31 Agu 2009

UMPTN NUN JAUH DI SANA ...






Duuuuhh, kalau mendengar universitas seperti terbang ke alam mimpi. Sepertinya universitas itu gerbang menuju gengsi, kesuksesan, kebahagiaan, atau … mungkin bagi sebagian orang … kekecewaan. Ya, kuliah itu rasanya sekolah paling … wahhhh. Beda banget kalau kita mendengar seseorang yang lulus dan masuk institusi pendidikan berbasis ikatan dinas. Bagi sebagian kalangan mungkin tida juga sihhh.
Kuliah di perguruan tinggi merupakan sesuatu yang asing bagiku yang saat itu masih berseragam putih abu atau saat aku baru melepas si putih abu itu. Meskipun banyak saudara dan kerabat yang sudah berkuliah lebih dulu, tetapi aku tidak pernah terjun menyelami dunia kuliah mereka. Aku nggak bisa bayangin seperti apa sih yang namanya kuliah itu?
Ikut UMPTN 1991 waktu itu lebih merupakan satu keharusan bagiku. Dengan kata lain, lebih merupakan jalur tradisi untuk menembus gerbang perguruan tinggi. Ya, untuk aku yang nggak terlalu ngebet kuliah, lewat jalur resmi, jalur UMPTN ini tidak begitu menjadi andalan dalam hidupku. Berhasil … ya syukur, nggak juga nggak apa-apa tuh. Bagiku masih banyak jalan ke Roma! Oleh karena itu, aku tidak seperti teman-temanku yang lain yang memutuskan untuk mengikuti bimbel (bimbingan belajar) pada institusi yang beken sejak tahun pertama menginjak kelas tiga SMA. Aku hanya mengikuti paket kilat bimbel selama dua minggu pada sebuah institusi yang tidak begitu beken. Kebanyakan pesertanya pun berasal dari luar daerah yang notabene ketinggalan dalam pelajaran. Yang penting, ilmu dan teknik mengerjakan soal UMPTN bisa kudapat dengan mudah dan dalam tempo yang tidak terlampau lama.
Aku tidak terlalu berambisi untuk lolos UMPTN itu karena kupikir jalan menuju sukses tidak melulu melalui jalur masal itu. Apalagi aku tidak terlampau menggeluti bidang ilmu matematika dengan giat hingga tatkala mengerjakan soal pun aku cenderung hitung kancing, meskipun membuat orat-oret di kertas buram. Kalau soa pengetahuan umum, lumayanlah. Kebetulan aku agak kuat di bidang ingat-ingatan atau hafalan.
Aku tidak merasa heran dengan ketidakhadiran namaku dalam daftar kelulusan UMPTN di halaman surat kabar. Selintas aku masih dapat menayangkan bayangan wjah teman-temanku yang berada dalam satu kelas di tempat uji. Dia … dia … dia … lulus! Selamat! Ucapku dalam hati. Aku senang mereka bisa lolos lubang jarum.
Pasca UMPTN, aku mengikuti ujiian masuk program D3 di UNPAD. Jurusan yang kuikuti adalah prodi bahasa Inggris. Alhamdulillah, aku diterima. Aku merasa pas dengan seisi kelasku dan lingkunganku di sini. Barangkali, dalam hatiku, Allah telah membuka jalan bagiku. Enaknya ikut di program D3, kita dibekali dengan materi praktis karena program ini lebih ditujukan untuk dunia kerja. Nggak enaknya, kita hanya mendapatkan sedikit ilmu sastra yang sebenarnya sangat kuminati. Alhasil penelaahan sastra kulakukan secara otodidak. Lulus dari program tersebut, kuikuti kelas angkatan pertama program ekstensi. Alhamdulillah, di kelas ini teman-temanku semakin beragam. Bukan hanya dari kelasku yang sama, maupun kelas lainnya, melainkan berasal dari beragam jurusan dan latar belakang yang berbeda. Program ini lebih tampak sebagai kelas karyawan karena sebagian dari teman-temanku sudah bekerja, bahkan berusia hampir 50 tahunan. Keragaman latar belakang teman-temanku ini lumayan melebarkan wawasan dan jaringan relasiku.
“Kelas malam” ini kuselesaikan selama hampir 3 tahun karena aku sempat dilanda mogok hati. Heeee … heee …! Jatuh cinta sempat membuatku mogok makan … eh mogok nuntasin skripsi. Akhirnya, tiba-tiba semangat 45 pun muncul dalam diriku dan kugenjot penyelesaian skripsiku hingga akhirnya pada tahun 1997 aku lulus dan diwisuda. Aku percaya, Allah akan membuka jalan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Meskipun tidak berhasil, aku tidak jemu-jemu mengkopi dan melegalisir, dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. Berkali-kali aku gagal dalam melamar pekerjaan hingga akhirnya aku bertemu jodoh dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan menikah. Saat anakku menginjak usia dua tahun, aku diterima sebagai PNS di sebuah lembaga penelitian bahasa dan ditempatkan di Bandung. Di tempat inilah aku mendapatkan bekal yang lebih berharga dan tidak kudapatkan di bangku kuliah. Dengan kata lain, duni kerja telah mengembangkan hal-hal yang kudapat di bangku kuliah dan memperkaya hal-hal baru. Kemampuan menulisku jauh lebih meningkat di tempat ini. Alhamdulillah! Allah telah memberikan jalan yang terbaik bagiku.
Untuk teman-teman, tidak perlu merasa kecewa jika tidak dapat lolos dari lubang jarum UMPTN atau SMPTN. Kedua jalur masal itu bukan merupakan satu-satunya jalan untuk mengais sukses. Banyak jalan menuju Roma! Zaman internatan gini nggak perlu khawatir meraup jalan dan ribuan pilihan. Teman-teman bisa menelusuri situs sekolah-sekolah yang membuka jalur ikatan dinas. Lumayan dengan jalur itu, teman-teman bisa menimba ilmu dengan aman tanpa harus merogoh kocek besar. Namun, jangan lupa! Seleksi jalur tersebut sangat ketat dan berat. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa lolos. Adapula jalur yang menyuguhkan penggodokan minat dan sekaligus sebagai server lowongan kerja. Mengapa tidak! Banyak perguruan tinggi yang menyuguhkan program tersebut. Tidak sedikit lulusannya yang diterima di beberapa lembaga, baik swasta maupun negeri. Jalur apa pun yang teman-teman pilih dapat dijadikan sebagai pintu gerbang menuju sukses, selama senantiasa diiringi dengan kesungguhan, konsistensi tinggi, dan kemandirian yang lumayan besar. Dunia kerja itu keras, perlu mental baja. Kita harus memupuk ketahanan mental sejak duduk di bangku kuliah. Sedapat mungkin, kita bisa melakukan hal-hal lain di luar bangku kuliah. Eskul dan kerja sambilan juga dapat kita lakukan sebagai pelatihan pengembangan diri selama bisa diseimbangkan dengan jadwal perkuliahan kita.
Bukan tidak mungkin tanpa sempat mengikuti jalur UMPTN pun kita dapat meraup sukses. Banyak pengusaha sukses tanpa sempat mengenyam pendidikan di peguruan tinggi. Mereka mengembangkan diri melalui jalur dunia maya. Bakat yang terasah dengan baik disertai teknik marketing tinggi serta jaringan relasi yang seluas-luasnya justru menjadi pendongkrak kehidupan mereka. Mereka bisa hidup dengan mapan di usia yang masih muda.
Jalur masal seperti UMPTN atau SMPTN bukan satu-satunya jalan menuju sukses. Jika kelolosan tidak berpaling kepada kita, teman-teman tidak perlu khawatir dan takut untuk menceburkan diri ke dalam jalur alternatif. Siapa tahu, jalur alternatif yang terkadang kurang dilirik orang dan dianggap sepele bisa menjadi jalan penghantar menuju gerbang kesuksesan. Yang penting, teman-teman memiliki kemampuan yang dalam untuk mengenal diri sendiri. Ya, itu penting karena mengenal diri sendiri dapat menjadikan teman-teman peka terhadap segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri sendiri. Nah, dengan mengenal hal-hal seperti itu, selanjutnya, teman-teman dapat mengukur diri. Dengan kemampuan atau kelebihan serta kekurangan yang ada dalam diri kita, apakah kita bisa mengembangkan hal itu di bangku kuliah yang lumayan lama? Jika tidak, bukan lebih baik kita segera mengasah kelebihan kita di tempat yang lebih menyuguhan penggodokan praktis daripada teoretis? Menentukan ukuran kemampuan pun perlu dilakukan untuk melakukan langkah selanjutnya. Setelah kita merasa yakin dengan ukuran yang kita miliki, teman-teman pun harus cermat memilih jalan yang tepat. Jika sudah mendapatkan pilihan jalan yang tepat, teman-teman tidak berarti ongkang-ongkang kaki. Tidak! Tidak sama sekali! Jika sudah memiliki tempat penggodokan minat yang jelas, teman-teman wajib melakukan pengembangan diri sambil memupuk kemandirian. Jadikan waktu yang berharga ini sebagai sarana untuk menentukan langkah Anda pascakeluar dari tempat penggodogan ini. Jadikan langkah yang teman-teman pilih sebagai jalan untuk meraup sukses. Jangan lupa pula bahwa kesuksesan itu tidak akan teman-teman dapatkan dengan sendirinya. Dukungan dari lingkungan sekitar pun sangat mendukung. Well, baik-baiklah dengan lingkungan sekitar dan mohon doa restu kepada mereka agar jalan kita di depan lulus, mulu, dan halus.
Selamat menuai sukses, teman-teman, meski tak harus lolos ke dalam lubang jarum UMPTN atau SMPTN! Ingat pepatah: Banyak jalan menuju Roma! Masih banyak lubang jarum yang bisa meloloskan hidup kita menjadi harum! Masih banyak wadah yang bisa membuat bakat kita menjadi tertadah! Masih banyak ayunan yang mampu menggoyangkan kita punya kemampuan! Masih banyak petak yang akan mengasah kita punya otak! Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya sengsara terkecuali umat-Nya itu sendiri yang enggan berusaha. Wallahualam bissawwab.




BIODATA
Nama : Resti Nurfaidah, S.S.
Alamat : Jalan Pluto Utara II Nomor 28
Bandung 40286
Pos-el : neneng_resti@yahoo.co.id
goresan_penaku@yahoo.com
Blog : cahayapenaku.blogspot.com
Telp & hp : 022-7560679
: 08156275203


25 Agu 2009

SEMINAR: ILMU & SILATURAHMI





SEMINAR: ILMU & SILATURAHMI


Banyak orang berpendapat bahwa menjadi pintar dalam waktu singkat adalah dengan menghadiri sebuah seminar. Kalau dikaji, benar juga sih pomeo itu! Kita bisa memetik buah pikiran para pemakalah yang pada umumnya berlatarbelakangkan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Peserta dapat pula bertanya pada pakar bidang ilmu tertentu dalam satu kesempatan yang sangat berharga.
Selain itu, seminar juga bisa dijadikan sebagai ajang eksibisi lain yang berawal dari silaturahmi. Tukar kartu nama, nomor telepon, email, facebook, cenderamata, dll bisa berujung pada ajang bisnis mutualisme. Banyak penulis yang juga memboyong buah karyanya dan dipajang dijual di meja pameran. Uppps seminar memang memperkaya kantung seseorang. Selain itu, seminar juga menjadi santapan orang-orang yang haus ilmu. Omzet gerai buku bisa didongkrak hebat dalam acara seperti ini.
Seminar bukan sekadar buah usaha panitia yang kasak-kusuk cari dana dan donatur ikhlas. Namun, seminar bisa dijadikan sebagai ajang untuk mengadu pikiran, mengasah kemampuan berbicara dan menulis, serta mengembangkan emosi ketika berhadapan dengan audiens yang mungkin lebih senior dan lebih mumpuni daripada kita.
Jangan sia-siakan diri untuk mendulang ilmu dan mendulang silaturahmi jika berada dalam sebuah seminar. Siapa tahu seminar akan membawa Anda ke jenjang kesuksesan.

SYUKUR





SYUKUR




Nuansa hijau yang menyiratkan kedamaian dan keasrian alam membuat hati ini reloa melepas kepenatan kehidupan kota. Nuansa hijau di perairan payau di sekitar pantai Batukaras, Pangandaran, menunjukkan kepada kita bahwa masih ada tempat yang tepat untuk perkawinan harmonis unsur alam. Pohon rami berbaris sesak di tepi muara menanti saat dipanen. Jenis tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Pohon tersebut berpadu asri dengan barisan pohon kelapa yang juga memberikan banyak manfaat kepada penduduk di kawasan wisata itu. Pohon yang dijadikan sebagai falsafah organisasi pramuka itu dapat dimanfaatkan seluruh bagiannya, dari akar samapai daunnya. Kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang terbuat dari batang pohon kelapa dengan atap yang juga dari jepitan daunnya. Jika kita dahaga, di kawasan wisata itu juga banyak tersedia penjaja es kelapa muda.
Allah tidak menciptakan segala sesuatu di jagat raya ini dengan tanpa guna. Semua pasti diberkahi dengan manfaat. Salah satunya tetumbuhan yang ada di tepian muara dan di kawasan pantai ini. Sudah seharusnya, penduduk di kawasan ini bersujud dan mengucap syukur kepada Sang Khalik. Peristiwa tsunami kemarin yang melanda kawasan ini sudah selayaknya dijadikan sebagai cambuk peringatan atas segala kekhilafan yang telah diperbuat mereka. Penduduk yang kebanyakan menggantungkan hidupnya dari sektor wisata tersebut tidak lantas terlena dengan budaya materi pariwisata. Uang bukan segalanya dalam hidup ini. Kemajuan di bidang perekonomian harus diiringi dengan penebalan aqidah agar tidak terseret arus keimanan yang menyesatkan. Pariwisata bisa dijadikan sebagai ladang ekonomi, ladang sosial, ladang komunikasi, dan ladang aqidah. Semua bergantung pada pelaku pariwisata itu sendiri.

