA:34)

Begitulah Alina, seorang bidadari muda yang terbungkus selembar kertas kado eksklusif dan berhiaskan jalinan pita yang berkilauan. Performan yang indah itu mampu menyedot atensi, baik dari lawan jenis maupun sesama jenis. Ya, Alina memang cantik … sangat cantik. Kecantikan hampir sempurna yang berpadu indah dengan kecerdasan yang sangat luar biasa.
Alina terlahir sebagai putri sulung (anak kedua) dari pasangan Raharjo dan Setiawati. Alina memiliki seorang kakak laki-laki dan tiga adik perempuan. Kehidupan masa kecil Alina sangat suram. Raharjo adalah jurangan nelayan di sebuah daerah pesisir di Cilacap. Raharjo ternyata merupakan seorang lelaki pesakitan yang menanggung sejarah kelam masa lalu (hlm. 165—169). Masa lalu itu berpadu dengan tanaman fitnah yang ditancapkan sang ayah jauh ke ulu hati. Akibatnya, Raharjo sejak secil telah menaruh kebencian kepada sosok yang seharusnya ia sayangi seumur hidupnya, ibunya. Ya, ibunya memilih untuk hengkang dari kehidupan rumah tangganya dan keluarga kecilnya hanya karena sebuah penolakan atas satu hal yang paling menyakitkan dalam kehidupan wanita, poligami. Sejak itu, Raharjo memandang bahwa ibunya tidak lebih dari seorang wanita binal, yang bejat, hina-dina. Sejak saat itu, Raharjo menaruh benci pada lawan jenisnya, terkecuali kepada Setiawati—satu-satunya wanita yang bersedia untuk menikahinya.pernikahan tidak menyurutkan kebencian Raharjo pada wanita, ia meperlakukan istrinya dengan semena-mena. Selain itu, Raharjo juga berlaku sama pada anak-anaknya. Raharjo merasa kecewa karena ia hanya mendapatkan seorang anak laki-laki dalam pernikahannya. Selebihnya, ia didominasi kehadiran tiga anak perempuan. Perempuan! Sumber kebencian Raharjo.

Sejak perirtiwa itu, Raharjo tumbuh menjadi lelaki keras, sama dengan ayahnya, dan berpandangan miring terhadap perempuan. (KA:168)

Kesetiaan Setiawati tidak pernah melunturkan kebencian Raharjo. Meskipun siksaan kerapkali diterima dari suaminya, ia tetap mencintai Raharjo. Meskipun Raharjo pernah tergiur oleh godaan sahabat istrinya sendiri dan menggerus harta yang notabene milik Setiawati, tetapi wanita tabah itu bersedia menerima kembali lelaki kejam itu. Kekejaman Raharjo yang juga berlaku kepada keempat anak-anaknya juga. Akibatnya, dua anak Raharjo, Alina dan Sarah, bertekat untuk hengkang dari rumah ibarat neraka itu. Sarah pergi karena rasa kecewa yang sedemikian tinggi saat kehilangan calon suaminya, Damar. Damar batal mempersunting Sarah karena dianggap belum layak sebagai seorang suami di mata Raharjo. Sarah melarikan diri dan menikah dengan seseorang yang asing baginya. Sejak saat itu, Sarah tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya.

Tak pernah sekalipun Sarah menelepon. Sama sekali tak pernah. Hingga akhirnya, lewat email ke Alina, ia mengabarkan tentang perkawinannya dengan seorang pria yang sama sekali asing bagi keluarganya. Tak seorang pun mengetahui siapa dia. Sejak saat itu pula, Sarah memutuskan hubungan dengan keluarga besarnya. (KA:56)

Alina merupakan gadis pemberontak yang bersikeras untuk menghirup indahnya dunia seni. Seni bagi Raharjo merupakan pekerjaan tak layak bagi seorang bangsawan seperti dirinya dan keluarganya. Ia menentang keras keinginan Alina. Meskipun telah dihujani hukuman keras, tekat Alina tidak luntur sedikit pun. Dari sebuah kamar mandi usang di rumah neraka itu, Alina melayangkan surat pada sang bibi di kota seni agar ia membantu dirinya. Tangan halus dan curahan kasih sayang bibinya itulah ia mampu mengasah kepekaan dalam dirinya dan mewujudkan cita-citanya. Di sinilah ia mampu merasakan sentuhan halus dan pendidikan mental yang luar biasa. Ia seakan mendapatkan pengganti ibunya yang lebih banyak meleburkan diri dalam deritanya.

Sejak peristiwa itu, Raharjo tumbuh menjadi lelaki keras, sama dengan ayahnya, dan berpandangan miring terhadap perempuan. (KA:168)

Sepeninggal bibinya, Alina seperti serpihan kapas yang melayang tak tentu tujuannya. Alina memutuskan untuk hengkang ke metropolitan dan berkutat dengan tulisan-tulisannya yang kerap meraih kategori best-seller. Hanya dalam tulisannya itulah Alina mendapatkan tempat untuk menyampaikan segala siksaan emosi yang demikian telah membeku dalam dirinya. Meskipun demikian, Alina belum mampu menemukan obat untuk membunuh penyakit kronis yang ada dalam dirinya.
Penderitaan Alina semakin bertambah dengan ketidakberesannya dalam menjalin hubungan asmara. Sederetan nama hadir dalam kehidupannya. Namun, Alina seakan terbentur dengan tembok kekecewaan yang demikian tebal. Sejak perlakuan buruk ia terima dari ayahnya, Alina telah menghapus sedikit demi sedikit kekagumannya pada lawan jenisnya. Ia tidak dapat menerima superioritas lelaki. Ia tidak dapat menerima kelebihan lawan jenisnya yang tidak dimilikinya. Ia menganggap lelaki tidak mau mengerti dirinya dan kemauannya. Kekecewaan terbesar ia temukan pada sosok Biru—lelaki yang paling dikaguminya. Berjuta harapan telah ia gantungkan ke langit ketujuh demi menjelang kebahagiaan bersama sang pujaan. Namun, Biru seakan tidak mengerti harapan tinggi Alina dan meninggalkan bidadari yang terkapar dalam deraan depresi itu tanpa kabar berita. Kelak, pertemuan kembali dengan Biru yang sudah mapan semakin memperlebar luka lama Alina—yang sebenarnya ingin memulihkan dirinya bersama lelaki itu kembali. Kebiasaan buruk Biru yang ia saksikan sendiri telah memupuskan harapan indah miliknya yang muncul untuk kedua kalinya. Sejak saat itu, Alina berperanan sebagai seorang penguji atas kesabaran lelaki yang mau mendekatinya. Kebanyakan menemui kegagalan mutlak.
Sepeninggal Biru untuk pertama kalinya, Alina sempat berlabuh di pelukan Sapta, seorang seniman lukis yang berjuang keras untuk mewujudkan galeri impiannya. Sayang alina harus menelan kekecewaan besar karena Sapta tidak dapat memenuhi janjinya. Alina harus kehilangan Sapta untuk selama-lamanya. Nama Frans sempat hadir dalam kehidupan gadis penyendiri itu. Namun, lelaki itu dengan berat hati harus mengalah pada keinginan Alina untuk berpisah. Padahal, Frans sepenuhnya telah menaruh hati pada gadis cantik kelahiran pesisir selatan pulau Jawa itu. Alina sempat berjumpa dengan sang Captain—julukan yang ia berikan pada seorang duda cerai yang berkepribadian sangat matang. Pemahaman Captain pada Alina sangat tinggi, bahkan melebihi kepekaan Biru. Namun, entah mengapa Captain tidak berhasil menyunting Alina. Selain itu, nama Bram pun hadir sebagai lelaki terakhir dalam hidupnya. Bram seperti Captain, ia mampu memahami gejolak yang senantiasa berkecamuk dalam diri Alina.
Sebenarnya Bram dan Captain bersedia mendampingi Alina dalam suka dan duka sebagai pasangan resmi. Namun, Alina yang sudah menaruh rasa cintanya pada kedua lelaki itu tidak menginginkan mereka untuk terlibat lebih jauh ke dalam dunia kelam traumatisnya. Ia tidak ingin membiarkan mereka menyerahkan kebahagiaan sendiri demi mengobati penderitaannya. Padahal, sesungguhnya Alina membutuhkan sosok mereka—baik Captain maupun Bram—sebagai sarana terapi penyembuhan sakit batinnya itu. Sepenggal kata hati Alina untuk Bram juga mewakili harapan yang sama gadis itu, seperti yang ia tujukan juga kepada Captain.

