1 Jun 2009

RESENSI "MURANG-MARING"



REFLEKSI PENGUASA
DALAM KUMPULAN CARITA PONDOK
“MURANG-MARING” KARYA GODI SUWARNA


Resti Nurfaidah


Abstrak:

Suwarna merupakan sastrawan Sunda yang sangat produktif dan multitalenta. Selain sebagai penyair, Suwarna juga kerapkali menulis kumpulan carita pondok (disingkat carpon, ‘cerita pendek’), esai, atau novel. Kecintaannya pada sastra Sunda tampak pada mayoritas buah karyanya yang selalu menggunakan bahasa Sunda dan mengusung elemen budaya Sunda. Dalam beberapa esainya, meskipun menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia, Suwarna selalu menggunakan istilah dalam bahasa Sunda untuk memberikan penegasan tentang gagasan yang ingin disampaikannya
kepada pembaca.
Salah satu karya Suwarna yang penulis jadikan sebagai sumber data adalah kumpulan carpon yang berjudul Murang-Maring. Kumpulan carpon tersebut terdiri atas sembilan carpon, yaitu “Kalangkang Budah”, “Stop! Stop! Stop!”, “Gonjang-Ganjing”, “Burak-Barik”, “Aswatamakurda”, “Purwadaksi”, “Murang-Maring”, “Panjang-Punjung”, dan “Gual-Guil”. Pada umumnya, isi dari kumpulan carpon tersebut adalah sindiran atas perilaku penguasa pada masa kini. Namun, refleksi penguasa tersebut dihadirkan dalam kelas bahasa menengah (cenderung kasar karena ditujukan kepada sebaya) yang mengalir lancar. Karakter yang menyampaikan isi carpon merupakan tokoh-tokoh cerita ternama dalam kisah legendaris yang ternama pula, misalnya Sangkuriang, Guruminda, beberapa tokoh Mahabarata, tokoh Ramayana, tokoh pewayangan Sunda, dan Si Kabayan. Meskipun tokoh yang dihadirkan merupakan tokoh angkatan jadul, Suwarna mampu mengawinkan mereka dengan wacana modern, misalnya kendaran UFO yang digunakan Guruminda, Cepot yang piaway mengendarai motor, atau Kabayan yang terseret arus money politic.
Dalam makalah berjudul “Refleksi Penguasa dalam Kumpulan Carita Pondok “Murang-Maring” Karya Godi Suwarna tersebut, penulis akan memaparkan refleksi satir penguasa di mata sang pengarang melalui karya-karyanya itu. Bagaimana sikap penguasa dalam memenuhi obsesinya? Apa yang ia lakukan jika ia mengalami kendala dalam pemenuhan obsesinya itu? Apakah akibat yang ia terima? Intinya, refleksi penguasa seperti apa yang terkuak dalam Murang-Maring itu?