Ya, Allah betapa kami kerap diselimuti kealpaan
Atas segala keindahan dan kemakmuran yang kau berikan
Atas segala kemudahan yang kau anugerahkan
Atas segala kekayaan yang kau limpahkan
Kepada kami

Tiada patut kami menolak
Bersujud rapat kepada Engkau
Panggilah kami tatkala kami alpa dari Engkau
Serulah kalbu kami ketika kami cenderung berpaling
Dari Engkau

Ampuni kami tiada henti
Seperti tiada hentinya deburan ombak di pantai ini
Curahi kami dengan hujan rahmatmu
Semudah kami menatap buih putih memecah diri
Di penghujung ombak

Tariklah diri kami ketika langkah kami
Tak lagi berpijak di gari-garis kebenaran-Mu
Seperti kuatnya arus di lautan
Menyeret kami ke dasar terdalam
Tiada yang memiliki kemampuan membenarkan diri kami
Selain Engkau


Bandung, 22 Agustus 2009

UPACARA




UPACARA



U saha tanpa imbalan

P enghormatan kami padanya

A nak-anak bangsa yang telah berjuang

C inta tanah air

A kta kemerdekaan telah ditangan

R efleksi buah perjuangan

A ndalan bangsa yang tak pernah menuntut jasa pertempuran

LAUTAN KESERAKAHAN





LAUTAN KESERAKAHAN


Mengapa manusia tak pernah
Berhenti berkaca
Dari peristiwa yang pernah terjadi
Pada masa yang lalu
Manusia-manusia serakah
Binasa sia-sia

Mengapa manusia
Tidak bisa mendengar
Jerit tangisan pilu
Manusia lain yang tak berdaya
Menatap datangnya
Lautan yang tak terduga

Sayang, lautan itu
Bukan tempat tujuan wisata
Yang bisa dinikmati
Dengan luapan kegembiraan
Lautan itu lebih
Merupakan hutan lumpur
Berbau gas tengik

Mengapa manusia tidak pernah
Memahami batas-batas alam
Demi sebuah ambisi
Bayangan Firaun
Menggayut di pelupuk mata
Sidoarjo

Uhhh, kuku tajam itu
Terlalu dalam mencengkeram
Perut bumi tiada daya
Hancur ia
Luluh binasa

Tangis sang bumi
Bukan tangis biasa
Tangis sang bumi
Tangisan derita
Tangisan siksa jelata

Lautan itu kian meluas saja
Bertangkuk-tangkuk punggung gunung
Mengubah bentuk
Menjadi dinding pengaman
Dinding … yang takkan pernah aman


Mengapa manusia di atas sana
Tidak peduli
Nasib kaumnya yang kini cemas
Takut dan depresi
Hilang harta
Hilang keluarga

Tunggul-tunggul mesjid
Tak lagi berkumandang azan
Tunggul-tunggul pabrik
Tak lagi menyanyikan
Lagu derik suara bising mesin

Kehidupan itu mati
Keceriaan itu hilang
Kebahagiaan itu telah lenyap
Kedamaian itu punah
Kehangatan itu beku

Tiada lagi cahaya
Berpendar dari lampu taman
Tiada lagi canda
Penjaga malam
Tiada lagi senandung
Nyanyian tidur malam

Gejolak perut bumi
Masih bergolak
Melempar laut
Menyembur amarah
Mengepul sesak
Takkan pernah berakhir

TEKUN





TEKUN

Seorang anak lelaki kecil bersendal jepit berlari dari tempat penginapannya ke arah pantai timur. Ia ingin menatap mentari pagi. Ufff, ia merasa kecewa ketika dilihatnya mentari bersembunyi di balik selimut mega kelabu. Si anak tidak mengetahui bahwa mentari pun sebenarnya sedang berjuang dari ikatan kuat rantai sang mega. Mentari ingin menyapa anak itu. Anak itu menatap lama ke arah bayangan mentari. Karena kecewa, anak itu menundukkan kepalanya dan berjalan di sepanjang tangga beton penahan gelombang di pantai itu.
Tiba-tiba, kedua matnya tertuju pada satu gerakan makhluk hidup yang bermain petak umpet di balik bebatuan penghalang gelombang. Kedua kaki lincahnya melompat ke kiri dan ke kanan menghindari celah batu. Sesekali badannya membungkuk. Mata tajamnya menelusuri di sebalik batu. Dilihatnya sesekali kaki-kaki makhluk yang membuatnya penasaran itu. Kepiting! Secepat kilat tangannya menyambar selembar plastik bekas pembungkus makanan yang dibuang sembarang, lalu dijimpitnya kepala kepiting. Ciiiuuuttt!!! Kepiting itu menang kali ini. Makhluk berkaki banyak itu segera melarikan diri. ‘Selamat!’ ujar kepiting tersenyum.
Si anak lagi-lagi dilanda kecewa. Ia berjalan, sesekali melompati batu. Sesekali mulutnya berseru, “Kepiting!” Ia menyerbu dan memburu kepiting itu. Lagi-lagi gagal! Si anak kecewa. Kepiting lain yang selamat itu pun tersenyum menang. Si anak melirik ke sekitarnya. Dilihatnya sebuah ranting kayu tergeletak di atas bebatuan. Ia melompati beberapa batu dan meraih ranting itu. Tubuhnya sesekali dibungkukkan lagi untuk memastikan ada tidaknya makhluk yang sedang diburu itu bersembunyi atau bertapa di balik batu. Ranting itu digores-goresnya ke balik batu untuk mengusir kepiting. “Kali aja kepitingnya mau keluar! Akan aku tangkap!” ujar si anak dalam hati.
Sesekali rantingnya tersangkut sampah di balik batu. Disingkirkannya sampah itu dari ujung ranting. Digosok-gosokkan lagi ujung ranting ke batu yang lain, sampai akhirnya ia mendapati seekor kepiting berukuran sedang berlari dari tempat persembunyiannya. Dikejarnya kepiting itu. Ditahannya makhluk yang ketakutan itu dengan ujung rantingnya agar arah pelariannya tidak jauh dari jangkauannya. Kepiting itu berusaha ditangkapnya. Lagi-lagi, ia gagal. Kepiting itu menelusup ke balik batu dan bersembunyi di tempat yang lebih dalam dan aman. Huuuuuuuffff!!! Kepiting itu menghembuskan nafas leganya. Dadanya sesak karena tadi ia berlari kencang.
Si anak dengan perasaan kecewa pergi ke bagian bebatuan penahan ombak lainnya. Kini pandangannya lebih luas lagi. Diliriknya sang mentari telah naik ke atas langit. Sementara itu, sang mega tampak tercerai berai karena amukan mentari. Si anak tidak begitu gembira dengan sapaan benda ciptaan Tuhan yang tadi sangat ditungu-tunggunya. Matanya, sejurus kemudian, kembali mengarah pada gerakan kepiting lain. “Sepertinya kepiting kecil!” gumamnya. Ia melompat ke kiri dan ke kanan. Ujung ranting ia arahkan ke tempat gerakan tadi. Uppppsss, seekor kepiting kecil, seperti yang ia sempat duga sebelumnya, muncul ke permukaan batu. Kepiting itu ingin melarikan diri. Si anak yang lincah itu segera menyambar selembar sampah plastik di dekatnya dan menahan laju pelarian si kepiting dengan ujung rantingnya. Gotcha!!!!! Kepiting itu masuk perangkap jepitannya. Makhluk kecil itu meronta sekuat tenaga. Ia ingin melepaskan dirinya. Sayang, cengkeraman si anak terlalu kuat.
Ranting penolong dilemparkan si anak begitu saja ke atas batu. Si anak kini sibuk mencari wadah untuk tempat hasil buruannya. Girang tiada terkira terpancar dari wajah si anak. Usaha dan tekad kuatnya untuk berburu kepiting membuahkan hasil. Perjuangannya tidak sia-sia. Didapatinya sebuah gelas plastik bekas minuman yang tergeletak di celah batu. Dibuangnya sisa air bandrek dari dalam gelas itu. Tuuuuukkkkk!!! Kepiting pun mendarat manis di dasar gelas. Makhluk kecil itu masih meronta hebat di dalam gelas. Apa daya, bahan dasar gelas itu licin. Usahanya untuk melarikan diri sia-sia. Selembar plastik diletakkan di mulut gelas. Matanya menelusuri sekitar. Dilihatnya sebuah karet gelang usang. Diambilnya benda itu dan diikatkan di sekeliling mulut gelas. Dilihatnya bekat pipa sedotan minuman dan diambilnya. Ditusuk-tusukannya beberapa kali permukaan plastik tadi. Ia tidak ingin membiarkan makhluk kecil hasil buruannya mati lemas. Beberapa lubang mempersilakan udara mengisi ruang gelas itu.
Kedua kaki bersandal jepit itu melompat girang meninggalkan bebatuan di pantai timur itu. Si anak melompat riang tiada henti hingga pintu penginapan. Ia ingin memperlihatkan hasil buruannya itu kepada ayah-ibunya. Sesekali gelas itu didekatkan ke wajahnya. Ditatapnya makhluk kecil yang kini lumayan pasrah itu. Senyum mengembang lebar di wajahnya. “Hmmmm … akulah pemburu kepiting terhebat di dunia ini!” ujarnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu berkali-kali. Sesekali mulutnya berteriak, “Buu … buuu … buuu!!!” Ketukan itu baru terhenti setelah seorang wanita membukakan pintu untuknya. Tanpa sempat mengucapkan salam, si anak berteriak riang dan lantang, “Buuu … lihat aku dapat kepiting!” Diangkatnya gelas berisi kepiting itu setinggi-tingginya agar ibunya dapat melihat hasil buruannya itu.

24 Agu 2009

SEMBURAT JINGGA MENTARI




SEMBURAT JINGGA MENTARI

Saat itu masih pagi, beberapa putaran jam yang lalu mentari malu-malu menampakkan diri di ufuk timur. Ahh, mentari memang pemalu pada awal kebangkitannya. Namun, ia akan berangsur-angsur berubah menjadi garang di tengah hari. Lihat! Bulatan bola emas ciptaan Tuhan tampak begitu sempurna. Ia biarkan laut menikmati keindahan warnanya. Gurat lebar bayangan berwarna emas seolah menunjukkan jalur tetap sang mentari agar tidak tersesat menyimpang menyusuri jalur orbit.

Semula, awan berupaya membungkus si bola emas agar ia tidak memberikan tariannya pada dunia. Mentari sangat tersiksa dengan balutan erat sang mega. Sementara di bawah sana makhluk bumi merasa sangat sedih karena tidak sempat menyaksikan tarian indah sang mentari. Mentari berontak karena tarian itu harus ia tunjukkan dengan pongah kepada barisan penggemarnya. Ia berhasil melepaskan ringkusan sang mega yang sebenarnya sangat iri kepadanya. Ya, mega tidak punya cahaya. Ia hanya memiliki butir air di tubuhnya. Ia ingin meminta sebagian kecil semburat cahayanya agar ia tidak terlalu gelap. Tentu saja, mentari enggan membagi kekayaannya itu. Ia tidaksang mega memiliki sejumput cahayanya. Mentari tidak rela jika nanti sang mega enggan menampug uap air bumi dan berlomba menyorotkan cahaya ke muka bumi. Uffff, pasti bumi akan kepanasan!!!

“Tidak!! Pekiknya. Aku tidak rela membagi cahayaku kepadanya. Laut pun hanya kuberikan bayanganku saja karena ia berjanji memantulkan keindahanku di atas permukaannya. Laut tidak menolak hal itu meskipun semula ia ingin memiliki cahayaku juga. Kukatakan padanya bahwa jika ia memiliki sekeping cahayaku, ia akan kehilangan semua penghuni lautan. Wajahnya akan mendidih. Laut sangat mencintai seisi perutnya. Ia rela mengalah demi kehidupan banyak nyawa dan menyisihkan ambisinya untuk memiliki sahaya seperti bintang di langit,” gumam mentari dalam hati.

Mentari berontak hebat. Gembok ketat sang mega hancur berantakkan. Mega terkejut tidak pernah menduga melihat perjuangan mentari sehebat itu. Mentari melompat mengitari orbit. Membuka selimut malam yang kelam. Menggores bayangan indah di raut wajah sahabatnya, lautan. Ahhh, penduduk bumi menyambut diriku. Haii, lihat itu speed boat terikat rapi di dekat dermaga yang dibangun darurat di atas penahan gelombang. Ya, lihat bebatuan itu tampak jelas menumpuk rapi meredam amukan gelombang pasang samudera di selatan muka bumi. Tampak beberapa kepiting berlari sembunyi di bebatuan hitam itu. lagi-lagi kepiting nggak pernah mau mengahangatkan dirinya dengan balutan sinar hangatku.

Ahh, tampak seorang wanita bergaya di depanku. Hmmm … ia sengaja ingin menonjolkan diriku dalam foto yang diambilnya. Ia membiarkan dirinya menghitam dan tampak sebagai sebuah siluet gelap dalam sebuah gambar yang indah. Langit tampak indah terang benderang. Keindahan itu tampak berpadu harmonis dengan gurat keabuan wajah tua sang lautan. Tampak bayanganku jelas terhampar di belakang wanita yang sedang berpose itu. Ahh, bumi seakan memiliki dua mentari. Mentari yang tiada pernah enggan membagi cahaya pada dunia. Akankah keharmonisan ini berjalan selamanya?

SANG FAJAR






Inilah sang fajar
Generator kehidupan manusia
Penanda masa aktif kebanyakan manusia
Pemicu curahan rezeki Illahi



SANG FAJAR


Sinar sang fajar
Kerap dinanti
Demi estetika
Atau komunika

Sang fajar
Layak menjadi tumpuan
Bagi segelintir manusia
Sebagai penanda untuk kembali
Sang fajar
Senantiasa menjadi pengharapan
Bagi sekelompok manusia
Demi menanggung beban derita

REUNI




REUNI

Ini kisah temu kangen angkatan ’67 Institut Teknologi Tekstil di Surabaya. Pertemuan yang entah ke berapa kalinya dilakukan untuk mempererat talisilaturahim di antara lulusan sebuah istitusi pendidikan yang kini bernama Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil itu. Rasa rindu kali ini terpuaskan selama beberapa jam acara berlangsung. Sementara rombongan dari Bandung sudah berpuas diri sebelumnya karena semalam sebelumnya kita sudah berhaha-hihi selama dalam perjalanan dengan kereta api dari Bandung. Sayang, tidak semua anggota alumni dapat mengikuti acara ini karena berbagai hal.
Reuni bermakna bersatu kembali dan melepaskan rindu setelah lama berpisah. Reuni ini digalakkan untuk menggalang hubungan silaturahmi antar sesama anggota terutama jika ada anggota yang mengalami kesulitan. Well, senyum yang tampak dalam gambar adalah senyum kegembiraan atas acara tatap muka di antara mereka. Akan tetapi, senyum itu bisa jadi merupakan buntut kesedihan karena besok kita harus berpisah. Ya, setiap pertemuan senantiasa diiringi dengan bayangan perpisahan yang akan menggores gurat sedih di dalam kalbu.
Reuni layak digalakkan sebagai penggalang hubungan sosial antar sesama. Akan tetapi, reuni tidak layak diselenggarakan untuk saling pamer kedudukan dan aspek materi lainnya. Bukan tidak sedikit manusia menjadi frustasi dan cenderung untuk mengundurkan diri dari lingkup pergaulan teman-teman sejawatnya hanya karena merasa
‘lebih tidak apa-apa” daripada temannya yang lain. Kesenjangan yang terlampau jauh bisa memicu bibit frustasi dalam diri seseorang apabila ia tidak dibekali dengan dinding mental yang tebal. Manusia tidak akan berada di atas puncak gunung prestasi selamanya, beberapa orang pasti akan terjungkal di kaki bukit. Nasib manusia tidak sama, ada yang berhasil dan ada pula yang tidak. Anggota kelompok yang belum berhasil sudah selayaknya diberi bantuan tanpa meninggalkan kemampuan atau potensi dalam dirinya. Memberikan bantuan sepenuhnya bukan tidak mungkin justru akan mematikan kesempatan mengembangkan dirinya.