Maafkan aku, Bram. Aku terpaksa meninggalkanmu sedemikian cepat karena aku tak ingin kau ikut tergelincir hingga hanyut dan terluka dalam buram masa laluku. Aku harus pergi untuk membuatnya jernih agar tak lagi membuatku takut bercermin. Entah apa yang akan terjadi nanti, esok, ataupun di masa datang. Apa pun itu, aku harus memutuskan pergi darimu, Bram …. (KA:329)

Alina yang sesungguhnya memerlukan perlindungan dari lawan jenisnya itu, terpaksa menekan impiannya dalam-dalam ke sebuah dasar yang tiada terukur. Demi mengamankan diri, Alina pergi melarikan diri dari kekasihnya itu. Ia kembali ke rumah bibinya di Yogyakarta, tempat ia merasa menjadi penghuni surga. Meskipun demikian, tekanan emosi yang ia bawa dari kota metropolitan sudah sedemikian tidak terukur dan tidak tertahankan. Alina menderita depresi berat dan menjadi pelanggan seorang psikiater di sebuah rumah sakit jiwa. Ternyata, obat-obatan yang diberikan bukan menjadikan Alina sembuh melainkan semakin tertekan jauh ke kedalaman yang terrendah di dasar permukaan bumi. Alina semakin menderita. Bahkan satu-satunya jalan tempat mencurahkan hatinya, menulis, tidak dapat ia lakukan. Obat-obatan antidepresan telah menutup imajinasi dan konsentrasinya. Alina tidak dapat mencurahkan isi hatinya. Ia merasa kecewa. Kebenciannya pada obat itu semakin menjadi. Obat-obatan yang harganya tidak murah itu akhirnya hanya menjadi penghuni kloset di kamar mandi rumah itu.

Di kamar, tanpa mempedulikan apa pun, secepat kilat Alina beralih ke sebuah kotak obat. Diraihnya obat-obatan antidepresan, lantas tergesa-gesa ia berlari ke toilet. Dibukanya penutup kloset dengan kasar. Tanpa berpikir panjang, Alina menumpahkan butiran-butiran obat itu, membuangnya ke lubang kloset. Tak puas dengan gelontoran air dari sistem keran di kloset, dia menyiramkan bergayung-gayung air ke lubang kloset. Rasanya begitu ingin Alina menjungkirkan seisi bak ke sana, untuk memusnahkan obat yang membelenggu jiwanya itu. (KA:339)

