6 Des 2010

CELOTEH ANAK II: DAGING BENERAN



DAGING BENERAN

Sore itu, Firdan tampak sumringah. Ia tahu neneknya sedang mengikuti pengajian dalam acara syukuran kelulusan anak tetangga. Ia sudah dapat menduga bahwa sang nenek tidak akan pulang dengan tangan hampa. Jauh di dalam benaknya sudah terbayang sekantung plastik dus besar berisi nasi dan lauk pauk yang tertata rapi serta sebuah dus kecil sarat kudapan di atasnya. ‘Pokoknya… harus dapat dagingnya…’ pikirnya. Tayangan TV di depan matanya sore itu tidak menarik perhatiannya. Terbukti, derita suara pagar menjelang waktu magrib tiba itu sontak membuatnya sangat gembira. Setengah melompat, ia berlari ke arah pintu. Teriakan riang pun membahana memecah perhatian ibu-ibu tetangga yang baru saja membubarkan diri dari acara itu.

Nenek : “Assalamualaikum!”
Firdan : “Nenek… udah ngajinya, ya? Bawa apa, Nek? (sibuk merogoh kantung kresek untuk
mencari tahu isi dus)
Nenek : “Ehh… nanti dulu….! Jangan ribut gitu! Tutup dulu pintu pagarnya!”
Firdan : (setengah berlari dan penuh semangat) Blaaaaarrrrrrrrrrrr!!!!!!! (pintu pagar
tertutup keras)
Nenek : “Ihhh… nutup pintu jangan tergesa-gesa!”
Firdan : “Heee… maaf, Nek!” (kembali sibuk membuka isi kantung plastik)

Dikeluarkannya sebuah dus kecil berisi aneka kudapan. Dibukanya dus itu. Namun, tidak satu kudapan pun yang menarik hatinya. Ditutupnya lagi dengan tergesa dus itu. Lalu, tangannya sibuk mengeluarkan dus besar yang paling diminatinya. Kresssskk. Dibukanya dus berisi nasi dan lauk pauk itu.

Nenek : “Firdan belum makan sore?”
Firdan : “Belum!” tukasnya pendek, “Kan nunggu Nenek!”
Nenek : “Tadinya buat Aki!”
Firdan : “Dede mah kan cuma pengen dagingnya aja!”
Nenek : “Kan.. Nenek udah masak daging… tuh… lihat!” (membuka tutup basin)
Firdan : (tidak tertarik) “Nggakkk … ahh…! Nggak mau….! Dede mah pengen daging
yang ini! Ini mah daging beneran! (sambil menunjukkan sekerat tebal
daging gepuk)
Nenek : “Lho… yang dimasak Nenek juga daging beneran!”
Firdan : “Bukan… bukan daging beneran! Itu mah daging boongan (tetelan).”
Nenek : ?????!!!!! (memandang hidangan yang terbuat dari daging tetelan)
Firdan : (menunjuk ke tempat hidangan) “Tuh… kan dagingnya beda! Ini lho, Nek,
yang namanya daging beneran! Lihat nih! Nih,nih, nih!” (sambil
menunjukkan daging itu) “Ini mah rasanya enak… enak banget, Nek!”
Nenek : (dongkol) “Iya, deh, nanti kalau mau minta dimasakin daging beneran…
minta dulu uangnya sama Ibu, ya! Nanti, Nenek yang beli dagingnya
terus dimasak kayak gini!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar