




Bandung, 4 Agustus 2009
BANDUNG-JAKARTA-MATARAM-DENPASAR-SURABAYA-MADIUN-MAGETAN-BANDUNG Well, friend, aku mau cerita nih tentang pengalamanku menjadi si bolang waktu seminar di kota Mataram dulu. Dulu? Iya, tuh, peristiwanya sudah berlalu lama sekali, tepatnya bulan Juni lalu. Tapi, nggak apa-apa kan? Mudah-mudahan cerita berjalan seru.
Setelah medapat kepastian diterimanya makalah kita di seminar nasional di Mataram, so pasti kita kalang kabut mencari referensi yang bisa kita pakai untuk nambah kaya makalah. Nah, menjelang deadline, aku bela-belain pulang lewat maghrib dari kantor karena makalahnya baru selesai saat itu dan dikirim via email ke kantor Mataram. Setelah itu? Nah, itu pula yang sangat penting. Kita harus pontang-panting nyari isi dompet untuk beli tiket pesawat dan akomodasi selama di sana. Terutama aku tuh, jatahku untuk ikut seminar atas biaya kantor dah lewat. Mau tidak mau kali ini harus menjadi perjalanan mandiri.
Well, kalau Allah sudah berkehendak selalu ada ribuan jalan ke Roma … eh Mataram. Kami rombongan kecil dari Balai Bahasa Bandung, Umi, Teh Yeni, Cucu, Aku, Nia, kudu peras keringat juga demi kepergian ini. Well, Nia dah beli baju baru buat main ke pantai. Iya, inilah perjalanan impian Nia tuk pergi ke Lombok dan Bali. Rencananya kita mau traveling keliling Lombok, Bali, Surabaya, dll. Sayang seribu sayang, impian Nia harus terjegal peristiwa yang sangat tidak terduga. Sabtu, Nia mengabarkan bahwa ia kemungkinan besar tidak akan bisa pergi dan berharap tiketnya bisa dijual lagi. Aku sangat terkejut. Rupanya suaminya demam tinggi dan akan diantar ke dokter dan lab. Hari Minggu, ia memberikan kabar yang lebih menyedihkan lagi. Suaminya terkena gejala tifus. Keputusan yang hampir terlambat.
Di kantor, hal itu menjadi pembicaraan kita. Di satu sisi kita menyayangkan bahwa keputusan itu datang menjelang saat kepergian. Namun, di sisi yang lain kita dapat memaklumi bahwa tidak mungkin meninggalkan suami dalam kondisi sakit yang tergolong serius itu. Ketika aku mendapatkan kabar kepastian gagal berangkat dari Nia, telah terpoikir dalam ingatanku agar Ela mau menggantikan Nia. Ternyata, kelompok kita telah menawarkan hal yang sama kepadanya. Semula Ela memang berniat ikut. Namun, ia merasa malas karena enggan kalau cuma jadi peserta. Nah, ketika tiket yang satu itu dilelangkan kepadanya tentu saja ia merasa gembira. Serta merta ia menghubungi suaminya via telepon sampai akhirnya surat izin suami kelar dalam sekejap. Kebetulan, dia memang hendak pulang ke Madiun. Nah, tuh ia mengajukan syarat kepadaku mau ikut asal aku mau mampir ke rumahnya. Wisshhh, yo sekalian toh! Aku pun menyanggupinya.
Well, Ela nyaris sedih karena aku nggak janji pergi bareng subuh-subuh sama dia. Gara-garanya, sampai maghrib aku belum menemukan tukang lontong. Aku janji mau bawa lontong oncom dan lontong ayam untuk bekal sarapan selama perjalanan menuju bandara. Nah, sebelumnya aku sudah memesan sama Nci Dessie, Bandar kue langganan aku jauh-jauh hari sebelum keberangkatanku. Namun, betapa kecewanya hatiku, tiba-tiba sehari sebelum berangkat aku mendapatkan kabar bahwa ia nggak bisa memenuhi pesananku. Ia mendapatkan sebuah order besar, jadi nggak bisa jualan sehari itu. Uffff sedihnya, aku. Aku nggak mau ngecewain temen-temen yang sudah mengandalkan aku jadi seksi konsumsi. Pulang ke rumah lewat maghrib karena aku harus membeli bekal ke Mataram dan juga bekal buat jagoanku di rumah.
Setibanya di rumah, setelah solat maghrib, aku tiba-tiba teringat Si Ayu tukang jamu yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Ia juga suka bikin lontong dan makanan ringan lain yang tidak kalah enaknya dengan lontong buatan si Nci Dessi. Karena suamiku mau pergi, aku minta sekalian didrop di depan rumah si Ayu. Nah, aku lihat pintu garasinya terbuka. Sambil mengucapkan salam, aku ngeloyor pergi ke dalam dapur sambil berteriak lantang memanggil namanya. Senangnya hatiku karena saat itu si ayu kebetulan bikin lontong mie sayur dan oncom. Kuborong semua tanpa sisa. Namun, aku ingin lontong itu dalam kondisi hangat. Si ayu menyanggupi untuk mengantar lontong panas itu tepat pada pukul 4.30 WIB!!.
Ela dah nunggu aku di Metro. Ya, rencananya kami harus tiba di bandara Cengkareng sekitar pukul 8-an. Pesawat yang akan kami tumpangi akan berangkat pada pukul 10.15. Well, sedikit macet di dalam tol kota sempat membuat kami kebat-kebit. Namun, rupanya jalur ke bandara terhalang arus kendaraan yang akan menuju ke Grogol. Well, akhirnya celah menuju jalur bandara pun terkuak dan bis kita bisa melaju lancar hingga di mulut terminal A.