Reuni layaknya obat mujarab
Sebuah jawab
Pemuas dahaga ikatan
yang mungkin hampir rapuh
tangis tawa hadir silih berganti
singkirkan penat di hati
reuni layak dibawa dalam hati
hingga akhir nanti

PERAHU PENOPANG HIDUP


PERAHU PENOPANG HIDUP


Perahu dalam gambar itu merupakan salah satu dari puluhan perahu yang berbaris di tepi sungai payau kawasan wisata Green Canyon. Hiiik … hiiiik … masih ada yang terpeleset dengan nama kawasan itu. Nah, mereka yang terpeleset pasti menyebutnya Grand Canyon, sebuah lembah hasill pahatan proses alam yang luar biasa indahnya. Eh, jangan salah, tuh, kalau Green Canyon juga nggak kalah indah sama icon pariwisata Amerika itu.
Green Canyon memiliki aset yang selaras dengan nama itu. Jika kita menelusuri Green Canyon tersebut, mata kita akan tertuju pada barisan dinding warna hijau di sisi kiri dan kanan sungai payau. Eitt, jangan salah duga, ya, kalau dinding yang kumaksud seperti dinding rumah! Bukan! Dinding yang kumaksud adalah tebing sepanjang sungai itu yang sarat ditumbuhi aneka pepohonan. Mata kita yang sudah sumpek dengan kehidupan kota, terasa damai tatkala memandang pemandangan hijau itu. Tidak jarang kita temuka biawak berbagai ukuran sedang bertengger di tepi sungai sambil berteduh dari terpaan sinar matahari.
Seperti halnya proses erosi alami, tebing yang berbaris di sepanjang sungai itu bentuknya menonjol di tengah. Sementara bagian bawah yang tersentuh air menjorok ke dalam karena sering tergerus air sungai. Ada satu pemandangan unik yang kita dapatkan pada bagian tebing itu. Bagian tebing yang terkena air itu sarat lubang kecil yang diameternya seukuran lilin. Selintas, bagian tersebut seperti sarang lebah. Kemungkinan besar lubang-lubang itu juga menjadi tempat berlindung beberapa makhluk payau, seperti udang, ikan kecil, atau kepiting.
Kalau kita ingin menjajal kawasan Green Canyon, kita harus menyewa perahu senilai Rp.70.000,00/perahu. Jumlah penumpang yang dapat diangkut perahu itu sebanyak lima orang dewasa. Perahu-perahu yang ada di kawasan tersebut memiliki nama sendiri, seperti Sumber Rezeki, Rahayu, dsb. Bagian dalam perahu hampir semuanya dicat dengan warna biru cerah. Kita tidak perlu merasa khawatir jika naik perahu tersebut karena dua awak perahu akan mengawal kita. Satu orang duduk di ujung terdepan, tugasnya mengendalikan perahu dengan sebuah dayung. Sementara itu, satu orang lagi duduk di bagian belakang bertugas mengendalikan perahu dari belakang sekaligus operator mesin.
Mesin dijalankan dengan kecepatan penuh selama perjalanan. Namun menjelang sampai ke bagian hulu sungai, mesin dikurangi kecepatannya bahkan dimatikan ketika tiba di bagian hulu. Perahu pada bagian hulu memadat di sekitar batu besar alam yang berfungsi sebagai pengatur aliran sungai. Untuk sampai ke atas batu itu, kita harus melalui satu-dua perahu yang disewa oleh orang lain.
Di atas sebuah batu karang yang permukaannya juga berlubang di sana-sini, sudah banyak wisatawan yang lebih dulu tiba di sana. Sebagian wisatawan memilih untuk berdiam di atas batu. Tujuan mereka tidak lain untuk berfoto ria, hanya sekadar ingin tahu, atau menunggu kerabat/teman yang sedang berenang. Ya, tukang perahu tadi bisa merangkap sebagai watertour guide yang memandu pengunjung yang ingin berenang ke hulu sungai, yang katanya sering dijadikan sebagai tempat pembuatan film.
Berenang menuju hulu memerlukan perjuangan besar karena kita harus melawan arus sungai yang lumayan deras. Bagian dasar sungai dipenuhi bongkahan batu karang yang sebagian besar permukaannya berlubang. Di bagian hulu sungai itu terdapat sebuah cekungan alami yang kerapkali dijadikan sebagai tempat bertuah yang airnya dianggap sebagai obat awet muda. Untuk kembali ke batu tadi, wisatawan tidak perlu menguras tenaga karena tubuh kita dibantu dengan pelampung yang telah tersedia di dalam setiap perahu. Pelampung itu disewakan secara pribadi oleh awak perahu senilai Rp.10.000,00/buah.
Sementara penumpang berenang, perahu yang kita sewa akan setia menanti sampai mereka kembali dari bagian hulu sungai. Setelah itu, kita akan diantar kembali ke dermaga. Jika kita amati, harga yang ditawarkan oleh awak perahu itu tergolong murah. Kita bisa menyewanya lebih dari satu jam dari dan ke dermaga. Kita bisa berlama-lama berada di atas batu atau di bagian hulu bagi yang berminat untuk berenang.
Perahu itu merupakan salah satu sumber penghasil lembaran uang bagi para pengelolanya. Perahu sewaan itu merupakan imbas atas dibukanya kawasan green canyon sebagai tempat tujuan wisata di kawasan wisata terpadu, Pangandaran. Pariwisata senantiasa dikaitkan dengan derasnya perolehan penghasilan bagi penduduk di sekitarnya. Hal itu dapat kita saksikan sendiri jika kita berada di salah satu tempat wisata. Salah satunya di Pangandaran. Kita bisa mengamati bahwa pundit-pundi uang dapat diraih penduduk sekitar dengan berbagai produk wisata, seperti menjual oleh-oleh terutama produk laut, menyewakan penginapan, penjaja kuliner atau souvenir, penyewaan alat transportasi, atau sekadar sebagai panti pijat. Meskipun demikian, pariwisata juga tidak pernah terlepas dari hujan rezeki yang berbau erotis. Kita dapat menyaksikan sendiri betapa maraknya ‘bidadari malam’ berkeliaran di sepanjang pantai, aneka klub malam, atau bahkan mafia laut yang menjajakan barang-barang ‘ilegal’.
Pariwisata dapat kita jadikan sebagai pintu rezeki baik yang halal maupun yang haram. Semua bergantung kepada diri sendiri. Tentu, menyewakan perahu merupakan salah satu lahan pencari nafkah yang halal dan sangat urgen di kawasan wisata bahari seperti Pangandaran. Perahu dan air telah lama menjalin simbiosis mutualisme. Di mana ada air, di situ ada perahu.
Penghasilan sebagai awak perahu atau pengelola penyewaan perahu dapat dijadikan sebagai sandaran pendongkrak kehidupan. Sayangnya, kasus langkanya bahan bakar turut memotong volume penghasilan mereka. Perhatian pemerintah sangat diperlukan oleh pengelola perahu tersebut untuk menopang jalannya kehidupan kepariwisataan di kawasan yang menjadi salah satu tujuan wisata utama di kawasan Jawa Barat selatan itu. Apa iya wisatawan harus bersusah payah berenang sejauh beberapa kilometer untuk mencapai hulu sungai di Green Canyon hanya karena mesin perahu tidak bisa minum bahan bakar?

PENGIBAR BENDERA


PENGIBAR BENDERA

“Bendera Siaaap!”
Lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya berkumandang.
Bendera merah putih bukan sekadar dua lembar
Kain yang dipagut benang rapi.
Bendera merah putih buah perjuangan barisan pejuang
Bangsa

Pengibar bendera
Menanggung beban tidak sampai
Membuatmu terbalik
Atau terjalin saat dibentangkan
Tidak sampai membuatmu jatuh
Sampai menyentuh tanah.

Petugas bendera berjalan tegap
hingga beberapa jarak
tepat di muka tiang
mengaitmu pada simpulan
hingga mengantarkanmu pada dunia
menebar berita hari besar bangsa kita

OMBAKKU SAYANG OMBAKKU MALANG





OMBAKKU SAYANG
OMBAKKU MALANG




Lihatlah buih putih
Penebar ajakan
Penarik minat
Manusia-manusia haus hiburan

Dengarlah bunyi deburan ombak
Memukul deras bibi pantai
Menghabisi birunya indah warna laut
Menjalin irama tak berkesudahan

Pandanglah manusia
Bergerak tiada henti
Di bibir pantai
Mengejar ombak
Menantang gelombang

Rindu mereka terpuaskan
Rindu menjadi dunia kecil
Bermain tanpa batas
Meski mata-mata menatap
Dari segala sisi

Ombakku sayang
Ombakku malang
Tiada pernah kau
Stabilkan emosimu
Kepada pendatang

Jika hatimu senang
Kau sambut kami
Dengan pukulan buihmu
Basuh tubuh kami
Seperti guyuran air gayung

Jika hatimu enggan
Tak ada senyum
Dalam usapan gelombang
Kau hisap kami
Hingga tak berdaya
Jauh ke dalam pasirmu

Di kejauhan
Engaku berbaik hati
Kepada perahu nelayan
Kau bantu dia
Menari dengan indah
Di atas tubuhmu

Ombakku sayang
Ombakku malang
Tiada pernah kau tertidur
Menghentikan suara gerammu
Di atas bibir pantai

Ombakku sayang
Ombakku malang
Kau sering jadi tertuduh
Jika kami celaka
Tapi tak pernah kau jadi pahlawan
Jika kami selamat

Ombakku sayang
Ombakku malang
Jangan pernah kauhentikan
Tarian buih putihmu itu
Jangan pernah kauhentikan
Ayunan gelombangmu itu

Kita selalu rindu
Rindu padamu
Rindu pada masa kecil
Rindu menjadi anak kecil
Rindu … rindu tak berbalas

MENDULANG ILMU MENDULANG SILATURAHMI




MENDULANG ILMU MENDULANG SILATURAHMI

Senyum di dalam foto itu merupakan akhir dari kepenatan setelah mengikuti kegiatan penulisan novel anak yang diadaptasi dari skenario film. Kelas penulisan ini merupakan kelas kecil, hanya terdiri dari tujuh peserta dari sepuluh peserta yang telah memdaftarkan diri, Mbak Titi, Mbak Erna, Mbak Ratih, Mbak Dina, Mbak Eka, Mas Hadi, dan Mas Krisna. Kelas penulisan ini menghadirkan dua pembicara yang pernah mendapatkan order menulis novel adaptasi, Mas Benny (penulis novel prekuel, Mimpi Sang Garuda) dan Mas Iwok (penulis novel King).
Kedua penutur itu memberikan hal-hal baru yang sangat berharga bagi kami semua. Semula kami menganggap mentransformasi skenario ke novel merupakan pekerjaan yang mudah. Ternyata tidak demikian, penulis harus bisa menempatkan bagian-bagian skenario yang tercerai-berai. Belum lagi tenggat waktu yang disediakan begitu pendeknya, sekitar satu minggu menjelang peluncuran film dengan judul yang sama. Novel tersebut juga akan diluncurkan secara bersamaan. Duuuh, beratnya! Tenggat waktunya itu! Belum lagi komunikasi yang harus terjalin dengan pihak produser yang bisa menguras pulsa kita. Pokoknya inti yang kita dapatkan dari kedua narasumber adalah kesiapan mental dan fisik kita sepenuhnya. Selain itu, keyakinan tinggi harus kita benamkan dalam-dalam di dasar kalbu agar kita tidak tersandung putus asa.
Kelas penulisan tersebut selain sebagai sarana pendulang ilmu yang akurat, juga merupakan sarana untuk menyambung tali silaturahmi, baik dengan narasumber maupun dengan sesame peserta. Kebetulan nih kelas kecil jadi dengan mudah mengenal satu sama lain. Koordinator acara ini, Mas Ali juga mengatakan bahwa kelas kecil lebih akurat karena setiap peserta dapat lebih terawasi dan lebih leluasa untuk mengembangkan dirinya selama di dalam kelas.





PUISI ILMU
ilmu laksana air mengalir
tak pernah berhenti mengalir
hingga ke titik terendah di muka bumi

ilmu laksana api abadi di sebuah obor
yang tak kan menyala
sampai bahan bakarnya habis

ilmu laksana pergantian siang dan malam
tak pernah terputus
hingga akhir zaman

ilmu laksana gerbang seribu jalan
sarat tawaran indah
dari setiap pilihan

ilmu laksana perjalanan waktu
terus bergulir
hingga tiba pada ketentuan Sang Khalik ilmu laksana jalan
bisa dilalui dengan waktu singkat
bisa dilalui dalam tempo yang cukup melelahkan

ilmu tidak mungkin dibendung
ia akan tumpah seperti air bah
siap menghantam … menerjang apa siapa pun yang merintanginya

ilmu laksana tali
mampu mengikat hati manusia dengan sesama
dengan musuh-musuhnya
dalam simpul keabadian

ilmu hanyalah satu titipan Illahi
patut kita telan
patut kita telaah
dan … patut kita hadapkan kepada Illahi

Awal Ramadhan 1430 H
Bandung dalam balut dinginnya, 22 Agustus 2009

MELINTASI SURAMADU






MELINTASI SURAMADU



“Ayah, katanya jembatan Suramadu dah jadi, Yah?” tanya Anto kepada ayahnya.
Ayah yang sedang asyik membaca surat kabar menangkupkan kedua tangannya. Dipandangnya anak sulungnya itu dengan sorot mata yang ramah sambil berkata, “Ya, Nak, jembatan itu sudah jadi. Dah diresmikan sama Presiden.”
“Mmmm, kalau begitu kita bisa kesana kan, Yah?” tanya Anto lagi.
Dari kejauhan terdengar suara Anti, adik Anto, berlari mendekati mereka. Rupanya ia mendengar percakapan antara ayah dan kakaknya itu. “Yah, Anti juga mau ikut, Yah!” seru Anti. Ayah tersenyum sambil menyambut Anti dan mendudukkan anak bungsunya itu dipangkuannya. “Ya, ya, tentu saja, kamu boleh ikut, Nduk.” “Asyikkkk!” ujar Anti.
“Ya, nanti hari Minggu pagi kita pergi ke Suramadu, ya, bersama ibu,” ujar ayah.
“Horreeee!” Anto dan Anti bersorak gembira.
“Tapi jangan lupa bawa bekal makanan, ya?” tanya Anti kepada ayahnya.
“Ya, nanti itu … itu urusan ibu,” ujar ayah. Tiba-tiba mereka mendengar suara rem becak berhenti di depan rumah. Tampak ibu turun sambil membawa dua kantung plastik belanjaan. Ibu baru saja pulang dari pasar. Anti dan Anto menyambut kedatangan ibu mereka.
“Bu, kata Ayah, kita nanti akan ke Suramadu hari Minggu!” ujar Anto.
“Iya, Bu, bawa bekal, ya, Bu! Anti takut lapar!” ujar Anti menimpali.
Ibu tersenyum mendengar celotehan anaknya sambil berkata, “Oh, begitu. Ibu baru tahu, nih. Ya, deh, nanti kita bawa bekal buat Anti yang suka makan!”
Anti dan Anto berebut membawakan kantung belanjaan ibu. Mereka berlari berlomba untukk lebih dulu mencapai dapur. Tentu saja, Anto yang menang karena badannya lebih tinggi dan kakinya lebih panjang. Anto tersenyum mengacungkan jempolnya ke wajah Anti sementara adiknya itu merengut sebal.
Minggu pagi tiba. Anti, Anto, Ibu, dan Ayah sudah siap di atas motor bebek merah yang akan membawa mereka ke Suramadu. Tidak lupa bekal makanan mereka tautkan di bagian depan. Anti duduk di depan sedangkan Anto duduk ditengah dijepit ayah dan ibunya. Sekitar hampir satu jam kemudian, mereka telah tiba di gerbang tol Suramadu. Setelah mengambil tiket, mereka melaju melintasi jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura itu. Ufff anginnya besar sekali. Jembatan itu rupanya terbagi atas empat jalur, dua jalur untuk pengendara sepeda motor dan dua jalur lain untuk pengendara mobil. Jembatan sepanjang 5,4 km itu dipagari dengan pagar baja kualitas tinggi di kedua sisinya. Sesekali polisi patroli telah bersiaga di menyusuri kedua jalur itu. Oh, ya, jalur untuk pengendara sepeda motor dan mobil juga dipisahkan dengan pagar baja yang sama. Pada jarak tertentu, pagar baja itu diberi warna oranye.
Beberapa rambu lalu lintas dipasang di kedua sisi jembatan itu. Anti dan Anto membaca rambu lalu lintas berbentuk bulat bergaris merah dengan tulisan 25, 40, dan 60. Mereka bergantian bertanya kepada ayahnya. Rambu tersebut adalah kecepatan minimum yang ditentukan bagi pengendara, baik sepeda motor maupun mobil. Di kiri dan kanan jembatan terhampar selat madura. Anto melihat banyak perahu nelayan yang ditambatkan di dermaga. Anti melihat pulau madura yang tampak kehijauan dari kejauhan. Sepanjang perjalanan melintasi jembatan itu, keduanya asyik berceloteh tentang segala hal yang mereka lihat di sana.
Jembatan itu menurun semakin mendekati pulau yang dikenal dengan hasil kerajinan ukiran dan batiknya itu. Setelah membayar tiket, ayah melanjutkan perjalanan. Rupanya banyak pedagang yang berjualan di sisi kiri dan kanan jalur menuju Bangkalan. Mereka beristirahat di salah satu pondok makan. Celoteh Anto dan Anti terdengar tiada henti. Mereka sangat mengagumi jembatan penghubung dua pulau itu. bahkan, dalam benak Anto terbayang berpuluh jembatan lain yang menghubungkan antarpulau di Indonesia. Wallaahualam!