Kata Kunci: penguasa, frustasi, angkuh, amarah, zalim, dan labil

1. Pendahuluan
Penguasa merupakan nomina yang bermakna sebagai berikut, (1) orang yg menguasai; orang yg berkuasa (untuk menyelenggarakan sesuatu, memerintah, dsb; dan (2) pemegang kekuasaan. Penguasa dapat berkiprah pada berbagai tingkatan profesi dan ranah misalnya penguasa di dunia atau wilayah tertentu. Kedudukan sebagai seorang penguasa bukan tidak mungkin kerapkali menimbulkan kesan seperti dua sisi mata uang, kesan negatif dan positif. Kata preman selalu mengundang makna konotasi yang buruk dalam benak kita. Kosmetik dan desainer kerapkali mengundang makna positif karena senantiasa menghadirkan kesan indah dalam benak kita. Kosmetik merupakan penguasa yang tidak terbantahkan dalam industri kecantikan. Desainer merupakan penguasa dunia fesyen karena dapat menentukan sebuah tren busana dalam kurun periode tertentu.
Kiprah penguasa senantiasa mengundang reaksi pro dan kontra, terutama dari masyarakat. Hal tampak dalam sikap masyarakat terhadap peristiwa pesta demokrasi yang baru saja dilaksanakan di negeri ini. Ada beberapa kelompok masyarakat yang peduli dengan profil penguasa yang ditawarkan dalam lembar kartu suara, ada yang bersikap biasa-biasa saja, dan ada pula yang bersikap antipati. Banyaknya isu yang berkembang di masyarakat tentang latar dan kiprah sang penguasa, mengundang polemic bahkan konflik di antara mereka. Bukan tidak mungkin terjadi bentrokan yang mengundang datangnya barisan korban, baik korban luka-luka maupun korban jiwa. Kisruh dalam kehidupan sang penguasa akan senantiasa menghantui setiap langkahnya.
Kiprah dan sepak terjang sang penguasa senantiasa mengundang reaksi dalam setiap lapisan masyarakat, termasuk para sastrawan. Sastra sebagai titik cerminan kehidupan masyarakat juga tidak membuang kesempatan untuk menunjukkan profil sang penguasa ke tengah masyarakat melalui karya sastra. Reaksi masyarakat juga terangkum dalam buah karya para sastrawan, seperti kumpulan puisi yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia karya Taufik Ismail atau, yang lain, beberapa novel/cerpen yang mencerminkan profil sang penguasa.
Bukan hanya dalam sastra modern,. profil tentang penguasa dalam sastra sesungguhnya telah lama diungkapkan dalam beberapa karya sastra kuno, seperti Mahabarata, Ramayana, Roman Pangeran Kornel, dan Mantri Jero (Salahudin, 2009:27). Dua karya sastra terakhir merupakan karya sastra kuno yang ditulis sekitar abad ke-18—19. Salahudin menyatakan bahwa terdapat 13 karakter ideal yang wajib dimiliki oleh sang penguasa jika ingin berhasil dalam memegang tampuk kekuasaannya. Ketigabelas karakter tersebut adalah
(1) teu ningkah (tidak bertingkah),
(2) teu adigung kamagungan (tidak pongah dan memperlihatkan sikap tinggi hati kepada orang lain),
(3) paya ku katugenahan (tidak mudah bersedih),
(4) pinuh ku karumasaan (penuh oleh rasa kekurangan pada diri sendiri),
(5) teu paya diagreng-agreng (tidak suka dimeriahkan dengan kemegahan),
(6) nyaah kanu masakat (mencintai yang melarat),
(7) agung maklum sarta adil (arif dan adil),
(8) landung kandungan laer aisan (memiliki perspektif yang luas),
(9) lemes basana hade lentongna (halus bahasanya, bagus tutur katanya),
(10) peta basajan (hidup sederhana),
(11) bersih manah (hatinya bening),
(12) sinatria (bersikap seperti seorang ksatria), dan
(13) pinandita (taat beribadah).
Dalam sumber yang sama, Salahudin menyampaikan bahwa sosok Pangeran Kornel dalam roman berjudul sama dan Pangeran Yogaswara dalam roman Mantri Jero merupakan tipe penguasa yang ideal karena senantiasa mengeluarkan kebijakan yang berkiblat pada kepentingan rakyat. Namun, selain mengungkapkan rangkaian karakter ideal sang penguasa, Salahudin juga menyampaikan beberapa hal yang dapat meruntuhkan tampuk kekuasaan sang penguasa sebagai berikut, yaitu
(1) lampah sasar (sesat),
(2) miceuceub (saling membenci),
(3) sirik pidik (iri hati),
(4) mitnah (menyebarkan fitnah),
(5) nuasih di pulang sengit (air susu di balas air tuba),
(6) nyiduh ka langit (pongah),
(7) malar kauntungan jeung kaagungan (selalu bekerja atas nama pamrih dan hanya mengejar popularitas),
(8) ngangsongan kana kaawonan (berkolusi untuk melakukan kejahatan), dan
(9) ati mungkir beungeut nyagharareup (mengembangkan sikap hipokrit).
Dalam tulisan ini, penulis mengangkat salah satu karya modern karya sastrawan berdarah Sunda, Godi Suwarna yang berjudul “Murang-Maring”. “Murang-Maring” merupakan sebuah kumpulan cerpen (Sunda: carpon) yang mengangkat isu tentang profil penguasa. Konsep penguasa dalam kumpulan carpon “Murang-Maring” tersebut sangat beragam. Penguasa dikabarkan sangat labil, haus harta, tidak adil, dan lemah. Keburukan sang penguasa juga digambarkan berbuntut panjang pada sikap masyarakat. Masyarakat dalam kumplan capron itu digambarkan sangat apatis, anarkis, dan tidak stabil. Profil penguasa digambarkan melalui serangkaian tokoh legendaris yang hadir dalam rangkaian carpon tersebut.

2. Ringkasan Cerita
Sebelum memahami profil penguasa dalam kumpulan carpon tersebut, penulis memberikan sepenggal ringkasan rangkaian carpon tersebut. Berikut merupakan ringkasan cerita pada kumpulan carpon dalam Murang-Maring.

2.1 “Kalangkang Budah”
Carpon tersebut menceritakan kondisi Sangkuriang pada puncak kemarahannya setelah kehilangan Dayang Sumbi, ibu sekaligus wanita yang sangat dicintainya (sebagai kekasih). Kemarahannya itu semakin memuncak ketika seisi jagat raya mengejek dan menertawakan dirinya. Dalam kondisi tersebut, Sangkuriang bertemu dengan sosok yang mengalami hal yang sama (mencintai ibu sendiri) yang berasal dari legenda mitologi Yunani, yaitu Oidipus. Perbedaannya, Sangkuriang tidak sempat mengawini ibunya sementara Oidipus sempat mengawini ibunya dan mempunyai empat orang anak. Perkawinan menyimpang itu rupanya mengundang bencana berkepanjangan sehingga menimbulkan frustasi yang hebat dalam diri Oidipus. Oidipus berlabuh di pantai tempat Sangkuriang menumpahkan segala kekesalannya pada dewa dan seisi bumi dan langit. Sangkuriang sempat merasa heran dengan tamu tak diundang yang ciri-ciri fisiknya digambarkan penulis sangat mirip dengannya. Pertemuan itu membuahkan dialog panjang di antara keduanya. Dialog itu ditanggapi Sangkuriang dengan pertentangan batin yang berkepanjangan hingga ia kehilangan jejak Oidipus yang telah hengkang dari tempat itu.

2.2 “Stop! Stop! Stop!”
Carpon tersebut mengisahkan puncak kekecewaan seorang polisi gaek, penjaga satu-satunya perempatan di sebuah kota. Kondisi materi yang tidak seimbang dengan pengabdian selama puluhan tahun yang telah ia jalani berujung pada tekadnya untuk mengajukan pensiun paksa kepada Bupati. Bupati yang merasa kecewa dengan keputusan polisi itu akhirnya menderita shock yang sangat parah. Derita yang melanda Bupati tersebut belakangan mengundang kericuhan massal penduduk wilayah itu.

