<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951</id><updated>2011-09-02T23:17:58.563+07:00</updated><category term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><category term='RESENSI BUKU'/><category term='PETUALANGANKU'/><category term='CERPEN'/><category term='PUISI'/><category term='KEGIATAN KANTOR'/><category term='MONOLOG'/><category term='THE JOURNEY'/><category term='LOMBA EDUMUSLIM 2009'/><category term='SEMINAR'/><category term='AGENDA SI PUTRI'/><category term='KOMPETISI MENULIS BLOG'/><category term='CERITA  ANAK'/><category term='RESENSI'/><category term='INFO'/><category term='LOMBA MENULIS ULTAH BLOGFAM KE-7 2010'/><category term='Artikel Umum'/><category term='LOMBA'/><title type='text'>Cahaya Penaku</title><subtitle type='html'>Untaian karya sang putri ....!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-628221917929822984</id><published>2011-06-20T15:22:00.002+07:00</published><updated>2011-06-20T15:25:34.227+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INFO'/><title type='text'>INFO PENULISAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-YzenK4d5gkw/Tf8D4koqyeI/AAAAAAAAAMo/jK7B9ca95R4/s1600/MENULIS.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 121px; height: 161px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YzenK4d5gkw/Tf8D4koqyeI/AAAAAAAAAMo/jK7B9ca95R4/s320/MENULIS.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620215130423478754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan semua,&lt;br /&gt;Semoga info berikut bermanfaat.&lt;br /&gt;CALL FOR PAPERS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globethics.net mengundang para ilmuwan, akademisi, peneliti dan aktivis untuk mengirimkan hasil tulisannya, yang sudah pernah diterbitkan ataupun belum. Tulisan terpilih akan dimuat dalam Globethics.net dan diakses lebih dari 25.000 orang  dari 225 negara di seluruh dunia, dan lima tulisan terbaik akan mendapat hadiah dan sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat dan Ketentuan&lt;br /&gt;1.      Tulisan dapat berupa artikel ataupun paper atau sejenisnya dengan jumlah halaman dan jumlah artikel/paper yang dikirim tidak dibatasi,&lt;br /&gt;2.      Untuk format paper menggunakan bodynote dan menampilkan daftar pustaka (bibliography)&lt;br /&gt;3.      Tema tentang etika terapan (Agama, hubungan antar agama, politik, ekonomi, bisnis, keluarga, pendidikan, gender, budaya, methodology, komunitas, bahasa, lingkungan, bio, dll).&lt;br /&gt;4.      Tulisan sudah atau belum dipublikasikan.&lt;br /&gt;5.      Tulisan yang sudah pernah diterbitkan harus menyertakan surat persetujuan untuk di submit di GE ID dari penerbitan (form telah disediakan).&lt;br /&gt;6.      Tulisan boleh berasal dari salah satu dari tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris dan Arab.&lt;br /&gt;7.      Abstrak kurang lebih 200 kata dan ditulis dalam bahasa Inggris&lt;br /&gt;8.      Tulisan yang dikirim akan menjadi hak dari Globethics.net Indonesia dan Globethics.net berhak untuk mempublikasikannya.&lt;br /&gt;9.      Deadline pengiriman tulisan 15 Juli 2011.&lt;br /&gt;Cara pengiriman&lt;br /&gt;1.      Tulisan dikirim dalam format pdf dan Word Doc RTF&lt;br /&gt;2.      Tulisan dikirim via email kepada Nihayatul Wafiroh dengan alamat wafiroh@globethics.net.&lt;br /&gt;Hadiah&lt;br /&gt;Tulisan terbaik akan mendapat hadiah berupa sertifikat dan uang sebesar Rp. 3.000.000 untuk peringkat satu, Rp. 2.000.000 untuk peringkat kedua, Rp. 1.000.000 untuk peringkat ketiga, dan Rp. 500.000 untuk masing-masing dari dua orang juara harapan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Globethics.net adalah website yang mempunyai basis di Jenewa. Website ini memfokuskan diri pada etika terapan, yang dipahami dalam makna luasnya semisal tema tentang Filsafat, Islamic Studies, Gender, Ekonomi dan sebagainya. Inti dari website ini adalah electronic library. Tujuannya adalah menjembatani ketimpangan informasi antara dunia Utara dan Selatan, dan juga dunia Barat dan Timur. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Globethics.net menyediakan beberapa layanan antara lain perpustakaan elektronik yang menyediakan artikel dan jurnal online dan bisa didownload full text, gratis serta multibahasa. Globethethics.net juga mendorong untuk membangun work group diantara partisipan yang nantinya bisa menjadi tempat berdiskusi serta membangun kerjasama penelitian bersama. Partisipan dalam Globethics.net juga memiliki akses untuk mensubmit tulisan-tulisan ke dalam perpustakaan elektronik di Globethics.net. Kesemua fasilitas tersebut bisa diakses secara gratis&lt;br /&gt;untuk semua participant yang telah mendaftar secara gratis di Globethics.net. Saat ini Globethics.net telah telah memiliki lebih dari 500.000 full-text artikel dan buku dalam tema Etika terapan dan sekitar 120 internasional jurnal.&lt;br /&gt;Globethics.net sejak tahun 2010 telah membangun kerjasama dengan ICRS-Yogya (Indonesian Consortium for Religious Studies) yang merupakan program doctor dari konsorsium tiga universitas yakni Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Kristen Duta Wacana, dan Universitas Gadjah Mada. Tujuan utama dari kerjasama ini adalah untuk mengembangkan Globethics.net di wilayah Indonesia. Di samping itu diharapkan dengan adanya Globethics.net Indonesia (Globethics.net ID), Indonesia dapat menyumbangkan pengetahuan baru tentang etika terapan pada dunia.&lt;br /&gt; Demikian undangan pengiriman tulisan ini kami buat. Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi email wafiroh@globethics.net.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contact Person&lt;br /&gt;Nihayatul Wafiroh&lt;br /&gt;Globethics.net Indonesia&lt;br /&gt;Alamat : ICRS-Yogya&lt;br /&gt;               Sekolah Pascasarjana UGM&lt;br /&gt;               Lantai 3&lt;br /&gt;               Jl: Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta&lt;br /&gt;               Telp : 0274-562570&lt;br /&gt;www.globethics.net&lt;br /&gt;wafiroh@globethics.net&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-628221917929822984?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/628221917929822984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2011/06/info-penulisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/628221917929822984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/628221917929822984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2011/06/info-penulisan.html' title='INFO PENULISAN'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YzenK4d5gkw/Tf8D4koqyeI/AAAAAAAAAMo/jK7B9ca95R4/s72-c/MENULIS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-4044425607708313871</id><published>2011-06-20T15:09:00.002+07:00</published><updated>2011-06-20T15:11:28.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INFO'/><title type='text'>INFO BEASISWA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-s1T_60zx1yU/Tf8AnIMwf4I/AAAAAAAAAMg/8XfLoRK6W6w/s1600/BELAJAR.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 215px; height: 234px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-s1T_60zx1yU/Tf8AnIMwf4I/AAAAAAAAAMg/8XfLoRK6W6w/s320/BELAJAR.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620211532197560194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beasiswa Unggulan – Kementerian Pendidikan Nasional merupakan pemberian bantuan biaya pendidikan oleh pemerintah Indonesia atau pihak lain berdasarkan atas kesepakatan kersjasama kepada putera – puteri terbaik bangsa Indonesa dan mahasiswa asing terpilih. (Permendiknas RI Nomor 20 Tahun 2009)&lt;br /&gt;SASARAN PROGRAM BEASISWA UNGGULAN&lt;br /&gt;Beasiswa Unggulan diberikan kepada mereka yang memiliki prestasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Peraih medali Olimpiade Sains / Teknologi tingkat Nasional/ Internasional;&lt;br /&gt;2. Pemenang lomba LKS (Lomba Kompetensi Siswa) Tingkat Nasional;&lt;br /&gt;3. Pemenang Lomba tingkat Nasional / Internasional, bidang Sains, Teknologi, Seni Budaya, Olahraga, dll;&lt;br /&gt;4. Lulusan terbaik SMA / MA / SMK / Ponpes / Perguruan Tinggi yang diusulkan oleh Pemda (Propinsi/ Kabupaten/ Kota), Masyarakat (LSM), dan Insdustri;&lt;br /&gt;5. Lulusan Cumlaude dari Perguruan Tinggi/ Sekolah Tinggi/ Akademi;&lt;br /&gt;6. Penulis, Pencipta, Peneliti, Seniman, Olahragawan, dan Tokoh (P3SWOT) berprestasi;&lt;br /&gt;7. Staf Pemda dan Staf Diknas dari unit- unit utama serta jajarannya;&lt;br /&gt;8. Bukan Dosen (untuk reguler S1, S2, dan S3).&lt;br /&gt;Jenis Beasiswa Unggulan&lt;br /&gt;Berdasarkan Permendiknas tentang Beasiswa Unggulan, jenis beasiswa yang diberikan terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Beasiswa Unggulan Program Sarjana, yaitu beasiswa diperuntukkan untuk lulusan berprestasi dari Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) guna mengikuti proses pendidikan program sarjana atau yang sederajat di perguruan tinggi bidang sains dan humaniora serta vokasi.&lt;br /&gt;b. Beasiswa Unggulan Program Magister diperuntukkan untuk lulusan Sarjana (S1) atau sederajat yang memenuhi persyaratan tertentu untuk melanjutkan pendidikan di tingkat magister pada bidang studi dan konsentrasi yang berlaku di lingkungan KEMDIKNAS. Bagi aktifis mahasiswa bila memenuhi kriteria yang dipersyaratkan dapat menggunakan jalur ini untuk jenjang pendidikan selanjutnya.&lt;br /&gt;c. Beasiswa Unggulan Program Doktor diperuntukkan untuk lulusan Magister (S2) atau yang sederajat yang memenuhi persyaratan tertentu untuk melanjutkan pendidikan di tingkat doktor pada bidang studi dan konsentrasi yang berlaku di lingkungan KEMDIKNAS.&lt;br /&gt;d. Beasiswa Tunjangan Kreatifitas diperuntukkan untuk peserta didik pemenang kejuaraan tingkat internasional dalam berbagai bidang (vokasi, olahraga, seni dan sains).&lt;br /&gt;e. Beasiswa mahasiswa asing (Palestina, dll) merupakan program khusus untuk mahasiswa asing dan diutamakan untuk negara Palestina, dll. Program ini digunakan untuk menstimulus program studi yang menyelengarakan gelar ganda dan kembaran.&lt;br /&gt;f. Beasiswa untuk studi lanjut bagi olah ragawan berprestasi tingkat nasional dan internasional serta pemenang olimpiade sains, seni dan iptek.&lt;br /&gt;g. Beasiswa Ulung merupakan program khusus untuk akselerasi penyelenggaran Fasttrack Program di dalam dan luar negeri dalam jenjang S1 hingga S3.&lt;br /&gt;h. Beasiswa kemitraan dengan pihak industri terkait yang peduli di dunia pendidikan seperti BU-CIMB Niaga, BU-BRI (Beasiswa Nusantara), dll.&lt;br /&gt;i. Beasiswa Unggulan untuk Peneliti, Penulis, Pencipta, Seniman, Wartawan, Olah Ragawan dan Tokoh (P3SWOT) diberikan berdasarkan profesi pelamar dan tidak memperhatikan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;j. Beasiswa kemitraan alumni digunakan untuk pembinaan alumni program Beasiswa Unggulan jenjang pendidikan Sarjana (S1) atau sederajat, magister (S2) dan doktor (S3).&lt;br /&gt;k. Beasiswa bidang kajian khusus seperti Akuntasi Pemerintahan merupakan program khusus untuk bidang kajian akuntasi pemerintah. Hal ini diperlukan untuk mendukung terciptanya pemerintah yang akuntabel (Good Governance). Bidang Energi terbarukan diperuntukan untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia yang memahami energy terbarukan di Indonesia, dan bidang kajian Gametech diperuntukan untuk penyediaan sumber daya manusia yang menguasai teknologi khususnya mengarah ke edutaiment.&lt;br /&gt;Bentuk Beasiswa Unggulan&lt;br /&gt;Peserta program Beasiswa Unggulan yang lolos seleksi baik di perguruan tinggi penyelenggara maupun dari Sekretariat Beasiswa Unggulan akan menerima beasiswa dalam bentuk salah satu dan/atau kombinasi dari sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Biaya hidup adalah beasiswa yang diterima untuk menbantuan biaya hidup pada saat mengikuti program pendidikan jenjang S1 atau yang sederajat,S2 dan S3.&lt;br /&gt;b. Biaya pendidikan adalah beasiswa yang diterima untuk membantu sebagian atau membiayai seluruh biaya pendidikan pada saat mengikuti program pendidikan jenjang S1 atau yang sederajat, S2 dan S3.&lt;br /&gt;c. Biaya buku adalah beasiswa yang diberikan kepada peserta beasiswa saat menempuh program pendidikan jenjang S1 atau yang sederajat, S2 dan S3.&lt;br /&gt;d. Biaya penelitian adalah beasiswa yang diberikan kepada peserta saat menempuh program pendidikan jenjang S1 atau sederajat, S2 dan S3.&lt;br /&gt;e. Biaya publikasi ilmiah adalah beasiswa yang diberikan kepada peserta saat menempuh program pendidikan jenjang S1atau yang sederajat, S2 dan S3.&lt;br /&gt;f. Tunjangan prestasi adalah bantuan pendidikan bagi peserta yang lolos seleksi dan diterima berdasarkan prestasi yang diraih.&lt;br /&gt;g. Tunjangan kreatifitas adalah bantuan pendidikan bagi peserta yang lolos seleksi dan diterima berdasarkan kreatifitas yang di capai.&lt;br /&gt;h. Bantuan beasiswa bagi peneliti, penulis, pencipta, seniman, wartawan, olahragawan dan tokoh yang disalurkan melalui P3SWOT.&lt;br /&gt;i. Biaya transportasi/tiket pesawat adalah bantuan tiket bagi peserta untuk melakukan kegiatan ke atau dari luar negeri.&lt;br /&gt;j. Biaya asuransi kesehatan adalah bantuan kesehatan untuk mendukung kegiatan pendidikan selama di dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;k. Biaya kedatangan dan kepulangan adalah bantuan pendidikan untuk mengikuti program orientasi dan pembekalan bagi peserta beasiswa.&lt;br /&gt;l. Biaya tunjangan awal/akhir program adalah bantuan yang diberikan pada saat awal dan berakhirnya kegiatan pendidikan peserta beasiswa.&lt;br /&gt;m. Biaya matrikulasi adalah bantuan yang diberikan apabila peserta beasiswa diwajibkan mengikuti kuliah matrikulasi pada program pendidikan yang diikuti&lt;br /&gt;n. Biaya operasional dan biaya-biaya lainnya (untuk berlangganan internet, sewa komputer, dll).&lt;br /&gt;Setiap peserta program Beasiswa Unggulan berhak menerima seluruh bentuk beasiswa yang di tawarkan tersebut di atas, namun syarat utama pelamar adalah sangat kompetitif sekali, walaupun hal itu sangat jarang terjadi dan hak tersebut juga sesuai program beasiswa yang diikuti&lt;br /&gt;PERSYARATAN PROGRAM BEASISWA UNGGULAN&lt;br /&gt;1. Sudah diterima di Perguruan Tinggi dengan melampirkan Letter of Acceptance&lt;br /&gt;2. Surat Pernyataan sanggup mengikuti peraturan pada Program Beasiswa Unggulan&lt;br /&gt;3. Mengisi data diri secara lengkap pada website Program Beasiswa Unggulan:&lt;br /&gt;http://www.beasiswaunggulan.kemdiknas.go.id4. Melampirkan proposal rencana usulan, tugas akhir/ Skripsi/ Tesis/ Disertasi&lt;br /&gt;5. Syarat IPK &amp; TOEFL untuk mengikuti seleksi:&lt;br /&gt;S1: UAN &gt; 7.25, IPK &gt; 3.00, TOEFL 450&lt;br /&gt;S2: IPK &gt; 3.25, TOEFL 500&lt;br /&gt;S3: IPK &gt; 3.25, TOEFL 550&lt;br /&gt;Isi pada form online dengan melampirkan scan Ijazah &amp; Transkrip Nilai (untuk IPK &amp; UAN) serta scan sertifikat TOEFL yang sudah dilegalisir.&lt;br /&gt;*) Apabila calon pelamar tidak memiliki sertifikat TOEFL, dapat melampirkan sertifikat TOEIC, TOEFL IBT, IELTS, dll&lt;br /&gt;6. Melampirkan Sertifikat penghargaan/ prestasi&lt;br /&gt;7. Usia Pendaftar diprioritaskan:&lt;br /&gt;a. DIV/ S1 tidak lebih dari 21 tahun&lt;br /&gt;b. S2 tidak lebih dari 35 tahun&lt;br /&gt;c. S3 tidak lebih dari 45 tahun&lt;br /&gt;8. Melampirkan surat rekomendasi dari Instansi asal untuk mengikuti program Beasiswa Unggulan.&lt;br /&gt;9. Membuat publikasi pada media masa nasional / Internasional (ISR).&lt;br /&gt;Periode Beasiswa&lt;br /&gt;Peserta program Beasiswa Unggulan selama menuntut ilmu baik di dalam negeri maupun luar negeri akan dibatasi waktu penerimaan beasiswanya. Hal ini dilakukan untuk memicu peserta program Beasiswa Unggulan dalam menyelesaikan studinya. Sebagai informasi awal, periode beasiswa yang diberikan terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Dari aspek pola pembelajaran yang dikembangkan, untuk program sarjana (S1) atau yang sederajat, peserta akan mendapatkan beasiswa (biaya pendidikan) selama maksimal 6-8 semester untuk biaya pendidikan. Sedangkan bagi yang mendapatkan biaya hidup akan diterima maksimal 36-48 bulan, kecuali untuk mahasiswa asing tertentu.&lt;br /&gt;2. Dari aspek pola pembelajaran yang dikembangkan, untuk program Magister (S2), peserta akan menerima beasiswa (biaya pendidikan) selama maksimal 4 semester yang meliputi biaya pendidikan. Sedangkan biaya hidup maksimal akan diberikan selama 18 bulan, kecuali untuk mahasiswa asing tertentu.&lt;br /&gt;3. Dari aspek pola pembelajaran untuk program Doktor (S3) selama maksimal 6 semester yang meliputi biaya pendidikan dan biaya hidup, kecuali untuk mahasiswa asing tertentu.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk melakukan proses pengajuan Beasiswa Unggulan dapat dilakukan mulai tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember pada tahun yang berjalan. Sedangkan proses pencairan dana beasiswanya mengikuti proses pencairan anggaran tahun berjalan. Adapun tutup tahun anggaran dilakukan pada tanggal 31 Desember tahun berjalan.&lt;br /&gt;For more information, please visit official website: www.beasiswaunggulan.kemdiknas.go.I'd Semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-4044425607708313871?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/4044425607708313871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2011/06/info-beasiswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4044425607708313871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4044425607708313871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2011/06/info-beasiswa.html' title='INFO BEASISWA'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-s1T_60zx1yU/Tf8AnIMwf4I/AAAAAAAAAMg/8XfLoRK6W6w/s72-c/BELAJAR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-5452987223498687574</id><published>2010-12-06T09:59:00.004+07:00</published><updated>2010-12-06T10:01:12.753+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA MENULIS ULTAH BLOGFAM KE-7 2010'/><title type='text'>FLASH FICTION: HANTU BERISIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxRx7r_s7I/AAAAAAAAAMM/QIw4ky3zhe0/s1600/GOGOG%2BHALLOWEEN.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 199px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxRx7r_s7I/AAAAAAAAAMM/QIw4ky3zhe0/s200/GOGOG%2BHALLOWEEN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547398759291270066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANTU BERISIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sreekkkkkkkkkkk!!! Bunyi gemerisik itu memecah malam. Aldino ketakutan. Matanya tertuju pada bayangan yang menyelinap di sudut bawah pintu kamar itu. Bayangan itu semakin besar dan tinggi. Bunyi itu  semakin keras. ‘Haaaannnn… tuuuu!! Duhhh… gimana, nih?’ tanyanya tertahan. Bayangan itu seperti seorang penyihir dengan topi lancip dan sapu ajaibnya.&lt;br /&gt; ‘Takut itu harus diobati oleh diri sendiri!’ Aldino teringat pesan neneknya. ‘Aku gak boleh takut!’ serunya dalam hati. Sesekali dilihatnya bayangan itu. Ia merayap ke arah jendela dan mengintip dari balik tirai. Bayangan hitam itu memegang sapu tinggi. Srekkk … srekkk!! Kening Aldino berkerut. ‘Haaa…!’ pekiknya dalam hati, ‘Aki Pardi…!’ Aki Pardi adalah petugas kebersihan. Sejak istrinya sakit keras, lelaki tua itu hanya dapat melakukan tugasnya malam hari. Seharian ia merawat istrinya itu. Aldino ingat itu. Ia terharu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-5452987223498687574?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/5452987223498687574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/12/flash-fiction-hantu-berisik_06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5452987223498687574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5452987223498687574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/12/flash-fiction-hantu-berisik_06.html' title='FLASH FICTION: HANTU BERISIK'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxRx7r_s7I/AAAAAAAAAMM/QIw4ky3zhe0/s72-c/GOGOG%2BHALLOWEEN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-6733977314454903807</id><published>2010-12-06T09:00:00.004+07:00</published><updated>2010-12-06T09:05:22.113+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA MENULIS ULTAH BLOGFAM KE-7 2010'/><title type='text'>CELOTEH ANAK II: DAGING BENERAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxEVuTaEoI/AAAAAAAAAL8/PHPeQLe8BTY/s1600/GEPUK.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 153px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxEVuTaEoI/AAAAAAAAAL8/PHPeQLe8BTY/s200/GEPUK.