Ihhhh, dasar orang udik, ke mana-mana kita gak bisa ngilangin keudikkannya. Hee … heee ….. kita semua kelaparan tuh dan menggelar lesehan di lorong terminal A6. Kebetulan saat itu tempat tunggu terisi penuh penumpang dengan jalur penerbangan ke Yogyakarta. Setelah mereka bubar, baru kita mendapatkan dua baris tempat duduk yang, lagi-lagi, kita jadikan sebagai warung dadakan. Lumayan, setengah porsi lontongku akhirnya ludes.
Akhirnya, perjalanan ini lancar. Kita tiba di Bandara Selaparang, Mataram pukul 13.45 WITA. Hee … heee … rupanya Jeng Ela kurang bisa menikmati her first time flight-nya. Kayaknya dia jet lag tuuhhh. Setelah itu, ia jadi nggak ngebet lagi naik pesawat. Nggak lama di hotel, kita nyari makan siang ke barisan toko-toko yang letaknya tidak jauh dari sana. Oh, ya, rombongan kita bertambah satu orang, Susi dari Balai Bahasa Palembang. Dia transit di Jakarta dengan pesawat yang sama. Kembali ke makan siang, kita agak kecewa dengan ayam taliwang dan plecing kangkungnya. Rasanya kurang mantap!
Setelah makan, kita langsung jalan-jalan ke malnya orang Mataram, ya, mirip-mirip di kita lah, tapi kesan megahnya agak kurang terasa. Tanpa sengaja, kita menemukan papan nama waterpark. Langsung aku dan Ela yang keranjingan renang, berlari ke lantai 2 nyari baju stretch karena sama-sama nggak bawa dari rumah. Nyesel juga!! Setelah hunting, kita kembali ke hotel dang anti kostum. Waterpark itu cukup sore. Ada satu-dua orang yang berenang di tempat itu. Kita diperbolehkan renang sampai pukul 7 malam!!!!!!! Ihhhh, mungkin Allah nggak ridlo kita ngeforsir tenaga buat tampil besok. Baru renang sebentar, aku kena kram. Anehnya, kram itu nggak bisa hilang meskipun aku dah bengkok-bengkokin jempol jari. Jadilah Ela renang agak lama sendirian sementara aku segera mencari tempat ganti baju.
Berkali-kali kram itu muncul. Berkali-kali itu pula aku harus membengkokkan ujung jempol dan jari kakiku. Beda dengan aku, Ela merasakan kepalanya pusing. Mungkin jet lag-nya masih bersisa. Akhirnya kami berdua kembali ke hotel, sesekali kami menatap pajangan di barisan toko souvenir. Menjelang maghrib, kita mencari makan dan mulai hunting oleh-oleh di tempat itu. Kaos-kaos bertuliskan Lombok dalam berbagai gaya mulai menyesak dalam tas kita.
Kalau lagi ngumpul sama temen, biasa tuh, kita jarang bisa tidur cepet, tapi ngobrol ngalor ngidul ke mana-mana (tapi bukan tak gendong, ya!) sampai tengah malam. Susi yang tadinya pengen tidur di rumah salah seorang teman kami di Mataram, akhirnya meringkuk di atas kasurku. Ya, deh, kita bersempit-sempit. Nah, tuh, asalnya dia mau nginep di tempat salah saeorang temenku di Kantor Bahasa Mataram, tetapi ia menunggu jemputan dari orang itu. Rupanya, lewat petang dia dapat berita bahwa temen dari Medan sudah lebih dulu tinggal di tempat itu. Jadilah Susi tinggal berdesak-desakkan denganku. Ia memutuskan untuk menyewa ekstra bed yang harganya hampir setengah harga kamar.
Pagi-pagi beberapa peserta yang menginap di Hotel Handika bersiap-siap untuk sarapan pagi di hotel. Uff, kita menunggu lumayan cukup lama. Satu hal yang tcukup idak kusukai adalah suguhan teh manis ala Jawa!! Aku lebih suka teh pahit. Aku sudah memesannya terlebih dulu, tetapi dasar tangan yang sudah distel budaya, teh yang datang ya… manis lagi … manis lagi. Kureguk juga akhirnya pesanan tak sesuai naluri itu.
Hari pembukaan seminar berjalan cukup alot. Ya, biasalah, panitia disibukkan dengan registrasi peserta. Mulut-mulut cerewet peserta ditanggapi dengan santun dan profesional oleh panitia. Biasalah, banyak peserta yang daftar dadakan, nama di daftarnya salah, belum dapat seminar kit, dan tidak terdaftar. Acara pembukaan seminar juga berjalan agak merayap, bahkan, sempat diwarnai mogoknya aliran listrik di hotel itu. Ufff, seharusnya hotel memiliki sistem lapis tiga. Listrik lapis satu mati dalam hitungan detik yang lain nyala.
Kota Mataram kota kecil. Kita bisa menjangkau ke tepian kota dengan mudah. Gak perlu ganti-ganti angkot! Pake taksi juga murah! Asal jalannya sekalian. He… he… jalan-jalan di kota ini semudah jalan di sebuah mal besar di Kota Bandung. Namun, ada yang nggak bisa di temui di kota kembang. Antimacet!!!! Ya, aku belum pernah menemukan kata macet di kota ini. Kemana, ya, penduduk dan kendaraan itu. Jalanan lengang dan nyaman. Banyak pula tanah-tanah kosong yang luas belum digunakan.