Selain masalah besar yang ia usung dari kamppung halamannya dan kisah cintanya yang kelabu, Alina juga memendam rasa kecewa yang luar biasa pada sebuah kehilangan yang lain. Kehilangan Rey, sahabatnya, yang selama ini cukup membuatnya mendapatkan tempat untuk curahan hatinya. Meskipun Rey menganggap kehadirannya dengan pandangan yang berbeda—Rey seorang lesbian maskulin yang menganggap Alina sebagai pasangan hidupnya yang abadi, Alina tetap menganggap Rey sebagai pelindung bagi dirinya. Meskipun yang menganggap Rey sebagai sahabat karibnya, Alina bersedia berjuang demi gadis tomboy korban perkosaan kekasihnya itu. Ketika Rey—ketua sebuah LSM yang membina PSK di kota metropolitan—mengalami kesulitan finasial karena tersandung hubungan politis dengan pihak penyantun (hingga ia tersereet ke pengadilan), Alina bersedia menyerahkan hati nuraninya demi mendapatkan dana besar yang dapat menyelesaikan masalah Rey. Sayangnya, Alina datang terlambat. Rey yang tidak mampu menahan rasa malu dan tekanan batinnya memutuskan untuk bertindak lebih cepat dari perkiraan Alina. Ia melakukan tindakan bunuh diri untuk melepaskan diri dari masalah yang melilitnya. Sekali lagi sebuah beban berat menghantam kehidupan Alina ke dalam kehancuran.
Perkawinan sejuta jalinan kekecewaan dalam novel “Kepribadian Alina” sangat memadati alur cerita. Tokoh-tokoh yang tampil dalam tidak mendapatkan ruh danau kasih sayang, terutama dari kalangan terdekatnya. Sesuai dengan salah satu sub bab yang terdapat dalam “Kepribadian Alina”, yaitu Jiwa-Jiwa yang Terpasung, seperti itulah kondisi tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Secara umum, “Kepribadian Alina” merupakan sebuah refleksi lingkungan yang isinya sarat makhluk dahaga—dahaga akan kasih sayang, dahaga akan pemahaman, dan dahaga akan penghormatan harga diri. Kini dalam kondisi yang serbaglobal dan serba instan, bukan tidak mungkin banyak bibit kehidupan yang sarat dahaga itu karena mereka telah kehilangan tokoh yang seharusnya berada di sisi mereka, ayah, ibu, saudara, atau kerabat. Berkaitan dengan kasus Alina, hal itu terjadi karena adanya salah penanganan hubungan antaranggota keluarga. Sejak awal, hubungan itu sudah rapuh dan lebih banyak dibumbui hujan kekerasan yang sangat dahsyat. Kondisi tersebut lambat laun telah memupuskan rasa hormat terhadap kedua orang tua. Lambat laun hal itu akan menanam bibit kebencian yang dapat tumbuh dengan cepat dalam waktu yang tidak terlampau lama. Kebencian yang memuncak itulah yang berperan sebagai pemicu pemberontakan radikal, seperti yang dilakukan oleh Alina dan Sarah.
Hanya saja, pemberontakan tersebut rupanya berbuntut panjang. Pemberontakan itu sempat berbuahkan kebahagiaan ketika (1) tokoh Alina bertemu dengan Biru dan Bram serta (2) tokoh Sarah bertemu dengan Doni. Namun, kebahagiaan yang seharusnya diterima mereka rupanya tidak ubahnya sebuah fatamorgana, semakin dikejar semakin menjauh. Biru ternyata tidak lebih dari seorang malaikat penjilat yang senang mengumbar janji kepada setiap makhluk terindah yang bersedia diajaknya berkencan. Padahal, pada saat yang sama, Alina telah menggantungkan sejuta harapan pada kekasihnya itu. Alina telah menghujamkan segala negative thinking yang telah dipatoknya kepada setiap lelaki. Bram sebenarnya lelaki yang baik, tetapi Alina merasa khawatir kebaikan lelaki itu akan sirna jika terseret terlampau jauh pada kekelaman dirinya. Sementara itu, Sarah sangat terobsesi dengan mendiang suaminya yang mati terbunuh tanpa terungkap kasus kematiannya itu. Sarah selalu merasa bahwa Doni itu ada dan hadir di depan mata, tetapi tatkala ia akan menjamah bayangan itu menjadi absurd dan menghilang menjejakkan duka. (Resti Nurfaidah)

GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA


GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA

Hati terhenyak pasca membaca novel ini karena telah menyelami permainan alur dan barisan kalimat lancar sejak awal sampai akhir cerita. Hati turut terhenyak dan terhempas ke dalam bantalan pasir luas berbatu kerikil tajam mengingat penderitaan seorang perempuan bernama Arini yang tergantung dan terkatung pada akhir cerita. Hati turut tercabik dan lelah seketika mengingat jalan Arini masih sangat panjang tanpa sempat terucapkan dalam cerita. Arini masih harus ber-

juang antara bertekad memperbaiki keadaan atas pengalaman yang sama yang pernah diderita seorang perempuan yang selama ini dipanggil ibu. Pengalaman yang tidak kalah dramatis yang dialami ibunya kini mendera dirinya setelah sepuluh tahun perkawinannya.
Arini? Siapa Arini sebenarnya? Ya, dialah tokoh utama dalam Istana Kedua karya Asma Nadia yang bertutur tentang pergolakkan dahsyat seorang perempuan yang berkedudukan sebagai istri dan ibu dari buah perkawinan dengan lelaki yang sangat dicintainya itu. Arini merupakan refleksi dari jutaan wanita yang mengalami badai dahsyat rumah tangganya. Arini merupakan cerminan antara nafsu dan sabar, gelegak amarah dan tabah, serta deburan ombak cemburu dan kebisuan. Arini merupakan wakil para wanita yang tidak pernah menduga bahwa tembok cinta sekokoh apa pun akan luruh karena desakan sebaris kecil akar tanaman gulma yang sekedar ingin menampakkan diri. Arini adalah seorang wanita yang tidak pernah menduga bahwa cinta terkaribnya pada suatu saat akan tercabik dan terengut dari kalbunya.
Arini dikisahkan terbiasa dengan keindahan kisah atau dongeng sebelum tidur yang senantiasa berakhir bahagia. Selama menempuh pendidikan tingginya ia pun terbiasa dengan goresan cerita yang indah. Pada saat menikah menjelang wisuda pun ia masih terseret arus keindahan dongeng yang dihadapinya. Namun, sebagai putri di dalam kisah impiannya, Arini lupa bahwa cerita perkawinan memiliki ribuan arus yang bias antara yang lurus dan yang menyimpang. Ia terhanyut ke dalam keindahan dan impian yang memabukkan hingga ketiga buah perkawinan itu hadir menjadi pelipur pasangan itu. Arini lengah bahwa daun tempat ia berlayar bersama belahan jiwanya memiliki setitik celah yang semakin lama semakin lebar. Arini tidak pernah mempersiapkan bahwa banyak pihak yang mengintai untuk mencabut ketenangan pelayaran dirinya. Arini lupa bahwa dunia dongeng pun memiliki banyak titik hitam yang dapat mengakhiri keindahan kisahnya.
Pasca perkawinannya, Arini seakan berperanan sebagai seorang putri raja yang bersanding dengan seorang pangeran idaman yang telah memenangkan pertarungan. Ia jadikan bahu sang pangeran sebagai sandaran ternyaman di dunia untuk tempatnya berlabuh dan menenangkan segala angan dan impiannya. Ia tidak menyadari bahwa pada suatu waktu, bahu sandaran itu akan aus dan pegal sehingga mau tidak mau harus mengganti posisinya. Ia tidak menyadari bahwa di luar pagar rumahnya, banyak pula bidadari lain yang iri dan menginginkan bahu yang sama yang selama ini telah diklaim Arini sebagai miliknya seumur hidup.
Akibatnya, ketika celah pagar memuai semakin lebar dan sesosok bidadari berhasil melewati celahnya, Arini benar-benar terkesiap kaget. Ketika celah dalam bahtera daun impian Tumbelina terbuka semakin lebar, Arini merasa dihujam ribuan sembilu. Ketika aura kebahagiaan terpaksa memecah belah, Arini seakan terhempaskan ke dalam dasar jurang yang mahadalam. Ketika bahu sandaran bergeser jauh ke seberang, Arini pun tidak mampu lagi menjejakkan kedua kakinya yang kini dirasakan tidak berotot dan bertulang.