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547383981010981506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAGING BENERAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sore itu, Firdan tampak sumringah. Ia tahu neneknya sedang mengikuti pengajian dalam acara syukuran kelulusan anak tetangga. Ia sudah dapat menduga bahwa sang nenek tidak akan pulang dengan tangan hampa. Jauh di dalam benaknya sudah terbayang sekantung plastik dus besar berisi nasi dan lauk pauk yang tertata rapi serta sebuah dus kecil sarat kudapan di atasnya. ‘Pokoknya… harus dapat dagingnya…’ pikirnya. Tayangan TV di depan matanya sore itu tidak menarik perhatiannya. Terbukti, derita suara pagar menjelang waktu magrib tiba itu sontak membuatnya sangat gembira. Setengah melompat, ia berlari ke arah pintu. Teriakan riang pun membahana memecah perhatian ibu-ibu tetangga yang baru saja membubarkan diri dari acara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek : “Assalamualaikum!”&lt;br /&gt;Firdan : “Nenek… udah ngajinya, ya? Bawa apa, Nek? (sibuk merogoh kantung kresek untuk &lt;br /&gt;          mencari tahu isi dus)&lt;br /&gt;Nenek : “Ehh… nanti dulu….! Jangan ribut gitu! Tutup dulu pintu pagarnya!”&lt;br /&gt;Firdan : (setengah berlari dan penuh semangat) Blaaaaarrrrrrrrrrrr!!!!!!! (pintu pagar&lt;br /&gt;          tertutup keras) &lt;br /&gt;Nenek : “Ihhh… nutup pintu jangan tergesa-gesa!”&lt;br /&gt;Firdan :  “Heee… maaf, Nek!” (kembali sibuk membuka isi kantung plastik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dikeluarkannya sebuah dus kecil berisi aneka kudapan. Dibukanya dus itu. Namun, tidak satu kudapan pun yang menarik hatinya. Ditutupnya lagi dengan tergesa dus itu. Lalu, tangannya sibuk mengeluarkan dus besar yang paling diminatinya. Kresssskk. Dibukanya dus berisi nasi dan lauk pauk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek  : “Firdan belum makan sore?”&lt;br /&gt;Firdan  : “Belum!” tukasnya pendek, “Kan nunggu Nenek!”&lt;br /&gt;Nenek  : “Tadinya buat Aki!”&lt;br /&gt;Firdan  : “Dede mah kan cuma pengen dagingnya aja!”&lt;br /&gt;Nenek  : “Kan.. Nenek udah masak daging… tuh… lihat!” (membuka tutup basin)&lt;br /&gt;Firdan  : (tidak tertarik) “Nggakkk … ahh…! Nggak mau….! Dede mah pengen daging&lt;br /&gt;                  yang ini! Ini mah daging beneran! (sambil menunjukkan sekerat tebal &lt;br /&gt;                  daging gepuk) &lt;br /&gt;Nenek  : “Lho… yang dimasak Nenek juga daging beneran!”&lt;br /&gt;Firdan         : “Bukan… bukan daging beneran! Itu mah daging boongan (tetelan).”&lt;br /&gt;Nenek         : ?????!!!!! (memandang hidangan yang terbuat dari daging tetelan)&lt;br /&gt;Firdan         : (menunjuk ke tempat hidangan) “Tuh… kan dagingnya beda! Ini lho, Nek,&lt;br /&gt;                  yang namanya daging beneran! Lihat nih! Nih,nih, nih!” (sambil &lt;br /&gt;                  menunjukkan daging itu) “Ini mah rasanya enak… enak banget, Nek!”&lt;br /&gt;Nenek         : (dongkol) “Iya, deh, nanti kalau mau minta dimasakin daging beneran… &lt;br /&gt;                  minta dulu uangnya sama Ibu, ya! Nanti, Nenek yang beli dagingnya&lt;br /&gt;                  terus dimasak kayak gini!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-6733977314454903807?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/6733977314454903807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/12/celoteh-anak-ii-daging-beneran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6733977314454903807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6733977314454903807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/12/celoteh-anak-ii-daging-beneran.html' title='CELOTEH ANAK II: DAGING BENERAN'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxEVuTaEoI/AAAAAAAAAL8/PHPeQLe8BTY/s72-c/GEPUK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-4102064116363261856</id><published>2010-12-06T08:48:00.003+07:00</published><updated>2010-12-06T09:00:21.111+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA MENULIS ULTAH BLOGFAM KE-7 2010'/><title type='text'>CELOTEH ANAK I: RUMAH MAKSIMALIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxDqWXB9PI/AAAAAAAAAL0/Otw33fpolWY/s1600/RUMAH.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxDqWXB9PI/AAAAAAAAAL0/Otw33fpolWY/s200/RUMAH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547383235849352434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;RUMAH MAKSIMALIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak biasanya Firdan asyik menatap layar kaca yang memperlihatkan tayangan&lt;br /&gt;tentang griya. Padahal, hari Sabtu atau Minggu, pada jam tayang yang sama ia akan hunting program aksi kesayangannya, Naruto-kah atau tayangan berbau teknologi Jepang atau kartun lainnya. Sorot matanya tampak mengagumi setiap detil rumah indah yang menjadi objek program itu.&lt;br /&gt;Aku : “Ih tumben nonton ginian?” (sambil duduk disampingnya)&lt;br /&gt;Firdan : (tanpa menoleh) “Rumahnya bagus, Bu! Lihat … tuh! Ada kolam renangnya di&lt;br /&gt;          belakang! Ada pancurannya! Dede (ia biasa menyebut dirinya) mau punya rumah &lt;br /&gt;          kayak gitu!”&lt;br /&gt;Aku : (tersenyum) “Ya, doakan mudah-mudahan Abu bisa punya rezeki!”&lt;br /&gt;Firdan : (menoleh dengan sorot mata dan raut wajah penuh semangat) “Ehh, Abu… Abu… &lt;br /&gt;          rumahnya Bapak itu (sambil menunjuk ke arah TV) nggak banyak barang … tapi &lt;br /&gt;          bagus, ya, Bu?&lt;br /&gt;Aku : “Ya… kan namanya juga rumah minimalis……….!” (dengan nada santai)&lt;br /&gt;Firdan : (bingung sejenak dan matanya berkeliling menyusuri ruang demi ruang di dalam &lt;br /&gt;          rumah (yang masih milik neneknya itu)—lemari buku penuh sesak, tumpukan koran&lt;br /&gt;          di bawah meja, tumpukan lipatan baju yang belum disetrika, barisan barang &lt;br /&gt;          kecil di atas buffet, meja makan yang sarat hidangan empat sehat lima &lt;br /&gt;          sempurna) “Mhhhmmm… jadi… rumah minimalis itu rumah yang nggak banyak barang,&lt;br /&gt;          kan, Bu? (tanyanya mengulang)&lt;br /&gt;Aku : “Ya…”&lt;br /&gt;Firdan : (bertubi-tubi) “Di rumah nenek, kan, banyak barang ya, Bu? Iya, kan, Bu?&lt;br /&gt;Aku : (berdehem) “Hmmmmmmmmm…..”&lt;br /&gt;Firdan : “Jadi bukan rumah minimalis!”&lt;br /&gt;Aku : (berdehem) “Hmmmmmmmmm…..”&lt;br /&gt;Firdan : (bertubi-tubi) “Kalau nggak minimalis… rumah nenek jadi rumah maksimalis, &lt;br /&gt;          kan, Bu? Ihhh…. Nggakk ahhh… Dede mah nggak mau ahhh punya rumah kayak punya &lt;br /&gt;          nenek! Nggak mau yang banyak barangnya!!!”&lt;br /&gt;Aku : Rghtuikrttttzzz@#$$@%!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-4102064116363261856?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/4102064116363261856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/12/celoteh-anak-i-rumah-maksimalis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4102064116363261856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4102064116363261856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/12/celoteh-anak-i-rumah-maksimalis.html' title='CELOTEH ANAK I: RUMAH MAKSIMALIS'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/TPxDqWXB9PI/AAAAAAAAAL0/Otw33fpolWY/s72-c/RUMAH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-976714969097351581</id><published>2010-05-19T15:01:00.004+07:00</published><updated>2010-05-19T15:21:06.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>MAWAR KOYAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S_OfLlLw0uI/AAAAAAAAALk/brmqcUoj8Vs/s1600/mawar+kayu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S_OfLlLw0uI/AAAAAAAAALk/brmqcUoj8Vs/s320/mawar+kayu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472892993494110946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;aku... akulah bunga mawar&lt;br /&gt;tersayang di antara kembang-kembang&lt;br /&gt;jutaan tersebar di taman liar&lt;br /&gt;aku... aku ditumbuhkan di atas sebuah&lt;br /&gt;altar di tengah-tengah sebuah kumpulan&lt;br /&gt;lontaran riuh gemuruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;yang tumbuh melenggang menggapai langit&lt;br /&gt;dengan pongah posisi duri &lt;br /&gt;tegak menantang langit&lt;br /&gt;menggoda penghuni jagat &lt;br /&gt;dengan segudang aroma hasrat&lt;br /&gt;mengguncang gelora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;yang pernah dibiarkan &lt;br /&gt;tumbuh menjadi primadona mahal&lt;br /&gt;yang pernah ditatap &lt;br /&gt;jutaan mata gelisah resah&lt;br /&gt;mengaduk desah-desah sesak sengal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;yang tak pernah menatap&lt;br /&gt;mata-mata hitam &lt;br /&gt;bersembunyi di balik rimbun dedaunan taman&lt;br /&gt;yang tak pernah menangkap&lt;br /&gt;rautan cakar-cakar tajam&lt;br /&gt;yang menggurat garis kasar &lt;br /&gt;di permukaan tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;mawar yang koyak&lt;br /&gt;karena tertusuk duri&lt;br /&gt;yang tak lagi mau menegak&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;yang kini terkesiap&lt;br /&gt;tergelinjang terguling&lt;br /&gt;mengaduh menahan perih&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;yang kini siap menantang &lt;br /&gt;deru amukan kematian&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;yang kini tak sanggup &lt;br /&gt;menangisi kelopak &lt;br /&gt;yang mulai runtuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;yang kini mengerut&lt;br /&gt;menahan derita&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;yang kini mulai mengkerut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ... akulah mawar&lt;br /&gt;mawar yang terkulai &lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;mawar yang terkoyak&lt;br /&gt;aku... akulah mawar&lt;br /&gt;mawar yang terburai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the cloudy days, May 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-976714969097351581?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/976714969097351581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/05/mawar-koyak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/976714969097351581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/976714969097351581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/05/mawar-koyak.html' title='MAWAR KOYAK'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S_OfLlLw0uI/AAAAAAAAALk/brmqcUoj8Vs/s72-c/mawar+kayu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-3220245387941591501</id><published>2010-05-18T15:54:00.003+07:00</published><updated>2010-05-18T16:50:27.144+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MONOLOG'/><title type='text'>"CAHAYA" YANG BERJUANG MENJADI TERANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S_JZywRZ56I/AAAAAAAAALc/py5r1jJDKN4/s1600/100_1953%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S_JZywRZ56I/AAAAAAAAALc/py5r1jJDKN4/s320/100_1953%5B1%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472535225694807970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Cahaya adalah nama indah seorang wanita yang berwujud indah. Namun, sayang, ia tidak kunjung mewujudkan keindahan di dalam perjalanan hidupnya.Hari demi hari ia habiskan dengan memeras peluh di atas sebuah ranjang nafkah gairah. Cahaya menjadi daerah tujuan wisata kaum adam hidung belang, dalam istilah Cahaya: peziarah resah. Ya,Cahaya adalah wanita penjual hasrat. Pelacur! Siapapun bisa mendatanginya dengan niat dan tujuan yang beraneka.&lt;br /&gt;    Cahaya adalah pelacur yang kedudukannya jelas terhina dalam kancah religi. Cahaya tahu bahwa status dirinya menjadi sasaran hujatan kalangan pengkhotbah. Namun, Cahaya heran bahwa salah seorang pelanggannya justru datang dari kalangan pengkhotbah!!! Cahaya heran bahwa dirinya kelap tersudutkan dalam kacamata masyarakat, tetapi dirinya senantiasa dikejar anggota masyarakat dari berbagai kalangan, terutama pemuja hasrat. &lt;br /&gt;     Cahaya sadar profesinya sangat tercela. Namun, Cahaya tidak mau jika dirinya dituding sebagai wanita hina. Ia wanita dewasa yang ingin mendapatkan kemuliaan. Ia berjuang dengan caranya sendiri, termasuk mendekati para pelanggannya. Namun, apa yang ia dapatkan hanyalah cela dan kekecewaan. Bahkan, ia diperkosa ramai-ramai oleh selusin perwira dan tubuh masainya dibuang ke laut. Cahaya selamat. Ia merasa bahwa wujudnya baru, reinkarnasi. Cahaya merasa bahwa dirinya kembali menjadi mulia, meskipun dengan profesi yang sama, penjaja cinta. &lt;br /&gt;     Cahaya tidak mampu membendung gempuran hasrat lelaki. Rahimnya tidak mampu menolak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;output&lt;/span&gt; dari perbuatannya itu. Empat anak terlahir dari rahimnya. Keempat anak Cahaya tidak mampu menebar sinar kebahagiaan bagi sang ibu. Mereka lebih merupakan buah karma atas perbuatan asusila ibu dan ayah yang tidak pernah mereka ketahui itu. Membesarkan mereka laksana senjata makan tuan. Cahaya menjadi korban asusila keturunannya sendiri.&lt;br /&gt;     Monolog "Cahaya" menyampaikan satir atas kiprah bejat kaum agamis yang dari luar tampak sok suci! Selain itu, monolog tersebut juga menyampaikan bobroknya moral para penguasa, pejabat dan aparat. Cahaya adalah simbol atas kebencian kaum marginal atas sikap picik masyarakat, di satu sisi. Di sisi lain, anggota masyarakat sendiri yang memanfaatkan dan menjadikan Cahaya sebagai bulan-bulan kenistaan. Cahaya adalah simbol kegelapan yang berjuang untuk terlihat menjadi terang dalam roda kehidupan. Suatu perjuangan panjang yang tiada berujung.&lt;br /&gt;    Monolog "Cahaya" dibawakan oleh Heliana Sinaga sebagai penutup rangkaian kegiatan menyambut Hari Kartini di Kafe Mediterrazia, Jalan Bukit Dago Utara 2c Bandung, hari Minggu, 16 Mei 2010, pukul 20.30 WIB. Naskah ditulis oleh Silvester Petara Hurit, salah seorang penggiat seni di Kota Bandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-3220245387941591501?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/3220245387941591501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/05/cahaya-yang-berjuang-menjadi-terang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/3220245387941591501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/3220245387941591501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/05/cahaya-yang-berjuang-menjadi-terang.html' title='&quot;CAHAYA&quot; YANG BERJUANG MENJADI TERANG'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S_JZywRZ56I/AAAAAAAAALc/py5r1jJDKN4/s72-c/100_1953%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-8950664234078854098</id><published>2010-04-29T15:18:00.003+07:00</published><updated>2010-04-29T15:38:00.961+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>SEBUAH ANIMO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S9lFXRnBmqI/AAAAAAAAALU/tG4r0-FlEZw/s1600/Mobile.CaPa.ru.Papers.051.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 176px; height: 220px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S9lFXRnBmqI/AAAAAAAAALU/tG4r0-FlEZw/s320/Mobile.CaPa.ru.Papers.051.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465475888957201058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH ANIMO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ahhh... andai aku pakar &lt;br /&gt;marketing &lt;br /&gt;yang lantang lancar mengumbar&lt;br /&gt;kata dan kalimat di pasar bentang&lt;br /&gt;pasti aku bisa menggeruk semua isi &lt;br /&gt;kantung kalbuku sampai bersih&lt;br /&gt;tak bersisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayang aku hanyalah seorang penggali &lt;br /&gt;kubur yang kerjanya hanya menggali&lt;br /&gt;dan menimbun animo di dasar gembur&lt;br /&gt;ufff upahku hanyalah peluh dan luapan &lt;br /&gt;ombak kekalutan yang tak pernah tumpah &lt;br /&gt;meski telah sesak berjejal &lt;br /&gt;mengamuk dahsyat menampar dinding &lt;br /&gt;sel tubuhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seharusnya... aku sudah mendapat bonus&lt;br /&gt;dari pekerjaanku ini &lt;br /&gt;sudah berpuluh kecamatan, kelurahan, &lt;br /&gt;ke-erwe-an, dan ke-erte-an orang yang &lt;br /&gt;tak lagi mendapatkan perpanjangan&lt;br /&gt;kartu animonya di dunia&lt;br /&gt;tapi sayang ... karirku bukanlah&lt;br /&gt;setipe MLM... bisa nambah poin&lt;br /&gt;seiring banyaknya 'korban' yang &lt;br /&gt;kukuburkan di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan... aku bukanlah sosok yang &lt;br /&gt;setiap saat dipanggil di liang kubur&lt;br /&gt;bukan ... tapi aku sepanjang waktu &lt;br /&gt;berdiam di sisi kuburan animo yang kini&lt;br /&gt;semakin berjamur dan menyebarkan &lt;br /&gt;bau busuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayang... bulir mata tak lagi &lt;br /&gt;berkolaborasi meskipun sudah kukirim&lt;br /&gt;'pesan-pesan' khusus via rekening&lt;br /&gt;syaitan. ahhh... tidak ada reaksi&lt;br /&gt;sementara animo semakin melunak&lt;br /&gt;lentur menggeliat mulai membangkit&lt;br /&gt;kan amarah terpendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ahhh ... mungkin ini akhir&lt;br /&gt;karirku sebagai penjaga kubur&lt;br /&gt;animo. darah keringat mengucur&lt;br /&gt;deras berjalin membalut nanah &lt;br /&gt;kepedihan merayap di setiap inci &lt;br /&gt;pembuluh tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuingin layangkan sebuah balon&lt;br /&gt;berisi animo melayang indah di udara&lt;br /&gt;menghembuskan nafas harapan&lt;br /&gt;ke muka bumi kepada pemirsa&lt;br /&gt;yang sanggup menebak isi balon itu&lt;br /&gt;ya... sebuah animo...&lt;br /&gt;animo ... yang tak kunjung &lt;br /&gt;terlontarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bandung 29 April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-8950664234078854098?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/8950664234078854098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/04/sebuah-animo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8950664234078854098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8950664234078854098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2010/04/sebuah-animo.html' title='SEBUAH ANIMO'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/S9lFXRnBmqI/AAAAAAAAALU/tG4r0-FlEZw/s72-c/Mobile.CaPa.ru.Papers.051.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-2701882564861876724</id><published>2009-09-17T15:32:00.004+07:00</published><updated>2009-09-17T15:42:16.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOMPETISI MENULIS BLOG'/><title type='text'>“Aset Negara Sebagai Obor  Peningkatan Perekonomian Negara Kreatif”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2Nmn_dgI/AAAAAAAAALM/Fk6UGlVFE8I/s1600-h/REOG+PNRG.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 84px; height: 127px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2Nmn_dgI/AAAAAAAAALM/Fk6UGlVFE8I/s320/REOG+PNRG.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382353743251469826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2NIegNSI/AAAAAAAAALE/wfxgI49zvc0/s1600-h/KD+LUMPING.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 86px; height: 129px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2NIegNSI/AAAAAAAAALE/wfxgI49zvc0/s320/KD+LUMPING.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382353735158609186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2MmajxPI/AAAAAAAAAK8/6NZQBNOXBOM/s1600-h/PENDET.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 110px; height: 83px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2MmajxPI/AAAAAAAAAK8/6NZQBNOXBOM/s320/PENDET.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382353726015259890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2A_HFu0I/AAAAAAAAAK0/PBqtXfN5c3s/s1600-h/AMBALAT.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 118px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2A_HFu0I/AAAAAAAAAK0/PBqtXfN5c3s/s400/AMBALAT.