Makanan di Kota Mataram cukup beraroma. Ya, jenis makanannya berbumbu banyak. Salah satu makanan khas di kota ini adalah sate bulayak, sate ayam atau kerang dengan lontong yang berbentuk seperti kue celorot, seperti sosis yang memanjang tetapi mengecil di ujung yang satu dan dibalut dengan daun kelapa. Rasanya memang agak aneh di lidah kita karena sudah terbiasa dengan rasa sate di Pulau Jawa. Namun, sebagai tamu, kita menghargai makanan khas daerah setempat dan … karena tak ada pilihan lain. Hee … he….
Aku tampil pada hari kedua. Alhamdulillah, seminarku sukses en banyak merespon naskahku. Ada pula yang menawarkan untuk tampil di acara bulan bahasa dan sastra, kalau tidak salah dari sebuah kota di Jawa Tengah. Namun, aku nggak tuh! Nggak mengharap banyak! Setelah tampil, aku diantarkan teman-teman dari Kantor Bahasa Mataram pergi mencari oleh-oleh. Kami diantar ke sentra pembuatan dodol rumput laut dan toko mutiara. Ya, lumayanlah buat oleh-oleh.
Bersama teman-teman dari sesama kantor dan balai bahasa se-Indonesia yang mengikuti kegiatan seminar itu, kami memutuskan untuk berwisata pada malam hari ke Pantai Senggigi. Pantai itu ternyata sangat gulita, tetapi di tepiannya terhampar kilapan lampu-lampu kafe dan perahu. Namun, barisan hotel yang berjajar di tepi tanjakan yang melingkar itu membuat ingatanku tertambat pada suasana lembang dan sekitar Jalan Setiabudi atas. Di tempat itu, lagi-lagi kami makan sate bulayak.
Hari ketiga setelah usai seminar itu, kami (kecuali Umi dan T, Yeni) memutuskan untuk pergi ke Gili Trawangan. Gili Trawangan adalah salah satu dari tiga pulau kecil ternama di Lombik yang dijadikan sebagai tempat tujuan wisata. Kami bergabung dengan keluarga Ratnawati, temanku dari Balai Bahasa Ujung Pandang. Kami terbagi ke dalam dua mobil. Perjalanan menuju Gili kami lewati via Pusuk, yang artinya puncak. Jalur ini merupakan jalur yang sangat indah. Kita melaju mengelilingi jalan yang meliuk indah dengan udara yang sangat segar. Di puncak itu, kita akan menemukan replika Sangeh, tempat kera di Pulau Bali. Namun, jumlah kera di tempat itu tidak sebanyak di Pulau Bali. Hanya satu dua kera saja yang mau menyambangi kami. Yang lainnya hanya menatap kami dari kejauhan.
Tidak lama di tempat itu, kita melanjutkan perjalanan menuruni jalanan yang menuju ke pelabuhan. Di tempat itu, kita harus berjalan sekitar 300 meter untuk menuju ke tempat pembelian tiket. Sebenarnya, peraturan itu dibuat untuk memberdayakan cidomo. Namun, kita memilih untuk berjalan kaki. Biaya perorang Rp.12.500,00. Tidak sampai setengah jam kita sudah tiba di bibir pantai Gili Trawangan. Di tempat itu tidak akan kita temui kendaraan bermotor, kecuali dalam perahu yang mengangkut penumpang pulang-pergi Lombok-Gili Trawangan-Lombok. Kendaraan yang ada di sana adalah sepeda dan cidomo (cikar, dokar, dan motor). Cidomo adalah perkawinan antara delman, dokar, pedati, dan sepeda motor yang ditarik seekor kuda. Harga yang dipatok untuk mengelilingi pulau itu Rp.75.000,00.
Wuiihhh, kita semua merasa kemahalan, padahal kita belum tahu seberapa jauh jarak pulau ini. Akhirnya, kita bertiga, Ratna-aku-Susi, memutuskan untuk menyewa sepeda yang tarifnya Rp.20.000,00/jam. Yang lain memutuskan untuk rebahan di bawah tenda dan tempat istirahat yang lain. Ternyata acara sewa sepeda itu menjadi bibit petualangan kami bertiga yang tidak akan pernah kami lupakan selama hidup kami. Kami tidak pernah mengetahui bahwa tidak semua keliling pulau ini jalanannya berlapis aspal. Hanya bagian-bagian tertentu saja, terutama pada bagian muka saja yang jalannya dipoles aspal. Selebihnya, bagian lain pulau ini, terutama bagian belakang pulau itu yang berupa hutan. Kami mengawali perjalanan ini dengan lancar sampai ke tempat yang menjadi tempat favorit para bule untuk berjemur. Tampak beberapa pasangan asing sudah menandai lapak untuk mencokelatkan dan menggelapkan kulit mereka. Ihhh, pengen cokelat! Kita aja mati-matian pengen putih, hee … hee.
