6 Des 2010

FLASH FICTION: HANTU BERISIK






HANTU BERISIK


Sreekkkkkkkkkkk!!! Bunyi gemerisik itu memecah malam. Aldino ketakutan. Matanya tertuju pada bayangan yang menyelinap di sudut bawah pintu kamar itu. Bayangan itu semakin besar dan tinggi. Bunyi itu semakin keras. ‘Haaaannnn… tuuuu!! Duhhh… gimana, nih?’ tanyanya tertahan. Bayangan itu seperti seorang penyihir dengan topi lancip dan sapu ajaibnya.
‘Takut itu harus diobati oleh diri sendiri!’ Aldino teringat pesan neneknya. ‘Aku gak boleh takut!’ serunya dalam hati. Sesekali dilihatnya bayangan itu. Ia merayap ke arah jendela dan mengintip dari balik tirai. Bayangan hitam itu memegang sapu tinggi. Srekkk … srekkk!! Kening Aldino berkerut. ‘Haaa…!’ pekiknya dalam hati, ‘Aki Pardi…!’ Aki Pardi adalah petugas kebersihan. Sejak istrinya sakit keras, lelaki tua itu hanya dapat melakukan tugasnya malam hari. Seharian ia merawat istrinya itu. Aldino ingat itu. Ia terharu.

CELOTEH ANAK II: DAGING BENERAN



DAGING BENERAN

Sore itu, Firdan tampak sumringah. Ia tahu neneknya sedang mengikuti pengajian dalam acara syukuran kelulusan anak tetangga. Ia sudah dapat menduga bahwa sang nenek tidak akan pulang dengan tangan hampa. Jauh di dalam benaknya sudah terbayang sekantung plastik dus besar berisi nasi dan lauk pauk yang tertata rapi serta sebuah dus kecil sarat kudapan di atasnya. ‘Pokoknya… harus dapat dagingnya…’ pikirnya. Tayangan TV di depan matanya sore itu tidak menarik perhatiannya. Terbukti, derita suara pagar menjelang waktu magrib tiba itu sontak membuatnya sangat gembira. Setengah melompat, ia berlari ke arah pintu. Teriakan riang pun membahana memecah perhatian ibu-ibu tetangga yang baru saja membubarkan diri dari acara itu.

Nenek : “Assalamualaikum!”
Firdan : “Nenek… udah ngajinya, ya? Bawa apa, Nek? (sibuk merogoh kantung kresek untuk
mencari tahu isi dus)
Nenek : “Ehh… nanti dulu….! Jangan ribut gitu! Tutup dulu pintu pagarnya!”
Firdan : (setengah berlari dan penuh semangat) Blaaaaarrrrrrrrrrrr!!!!!!! (pintu pagar
tertutup keras)
Nenek : “Ihhh… nutup pintu jangan tergesa-gesa!”
Firdan : “Heee… maaf, Nek!” (kembali sibuk membuka isi kantung plastik)

Dikeluarkannya sebuah dus kecil berisi aneka kudapan. Dibukanya dus itu. Namun, tidak satu kudapan pun yang menarik hatinya. Ditutupnya lagi dengan tergesa dus itu. Lalu, tangannya sibuk mengeluarkan dus besar yang paling diminatinya. Kresssskk. Dibukanya dus berisi nasi dan lauk pauk itu.

Nenek : “Firdan belum makan sore?”
Firdan : “Belum!” tukasnya pendek, “Kan nunggu Nenek!”
Nenek : “Tadinya buat Aki!”
Firdan : “Dede mah kan cuma pengen dagingnya aja!”
Nenek : “Kan.. Nenek udah masak daging… tuh… lihat!” (membuka tutup basin)
Firdan : (tidak tertarik) “Nggakkk … ahh…! Nggak mau….! Dede mah pengen daging
yang ini! Ini mah daging beneran! (sambil menunjukkan sekerat tebal
daging gepuk)
Nenek : “Lho… yang dimasak Nenek juga daging beneran!”
Firdan : “Bukan… bukan daging beneran! Itu mah daging boongan (tetelan).”
Nenek : ?????!!!!! (memandang hidangan yang terbuat dari daging tetelan)
Firdan : (menunjuk ke tempat hidangan) “Tuh… kan dagingnya beda! Ini lho, Nek,
yang namanya daging beneran! Lihat nih! Nih,nih, nih!” (sambil
menunjukkan daging itu) “Ini mah rasanya enak… enak banget, Nek!”
Nenek : (dongkol) “Iya, deh, nanti kalau mau minta dimasakin daging beneran…
minta dulu uangnya sama Ibu, ya! Nanti, Nenek yang beli dagingnya
terus dimasak kayak gini!”

CELOTEH ANAK I: RUMAH MAKSIMALIS


RUMAH MAKSIMALIS

Tidak biasanya Firdan asyik menatap layar kaca yang memperlihatkan tayangan
tentang griya. Padahal, hari Sabtu atau Minggu, pada jam tayang yang sama ia akan hunting program aksi kesayangannya, Naruto-kah atau tayangan berbau teknologi Jepang atau kartun lainnya. Sorot matanya tampak mengagumi setiap detil rumah indah yang menjadi objek program itu.
Aku : “Ih tumben nonton ginian?” (sambil duduk disampingnya)
Firdan : (tanpa menoleh) “Rumahnya bagus, Bu! Lihat … tuh! Ada kolam renangnya di
belakang! Ada pancurannya! Dede (ia biasa menyebut dirinya) mau punya rumah
kayak gitu!”
Aku : (tersenyum) “Ya, doakan mudah-mudahan Abu bisa punya rezeki!”
Firdan : (menoleh dengan sorot mata dan raut wajah penuh semangat) “Ehh, Abu… Abu…
rumahnya Bapak itu (sambil menunjuk ke arah TV) nggak banyak barang … tapi
bagus, ya, Bu?
Aku : “Ya… kan namanya juga rumah minimalis……….!” (dengan nada santai)
Firdan : (bingung sejenak dan matanya berkeliling menyusuri ruang demi ruang di dalam
rumah (yang masih milik neneknya itu)—lemari buku penuh sesak, tumpukan koran
di bawah meja, tumpukan lipatan baju yang belum disetrika, barisan barang
kecil di atas buffet, meja makan yang sarat hidangan empat sehat lima
sempurna) “Mhhhmmm… jadi… rumah minimalis itu rumah yang nggak banyak barang,
kan, Bu? (tanyanya mengulang)
Aku : “Ya…”
Firdan : (bertubi-tubi) “Di rumah nenek, kan, banyak barang ya, Bu? Iya, kan, Bu?
Aku : (berdehem) “Hmmmmmmmmm…..”
Firdan : “Jadi bukan rumah minimalis!”
Aku : (berdehem) “Hmmmmmmmmm…..”
Firdan : (bertubi-tubi) “Kalau nggak minimalis… rumah nenek jadi rumah maksimalis,
kan, Bu? Ihhh…. Nggakk ahhh… Dede mah nggak mau ahhh punya rumah kayak punya
nenek! Nggak mau yang banyak barangnya!!!”
Aku : Rghtuikrttttzzz@#$$@%!

19 Mei 2010

MAWAR KOYAK


aku... akulah bunga mawar
tersayang di antara kembang-kembang
jutaan tersebar di taman liar
aku... aku ditumbuhkan di atas sebuah
altar di tengah-tengah sebuah kumpulan
lontaran riuh gemuruh

aku... akulah mawar
yang tumbuh melenggang menggapai langit
dengan pongah posisi duri
tegak menantang langit
menggoda penghuni jagat
dengan segudang aroma hasrat
mengguncang gelora


aku... akulah mawar
yang pernah dibiarkan
tumbuh menjadi primadona mahal
yang pernah ditatap
jutaan mata gelisah resah
mengaduk desah-desah sesak sengal

aku... akulah mawar
yang tak pernah menatap
mata-mata hitam
bersembunyi di balik rimbun dedaunan taman
yang tak pernah menangkap
rautan cakar-cakar tajam
yang menggurat garis kasar
di permukaan tanah

aku... akulah mawar
mawar yang koyak
karena tertusuk duri
yang tak lagi mau menegak
aku... akulah mawar
yang kini terkesiap
tergelinjang terguling
mengaduh menahan perih
aku... akulah mawar
yang kini siap menantang
deru amukan kematian
aku... akulah mawar
yang kini tak sanggup
menangisi kelopak
yang mulai runtuh

aku... akulah mawar
yang kini mengerut
menahan derita
aku... akulah mawar
yang kini mulai mengkerut

aku ... akulah mawar
mawar yang terkulai
aku... akulah mawar
mawar yang terkoyak
aku... akulah mawar
mawar yang terburai