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382353526486055746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Aset Negara Sebagai Obor &lt;br /&gt;Peningkatan Perekonomian Negara Kreatif”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dikenal sebagai perhiasan di khatulistiwa. Jika kita mendengarkan kata “perhiasan”, tentu saja ingatan kita akan terkait dengan segala hal yang indah. Ya, Indonesia memang negeri yang indah dan berkilau dengan segala pernak-pernik yang berkilau di dalamnya. Tidak mengherankan banyak kuku-kuku tajam yang tergoda untuk menggaruk dan menggeruk keindahan negeri ini. Berbagai cara mereka lakukan untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga mereka, di antaranya dengan menyedot sumber daya alam dan budaya, serta mengklaim tanpa tedeng aling-aling benda-benda yang jelas-jelas bukan miliknya. Belanda telah lama ‘merampas’ sumber daya alam negeri ini berupa rempah-rempah dan hasil alam lainnya selama 350 tahun lamanya. Jepang menggeruk perut bumi pertiwi dan sumber daya manusia secara radikal selama seumur jagung, tiga setengah bulan. Namun, penggerukkkan tersebut tidak berlangsung saat itu saja. Beberapa lobi dunia luar kepada penguasa negeri ini, membuat mereka leluasa menghisap isi perut bumi ini tanpa pernah memberikan kesempatan kepada penduduk di sekitarnya untuk mencicipi kemakmuran. Kita dapat melihat kemegahan Freeport dengan kontrak ekslusifnya selama 50 tahun tanpa pernah memberikan pemberdayaan kepada penduduk sekitarnya. Bukan tidak mungkin kesenjangan sosial yang terlalu tinggi itulah yang kerapkali menyulut pemberontakan kepada perusahaan milik AS itu. Tingkat pendidikan yang rendah penduduk di sekitar perusahaan tambang raksasa itu, memudahkan orang-orang dari kalangan tertentu untuk memprovokasi emosi mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Perampokkan’ aset negara saat ini lebih beragam. Bumi pertiwi telah kehilangan wilayah Timor-Timur, kini Timor Leste. Negeri ini juga telah kehilangan pulau Sipadan dan Ligitan. Sebelumnya Ambalat juga diklaim negeri tetangga serumpun. Well, bukan tidak mungkin ada ‘udang di balik batu’ di balik semua klaim itu. Ambalat, misalnya, merupakan surga minyak yang luar biasa. Pihak negeri jiran tampak seperti ketagihan untuk ‘berbuat ulah’ dengan berbagai cara untuk menarik perhatian masyarakat negeri ini maupun di luar negeri. Bahkan, terkadang ulah mereka seperti anak kecil, bermain petak umpet dengan aparat di lautan. Hal itu juga terekam dalam kamera tv. Tampaknya negeri jiran bangga dengan ulah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri jiran bukan saja mengklaim beberapa pulau di negeri ini. Beberapa karya seni tradisi Indonesia juga diklaim mentah-mentah oleh mereka sebagai milik bangsa mereka. Padahal, jelas-jelas seni tradisi tersebut milik bangsa kita. Bahkan, baru-baru ini, tarian pendet dari Pulau Bali juga diklaim sebagai aset negeri jiran. Masyarakat awam pun turut mempertanyakan mengapa tarian khas pulau dewata tersebut diklaim oleh mereka? Kita semua mengetahui dengan jelas bahwa di negeri Siti Nurhaliza tersebut tidak terdapat suku bangsa yang menyerupai kebudayaannya seperti di Bali. Sementara itu, wilayah Malaysia ada pula yang menempati wilayah Pulau Borneo. Jadi, wajarlah jika negeri Petronas itu turut menampilkan wakil suku bangsa itu dalam tayangan pariwisata mereka. Berbeda dengan tari pendet! Bahkan shooting tayangan tersebut dilakukan di pulau dewata sendiri. Ketika bumi pertiwi telah meributkan hal itu, dengan ringan wakil dari negeri jiran mengatakan bahwa terjadi kesalahan dalam proses editing! That’s so nice!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi hal-hal yang diklaim oleh negeri yang pernah menjadi negeri jajahan Inggris itu. Heboh reog Ponorogo, kuda lumping, rasa sayange, angklung, bahkan  wayang kulit serta lagu “Terang Bulan”. Cara mengklaim yang mereka lakukan pun bermacam-macam. Reog Ponorogo mereka ubah namanya menjadi Tarian Barongan, meskipun reog asli berbentuk macan berbulu merak bukan naga. Latar kisah tarian itu juga mengalami sedikit perubahan. Lirik lagu “Rasa Sayange” mereka poles pada beberapa bagian. Bahkan, baru-baru ini, lagu “Terang Bulan” diketahui telah diganti liriknya menjadi lagu kebangsaan Malaysia. Ternyata, konon salah seorang musisi Indonesia yang lama tinggal di negeri jiran itu mengikuti sayembara pemilihan lagu kebangsaan Malaysia yang saat itu  baru saja lepas dari kelompok persemakmuran Inggris. Ia mengikutsertakan sebuah karyanya yang berjudul “Terang Bulan” dalam sayembara itu. Ternyata ia memenangkan sayembara itu. Sejak saat itulah “Terang Bulan” berganti menjadi “Negaraku”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya pada pengklaiman kuda kepang atau kuda lumping. Malaysia tetap mengikutsertakan asal-asul kesenian itu, berasal dari Jawa. Jika pada satu seni tradisi mereka berani melekatkan latar asal-usulnya, mengapa pada seni tradisi yang lain tidak? Peristiwa perampasan yang bertubi-tubi tersebut menunjukkan bahwa si pelaku tidak memiliki jati diri. Sementara, negeri kita kaya akan bakal harta rampasan. Bumi pertiwi memiliki ribuan, bahkan mungkin jutaan, seni tradisi yang kelak-besar kemungkinan-satu persatu siap melayang ke negeri lain.&lt;br /&gt;Sudah saatnya Indonesia berjaga-jaga dengan ketat untuk menghindari pencurian aset negara. Hal itu bukan saja menjadi tugas resmi pemerintahan yang berkuasa saat ini, melainkan pula tugas masyarakat seluruh Indonesia. Tahapan pengidentifikasian sudah selayaknya dilakukan dengan cepat dan akurat agar kita dapat memiliki daftar resmi seni tradisi serta aset lain yang resmi dimiliki oleh negeri ini. Jika tahapan tersebut telah dilakukan, kita harus memiliki hak paten pada aset bangsa itu. Hal itu perlu dilakukan agar kita mendapatkan pengesahan resmi dai pihak terkait. Sudah terlalu banyak aset negeri ini yang disabot orang lain. Selain seni Tradisi, beberapa perusahaan negara juga lari ke tangan asing. &lt;br /&gt;Aset negara bukan hanya untuk dinikmati oleh pancaindera. Aset tersebut dapat dijadikan sebagai sarang sumber perekonomian kita. Berapa banyak minyak yang dapat kita jadikan sebagai pengisi pundi-pundi ekonomi kita. Banyaknya pakar-pakar yang unjuk kabisa di luar negeri perlu dibaiat untuk tidak menjual aset kita ke negeri orang. Bukan tidak mungkin banyak pakar yang tinggal di luar negeri memberikan beberapa aset negara dengan sadar tidak sadar. Kasus rasa sayange tidak jauh seperti itu. Salah seorang pakar musik Indonesia, membawa serta partitur “rasa sayange” beserta lagu lainnya ke negeri jiran. Kasus yang sama juga terjadi pada lagu “Terang Bulan”  yang melayang begitu saja dalam sebuah sayembara. Ada pula beberapa projek strategis yang dilakukan oleh mahasiswa asal negeri ini dalam tesis dan disertasinya. Tugas akhirnya itu kelak akan tersimpan di negeri seberang dan menjadi milik mereka. &lt;br /&gt;Seyogyanya, dalam setiap hal, negeri ini perlu dipagari dengan ‘pagar’ yang kokoh. Jangan biarkan sebuah celah tumbuh di dalam pagar itu. Indahnya tradisi di negeri ini merupakan magnet berdaya besar yang sanggup menjerat perhatian dunia. Jangan sampai magnet itu kehilangan bobotnya yang sudah ‘mantap’. Peristiwa yang berulang kali terjadi tersebut menandakan bahwa pemerintah maupun penduduk negeri ini masih bersikap ongkang-ongkang kaki. Keributan hanya terjadi dari mulut ke mulut dan tulisan tangan sang jurnalis. Pakar-pakar saling melempar pendapat dalam suatu forum. Sementara pihak yang terkait dalam peristiwa perampasan tersebut, terutama kasus tari pendet, tampak saling tuding dan cuci tangan. Dalam kasus ambalat, di sebuah stasiun televisi, kejar-kejaran di antara aparat kita di lautan dan tentara diraja Malaysia memperlihatkan kelemahan pengawasan di lautan. &lt;br /&gt;Banyaknya bencana di negeri ini sudah memecah perhatian pemerintah kita. Meskipun begitu, penggalakkan ‘pagar’ rapat-rapat di sekeliling kita wajib dilakukan. Salah satu pagar yang dapat kita dirikan adalah pagar budaya. Warisan seni tradisi dari nenek moyang dapat kita wariskan kepada generasi penerus agar kuat rasa cinta tanah air dan rasa memiliki seni tradisi yang kuat. Kecenderungan derasnya arus globalisasi yang lebih menonjolkan pengiyaan pada budaya global mau tidak mau telah menggerus rasa nasionalisme di segala bidang. Budaya global yang cenderung menonjolkan hal-hal yang berbau lebih mudah dan lebih praktis cukup melunturkan minta generasi muda pada seni tradisi kita. &lt;br /&gt;Upaya pemertahanan aset negara juga perlu dikaitkan dengan upaya pelestarian. Jangan sampai satu aset dipertahankan tanpa membiarkan terjadinya pengembangbiakkan kader-kader penerusnya. Jika pihak yang bertahan itu  suatu saat menemui ajalnya, sama saja dengan membiarkan aset itu punah. Bukankah aset negara merupakan sumber kekayaan perekonomian negara. Bukankah turis asing tertarik karena aset yang terdapat di suatu lokasi wisata? Bukankah dengan kedatangan mereka pundi-pundi keuangan negara bisa menggembung? &lt;br /&gt;Ya, upaya pemertahanan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Semua pihak yang berkepentingan harus berkolaborasi dengan baik agar ‘pagar’ yang didirikan kokoh sepanjang masa. Tentu saja, ‘pagar’ tersebut tidak untuk dibangun dan dilihat saja, melainkan juga patut diawasi dan dijaga sepanjang waktu. ‘Pagar’ tersebut harus disosialisasikan kepada penduduk negeri ini agar mereka bisa menunjukkan rasa memiliki terhadap aset tersebut. Jika rasa memiliki itu sudah kuat tertanam dalam diri warga negeri ini, tentu mereka bersama-sama tidak akan membiarkan celah-celah menganga di sekeliling pagar itu. Ideal sekali! Pasti! Tinggal praktiknya …!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Resti Nurfaidah, penulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;http://www.antara.co.id/view/?i=1192104044&amp;c=NAS&amp;s= &lt;br /&gt;http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/06/03/grf,20090603-169,id.html &lt;br /&gt;http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=3362 &lt;br /&gt;http://dendemang.wordpress.com/2007/11/22/malaysia-klaim-reog-ponorogo/ &lt;br /&gt;http://www.google.com/search?ie=UTF-8&amp;oe=UTF-8&amp;sourceid=navclient&amp;gfns=1&amp;q=lagu+kebangsaan+malaysia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-2701882564861876724?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/2701882564861876724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/09/aset-negara-sebagai-obor-peningkatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/2701882564861876724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/2701882564861876724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/09/aset-negara-sebagai-obor-peningkatan.html' title='“Aset Negara Sebagai Obor  Peningkatan Perekonomian Negara Kreatif”'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SrH2Nmn_dgI/AAAAAAAAALM/Fk6UGlVFE8I/s72-c/REOG+PNRG.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-4221184850139167123</id><published>2009-09-07T14:06:00.009+07:00</published><updated>2009-09-07T15:22:06.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AGENDA SI PUTRI'/><title type='text'>PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqTClzNMmUI/AAAAAAAAAKs/nxK_5gta3DE/s1600-h/100_0569.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqTClzNMmUI/AAAAAAAAAKs/nxK_5gta3DE/s400/100_0569.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378637809643723074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqTBtoCnt5I/AAAAAAAAAKk/1b4smG2I7I4/s1600-h/100_0566.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqTBtoCnt5I/AAAAAAAAAKk/1b4smG2I7I4/s400/100_0566.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378636844573898642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqTAqnX7kYI/AAAAAAAAAKc/bTGjvsBddxg/s1600-h/100_0564.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqTAqnX7kYI/AAAAAAAAAKc/bTGjvsBddxg/s400/100_0564.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378635693343609218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqS_rX0x46I/AAAAAAAAAKU/r1jvhkqZaEw/s1600-h/100_0563.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqS_rX0x46I/AAAAAAAAAKU/r1jvhkqZaEw/s400/100_0563.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378634606837883810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqS-EtOACdI/AAAAAAAAAKM/HZEfUB-gBno/s1600-h/100_0562.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqS-EtOACdI/AAAAAAAAAKM/HZEfUB-gBno/s400/100_0562.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378632843054287314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqS9OJfQNpI/AAAAAAAAAKE/U6lGKlymUD4/s1600-h/100_0559.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqS9OJfQNpI/AAAAAAAAAKE/U6lGKlymUD4/s400/100_0559.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378631905750038162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqS3a0JULII/AAAAAAAAAJ8/Ztm1hHp0MwI/s1600-h/100_0558.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqS3a0JULII/AAAAAAAAAJ8/Ztm1hHp0MwI/s400/100_0558.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378625526289411202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 5 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya diundang koordinator acara PEKAN KRIYA, FLP Jabar, untuk hadir menyaksikan acara pentas sastra sekaligus buka puasa bersama. Saya bersama suami hadir sebagai undangan awal sementara deretan kursi yang jumlahnya tidak seberapa masih kosong melompong. Setengah empat sore, acara yang dipandu oleh MC interaktif, Adew Habsta, segera dibuka dengan penampilan grup musik Sadasilung. &lt;br /&gt; Sadasilung merupakan grup musik yang unik karena membawakan beberapa lagu rohani dengan kocak yang diiringi perpaduan alat musik tradisional dan modern. Personelnya cukup minim karena hanya tiga orang. Masing-masing memegang alat-alat yang dikuasainya. Satu orang memegang biola merangkap vokalis, satu orang memegang maraca atau suling merangkap vokalis, dan satu orang memegang kecapi merangkap vokalis. Lagu yang dibawakan adalah Puasa, Terjemahan Al-Ashr dalam bahasa Sunda, dan sebuah lagu yang saya lupa judulnya. Penampilan mereka cukup menghangatkan suasana sore yang masih lengang. &lt;br /&gt; Penampilan kedua adalah pembacaan puisi oleh Heliana Sinaga, dramawan, sutradara, aktris, dan multitalenta lain yang dikuasainya. Ana, biasa ia akrab dipanggil, sore itu membawakan empat judul puisi, Minggu Pagi, Sajak Orang Tua, Kasidah Hujan, dan sebuah puisi yang saya lupa judulnya. Ana membawakan puisi itu dengan gaya yang kocak, terkadang mendesah hebat, atau menekan dahsyat.&lt;br /&gt; Penampilan berikutnya adalah tarian Melayu yang dibawakan oleh Agitsyha Dance. Tarian yang lebih cenderung menampilkan gerakan bellydance  dengan kostum yang berbau Cirebonan itu sempat menemui kendala saat lagu yang dituju tidak kadung muncul. &lt;br /&gt; Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi oleh Syahreja Faisal dari komunitas ASAS, UPI Bandung. Beberapa puisi yang dibawakannya ditujukan kepada rekan-rekan yang sedang didera bencana gempa kemarin di kawasan Cianjur, kampung kelahirannya.&lt;br /&gt; Pascapenampilan Reza, ditampilkan mnonolog yang dibawakan oleh salah satu ‘santri’ Rendra yang sempat ngendon lama di Bengkel Teater Rendra. Monolog yang disampaikan oleh Gusjur Mahesa itu berkaitan dengan kematian I dan II si burung merak itu.  Monolog yang disampaikan itu pada keesokan paginya dimuat pada halaman suplemen Khazanah, edisi Minggu, 6 September 2009.&lt;br /&gt; Pengisi acara yang tampil terakhir sebelum berbuka adalah grup band Ari KPIN. Beberapa lagu eksentrik ditampilkan dengan cukup memukau hingga menarik perhatian para pengguna Jalan Ir. H. Juanda. &lt;br /&gt; Acara terakhir adalah berbukan puasa bersama. Acara seperti itu seharusnya bisa mendatangkan lebih banyak pengunjung. Mungkin promo yang lebih jor-joran harus dilakukan oleh panitia agar acara serupa bisa menjadi moment yang sukses.&lt;br /&gt;Bravo buat FLP Jabar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-4221184850139167123?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/4221184850139167123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/09/pekan-kriya-en-buka-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4221184850139167123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4221184850139167123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/09/pekan-kriya-en-buka-puasa.html' title='PEKAN KRIYA EN BUKA PUASA'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SqTClzNMmUI/AAAAAAAAAKs/nxK_5gta3DE/s72-c/100_0569.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-9106038816586577711</id><published>2009-08-31T09:13:00.004+07:00</published><updated>2009-08-31T09:19:08.381+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA EDUMUSLIM 2009'/><title type='text'>UMPTN NUN JAUH DI SANA ...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Spsys8McLeI/AAAAAAAAAJ0/QtuGsCn-H3s/s1600-h/UMPTN.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 84px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Spsys8McLeI/AAAAAAAAAJ0/QtuGsCn-H3s/s320/UMPTN.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375946327850757602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Duuuuhh, kalau mendengar universitas seperti terbang ke alam mimpi. Sepertinya universitas itu gerbang menuju gengsi, kesuksesan, kebahagiaan, atau … mungkin bagi sebagian orang  … kekecewaan. Ya, kuliah itu rasanya sekolah paling … wahhhh. Beda banget kalau kita mendengar seseorang yang lulus dan masuk institusi pendidikan berbasis ikatan dinas. Bagi sebagian kalangan mungkin tida juga sihhh.&lt;br /&gt; Kuliah di perguruan tinggi merupakan sesuatu yang asing bagiku yang saat itu masih berseragam putih abu atau saat aku baru melepas si putih abu itu. Meskipun banyak saudara dan kerabat yang sudah berkuliah lebih dulu, tetapi aku tidak pernah terjun menyelami dunia kuliah mereka. Aku nggak bisa bayangin seperti apa sih yang namanya kuliah itu? &lt;br /&gt; Ikut UMPTN 1991 waktu itu lebih merupakan satu keharusan bagiku. Dengan kata lain, lebih merupakan jalur tradisi untuk menembus gerbang perguruan tinggi. Ya, untuk aku yang  nggak terlalu ngebet kuliah, lewat jalur resmi, jalur UMPTN ini tidak begitu menjadi andalan dalam hidupku. Berhasil … ya syukur, nggak juga nggak apa-apa tuh. Bagiku masih banyak jalan ke Roma! Oleh karena itu, aku tidak seperti teman-temanku yang lain yang memutuskan untuk mengikuti bimbel (bimbingan belajar) pada institusi yang beken sejak tahun pertama menginjak kelas tiga SMA. Aku hanya mengikuti paket kilat bimbel selama dua minggu pada sebuah institusi yang tidak begitu beken. Kebanyakan pesertanya pun berasal dari luar daerah yang notabene ketinggalan dalam pelajaran. Yang penting, ilmu dan teknik mengerjakan soal UMPTN bisa kudapat dengan mudah dan dalam tempo yang tidak terlampau lama.&lt;br /&gt; Aku tidak terlalu berambisi untuk lolos UMPTN itu karena kupikir jalan menuju sukses tidak melulu melalui jalur  masal itu. Apalagi aku tidak terlampau menggeluti bidang ilmu matematika dengan giat hingga tatkala mengerjakan soal pun aku cenderung hitung kancing, meskipun membuat orat-oret di kertas buram. Kalau soa pengetahuan umum, lumayanlah. Kebetulan aku agak kuat di bidang ingat-ingatan atau hafalan. &lt;br /&gt;Aku tidak merasa heran dengan ketidakhadiran namaku dalam daftar kelulusan UMPTN di halaman surat kabar. Selintas aku masih dapat menayangkan bayangan wjah teman-temanku yang berada dalam satu kelas di tempat uji. Dia … dia … dia … lulus! Selamat! Ucapku dalam hati. Aku senang mereka bisa lolos lubang jarum. &lt;br /&gt;Pasca UMPTN, aku mengikuti ujiian masuk program D3 di UNPAD. Jurusan yang kuikuti adalah prodi bahasa Inggris. Alhamdulillah, aku diterima. Aku merasa pas dengan seisi kelasku dan lingkunganku di sini. Barangkali, dalam hatiku, Allah telah membuka jalan bagiku. Enaknya ikut di program D3, kita dibekali dengan materi praktis karena program ini lebih ditujukan untuk dunia kerja. Nggak enaknya, kita hanya mendapatkan sedikit ilmu sastra yang sebenarnya sangat kuminati. Alhasil penelaahan sastra kulakukan secara otodidak. Lulus dari program tersebut, kuikuti kelas angkatan pertama program ekstensi. Alhamdulillah, di kelas ini teman-temanku semakin beragam. Bukan hanya dari kelasku yang sama, maupun kelas lainnya, melainkan berasal dari beragam jurusan dan latar belakang yang berbeda. Program ini lebih tampak sebagai kelas karyawan karena sebagian dari teman-temanku sudah bekerja, bahkan berusia  hampir 50 tahunan. Keragaman latar belakang teman-temanku ini lumayan melebarkan wawasan dan jaringan relasiku. &lt;br /&gt;“Kelas malam” ini kuselesaikan selama hampir 3 tahun karena aku sempat dilanda mogok hati. Heeee … heee  …! Jatuh cinta sempat membuatku mogok makan  … eh mogok nuntasin skripsi. Akhirnya, tiba-tiba semangat 45 pun muncul dalam diriku dan kugenjot penyelesaian skripsiku hingga akhirnya pada tahun 1997 aku lulus dan diwisuda. Aku percaya, Allah akan membuka jalan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Meskipun tidak berhasil, aku tidak jemu-jemu mengkopi dan  melegalisir, dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. Berkali-kali aku gagal dalam melamar pekerjaan hingga akhirnya aku bertemu jodoh dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan menikah. Saat anakku menginjak usia dua tahun, aku diterima sebagai PNS di sebuah lembaga penelitian bahasa dan ditempatkan di Bandung. Di tempat inilah aku mendapatkan bekal yang lebih berharga dan tidak kudapatkan di bangku kuliah. Dengan kata lain, duni kerja telah mengembangkan hal-hal yang kudapat di bangku kuliah dan memperkaya hal-hal baru. Kemampuan menulisku jauh lebih meningkat di tempat ini. Alhamdulillah! Allah telah memberikan jalan yang terbaik bagiku.