LOMBA PIDATO



LOMBA PIDATO

Lomba ibarat sebuah wadah yang dapat diisi dengan segala jenis benda, seperti kelereng, permen, kue kering, mie baso, atau air. Lomba adalah wadah bagi para peserta yang tentu saja dalam jumlah yang sangat banyak untuk menyesaki rongga dalam wadah itu. Namun, untuk menjadi sesuatu yang terpilih, adakalanya kita harus mengaduk isi wadah itu lebih dulu. Dalam babak penyisihan, sebagai peserta kita akan menunjukkan kemampuan kita kepada hadirin, terutama dewan juri. Jurilah yang berhak mengaduk-aduk wadah lomba ini untuk memilih peserta yang dianggap layak maju pada babak selanjutnya. Saat yang menegangkan adalah ketika kita tiba pada saat untuk tampil ke mimbar dan ketika nama kita diumumkan.
Gambar itu menunjukkan senyum para juara yang telah selamat sampai pada tepian pesisir babak final di Jakarta. Peserta merupakan duta dari Region I (DKI) dan Refion II (Jawa dan Kalimantan) yang diselenggarakan di kota kembang. Senyum pemegang piala menandakan hilangnya ketegangan di wajah peserta. Selain itu, senyum juga dijadikan sebagai kamuflase untuk menutup kekecewaan karena tidak mendapatkan gelar juara. Namun, gelar juara, piala, dan hadiah tidak ada artinya jika kita tidak melakukan pengembangan diri selanjutnya. Menjadi juara bukan merupakan perhentian terakhir tanpa membuka diri terhadap upaya peningkatan diri lebih lanjut. Kita harus melekatkan keyakinan dalam-dalam bahwa kehidupan ini selalu berlapis. Langit pun berlapis-lapis. Kedalaman bumi pun berlapis-lapis pula. Prestasi makhluk hidup, terutama manusia, juga berlapis-lapis. Jika kita menjadi yang terbaik saat ini, tentu akan ada yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang atau bukan kemungkinan pada waktu yang bersamaan.
Batu intan tidak akan berharga tanpa gosokan dan sentuhan tangan ahli. Kilapnya tidak akan terpancar. Demikian pula dengan manusia. Manusia sebagai makhluk yang sempurna, dianugerahi Allah dengan segala benih kemampuan untuk bertahan hidup. Hanya saja, kemampuan itu baru akan muncul kepermukaan jika tersentuk oleh kondisi dan situasi. Bakat seseorang tidak akan tampak dan bermanfaat jika tidak digodok dalam lembaga dan oleh tangan ahli yang kompeten.
Situasi tertentu juga dapat memicu timbulkan kemampuan dan bakat seseorang. Kita lihat kehidupan manusia purba yang semula tidak bisa melakukan apa-apa, karena situasi yang menuntut upaya pertahanan diri, lambat laun kebudayaan mereka semakin maju. Jika semula kebudayaan mereka sarat dengan produk survival yang terbuat dari batu, lambat laun mereka pun mengenali produk-produk berbahan dasar logam.
Seorang atlet memerlukan waktu yang sangat panjang untuk mencapai prestasi gemilang baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Untuk menjadi orator yang baik, apalagi menjadi duta bagi salah satu organisasi masa yang bergerak di bidang pengembangan akhlak manusia, sponsor utama kegiatan lomba pidato tersebut, tidak cukup dengan mengasak kemampuan lahir. Kemampuan tidak kasat mata kita juga patut dibina, mulai dari hal-hal yang sepele, seperti sikap kita ketika mengamati orang lain yang sedang berbicara, sikap kita dalam menepati jadwal yang telah ditetapkan panitia, dsb. Orator yang baik harus mengenal kemampuan mengontrol emosi ketika berpidato, menghadapi audiens, serta memilih kata yang tepat yang dapat menggugah perhatian hadirin.

IRAMA LAUT





IRAMA LAUT


Ya Rabb tidak pernah sejengkal apa pun makhluk ciptaan-Mu tercipta tanpa satu irama.
Kepakkan sayap burung, deru tiupan angin, derak dahan patah, gemerisik tindihan dedaunan kering, riuh suara air hujan menabrak lempengan seng. Tidak, nada yang kau berikan kepada makhluk-Mu tiada pernah sumbang. Semua merdu mengalun membentuk berlembar-lembar komposisi harmonis sebuah partitur.

Ya, Rabb, tidak terkecuali lautan kau isi dengan air tidak berbatas. Kau jadikan angin menjadi sarana penghantar gelombang dan ombak menggaruk bibir pantai. Kau jadikan tarian ombak setinggi langit tatkala bulan menyapa sang malam.

20 Agu 2009

SURABAYA PENUH KENANGAN



SURABAYA PENUH KENANGAN


Jumat malam kami, rombongan Alumni ITT Angkatan ’67 dan beberapa keluarga, berangkat menuju Surabaya dengan menggunakan kereta api Turangga. Reuni ITT tahun ini akan diadakan di kediaman Ibu Irwasih dan Pak Anwar. Bbbbrrrrrrrrrrrrrr, udara dingin di dalam gerbong sangat menggigit. Selimut jatah penumpang tidak membuat kami bergelimang kehangatan.
Sekitar pukul 8 pagi, rombongan tiba di stasiun Gubeng. Kami dijemput tuan rumah dengan sebuah bus dan sebuah kijang. Sarapan yang telah bergeser waktunya itu dilakukan di kedai soto Pak Saidi. Setelah itu, kita dibawa ke tempat penginapan di kondominium Plaza Marina. Rombongan terbagi ke dalam beberapa kamar yang terletak di lantai 5 dan 6. Acara malam itu adalah acara pertemuan di kediaman Pak Anwar. Setelah itu, kita kembali ke Plaza Marina. Keesokkan harinya kita pergi ke Suramadu. Jembatan itu hanya berjarak 5,4 km. Sayang, pantai di sekitar jembatan tidak begitu indah. Pantai yang dilalui jembatan itu merupakan pantai nelayan yang agak berantakan. Setelah itu, kita meneruskan perjalanan ke sebuah pusat perbelanjaan di Madura. Rombongan yang kebanyakan ibu-ibu memborong batik khas Madura.
Ketua rombongan kami tiba-tiba menderita kram perut. Kami tidak jadi berkeliling di pulau Madura. Suramadu pun kami lalui untuk kedua kalinya. Setelah sampai di Surabaya, ketua rombongan berpindah ke dalam mobil kijang beserta istrinya. Sementara rombongan lain berganti dengan beberapa taksi karena bus yang kita tumpangi tiba-tiba rusak rem anginnya. Kebetulan saat itu merupakan puncak arus liburan sehingga sulit mendapatkan bus pengganti.
Malam hari, kami mendapatkan bis pengganti dan panitia menuntaskan rencana mengunjungi tempat wisata kuliner di Surabaya yang dikenal dengan nama Mini Singapura. Kebetulan pada saat itu sedang berlangsung food festival sehingga kita dapat dengan leluasa memilih jajanan yang kita sukai. Mini Singapura ditata menyerupai perumahan di Singapura yang dilengkapi dengan patung Merlion dan Raffles.
Keesokan harinya kita langsung bersiap diri untuk pergi ke Stasiun Gubeng. Rombongan akan kembali ke kota kembang dengan menggunakan kereta Argo Wilis. Kereta berangkat dari Surabaya pada jam 07.45 WIB dan tiba di Stasiun Bandung pada pukul 20.15 WIB.
Duuuhh, Oom Sukawi, kapan lagi ya bisa jalan-jalan lagi?

UPACARA AGUSTUSAN DI BALAI BAHASA BANDUNG






UPACARA AGUSTUSAN DI BALAI BAHASA BANDUNG

Sebagian besarkan pegawai Balai Bahasa Bandung mengikuti upacara memperingati hari kemerdekaan RI ke-64 di halaman Balai Bahasa Bandung. Upacara ini, seperti yang terucap dalam pidato kepala Balai Bahasa Bandung, merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap jasa para pahlawan yang telah memeras tenaga dan keringatnya dalam menegakkan kemerdekaan di negara ini.
Setelah itu, pegawai Balai Bahasa Bandung mengikuti berbagai permainan khas agustusan, seperti balap karung, balap sendok, dan balap kerupuk. Hadiah bagi para pemenang permainan berupa sekantung plastik sembako. Permainan ini diselenggarakan bukan hanya untuk berhura-hura melainkan untuk menggalang keakraban diantara pegawai Balai Bahasa Bandung.

THE WONDERFUL PANGANDARAN





THE WONDERFUL PANGANDARAN


Panitia Konferensi Internasional Kesusastraan XX kemarin mengadakan acara pembubaran panitia di Pangandaran, tepatnya di kediaman salah seorang pakar senirupa dan budaya, Acep Iwan Saidi. Kami berangkat dari Bandung hari Jumat malam, tanggal 14 Agustus 2009, dengan menggunakan bis Gagak Rimang. Jam dua malam, bis tiba di Ciamis, salah seorang sastrawan Sunda kawakan, Godi Suwarna, turut bergabung.
Rombongan tiba menjelang azan subuh di depan kediaman Pak Acep. Setelah menghabiskan sarapan dan cemilan yang disuguhkan tuan rumah, sekalian menunggu jadwal check-in di penginapan, rombongan pergi ke green canyon dan Batukaras. Well, anakku yang kebetulan ikut benar-benar puas bermain berbalut pasir laut basah. Sebagian anggota rombongan bermain sepuasnya di pesisir. Aku dan beberapa anggota rombongan lain hanya duduk bernaung di bawah pohon.
Rombongan menginap di sebuah rumah yang sudah dipesan sebelumnya olrh tuan rumah. Kang Godi ikut bersama kita. Bu Saf, Lina, Celine, dan Evy menginap di hotel sebelah karena kamarnya tidak cukup. Sekali lagi, anakku benar-benar meras puas bermain di pantai Pananjung pada sore hari itu dan pagi hari pada keesokan harinya. Sayangnya, kegembiraan kami harus tercemar sebuah musibah. Tiga orang mahasiswa ITB terseret arus. Kebetulan dua orang selamat. Sementara itu, satu orang lagi mengalami nasib naas. Ia tersedot ke dalam laut beberapa saat petugas hendak meraih tubuhnya.
Acara makan malam dilakukan dengan pesta barbeque di kediaman Kang Acep. Puasssss banget!!!! Menjelang tengah malam, rombongan meninggalkan kediaman yang cukup luas itu dan sekalian berpamitan kepada pemiliknya.
Pagi sebelum kembali ke Bandung, beberapa anggota rombongan berbelanja oleh-oleh di kios Haji Udin sekalian melihat matahari terbit yang tidak tampak kemunculannya. Awan tebal menghalangi pandangan kami. Namun, beberapa gambar eksotis sudah terekam dalam kamera digitalku. Lumayan, gambar itu bisa kupakai untuk latar makalah-makalahku. Menjelang zuhur, rombongan meninggalkan pantai indah yang terletak di bagian selatan provinsi Jawa Barat itu.

19 Agu 2009

REPORTASE KONFERENSI INTERNASIONAL KESUSASTRAAN INDONESIA XX







REPORTASE KONFERENSI INTERNASIONAL KESUSASTRAAN INDONESIA XX
“MEMBACA ULANG FUNGSI SOSIAL SASTRA DALAM MENUMBUHKAN NILAI DAN SIKAP KEBANGSAAN”


BANDUNG, 5—7 AGUSTUS 2009
AUDITORIUM ISOLA RESOR LT. 3
JALAN SETIABUDHI NOMOR 229
BANDUNG


Berlatarbelakangkan pentingnya sastra dalam pembentukan karakteristik kebangsaan, beberapa perdebatan kesusatraan dan kebudayaan senantiasa berbanding lurus dengan perdebatan bangsa dan kebangsaan. Namun, meskipun demikian, sastra jarang dilibatkan dalam berbagai penyusunan kebijakan negara. Sehubungan dengan hal itu, HISKI ingin mengangkat derajat sastra kepermukaan sebagai sarana yang dapat memberikan keleluasaan pembentukan sikap nasionalisme di tengah masyarakat kita melalui Konferensi Kesusastraan Indonesia XX yang bertemakan “membaca ulang fungsi sosial sastra dalam menumbuhkan nilai dan sikap kebangsaan”. Konferensi tersebut diselenggarakan pada tanggal 5—7 Agustus 2009 di Auditorium Isola Resor Lt. 3, Jalam Setiabudhi Nomor 229 Bandung.
Untuk memudahkan pemahaman peserta terhadap tema konferensi tersebut, HISKI Komisariat Bandung membagi tema tersebut ke dalam empat subtema sebagai berikut, yaitu (1) pengajaran sastra dalam kaitan dengan penumbuhan nilai dan sikap kebangsaan, (2) dampak produksi sastra pada pembentukan kesadaran nasional, (3) ssastra, masyarakat perbatasan atau pesisir, dan nasionalisme, dan (4) sejarah sastra sejarah bangsa. Selain para pemakalah paralel yang membawakan makalah berdasarkan keempat subtema tersebut, konferensi itu juga menampilkan beberapa pembicara utama, yaitu Prof. Dr. Melani Budianta, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Prof. Dr. Riris K. Sarumpaet, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Dr. Haryatmoko, S.J., Acep Zam-Zam Noor, dan Godi Suwarna.
Acara tersebut dapat terlaksana atas kerjasama antara Pusat Bahasa Depdiknas, Balai Bahasa Bandung, Prodi Bahasa & Sastra Inggris UPI Bandung, BNI, Gubernur Provinsi Jawa Barat, H.U. Pikiran Rakyat, Bpk. Erry Ryana Hardjapamekas, Bpk. A.R. Ruslan, Bpk. Wahyu Wijaya, MIL Tours and Travel, Center for Research in Education Social Transformation, dan para donatur yang telah memberikan bantuan moril maupun materil.