Melalui barisan pantai utama yang dipagari dengan rangkaian hotel dengan aneka bentuk yang menarik, kita melaju ke ujung jalan beraspal di tempat itu. jalur selanjutnya mulai bergulat dengan tanah dan pasir. Kami berpapasan dengan sebuah cidomo yang mengangkut penumpang. Kusir cidomo itu memberikan peringatan kepada kami bahwa jalanan di depan penuh pasir dan meminta kami untuk kembali. Namun, kami yang rupanya sama-sama Bengal dan keras kepala, bersikeras untuk melanjutkan perjalanan kami. Rasanya rugi jika kami bayar Rp.20.000,00 untuk beberapa menit saja. Kami tidak mengindahkan peringatan si kusir tadi dan melanjutkan perjalanan kami.
Ternyata apa yang dikatakan kusir itu benar. Sebelumnya, kami sempat berhenti di sebuah lokasi. Kami mendapati sebuah kapal yang penumpang yang baru saja dicat dengan cat yang berwarna putih. Selain itu, kami juga mendapati sebuah pohon bercabang dua. Kami sempat berfoto di dua lokasi itu. Jalur selanjutnya yang kami tempuh adalah jalur berpasir. Perjalanan kami mulai menemui hambatan. Kami harus pandai-pandai memilih jalur agar bisa dilalui sepeda kami. Jika tidak, kami akan terkunci atau jatuh tanpa diduga karena kayuhan kami tertahan pasir itu. Wow, pasirnya cukup tebal, sekitar 15—25 centi. Ratna lebih ahli rupanya karena ia tinggal tidak jauh dari pantai.
Satu jam setengah kita telah menjelajahi tepian pantai Gili Trawangan yang belum terjamah oleh investor. Sekeliling tempat kami berhenti dihuni semak-semak dan pepohonan jati, kelapa, dan pohon lainnya. Beberapa papan bertuliskan “tanah ini dijual” kami temukan di tempat itu. Beberapa kavling di antaranya sudah dipagari. Ada pula yang tidak dipagari dan dipakai untuk menggembala kambing. Perjalanan ini seharusnya bisa kita lakukan dalam tempo yang lebih cepat. Namun, apa daya kubangan pasir demikian mendominasi jalur yang kami lalui. Tidak jarang kami mendorong sepeda hingga 100—200 meter jauhnya sementara mengayuh sepeda hanya dalam hitungan beberapa meter saja. Tibalah kami di puncak kelelahan. Wajah kami sudah memerah. Matahari di pulau berpantai indah itu sangat garang. Sinarnya seperti ujung pisau yang siap menyayat inci demi inci kulit tubuh kita. Di salah satu jalur yang dilalui, kami mendapati sebuah tanah berpasir yang landai dan berumput. Ratna dan Susi duduk di tempat itu. Sementara itu, aku tetap duduk di atas sepedaku. Sebelumnya, kami juga sempat beristirahat di sebuah tembok yang mungkin dibuat untuk membuat lahan peristirahatan. Ya, di pulau ini kita dengan bebas bisa duduk santai di tepi pantai dan memilih tempat atau kursi santai bertenda atau beratap rami. Beberapa di antaranya dibuat di tempat yang telah ditinggikan dari permukaan jalan dan pantai untuk memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk memandang bebas ke arah lautan.
Di tempat ini kita juga mendapati beberapa bagian pantai penuh karang yang cukup berbahaya sehingga wisatawan tidak diperkenankan untuk berjalan-jalan di tempat itu, bahkan tidak dapat digunakan untuk perahu nelayan. Sekilas batu karang itu tampak lembut menyembul berserakan di pantai. Jarak pantai di tempat itu tampak lebih luas daripada pantai di bagian utama pulau itu. Namun, tempat itu masih belum tertangani.
Kembali ke tembok tadi, di tempat itu kami berjumpa dengan salah seorang turis asing. Ia mengatakan bahwa perjalanan kita masih jauh, sekitar satu setengah atau dua jam perjalanan lagi. Kita tidak bisa membatalkan perjalanan ini karena kita sudah berada di tengah-tengah. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus melanjutkannya. Oh, ya, bule itu dengan tulus memberikan sisa air minumnya ketika kami mengatakan bahwa kami tidak punya air minum dan kehausan. Bule itu pun berlalu sambil meninggalkan senyum di hati kami. Susi mendadak kehausan dan kehabisan air minumnya, tetapi ia tidak mau menenggak pemberian si bule tadi. Ratna mengatakan bahwa ia masih punya air minum. Disodorkannya botol itu kepada Susi yang tanpa ba-bi-bu langsung menyambar dan menenggak isi botol itu. Namun, dalam hitungan detik ia menyemburkan air dalam mulutnya itu.
“Brrrrrrrrrrrrr!!! Wahhh, airnya asin banget!” ujarnya menggerutu sambil meludah-ludahkan sisa air yang ada di dalam rongga mulutnya.
“Hmmm … iya … tadi aku isi botolnya dengan air laut karena habis. Ohhh, maaf sepertinya aku tidak sengaja bawa botol yang salah perasaan sih botol ini bukan yang kuisi, he … he …,” ujar Ratna dengan cueknya. Tanpa dosa!!!
“Huuuhh, dasar!” umpat Susi sambil ingin menahan tawanya.
Susi pun beranjak ke atas sepedanya dan mengajak kami pergi. Rupanya jalur yang harus kita tempuh masih berlumur pasir, bahkan dengan kedalaman yang lebih parah. Sayang, di beberapa bagian kami temukan onggokan sampah. Sayang sekali!