&lt;br /&gt;Untuk teman-teman, tidak perlu merasa kecewa jika tidak dapat lolos dari lubang jarum UMPTN atau SMPTN. Kedua jalur masal itu bukan merupakan satu-satunya jalan untuk mengais sukses. Banyak jalan menuju Roma! Zaman internatan gini nggak perlu khawatir meraup jalan dan ribuan pilihan. Teman-teman bisa menelusuri situs sekolah-sekolah yang membuka jalur ikatan dinas. Lumayan dengan jalur itu, teman-teman bisa menimba ilmu dengan aman tanpa harus merogoh kocek besar. Namun, jangan lupa! Seleksi jalur tersebut sangat ketat dan berat. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa lolos. Adapula jalur yang menyuguhkan penggodokan minat dan sekaligus sebagai server lowongan kerja. Mengapa tidak! Banyak perguruan tinggi yang menyuguhkan program tersebut. Tidak sedikit lulusannya yang diterima di beberapa lembaga, baik swasta maupun negeri. Jalur apa pun yang teman-teman pilih dapat dijadikan sebagai pintu gerbang menuju sukses, selama senantiasa diiringi dengan kesungguhan, konsistensi tinggi, dan kemandirian yang lumayan besar. Dunia kerja itu keras, perlu mental baja. Kita harus memupuk ketahanan mental sejak duduk di bangku kuliah. Sedapat mungkin, kita bisa melakukan hal-hal lain di luar bangku kuliah. Eskul dan kerja sambilan juga dapat kita lakukan sebagai pelatihan pengembangan diri selama bisa diseimbangkan dengan jadwal perkuliahan kita. &lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin tanpa sempat mengikuti jalur UMPTN pun kita dapat meraup sukses. Banyak pengusaha sukses tanpa sempat mengenyam pendidikan di peguruan tinggi. Mereka mengembangkan diri melalui jalur dunia maya. Bakat yang terasah dengan baik disertai teknik marketing tinggi serta jaringan relasi yang seluas-luasnya justru menjadi pendongkrak kehidupan mereka. Mereka bisa hidup dengan mapan di usia yang masih muda.&lt;br /&gt;Jalur masal seperti UMPTN atau SMPTN bukan satu-satunya jalan menuju sukses. Jika kelolosan tidak berpaling kepada kita, teman-teman tidak perlu khawatir dan takut untuk menceburkan diri ke dalam jalur alternatif. Siapa tahu, jalur alternatif yang terkadang kurang dilirik orang dan dianggap sepele bisa menjadi jalan penghantar menuju gerbang kesuksesan. Yang penting, teman-teman memiliki kemampuan yang dalam untuk mengenal diri sendiri. Ya, itu penting karena mengenal diri sendiri dapat menjadikan teman-teman peka terhadap segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri sendiri. Nah, dengan mengenal hal-hal seperti itu, selanjutnya, teman-teman dapat mengukur diri. Dengan kemampuan atau kelebihan serta kekurangan yang ada dalam diri kita, apakah kita bisa mengembangkan hal itu di bangku kuliah yang lumayan lama? Jika tidak, bukan lebih baik kita segera mengasah kelebihan kita di tempat yang lebih menyuguhan penggodokan praktis daripada teoretis?  Menentukan ukuran kemampuan pun perlu dilakukan untuk melakukan langkah selanjutnya. Setelah kita merasa yakin dengan ukuran yang kita miliki, teman-teman pun harus cermat memilih jalan yang tepat. Jika sudah mendapatkan pilihan jalan yang tepat, teman-teman tidak berarti ongkang-ongkang kaki. Tidak! Tidak sama sekali! Jika sudah memiliki tempat penggodokan minat yang jelas, teman-teman wajib melakukan pengembangan diri sambil memupuk kemandirian. Jadikan waktu yang berharga ini sebagai sarana untuk menentukan langkah Anda pascakeluar dari tempat penggodogan ini. Jadikan langkah yang teman-teman pilih sebagai jalan untuk meraup sukses. Jangan lupa pula bahwa kesuksesan itu tidak akan teman-teman dapatkan dengan sendirinya. Dukungan dari lingkungan sekitar pun sangat mendukung. Well, baik-baiklah dengan lingkungan sekitar dan mohon doa restu kepada mereka agar jalan kita di depan lulus, mulu, dan halus. &lt;br /&gt;Selamat menuai sukses, teman-teman, meski tak harus lolos ke dalam lubang jarum UMPTN atau SMPTN! Ingat pepatah: Banyak jalan menuju Roma! Masih banyak lubang jarum yang bisa meloloskan hidup kita menjadi harum! Masih banyak wadah yang bisa membuat bakat kita menjadi tertadah! Masih banyak ayunan yang mampu menggoyangkan kita punya kemampuan! Masih banyak petak yang akan mengasah kita punya otak! Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya sengsara terkecuali umat-Nya itu sendiri yang enggan berusaha. Wallahualam bissawwab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIODATA&lt;br /&gt;Nama   : Resti Nurfaidah, S.S.&lt;br /&gt;Alamat   : Jalan Pluto Utara II Nomor 28&lt;br /&gt;      Bandung 40286&lt;br /&gt;Pos-el   : neneng_resti@yahoo.co.id&lt;br /&gt;      goresan_penaku@yahoo.com&lt;br /&gt;Blog   : cahayapenaku.blogspot.com&lt;br /&gt;Telp &amp; hp  : 022-7560679&lt;br /&gt;   : 08156275203&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-9106038816586577711?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/9106038816586577711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/umptn-nun-jauh-di-sana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/9106038816586577711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/9106038816586577711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/umptn-nun-jauh-di-sana.html' title='UMPTN NUN JAUH DI SANA ...'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Spsys8McLeI/AAAAAAAAAJ0/QtuGsCn-H3s/s72-c/UMPTN.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-641998597742836002</id><published>2009-08-25T13:05:00.004+07:00</published><updated>2009-08-25T13:12:15.500+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>SEMINAR: ILMU &amp; SILATURAHMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpOAiJqwjRI/AAAAAAAAAJs/8IFN4Yzaf4g/s1600-h/100_0310.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpOAiJqwjRI/AAAAAAAAAJs/8IFN4Yzaf4g/s320/100_0310.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373780104582302994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEMINAR: ILMU &amp; SILATURAHMI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Banyak orang berpendapat bahwa menjadi pintar dalam waktu singkat adalah dengan menghadiri sebuah seminar. Kalau dikaji, benar juga sih pomeo itu! Kita bisa memetik buah pikiran para pemakalah yang pada umumnya berlatarbelakangkan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Peserta dapat pula bertanya pada pakar bidang ilmu tertentu dalam satu kesempatan yang sangat berharga. &lt;br /&gt; Selain itu, seminar juga bisa dijadikan sebagai ajang eksibisi lain yang berawal dari silaturahmi. Tukar kartu nama, nomor telepon, email, facebook, cenderamata, dll bisa berujung pada ajang bisnis mutualisme. Banyak penulis yang juga memboyong buah karyanya dan dipajang dijual di meja pameran. Uppps seminar memang memperkaya kantung seseorang. Selain itu, seminar juga menjadi santapan orang-orang yang haus ilmu. Omzet gerai buku bisa didongkrak hebat dalam acara seperti ini.&lt;br /&gt; Seminar bukan sekadar buah usaha panitia yang kasak-kusuk cari dana dan donatur ikhlas. Namun, seminar bisa dijadikan sebagai ajang untuk mengadu pikiran, mengasah kemampuan berbicara dan menulis, serta mengembangkan emosi ketika berhadapan dengan audiens yang mungkin lebih senior dan lebih mumpuni daripada kita.&lt;br /&gt; Jangan sia-siakan diri untuk mendulang ilmu dan mendulang silaturahmi jika berada dalam sebuah seminar. Siapa tahu seminar akan membawa Anda ke jenjang kesuksesan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-641998597742836002?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/641998597742836002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/seminar-ilmu-silaturahmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/641998597742836002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/641998597742836002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/seminar-ilmu-silaturahmi.html' title='SEMINAR: ILMU &amp; SILATURAHMI'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpOAiJqwjRI/AAAAAAAAAJs/8IFN4Yzaf4g/s72-c/100_0310.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-8789840169808408909</id><published>2009-08-25T12:48:00.003+07:00</published><updated>2009-08-25T12:56:25.358+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>SYUKUR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN8fqqIrII/AAAAAAAAAJc/4gLU1XDXAlQ/s1600-h/100_0420.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN8fqqIrII/AAAAAAAAAJc/4gLU1XDXAlQ/s320/100_0420.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373775663851940994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;SYUKUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa hijau yang menyiratkan kedamaian dan keasrian alam membuat hati ini reloa melepas kepenatan kehidupan kota. Nuansa hijau di perairan payau di sekitar pantai Batukaras, Pangandaran, menunjukkan kepada kita bahwa masih ada tempat yang tepat untuk perkawinan harmonis unsur alam. Pohon rami berbaris sesak di tepi muara menanti saat dipanen. Jenis tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Pohon tersebut berpadu asri dengan barisan pohon kelapa yang juga memberikan banyak manfaat kepada penduduk di kawasan wisata itu.  Pohon yang dijadikan sebagai falsafah organisasi pramuka itu dapat dimanfaatkan seluruh bagiannya, dari akar samapai daunnya. Kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang terbuat dari batang pohon kelapa dengan atap yang juga dari jepitan daunnya. Jika kita dahaga, di kawasan wisata itu juga banyak tersedia penjaja es kelapa muda. &lt;br /&gt; Allah tidak menciptakan segala sesuatu di jagat raya ini dengan tanpa guna. Semua pasti diberkahi dengan manfaat. Salah satunya tetumbuhan yang ada di tepian muara dan di kawasan pantai ini. Sudah seharusnya, penduduk di kawasan ini bersujud dan mengucap syukur kepada Sang Khalik. Peristiwa tsunami kemarin yang melanda kawasan ini sudah selayaknya dijadikan sebagai cambuk peringatan atas segala kekhilafan yang telah diperbuat mereka. Penduduk yang kebanyakan menggantungkan hidupnya dari sektor wisata tersebut tidak lantas terlena dengan budaya materi pariwisata. Uang bukan segalanya dalam hidup ini. Kemajuan di bidang perekonomian harus diiringi dengan penebalan aqidah agar tidak terseret arus keimanan yang menyesatkan. Pariwisata bisa dijadikan sebagai ladang ekonomi, ladang sosial, ladang komunikasi, dan ladang aqidah. Semua bergantung pada pelaku pariwisata itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Allah betapa kami kerap diselimuti kealpaan&lt;br /&gt;Atas segala keindahan dan kemakmuran yang kau berikan&lt;br /&gt;Atas segala kemudahan yang kau anugerahkan&lt;br /&gt;Atas segala kekayaan yang kau limpahkan&lt;br /&gt;Kepada kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada patut kami menolak&lt;br /&gt;Bersujud rapat kepada Engkau&lt;br /&gt;Panggilah kami tatkala kami alpa dari Engkau&lt;br /&gt;Serulah kalbu kami ketika kami cenderung berpaling&lt;br /&gt;Dari Engkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampuni kami tiada henti&lt;br /&gt;Seperti tiada hentinya deburan ombak di pantai ini&lt;br /&gt;Curahi kami dengan hujan rahmatmu&lt;br /&gt;Semudah kami menatap buih putih memecah diri&lt;br /&gt;Di penghujung ombak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tariklah diri kami ketika langkah kami&lt;br /&gt;Tak lagi berpijak di gari-garis kebenaran-Mu&lt;br /&gt;Seperti kuatnya arus di lautan&lt;br /&gt;Menyeret kami ke dasar terdalam&lt;br /&gt;Tiada yang memiliki kemampuan membenarkan diri kami&lt;br /&gt;Selain Engkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 22 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-8789840169808408909?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/8789840169808408909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/syukur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8789840169808408909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8789840169808408909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/syukur.html' title='SYUKUR'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN8fqqIrII/AAAAAAAAAJc/4gLU1XDXAlQ/s72-c/100_0420.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-6029563859506871485</id><published>2009-08-25T12:15:00.003+07:00</published><updated>2009-08-25T12:35:27.146+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>UPACARA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN3OBjDNBI/AAAAAAAAAJM/Zw9rgJEuseo/s1600-h/100_0461.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN3OBjDNBI/AAAAAAAAAJM/Zw9rgJEuseo/s320/100_0461.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373769863200453650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UPACARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;U           saha tanpa imbalan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;P           enghormatan kami padanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A     nak-anak bangsa yang telah berjuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C     inta tanah air&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;A           kta kemerdekaan telah ditangan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;R           efleksi buah perjuangan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;A           ndalan bangsa yang tak pernah menuntut jasa pertempuran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-6029563859506871485?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/6029563859506871485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/upacara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6029563859506871485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6029563859506871485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/upacara.html' title='UPACARA'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN3OBjDNBI/AAAAAAAAAJM/Zw9rgJEuseo/s72-c/100_0461.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-4899486479820850811</id><published>2009-08-25T10:31:00.004+07:00</published><updated>2009-08-25T10:38:56.370+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>LAUTAN KESERAKAHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNcjIPtM1I/AAAAAAAAAJE/XD8lKuGxbSk/s1600-h/100_0096.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNcjIPtM1I/AAAAAAAAAJE/XD8lKuGxbSk/s320/100_0096.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373740538961670994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LAUTAN KESERAKAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa manusia tak pernah &lt;br /&gt;Berhenti berkaca&lt;br /&gt;Dari peristiwa yang pernah terjadi&lt;br /&gt;Pada masa yang lalu&lt;br /&gt;Manusia-manusia serakah &lt;br /&gt;Binasa sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa manusia &lt;br /&gt;Tidak bisa mendengar&lt;br /&gt;Jerit tangisan pilu&lt;br /&gt;Manusia lain yang tak berdaya&lt;br /&gt;Menatap datangnya &lt;br /&gt;Lautan yang tak terduga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, lautan itu &lt;br /&gt;Bukan tempat tujuan wisata&lt;br /&gt;Yang bisa dinikmati &lt;br /&gt;Dengan luapan kegembiraan&lt;br /&gt;Lautan itu lebih &lt;br /&gt;Merupakan hutan lumpur&lt;br /&gt;Berbau gas tengik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa manusia tidak pernah &lt;br /&gt;Memahami batas-batas alam&lt;br /&gt;Demi sebuah ambisi&lt;br /&gt;Bayangan Firaun &lt;br /&gt;Menggayut di pelupuk mata &lt;br /&gt;Sidoarjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uhhh, kuku tajam itu &lt;br /&gt;Terlalu dalam mencengkeram &lt;br /&gt;Perut bumi tiada daya&lt;br /&gt;Hancur ia &lt;br /&gt;Luluh binasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis sang bumi &lt;br /&gt;Bukan tangis biasa&lt;br /&gt;Tangis sang bumi&lt;br /&gt;Tangisan derita&lt;br /&gt;Tangisan siksa jelata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lautan itu kian meluas saja&lt;br /&gt;Bertangkuk-tangkuk punggung gunung&lt;br /&gt;Mengubah bentuk &lt;br /&gt;Menjadi dinding pengaman&lt;br /&gt;Dinding … yang takkan pernah aman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa manusia di atas sana&lt;br /&gt;Tidak peduli&lt;br /&gt;Nasib kaumnya yang kini cemas&lt;br /&gt;Takut dan depresi&lt;br /&gt;Hilang harta&lt;br /&gt;Hilang keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggul-tunggul mesjid&lt;br /&gt;Tak lagi berkumandang azan&lt;br /&gt;Tunggul-tunggul pabrik&lt;br /&gt;Tak lagi menyanyikan&lt;br /&gt;Lagu derik suara bising mesin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan itu mati&lt;br /&gt;Keceriaan itu hilang&lt;br /&gt; Kebahagiaan itu telah lenyap&lt;br /&gt;Kedamaian itu punah&lt;br /&gt; Kehangatan itu beku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada lagi cahaya &lt;br /&gt;Berpendar dari lampu taman&lt;br /&gt;Tiada lagi canda&lt;br /&gt;Penjaga malam&lt;br /&gt;Tiada lagi senandung&lt;br /&gt;Nyanyian tidur malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejolak perut bumi&lt;br /&gt;Masih bergolak&lt;br /&gt;Melempar laut&lt;br /&gt;Menyembur amarah&lt;br /&gt;Mengepul sesak&lt;br /&gt;Takkan pernah berakhir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-4899486479820850811?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/4899486479820850811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/lautan-keserakahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4899486479820850811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4899486479820850811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/lautan-keserakahan.html' title='LAUTAN KESERAKAHAN'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNcjIPtM1I/AAAAAAAAAJE/XD8lKuGxbSk/s72-c/100_0096.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-3268784509334734161</id><published>2009-08-25T10:04:00.003+07:00</published><updated>2009-08-25T10:10:33.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>TEKUN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNVnCFHEiI/AAAAAAAAAIs/2J_kQxcVCc4/s1600-h/100_0429.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNVnCFHEiI/AAAAAAAAAIs/2J_kQxcVCc4/s320/100_0429.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373732909444698658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TEKUN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak lelaki kecil  bersendal jepit berlari dari tempat penginapannya ke arah pantai timur. Ia ingin menatap mentari pagi. Ufff, ia merasa kecewa ketika dilihatnya mentari bersembunyi di balik selimut mega kelabu. Si anak tidak mengetahui bahwa mentari pun sebenarnya sedang berjuang dari ikatan kuat rantai sang mega. Mentari ingin menyapa anak itu. Anak itu menatap lama ke arah bayangan mentari. Karena kecewa, anak itu menundukkan kepalanya dan berjalan di sepanjang tangga beton penahan gelombang di pantai itu. &lt;br /&gt;Tiba-tiba, kedua matnya tertuju pada satu gerakan makhluk hidup yang bermain petak umpet di balik bebatuan penghalang gelombang. Kedua kaki lincahnya melompat ke kiri dan ke kanan menghindari celah batu. Sesekali badannya membungkuk. Mata tajamnya menelusuri di sebalik batu. Dilihatnya sesekali kaki-kaki makhluk yang membuatnya penasaran itu. Kepiting! Secepat kilat  tangannya menyambar selembar plastik bekas pembungkus makanan yang dibuang sembarang, lalu dijimpitnya kepala kepiting. Ciiiuuuttt!!! Kepiting itu menang kali ini. Makhluk berkaki banyak itu segera melarikan diri. ‘Selamat!’ ujar kepiting tersenyum. &lt;br /&gt;Si anak lagi-lagi dilanda kecewa. Ia berjalan, sesekali melompati batu. Sesekali mulutnya berseru, “Kepiting!” Ia menyerbu dan memburu kepiting itu. Lagi-lagi gagal! Si anak kecewa. Kepiting lain yang selamat itu pun tersenyum menang.  Si anak melirik ke sekitarnya. Dilihatnya sebuah ranting kayu tergeletak di atas bebatuan. Ia melompati beberapa batu dan meraih ranting itu. Tubuhnya sesekali dibungkukkan lagi untuk memastikan ada tidaknya makhluk yang sedang diburu itu bersembunyi atau bertapa di balik batu. Ranting itu digores-goresnya ke balik batu untuk mengusir kepiting. “Kali aja kepitingnya mau keluar! Akan aku tangkap!” ujar si anak dalam hati.