18 Agu 2009

Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato








Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato GNP-AM


Bandung, 3 Agustus 2009

Hari Senin ini bakalan jadi hari padatku. Ya, aku hanya sempat nge-print naskah pidato yang akan aku presentasikan keesokan harinya dalam “Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato”. Setelah itu, jam 10.00 tepat aku harus mengikuti rapat kepanitian kongres HISKI yang akan dilaksanakan di Isola Resort, UPI Bandung. Aku merasa menyesal karena aku tidak dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Rapat yang agak telat membuat aku terseret pada waktu rapat juri di Perpustakaan TNI AD. Seharusnya aku melakukan cek terakhir dalam konfirmasi konsumsi pada pihak hotel. Namun, terpaksa kuserahkan pada yang lain. Interval waktu yang sempit, membuat aku memilih naik taksi daripada harus berlama-lama ngendon di dalam angkot. Syukurlah, rapat bisa kuikuti.
Seusai rapat, aku harus pergi ke Pasar Baru untuk berburu kostum yang akan kukenakan dalam kongres. Setelah berputar-putar, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku perlukan. Ufff, aku kembali ke kantor dan memastikan bahwa tidak ada barang yang terlewatkan untuk keperluan selama mennjalani karantina. Ya, menjelang malam ini aku akan menjalani masa karantina sebagai peserta lomba pidato yang diselenggarakan di Hotel Grand Pasundan Bandung.
Lomba pidato dan naskah pidato tersebut kuikuti tanpa sengaja. Beberapa hari menjelang deadline, aku membaca pengumuman yang tiba-tiba hadir di balik pintu kaca. Aku sangat berminat untuk mengikuti lomba tersebut. Mau tidak mau dalam tenggat waktu yang sangat sempit itu, aku harus mencurahkan konsentrasiku untuk menulis sebuah naskah pidato, satu hal yang sangat baru bagiku. Tema kali ini adalah tema kepemimpinan. Tema yang kuanggap cukup berat dan sangat membebani diriku. Di satu sisi aku benci politik, tetapi aku harus memaksakan diri untuk memicingkan mata ke dunia itu untuk sekadar mendapatkan referensi.
Meskipun tekad dan niat begitu besar untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut, tetapi apa daya menumpuknya beban perkerjaan sehari-hariku di kantor berhasil menunda penulisan naskah itu hingga menjelang hari terakhir penerimaan naskah. Ada satu hal yang agak merepotkan diriku, keharusan menyertakan surat keterangan belum genap berusia 40 tahun dari kelurahan/kecamatan setempat. Lha, kesibukkan yang menyita waktuku menutup kesempatan untuk mengurus surat itu. Naskah yang baru jadi hari Sabtu menjelang siang, 25 Agustus 2009, membuat aku kebat-kebit karena mengejar jadwal kantor pos yang semula kukira tutup pada pukul 11.00 WIB. Mengajukan permohonan surat keterangan, yang hanya dapat kuminta dari RT setempat, cukup menyita waktu karena prosedur pembuatan yang manual. Semula aku akan melengkapinya dengan cap dan tanda tangan RW setempat, tetapi pintu pagar sekretaris RW yang sangat rapat mengurungkan niatku itu. Aku bertekad dengan menyertakan surat itu seadanya dan mengirimkan hari itu juga. Ufff, masih ada satu lagi tahap yang harus kulalui, menjilid dan membuat salinan naskah. Beruntung, tempat fotokopi langgananku kosong hingga tidak terlampau menyita waktu. Siang yang cukup menyengat membuatku menyewa sebuah becak untuk mengantarku hari itu. Beruntung pula lokasi kantor pos tidak terlampau jauh dari rumahku. Alhamdulillah, Allah Mahapemurah, pengiriman berlangsung lancar. Rupanya jadwal kantor pos pada hari itu lebih panjang satu jam dari yang kuduga semula, pukul 12.00 WIB. Lega hatiku saat langkah ini meninggalkan pintu kantor pos itu.
Hampir satu minggu kemudian, aku mendapatkan kabar bahwa naskahku diterima dan aku lolos menjadi wakil dari Jawa Barat untuk kategori umum putri. Mau tidak mau aku harus mengikuti karantina dan melakukan check-in di hotel tersebut semalam sebelum lomba. Bentrokan jadwal pada hari Senin itu membuat jantungku ini serasa menanggung dentuman yang sangat keras. Rasanya kepala ini berdenyut-denyut. Di satu sisi, aku merasa sangat senang dengan kelolosan ini. Namun, di sisi lain, aku merasa beban berat menggayut dalam hatiku. Aku tidak pernah mengira sebelumnya jika naskah itu harus dipidatokan sendiri oleh penulisnya. Berpidato! Satu hal yang asing bagiku. Aku memang telah berkali-kali tampil dalam seminar, tetapi bagiku berpidato adalah hal yang belum pernah kulakukan. Ufff, bagaimana, ya? Pidato itu harus seperti apa ya? Awalnya gimana? Pertanyaan itu terus berulang dalam batinku. Namun, aku harus menyadari bahwa aku tidak boleh menyerah begitu saja. Bukankah selama ini aku kerap berkata kepada anakku untuk menjadi pemberani. Jika aku mengundurkan diri, artinya aku manusia cengeng yang rapuh. No! Akhirnya aku nekad ikut dalam lomba itu. kulangkahkan kaki yang sedari tadi sudah lelah berjalan itu menuju lobby hotel diantar suamiku. Ya, hanya rido suami dan anakkulah yang mendorong kuat diriku untuk berada di tempat ini.
Aku berbagi kamar dengan kontingen kategori umum putri dari Banten, namanya Nur. Anaknya baik, tetapi kurang pede. Ia bertekad untuk tampil meskipun apa adanya. Aku sendiri tidak berambisi untuk memenangkan perlombaan ini. Yang terpenting bagiku adalah jalani dan percaya diri. Nur harus berjuang untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya itu.
Keesokan harinya, kami semua berkumpul di ruang Wastukancana, lantai UM. Acara perlombaan ini dibuka oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dr. Ahmad Heryawan. Setelah rombongan gubernur berlalu, acara lomba pun dimulai. Secara berurutan, peserta tampil berdasarkan kategori masing-masing, yaitu pelajar putra, pelajar putri, mahasiswa putra, mahasiswa putri, umum putra, dan umum putri. Inilah momen yang tepat bagi kita, peserta lomba untuk mengekspresikan apa yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Menjelang berkumandangnya azan maghrib, kita diminta panitia untuk membuat biodata pribadi dengan tulisan tangan yang rapi dan indah. Alhamdulillah, aku termasuk lima terbaik bersama Pak Eddy (Bogor), Pak Chairul (Tuban), Suci (Sukabumi), dan Deny (Banten). Untuk apa tujuannya, aku tidak tahu. Kami semua tidak tahu. Ternyata, setelah diumumkan, kami diminta untuk membantu panitia menulis nama peserta pada sertifikat. Pekerjaan itu harus kami lakukan dengan rapi dan cepat karena pengumuman pemenang akan dilakukan selepas makan malam nanti.
Acara pengumuman pemenang diawali dengan tayangan produk yang menampilkan kebobrokan moral bangsa kita terutama pada anak-anak dan kaum remaja. Oh, ya, penyelenggaraan lomba ini dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMP-AM), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pembinaan akhlak umat dan sedang melebarkan sayap untuk menyusun jaringan organisasi tersebut di berbagai wilayah di Indonesia. Aku pun mengenal organisasi tersebut sejak membaca brosur lomba tersebut yang ditempelkan di pintu kaca instansiku. Kegiatan lomba ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh organisasi itu. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bagian dari upaya sosialisasi organisasi tersebut ke tengah masyarakat. Bahkan, ketika membacakan pengumuman tersebut, panitia menyampaikan bahwa pemenang pidato dalam lomba ini merupakan aset yang sangat berharga bagi mereka. Dengan kata lain, pemenang lomba pidato merupakan kader organisasi yang bertugas untuk menyampaikan visi misi lembaga pembina akhlak tersebut.
Pengumuman hasil penilaian juri pun dibacakan. Alhamdulillah, aku mendapatkan tempat kedua untuk kategori umum. Dengan posisiku itu, aku harus merasa bersyukur karena masih bisa berkiprah di kongres HISKI yang akan berlangsung besok!!!! Aku tidak dapat membayangkan jika aku mendapatkan tempat pertama karena juara pertama setiap kategori harus pergi ke Jakarta untuk menjalani masa karantina selama empat hari. Wah, terbayang sedihnya aku jika tidak mengikuti momen sastra tahun ini. Belum lagi para pemenang harus mengikuti rombongan panitia yang akan berangkat pada keesokkan harinya pada pukul 06.00 WIB!!!!
Ya, deh, selamat untuk teman-teman yang meraih tempat pertama Regional I dan II, semoga kalian meraih sukses di tingkat nasional! Berita terakhir yang aku dapat adalah sebagian dari kontingen Regional I dan II meraih juara di tingkat nasional, yaitu Kategori Pelajar (Suhanda ke-1 dan Amel ke-3), Kategori Mahasiswa (Arul ke-3), dan Kategori Umum (Pak Rofiq ke-2). Selamat-selamat, ya!!!!! Nyesel aku tidak sempat melihat tayangan tunda di TVRI.

RESENSI BUKU BODYGUARD BAWEL!!!!

RESENSI BUKU BODYGUARD BAWEL




Judul : Bodyguard Bawel
Penulis : Triani Retno A.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 184 halaman
Cetakan : April 2009


*****

Bodyguard Bawel (BB) dapat dikatakan novel konyol yang isinya sebagian konyol dan sebagian nonkonyol. Mengapa demikian? Novel ini dikatakan konyol terutama pada karakter-karakter yang ditampilkan di dalamnya. Novel ini menampilkan gaya hidup remaja yang bebas, ceria, penuh ekspresi, dan memorable.
Novel ini menyampaikan persahabatan dan pertemanan yang indah, sekaligus permusuhan dan percintaan yang tidak indah. Persahabatan di antara tokoh utama, Lea, Yola, dan Yugi sangat indah. Perbedaan karakter ketiganya justru menjadi bumbu yang mempererat persahabatan. Lea dan Yogi yang bawel serta Yola yang lebih pendiam tidak menghalangi perjalanan pertemanan mereka. Lea merupakan gadis yang setiap saat bersedia menjadi pahlawan demi kelancaran urusan teman-temannya, termasuk saat Yola membutuhkan kehadiran Adit menjelang acara lomba lukis anak di sekolah, atau ketika ibunya Gilang mengalami pencopetan di sebuah mal. Yogi merupakan tipe best boyfriend yang selalu siap menampung curhat teman-temannya sekaligus bertindak sebagai konsultan curhat yang handal. Ia mampu memberikan nasihat solusi yang dapat menentramkan hati temannya. Yola merupakan tipe gadis yang memerlukan bantuan sahabatnya. Ia selalu mengandalkan saran dan bantuan dari temannya. Kerja sama ketiga sahabat karib itu membuahkan hasil. Adit, ketua panitia lomba lukis anak akhirnya bisa kembali ke sekolah, lomba tersebut berjalan dengan sukses, dan Lea kembali menemukan jati dirinya.
*****
Namun, kesuksesan tidak selamanya memayungi kehidupan mereka. Lea dan Yugi sebenarnya telah lama menemukan persamaan di antara mereka. Namun, entah apa yang selalu menghalangi langkah mereka hingga persamaan itu hanya menjadi tangga pertemanan mereka saja. Anehnya, hal itu tidak pernah menghalangi kebersamaan keduanya, meskipun Yogi telah memiliki seorang teman dekat bernama Kenny. Kehadiran Kenny tidak pernah menjadi ganjalan di hati Lea dan Yogi. Kenny sendiri telah mendeteksi bahwa sebenarnya Lea dan Yogi telah lama saling mencintai, tetapi pilihan terakhir Yogi adalah dirinya. Ia menyadari bahwa kedekatan Lea dan Yogi terutama karena mereka bersekolah di tempat yang sama. Dengan keyakinan itu, Kenny tidak pernah menaruh rasa cemburu kepada Yogi dan Lea.
“Mungkin … Lea pernah diam-diam suka sama Ugi. Atau mungkin Ugi yang pernah diam-diam suka sama Lea.”
Lea dan Yugi berpandangan.
Sejenak Lea merasa bersalah.
“Tapi aku percaya itu nggak berlanjut. Buktinya …,” Kenny diam sejenak. “Buktinya Ugi milih aku.” (BB, 2009:147)
Kisah cinta tidak selamanya berakhir indah. Harapan setinggi langit tidak selalu sesuai dengan fakta. Begitulah yang dialami oleh Lea. Yogi berharap agar Lea mau menjadi kekasih Adit. Yogi telah dapat mendeteksi perubahan dalam diri Adit setelah bertemu dengan Lea. Namun, Lea kurang menaruh perhatian pada cowok yang dilanda kurang kasih sayang orang tua dan frustasi itu. Perhatian Lea lebih tercurah kepada Gilang, teman satu sekolahnya yang ibunya pernah dibantunya ketika mengalami pencopetan di sebuah mal. Rupanya perhatian Lea pada Gilang tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, Gilang bukan tipe seorang pahlawan yang akan teguh memperjuangkan cita-citanya. Kepribadian Gilang mudah rapuh. Hal itu terbukti saat ia kehilangan kekagumannya kepada Lea saat membantu ibunya di mal. Ia memandang Lea sebagai gadis yang sangat mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan seorang laki-laki. Gilang tidak bisa menerima hal itu dari Lea. Ketika Lea berusaha untuk menikmati musik klasik kesayangan Gilang, Gilang adalah pianis handal yang sudah dihujani beberapa prestasi, pemuda itu justru kehilangan jatidiri Lea yang sebenarnya sempat ia sukai. Sayangnya, Gilang tidak pernah dikaruniai keberanian untuk menyampaikan hal itu kepada Lea. Ketika Gilang menyampaikan tepat pada akhir kebersamaan mereka, Lea merasakan kata-kata pemuda impiannya itu bagaikan sebuah samurai menusuk ulu hatinya. Lea merasakan dunia impiannya runtuh seketika. Lea yang biasanya selalu menyenangkan danmenenangkan gundah orang lain kini tidak mampu mengobati lukanya sendiri. Bantuan dari Yogi itulah yang akhirnya mampu menenangkan hati Lea.
“Dia terlalu sibuk. Dia terlalu … hm … dia wonder woman…. Dia … ah … kayaknya dia udah nggak butuh bantuan orang lain. Justru orang lain yang selalu butuh bantuan dia.” (BB, 2009:168)
Novel ini selain menunjukkan kekonyolan karakternya, juga menunjukkan hal yang nonkonyol. Banyak makna kehidupan yang dapat kita petik dalam novel ini, di antaranya arti tentang sebuah perbedaan, mimpi tidak selamanya indah, anjuran untuk tetap tegar seperti batu karang menghadang gerusan ombak di lautan. Makna tentang sebuah perbedaan Lea dapatkan dari calon pamannya, Om Dodit. Dari lelaki yang penuh pengertian itu, Lea mendapatkan bahwa rasa hormat yang tinggi dapat menjembatani perbedaan dua karakter. Pengandaian yang disampaikan Om Dodit mampu membuka hati Lea terhadap makna toleransi dan kesabaran.
“Bagi Om dan Witri, matematika seperti itu nggak ada. Matematika seperti itu nggak rasional. Yang ada adalah setengah ditambah setengah sama dengan satu. Setengah diri kita melakukan penyesuaian dengan pasangan kita. Tapi, yang setengah lagi tetap menjadi diri kita sendiri. Kalau Witri juga nggak masalah kalau Om tetap suka otomotif. Om juga nggak akan memaksa Witri untuk suka otomotif,” jelas Om Dodit. (BB, 2009:142)
Sementara itu, hakikat mimpi tidak selamanya indah Lea dapatkan dari Yogi ketika ia dihadang rasa sedih dan kecewa yang sangat dalam setelah menyadari bahwa pangeran impiannya tidak mampu memenuhi mimpinya itu. Gilang mengundurkan diri sebelum berusaha mendekati dirinya dan hanya menganggapnya sebagai teman yang baik. Yogi menyampaikan bahwa pertemanan yang dipilih Gilang mungkin akan memberikan nuansa yang lebih indah kepada Lea, seperti yang dialami oleh Yogi sendiri. Lea diingatkan oleh Yogi bahwa masa depan Lea tidak berakhir hanya pada Gilang semata. Namun, masih ada pangeran lain yang menanti Lea pada masa mendatang.
“Maksudku gini lho Le … tanpa Gilang hidup masih terus dan masih harus berjalan. Langit juga masih biru. Air juga masih mencari tempat yang lebih rendah. Gravitasi bumi masih berlaku. Bunga-bunga juga masih mekar tanpa harus menunggu senyum Gilang yang kamu bilang senyum paling manis di dunia. Nggak ada yang berubah kan, Le? Semua masih berjalan seperti biasa.” (BB, 2009:176)
Terakhir, hakikat untuk setegar batu karang didapatkan Lea dari Tante Witri, adik ibunya, yang selalu menjadi keranjang curhat yang nyaman buat dirinya. Makna tegar Lea dapatkan ketika ia sedang dihadang gosip tak sedap yang mencemarkan dirinya di lingkungan sekolah. Beruntung teman-teman dekatnya termasuk, Kenny—kekasih Yogi, tidak tergiur gosip tak sedap itu. Tanpa sengaja Kenny dan Yogi berhasil memecahkan penyebar gosip itu. Rupanya malaikat penyebar gosip itu adalah teman satu sekolah Lea dan Yogi yang tidak suka terhadap kesuksesan Lea dalam pergaulan di lingkungan sekolah elit itu terutama dengan cowok-cowok papan atas di tempat itu.
“Ya hebat dong. Cuma orang hebat yang digosipin. Duma orang yang punya kelebihan yang disirikin orang lain. Kalo orang yang nggak punya kelebihan apa-apa, nggak punya keistimewaan … ngapain juga digosipin? Nggak sensasional. Misalnya nih. Kasus kawin-cerainya selebriti heboh dibicarain. Malah waktu siding perceraiannya Ariel Peterpan, banyak anak-anak dan ibu-ibu yang demo, minta supaya Ariel nggak jadi cerai. Padahal cerai atau tidaknya si Ariel itu kan nggak bakal berpengaruh pada kehidupan anak-anak dan ibu-ibu yang demo itu. Ariel cerai atau nggak, harga BBM dan sembako tetap naik.” (BB, 2009:158)
Sosok Lea merupakan sosok manusia pada umumnya yang tidak dapat terhindar dari flluktuasi garis kehidupan. Ada kalanya ia berada di puncak ketstabilan emosi, tetapi di sisi lain ia akan meluncur tajam ke kedalaman samudera ketidakstabilan emosi yang tidak terduga. Manusia memang tidak pernah sempurna. Ia rentan terhadap segala kelemahan dan kesalahan. Sebagai remaja yang cenderung rentan dan tipis pengalaman, Lea sempat terhanyut impian pada Gilang, tetapi ia tidak melihat sosok lain yang lebih membutuhkan perhatiannya, Adit. Itulah remaja masa kini yang tengah digonjang-ganjing identitas. Ia ingin menjadi diri sendiri, tetapi ia tidak dapat melakukannya sendiri. Bantuan dari orang-orang terdekat sangat penting, terutama dari kalangan keluarga. Kestabilan emosi seorang remaja sebenarnya dapat dipupuk sejak dini, terutama dari keteladanan orang-orang terdekat dalam lingkungan yang terdekat pula. Siiip, Mbak Triani, novelnya pantas jadi santapan wajib kaum remaja yang cenderung terkena dampak global dan kehilangan identitas diri.