Kami menemukan tempat transit di sebuah tanah landai berumput. Ratna dan Susi duduk. Aku malas dan duduk di atas sepedaku. Ratna lalu memutuskan untuk menelepon suaminya dan mengabarkan kondisi mereka. Namun, kami semua terkejut karena Ratna engatakan bahwa kami tersesat, satu orang pingsan, dan satu orang lagi terlepas rantainya. Aku yang merasa gemas menendang beberapa bulir pasir kepadanya. Ia malahan tertawa. Kemudian ia mengatakan bahwa ia minta dikirim Cidomo.
Oh, ya, beberapa saat sebelum kami berstirahat di tempat itu, rantai sepeda Susi terlepas. Susi dan Ratna berusaha keras memperbaiki rantai itu. Namun, setelah cukup lama berusaha, mereka tidak berhasil. Namun, Allah Mahakuasa, dari kejauhan kami melihat tiga orang laki-laki berjalan ke arah kami. Kusarankan kedua temanku untuk meminta bantuan kepada mereka. Ternyata salah seorang di antara mereka dalam hitungan detik bisa memperbaiki rantai itu dengan mudah. Kami mengucapkan terima kasih kepada mereka. Ketiga orang itu rupanya perantau dari tanah Jawa yang bekerja membangun sebuah hotel di bagian lahan yang tadi telah kami lewati.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan yang rupanya masih cukup jauh dan bergelimang jeratan selimut pasir di jalanan. Cukup lama, hampir menelan waktu satu jam, kami harus mengayuh pedal. Sempat kami berpapasan dengan seorang pria bule yang bersepeda. Ia mengatakan bahwa jarak ke tempat kami semula masih cukup jauh. Yah, nasi sudah menjadi bubur. Kami masih harus melanjutkan petualangan yang berkesan ini. Lama sekali kami mengayuh pedal hingga akhirnya kami melihat sebuah pemondokan yang letaknya cukup terpisah dan tampak menyendiri di sini. Beberapa orang bule tampak asyik bernaung di bawah sebuah gubuk kayu beratapkan jerami. Gubuk itu terletak di seberang pemondokkan itu. Ufff, kami tidak ubahnya udang rebus panas yang masuk ke dalam gua es. Kami masuk dan memarkirkan sepeda kami di halaman pondok itu. Kami mendengar suara perempuan menyahut panggilan kami, dari jauh kami bertanya apakah ia menjual minuman dingin. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Minuman yang kami inginkan ada. Ratna memilih aqua dingin dalam botol besar, aku mmemilih Sprite, dan juga Susi. Namun, akhirnya, Susi memberikan Sprite itu kepadaku. Nggak kuat perutnya! Soal harga jangan ditanya deh! Aku beli Sprite Rp.9.000,00 dan Rp.7.000,00 untuk Aquanya Ratna. Nilai itu masih tergolong lebih murah daripada harga untuk minuman yang sama di pantai bagian muka pulau itu. Temanku, Mbak Rini harus merogoh kocek Rp.18.000,00 untuk sebotol Coca Cola!
Masalah tidak berhenti sampai di sana! Rasa haus kami memang sudah terobati, tetapi tidak untuk sepeda Ratna. Ketika ia akan mengayuh sepedanya, ia mendapati bahwa rantai sepedanya putus. Dengan memakai telepon genggam milik Susi, pulsa Ratna habis, Ratna mengabarkan kondisi sepedanya itu dan meminta kerabatnya untuk membawa sepeda gantinya. Kami melanjutkan perjalanan sambil menenteng sepeda. Lima belas menit kemudian, Mbak Ipung datang bersepeda sambil membawa si abang pemilik sepeda. Si abang juga menenteng rantai pengganti. Ratna memakai sepeda yang dibawa si abang. Mbak Ipung datang sambil membawakan kami berbotol-botol minuman. Kejadian ini membuat kami diuntungkan karena kami tidak diwajibkan membayar denda. Rupanya perjalanan kami menelan waktu hampir tiga jam!!! Sambil pulang, kami sempat berfoto di sebuah tempat peristirahatan, tampaknya sempat dipakai untuk pesta miras dengan banyaknya tumpukan botol bir di tempat itu. Tempat itu cukup bagus hanya saja tidak banyak digunakan. Hal itu terlihat dari tebalnya debu di sana-sini. Pantainya tidak dapat digunakan karena banyaknya onggokan batu karang di sana-sini.
Perjalanan kami dari tempat itu lumayan agak jauh juga, sekitar 15—20 menit dengan bersepeda. Kami akhirnya tiba di Hotel Ombak Biru tempat kami meminjam sepeda itu. Ingin rasanya kami langsung menghilangkan panas di tubuh kami dan nyemplung langsung ke kolam renang. Namun, kami dihadang waktu. Kami harus kembali ke Mataram. Teman-teman kami rupanya sangat mencemaskan kami dan menanyakan apakah benar aku pingsan. Mereka rupanya menduga aku yang pingsan. Aku menyangkal hal itu. Kulihat wajah-wajah mereka penuh gumpalan kusut antara gembira dan kesal karena bualan Ratna itu. Ratna orangnya cuek bebek, wajahnya tampak tidak berdosa.