&lt;br /&gt;Sesekali rantingnya tersangkut sampah di balik batu. Disingkirkannya sampah itu dari ujung ranting. Digosok-gosokkan lagi  ujung ranting ke batu yang lain, sampai akhirnya ia mendapati seekor kepiting berukuran sedang berlari dari tempat persembunyiannya. Dikejarnya kepiting itu. Ditahannya makhluk yang ketakutan itu dengan ujung rantingnya agar arah pelariannya tidak jauh dari jangkauannya. Kepiting itu berusaha ditangkapnya. Lagi-lagi, ia gagal. Kepiting itu menelusup ke balik batu dan bersembunyi di tempat yang lebih dalam dan aman. Huuuuuuuffff!!! Kepiting itu menghembuskan nafas leganya. Dadanya sesak karena tadi ia berlari kencang.&lt;br /&gt;Si anak dengan perasaan kecewa pergi ke bagian bebatuan penahan ombak lainnya. Kini pandangannya lebih luas lagi. Diliriknya sang mentari telah naik ke atas langit. Sementara itu, sang mega tampak tercerai berai karena amukan mentari. Si anak tidak begitu gembira dengan sapaan benda ciptaan Tuhan yang tadi sangat ditungu-tunggunya. Matanya, sejurus kemudian, kembali mengarah pada gerakan kepiting lain. “Sepertinya kepiting kecil!” gumamnya. Ia melompat ke kiri dan ke kanan. Ujung ranting ia arahkan ke tempat gerakan tadi. Uppppsss, seekor kepiting kecil, seperti yang ia sempat duga sebelumnya, muncul ke permukaan batu. Kepiting itu ingin melarikan diri. Si anak yang lincah itu segera menyambar selembar sampah plastik di dekatnya dan menahan laju pelarian si kepiting dengan ujung rantingnya. Gotcha!!!!! Kepiting itu masuk perangkap jepitannya. Makhluk kecil itu meronta sekuat tenaga. Ia ingin melepaskan dirinya. Sayang, cengkeraman si anak terlalu kuat. &lt;br /&gt;Ranting penolong dilemparkan si anak begitu saja ke atas batu.  Si anak kini sibuk mencari wadah untuk tempat hasil buruannya. Girang tiada terkira terpancar dari wajah si anak. Usaha dan tekad kuatnya untuk berburu kepiting membuahkan hasil. Perjuangannya tidak sia-sia. Didapatinya sebuah gelas plastik bekas minuman yang tergeletak di celah batu. Dibuangnya sisa air bandrek dari dalam gelas itu. Tuuuuukkkkk!!! Kepiting  pun mendarat manis di dasar gelas. Makhluk kecil itu masih meronta hebat di dalam gelas. Apa daya, bahan dasar gelas itu licin. Usahanya untuk melarikan diri sia-sia. Selembar plastik diletakkan di mulut gelas. Matanya menelusuri sekitar. Dilihatnya sebuah karet gelang usang. Diambilnya benda itu dan diikatkan di sekeliling mulut gelas. Dilihatnya bekat pipa sedotan minuman dan diambilnya. Ditusuk-tusukannya beberapa kali permukaan plastik tadi. Ia tidak ingin membiarkan makhluk kecil hasil buruannya mati lemas. Beberapa lubang mempersilakan udara mengisi ruang gelas itu. &lt;br /&gt;Kedua kaki bersandal jepit itu melompat girang meninggalkan bebatuan di pantai timur itu. Si anak melompat riang tiada henti hingga pintu penginapan. Ia ingin memperlihatkan hasil buruannya itu kepada ayah-ibunya. Sesekali gelas itu didekatkan ke wajahnya. Ditatapnya makhluk kecil yang kini lumayan pasrah itu. Senyum mengembang lebar di wajahnya. “Hmmmm … akulah pemburu kepiting terhebat di dunia ini!” ujarnya dalam hati.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu berkali-kali. Sesekali mulutnya berteriak, “Buu … buuu … buuu!!!” Ketukan itu baru terhenti setelah seorang wanita membukakan pintu untuknya. Tanpa sempat mengucapkan salam, si anak berteriak riang dan lantang, “Buuu … lihat aku dapat kepiting!” Diangkatnya gelas berisi kepiting itu setinggi-tingginya agar  ibunya dapat melihat hasil buruannya itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-3268784509334734161?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/3268784509334734161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/tekun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/3268784509334734161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/3268784509334734161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/tekun.html' title='TEKUN'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNVnCFHEiI/AAAAAAAAAIs/2J_kQxcVCc4/s72-c/100_0429.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-5997317016076067930</id><published>2009-08-24T16:12:00.003+07:00</published><updated>2009-08-24T16:29:05.333+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>SEMBURAT JINGGA MENTARI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJdQAxmaoI/AAAAAAAAAIk/-kffsim---I/s1600-h/100_0433.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJdQAxmaoI/AAAAAAAAAIk/-kffsim---I/s320/100_0433.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373459835073751682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEMBURAT JINGGA MENTARI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu masih pagi, beberapa putaran jam yang lalu mentari malu-malu menampakkan diri di ufuk timur. Ahh, mentari memang pemalu pada awal kebangkitannya. Namun, ia akan berangsur-angsur berubah menjadi garang di tengah hari. Lihat! Bulatan bola emas ciptaan Tuhan tampak begitu sempurna. Ia biarkan laut menikmati keindahan warnanya. Gurat lebar bayangan berwarna emas seolah menunjukkan jalur tetap sang mentari agar tidak tersesat menyimpang menyusuri jalur orbit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, awan berupaya membungkus si bola emas agar ia tidak memberikan tariannya pada dunia. Mentari sangat tersiksa dengan balutan erat sang mega. Sementara di bawah sana makhluk bumi merasa sangat sedih karena tidak sempat menyaksikan tarian indah sang mentari. Mentari berontak karena tarian itu harus ia tunjukkan dengan pongah kepada barisan penggemarnya. Ia berhasil melepaskan ringkusan sang mega yang sebenarnya sangat iri kepadanya. Ya, mega tidak punya cahaya. Ia hanya memiliki butir air di tubuhnya. Ia ingin meminta sebagian kecil semburat cahayanya agar ia tidak terlalu gelap. Tentu saja, mentari enggan membagi kekayaannya itu. Ia tidaksang mega memiliki sejumput cahayanya. Mentari tidak rela jika nanti sang mega enggan menampug uap air bumi dan berlomba menyorotkan cahaya ke muka bumi. Uffff, pasti bumi akan kepanasan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!! Pekiknya. Aku tidak rela membagi cahayaku kepadanya. Laut pun hanya kuberikan bayanganku saja karena ia berjanji memantulkan keindahanku di atas permukaannya. Laut tidak menolak hal itu meskipun semula ia ingin memiliki cahayaku juga. Kukatakan padanya bahwa jika ia memiliki sekeping cahayaku, ia akan kehilangan semua penghuni lautan. Wajahnya akan mendidih. Laut sangat mencintai seisi perutnya. Ia rela mengalah demi kehidupan banyak nyawa dan menyisihkan ambisinya untuk memiliki sahaya seperti bintang di langit,” gumam mentari dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari berontak hebat. Gembok ketat sang mega hancur berantakkan. Mega terkejut tidak pernah menduga melihat perjuangan mentari sehebat itu. Mentari melompat mengitari orbit. Membuka selimut malam yang kelam. Menggores bayangan indah di raut wajah sahabatnya, lautan. Ahhh, penduduk bumi menyambut diriku. Haii, lihat itu speed boat terikat rapi di dekat dermaga yang dibangun darurat di atas penahan gelombang. Ya, lihat bebatuan itu tampak jelas menumpuk rapi meredam amukan gelombang pasang samudera di selatan muka bumi. Tampak beberapa kepiting berlari sembunyi di bebatuan hitam itu. lagi-lagi kepiting nggak  pernah mau mengahangatkan dirinya dengan balutan sinar hangatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh, tampak seorang wanita bergaya di depanku. Hmmm … ia sengaja ingin menonjolkan diriku dalam foto yang diambilnya. Ia membiarkan dirinya menghitam dan tampak sebagai sebuah siluet gelap dalam sebuah gambar yang indah.  Langit tampak indah terang benderang. Keindahan itu tampak berpadu harmonis dengan gurat keabuan wajah tua sang lautan. Tampak bayanganku jelas terhampar di belakang wanita yang sedang berpose itu. Ahh, bumi seakan memiliki dua mentari. Mentari yang tiada pernah enggan membagi cahaya pada dunia. Akankah keharmonisan ini berjalan selamanya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-5997317016076067930?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/5997317016076067930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/semburat-jingga-mentari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5997317016076067930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5997317016076067930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/semburat-jingga-mentari.html' title='SEMBURAT JINGGA MENTARI'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJdQAxmaoI/AAAAAAAAAIk/-kffsim---I/s72-c/100_0433.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-6048853410047389100</id><published>2009-08-24T16:04:00.002+07:00</published><updated>2009-08-24T16:11:53.184+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>SANG FAJAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJZGO2-52I/AAAAAAAAAIc/Qej9cYjcWTM/s1600-h/100_0426.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJZGO2-52I/AAAAAAAAAIc/Qej9cYjcWTM/s320/100_0426.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373455269009221474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sang fajar&lt;br /&gt;Generator kehidupan manusia&lt;br /&gt;Penanda masa aktif kebanyakan manusia&lt;br /&gt;Pemicu curahan rezeki Illahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SANG FAJAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar sang fajar &lt;br /&gt;Kerap dinanti&lt;br /&gt;Demi estetika&lt;br /&gt;Atau komunika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang fajar&lt;br /&gt;Layak menjadi tumpuan &lt;br /&gt;Bagi segelintir manusia &lt;br /&gt;Sebagai penanda untuk kembali&lt;br /&gt;Sang fajar&lt;br /&gt;Senantiasa menjadi pengharapan&lt;br /&gt;Bagi sekelompok manusia&lt;br /&gt;Demi menanggung beban derita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-6048853410047389100?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/6048853410047389100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/sang-fajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6048853410047389100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6048853410047389100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/sang-fajar.html' title='SANG FAJAR'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJZGO2-52I/AAAAAAAAAIc/Qej9cYjcWTM/s72-c/100_0426.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-4631123287001603782</id><published>2009-08-24T15:53:00.004+07:00</published><updated>2009-08-25T12:47:50.961+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>REUNI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNXBzk_sHI/AAAAAAAAAI0/Xq-rqFbkfaU/s1600-h/100_0151.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNXBzk_sHI/AAAAAAAAAI0/Xq-rqFbkfaU/s320/100_0151.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373734468919996530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REUNI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini kisah temu kangen angkatan ’67 Institut Teknologi Tekstil di Surabaya. Pertemuan yang entah ke berapa kalinya dilakukan untuk mempererat talisilaturahim di antara lulusan sebuah istitusi pendidikan yang kini bernama Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil itu. Rasa rindu kali ini terpuaskan selama beberapa jam acara berlangsung. Sementara rombongan dari Bandung sudah berpuas diri sebelumnya karena semalam sebelumnya kita sudah berhaha-hihi selama dalam perjalanan dengan kereta api dari Bandung. Sayang, tidak semua anggota alumni dapat mengikuti acara ini karena berbagai hal.&lt;br /&gt; Reuni bermakna bersatu kembali dan melepaskan rindu setelah lama berpisah. Reuni ini digalakkan untuk menggalang hubungan silaturahmi antar sesama anggota terutama jika ada anggota yang mengalami kesulitan. Well, senyum yang tampak dalam gambar adalah senyum kegembiraan atas acara tatap muka di antara mereka. Akan tetapi, senyum itu bisa jadi merupakan buntut kesedihan karena besok kita harus berpisah. Ya, setiap pertemuan senantiasa diiringi dengan bayangan perpisahan yang akan menggores gurat sedih di dalam kalbu. &lt;br /&gt; Reuni layak digalakkan sebagai penggalang hubungan sosial antar sesama. Akan tetapi, reuni tidak layak diselenggarakan untuk saling pamer kedudukan dan aspek materi lainnya. Bukan tidak sedikit manusia menjadi frustasi dan cenderung untuk mengundurkan diri dari lingkup pergaulan teman-teman sejawatnya hanya karena merasa &lt;br /&gt;‘lebih tidak apa-apa” daripada temannya yang lain. Kesenjangan yang terlampau jauh bisa memicu bibit frustasi dalam diri seseorang apabila ia tidak dibekali dengan dinding mental yang tebal. Manusia tidak akan berada di atas puncak gunung prestasi selamanya, beberapa orang pasti akan terjungkal di kaki bukit. Nasib manusia tidak sama, ada yang berhasil dan ada pula yang tidak. Anggota kelompok yang belum berhasil sudah selayaknya diberi bantuan tanpa meninggalkan kemampuan atau potensi dalam dirinya. Memberikan bantuan sepenuhnya bukan tidak mungkin justru akan mematikan kesempatan mengembangkan  dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reuni layaknya obat mujarab&lt;br /&gt;Sebuah jawab&lt;br /&gt;Pemuas dahaga ikatan &lt;br /&gt;yang mungkin hampir rapuh&lt;br /&gt;tangis tawa hadir silih berganti&lt;br /&gt;singkirkan penat di hati&lt;br /&gt;reuni layak dibawa dalam hati&lt;br /&gt;hingga akhir nanti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-4631123287001603782?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/4631123287001603782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/reuni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4631123287001603782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4631123287001603782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/reuni.html' title='REUNI'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNXBzk_sHI/AAAAAAAAAI0/Xq-rqFbkfaU/s72-c/100_0151.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-47480435923637082</id><published>2009-08-24T15:43:00.004+07:00</published><updated>2009-08-24T15:53:09.624+07:00</updated><title type='text'>PERAHU PENOPANG HIDUP</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJUil48D8I/AAAAAAAAAIM/vTRPhwaNNEM/s1600-h/100_0414.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJUil48D8I/AAAAAAAAAIM/vTRPhwaNNEM/s320/100_0414.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373450258669637570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERAHU PENOPANG HIDUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perahu dalam gambar itu merupakan salah satu dari puluhan perahu yang berbaris di tepi sungai payau kawasan wisata Green Canyon. Hiiik … hiiiik … masih ada yang terpeleset dengan nama kawasan itu. Nah, mereka yang terpeleset pasti menyebutnya Grand Canyon, sebuah lembah hasill pahatan proses alam yang luar biasa indahnya. Eh, jangan salah, tuh, kalau Green Canyon juga nggak  kalah indah sama icon pariwisata Amerika itu. &lt;br /&gt; Green Canyon memiliki aset yang selaras dengan nama itu. Jika kita menelusuri Green Canyon tersebut, mata kita akan tertuju pada barisan dinding warna hijau di sisi kiri dan kanan sungai payau. Eitt, jangan salah duga, ya, kalau dinding yang kumaksud seperti dinding rumah! Bukan! Dinding yang kumaksud adalah tebing sepanjang sungai itu yang sarat ditumbuhi aneka pepohonan.  Mata kita yang sudah sumpek dengan kehidupan kota, terasa damai tatkala memandang pemandangan hijau itu. Tidak jarang kita temuka biawak berbagai ukuran sedang bertengger di tepi sungai sambil berteduh dari terpaan sinar matahari.&lt;br /&gt; Seperti halnya proses erosi alami, tebing yang berbaris di sepanjang sungai itu bentuknya menonjol di tengah. Sementara bagian bawah yang tersentuh air menjorok ke dalam karena sering tergerus air sungai. Ada satu pemandangan unik yang kita dapatkan pada bagian tebing itu. Bagian tebing yang terkena air itu sarat lubang kecil yang diameternya seukuran lilin. Selintas, bagian tersebut seperti sarang lebah. Kemungkinan besar lubang-lubang itu juga menjadi tempat berlindung beberapa makhluk payau, seperti udang, ikan kecil, atau kepiting. &lt;br /&gt; Kalau kita ingin menjajal kawasan Green Canyon, kita harus menyewa perahu senilai Rp.70.000,00/perahu. Jumlah penumpang yang dapat diangkut perahu itu sebanyak lima orang dewasa. Perahu-perahu yang ada di kawasan tersebut memiliki nama sendiri, seperti Sumber Rezeki, Rahayu, dsb. Bagian dalam perahu hampir semuanya dicat dengan warna biru cerah.  Kita tidak perlu merasa khawatir jika naik perahu tersebut karena dua awak perahu akan mengawal kita. Satu orang duduk di ujung terdepan, tugasnya mengendalikan perahu dengan sebuah dayung. Sementara itu, satu orang lagi duduk di bagian belakang bertugas mengendalikan perahu dari belakang sekaligus operator mesin. &lt;br /&gt; Mesin dijalankan dengan kecepatan penuh selama perjalanan. Namun menjelang sampai ke bagian hulu sungai, mesin dikurangi kecepatannya bahkan dimatikan ketika tiba di bagian hulu. Perahu pada bagian hulu memadat di sekitar batu besar alam yang berfungsi sebagai pengatur aliran sungai. Untuk sampai ke atas batu itu, kita harus melalui satu-dua perahu yang disewa oleh orang lain. &lt;br /&gt; Di atas sebuah batu karang yang permukaannya juga berlubang di sana-sini, sudah banyak wisatawan yang lebih dulu tiba di sana. Sebagian wisatawan memilih untuk berdiam di atas batu. Tujuan mereka tidak lain untuk berfoto ria, hanya sekadar ingin tahu, atau menunggu kerabat/teman yang sedang berenang. Ya, tukang perahu tadi bisa merangkap sebagai watertour guide yang memandu pengunjung yang ingin berenang ke hulu sungai, yang katanya sering dijadikan sebagai tempat pembuatan film. &lt;br /&gt; Berenang menuju hulu memerlukan perjuangan besar karena kita harus melawan arus sungai yang lumayan deras. Bagian dasar sungai dipenuhi bongkahan batu karang yang sebagian besar permukaannya berlubang. Di bagian hulu sungai itu terdapat sebuah cekungan alami yang kerapkali dijadikan sebagai tempat bertuah yang airnya dianggap sebagai obat awet muda. Untuk kembali ke batu tadi, wisatawan tidak perlu menguras tenaga karena tubuh kita dibantu dengan pelampung yang telah tersedia di dalam setiap perahu. Pelampung itu disewakan secara pribadi oleh awak perahu senilai Rp.10.000,00/buah.&lt;br /&gt; Sementara penumpang berenang, perahu yang kita sewa akan setia menanti sampai mereka kembali dari bagian hulu sungai. Setelah itu, kita akan diantar kembali ke dermaga. Jika kita amati, harga yang ditawarkan oleh awak perahu itu tergolong murah. Kita bisa menyewanya lebih dari satu jam dari dan ke dermaga. Kita bisa berlama-lama berada di atas batu atau di bagian hulu bagi yang berminat untuk berenang.&lt;br /&gt; Perahu itu merupakan salah satu sumber penghasil lembaran uang bagi para pengelolanya. Perahu sewaan itu merupakan imbas atas dibukanya kawasan green canyon sebagai tempat tujuan wisata di kawasan wisata terpadu, Pangandaran. Pariwisata senantiasa dikaitkan dengan derasnya perolehan penghasilan bagi penduduk di sekitarnya. Hal itu dapat kita saksikan sendiri jika kita berada di salah satu tempat wisata. Salah satunya di Pangandaran. Kita bisa mengamati bahwa pundit-pundi uang dapat diraih penduduk sekitar dengan berbagai produk wisata, seperti menjual oleh-oleh terutama produk laut, menyewakan penginapan, penjaja kuliner atau souvenir, penyewaan alat transportasi, atau sekadar sebagai panti pijat. Meskipun demikian, pariwisata juga tidak pernah terlepas dari hujan rezeki yang berbau erotis. Kita dapat menyaksikan sendiri betapa maraknya ‘bidadari malam’ berkeliaran di sepanjang pantai, aneka klub malam, atau bahkan mafia laut yang menjajakan barang-barang ‘ilegal’. &lt;br /&gt; Pariwisata dapat kita jadikan sebagai pintu rezeki baik yang halal maupun yang haram. Semua bergantung kepada diri sendiri. Tentu, menyewakan perahu merupakan  salah satu lahan pencari nafkah yang halal dan sangat urgen di kawasan wisata bahari seperti Pangandaran. Perahu dan air telah lama menjalin simbiosis mutualisme. Di mana ada air, di situ ada perahu. &lt;br /&gt; Penghasilan sebagai awak perahu atau pengelola penyewaan perahu dapat dijadikan sebagai sandaran pendongkrak kehidupan. Sayangnya, kasus langkanya bahan bakar turut memotong volume penghasilan mereka. Perhatian pemerintah sangat diperlukan oleh pengelola perahu tersebut untuk menopang jalannya kehidupan kepariwisataan di kawasan yang menjadi salah satu tujuan wisata utama di kawasan Jawa Barat selatan itu. Apa iya wisatawan harus bersusah payah berenang sejauh beberapa kilometer untuk mencapai hulu sungai di Green Canyon hanya karena mesin perahu tidak bisa minum bahan bakar?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-47480435923637082?