On the cloudy days, May 2010

18 Mei 2010

"CAHAYA" YANG BERJUANG MENJADI TERANG



Cahaya adalah nama indah seorang wanita yang berwujud indah. Namun, sayang, ia tidak kunjung mewujudkan keindahan di dalam perjalanan hidupnya.Hari demi hari ia habiskan dengan memeras peluh di atas sebuah ranjang nafkah gairah. Cahaya menjadi daerah tujuan wisata kaum adam hidung belang, dalam istilah Cahaya: peziarah resah. Ya,Cahaya adalah wanita penjual hasrat. Pelacur! Siapapun bisa mendatanginya dengan niat dan tujuan yang beraneka.
Cahaya adalah pelacur yang kedudukannya jelas terhina dalam kancah religi. Cahaya tahu bahwa status dirinya menjadi sasaran hujatan kalangan pengkhotbah. Namun, Cahaya heran bahwa salah seorang pelanggannya justru datang dari kalangan pengkhotbah!!! Cahaya heran bahwa dirinya kelap tersudutkan dalam kacamata masyarakat, tetapi dirinya senantiasa dikejar anggota masyarakat dari berbagai kalangan, terutama pemuja hasrat.
Cahaya sadar profesinya sangat tercela. Namun, Cahaya tidak mau jika dirinya dituding sebagai wanita hina. Ia wanita dewasa yang ingin mendapatkan kemuliaan. Ia berjuang dengan caranya sendiri, termasuk mendekati para pelanggannya. Namun, apa yang ia dapatkan hanyalah cela dan kekecewaan. Bahkan, ia diperkosa ramai-ramai oleh selusin perwira dan tubuh masainya dibuang ke laut. Cahaya selamat. Ia merasa bahwa wujudnya baru, reinkarnasi. Cahaya merasa bahwa dirinya kembali menjadi mulia, meskipun dengan profesi yang sama, penjaja cinta.
Cahaya tidak mampu membendung gempuran hasrat lelaki. Rahimnya tidak mampu menolak output dari perbuatannya itu. Empat anak terlahir dari rahimnya. Keempat anak Cahaya tidak mampu menebar sinar kebahagiaan bagi sang ibu. Mereka lebih merupakan buah karma atas perbuatan asusila ibu dan ayah yang tidak pernah mereka ketahui itu. Membesarkan mereka laksana senjata makan tuan. Cahaya menjadi korban asusila keturunannya sendiri.
Monolog "Cahaya" menyampaikan satir atas kiprah bejat kaum agamis yang dari luar tampak sok suci! Selain itu, monolog tersebut juga menyampaikan bobroknya moral para penguasa, pejabat dan aparat. Cahaya adalah simbol atas kebencian kaum marginal atas sikap picik masyarakat, di satu sisi. Di sisi lain, anggota masyarakat sendiri yang memanfaatkan dan menjadikan Cahaya sebagai bulan-bulan kenistaan. Cahaya adalah simbol kegelapan yang berjuang untuk terlihat menjadi terang dalam roda kehidupan. Suatu perjuangan panjang yang tiada berujung.
Monolog "Cahaya" dibawakan oleh Heliana Sinaga sebagai penutup rangkaian kegiatan menyambut Hari Kartini di Kafe Mediterrazia, Jalan Bukit Dago Utara 2c Bandung, hari Minggu, 16 Mei 2010, pukul 20.30 WIB. Naskah ditulis oleh Silvester Petara Hurit, salah seorang penggiat seni di Kota Bandung.

29 Apr 2010

SEBUAH ANIMO


SEBUAH ANIMO


ahhh... andai aku pakar
marketing
yang lantang lancar mengumbar
kata dan kalimat di pasar bentang
pasti aku bisa menggeruk semua isi
kantung kalbuku sampai bersih
tak bersisa

sayang aku hanyalah seorang penggali
kubur yang kerjanya hanya menggali
dan menimbun animo di dasar gembur
ufff upahku hanyalah peluh dan luapan
ombak kekalutan yang tak pernah tumpah
meski telah sesak berjejal
mengamuk dahsyat menampar dinding
sel tubuhku

seharusnya... aku sudah mendapat bonus
dari pekerjaanku ini
sudah berpuluh kecamatan, kelurahan,
ke-erwe-an, dan ke-erte-an orang yang
tak lagi mendapatkan perpanjangan
kartu animonya di dunia
tapi sayang ... karirku bukanlah
setipe MLM... bisa nambah poin
seiring banyaknya 'korban' yang
kukuburkan di sini

bukan... aku bukanlah sosok yang
setiap saat dipanggil di liang kubur
bukan ... tapi aku sepanjang waktu
berdiam di sisi kuburan animo yang kini
semakin berjamur dan menyebarkan
bau busuk

sayang... bulir mata tak lagi
berkolaborasi meskipun sudah kukirim
'pesan-pesan' khusus via rekening
syaitan. ahhh... tidak ada reaksi
sementara animo semakin melunak
lentur menggeliat mulai membangkit
kan amarah terpendam

ahhh ... mungkin ini akhir
karirku sebagai penjaga kubur
animo. darah keringat mengucur
deras berjalin membalut nanah
kepedihan merayap di setiap inci
pembuluh tubuhku.

kuingin layangkan sebuah balon
berisi animo melayang indah di udara
menghembuskan nafas harapan
ke muka bumi kepada pemirsa
yang sanggup menebak isi balon itu
ya... sebuah animo...
animo ... yang tak kunjung
terlontarkan

bandung 29 April 2010