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Kami harus membeli tiket pulang dengan harga yang sama. Perahu yang kami tumpangi penuh, jadi kami harus menunggu perahu berikutnya. Aku dan Ela sempat membeli es krim pada seorang penjual es krim yang rupanya akan ikut menyeberang juga. Tanpa sengaja aku merogoh kantong-kantong dalam tasku. Hapeku nggak ada! Aku minta Ela untuk menelepon ke nomor aku! Tidak ada bunyi sama sekali. Aku mencari di tempat sekitar, tidak ada! Akhirnya kuputuskan untuk mencari di tempat kami tadi beristirahat dan hotel tempat peminjaman sepeda. Aku bergegas pergi ke tempat kami tadi dan menitipkan barang kepada Ela. Aku berjalan cepat sambil sesekali mendengar godaan dari beberapa pria iseng di sisi kiri dan kanan. Ya, jika pergi ke Gili Trawangan, posisi kita menjadi orang asing di pulau di negeri sendiri. Kebanyakan penghuni pulau itu, ya, wisatawan asing itu.
Langkahku kuiringi dengan segudang harapan untuk mendapatkan kembali hape itu. Namun, di satu sisi aku membisikkan kepasrahan kepada Allah swt, seandainya hape itu tidak bisa kutemukan, aku menyadari jika hal itu sudah menjadi kehendak-Nya. Aku tidak diperkenankan untuk bertamak-tamak di dengan satu benda kecil itu. Kususuri tempat istirahat itu. Tidak kutemukan! Beberapa orang wisatawan telah menduduki tempat kami. Kualihkan langkahku kembali ke hotel tempat kami menyimpan sepeda itu. kulihat si abang penjaga sedang bermain tenis meja di halaman hotel tidak jauh dari kolam renang dan tempat penyewaan sepeda itu. Kutanyakan kepada si abang tentang hapeku itu. Ia menjawab tidak. Aku pun mohon maaf dan perlahan beranjak dari tempat itu. Namun, si abang memanggilku kembali dan disuruhnya aku menunggu sejenak. Ia segera berlari kea rah sepeda yang tadi kusewa itu. Subhanallah, hape itu rupanya masih terbaring indah di dalam keranjang sepeda itu dan tidak seorang pun yang menyewanya setelah kami. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadanya. Kemudian aku segera berbalik meninggalkan hotel. Kulihat panggilan dan deretan sms Ela di layar hape. Disuruhnya aku segera ke pantai karena perahunya siap berangkat. Ela tidak sabar menunggu beritaku. Aku sempat kaget karena barang-barangku tidak ada. Ela menyampaikan bahwa barang-barangku semua sudah dibawakan oleh Pak Cece, mitra instansi kami. Duh, aku malu karena hanya membuat mereka menderita. Semua teman-temanku menanyakan perihal hapeku itu. Ahhh, tidak ada pembawa berkah terbesar selain Allah swt.
Perjalanan sore ini kami lanjutkan ke Pantai Senggigi karena jalur ini yang kami pilih. Kami menunda makan siang kami di pantai ini dengan santapan jagung baker dan sate bulayak. Senja di pantai ini tampak cukup indah karena laut berhias beberapa kapal boat dan perahu. Sementara itu, di kejauhan tampak barisan kapal terbang berbanjar di lapangan Selaparang. Aku tidak menduga jika bandara itu terletak di tepi pantai seperti halnya pantai Kuta.
Setelah sore itu, kami melanjutkan perjalanan ke Lapangan Merdeka. Lapangan ini ditetapkan sebagai tempat orang-orang menghabiskan senja dan sore nongkrong di tempat itu. Barisan kedai makan siap memberikan pelayanannya kepada Anda. Sayang, makanan yang disuguhkan rasanya sangat berbeda dengan yang biasa kami temui di Bandung. Setelah itu, kami sempat diajak ke tempat penjualan mutiara. Sayang, kebanyakan dari kami sudah lebih dulu berbelanja di tempat lain. Kami hanya melihat dan hanya Herryana yang berbelanja di tempat itu. Sebelum kami menuju ke rumah kerabat Ratna di Praya, kami mengunjungi rumah Harryanto—salah seorang teman kami di Kantor Bahasa Mataram untuk mengambil barang-barang yang telah dititipkan sejak pagi tadi.
Kami sepakat untuk pulang melalui jalan laut ke Pulau Dewata dengan menumpang kapal ferry. Kapal tersebut akan berangkat pada pukul 02.00 pagi. menjelang kepargian itu, kami singgah di rumah kerabat Ratna, Sitti Ari. Pukul 12.00 kami berangkat dari rumah itu. Tanpa sengaja kakiku menginjak mangkuk gula (tentu saja berantakan isisnya!), lalu, aku sedikit mundur dan tanpa sengaja pula menginjak baki plastik hingga patah. Ufff aku merasa sangat berdosa. Dalam hatiku aku berniat untuk mengganti baki itu. Kelak, alhamdulillah, aku mendapatkan sedikit rezeki dan bisa mengirimkan penggantinya.
Inilah pengalaman pertamaku naik kapal laut. Di bagian bawah badan kapal dipenuhi dengan kendaraan berbagai jenis. Kendaraan itu diatur dengan sangat ketat agar bisa menampung sesuai dengan kapasitasnya. Penumpang duduk di bagia atasnya. Menjelang maju, kami disewakan kasur oleh Ratna. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 4 jam. Kelelahan begitu menghadang kami. Ombak mulai memainkan tariannya seiring tarian mimpi membawa kami pergi jauh. Di tengah perjalanan, aku terbangun dan merasakan ayunan ombak yang begitu tinggi. Rasanya aku lebih merasa tenang dengan permainan ayunan. Aku ingin pergi ke luar dan melihat deburan ombak dini hari. Namun, apa daya mataku terlalu akrab menggayut berat.