2.3 “Gonjang-Ganjing”
Carpon tersebut mengisahkan kehadiran kembali tokoh cerita legendaris Jawa Barat, yaitu Lutung Kasarung (Lutung yang Tersesat), Guruminda di dunia modern. Guruminda hadir dalam cerita sebagai utusan para dewa atau Tuhan untuk membimbing keturunannya ke jalan yang lurus. Namun, ia harus menelan rasa kecewa yang sangat dalam karena reaksi yang ia terima dari keturunannya itu jauh di luar perkiraannya. Penduduk kota berbalik memburunya dan melakukan tindakan anarkis kepadanya. Dialog yang ia lakukan menemui kegagalan hingga akhirnya Guruminda memutuskan untuk hengkang dari tempat itu dan kembali ke tempatnya semula, kahyangan.

2.4 “Burak-Barik”

Carpon tersebut menceritakan tentang perseteruan tiga penguasa jagad yang dalam agama Hindu dikenal dengan sebutan Trimurti, Batara Brahma, Batara Wisnu, dan Batara Siwa. Batara Brahma merupakan pencipta alam semesta, Batara Wisnu merupakan pemelihara alam semesta, sedangkan Batara Siwa merupakan pelebur alam semesta. Ketiga penguasa tersebut memiliki opini masing-masing yang menimbulkan konflik berkepanjangan.

2.5 “Aswatamakurda”
Carpon tersebut mengisahkan sekelumit petikan akhir hidup Aswatama, salah satu tokoh dalam pewayangan, dengan latar belakang kisah Mahabarata. Aswatama sebagai anak kandung Dorna, guru perang para Pandawa dan Kurawa, harus menemui ajal dengan cara yang sangat tragis akibat kegagalannya ambisinya untuk memusnahkan Pandawa dan keluarganya.
2.6 “Purwadaksi”
Carpon tersebut mengisahkan tentang kepercayaan yang kuat di kalangan masyarakat Sunda, dalam cerita diwakili oleh tokoh Ki Lurah dan Olot Karis sang juru pantun, terhadap legenda Prabu Siliwangi dan Lodaya (macan jelmaan Prabu Siliwangi). Kepercayaaan magis tidak dapat dijauhkan dari kehidupan masyarakat Sunda yang tergambarkan dalam perubahan wujud tokoh tersebut.
2.7 “Murang-Maring”
Carpon tersebut mengisahkan parodi kedudukan DPR dalam masyarakat. Petinggi DPR dan tokoh masyarakat lain yang ditampilkan dalam cerita dalam wujud keluarga Punakawan ala pewayangan Sunda, Semar dan Cepot.
2.8 “Panjang-Punjung”
Carpon tersebut mengisahkan pertarungan antara Sang Bargawa dan Sri Rama. Sang Bargawa dikisahkan sebagai satria yang tidak terkalahkan. Pertarungan dengan Sri Rama tersebut berujung pada kemenangan telak Sang Bargawa.


2.9 “Gual-Guil”
Carpon tersebut mengisahkan tentang parodi Si Kabayan. Tokoh kocak legendaris dalam budaya Sunda itu digambarkan sebagai penguasa yang lalim dan haus harta. Berbagai cara ia gunakan untuk ‘menggemukkan diri’. Ambisi tersebut harus ia tebus dengan cara yang sangat mahal, kematian.

3. Refleksi Penguasa dalam Kumpulan Carpon “Murang-Maring” Karya Godi Suwarna
Penguasa dalam kumpulan carpon “Murang-Maring” tersebut digambarkan sebagai berikut, (1) penguasa frutasi, (2) penguasa haus harta, dan (3) penguasa angkuh.

3.1 Penguasa Frustasi
Sikap penguasa yang mudah frustasi di antaranya digambarkan dalam carpon berikut, yaitu “Kalangkang Budah” , “Stop! Stop! Stop!”, “Gonjang-Ganjing”, dan “Murang-Maring”.
Carpon “Kalangkang Budah” diawali dengan kondisi emosi Sangkuriang yang berada di puncak kemarahan dan keteganggan. Hal itu terjadi ketika Sangkuriang menemui kegagalan memenuhi kehendak ibu sekaligus kekasih yang sangat dicintainya sebagai syarat untuk mengawininya. Cinta buta Sangkuriang tidak mampu melihat kenyataan bahwa wanita yang diburunya sepenuh hati itu adalah ibu kandungnya sendiri, Dayang Sumbi. Cinta buta tersebut juga menyeret Sangkuriang pada sebuah kegagalan. Ia tidak berhasil menyelesaikan perahu dan bendungan sungai Citarum dalam semalam karena doa Dayang Sumbi dan kehendak para dewa. Memuncaklah amarah Sangkuriang. Ia tidak rela melepaskan Dayang Sumbi. Para dewa menyelamatkan ibu yang malang itu dan menyembunyikannya di suatu tempat. Sangkuriang mengejar sampai ke tepian pantai. Kemarahannya semakin memuncak karena seisi langit dan bumi menertawakan dan mengejek perilakunya itu.