10 Agu 2009

PETUALANGANKU








Bandung, 4 Agustus 2009

BANDUNG-JAKARTA-MATARAM-DENPASAR-SURABAYA-MADIUN-MAGETAN-BANDUNG

Well, friend, aku mau cerita nih tentang pengalamanku menjadi si bolang waktu seminar di kota Mataram dulu. Dulu? Iya, tuh, peristiwanya sudah berlalu lama sekali, tepatnya bulan Juni lalu. Tapi, nggak apa-apa kan? Mudah-mudahan cerita berjalan seru.

Setelah medapat kepastian diterimanya makalah kita di seminar nasional di Mataram, so pasti kita kalang kabut mencari referensi yang bisa kita pakai untuk nambah kaya makalah. Nah, menjelang deadline, aku bela-belain pulang lewat maghrib dari kantor karena makalahnya baru selesai saat itu dan dikirim via email ke kantor Mataram. Setelah itu? Nah, itu pula yang sangat penting. Kita harus pontang-panting nyari isi dompet untuk beli tiket pesawat dan akomodasi selama di sana. Terutama aku tuh, jatahku untuk ikut seminar atas biaya kantor dah lewat. Mau tidak mau kali ini harus menjadi perjalanan mandiri.

Well, kalau Allah sudah berkehendak selalu ada ribuan jalan ke Roma … eh Mataram. Kami rombongan kecil dari Balai Bahasa Bandung, Umi, Teh Yeni, Cucu, Aku, Nia, kudu peras keringat juga demi kepergian ini. Well, Nia dah beli baju baru buat main ke pantai. Iya, inilah perjalanan impian Nia tuk pergi ke Lombok dan Bali. Rencananya kita mau traveling keliling Lombok, Bali, Surabaya, dll. Sayang seribu sayang, impian Nia harus terjegal peristiwa yang sangat tidak terduga. Sabtu, Nia mengabarkan bahwa ia kemungkinan besar tidak akan bisa pergi dan berharap tiketnya bisa dijual lagi. Aku sangat terkejut. Rupanya suaminya demam tinggi dan akan diantar ke dokter dan lab. Hari Minggu, ia memberikan kabar yang lebih menyedihkan lagi. Suaminya terkena gejala tifus. Keputusan yang hampir terlambat.

Di kantor, hal itu menjadi pembicaraan kita. Di satu sisi kita menyayangkan bahwa keputusan itu datang menjelang saat kepergian. Namun, di sisi yang lain kita dapat memaklumi bahwa tidak mungkin meninggalkan suami dalam kondisi sakit yang tergolong serius itu. Ketika aku mendapatkan kabar kepastian gagal berangkat dari Nia, telah terpoikir dalam ingatanku agar Ela mau menggantikan Nia. Ternyata, kelompok kita telah menawarkan hal yang sama kepadanya. Semula Ela memang berniat ikut. Namun, ia merasa malas karena enggan kalau cuma jadi peserta. Nah, ketika tiket yang satu itu dilelangkan kepadanya tentu saja ia merasa gembira. Serta merta ia menghubungi suaminya via telepon sampai akhirnya surat izin suami kelar dalam sekejap. Kebetulan, dia memang hendak pulang ke Madiun. Nah, tuh ia mengajukan syarat kepadaku mau ikut asal aku mau mampir ke rumahnya. Wisshhh, yo sekalian toh! Aku pun menyanggupinya.

Well, Ela nyaris sedih karena aku nggak janji pergi bareng subuh-subuh sama dia. Gara-garanya, sampai maghrib aku belum menemukan tukang lontong. Aku janji mau bawa lontong oncom dan lontong ayam untuk bekal sarapan selama perjalanan menuju bandara. Nah, sebelumnya aku sudah memesan sama Nci Dessie, Bandar kue langganan aku jauh-jauh hari sebelum keberangkatanku. Namun, betapa kecewanya hatiku, tiba-tiba sehari sebelum berangkat aku mendapatkan kabar bahwa ia nggak bisa memenuhi pesananku. Ia mendapatkan sebuah order besar, jadi nggak bisa jualan sehari itu. Uffff sedihnya, aku. Aku nggak mau ngecewain temen-temen yang sudah mengandalkan aku jadi seksi konsumsi. Pulang ke rumah lewat maghrib karena aku harus membeli bekal ke Mataram dan juga bekal buat jagoanku di rumah.

Setibanya di rumah, setelah solat maghrib, aku tiba-tiba teringat Si Ayu tukang jamu yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Ia juga suka bikin lontong dan makanan ringan lain yang tidak kalah enaknya dengan lontong buatan si Nci Dessi. Karena suamiku mau pergi, aku minta sekalian didrop di depan rumah si Ayu. Nah, aku lihat pintu garasinya terbuka. Sambil mengucapkan salam, aku ngeloyor pergi ke dalam dapur sambil berteriak lantang memanggil namanya. Senangnya hatiku karena saat itu si ayu kebetulan bikin lontong mie sayur dan oncom. Kuborong semua tanpa sisa. Namun, aku ingin lontong itu dalam kondisi hangat. Si ayu menyanggupi untuk mengantar lontong panas itu tepat pada pukul 4.30 WIB!!.

Ela dah nunggu aku di Metro. Ya, rencananya kami harus tiba di bandara Cengkareng sekitar pukul 8-an. Pesawat yang akan kami tumpangi akan berangkat pada pukul 10.15. Well, sedikit macet di dalam tol kota sempat membuat kami kebat-kebit. Namun, rupanya jalur ke bandara terhalang arus kendaraan yang akan menuju ke Grogol. Well, akhirnya celah menuju jalur bandara pun terkuak dan bis kita bisa melaju lancar hingga di mulut terminal A.

Ihhhh, dasar orang udik, ke mana-mana kita gak bisa ngilangin keudikkannya. Hee … heee ….. kita semua kelaparan tuh dan menggelar lesehan di lorong terminal A6. Kebetulan saat itu tempat tunggu terisi penuh penumpang dengan jalur penerbangan ke Yogyakarta. Setelah mereka bubar, baru kita mendapatkan dua baris tempat duduk yang, lagi-lagi, kita jadikan sebagai warung dadakan. Lumayan, setengah porsi lontongku akhirnya ludes.

Akhirnya, perjalanan ini lancar. Kita tiba di Bandara Selaparang, Mataram pukul 13.45 WITA. Hee … heee … rupanya Jeng Ela kurang bisa menikmati her first time flight-nya. Kayaknya dia jet lag tuuhhh. Setelah itu, ia jadi nggak ngebet lagi naik pesawat. Nggak lama di hotel, kita nyari makan siang ke barisan toko-toko yang letaknya tidak jauh dari sana. Oh, ya, rombongan kita bertambah satu orang, Susi dari Balai Bahasa Palembang. Dia transit di Jakarta dengan pesawat yang sama. Kembali ke makan siang, kita agak kecewa dengan ayam taliwang dan plecing kangkungnya. Rasanya kurang mantap!

Setelah makan, kita langsung jalan-jalan ke malnya orang Mataram, ya, mirip-mirip di kita lah, tapi kesan megahnya agak kurang terasa. Tanpa sengaja, kita menemukan papan nama waterpark. Langsung aku dan Ela yang keranjingan renang, berlari ke lantai 2 nyari baju stretch karena sama-sama nggak bawa dari rumah. Nyesel juga!! Setelah hunting, kita kembali ke hotel dang anti kostum. Waterpark itu cukup sore. Ada satu-dua orang yang berenang di tempat itu. Kita diperbolehkan renang sampai pukul 7 malam!!!!!!! Ihhhh, mungkin Allah nggak ridlo kita ngeforsir tenaga buat tampil besok. Baru renang sebentar, aku kena kram. Anehnya, kram itu nggak bisa hilang meskipun aku dah bengkok-bengkokin jempol jari. Jadilah Ela renang agak lama sendirian sementara aku segera mencari tempat ganti baju.

Berkali-kali kram itu muncul. Berkali-kali itu pula aku harus membengkokkan ujung jempol dan jari kakiku. Beda dengan aku, Ela merasakan kepalanya pusing. Mungkin jet lag-nya masih bersisa. Akhirnya kami berdua kembali ke hotel, sesekali kami menatap pajangan di barisan toko souvenir. Menjelang maghrib, kita mencari makan dan mulai hunting oleh-oleh di tempat itu. Kaos-kaos bertuliskan Lombok dalam berbagai gaya mulai menyesak dalam tas kita.

Kalau lagi ngumpul sama temen, biasa tuh, kita jarang bisa tidur cepet, tapi ngobrol ngalor ngidul ke mana-mana (tapi bukan tak gendong, ya!) sampai tengah malam. Susi yang tadinya pengen tidur di rumah salah seorang teman kami di Mataram, akhirnya meringkuk di atas kasurku. Ya, deh, kita bersempit-sempit. Nah, tuh, asalnya dia mau nginep di tempat salah saeorang temenku di Kantor Bahasa Mataram, tetapi ia menunggu jemputan dari orang itu. Rupanya, lewat petang dia dapat berita bahwa temen dari Medan sudah lebih dulu tinggal di tempat itu. Jadilah Susi tinggal berdesak-desakkan denganku. Ia memutuskan untuk menyewa ekstra bed yang harganya hampir setengah harga kamar.

Pagi-pagi beberapa peserta yang menginap di Hotel Handika bersiap-siap untuk sarapan pagi di hotel. Uff, kita menunggu lumayan cukup lama. Satu hal yang tcukup idak kusukai adalah suguhan teh manis ala Jawa!! Aku lebih suka teh pahit. Aku sudah memesannya terlebih dulu, tetapi dasar tangan yang sudah distel budaya, teh yang datang ya… manis lagi … manis lagi. Kureguk juga akhirnya pesanan tak sesuai naluri itu.

Hari pembukaan seminar berjalan cukup alot. Ya, biasalah, panitia disibukkan dengan registrasi peserta. Mulut-mulut cerewet peserta ditanggapi dengan santun dan profesional oleh panitia. Biasalah, banyak peserta yang daftar dadakan, nama di daftarnya salah, belum dapat seminar kit, dan tidak terdaftar. Acara pembukaan seminar juga berjalan agak merayap, bahkan, sempat diwarnai mogoknya aliran listrik di hotel itu. Ufff, seharusnya hotel memiliki sistem lapis tiga. Listrik lapis satu mati dalam hitungan detik yang lain nyala.

Kota Mataram kota kecil. Kita bisa menjangkau ke tepian kota dengan mudah. Gak perlu ganti-ganti angkot! Pake taksi juga murah! Asal jalannya sekalian. He… he… jalan-jalan di kota ini semudah jalan di sebuah mal besar di Kota Bandung. Namun, ada yang nggak bisa di temui di kota kembang. Antimacet!!!! Ya, aku belum pernah menemukan kata macet di kota ini. Kemana, ya, penduduk dan kendaraan itu. Jalanan lengang dan nyaman. Banyak pula tanah-tanah kosong yang luas belum digunakan.

Makanan di Kota Mataram cukup beraroma. Ya, jenis makanannya berbumbu banyak. Salah satu makanan khas di kota ini adalah sate bulayak, sate ayam atau kerang dengan lontong yang berbentuk seperti kue celorot, seperti sosis yang memanjang tetapi mengecil di ujung yang satu dan dibalut dengan daun kelapa. Rasanya memang agak aneh di lidah kita karena sudah terbiasa dengan rasa sate di Pulau Jawa. Namun, sebagai tamu, kita menghargai makanan khas daerah setempat dan … karena tak ada pilihan lain. Hee … he….