Ya, Arini alpa besar bahwa Andika Prasetia bukanlah miliknya secara mutlak seumur hidupnya. Arini lupa bahwa ribuan pasang mata perempuan lain mengincar tempat yang sama di dalam kalbu sang pangeran yang ia miliki dengan hampir tanpa hambatan yang berarti itu. Arini lupa bahwa sang pangeran hanyalah titipan Illahi yang, ibarat sebuah wayang golek, dapat digerak-gerakkan sang pencipta oleh siapa saja. Arini alpa bahwa sang pangeran bukanlah hadiah eksklusif yang Allah berikan kepadanya. Arini khilaf bahwa sang pangerang hanyalah pinjaman sesaat dari sang pencipta.
Arini yang tidak siap dengan peristiwa ‘kehilangan’ besar dalam sejarah perkawinannya itu, dihadang oleh berbagai aral melintang di depan matanya. Arini tidak bisa bersikap leluasa untuk menumpahkan segala deritanya, terutama, jika ia sedang berada di depan anak-anaknya yang memiliki ‘sensitivitas’ tinggi. Terlebih, si sulung yang bernama Nadia. Ia harus rela mencuri dan menunggu waktu yang tepat untuk menumpahkan air mata dan kekesalannya yang seakan menyodok keras rongga dada dan kelopak matanya tiada ampun. Arini pun dihadang kenyataan bahwa ‘suri teladan kemesraan’ yang selama ini ditunjukkan oleh kedua orangtuanya, ternyata dibentuk atas dasar dosa pada masa lalu yang kini menimpa dirinya. Arini akhirnya berlabuh di pangkuan ibunya setelah menyaksikan sendiri kemesraan sang pangeran kepada belahan hati yang lain. Dari wanita itulah Arini akhirnya mendapat kekuatan untuk berjuang mengambil kembali keeping-keping impiannya. Titik-titik semangat pun mulai terjalin menjadi helaian benang harapan yang ia pastikan mudah ditenunkan. Namun, semangat itu kandas di tengah kebimbangan atas situasi yang ia rasakan di dalam ‘istana kedua’ suaminya.
Istana Kedua mencerminkan gugatan seorang wanita bernama Arini terhadap salah satu hukumullah. Namun, gugatan tersebut seakan tidak pernah tersampaikan seiring menggantungnya nasib Arini pada akhir cerita. Semangat juang untuk menarik kembali sang pangeran ke dalam pelukannya terhadang situasi yang sangat tidak memungkinkan saat itu. Lidah Arini pun seakan kelu untuk menjalin kata yang dianggap ‘ampuh’ untuk merekatkan kembali fragmen sang pangeran dalam kalbunya.
Putri raja kedua dalam dunia sang pangeran rupanya sudah terpaut erat hatinya kepada lelaki pujaannya itu. Ia melakukan berbagai cara agar malaikat penolongnya itu tidak pernah menjauh dari perangkapnya. Hal itu dilakukannya karena merasa mendapatkan figur yang ia dambakan yang selama ini seakan sebuah fatamorgana dalam sejarah hidupnya. Didera trauma berkali-kali oleh beberapa kaum lelaki yang telah mempermainkannya laksana sebuah boneka usang yang koyak, sang putri, Mei Rose, tidak ingin kehilangan lagi pangeran impiannya yang ia nilai ‘berbeda dan istimewa’ itu. Lidah sang putri yang diwarisi aura kesombongan itu dengan tegas menyatakan ketidakinginan dirinya untuk melepas ‘tawanannya’ dan, bahkan, dengan terang-terangan ia menyatakan isyarat perang kepada pesaingnya dalam kalimatnya sebagai berikut.