Kadéngé sora nu saleuseurian tukangeun langit bangun nu mupuas. Manéhna ngedégdég nahan amarah nu méh mudal teu katadah. (MM, 2004:11)
Terdengar suara tawa dibalik cakrawala yang bernada mengejek. Ia (Sangkuriang) hampir tak sanggup menahan amarah yang bergolak.

Amarah Sangkuriang semakin memuncak ketika ia melihat sikap para dewa yang justru melenyapkan Dayang Sumbi. Sangkuriang menghamburan segenap umpatan kasar kepada para dewa penghuni cakrawala. Laut mendukung tindakan para dewa dan membawa hanyut Sangkuriang. Lelaki pemarah itu berjuang keras melawan ombak hingga akhirnya ia bias mencapai garis pantai. Namun, di pantai itu, ia melihat sebuah perahu besar berlabuh. Seseorang turun dari perahu. Ternyata Sangkuriang terpana melihat tamu yang mendatanginya. Ciri fisik yang hampir sama seluruhnya membuatnya terheran-heran.
Tamu itu rupanya Oidipus, yang dalam mitologi Yunani merupakan cikal bakal peristiwa perkawinan inses dengan ibu kandung di dunia. Pertemuannya dengan Oidipus menimbulkan pertentangan yang hebat dalam hatinya. Sangkuriang seperti berhadapan dengan sebuah cermin. Perbedaannya, Sangkuriang tidak berhasil menikahi Dayang sumbi sementara Oidipus berhasil mengawini Jocasta, ibunya sendiri, dan dikaruniai empat orang anak. Oidipus mengatakan bahwa kondisi Sangkuriang lebih beruntung daripada dirinya. Oidipus mengalami bencana berkepanjangan pascapernikahannya yang tidak lazim itu. Oidipus dilanda kecewa dan memutuskan untuk meninggalkan negerinya dan mencari sebuah tempat perenungan untuk menyalurkan frustasinya itu. Sementara itu, Sangkuriang tidak mampu menerima kenyataan status dirinya yang lebih baik itu. Kekecewaannya terhadap Dayang Sumbi dan para dewa tidak mampu membuka mata hatinya agar ia dapat berpikir jernih. Pertentangan batin Sangkuriang tergambarkan sebagai berikut.

Oidipus anak raja! Aing anak anjing! Anak raja jadi raja! Anak sato jadi sato! Tapi naha bener kitu? Naha aing moal bisa hanjat tina leutak rurujit? Mun cocoba datang ti déwa, naha jalan kaluarna ogé datang ti déwa deuih? Naha …?
Rupa-rupa pasualan bulat-beulit dina uteukna. Antara narima jeung nolak. Antara keukeuh jeung léah. Jeung antara séjénna pulang anting ngeusian haténa. (MM, 2004: 20)
Oidipus anak! Aku anak anjing! Anak raja jadi anak raja! Anak hewan tetap anak hewan! Namun, benarkah itu? Apakah aku bisa bangkit dari kubangan Lumpur ini? Jika ujian datang dari dewa, mengapa jalan keluar permasalahan juga datang dari dewa? Mengapa demikian …?
Rupanya berbagai persoalan berkecamuk di dalam kalbunya. Antara keinginan untuk menerima dan menolak. Antara bertahan dan menyerah, serta berbagai hal lain yang wara-wiri di dalam hatinya.

Sangkuriang ingin mengobati rasa kecewa dengan bertukar pikiran kepada Oidipus. Sayang keesokan harinya, Sangkuriang tidak mendapati lagi tamu agungnya itu. Frustasi yang belum terobati akibat kehilangan “kekasihnya” itu kini semakin bertambah dengan kehilangan teman senasibnya. Frustasi yang berujung amarah itu membulatkan tekat untuk mencari Oidipus meski harus berenang ke tengah lautan.
Penguasa frustasi juga tergambarkan dalam carpon “Stop! Stop! Stop!” . Carpon tersebut menghadirkan seorang peolisi gaek penguasa sebuah perempatan jalan di salah satu kabupaten. Meskipun telah mengabdi selama puluhan tahun, polisi itu tidak mampu menikmati pekerjaannya. Ia merasa frustasi dengan profesi yang dijalaninya hanya karena upah yang diterimanya sangat minim. Hal itu juga ditambah dengan perilaku para pemakai jalan yang tidak menghormati polisi. Akibatnya polisi tua itu menderita beragam penyakit yang disebabkan terlalu sering menyimpan kesal, seperti dalam kutipan berikut.

“Teu rék keuheul kumaha, atuda Bupati! Beuki palinter téh jelema lain beuki ngarti kana palaturan. Méh kabéh beuki maceuh ngarempak aturan lalu lintas. Hareupeun irung aki karituna téh. Aki téh dianggap arca ku saréréa, nyeri …,” cék pulisi dipungkas ku ceurik ngagukguk (MM, 2004:24)
“Pak Bupati! Bagaimana tidak kesal? Semakin pintar manusia tidak berarti semakin memahami aturan. Kebanyakan semakin menunjukkan pelanggaran terhadap aturan lalu lintas. Hal itu kerapkali ditunjukkan di depan mata saya. Saya dianggap sebagai sebuah arca oleh semua orang. Sakit hati saya …,” ujar polisi itu sambil menangis sesenggukan.