Subuh, kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Setelah melaksanakan salat Subuh, kami menyewa sebuah mobil elf menuju Kantor Bahasa Denpasar. Agak sulit juga kami mencari kantor itu. Namun, kesulitan itu tidaklah lama setelah kami mendapatkan sambutan dan pelayanan yang sangat baik dari Kepala Kantor itu dan juga teman-temanku di tempat itu. Salah seorang temanku, Belik Made, dan juga KTU setempat Bu Eka mengantar kami melihat isi Kota Denpasar. Setelah mencari makan pagi yang tertunda, kami pergi ke Sukawati Erlangga, sebuah sentra oleh-oleh khas Bali. Bu Eka mengantar kami sampai di sini. Selanjutnya, kami diantar Made ke pantai Kuta dan Legian. Di pantai Kuta, temanku sempat menuntaskan impiannya berbelanja di toko Joger. Dengan tulisan dan pernak-pernik khasnya, Joger sangat dikenal di negeri ini bahkan mancanegara. Tokonya tiada henti disesaki rombongan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Menurutku, produk kaus dan pernak-perniknya sih kagak jauh-jauh dari yang di Bandung. Namun, kecintaan pada nama produk itulah yang mendorong mereka rela berjejal-jejal di toko yang tidak mau membuka cabang itu.
Kami sempat meluangkan waktu bermain dan berfoto di Pantai Kuta. Ahhh, kami terlanjur melihat pantai-pantai indah di Lombok lebih dulu. Bagi kami, suasana di Pantai Kuta tidak jauh berbeda dengan Pantai Pangandaran. Pantainya kurang resik, dan dijejali bule yang ingin menghitamkan dirinya. Waktu itu, banyak sekali rombongan anak sekolah yang menyesak di pantai sambil menunggu tenggelamnya matahari. Sepulang dari Kuta, kami diajak Made melihat bekas ledakan bom Bali I dan II. Kini kami mengerti bagaimana peristiwa itu bisa menelan jumlah korban yang sangat luar biasa jika melihat situasi kedua tempat itu yang sangat padat dengan pengunjung. Kini bekas ledakkan itu dijadikan sebuah kafe tidak jauh dari sebuah monumen yang didirikan pemerintah setempat untuk mengenang para korban ledakan. Pada salah satu dinding monumen itu terdapat deretan nama korban tewas dalam peristiwa itu.
Setelah itu, kami pulang dan sempat menyaksikan kemacetan di Kota Denpasar. Kulihat banyaknya bangunan pura dan patung-patung serta monumen yang berdiri megah di kota itu. Kami sempat melihat salah satu kegiatan yang diikuti kepala balai setempat, yaitu seminar BIPA. Selain itu, kami juga sempat menyaksikan antusiasme masyarakat Bali pada kegiatan seni. Saat itu merupakan pembukaan pekan kesenian Bali.
Kami telah membook tiket travel tujuan Surabaya yang akan berangkat pukul 7 malam. Kami sempat mandi dan berganti pakaian. Rasa terima kasih yang tidak terhingga kami ucapkan kepada kepala balai beserta stafnya atas segala kebaikan yang diberikan kepada kami. Rombongan kami terpecah sampai di sini. Ratna, suaminya, dan Herryana akan menginap di rumah kerabatnya, sementata Cucu ikut bersama mereka sampai besok pagi. Ia telah membeli tiket ke Bandung karena mendapat kabar tentang sakit ibunya. Kami yang pergi ke Surabaya tinggal bertiga, aku, Ela, dan Susi. Kami tiba di pelabuhan dan Gilimanuk dan menaiki perut ferry. Jarak yang kami tempuh dari pelabuhan ke Surbaya cukup singkat, setengah jam. Setelah itu, kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk menuju ke Surabaya hingga akhirnya benar-benar kami diantar ke dalam halaman terminal. Kami menuju ke lajur bis tujuan Madiun. Setelah itu, kami naik bis jurusan Yogyakarta agar bisa sekalian dengan Susi.
Well, inilah pertama kalinya aku naik bis ala bis yang ditumpangi Harry Potter, Sumber Kencana. Bis itu meluncur deras seolah tidak ada aral melintang di depannya. Dua jam perjalanan cukup membawa kami tiba di terminal Madiun dan inilah saatnya kami berdua, aku dan Ela, berpisah dengan Susi. Aku telah berjanji sebelumnya untuk berkunjung ke rumah orang tua Ela di Magetan. Ayahnya Ela telah berdiri di halaman luar terminal.
Sebelum sampai ke rumahnya, ayah Ela mengajak kami makan siang di Rumah Makan Bu Kus. Ayahnya Ela mengatakan bahwa dulu, pemilik rumah makan itu telah membuka cabang di Surabaya dan sangat diminati pelanggan. Namun, karena sakit berkepanjangan yang dideritanya, usaha itu menemuii jalan buntu. Kini ia tidak membuka cabang lagi. Nasi pecel sebagai menu andalan khas rumah makan Jawa Timur itu cukup bisa diandalkan sebagai pengobat rasa lapar kami.
Ibu dan anak Ela, Rafi, tidak ikut menjemput kami karena berbenturan dengan acara piknik di sekolah. Kami baru bertemu beberapa jam setelah kedatangan kami di rumah. Kedatangan kami ke rumah itu bertepatan dengan acara syukuran yang akan dilakukan oleh kedua orang tua Ela. Tentu saja, banyak saudara dan tetangga Ela yang datang membantu sang ibu. Semua saudara Ela sudah tinggal terpisah. Rafi, anaknya Ela, tinggal di rumah itu menjadi ajang hiburan bagi neneknya. Well, anyway, syukuran tersebut lumayan memudahkan aku untuk mengenal keluarga besar Ela, terkecuali kakaknya yang tinggal di Tuban.