Aku tampil pada hari kedua. Alhamdulillah, seminarku sukses en banyak merespon naskahku. Ada pula yang menawarkan untuk tampil di acara bulan bahasa dan sastra, kalau tidak salah dari sebuah kota di Jawa Tengah. Namun, aku nggak tuh! Nggak mengharap banyak! Setelah tampil, aku diantarkan teman-teman dari Kantor Bahasa Mataram pergi mencari oleh-oleh. Kami diantar ke sentra pembuatan dodol rumput laut dan toko mutiara. Ya, lumayanlah buat oleh-oleh.

Bersama teman-teman dari sesama kantor dan balai bahasa se-Indonesia yang mengikuti kegiatan seminar itu, kami memutuskan untuk berwisata pada malam hari ke Pantai Senggigi. Pantai itu ternyata sangat gulita, tetapi di tepiannya terhampar kilapan lampu-lampu kafe dan perahu. Namun, barisan hotel yang berjajar di tepi tanjakan yang melingkar itu membuat ingatanku tertambat pada suasana lembang dan sekitar Jalan Setiabudi atas. Di tempat itu, lagi-lagi kami makan sate bulayak.
Hari ketiga setelah usai seminar itu, kami (kecuali Umi dan T, Yeni) memutuskan untuk pergi ke Gili Trawangan. Gili Trawangan adalah salah satu dari tiga pulau kecil ternama di Lombik yang dijadikan sebagai tempat tujuan wisata. Kami bergabung dengan keluarga Ratnawati, temanku dari Balai Bahasa Ujung Pandang. Kami terbagi ke dalam dua mobil. Perjalanan menuju Gili kami lewati via Pusuk, yang artinya puncak. Jalur ini merupakan jalur yang sangat indah. Kita melaju mengelilingi jalan yang meliuk indah dengan udara yang sangat segar. Di puncak itu, kita akan menemukan replika Sangeh, tempat kera di Pulau Bali. Namun, jumlah kera di tempat itu tidak sebanyak di Pulau Bali. Hanya satu dua kera saja yang mau menyambangi kami. Yang lainnya hanya menatap kami dari kejauhan.

Tidak lama di tempat itu, kita melanjutkan perjalanan menuruni jalanan yang menuju ke pelabuhan. Di tempat itu, kita harus berjalan sekitar 300 meter untuk menuju ke tempat pembelian tiket. Sebenarnya, peraturan itu dibuat untuk memberdayakan cidomo. Namun, kita memilih untuk berjalan kaki. Biaya perorang Rp.12.500,00. Tidak sampai setengah jam kita sudah tiba di bibir pantai Gili Trawangan. Di tempat itu tidak akan kita temui kendaraan bermotor, kecuali dalam perahu yang mengangkut penumpang pulang-pergi Lombok-Gili Trawangan-Lombok. Kendaraan yang ada di sana adalah sepeda dan cidomo (cikar, dokar, dan motor). Cidomo adalah perkawinan antara delman, dokar, pedati, dan sepeda motor yang ditarik seekor kuda. Harga yang dipatok untuk mengelilingi pulau itu Rp.75.000,00.
Wuiihhh, kita semua merasa kemahalan, padahal kita belum tahu seberapa jauh jarak pulau ini. Akhirnya, kita bertiga, Ratna-aku-Susi, memutuskan untuk menyewa sepeda yang tarifnya Rp.20.000,00/jam. Yang lain memutuskan untuk rebahan di bawah tenda dan tempat istirahat yang lain. Ternyata acara sewa sepeda itu menjadi bibit petualangan kami bertiga yang tidak akan pernah kami lupakan selama hidup kami. Kami tidak pernah mengetahui bahwa tidak semua keliling pulau ini jalanannya berlapis aspal. Hanya bagian-bagian tertentu saja, terutama pada bagian muka saja yang jalannya dipoles aspal. Selebihnya, bagian lain pulau ini, terutama bagian belakang pulau itu yang berupa hutan. Kami mengawali perjalanan ini dengan lancar sampai ke tempat yang menjadi tempat favorit para bule untuk berjemur. Tampak beberapa pasangan asing sudah menandai lapak untuk mencokelatkan dan menggelapkan kulit mereka. Ihhh, pengen cokelat! Kita aja mati-matian pengen putih, hee … hee.
Melalui barisan pantai utama yang dipagari dengan rangkaian hotel dengan aneka bentuk yang menarik, kita melaju ke ujung jalan beraspal di tempat itu. jalur selanjutnya mulai bergulat dengan tanah dan pasir. Kami berpapasan dengan sebuah cidomo yang mengangkut penumpang. Kusir cidomo itu memberikan peringatan kepada kami bahwa jalanan di depan penuh pasir dan meminta kami untuk kembali. Namun, kami yang rupanya sama-sama Bengal dan keras kepala, bersikeras untuk melanjutkan perjalanan kami. Rasanya rugi jika kami bayar Rp.20.000,00 untuk beberapa menit saja. Kami tidak mengindahkan peringatan si kusir tadi dan melanjutkan perjalanan kami.
Ternyata apa yang dikatakan kusir itu benar. Sebelumnya, kami sempat berhenti di sebuah lokasi. Kami mendapati sebuah kapal yang penumpang yang baru saja dicat dengan cat yang berwarna putih. Selain itu, kami juga mendapati sebuah pohon bercabang dua. Kami sempat berfoto di dua lokasi itu. Jalur selanjutnya yang kami tempuh adalah jalur berpasir. Perjalanan kami mulai menemui hambatan. Kami harus pandai-pandai memilih jalur agar bisa dilalui sepeda kami. Jika tidak, kami akan terkunci atau jatuh tanpa diduga karena kayuhan kami tertahan pasir itu. Wow, pasirnya cukup tebal, sekitar 15—25 centi. Ratna lebih ahli rupanya karena ia tinggal tidak jauh dari pantai.

Satu jam setengah kita telah menjelajahi tepian pantai Gili Trawangan yang belum terjamah oleh investor. Sekeliling tempat kami berhenti dihuni semak-semak dan pepohonan jati, kelapa, dan pohon lainnya. Beberapa papan bertuliskan “tanah ini dijual” kami temukan di tempat itu. Beberapa kavling di antaranya sudah dipagari. Ada pula yang tidak dipagari dan dipakai untuk menggembala kambing. Perjalanan ini seharusnya bisa kita lakukan dalam tempo yang lebih cepat. Namun, apa daya kubangan pasir demikian mendominasi jalur yang kami lalui. Tidak jarang kami mendorong sepeda hingga 100—200 meter jauhnya sementara mengayuh sepeda hanya dalam hitungan beberapa meter saja. Tibalah kami di puncak kelelahan. Wajah kami sudah memerah. Matahari di pulau berpantai indah itu sangat garang. Sinarnya seperti ujung pisau yang siap menyayat inci demi inci kulit tubuh kita. Di salah satu jalur yang dilalui, kami mendapati sebuah tanah berpasir yang landai dan berumput. Ratna dan Susi duduk di tempat itu. Sementara itu, aku tetap duduk di atas sepedaku. Sebelumnya, kami juga sempat beristirahat di sebuah tembok yang mungkin dibuat untuk membuat lahan peristirahatan. Ya, di pulau ini kita dengan bebas bisa duduk santai di tepi pantai dan memilih tempat atau kursi santai bertenda atau beratap rami. Beberapa di antaranya dibuat di tempat yang telah ditinggikan dari permukaan jalan dan pantai untuk memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk memandang bebas ke arah lautan.
Di tempat ini kita juga mendapati beberapa bagian pantai penuh karang yang cukup berbahaya sehingga wisatawan tidak diperkenankan untuk berjalan-jalan di tempat itu, bahkan tidak dapat digunakan untuk perahu nelayan. Sekilas batu karang itu tampak lembut menyembul berserakan di pantai. Jarak pantai di tempat itu tampak lebih luas daripada pantai di bagian utama pulau itu. Namun, tempat itu masih belum tertangani.
Kembali ke tembok tadi, di tempat itu kami berjumpa dengan salah seorang turis asing. Ia mengatakan bahwa perjalanan kita masih jauh, sekitar satu setengah atau dua jam perjalanan lagi. Kita tidak bisa membatalkan perjalanan ini karena kita sudah berada di tengah-tengah. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus melanjutkannya. Oh, ya, bule itu dengan tulus memberikan sisa air minumnya ketika kami mengatakan bahwa kami tidak punya air minum dan kehausan. Bule itu pun berlalu sambil meninggalkan senyum di hati kami. Susi mendadak kehausan dan kehabisan air minumnya, tetapi ia tidak mau menenggak pemberian si bule tadi. Ratna mengatakan bahwa ia masih punya air minum. Disodorkannya botol itu kepada Susi yang tanpa ba-bi-bu langsung menyambar dan menenggak isi botol itu. Namun, dalam hitungan detik ia menyemburkan air dalam mulutnya itu.

“Brrrrrrrrrrrrr!!! Wahhh, airnya asin banget!” ujarnya menggerutu sambil meludah-ludahkan sisa air yang ada di dalam rongga mulutnya.
“Hmmm … iya … tadi aku isi botolnya dengan air laut karena habis. Ohhh, maaf sepertinya aku tidak sengaja bawa botol yang salah perasaan sih botol ini bukan yang kuisi, he … he …,” ujar Ratna dengan cueknya. Tanpa dosa!!!
“Huuuhh, dasar!” umpat Susi sambil ingin menahan tawanya.
Susi pun beranjak ke atas sepedanya dan mengajak kami pergi. Rupanya jalur yang harus kita tempuh masih berlumur pasir, bahkan dengan kedalaman yang lebih parah. Sayang, di beberapa bagian kami temukan onggokan sampah. Sayang sekali!
Kami menemukan tempat transit di sebuah tanah landai berumput. Ratna dan Susi duduk. Aku malas dan duduk di atas sepedaku. Ratna lalu memutuskan untuk menelepon suaminya dan mengabarkan kondisi mereka. Namun, kami semua terkejut karena Ratna engatakan bahwa kami tersesat, satu orang pingsan, dan satu orang lagi terlepas rantainya. Aku yang merasa gemas menendang beberapa bulir pasir kepadanya. Ia malahan tertawa. Kemudian ia mengatakan bahwa ia minta dikirim Cidomo.

Oh, ya, beberapa saat sebelum kami berstirahat di tempat itu, rantai sepeda Susi terlepas. Susi dan Ratna berusaha keras memperbaiki rantai itu. Namun, setelah cukup lama berusaha, mereka tidak berhasil. Namun, Allah Mahakuasa, dari kejauhan kami melihat tiga orang laki-laki berjalan ke arah kami. Kusarankan kedua temanku untuk meminta bantuan kepada mereka. Ternyata salah seorang di antara mereka dalam hitungan detik bisa memperbaiki rantai itu dengan mudah. Kami mengucapkan terima kasih kepada mereka. Ketiga orang itu rupanya perantau dari tanah Jawa yang bekerja membangun sebuah hotel di bagian lahan yang tadi telah kami lewati.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan yang rupanya masih cukup jauh dan bergelimang jeratan selimut pasir di jalanan. Cukup lama, hampir menelan waktu satu jam, kami harus mengayuh pedal. Sempat kami berpapasan dengan seorang pria bule yang bersepeda. Ia mengatakan bahwa jarak ke tempat kami semula masih cukup jauh. Yah, nasi sudah menjadi bubur. Kami masih harus melanjutkan petualangan yang berkesan ini. Lama sekali kami mengayuh pedal hingga akhirnya kami melihat sebuah pemondokan yang letaknya cukup terpisah dan tampak menyendiri di sini. Beberapa orang bule tampak asyik bernaung di bawah sebuah gubuk kayu beratapkan jerami. Gubuk itu terletak di seberang pemondokkan itu. Ufff, kami tidak ubahnya udang rebus panas yang masuk ke dalam gua es. Kami masuk dan memarkirkan sepeda kami di halaman pondok itu. Kami mendengar suara perempuan menyahut panggilan kami, dari jauh kami bertanya apakah ia menjual minuman dingin. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Minuman yang kami inginkan ada. Ratna memilih aqua dingin dalam botol besar, aku mmemilih Sprite, dan juga Susi. Namun, akhirnya, Susi memberikan Sprite itu kepadaku. Nggak kuat perutnya! Soal harga jangan ditanya deh! Aku beli Sprite Rp.9.000,00 dan Rp.7.000,00 untuk Aquanya Ratna. Nilai itu masih tergolong lebih murah daripada harga untuk minuman yang sama di pantai bagian muka pulau itu. Temanku, Mbak Rini harus merogoh kocek Rp.18.000,00 untuk sebotol Coca Cola!

Masalah tidak berhenti sampai di sana! Rasa haus kami memang sudah terobati, tetapi tidak untuk sepeda Ratna. Ketika ia akan mengayuh sepedanya, ia mendapati bahwa rantai sepedanya putus. Dengan memakai telepon genggam milik Susi, pulsa Ratna habis, Ratna mengabarkan kondisi sepedanya itu dan meminta kerabatnya untuk membawa sepeda gantinya. Kami melanjutkan perjalanan sambil menenteng sepeda. Lima belas menit kemudian, Mbak Ipung datang bersepeda sambil membawa si abang pemilik sepeda. Si abang juga menenteng rantai pengganti. Ratna memakai sepeda yang dibawa si abang. Mbak Ipung datang sambil membawakan kami berbotol-botol minuman. Kejadian ini membuat kami diuntungkan karena kami tidak diwajibkan membayar denda. Rupanya perjalanan kami menelan waktu hampir tiga jam!!! Sambil pulang, kami sempat berfoto di sebuah tempat peristirahatan, tampaknya sempat dipakai untuk pesta miras dengan banyaknya tumpukan botol bir di tempat itu. Tempat itu cukup bagus hanya saja tidak banyak digunakan. Hal itu terlihat dari tebalnya debu di sana-sini. Pantainya tidak dapat digunakan karena banyaknya onggokan batu karang di sana-sini.

Perjalanan kami dari tempat itu lumayan agak jauh juga, sekitar 15—20 menit dengan bersepeda. Kami akhirnya tiba di Hotel Ombak Biru tempat kami meminjam sepeda itu. Ingin rasanya kami langsung menghilangkan panas di tubuh kami dan nyemplung langsung ke kolam renang. Namun, kami dihadang waktu. Kami harus kembali ke Mataram. Teman-teman kami rupanya sangat mencemaskan kami dan menanyakan apakah benar aku pingsan. Mereka rupanya menduga aku yang pingsan. Aku menyangkal hal itu. Kulihat wajah-wajah mereka penuh gumpalan kusut antara gembira dan kesal karena bualan Ratna itu. Ratna orangnya cuek bebek, wajahnya tampak tidak berdosa.

Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Kami harus membeli tiket pulang dengan harga yang sama. Perahu yang kami tumpangi penuh, jadi kami harus menunggu perahu berikutnya. Aku dan Ela sempat membeli es krim pada seorang penjual es krim yang rupanya akan ikut menyeberang juga. Tanpa sengaja aku merogoh kantong-kantong dalam tasku. Hapeku nggak ada! Aku minta Ela untuk menelepon ke nomor aku! Tidak ada bunyi sama sekali. Aku mencari di tempat sekitar, tidak ada! Akhirnya kuputuskan untuk mencari di tempat kami tadi beristirahat dan hotel tempat peminjaman sepeda. Aku bergegas pergi ke tempat kami tadi dan menitipkan barang kepada Ela. Aku berjalan cepat sambil sesekali mendengar godaan dari beberapa pria iseng di sisi kiri dan kanan. Ya, jika pergi ke Gili Trawangan, posisi kita menjadi orang asing di pulau di negeri sendiri. Kebanyakan penghuni pulau itu, ya, wisatawan asing itu.