Puncak kekesalan polisi tua berujung pada tekadnya untuk mengundurkan diri secara paksa dari profesinya itu. Bupati terpaksa turun tangan dan berusaha menahan keinginan polisi tua itu. Namun, upayanya tidak berhasil. Polisi tua itu bersikukuh dengan keinginannya, bahkan menyerahkan segala atributnya ke tangan sang bupati.
Bupati sebagai penguasa di wilayah itu kini dilanda kerepotan. Ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu menangani masalah lalu lintas tersebut di tengah-tengah tumpukkan pekerjaannya. Kesadarannya itu berujung frustasi. Penyakit jantungnya kambuh. Rakyat tidak mampu berbuat apa-apa. Patih selaku ajudan juga tidak dapat menggantikan tugas polisi gaek yang frustasi itu. Penawarannya yang ia ajukan kepada rakyat kabupaten tidak mendapat tanggapan. Hanya satu orang yang menerima tawaran itu. Orang yang tuli itu rupanya tidak mampu menangani masalah lalu-lintas. Kecelakaan senantiasa terjadi setiap hari. Bupati yang tidak mau ambil pusing mendatangkan lampu stopan impor dari luar negeri. Namun, masalah baru muncul. Lampu itu tidak dapat bekerja dengan sempurna. Kemacetan dan amarah para pengendara meningkat hingga akhirnya terjadi baku hantam di segenap wilayah kabupaten itu, termasuk antara Patih dan Bupati yang saling tuding.
Penguasa yang mudah kecewa juga ditunjukkan oleh tokoh Guruminda, tokoh dalam legenda Lutung Kasarung, dalam carpon “Gonjang-Ganjing” . Carpon tersebut menceritakan turunnya Guruminda, seorang pangeran tampan yang mendapat kutukan dari ibu kandungnya dan berubah menjadi seekor lutung, ke muka bumi. Tempat yang ia tuju di muka bumi tersebut tidak lain adalah tempat yang pernah ia tinggali selama masa “kasarung”. Selain itu, Guruminda juga ingin melihat keadaan anak-keturunannya saat ini.
Kehadirannya mendatangkan kesan di luar perkiraan Guruminda sebelumnya. Hutan tempat ia kesasar telah berubah menjadi kota. Akibatnya, gaya hidup keturunan Guruminda pun berubah sangat drastis. Keturunannya bukan manusia yang ramah. Tiada manusia yang mengenali nenek moyangnya, kecuali si jurupantun. Hanya jurupantun yang mengenal sejarah nenek moyang manusia.
Guruminda nyaris kehilangan nyawa karena serangan penduduk kota itu. Beruntung ia disusul oleh seseorang yang berjubah putih (gambaran malaikat atau orang bijak) dalam menghadapi kebrutalan penduduk di kota itu. Mereka tidak mampu menerima maksud kedatangan nenek moyang mereka, Guruminda, di tengah-tengah kehidupan modern yang mereka jalani. Padahal, Guruminda telah berusaha meyakinkan masyarakat dengan kata-katanya sebagai berikut.

“Ngahaja kula téh turun ti jabaning langit hayang ngalongok leuweung tempat baheula kula kasarung, bari sakalian haying jonghok jeung turunan. Kula teu nyangka, leuweung gerotan téh horéng geus robah jadi kota geledegan. Ngan hanjakal anak-incu nu ku kula dipisono bet téga rék ménta nyawa!” cék Guruminda. (MM, 2004:36)
“Sengaja aku turun dari langit untuk melihat hutan tempat dulu aku tersesat. Sekalian aku ingin bertemu langsung dengan keturunanku. Aku tidak pernah menduga bahwa hutan belantara itu kini telah berubah menjadi sebuah kota besar. Sayangnya, anak-cucuku yang sangat kurindukan itu tega hendak mencabut nyawaku!” ujar Guruminda.

Namun, kata-kata Guruminda seperti dianggap angin lalu saja. Dukungan si Jurupantun dan manusia berjubah itu juga tidak mampu membuat penduduk kota bergeming. Mereka berusaha untuk terus memburu Guruminda dan manusia berjubah. Guruminda menaruh rasa kecewa yang sangat dalam. Bersama manusia berjubah yang mengendarai sebuah piring terbang, dengan sedih Guruminda meninggalkan penduduk kota yang sudah tidak bermoral itu.
Carpon “Murang-Maring” mengisahkan tentang frustasi para penguasa. Tokoh keluarga Pandawa dan Punakawan digambarkan mengalami lemah fisik dan mental karena sikap penduduk di wilayah kekuasaan mereka yang tidak peduli. Mereka tidak peduli jika selama ini para penguasa telah bekerja keras demi rakyat, sementara rakyat sendiri tampak berleha-leha dan tidak pernah ambil pusing dengan kehidupan para penguasa itu. Kerja keras para penguasa tampak pada latar kemakmuran rakyat di wilayah itu. Rakyat baru dapat membuka mata setelah melihat derita para penguasa. Perubahan sikap rakyat di wilayah itu disikapi para penguasa dengan sikap yang anarkis dan tidak terpuji. Mereka berbalik mengajak rakyat untuk menghancurkan kembali lambang-lambang kehancuran di wilayah itu.