Acara syukuran ini terbilang unik. Aku baru mengalami adat tradisi seperti itu. pada umumnya, di Bandung, syukuran biasa dilakukan dengan acara pengajian yang cukup berpanjang-panjang. Setelah itu, untuk pengisi acara, tuan rumah menyediakan nasi dus dan kue atau pernik-pernik lainnya. Sementara itu, di Magetan, tempat Ela tinggal, para pengisi acara resminya adalah kaum laki-laki, santri dan lelaki dewasa. Namun, tanpa diundang, kaum wanita juga mendatangi rumah si empunya hajatan. Uniknya, kaum ibu masing-masing membawa sebuah keranjang anyam atau keranjang lain yang kebanyakan sudah diberi nama dengan berbagai cara dan ditutupi dengan kain pada bagian atasnya. Isinya, berbagai macam bahan pokok mentah. Dari pengamatanku, kebanyakan yang mereka bawa adalah mi kering, kentang, bawang putih, gula pasir, dan beras. Banyaknya, ya, bergantung kemampuan. Uniknya, bawaan tersebut dicatat dalam sebuah buku. Nanti menjelang pulang, kaum wanita akan dibekali dengan bungkusan nasi dan lauk-pauknya. Jumlahnya hampir sama. Sementara itu, selama duduk di rumah si empunya hajatan, mereka disuguhi nasi yang diambil sendiri dan diberi alas makan sepiring soto daging. Porsinya cukup unik, hanya beberapa sendok saja! Mereka mengambil nasi sendiri sesuai selera. Ketika kutanyakan hal itu kepada Ela, ia menjawab bahwa di tempat itu ada keharusan untuk menghabiskan hidangan yang disuguhkan. Untuk menghindari mubazir, porsi yang diberikan dalan suguhan hidangan tersebut tidak diberikan banyak. Aku melihat suguhan tersebut sebagai syarat penyambutan dan penghormatan kepada tamu saja.
Bagi kaum laki-laki juga dibuatkan bekalan nasi untuk dibawa pulang. Uniknya di tempat ini tidak menggunakan dus sebagai pembungkus makanan melainkan dalam sebuah bakul mini plastik yang diisi nasi dan diatasnya ditutup cup plastik untuk menyimpan lauk-pauknya. Wadah tersebut dimasukkan ke dalam kresek putih. Penganan tersebut diberikan kepada bapak-bapak. Ya, aku telah membuktikan begitu banyak kekayaan seni dan budaya di nusantara. Subhanallah.
Aku tinggal selama tiga hari di tempat ini. Ada satu hal yang membuatku betah di tempat itu, selain keramahan penghuninya, yaitu masih banyaknya tukang pijit andal. Wah, Bandung wajib menaruh rasa iri tuh karena dukun pijit jumlahnya menyusut drastis, setelah pengembangan kelompok kader PKK dan posyandu. Beruntung aku dapat dipijit setiap malam oleh dua pakar massage di tempat itu. Namun, yang paling cocok bagiku adalah pijitan paripurna Mbak Sukati. Pokoknya, top abis deh!
Tadinya, aku hanya akan tinggal semalam saja di tempat itu. Namun, ayahnya Ela melarangku untuk pulang cepat dengan alasan belum mengantar aku ke mana-mana. Yo, wis toh, aku jadi tinggal lebih lama di tempat itu. Tidak jauh dari rumah itu juga tinggal mertua Ela. Kebetulan mertuanya itu bersahabat baik dengan orang tuanya. Ya, Ela dan suaminya dipersatukan di pelaminan dengan asal-mula sebuah perjodohan.
Ayah Ela memenuhi janjinya. Ia mengantar aku dan Ela berenang di Waterboom “Banyu Biru”. Wuiihhh, senangnya hatiku setelah renang terakhir kami di Lombok itu. Aku merasa sangat senang karena bisa pulang dalam keadaan bugar. Setelah renang itu, malamnya aku dipijit oleh Mbah Sukati. Wuiihhh, betapa senangnya hatiku.
Kami pulang pada hari Rabu, 24 Juni 2009, dengan bis jurusan Bandung yang berangkat cukup telat dari Madiun. Sekitar jam 3 kami bis yang kami tumpangi baru berangkat meninggalkan kantor agen penjualan tiket. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Hitung-hitung mengenang perjalanan malam saat aku mengikuti reuni ITT tahun 1990 silam di Yogyakarta. Kamis subuh aku telah kembali ke kota kelahiranku, kota kembang. Kota yang telah memberikan warna dan kisah dalam hidupku. Firdan tidak menyambut kedatanganku karena sedang berlibur di Tasikmalaya bersama nenek dan kakeknya. Ya, Allah swt, Engkaulah yang Mahapemberi atas segala ridlo dan berkah di ala mini, di dalam kehidupan umat-Mu, di dalam kehidupan kami, di dalam kehidupanku.
Aku hanya beristirahat beberapa jam saja di rumah sekadar melepaskan penat dan sempat membawaku ke alam mimpi yang indah karena kepulangan kami ke Bandung bertepatan dengan acara syukuran kelahiran anak salah seorang teman kami, Devi. Duuuh, kapan ya, aku bisa bertualang.*****