Langkahku kuiringi dengan segudang harapan untuk mendapatkan kembali hape itu. Namun, di satu sisi aku membisikkan kepasrahan kepada Allah swt, seandainya hape itu tidak bisa kutemukan, aku menyadari jika hal itu sudah menjadi kehendak-Nya. Aku tidak diperkenankan untuk bertamak-tamak di dengan satu benda kecil itu. Kususuri tempat istirahat itu. Tidak kutemukan! Beberapa orang wisatawan telah menduduki tempat kami. Kualihkan langkahku kembali ke hotel tempat kami menyimpan sepeda itu. kulihat si abang penjaga sedang bermain tenis meja di halaman hotel tidak jauh dari kolam renang dan tempat penyewaan sepeda itu. Kutanyakan kepada si abang tentang hapeku itu. Ia menjawab tidak. Aku pun mohon maaf dan perlahan beranjak dari tempat itu. Namun, si abang memanggilku kembali dan disuruhnya aku menunggu sejenak. Ia segera berlari kea rah sepeda yang tadi kusewa itu. Subhanallah, hape itu rupanya masih terbaring indah di dalam keranjang sepeda itu dan tidak seorang pun yang menyewanya setelah kami. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadanya. Kemudian aku segera berbalik meninggalkan hotel. Kulihat panggilan dan deretan sms Ela di layar hape. Disuruhnya aku segera ke pantai karena perahunya siap berangkat. Ela tidak sabar menunggu beritaku. Aku sempat kaget karena barang-barangku tidak ada. Ela menyampaikan bahwa barang-barangku semua sudah dibawakan oleh Pak Cece, mitra instansi kami. Duh, aku malu karena hanya membuat mereka menderita. Semua teman-temanku menanyakan perihal hapeku itu. Ahhh, tidak ada pembawa berkah terbesar selain Allah swt.

Perjalanan sore ini kami lanjutkan ke Pantai Senggigi karena jalur ini yang kami pilih. Kami menunda makan siang kami di pantai ini dengan santapan jagung baker dan sate bulayak. Senja di pantai ini tampak cukup indah karena laut berhias beberapa kapal boat dan perahu. Sementara itu, di kejauhan tampak barisan kapal terbang berbanjar di lapangan Selaparang. Aku tidak menduga jika bandara itu terletak di tepi pantai seperti halnya pantai Kuta.

Setelah sore itu, kami melanjutkan perjalanan ke Lapangan Merdeka. Lapangan ini ditetapkan sebagai tempat orang-orang menghabiskan senja dan sore nongkrong di tempat itu. Barisan kedai makan siap memberikan pelayanannya kepada Anda. Sayang, makanan yang disuguhkan rasanya sangat berbeda dengan yang biasa kami temui di Bandung. Setelah itu, kami sempat diajak ke tempat penjualan mutiara. Sayang, kebanyakan dari kami sudah lebih dulu berbelanja di tempat lain. Kami hanya melihat dan hanya Herryana yang berbelanja di tempat itu. Sebelum kami menuju ke rumah kerabat Ratna di Praya, kami mengunjungi rumah Harryanto—salah seorang teman kami di Kantor Bahasa Mataram untuk mengambil barang-barang yang telah dititipkan sejak pagi tadi.

Kami sepakat untuk pulang melalui jalan laut ke Pulau Dewata dengan menumpang kapal ferry. Kapal tersebut akan berangkat pada pukul 02.00 pagi. menjelang kepargian itu, kami singgah di rumah kerabat Ratna, Sitti Ari. Pukul 12.00 kami berangkat dari rumah itu. Tanpa sengaja kakiku menginjak mangkuk gula (tentu saja berantakan isisnya!), lalu, aku sedikit mundur dan tanpa sengaja pula menginjak baki plastik hingga patah. Ufff aku merasa sangat berdosa. Dalam hatiku aku berniat untuk mengganti baki itu. Kelak, alhamdulillah, aku mendapatkan sedikit rezeki dan bisa mengirimkan penggantinya.

Inilah pengalaman pertamaku naik kapal laut. Di bagian bawah badan kapal dipenuhi dengan kendaraan berbagai jenis. Kendaraan itu diatur dengan sangat ketat agar bisa menampung sesuai dengan kapasitasnya. Penumpang duduk di bagia atasnya. Menjelang maju, kami disewakan kasur oleh Ratna. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 4 jam. Kelelahan begitu menghadang kami. Ombak mulai memainkan tariannya seiring tarian mimpi membawa kami pergi jauh. Di tengah perjalanan, aku terbangun dan merasakan ayunan ombak yang begitu tinggi. Rasanya aku lebih merasa tenang dengan permainan ayunan. Aku ingin pergi ke luar dan melihat deburan ombak dini hari. Namun, apa daya mataku terlalu akrab menggayut berat.

Subuh, kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Setelah melaksanakan salat Subuh, kami menyewa sebuah mobil elf menuju Kantor Bahasa Denpasar. Agak sulit juga kami mencari kantor itu. Namun, kesulitan itu tidaklah lama setelah kami mendapatkan sambutan dan pelayanan yang sangat baik dari Kepala Kantor itu dan juga teman-temanku di tempat itu. Salah seorang temanku, Belik Made, dan juga KTU setempat Bu Eka mengantar kami melihat isi Kota Denpasar. Setelah mencari makan pagi yang tertunda, kami pergi ke Sukawati Erlangga, sebuah sentra oleh-oleh khas Bali. Bu Eka mengantar kami sampai di sini. Selanjutnya, kami diantar Made ke pantai Kuta dan Legian. Di pantai Kuta, temanku sempat menuntaskan impiannya berbelanja di toko Joger. Dengan tulisan dan pernak-pernik khasnya, Joger sangat dikenal di negeri ini bahkan mancanegara. Tokonya tiada henti disesaki rombongan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Menurutku, produk kaus dan pernak-perniknya sih kagak jauh-jauh dari yang di Bandung. Namun, kecintaan pada nama produk itulah yang mendorong mereka rela berjejal-jejal di toko yang tidak mau membuka cabang itu.

Kami sempat meluangkan waktu bermain dan berfoto di Pantai Kuta. Ahhh, kami terlanjur melihat pantai-pantai indah di Lombok lebih dulu. Bagi kami, suasana di Pantai Kuta tidak jauh berbeda dengan Pantai Pangandaran. Pantainya kurang resik, dan dijejali bule yang ingin menghitamkan dirinya. Waktu itu, banyak sekali rombongan anak sekolah yang menyesak di pantai sambil menunggu tenggelamnya matahari. Sepulang dari Kuta, kami diajak Made melihat bekas ledakan bom Bali I dan II. Kini kami mengerti bagaimana peristiwa itu bisa menelan jumlah korban yang sangat luar biasa jika melihat situasi kedua tempat itu yang sangat padat dengan pengunjung. Kini bekas ledakkan itu dijadikan sebuah kafe tidak jauh dari sebuah monumen yang didirikan pemerintah setempat untuk mengenang para korban ledakan. Pada salah satu dinding monumen itu terdapat deretan nama korban tewas dalam peristiwa itu.

Setelah itu, kami pulang dan sempat menyaksikan kemacetan di Kota Denpasar. Kulihat banyaknya bangunan pura dan patung-patung serta monumen yang berdiri megah di kota itu. Kami sempat melihat salah satu kegiatan yang diikuti kepala balai setempat, yaitu seminar BIPA. Selain itu, kami juga sempat menyaksikan antusiasme masyarakat Bali pada kegiatan seni. Saat itu merupakan pembukaan pekan kesenian Bali.
Kami telah membook tiket travel tujuan Surabaya yang akan berangkat pukul 7 malam. Kami sempat mandi dan berganti pakaian. Rasa terima kasih yang tidak terhingga kami ucapkan kepada kepala balai beserta stafnya atas segala kebaikan yang diberikan kepada kami. Rombongan kami terpecah sampai di sini. Ratna, suaminya, dan Herryana akan menginap di rumah kerabatnya, sementata Cucu ikut bersama mereka sampai besok pagi. Ia telah membeli tiket ke Bandung karena mendapat kabar tentang sakit ibunya. Kami yang pergi ke Surabaya tinggal bertiga, aku, Ela, dan Susi. Kami tiba di pelabuhan dan Gilimanuk dan menaiki perut ferry. Jarak yang kami tempuh dari pelabuhan ke Surbaya cukup singkat, setengah jam. Setelah itu, kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk menuju ke Surabaya hingga akhirnya benar-benar kami diantar ke dalam halaman terminal. Kami menuju ke lajur bis tujuan Madiun. Setelah itu, kami naik bis jurusan Yogyakarta agar bisa sekalian dengan Susi.

Well, inilah pertama kalinya aku naik bis ala bis yang ditumpangi Harry Potter, Sumber Kencana. Bis itu meluncur deras seolah tidak ada aral melintang di depannya. Dua jam perjalanan cukup membawa kami tiba di terminal Madiun dan inilah saatnya kami berdua, aku dan Ela, berpisah dengan Susi. Aku telah berjanji sebelumnya untuk berkunjung ke rumah orang tua Ela di Magetan. Ayahnya Ela telah berdiri di halaman luar terminal.

Sebelum sampai ke rumahnya, ayah Ela mengajak kami makan siang di Rumah Makan Bu Kus. Ayahnya Ela mengatakan bahwa dulu, pemilik rumah makan itu telah membuka cabang di Surabaya dan sangat diminati pelanggan. Namun, karena sakit berkepanjangan yang dideritanya, usaha itu menemuii jalan buntu. Kini ia tidak membuka cabang lagi. Nasi pecel sebagai menu andalan khas rumah makan Jawa Timur itu cukup bisa diandalkan sebagai pengobat rasa lapar kami.

Ibu dan anak Ela, Rafi, tidak ikut menjemput kami karena berbenturan dengan acara piknik di sekolah. Kami baru bertemu beberapa jam setelah kedatangan kami di rumah. Kedatangan kami ke rumah itu bertepatan dengan acara syukuran yang akan dilakukan oleh kedua orang tua Ela. Tentu saja, banyak saudara dan tetangga Ela yang datang membantu sang ibu. Semua saudara Ela sudah tinggal terpisah. Rafi, anaknya Ela, tinggal di rumah itu menjadi ajang hiburan bagi neneknya. Well, anyway, syukuran tersebut lumayan memudahkan aku untuk mengenal keluarga besar Ela, terkecuali kakaknya yang tinggal di Tuban.

Acara syukuran ini terbilang unik. Aku baru mengalami adat tradisi seperti itu. pada umumnya, di Bandung, syukuran biasa dilakukan dengan acara pengajian yang cukup berpanjang-panjang. Setelah itu, untuk pengisi acara, tuan rumah menyediakan nasi dus dan kue atau pernik-pernik lainnya. Sementara itu, di Magetan, tempat Ela tinggal, para pengisi acara resminya adalah kaum laki-laki, santri dan lelaki dewasa. Namun, tanpa diundang, kaum wanita juga mendatangi rumah si empunya hajatan. Uniknya, kaum ibu masing-masing membawa sebuah keranjang anyam atau keranjang lain yang kebanyakan sudah diberi nama dengan berbagai cara dan ditutupi dengan kain pada bagian atasnya. Isinya, berbagai macam bahan pokok mentah. Dari pengamatanku, kebanyakan yang mereka bawa adalah mi kering, kentang, bawang putih, gula pasir, dan beras. Banyaknya, ya, bergantung kemampuan. Uniknya, bawaan tersebut dicatat dalam sebuah buku. Nanti menjelang pulang, kaum wanita akan dibekali dengan bungkusan nasi dan lauk-pauknya. Jumlahnya hampir sama. Sementara itu, selama duduk di rumah si empunya hajatan, mereka disuguhi nasi yang diambil sendiri dan diberi alas makan sepiring soto daging. Porsinya cukup unik, hanya beberapa sendok saja! Mereka mengambil nasi sendiri sesuai selera. Ketika kutanyakan hal itu kepada Ela, ia menjawab bahwa di tempat itu ada keharusan untuk menghabiskan hidangan yang disuguhkan. Untuk menghindari mubazir, porsi yang diberikan dalan suguhan hidangan tersebut tidak diberikan banyak. Aku melihat suguhan tersebut sebagai syarat penyambutan dan penghormatan kepada tamu saja.

Bagi kaum laki-laki juga dibuatkan bekalan nasi untuk dibawa pulang. Uniknya di tempat ini tidak menggunakan dus sebagai pembungkus makanan melainkan dalam sebuah bakul mini plastik yang diisi nasi dan diatasnya ditutup cup plastik untuk menyimpan lauk-pauknya. Wadah tersebut dimasukkan ke dalam kresek putih. Penganan tersebut diberikan kepada bapak-bapak. Ya, aku telah membuktikan begitu banyak kekayaan seni dan budaya di nusantara. Subhanallah.

Aku tinggal selama tiga hari di tempat ini. Ada satu hal yang membuatku betah di tempat itu, selain keramahan penghuninya, yaitu masih banyaknya tukang pijit andal. Wah, Bandung wajib menaruh rasa iri tuh karena dukun pijit jumlahnya menyusut drastis, setelah pengembangan kelompok kader PKK dan posyandu. Beruntung aku dapat dipijit setiap malam oleh dua pakar massage di tempat itu. Namun, yang paling cocok bagiku adalah pijitan paripurna Mbak Sukati. Pokoknya, top abis deh!
Tadinya, aku hanya akan tinggal semalam saja di tempat itu. Namun, ayahnya Ela melarangku untuk pulang cepat dengan alasan belum mengantar aku ke mana-mana. Yo, wis toh, aku jadi tinggal lebih lama di tempat itu. Tidak jauh dari rumah itu juga tinggal mertua Ela. Kebetulan mertuanya itu bersahabat baik dengan orang tuanya. Ya, Ela dan suaminya dipersatukan di pelaminan dengan asal-mula sebuah perjodohan.
Ayah Ela memenuhi janjinya. Ia mengantar aku dan Ela berenang di Waterboom “Banyu Biru”. Wuiihhh, senangnya hatiku setelah renang terakhir kami di Lombok itu. Aku merasa sangat senang karena bisa pulang dalam keadaan bugar. Setelah renang itu, malamnya aku dipijit oleh Mbah Sukati. Wuiihhh, betapa senangnya hatiku.

Kami pulang pada hari Rabu, 24 Juni 2009, dengan bis jurusan Bandung yang berangkat cukup telat dari Madiun. Sekitar jam 3 kami bis yang kami tumpangi baru berangkat meninggalkan kantor agen penjualan tiket. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Hitung-hitung mengenang perjalanan malam saat aku mengikuti reuni ITT tahun 1990 silam di Yogyakarta. Kamis subuh aku telah kembali ke kota kelahiranku, kota kembang. Kota yang telah memberikan warna dan kisah dalam hidupku. Firdan tidak menyambut kedatanganku karena sedang berlibur di Tasikmalaya bersama nenek dan kakeknya. Ya, Allah swt, Engkaulah yang Mahapemberi atas segala ridlo dan berkah di ala mini, di dalam kehidupan umat-Mu, di dalam kehidupan kami, di dalam kehidupanku.
Aku hanya beristirahat beberapa jam saja di rumah sekadar melepaskan penat dan sempat membawaku ke alam mimpi yang indah karena kepulangan kami ke Bandung bertepatan dengan acara syukuran kelahiran anak salah seorang teman kami, Devi. Duuuh, kapan ya, aku bisa bertualang.*****