Gur-ger nagara dihuru. Seuneu ngelétakan langit. Gumuruh sora nu bungah, sakabéh pangeusi nagri, gegedén katut rahayat. Ukur Semar nu ngaheruk, neuteup bandéra Amarta. Sagala tanya, sagala rasa pagaliwota na dada Semar. (MM, 2004:86)
Gemuruh bunyi api membakar negeri. Jilatan api mencapai langit. Gemuruh suara seluruh penduduk penghuni negeri itu yang bergembira ria, termasuk para penguasa dan rakyat. Hanya Semar saja yang termenung, menatap sedih bendera Amarta. Segala tanya dan perasaan berkecamuk tiada henti di dalam dadanya.


3.2 Penguasa Haus Harta
Profil penguasa haus harta terdapat dalam carpon “Gual-Guil”. Carpon tersebut mengisahkan parodi kehidupan Si Kabayan, tokoh kocak legendaris dalam budaya Sunda. Dalam cerita tersebut Si Kabayan digambarkan bertubuh sangat kurus cenderung membungkuk. Karena tubuhnya yang berbentuk seperti itu, Si Kabayan dijuluki Si Regang, yang berarti sebilah rotan tipis melengkung yang ditarik agar menjadi lurus. Rupanya Si Kabayan beranimo untuk menambah berat badannya dengan cara yang cepat.
Cara yang ia gunakan untuk menambah bobot tubuhnya terbilang aneh. Pertama, ia melakukan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme untuk mengalahkan rekan sekampungnya, Si Lamsijan dalam pesta demokrasi pemilihan Kuwu (Lurah).Si Lamsijan juga merupakan tokoh legendaris kocak dalam budaya Sunda. Masyarakat yang mengetahui hasil pemilihan yang dilakukan secara langsung itu merasa heran ketika akhirnya Si Kabayan dinyatakan keluar sebagai pemenang. Mereka mengetahui bahwa dalam pemilihan langsung tersebut, yang mendapatkan lidi terbanyak adalah Si Lamsijan.
Kemenangan yang diperoleh si Kabayan berbuntut panjang. Ia semakin mudah mengumpulkan keping demi keping uang yang ia gunakan untuk menambah bobot tubuhnya. Pertama ia melibatkan diri dalam kolusi beberapa proyek pembangunan di wilayah kekuasaannya, di antaranya, pengurangan ketebalan aspal, pembangunan taman-taman desa ala urban, dan pembangunan masjid. Ketiga proyek ranum tersebut mempercepat tercapainya cita-cita Si Kabayan. Bobot tubuh Si Kabayan dalam waktu singkat bertambah. Rupanya, keuntungan dari proyek itu ia tentukan dalam jumlah kepingan dan lembaran uang yang ia telan seluruhnya dan menjadi penghuni kantung perutnya. Bobotnya semakin melonjak sehingga ia harus mendobrak dan melebarkan ambang pintu rumahnya dan mengganti ranjang setiap hari. Melihat kondisi Si Kabayan yang sangat parah, Camat, Wadana, dan Bupati sepakat untuk memberikan piagam penghargaan kepada lelaki aneh itu. Tepatnya, sebelum kematian menjemput Si Kabayan.
Upacara pemberian penghargaan dilakukan di alun-alun. Si Kabayan diusung dengan tandu. Tubuh Si Kabayan ibarat sebuah bola beliter raksasa yang tiba-tiba menggelinjang hebat di atas panggung. Tubuh bulatnya itu menabrak ketiga rekannya (Camat, Wadana, dan Bupati) yang juga bertubuh superbulat, karena terlibat KKN dengan Si Kabayan. Keempat tubuh laksana bola raksasa itu berangsur terbang ke arah langit biru di atas alun-alun. Tanpa di duga tepat di ketinggian, keempat bola manusia itu tiba-tiba meledak hebat. Tubuh Si Kabayan, Camat, Wadana, dan Bupati hancur luluh-lantak dan mengeluarkan asap tebal serta kepingan uang yang menjadi biang kericuhan massal rakyat di tempat itu. Detik-detik ledakan keempat tubuh penguasa haus harta itu terungkap dalam kutipan berikut.

Balaréa taranggah. Geleger! Opat beliter buta baritu méh bareng. Alun-alun eundeur. Haseup mulek. Balaréa ngayekyek. Sanggeus haseup nyingray, duit tingkalayang ti awang-awang. Ti mimiti duit récéh nepi ka duit rébuan maruragan ka alun-alun.
[…]
Rahayat giak mulungan duit nu mancawurea tina beuteung opat gegedén téa. Rahayat beuki tarik tinggorowok. Kolot-budak, awéwé-lalaki, maraceuh parebut duit. Saréréa silih séréd, silih, dupak, silih tongtak, silih tonjok, silih jenggut, silih rewég, silih cekék, silih kadék, silih …. (MM, 2004:104)
Orang-orang menengadah. Duarrrr! Empat bola bliter raksasa meledak bersamaan. Asap menggumpal. Rakyat padat berkumpul. Setelah asap mulai menghilang, hujan uang tampak turun dari langit, baik berupa uang logam maupun lembaran ribuan.
[…]
Rakyat giat memungut uang yang berasal dari perut empat orang pejabat tadi. Rakyat saling berteriak. Tua-muda, pria-wanita saling berebut uang. Mereka saling dorong, saling tabrak, saling pukul, saling tonjok, saling jambak, saling baku hantam, saling cekik, saling menyiku, saling ….
Si Kabayan harus menebus segala daya cara yang ia lakukan untuk memenuhi ambisiny, menambah berat badan, harus ia tebus dengan harga yang sangat mahal—kehilangan nyawanya.