“Sementara satu-satunya hal baik yang pernah terjadi seumur hidupku hanya Pras!” (IK, 2007:242)

Dengan kalimat itulah sang putri mengunci sang pesaing. Sang putri tidak ingin melepaskan nikmatnya tetes-tetes embun cinta yang tidak kuasa lagi dibendung benteng pertahanan sang pangeran. Ia berhasil membuat sang pangeran merasa terenyuh dengan kisah garis hidupnya yang mahadrastis itu. Jeratan itulah yang berhasil membuat sang tawanan tidak berkutik dan hampir tidak mampu melihat kehadiran ‘sang penjemput’ yang sudah di ambang batas kelelahan penantian dan harapannya untuk membawa pulang pangeran impiannya itu.
Ia menampik pernyataannya dalam sebuah pesan penuh harapan yang ia kirimkan ke sembarang pos-el bahwa ia tidak menuntut sebagai pihak full-timer kepada pasangan hidup yang berminat kepadanya (hlm.12). Ya, ia hanyalah manusia biasa dengan segala kelemahan. Ketika kenikmatan telah direguknya, tentu saja ia tidak ingin melepaskan sumber kenikmatannya itu. Arini yang semula senantiasa pasrah dengan peristiwa yang dihadapinya, terutama jika di depan sang pangeran pujaannya yang bernama Pras, tidak mampu memperjuangkan semangatnya dan kembali ketitik ketidakberdayaan. Sementara itu, pangeran yang bernama Pras tidak mampu memegang janjinya sendiri untuk menahan tembok cintanya untuk Arini ketika pada saat yang sama rekan-rekan asyik mengumbar alasan untuk mendua hati. Namun, sang pangeran bukanlah makhluk yang tercipta dari besi dan baja yang mampu bertahan dari badai yang berhembus dahsyat dari kedalaman lautan. Ia tidak mampu menahan hasrat dan mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa ia telah jatuh cinta lagi kepada putri yang lain, putri yang kedua yang tidak lain berwujud ‘itik buruk rupa’ bernama Mei Rose.
Membaca Istana Kedua seakan membaca keindahan tentang ketidakberdayaan makhluk yang bernama manusia. Ketidakberdayaan manusia untuk menahan hasrat, baik hasrat bak malaikat maupun hasrat bak setan, ketidakberdayaan terhadap kenyataan hukumullah, ketidakberdayaan untuk mengalahkan angan, dan ketidakberdayaan terhadap fakta kehidupan. Ketidakberdayaan tersebut sebenarnya telah tampak pada sampul luar novel tersebut, yaitu (1) warna kelam pada tembok kokoh sebuah istana menyiratkan duka yang menggayut di tempat itu, (2) gurat reta pada tembok menyiratkan dalamnya perih luka menari di relung kalbu penderita yang tidak lain Arini—si tokoh utama, (3) jendela indah yang temboknya terbelah menggambarkan bahwa peristiwa tersebut bisa menimpa siapa saja baik dari kalangan yang telah mapan maupun tidak, serta (4) jalinan batang mawar rambat dengan duri tajam adalah simbol dari peristiwa ‘mendua’ yang menjadi penyebab ‘kesuraman’ itu. Peristiwa mendua itu merupakan suatu keindahan pada satu pihak, biasanya diarahkan kepada kaum lelaki, yang digambarkan dengan indahnya barisan bunga mawar pada batang melingkar. Sebaliknya, peristiwa tersebut menoreh kepedihan yang tiada tara dan tiada akhir pada pihak yang lain, biasa ditujukan kepada perempuan yang tidak lain adalah istri pertama. Hal itu digambarkan dengan panjangnya batang mawar yang sarat duri tajam.
Selain sarat dengan ketidakberdayaan, Istana Kedua juga sarat dengan gugatan, yaitu gugatan terhadap fakta dan hukumullah. Hal itu tersermin dalam kutipan suara hati Arini berikut.
Jika cinta bisa mencukupkan seorang perempuan hingga setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan? (IK, 2007:242)

Boleh jadi, gugatan Arini merupakan cerminan gugatan sang penulis sendiri terhadap aturan hidup mendua itu. Gugatan lain juga datang dari tokoh Pras yang menganggap bahwa hubungan intim yang dilakukan setelah ikrar pernikahan merupakan ‘suatu kesalahan’ (hlm. 238—239). Namun, kesalahan itu disikapi secara munafik karena Pras tidak mampu menahan hasratnya kepada Mei Rose, si putri kedua dalam hatinya itu. Kalau saya boleh berasumsi, pendapat Pras terhadap ‘kesalahan’ tersebut merupakan pendapat penulis sendiri yang tidak merelakan si madu mendapatkan hal yang sama dengan istri pertamanya. Apa benar hal itu merupakan ‘suatu kesalahan’ jika hubungan intim dilakukan pascaikrar pernikahan?
Novel Istana Kedua merupakan penolakan terhadap kehidupan serbamendua yang disampaikan dengan halus dalam rangkaian kalimat indah yang terangkum setebal 248 halaman. ***

Resti Nurfaidah, S.S.
Pengamat sastra

Sumber data:
Nadia, Asma. 2007. Istana Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
"Sunny" ambon@tele2.se
"Kartono Mohamad" kmjp47@indosat.net.id