19 Mei 2010

MAWAR KOYAK


aku... akulah bunga mawar
tersayang di antara kembang-kembang
jutaan tersebar di taman liar
aku... aku ditumbuhkan di atas sebuah
altar di tengah-tengah sebuah kumpulan
lontaran riuh gemuruh

aku... akulah mawar
yang tumbuh melenggang menggapai langit
dengan pongah posisi duri
tegak menantang langit
menggoda penghuni jagat
dengan segudang aroma hasrat
mengguncang gelora


aku... akulah mawar
yang pernah dibiarkan
tumbuh menjadi primadona mahal
yang pernah ditatap
jutaan mata gelisah resah
mengaduk desah-desah sesak sengal

aku... akulah mawar
yang tak pernah menatap
mata-mata hitam
bersembunyi di balik rimbun dedaunan taman
yang tak pernah menangkap
rautan cakar-cakar tajam
yang menggurat garis kasar
di permukaan tanah

aku... akulah mawar
mawar yang koyak
karena tertusuk duri
yang tak lagi mau menegak
aku... akulah mawar
yang kini terkesiap
tergelinjang terguling
mengaduh menahan perih
aku... akulah mawar
yang kini siap menantang
deru amukan kematian
aku... akulah mawar
yang kini tak sanggup
menangisi kelopak
yang mulai runtuh

aku... akulah mawar
yang kini mengerut
menahan derita
aku... akulah mawar
yang kini mulai mengkerut

aku ... akulah mawar
mawar yang terkulai
aku... akulah mawar
mawar yang terkoyak
aku... akulah mawar
mawar yang terburai

On the cloudy days, May 2010

18 Mei 2010

"CAHAYA" YANG BERJUANG MENJADI TERANG



Cahaya adalah nama indah seorang wanita yang berwujud indah. Namun, sayang, ia tidak kunjung mewujudkan keindahan di dalam perjalanan hidupnya.Hari demi hari ia habiskan dengan memeras peluh di atas sebuah ranjang nafkah gairah. Cahaya menjadi daerah tujuan wisata kaum adam hidung belang, dalam istilah Cahaya: peziarah resah. Ya,Cahaya adalah wanita penjual hasrat. Pelacur! Siapapun bisa mendatanginya dengan niat dan tujuan yang beraneka.
Cahaya adalah pelacur yang kedudukannya jelas terhina dalam kancah religi. Cahaya tahu bahwa status dirinya menjadi sasaran hujatan kalangan pengkhotbah. Namun, Cahaya heran bahwa salah seorang pelanggannya justru datang dari kalangan pengkhotbah!!! Cahaya heran bahwa dirinya kelap tersudutkan dalam kacamata masyarakat, tetapi dirinya senantiasa dikejar anggota masyarakat dari berbagai kalangan, terutama pemuja hasrat.
Cahaya sadar profesinya sangat tercela. Namun, Cahaya tidak mau jika dirinya dituding sebagai wanita hina. Ia wanita dewasa yang ingin mendapatkan kemuliaan. Ia berjuang dengan caranya sendiri, termasuk mendekati para pelanggannya. Namun, apa yang ia dapatkan hanyalah cela dan kekecewaan. Bahkan, ia diperkosa ramai-ramai oleh selusin perwira dan tubuh masainya dibuang ke laut. Cahaya selamat. Ia merasa bahwa wujudnya baru, reinkarnasi. Cahaya merasa bahwa dirinya kembali menjadi mulia, meskipun dengan profesi yang sama, penjaja cinta.
Cahaya tidak mampu membendung gempuran hasrat lelaki. Rahimnya tidak mampu menolak output dari perbuatannya itu. Empat anak terlahir dari rahimnya. Keempat anak Cahaya tidak mampu menebar sinar kebahagiaan bagi sang ibu. Mereka lebih merupakan buah karma atas perbuatan asusila ibu dan ayah yang tidak pernah mereka ketahui itu. Membesarkan mereka laksana senjata makan tuan. Cahaya menjadi korban asusila keturunannya sendiri.
Monolog "Cahaya" menyampaikan satir atas kiprah bejat kaum agamis yang dari luar tampak sok suci! Selain itu, monolog tersebut juga menyampaikan bobroknya moral para penguasa, pejabat dan aparat. Cahaya adalah simbol atas kebencian kaum marginal atas sikap picik masyarakat, di satu sisi. Di sisi lain, anggota masyarakat sendiri yang memanfaatkan dan menjadikan Cahaya sebagai bulan-bulan kenistaan. Cahaya adalah simbol kegelapan yang berjuang untuk terlihat menjadi terang dalam roda kehidupan. Suatu perjuangan panjang yang tiada berujung.
Monolog "Cahaya" dibawakan oleh Heliana Sinaga sebagai penutup rangkaian kegiatan menyambut Hari Kartini di Kafe Mediterrazia, Jalan Bukit Dago Utara 2c Bandung, hari Minggu, 16 Mei 2010, pukul 20.30 WIB. Naskah ditulis oleh Silvester Petara Hurit, salah seorang penggiat seni di Kota Bandung.