3.3 Penguasa Angkuh
Keangkuhan sang penguasa tampak tergambar dalam beberapa carpon berikut, yaitu “Burak-Barik”, “Aswatamakurda”, “Purwadaksi”, dan “ Panjang-Punjung”.
Carpon “Burak-Barik” mengisahkan perseteruan antara tiga dewa utama dalam agama Hindu yang dikenal dengan sebutan Trimurti. Tiga dewa yang tergabung dalam Trimurti, dalam pewayangan Sunda dikenal dengan sebutan Batara, adalah Batara Brahma, Batara Wisnu, dan Batara Siwa. Ketiga penguasa jagat itu memiliki tugas sendiri, yaitu Batara Brahma bertindak sebagai pencipta jagat, Batara Wisnu sebagai pemelihara jagat, dan Batara Siwa sebagai penghancur jagat.
Carpon tersebut menyampaikan seolah-olah kurang matangnya pembagian tugas ketiga Batara itu. Kehidupan manusia yang digambarkan dalam latar berkecamuknya perang akbar di Kurusétra, tepatnya pada peristiwa kematian Abimanyu. Sebelum kematian anak Arjuna tersebut telah banyak tokoh lain yang mengalami kematian. Batara Siwa sebagai pelebur jagat merasa senang jika banyak tokoh-tokoh yang mengalami kematian. Namun, Batara Wisnu mengalami hal sebaliknya. Sebagai pemelihara jagat raya, ia memiliki rasa iba yang cukup tinggi. Kematian demi kematian tokoh-tokoh ke dalam kotak ajal semakin menusuk perih dalam kantung belas kasihnya. Ia tidak menyukai sikap Batara Siwa yang bergembira di atas penderitaan orang lain. Batara Wisnu mengajukan gugatan kepada Batara Siwa. Batara Siwa tentu saja merasa sangat tersinggung. Ia menyampaikan apa yang ia lakukan adalah sesuai dengan perjanjian Trimurti sebelumnya. Dalam cerita, batara yang bertugas sebagai pelebur jagat itu menyampaikan hal tersebut dengan nada tinggi dan bahasa yang kasar. Wisnu tidak mampu mengelak dari kenyataan yang telah ia sepakati bersama itu, seperti yang terungkap dalam kutipan berikut ini.

Batara Wisnu ngahuléng. Enya! Manéhna gé lain teu inget kana pasini nu geus dipaheutkeun ti saméméh jagat katut pengeusi digelarkeun. Manéhna jeung dua batara séjén pada-pada ngabogaan garapeun séwang-séwangan. Tapi manéhna teu nyangka sacongo buuk bakal kieu balukarna. Najan jagat tacan bujrad pisan, manéhna teu wéléh bingung mikiran nasib sakabéh pangeusina. Komo mun seug jagat geus cunduk kana titis tulisna, burak-barik. Mana teuing … (MM, 2004:48—49)
Batara Wisnu termenung. Benar! Ia bukan tidak ingat pada janji yang telah terucap sebelum penciptaan jagat raya beserta seluruh isinya. Mereka bertiga, Trimurti, telah memiliki tugas masing-masing. Namun, ia tidak pernah menduga jika akibatnya akan seperti ini. Meskipun jagat raya belum hancur seluruhnya, tetapi ia merasa bingung memikirkan nasib seluruh penghuni jagat itu. Ia tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika jagat ini telah sampai pada titik penghabisannya ….

Kehadiran Batara Brahma dalam cerita tersebut semakin menambah runyam perseteruan di antara kedua rekannya itu. Perkelahian sengit bukan hanya terjadi di antara tokoh-tokoh yang terlibat dalam peperangan, melainkan di antara ketiga Batara itu.
Carpon “Aswatamakurda” mengisahkan latar akhir hidup Aswatama. Aswatama merupakan anak tunggal Dorna, guru perang keluarga Kurawa dan Pandawa. Kecenderungan ayah dan anak itu untuk memilih pihak Kurawa menuai bencana bagi Aswatama. Ia kehilangan ayahnya di Kurusétra. Ia kehilangan semua sahabat Kurawanya. Dalam carpon tersebut Aswatama didatangi arwah para Kurawa yang menuntut dirinya untuk membalaskan dendam terhadap Pandawa. Aswatama berjanji untuk melakukan pembalasan itu dan membaca mantra tertentu yang memungkinkan ruhnya muncul di tempat lain, kediaman Pandawa dan keluarganya. Versi asli menyatakan bahwa Aswatama batal melakukan pembunuhan masal atas desakan Kresna (MHBT, 1992:372). Namun, dalam carpon tersebut kegagalan Aswatama disebabkan oleh tendangan Parikesit, cucu Pandawa, pada senjata sakti Pasopati. Pasopati tersebut mengakhiri aksi balas dendam Aswatama yang berlaku angkuh, baik terhadap Pandawa maupun tokoh-tokoh panutan dalam Mahabarata. Sikap angkuh Aswatama salah satu penyebabnya adalah rasa kecewa dirinya kepada penghuni Kahyangan yang cenderung mendukung kepada Pandawa, seperti yang terjadi dalam kutipan berikut.

Aswatama ngagidir. Pasir lir nu kabawa eundeur, ngageber. Beuki karasa déwa téh pilih kasih. Aswatama beuki ceuceub ka eusining Kahiangan. (MM, 2004:66)
Aswatama gemetar menahan amarah. Bukit seolah turut terguncang hebat. Semakin dalam ia rasakan para dewa pilih kasih (kepada Pandawa). Aswatama semakin membenci seisi Kahyangan.

“Purwadaksi” bercerita tentang penguasa Padjadjaran, Prabu Siliwangi, yang masih ingin menunjukkan kekuasaannya. Lodaya, harimau jelmaan Prabu Siliwangi, dianggap sebagai penguasa hutan di tanah Pasundan. Masih banyak orang yang memujanya, di antaranya Ki Lurah dan Olot Karis sang juru tarawangsa, sejenis alat musik gesek khas Parahyangan. Tarawangsa yang dimainkan Olot Karis rupanya merupakan benda ajaib. Alat musik itu juga berfungsi sebagai antena pemanggil ruh Prabu Siliwangi berupa Lodaya. Tepat ketika Olot Karis sedang memainkan dan menyanyikan tembang bernuansa magis, ia berubah wujud menjadi seekor Lodaya. Pada bagian akhir cerita, Lodaya jelmaan itu melenggang indah menuju hutan di Gunung Handeuleum Hieum. Gunung tersebut merupakan habitat hewan sejenis, entah harimau sesungguhnya atau berupa jelmaan.

Lodaya ngagaur tarik naker, sorana ngaweuhan ka madhab papat. Ti lebah Gunung Handeuleum, hawar-hawar, kad éng é nu patinggalaur. Lodaya ngal énghoi muru ka Gunung Handeuleum Hieum diabringkeun ku pirang-pirang cicika. (MM, 2004:77)
Lodaya mengaum dahsyat. Suaranya terdengar sampai ke empat penjuru wilayah itu. Dari arah Gunung Handeuleum samar-samar terdengar suara auman kawanan harimau bersahut-sahutan. Lodaya melenggang indah menuju Gunung Handeuleum Hieum diterangi kelap-kelip cahaya kawanan kunang-kunang.

“Panjang-Punjung” bercerita tentang keangkuhan Sang Bargawa, salah seorang ksatria di Kurusétra yang tiada terkalahkan. Telah banyak ksatria yang ia kalahkan dalam berbagai medan pertempuran. Kali ini giliran Sri Rama yang akan ia hadapi.
Sang Bargawa tinggal di sebuah telaga di Kurusétra. Isi telaga itu berupa ruh para ksatria yang pernah dikalahkannya. Pada suatu hari, tiba-tiba air di telaga itu bergolak hebat. Tiba-tiba salah satu mahluk yang muncul dari perut telaga itu mengatakan bahwa Sang Bargawa akan mendapati ajalnya esok hari. Namun, seekor burung gagak mengatakan bahwa ia akan mendapatkan kemenangan abadi dan berumur panjang. Sang Bargawa termenung dibuatnya. Ia mulai merasa letih denganmasa hidupnya yang lama itu. Ia mulai dilanda rasa jenuh dengan kesehariannya, sebagai petarung dan penghuni tepian telaga. Sang Bargawa rupanya telah mengikat janji dengan para dewa untuk mengakhiri hidupnya besok. Namun, setelah pertarungan antara dirinya dan Sri Rama terjadi, kemenangan itu tidak jadi diberikannya kepada lawannya yang agung itu. Sri Rama menemui ajalnya, mayatnya tergeletak di tepian telaga.

Tengah poé. Manuk bangké récok di sisi talaga aya nu diparebutkeun. Sang Bargawa ngabadega dina batu, di tengah talaga. Sang Bargawa euceuy kapulas getih talaga. Taraté mangkak di tengah-tengah talaga. Kembang taraté mangkak na haté Sang Bargawa. (MM, 2004:94)
Siang hari. Kawanan burung pemakai bangkai berkumpul di tepian telaga untuk memperebutkan seonggok mayat. Sang Bargawa sendiri berdiri gagah di atas batu, di tengah telaga. Tubuhnya memerah berbalut lapisan darah. Bunga teratai bermekaran di tengah telaga di sekitar Sang Bargawa. Sebuah kembang teratai lainnya sedang mekar di kalbu Sang Bargawa.

4. Simpulan
Kumpulan carpon “Murang-Maring” karya Godi Suwarna menampilkan rangkai profil penguasa dalam berbagai tipe karakter. Penulis membagi tipe karakter penguasa tersebut menjadi tiga bagian, yaitu (1) penguasa frustasi, (2) penguasa haus harta, dan (3) penguasa angkuh. Penguasa frustasi terdapat dalam “Kalangkang Budah” , “Stop! Stop! Stop!”, “Gonjang-Ganjing”, dan “Murang-Maring”. Penguasa haus harta terdapat dalam carpon “Gual-Guil”. Penguasa angkuh terdapat dalam carpon “Burak-Barik”, “Aswatamakurda”, “Purwadaksi”, dan “ Panjang-Punjung”.
Tokoh-tokoh legendaris yang ditampilkan dalam kumpulan carpon tersebut tidak satu pun yang memenuhi ke-13 karakter ideal sang penguasa tersebut. Hanya satu dua karakter saja yang dapat dipenuhi tokoh-tokoh tersebut, atau tidak sama sekali. Selain itu, ada beberapa hal penghancur kekuasaan yang ‘terpenuhi’ dalam kumpulan carpon “Murang-Maring” tersebut.