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/47480435923637082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/perahu-penopang-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/47480435923637082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/47480435923637082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/perahu-penopang-hidup.html' title='PERAHU PENOPANG HIDUP'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJUil48D8I/AAAAAAAAAIM/vTRPhwaNNEM/s72-c/100_0414.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-4394251882146873677</id><published>2009-08-24T15:28:00.004+07:00</published><updated>2009-08-24T15:41:04.813+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>PENGIBAR BENDERA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJR-PS4enI/AAAAAAAAAIE/vG7LH70KStY/s1600-h/100_0460.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJR-PS4enI/AAAAAAAAAIE/vG7LH70KStY/s320/100_0460.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373447435105892978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGIBAR BENDERA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bendera Siaaap!” &lt;br /&gt;Lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya berkumandang.&lt;br /&gt;Bendera merah putih bukan sekadar dua lembar&lt;br /&gt;Kain yang dipagut benang rapi.&lt;br /&gt;Bendera merah putih buah perjuangan barisan pejuang &lt;br /&gt;Bangsa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengibar bendera&lt;br /&gt;Menanggung beban tidak sampai&lt;br /&gt;Membuatmu terbalik &lt;br /&gt;Atau terjalin saat dibentangkan&lt;br /&gt;Tidak sampai membuatmu jatuh &lt;br /&gt;Sampai menyentuh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas bendera berjalan tegap &lt;br /&gt;hingga beberapa jarak &lt;br /&gt;tepat di muka tiang&lt;br /&gt;mengaitmu pada simpulan&lt;br /&gt;hingga mengantarkanmu pada dunia&lt;br /&gt;menebar berita hari besar bangsa kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-4394251882146873677?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/4394251882146873677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/pengibar-bendera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4394251882146873677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4394251882146873677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/pengibar-bendera.html' title='PENGIBAR BENDERA'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJR-PS4enI/AAAAAAAAAIE/vG7LH70KStY/s72-c/100_0460.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-8456615292736609351</id><published>2009-08-24T15:06:00.004+07:00</published><updated>2009-08-24T15:17:56.348+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>OMBAKKU SAYANG OMBAKKU MALANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJMZLxy8uI/AAAAAAAAAH8/Igi7oUCzgTE/s1600-h/100_0444.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJMZLxy8uI/AAAAAAAAAH8/Igi7oUCzgTE/s320/100_0444.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373441300948513506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;OMBAKKU SAYANG&lt;br /&gt;OMBAKKU MALANG &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah buih putih &lt;br /&gt;Penebar ajakan &lt;br /&gt;Penarik minat&lt;br /&gt;Manusia-manusia haus hiburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah bunyi deburan ombak &lt;br /&gt;Memukul deras bibi pantai&lt;br /&gt;Menghabisi birunya indah warna laut&lt;br /&gt;Menjalin irama tak berkesudahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanglah manusia &lt;br /&gt;Bergerak tiada henti&lt;br /&gt;Di bibir pantai&lt;br /&gt;Mengejar ombak&lt;br /&gt; Menantang gelombang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu mereka terpuaskan&lt;br /&gt;Rindu menjadi dunia kecil&lt;br /&gt;Bermain tanpa batas &lt;br /&gt;Meski mata-mata menatap &lt;br /&gt;Dari segala sisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ombakku sayang&lt;br /&gt;Ombakku malang&lt;br /&gt;Tiada pernah kau &lt;br /&gt;Stabilkan emosimu&lt;br /&gt;Kepada pendatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hatimu senang&lt;br /&gt;Kau sambut kami &lt;br /&gt;Dengan pukulan buihmu&lt;br /&gt;Basuh tubuh kami &lt;br /&gt;Seperti guyuran air gayung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hatimu enggan&lt;br /&gt;Tak ada senyum &lt;br /&gt;Dalam usapan gelombang&lt;br /&gt;Kau hisap kami &lt;br /&gt;Hingga tak berdaya &lt;br /&gt;Jauh ke dalam pasirmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan&lt;br /&gt;Engaku berbaik hati &lt;br /&gt;Kepada perahu nelayan&lt;br /&gt;Kau bantu dia&lt;br /&gt;Menari dengan indah &lt;br /&gt;Di atas tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ombakku sayang&lt;br /&gt;Ombakku malang&lt;br /&gt;Tiada pernah kau tertidur&lt;br /&gt;Menghentikan suara gerammu&lt;br /&gt;Di atas bibir pantai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ombakku sayang&lt;br /&gt;Ombakku malang&lt;br /&gt;Kau sering jadi tertuduh&lt;br /&gt;Jika kami celaka&lt;br /&gt;Tapi tak pernah kau jadi pahlawan&lt;br /&gt;Jika kami selamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ombakku sayang&lt;br /&gt;Ombakku malang&lt;br /&gt;Jangan pernah kauhentikan &lt;br /&gt;Tarian buih putihmu itu&lt;br /&gt;Jangan pernah kauhentikan&lt;br /&gt;Ayunan gelombangmu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu rindu&lt;br /&gt;Rindu padamu&lt;br /&gt;Rindu pada masa kecil&lt;br /&gt;Rindu menjadi anak kecil&lt;br /&gt;Rindu … rindu tak berbalas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-8456615292736609351?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/8456615292736609351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/ombakku-sayang-ombakku-malang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8456615292736609351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8456615292736609351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/ombakku-sayang-ombakku-malang.html' title='OMBAKKU SAYANG OMBAKKU MALANG'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJMZLxy8uI/AAAAAAAAAH8/Igi7oUCzgTE/s72-c/100_0444.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-1471945329072645497</id><published>2009-08-24T14:53:00.005+07:00</published><updated>2009-08-25T13:04:04.106+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>MENDULANG ILMU MENDULANG SILATURAHMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN-Zq9i4II/AAAAAAAAAJk/jVhaH0pb-dA/s1600-h/100_0234.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN-Zq9i4II/AAAAAAAAAJk/jVhaH0pb-dA/s320/100_0234.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373777759877390466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENDULANG ILMU MENDULANG SILATURAHMI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum di dalam foto itu merupakan akhir dari kepenatan setelah mengikuti kegiatan penulisan novel anak yang diadaptasi dari skenario film. Kelas penulisan ini merupakan kelas kecil, hanya terdiri dari tujuh peserta dari sepuluh peserta yang telah memdaftarkan diri, Mbak Titi, Mbak Erna, Mbak Ratih, Mbak Dina, Mbak Eka, Mas Hadi, dan Mas Krisna. Kelas penulisan ini menghadirkan dua pembicara yang pernah mendapatkan order menulis novel adaptasi, Mas Benny (penulis novel prekuel, Mimpi Sang Garuda) dan Mas Iwok (penulis novel King).&lt;br /&gt;Kedua penutur itu memberikan  hal-hal baru yang sangat berharga bagi kami semua. Semula kami menganggap mentransformasi skenario  ke novel merupakan pekerjaan yang mudah. Ternyata tidak demikian, penulis harus bisa menempatkan bagian-bagian skenario yang tercerai-berai. Belum lagi  tenggat waktu yang disediakan begitu pendeknya, sekitar satu minggu menjelang peluncuran film dengan judul yang sama. Novel tersebut juga akan diluncurkan secara bersamaan. Duuuh, beratnya! Tenggat waktunya itu! Belum lagi komunikasi yang harus terjalin dengan pihak produser yang bisa menguras pulsa kita. Pokoknya inti yang kita dapatkan dari kedua narasumber adalah kesiapan mental dan fisik kita sepenuhnya. Selain itu, keyakinan tinggi harus kita benamkan dalam-dalam  di dasar kalbu agar kita tidak tersandung putus asa.&lt;br /&gt;Kelas penulisan tersebut selain sebagai sarana pendulang ilmu yang akurat, juga merupakan sarana untuk menyambung tali silaturahmi, baik dengan narasumber maupun dengan sesame peserta. Kebetulan nih kelas kecil jadi dengan mudah mengenal satu sama lain. Koordinator acara ini, Mas Ali juga mengatakan bahwa kelas kecil lebih akurat karena setiap peserta dapat lebih terawasi dan lebih leluasa untuk mengembangkan dirinya selama di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI ILMU&lt;br /&gt;ilmu laksana air mengalir&lt;br /&gt;tak pernah berhenti mengalir&lt;br /&gt;hingga ke titik terendah di muka bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilmu laksana api abadi di sebuah obor&lt;br /&gt;yang tak kan menyala&lt;br /&gt;sampai bahan bakarnya habis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilmu laksana pergantian siang dan malam&lt;br /&gt;tak pernah terputus&lt;br /&gt;hingga akhir zaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilmu laksana gerbang seribu jalan&lt;br /&gt;sarat tawaran indah&lt;br /&gt;dari setiap pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilmu laksana perjalanan waktu&lt;br /&gt;terus bergulir&lt;br /&gt;hingga tiba pada ketentuan Sang Khalik ilmu laksana jalan&lt;br /&gt;bisa dilalui dengan waktu singkat&lt;br /&gt;bisa dilalui dalam tempo yang cukup melelahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilmu tidak mungkin dibendung&lt;br /&gt;ia akan tumpah seperti air bah&lt;br /&gt;siap menghantam … menerjang apa siapa pun yang merintanginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilmu laksana tali&lt;br /&gt;mampu mengikat hati manusia dengan sesama&lt;br /&gt;dengan musuh-musuhnya&lt;br /&gt;dalam simpul keabadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilmu hanyalah satu titipan Illahi&lt;br /&gt;patut kita telan&lt;br /&gt;patut kita telaah&lt;br /&gt;dan … patut kita hadapkan kepada Illahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Ramadhan 1430 H&lt;br /&gt;Bandung dalam balut dinginnya, 22 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-1471945329072645497?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/1471945329072645497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/mendulang-ilmu-mendulang-silaturahmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/1471945329072645497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/1471945329072645497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/mendulang-ilmu-mendulang-silaturahmi.html' title='MENDULANG ILMU MENDULANG SILATURAHMI'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN-Zq9i4II/AAAAAAAAAJk/jVhaH0pb-dA/s72-c/100_0234.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-8488671621689201800</id><published>2009-08-24T14:51:00.002+07:00</published><updated>2009-08-25T12:47:50.961+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>MELINTASI SURAMADU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNZAqMNKqI/AAAAAAAAAI8/X-F0XdNjBYQ/s1600-h/100_0161.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNZAqMNKqI/AAAAAAAAAI8/X-F0XdNjBYQ/s320/100_0161.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373736648243489442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MELINTASI SURAMADU&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, katanya jembatan Suramadu dah  jadi, Yah?” tanya Anto kepada ayahnya. &lt;br /&gt;Ayah yang sedang asyik membaca surat kabar menangkupkan kedua tangannya. Dipandangnya anak sulungnya itu dengan sorot mata yang ramah sambil berkata,  “Ya, Nak, jembatan itu sudah jadi. Dah diresmikan sama Presiden.” &lt;br /&gt;“Mmmm, kalau begitu kita bisa kesana kan, Yah?” tanya Anto lagi. &lt;br /&gt;Dari kejauhan terdengar suara Anti, adik Anto, berlari mendekati mereka. Rupanya ia mendengar percakapan antara ayah dan kakaknya itu. “Yah, Anti juga mau ikut, Yah!” seru Anti. Ayah tersenyum sambil menyambut Anti dan mendudukkan anak bungsunya itu dipangkuannya. “Ya, ya, tentu saja, kamu boleh ikut, Nduk.” “Asyikkkk!” ujar Anti.  &lt;br /&gt;“Ya, nanti hari Minggu pagi kita pergi ke Suramadu, ya, bersama ibu,” ujar ayah.&lt;br /&gt;“Horreeee!” Anto dan Anti bersorak gembira.&lt;br /&gt;“Tapi jangan lupa bawa bekal makanan, ya?” tanya Anti kepada ayahnya.&lt;br /&gt;“Ya, nanti itu … itu urusan ibu,” ujar ayah. Tiba-tiba mereka mendengar suara rem becak berhenti di depan rumah. Tampak ibu turun sambil membawa dua kantung plastik belanjaan. Ibu baru saja pulang dari pasar. Anti dan Anto menyambut kedatangan ibu mereka.&lt;br /&gt;“Bu, kata Ayah, kita nanti akan ke Suramadu hari Minggu!” ujar Anto.&lt;br /&gt;“Iya, Bu, bawa bekal, ya, Bu! Anti takut lapar!” ujar Anti menimpali.&lt;br /&gt;Ibu tersenyum mendengar celotehan anaknya sambil berkata, “Oh, begitu. Ibu baru tahu, nih. Ya, deh, nanti kita bawa bekal buat Anti yang suka makan!”&lt;br /&gt;Anti dan Anto berebut membawakan kantung belanjaan ibu. Mereka berlari berlomba untukk lebih dulu mencapai dapur. Tentu saja, Anto yang menang karena badannya lebih tinggi dan kakinya lebih panjang. Anto tersenyum mengacungkan jempolnya ke wajah Anti sementara adiknya itu merengut sebal.&lt;br /&gt;Minggu pagi tiba. Anti, Anto,  Ibu, dan  Ayah sudah siap di atas motor bebek merah yang akan membawa mereka ke Suramadu. Tidak lupa bekal makanan mereka tautkan di bagian depan. Anti duduk di depan sedangkan Anto duduk ditengah dijepit ayah dan ibunya. Sekitar hampir satu jam kemudian, mereka telah tiba di gerbang tol Suramadu. Setelah mengambil tiket, mereka melaju melintasi jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura itu. Ufff anginnya besar sekali. Jembatan itu rupanya terbagi atas empat jalur, dua jalur untuk pengendara sepeda motor dan dua jalur lain untuk pengendara mobil. Jembatan sepanjang 5,4 km itu dipagari dengan pagar baja kualitas tinggi di kedua sisinya. Sesekali polisi patroli telah bersiaga di menyusuri kedua jalur itu. Oh, ya, jalur untuk pengendara sepeda motor dan mobil juga dipisahkan dengan pagar baja yang sama. Pada jarak tertentu, pagar baja itu diberi warna oranye.&lt;br /&gt;Beberapa rambu lalu lintas dipasang di kedua sisi jembatan itu. Anti dan Anto membaca rambu lalu lintas berbentuk bulat bergaris merah dengan tulisan 25, 40, dan 60. Mereka bergantian bertanya kepada ayahnya. Rambu tersebut adalah kecepatan minimum yang ditentukan bagi pengendara, baik sepeda motor maupun mobil. Di kiri dan kanan jembatan terhampar selat madura. Anto melihat banyak perahu nelayan yang ditambatkan di dermaga. Anti melihat pulau madura yang tampak kehijauan dari kejauhan. Sepanjang perjalanan melintasi jembatan itu, keduanya asyik berceloteh tentang segala hal yang mereka lihat di sana.&lt;br /&gt;Jembatan itu menurun semakin mendekati pulau yang dikenal dengan hasil kerajinan ukiran dan batiknya itu. Setelah membayar tiket, ayah melanjutkan perjalanan. Rupanya banyak pedagang yang berjualan di sisi kiri dan kanan jalur menuju Bangkalan. Mereka beristirahat di salah satu pondok makan. Celoteh Anto dan Anti terdengar tiada henti. Mereka sangat mengagumi jembatan penghubung dua pulau itu. bahkan, dalam benak Anto terbayang berpuluh jembatan lain yang menghubungkan antarpulau di Indonesia. Wallaahualam!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-8488671621689201800?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/8488671621689201800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/melintasi-suramadu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8488671621689201800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8488671621689201800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/melintasi-suramadu.html' title='MELINTASI SURAMADU'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpNZAqMNKqI/AAAAAAAAAI8/X-F0XdNjBYQ/s72-c/100_0161.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-998428451394768258</id><published>2009-08-24T14:45:00.003+07:00</published><updated>2009-08-24T15:06:05.733+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>LOMBA PIDATO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJHEngMsOI/AAAAAAAAAH0/jz4wLqBDa-w/s1600-h/100_0307.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJHEngMsOI/AAAAAAAAAH0/jz4wLqBDa-w/s320/100_0307.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373435450055504098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; LOMBA PIDATO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba ibarat sebuah wadah yang dapat diisi dengan segala jenis benda, seperti kelereng, permen, kue kering, mie baso, atau air. Lomba adalah wadah bagi para peserta yang tentu saja dalam jumlah yang sangat banyak untuk menyesaki rongga dalam wadah itu. Namun, untuk menjadi sesuatu yang terpilih, adakalanya kita harus mengaduk isi wadah itu lebih dulu. Dalam babak penyisihan, sebagai peserta kita akan menunjukkan kemampuan kita kepada hadirin, terutama dewan juri. Jurilah yang berhak mengaduk-aduk wadah lomba ini untuk memilih peserta yang dianggap layak maju pada babak selanjutnya. Saat yang menegangkan adalah ketika kita tiba pada saat untuk tampil ke mimbar dan ketika nama kita diumumkan.&lt;br /&gt;Gambar itu menunjukkan senyum para juara yang telah selamat sampai pada tepian pesisir babak final di Jakarta. Peserta merupakan duta dari Region I (DKI) dan Refion II (Jawa dan Kalimantan) yang diselenggarakan di kota kembang. Senyum pemegang piala menandakan hilangnya ketegangan di wajah peserta. Selain itu, senyum juga dijadikan sebagai kamuflase  untuk menutup kekecewaan karena tidak mendapatkan gelar juara. Namun, gelar juara, piala, dan hadiah tidak ada artinya jika kita tidak melakukan pengembangan diri selanjutnya. Menjadi juara bukan merupakan perhentian terakhir tanpa membuka diri terhadap upaya peningkatan diri lebih lanjut. Kita harus melekatkan keyakinan dalam-dalam bahwa kehidupan ini selalu berlapis. Langit pun berlapis-lapis. Kedalaman bumi pun berlapis-lapis pula. Prestasi makhluk hidup, terutama manusia, juga berlapis-lapis. Jika kita menjadi yang terbaik saat ini, tentu akan ada yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang atau bukan kemungkinan pada waktu yang bersamaan. &lt;br /&gt;Batu intan tidak akan berharga tanpa gosokan dan sentuhan tangan ahli. Kilapnya tidak akan terpancar. Demikian pula dengan manusia. Manusia sebagai makhluk yang sempurna, dianugerahi Allah dengan segala benih kemampuan untuk bertahan hidup. Hanya saja, kemampuan itu baru akan muncul kepermukaan jika tersentuk oleh kondisi dan situasi. Bakat seseorang tidak akan tampak dan bermanfaat jika tidak digodok dalam lembaga dan oleh tangan ahli yang kompeten. &lt;br /&gt;Situasi tertentu juga dapat memicu timbulkan kemampuan dan bakat seseorang. Kita lihat kehidupan manusia purba yang semula tidak bisa melakukan apa-apa,  karena situasi yang menuntut upaya pertahanan diri, lambat laun kebudayaan mereka semakin maju. Jika semula kebudayaan mereka sarat dengan produk survival yang terbuat dari batu, lambat laun mereka pun mengenali produk-produk berbahan dasar logam. &lt;br /&gt;Seorang atlet memerlukan waktu yang sangat panjang untuk mencapai prestasi gemilang baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Untuk menjadi orator yang baik, apalagi menjadi duta bagi salah satu organisasi masa yang bergerak di bidang pengembangan akhlak manusia, sponsor utama kegiatan lomba pidato tersebut, tidak cukup dengan mengasak kemampuan lahir. Kemampuan tidak kasat mata kita juga patut dibina, mulai dari hal-hal yang sepele, seperti sikap kita ketika mengamati orang lain yang sedang berbicara, sikap kita dalam menepati jadwal yang telah ditetapkan panitia, dsb. Orator yang baik harus mengenal kemampuan mengontrol emosi ketika berpidato, menghadapi audiens, serta memilih kata yang tepat yang dapat menggugah perhatian hadirin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-998428451394768258?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/998428451394768258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/lomba-pidato.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/998428451394768258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/998428451394768258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/lomba-pidato.html' title='LOMBA PIDATO'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpJHEngMsOI/AAAAAAAAAH0/jz4wLqBDa-w/s72-c/100_0307.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-6863868907738221976</id><published>2009-08-24T14:22:00.003+07:00</published><updated>2009-08-25T12:47:50.961+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA BLOGFAM 2009'/><title type='text'>IRAMA LAUT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN61Rcaf6I/AAAAAAAAAJU/4QiDMS6_B-A/s1600-h/100_0447.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN61Rcaf6I/AAAAAAAAAJU/4QiDMS6_B-A/s320/100_0447.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373773836017368994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;br /&gt;IRAMA LAUT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb tidak pernah sejengkal apa pun makhluk ciptaan-Mu tercipta tanpa satu irama.&lt;br /&gt;Kepakkan sayap burung, deru tiupan angin, derak dahan patah, gemerisik tindihan dedaunan kering, riuh suara air hujan menabrak lempengan seng. Tidak, nada yang kau berikan kepada makhluk-Mu tiada pernah sumbang. Semua merdu mengalun membentuk berlembar-lembar komposisi harmonis sebuah partitur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Rabb, tidak terkecuali lautan kau isi dengan air tidak berbatas. Kau jadikan angin menjadi sarana penghantar gelombang dan ombak menggaruk bibir pantai. Kau jadikan tarian ombak setinggi langit tatkala bulan menyapa sang malam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-6863868907738221976?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/6863868907738221976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/irama-laut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6863868907738221976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6863868907738221976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/irama-laut.html' title='IRAMA LAUT'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SpN61Rcaf6I/AAAAAAAAAJU/4QiDMS6_B-A/s72-c/100_0447.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-7895858431071464381</id><published>2009-08-20T15:57:00.000+07:00</published><updated>2009-08-24T15:06:09.477+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PETUALANGANKU'/><title type='text'>SURABAYA PENUH KENANGAN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SURABAYA PENUH KENANGAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat malam kami, rombongan Alumni ITT Angkatan ’67 dan beberapa keluarga, berangkat menuju Surabaya dengan menggunakan kereta api Turangga. Reuni ITT tahun ini akan diadakan di kediaman Ibu Irwasih dan Pak Anwar. Bbbbrrrrrrrrrrrrrr, udara dingin di dalam gerbong sangat menggigit. Selimut jatah penumpang tidak membuat kami bergelimang kehangatan. &lt;br /&gt;Sekitar pukul 8 pagi, rombongan tiba di stasiun Gubeng. Kami dijemput tuan rumah dengan sebuah bus dan sebuah kijang. Sarapan yang telah bergeser waktunya itu dilakukan di kedai soto Pak Saidi. Setelah itu, kita dibawa ke tempat penginapan di kondominium Plaza Marina. Rombongan terbagi ke dalam beberapa kamar yang terletak di lantai 5 dan 6. Acara malam itu adalah acara pertemuan di kediaman Pak Anwar. Setelah itu, kita kembali ke Plaza Marina. Keesokkan harinya kita pergi ke Suramadu. Jembatan itu hanya berjarak 5,4 km. Sayang, pantai di sekitar jembatan tidak begitu indah. Pantai yang dilalui jembatan itu merupakan pantai nelayan yang agak berantakan. Setelah itu, kita meneruskan perjalanan  ke sebuah pusat perbelanjaan di Madura. Rombongan yang kebanyakan ibu-ibu memborong batik khas Madura. &lt;br /&gt;Ketua rombongan kami tiba-tiba menderita kram perut. Kami tidak jadi berkeliling di pulau Madura. Suramadu pun kami lalui untuk kedua kalinya. Setelah sampai di Surabaya, ketua rombongan berpindah ke dalam mobil kijang beserta istrinya. Sementara rombongan lain berganti dengan beberapa taksi karena bus yang kita tumpangi tiba-tiba rusak rem anginnya. Kebetulan saat itu merupakan puncak arus liburan sehingga sulit mendapatkan bus pengganti. &lt;br /&gt;Malam hari, kami mendapatkan bis pengganti dan panitia menuntaskan rencana mengunjungi tempat wisata kuliner di Surabaya yang dikenal dengan nama Mini Singapura. Kebetulan pada saat itu sedang berlangsung food festival sehingga kita dapat dengan leluasa memilih jajanan yang kita sukai. Mini Singapura ditata menyerupai perumahan di Singapura yang dilengkapi dengan patung Merlion dan Raffles.&lt;br /&gt;Keesokan harinya kita langsung bersiap diri untuk pergi ke Stasiun Gubeng. Rombongan akan kembali ke kota kembang dengan menggunakan kereta Argo Wilis. Kereta berangkat dari Surabaya pada jam 07.45 WIB dan tiba di Stasiun Bandung pada pukul 20.15 WIB.&lt;br /&gt;Duuuhh, Oom Sukawi, kapan lagi ya bisa jalan-jalan lagi?&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-7895858431071464381?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/7895858431071464381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/surabaya-penuh-kenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/7895858431071464381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/7895858431071464381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/surabaya-penuh-kenangan.html' title='SURABAYA PENUH KENANGAN'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-7631905290469994103</id><published>2009-08-20T15:39:00.003+07:00</published><updated>2009-08-20T15:55:34.341+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEGIATAN KANTOR'/><title type='text'>UPACARA AGUSTUSAN DI BALAI BAHASA BANDUNG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0PHwr3CoI/AAAAAAAAAGM/apoyKtiXERQ/s1600-h/100_0474.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0PHwr3CoI/AAAAAAAAAGM/apoyKtiXERQ/s200/100_0474.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371966556525234818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0PHUMbNJI/AAAAAAAAAGE/CbFpX3anp9A/s1600-h/100_0452.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0PHUMbNJI/AAAAAAAAAGE/CbFpX3anp9A/s200/100_0452.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371966548877194386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0PGw-zRvI/AAAAAAAAAF8/HskJEbF8Yj0/s1600-h/100_0461.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0PGw-zRvI/AAAAAAAAAF8/HskJEbF8Yj0/s200/100_0461.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371966539424810738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UPACARA AGUSTUSAN DI BALAI BAHASA BANDUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagian besarkan pegawai Balai Bahasa Bandung mengikuti upacara memperingati hari kemerdekaan RI ke-64 di halaman Balai Bahasa Bandung. Upacara ini, seperti yang terucap dalam pidato kepala Balai Bahasa Bandung, merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap jasa para pahlawan yang telah memeras tenaga dan keringatnya dalam menegakkan kemerdekaan di negara ini.&lt;br /&gt; Setelah itu, pegawai Balai Bahasa Bandung mengikuti berbagai permainan khas agustusan, seperti balap karung, balap sendok, dan balap kerupuk. Hadiah bagi para pemenang permainan berupa sekantung plastik sembako. Permainan ini diselenggarakan bukan hanya untuk berhura-hura melainkan untuk menggalang keakraban diantara pegawai Balai Bahasa Bandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-7631905290469994103?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/7631905290469994103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/upacara-agustusan-di-balai-bahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/7631905290469994103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/7631905290469994103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/upacara-agustusan-di-balai-bahasa.html' title='UPACARA AGUSTUSAN DI BALAI BAHASA BANDUNG'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0PHwr3CoI/AAAAAAAAAGM/apoyKtiXERQ/s72-c/100_0474.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-6990941599868478760</id><published>2009-08-20T14:53:00.004+07:00</published><updated>2009-08-24T15:06:05.733+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PETUALANGANKU'/><title type='text'>THE WONDERFUL PANGANDARAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0KV5BGB8I/AAAAAAAAAF0/7qFaPh-AAaA/s1600-h/100_0444.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0KV5BGB8I/AAAAAAAAAF0/7qFaPh-AAaA/s200/100_0444.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371961301721810882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;THE WONDERFUL &lt;/span&gt;PANGANDARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Panitia Konferensi Internasional Kesusastraan XX kemarin mengadakan acara pembubaran panitia di Pangandaran, tepatnya di kediaman salah seorang pakar senirupa dan budaya, Acep Iwan Saidi. Kami berangkat dari Bandung hari Jumat malam, tanggal 14 Agustus 2009, dengan menggunakan bis Gagak Rimang. Jam dua malam, bis tiba di Ciamis, salah seorang sastrawan Sunda kawakan, Godi Suwarna, turut bergabung. &lt;br /&gt; Rombongan tiba menjelang azan subuh di depan kediaman Pak Acep. Setelah menghabiskan sarapan dan cemilan yang disuguhkan tuan rumah, sekalian menunggu jadwal check-in di penginapan, rombongan pergi ke green canyon dan Batukaras. Well, anakku yang kebetulan ikut benar-benar puas bermain berbalut pasir laut basah. Sebagian anggota rombongan bermain sepuasnya di pesisir. Aku dan beberapa anggota rombongan lain hanya duduk bernaung di bawah pohon. &lt;br /&gt; Rombongan menginap di sebuah rumah yang sudah dipesan sebelumnya olrh tuan rumah. Kang Godi ikut bersama kita. Bu Saf, Lina, Celine, dan Evy menginap di hotel sebelah karena kamarnya tidak cukup. Sekali lagi, anakku benar-benar meras puas bermain di pantai Pananjung pada sore hari itu dan pagi hari pada keesokan harinya. Sayangnya, kegembiraan kami harus tercemar sebuah musibah. Tiga orang mahasiswa ITB terseret arus. Kebetulan dua orang selamat. Sementara itu, satu orang lagi mengalami nasib naas. Ia tersedot ke dalam laut beberapa saat petugas hendak meraih tubuhnya.&lt;br /&gt; Acara makan malam dilakukan dengan pesta barbeque di kediaman Kang Acep. Puasssss banget!!!! Menjelang tengah malam, rombongan meninggalkan kediaman yang cukup luas itu dan sekalian berpamitan kepada pemiliknya.&lt;br /&gt; Pagi sebelum kembali ke Bandung, beberapa anggota rombongan berbelanja oleh-oleh di kios Haji Udin sekalian melihat matahari terbit yang tidak tampak kemunculannya. Awan tebal menghalangi pandangan kami. Namun, beberapa gambar eksotis sudah terekam dalam kamera digitalku. Lumayan, gambar itu bisa kupakai untuk latar makalah-makalahku. Menjelang zuhur, rombongan meninggalkan pantai indah yang terletak di bagian selatan provinsi Jawa Barat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-6990941599868478760?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/6990941599868478760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/wonderful-pangandaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6990941599868478760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6990941599868478760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/wonderful-pangandaran.html' title='&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;THE WONDERFUL &lt;/span&gt;PANGANDARAN'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0KV5BGB8I/AAAAAAAAAF0/7qFaPh-AAaA/s72-c/100_0444.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-1588331963922265569</id><published>2009-08-19T16:07:00.006+07:00</published><updated>2009-08-19T16:38:38.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEMINAR'/><title type='text'>REPORTASE KONFERENSI INTERNASIONAL KESUSASTRAAN INDONESIA XX</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SovHEnruSwI/AAAAAAAAAFs/ezeeTqCnKNY/s1600-h/100_0365.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SovHEnruSwI/AAAAAAAAAFs/ezeeTqCnKNY/s200/100_0365.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371605862755224322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SovHDzUGoHI/AAAAAAAAAFk/te3JHy7UjuI/s1600-h/100_0315.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SovHDzUGoHI/AAAAAAAAAFk/te3JHy7UjuI/s200/100_0315.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371605848697512050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SovHDipPW8I/AAAAAAAAAFc/MBXn6An48YU/s1600-h/100_0310.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SovHDipPW8I/AAAAAAAAAFc/MBXn6An48YU/s200/100_0310.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371605844222761922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REPORTASE KONFERENSI INTERNASIONAL KESUSASTRAAN INDONESIA XX&lt;br /&gt;“MEMBACA ULANG FUNGSI SOSIAL SASTRA DALAM MENUMBUHKAN NILAI DAN SIKAP KEBANGSAAN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG, 5—7 AGUSTUS 2009&lt;br /&gt;AUDITORIUM ISOLA RESOR LT. 3&lt;br /&gt;JALAN SETIABUDHI NOMOR 229&lt;br /&gt;BANDUNG&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berlatarbelakangkan pentingnya sastra dalam pembentukan karakteristik kebangsaan, beberapa perdebatan kesusatraan dan kebudayaan senantiasa berbanding lurus dengan perdebatan bangsa dan kebangsaan. Namun, meskipun demikian, sastra jarang dilibatkan dalam berbagai penyusunan kebijakan negara. Sehubungan dengan hal itu, HISKI ingin mengangkat derajat sastra kepermukaan sebagai sarana yang dapat memberikan keleluasaan pembentukan sikap nasionalisme di tengah masyarakat kita melalui Konferensi Kesusastraan Indonesia XX yang bertemakan “membaca ulang fungsi sosial sastra dalam menumbuhkan nilai dan sikap kebangsaan”. Konferensi tersebut diselenggarakan pada tanggal 5—7 Agustus 2009 di Auditorium Isola Resor Lt. 3, Jalam Setiabudhi Nomor 229 Bandung. &lt;br /&gt; Untuk memudahkan pemahaman peserta terhadap tema konferensi tersebut, HISKI Komisariat Bandung membagi tema tersebut ke dalam empat subtema sebagai berikut, yaitu (1) pengajaran sastra dalam kaitan dengan penumbuhan nilai dan sikap kebangsaan, (2) dampak produksi sastra pada pembentukan kesadaran nasional, (3) ssastra, masyarakat perbatasan atau pesisir, dan nasionalisme, dan (4) sejarah sastra sejarah bangsa. Selain para pemakalah paralel yang membawakan makalah berdasarkan keempat subtema tersebut, konferensi itu juga menampilkan beberapa pembicara utama, yaitu Prof. Dr. Melani Budianta, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Prof. Dr. Riris K. Sarumpaet, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Dr. Haryatmoko, S.J., Acep Zam-Zam Noor, dan Godi Suwarna.&lt;br /&gt; Acara tersebut dapat terlaksana atas kerjasama antara Pusat Bahasa Depdiknas, Balai Bahasa Bandung, Prodi Bahasa &amp; Sastra Inggris UPI Bandung, BNI, Gubernur Provinsi Jawa Barat, H.U. Pikiran Rakyat, Bpk. Erry Ryana Hardjapamekas, Bpk. A.R. Ruslan, Bpk. Wahyu Wijaya, MIL Tours and Travel, Center for Research in Education Social Transformation, dan para donatur yang telah memberikan bantuan moril maupun materil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-1588331963922265569?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/1588331963922265569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/reportase-konferensi-internasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/1588331963922265569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/1588331963922265569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/reportase-konferensi-internasional.html' title='REPORTASE KONFERENSI INTERNASIONAL KESUSASTRAAN INDONESIA XX'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SovHEnruSwI/AAAAAAAAAFs/ezeeTqCnKNY/s72-c/100_0365.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-4549487608613600958</id><published>2009-08-18T16:22:00.004+07:00</published><updated>2009-08-24T15:06:05.734+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOMBA'/><title type='text'>Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0WIyWw-uI/AAAAAAAAAHE/4GMee1bE0ZE/s1600-h/100_0308.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0WIyWw-uI/AAAAAAAAAHE/4GMee1bE0ZE/s200/100_0308.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371974270734891746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0WIQbQF-I/AAAAAAAAAG8/_nxgKRRQUaw/s1600-h/100_0289.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0WIQbQF-I/AAAAAAAAAG8/_nxgKRRQUaw/s200/100_0289.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371974261626902498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0WH8oKVLI/AAAAAAAAAG0/HRCIJWekbdY/s1600-h/100_0259.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0WH8oKVLI/AAAAAAAAAG0/HRCIJWekbdY/s200/100_0259.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371974256312341682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato GNP-AM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 3 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari Senin ini bakalan jadi hari padatku. Ya, aku hanya sempat nge-print naskah pidato yang akan aku presentasikan keesokan harinya dalam “Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato”. Setelah itu, jam 10.00 tepat aku harus mengikuti rapat kepanitian kongres HISKI yang akan dilaksanakan di Isola Resort, UPI Bandung. Aku merasa menyesal karena aku tidak dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Rapat yang agak telat membuat aku terseret pada waktu rapat juri di Perpustakaan TNI AD. Seharusnya aku melakukan cek terakhir dalam konfirmasi konsumsi pada pihak hotel. Namun, terpaksa kuserahkan pada yang lain. Interval waktu yang sempit,  membuat aku memilih naik taksi daripada harus berlama-lama ngendon di dalam angkot. Syukurlah, rapat bisa kuikuti.&lt;br /&gt; Seusai rapat, aku harus pergi ke Pasar Baru untuk berburu kostum yang akan kukenakan dalam kongres. Setelah berputar-putar, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku perlukan. Ufff, aku kembali ke kantor dan memastikan bahwa tidak ada barang yang terlewatkan untuk keperluan selama mennjalani karantina. Ya, menjelang malam ini aku akan menjalani masa karantina sebagai peserta lomba pidato yang diselenggarakan di Hotel Grand Pasundan Bandung.&lt;br /&gt; Lomba pidato dan naskah pidato tersebut kuikuti tanpa sengaja. Beberapa hari menjelang deadline, aku membaca pengumuman yang tiba-tiba hadir di balik pintu kaca. Aku sangat berminat untuk mengikuti lomba tersebut. Mau tidak mau dalam tenggat waktu yang sangat sempit itu, aku harus mencurahkan konsentrasiku untuk menulis sebuah naskah pidato, satu hal yang sangat baru bagiku. Tema kali ini adalah tema kepemimpinan. Tema yang kuanggap cukup berat dan sangat membebani diriku. Di satu sisi aku benci politik, tetapi aku harus memaksakan diri untuk memicingkan mata ke dunia itu untuk sekadar mendapatkan referensi.&lt;br /&gt; Meskipun tekad dan niat begitu besar untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut, tetapi apa daya menumpuknya beban perkerjaan sehari-hariku di kantor berhasil menunda penulisan naskah itu hingga menjelang hari terakhir penerimaan naskah. Ada satu hal yang agak merepotkan diriku, keharusan menyertakan surat keterangan belum genap berusia 40 tahun dari kelurahan/kecamatan setempat. Lha, kesibukkan yang menyita waktuku menutup kesempatan untuk mengurus surat itu. Naskah yang baru jadi  hari Sabtu menjelang siang, 25 Agustus 2009, membuat aku kebat-kebit karena mengejar jadwal kantor pos yang semula kukira tutup pada pukul 11.00 WIB. Mengajukan permohonan surat keterangan, yang hanya dapat kuminta dari RT setempat, cukup menyita waktu karena prosedur pembuatan yang manual. Semula aku akan melengkapinya dengan cap dan tanda tangan RW setempat, tetapi pintu pagar sekretaris RW yang sangat rapat mengurungkan niatku itu. Aku bertekad dengan menyertakan surat itu seadanya dan mengirimkan hari itu juga. Ufff, masih ada satu lagi tahap yang harus kulalui, menjilid dan membuat salinan naskah. Beruntung, tempat fotokopi langgananku kosong hingga tidak terlampau menyita waktu. Siang yang cukup menyengat membuatku menyewa sebuah becak untuk mengantarku hari itu. Beruntung pula lokasi kantor pos tidak terlampau jauh dari rumahku. Alhamdulillah, Allah Mahapemurah, pengiriman berlangsung lancar. Rupanya jadwal kantor pos pada hari itu lebih panjang satu jam dari yang kuduga semula, pukul 12.00 WIB. Lega hatiku saat langkah ini meninggalkan pintu kantor pos itu.&lt;br /&gt; Hampir satu minggu kemudian, aku mendapatkan kabar bahwa naskahku diterima dan aku lolos menjadi wakil dari Jawa Barat untuk kategori umum putri. Mau tidak mau aku harus mengikuti karantina dan melakukan check-in di hotel tersebut semalam sebelum lomba. Bentrokan jadwal pada hari Senin itu membuat jantungku ini serasa menanggung dentuman yang sangat keras. Rasanya kepala ini berdenyut-denyut. Di satu sisi, aku merasa sangat senang dengan kelolosan ini. Namun, di sisi lain, aku merasa beban berat menggayut dalam hatiku. Aku tidak pernah mengira sebelumnya jika naskah itu harus dipidatokan sendiri oleh penulisnya. Berpidato! Satu hal yang asing bagiku. Aku memang telah berkali-kali tampil dalam seminar, tetapi bagiku berpidato adalah hal yang belum pernah kulakukan. Ufff, bagaimana, ya? Pidato itu harus seperti apa ya? Awalnya gimana? Pertanyaan itu terus berulang dalam batinku. Namun, aku harus menyadari bahwa aku tidak boleh menyerah begitu saja. Bukankah selama ini aku kerap berkata kepada anakku untuk menjadi pemberani. Jika aku mengundurkan diri, artinya aku manusia cengeng yang rapuh. No! Akhirnya aku nekad ikut dalam lomba itu. kulangkahkan kaki yang sedari tadi sudah lelah berjalan itu menuju lobby hotel diantar suamiku. Ya, hanya rido suami dan anakkulah yang mendorong kuat diriku untuk berada di tempat ini. &lt;br /&gt; Aku berbagi kamar dengan kontingen kategori umum putri dari Banten, namanya Nur. Anaknya baik, tetapi kurang pede. Ia bertekad untuk tampil meskipun apa adanya. Aku sendiri tidak berambisi untuk memenangkan perlombaan ini. Yang terpenting bagiku adalah jalani dan percaya diri. Nur harus berjuang untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya itu.&lt;br /&gt; Keesokan harinya, kami semua berkumpul di ruang Wastukancana, lantai UM. Acara perlombaan ini dibuka oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dr. Ahmad Heryawan. Setelah rombongan gubernur berlalu, acara lomba pun dimulai. Secara berurutan, peserta tampil berdasarkan kategori masing-masing, yaitu pelajar putra, pelajar putri, mahasiswa putra, mahasiswa putri, umum putra, dan umum putri.  Inilah momen yang tepat bagi kita, peserta lomba untuk mengekspresikan apa yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Menjelang berkumandangnya azan maghrib, kita diminta panitia untuk membuat biodata pribadi dengan tulisan tangan yang rapi dan indah. Alhamdulillah, aku termasuk lima terbaik bersama Pak Eddy (Bogor), Pak Chairul (Tuban), Suci (Sukabumi), dan Deny (Banten). Untuk apa tujuannya, aku tidak tahu. Kami semua tidak tahu. Ternyata, setelah diumumkan, kami diminta untuk membantu panitia menulis nama peserta pada sertifikat. Pekerjaan itu harus kami lakukan dengan rapi dan cepat karena pengumuman pemenang akan dilakukan selepas makan malam nanti.&lt;br /&gt; Acara pengumuman pemenang diawali dengan tayangan produk  yang menampilkan kebobrokan moral bangsa kita terutama pada anak-anak dan kaum remaja. Oh, ya, penyelenggaraan lomba ini dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMP-AM), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pembinaan akhlak umat dan sedang melebarkan sayap untuk menyusun jaringan organisasi tersebut di berbagai wilayah di Indonesia. Aku pun mengenal organisasi tersebut sejak membaca brosur lomba tersebut yang ditempelkan di pintu kaca instansiku. Kegiatan lomba ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh organisasi itu. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bagian dari upaya sosialisasi organisasi tersebut ke tengah masyarakat. Bahkan, ketika membacakan pengumuman tersebut, panitia menyampaikan bahwa pemenang pidato dalam lomba ini merupakan aset yang sangat berharga bagi mereka. Dengan kata lain, pemenang lomba pidato merupakan kader organisasi yang bertugas untuk menyampaikan visi misi lembaga pembina akhlak tersebut.&lt;br /&gt; Pengumuman hasil penilaian juri pun dibacakan. Alhamdulillah, aku mendapatkan tempat kedua untuk kategori umum. Dengan posisiku itu, aku harus merasa bersyukur karena masih bisa berkiprah di kongres HISKI yang akan berlangsung besok!!!! Aku tidak dapat membayangkan jika aku mendapatkan tempat pertama karena juara pertama setiap kategori harus pergi ke Jakarta untuk menjalani masa karantina selama empat hari. Wah, terbayang sedihnya aku jika tidak mengikuti momen sastra tahun ini. Belum lagi para pemenang harus mengikuti rombongan panitia yang akan berangkat pada keesokkan harinya pada pukul 06.00 WIB!!!!&lt;br /&gt; Ya, deh, selamat untuk teman-teman yang meraih tempat pertama Regional I dan II, semoga kalian meraih sukses di tingkat nasional! Berita terakhir yang aku dapat adalah sebagian dari kontingen Regional I dan II meraih juara di tingkat nasional, yaitu Kategori Pelajar (Suhanda ke-1 dan Amel ke-3), Kategori Mahasiswa (Arul ke-3), dan Kategori Umum (Pak Rofiq ke-2). Selamat-selamat, ya!!!!! Nyesel aku tidak sempat melihat tayangan tunda di TVRI.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-4549487608613600958?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/4549487608613600958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/sayembara-menulis-naskah-pidato-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4549487608613600958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4549487608613600958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/sayembara-menulis-naskah-pidato-dan.html' title='Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0WIyWw-uI/AAAAAAAAAHE/4GMee1bE0ZE/s72-c/100_0308.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-1318223463132169966</id><published>2009-08-18T16:08:00.004+07:00</published><updated>2009-08-24T15:06:05.734+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI'/><title type='text'>RESENSI BUKU BODYGUARD BAWEL!!!!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RESENSI BUKU BODYGUARD BAWEL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   : Bodyguard Bawel&lt;br /&gt;Penulis   : Triani Retno A.&lt;br /&gt;Penerbit  : PT Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal   : 184 halaman&lt;br /&gt;Cetakan  : April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bodyguard Bawel (BB) dapat dikatakan novel konyol yang isinya sebagian konyol dan sebagian nonkonyol. Mengapa demikian? Novel ini dikatakan konyol terutama pada karakter-karakter yang ditampilkan di dalamnya. Novel ini menampilkan gaya hidup remaja yang bebas, ceria, penuh ekspresi, dan memorable. &lt;br /&gt; Novel ini menyampaikan persahabatan dan pertemanan yang indah, sekaligus permusuhan dan percintaan yang tidak indah. Persahabatan di antara tokoh utama, Lea, Yola, dan Yugi sangat indah. Perbedaan karakter ketiganya justru menjadi bumbu yang mempererat persahabatan. Lea dan Yogi yang bawel serta Yola yang lebih pendiam tidak menghalangi perjalanan pertemanan mereka. Lea merupakan gadis yang setiap saat bersedia menjadi pahlawan demi kelancaran urusan teman-temannya, termasuk saat Yola membutuhkan kehadiran Adit menjelang acara lomba lukis anak di sekolah, atau ketika ibunya Gilang mengalami pencopetan di sebuah mal. Yogi merupakan tipe best boyfriend yang selalu siap menampung curhat teman-temannya sekaligus bertindak sebagai konsultan curhat yang handal. Ia mampu memberikan nasihat solusi yang dapat menentramkan hati temannya. Yola merupakan tipe gadis yang memerlukan bantuan sahabatnya. Ia selalu mengandalkan saran dan bantuan dari temannya. Kerja sama ketiga sahabat karib  itu membuahkan hasil. Adit, ketua panitia lomba lukis anak akhirnya bisa kembali ke sekolah, lomba tersebut berjalan dengan sukses, dan Lea kembali menemukan jati dirinya.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt; Namun, kesuksesan tidak selamanya memayungi kehidupan mereka. Lea dan Yugi sebenarnya telah lama menemukan persamaan di antara mereka. Namun, entah apa yang selalu menghalangi langkah mereka hingga persamaan itu hanya menjadi tangga pertemanan mereka saja. Anehnya, hal itu tidak pernah menghalangi kebersamaan keduanya, meskipun Yogi telah memiliki seorang teman dekat bernama Kenny. Kehadiran Kenny tidak pernah menjadi ganjalan di hati Lea dan Yogi. Kenny sendiri telah mendeteksi bahwa sebenarnya Lea dan Yogi telah lama saling mencintai, tetapi pilihan terakhir Yogi adalah dirinya. Ia menyadari bahwa kedekatan Lea dan Yogi terutama karena mereka bersekolah di tempat yang sama. Dengan keyakinan itu, Kenny tidak pernah menaruh rasa cemburu kepada Yogi dan Lea. &lt;br /&gt;“Mungkin … Lea pernah diam-diam suka sama Ugi. Atau mungkin Ugi yang pernah diam-diam suka sama Lea.”&lt;br /&gt;Lea dan Yugi berpandangan. &lt;br /&gt;Sejenak Lea merasa bersalah.&lt;br /&gt;“Tapi aku percaya itu nggak berlanjut. Buktinya  …,” Kenny diam sejenak. “Buktinya Ugi milih aku.” (BB, 2009:147)&lt;br /&gt; Kisah cinta tidak selamanya berakhir indah. Harapan setinggi langit tidak selalu sesuai dengan fakta. Begitulah yang dialami oleh Lea. Yogi berharap agar Lea mau menjadi kekasih Adit. Yogi telah dapat mendeteksi perubahan dalam diri Adit setelah bertemu dengan Lea. Namun, Lea kurang menaruh perhatian pada cowok yang dilanda kurang kasih sayang orang tua dan frustasi itu. Perhatian Lea lebih tercurah kepada Gilang, teman satu sekolahnya yang ibunya pernah dibantunya ketika mengalami pencopetan di sebuah mal. Rupanya perhatian Lea pada Gilang tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, Gilang bukan tipe seorang pahlawan yang akan teguh memperjuangkan cita-citanya. Kepribadian Gilang mudah rapuh. Hal itu terbukti saat ia kehilangan kekagumannya kepada Lea saat membantu ibunya di mal. Ia memandang Lea sebagai gadis yang sangat mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan seorang laki-laki. Gilang tidak bisa menerima hal itu dari Lea. Ketika Lea berusaha untuk menikmati musik klasik kesayangan Gilang, Gilang adalah pianis handal yang sudah dihujani beberapa prestasi, pemuda itu justru kehilangan jatidiri Lea yang sebenarnya sempat ia sukai. Sayangnya, Gilang tidak pernah dikaruniai keberanian untuk menyampaikan hal itu kepada Lea. Ketika Gilang menyampaikan tepat pada akhir kebersamaan mereka, Lea merasakan kata-kata pemuda impiannya itu bagaikan sebuah samurai menusuk ulu hatinya. Lea merasakan dunia impiannya runtuh seketika. Lea yang biasanya selalu menyenangkan danmenenangkan gundah orang lain kini tidak mampu mengobati lukanya sendiri. Bantuan dari Yogi itulah yang akhirnya mampu menenangkan hati Lea.&lt;br /&gt;“Dia terlalu sibuk. Dia terlalu … hm … dia wonder woman…. Dia … ah … kayaknya dia udah nggak butuh bantuan orang lain. Justru orang lain yang selalu butuh bantuan dia.” (BB, 2009:168)&lt;br /&gt; Novel ini selain menunjukkan kekonyolan karakternya, juga menunjukkan hal yang nonkonyol.  Banyak makna kehidupan yang dapat kita petik dalam novel ini, di antaranya arti tentang sebuah perbedaan, mimpi tidak selamanya indah, anjuran untuk tetap tegar seperti batu karang menghadang gerusan ombak di lautan. Makna tentang sebuah perbedaan Lea dapatkan dari calon pamannya, Om Dodit. Dari lelaki yang penuh pengertian itu, Lea mendapatkan bahwa rasa hormat yang tinggi dapat menjembatani perbedaan dua karakter. Pengandaian yang disampaikan Om Dodit mampu membuka hati Lea terhadap makna toleransi dan kesabaran.&lt;br /&gt;“Bagi Om dan Witri, matematika seperti itu nggak ada. Matematika seperti itu nggak rasional. Yang ada adalah setengah ditambah setengah sama dengan satu. Setengah diri kita melakukan penyesuaian dengan pasangan kita. Tapi, yang setengah lagi tetap menjadi diri kita sendiri. Kalau Witri juga nggak masalah kalau Om tetap suka otomotif. Om juga nggak akan memaksa Witri untuk suka otomotif,” jelas Om Dodit. (BB, 2009:142)&lt;br /&gt;Sementara itu, hakikat mimpi tidak selamanya indah Lea dapatkan dari Yogi ketika ia dihadang rasa sedih dan kecewa yang sangat dalam setelah menyadari bahwa pangeran impiannya tidak mampu memenuhi mimpinya itu. Gilang mengundurkan diri sebelum berusaha mendekati dirinya dan hanya menganggapnya sebagai teman yang baik. Yogi menyampaikan bahwa pertemanan yang dipilih Gilang mungkin akan memberikan nuansa yang lebih indah kepada Lea, seperti yang dialami oleh Yogi sendiri. Lea diingatkan oleh Yogi bahwa masa depan Lea tidak berakhir hanya pada Gilang semata. Namun, masih ada pangeran lain yang menanti Lea pada masa mendatang.&lt;br /&gt;“Maksudku gini lho Le … tanpa Gilang hidup masih terus dan masih harus berjalan. Langit juga masih biru. Air juga masih mencari tempat yang lebih rendah. Gravitasi bumi masih berlaku. Bunga-bunga juga masih mekar tanpa harus menunggu senyum Gilang yang kamu bilang senyum  paling manis di dunia. Nggak ada yang berubah kan, Le? Semua masih berjalan seperti biasa.” (BB, 2009:176)&lt;br /&gt;Terakhir, hakikat untuk setegar batu karang didapatkan Lea dari Tante Witri, adik ibunya, yang selalu menjadi keranjang curhat yang nyaman buat dirinya. Makna tegar Lea dapatkan ketika ia sedang dihadang gosip tak sedap yang mencemarkan dirinya di lingkungan sekolah. Beruntung teman-teman dekatnya termasuk, Kenny—kekasih Yogi, tidak tergiur gosip tak sedap itu. Tanpa sengaja Kenny dan Yogi berhasil memecahkan penyebar gosip itu. Rupanya malaikat penyebar gosip itu adalah teman satu sekolah Lea dan Yogi yang tidak suka terhadap kesuksesan Lea dalam pergaulan di lingkungan sekolah elit itu terutama dengan cowok-cowok papan atas di tempat itu. &lt;br /&gt;“Ya hebat dong. Cuma orang hebat yang digosipin. Duma orang yang punya kelebihan yang disirikin orang lain. Kalo orang yang nggak punya kelebihan apa-apa, nggak punya keistimewaan … ngapain juga digosipin? Nggak sensasional. Misalnya nih. Kasus kawin-cerainya selebriti heboh dibicarain. Malah waktu siding perceraiannya Ariel Peterpan, banyak anak-anak dan ibu-ibu yang demo, minta supaya Ariel nggak jadi cerai. Padahal cerai atau tidaknya si Ariel itu kan nggak bakal berpengaruh pada kehidupan anak-anak dan ibu-ibu yang demo itu. Ariel cerai atau nggak, harga BBM dan sembako tetap naik.” (BB, 2009:158)&lt;br /&gt; Sosok Lea merupakan sosok manusia pada umumnya yang tidak dapat terhindar dari flluktuasi garis kehidupan. Ada kalanya ia berada di puncak ketstabilan emosi, tetapi di sisi lain ia akan meluncur tajam ke kedalaman samudera ketidakstabilan emosi yang tidak terduga. Manusia memang tidak pernah sempurna. Ia rentan terhadap segala kelemahan  dan kesalahan. Sebagai remaja yang cenderung rentan dan tipis pengalaman, Lea sempat terhanyut impian pada Gilang, tetapi ia tidak melihat sosok lain yang lebih membutuhkan perhatiannya, Adit. Itulah remaja masa kini yang tengah digonjang-ganjing identitas. Ia ingin menjadi diri sendiri, tetapi ia tidak dapat melakukannya sendiri. Bantuan dari orang-orang terdekat sangat penting, terutama dari kalangan keluarga. Kestabilan emosi seorang remaja sebenarnya dapat dipupuk sejak dini, terutama dari keteladanan orang-orang terdekat dalam lingkungan yang terdekat pula. Siiip, Mbak Triani, novelnya pantas jadi santapan wajib kaum remaja yang cenderung terkena dampak global dan kehilangan identitas diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-1318223463132169966?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/1318223463132169966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/resensi-buku-bodyguard-bawel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/1318223463132169966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/1318223463132169966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/resensi-buku-bodyguard-bawel.html' title='RESENSI BUKU BODYGUARD BAWEL!!!!'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-665392193685872097</id><published>2009-08-10T16:47:00.004+07:00</published><updated>2009-08-24T15:06:05.734+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='THE JOURNEY'/><title type='text'>PETUALANGANKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YO1LKEHI/AAAAAAAAAHs/AA5hM8hxh7o/s1600-h/DSC02699.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YO1LKEHI/AAAAAAAAAHs/AA5hM8hxh7o/s200/DSC02699.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371976573593981042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YOcKRhcI/AAAAAAAAAHk/NR7ut7IvXPQ/s1600-h/DSC02628.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YOcKRhcI/AAAAAAAAAHk/NR7ut7IvXPQ/s200/DSC02628.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371976566879389122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YOIRBjfI/AAAAAAAAAHc/XAj8rkzObmg/s1600-h/DSC02641.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YOIRBjfI/AAAAAAAAAHc/XAj8rkzObmg/s200/DSC02641.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371976561538993650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YNlv5wuI/AAAAAAAAAHU/PVNBhiN6aYw/s1600-h/DSC02563.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YNlv5wuI/AAAAAAAAAHU/PVNBhiN6aYw/s200/DSC02563.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371976552273265378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YNE1sAII/AAAAAAAAAHM/1D81Gr8OIaw/s1600-h/DSC02573.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YNE1sAII/AAAAAAAAAHM/1D81Gr8OIaw/s200/DSC02573.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371976543439159426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 4 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BANDUNG-JAKARTA-MATARAM-DENPASAR-SURABAYA-MADIUN-MAGETAN-BANDUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Well, friend, aku mau cerita nih tentang pengalamanku menjadi si bolang waktu seminar di kota Mataram dulu. Dulu?  Iya, tuh, peristiwanya sudah berlalu lama sekali, tepatnya bulan Juni lalu. Tapi, nggak apa-apa kan? Mudah-mudahan cerita berjalan seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah medapat kepastian diterimanya makalah kita di seminar nasional di Mataram, so pasti kita kalang kabut mencari referensi yang bisa kita pakai untuk nambah kaya makalah. Nah, menjelang deadline, aku bela-belain pulang lewat maghrib dari kantor karena makalahnya baru selesai saat itu dan dikirim via email ke kantor Mataram. Setelah itu? Nah, itu pula yang sangat penting. Kita harus pontang-panting nyari isi dompet  untuk beli tiket pesawat dan akomodasi selama di sana. Terutama aku tuh, jatahku untuk ikut seminar atas biaya kantor dah lewat. Mau tidak mau kali ini harus menjadi perjalanan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Well, kalau Allah sudah berkehendak selalu ada ribuan jalan ke Roma … eh Mataram. Kami rombongan kecil dari Balai Bahasa Bandung, Umi, Teh Yeni, Cucu, Aku, Nia, kudu peras keringat juga demi kepergian ini. Well, Nia dah beli baju baru buat main ke pantai. Iya, inilah perjalanan impian Nia tuk pergi ke Lombok dan Bali. Rencananya kita mau traveling keliling Lombok, Bali, Surabaya, dll. Sayang seribu sayang, impian Nia harus terjegal peristiwa yang sangat tidak terduga. Sabtu, Nia mengabarkan bahwa ia kemungkinan besar tidak akan bisa pergi dan berharap tiketnya bisa dijual lagi. Aku sangat terkejut. Rupanya suaminya demam tinggi dan akan diantar ke dokter dan lab. Hari Minggu, ia memberikan kabar yang lebih menyedihkan lagi. Suaminya terkena gejala tifus. Keputusan yang hampir terlambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di kantor, hal itu menjadi pembicaraan kita. Di satu sisi kita menyayangkan bahwa keputusan itu datang menjelang saat kepergian. Namun, di sisi yang lain kita dapat memaklumi bahwa tidak mungkin meninggalkan suami dalam kondisi sakit yang tergolong serius itu. Ketika aku mendapatkan kabar kepastian gagal berangkat dari Nia, telah terpoikir dalam ingatanku agar Ela mau menggantikan Nia. Ternyata, kelompok kita telah menawarkan hal yang sama kepadanya. Semula Ela memang berniat ikut. Namun, ia merasa malas karena enggan kalau cuma jadi peserta. Nah, ketika tiket yang satu itu dilelangkan kepadanya tentu saja ia merasa gembira. Serta merta ia menghubungi suaminya via telepon sampai akhirnya  surat izin suami kelar dalam sekejap. Kebetulan, dia memang hendak pulang ke Madiun. Nah, tuh ia mengajukan syarat kepadaku mau ikut asal aku mau mampir ke rumahnya. Wisshhh, yo sekalian toh! Aku pun menyanggupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Well, Ela nyaris sedih karena aku nggak janji pergi bareng  subuh-subuh  sama dia. Gara-garanya, sampai maghrib aku belum menemukan tukang lontong. Aku janji mau bawa lontong oncom dan lontong ayam untuk bekal sarapan selama perjalanan menuju bandara. Nah, sebelumnya aku sudah memesan sama Nci Dessie, Bandar kue langganan aku jauh-jauh hari sebelum keberangkatanku. Namun, betapa kecewanya hatiku, tiba-tiba sehari sebelum berangkat aku mendapatkan kabar bahwa ia nggak bisa memenuhi pesananku. Ia mendapatkan sebuah order besar, jadi nggak bisa jualan sehari itu. Uffff sedihnya, aku. Aku nggak mau ngecewain temen-temen yang sudah mengandalkan aku jadi seksi konsumsi. Pulang ke rumah lewat maghrib karena aku harus membeli bekal ke Mataram dan juga bekal buat jagoanku di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setibanya di rumah, setelah solat maghrib, aku tiba-tiba teringat Si Ayu tukang jamu yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Ia juga suka bikin lontong dan makanan ringan lain yang tidak kalah enaknya dengan lontong buatan si Nci Dessi. Karena suamiku mau pergi, aku minta sekalian didrop di depan rumah si Ayu. Nah, aku lihat pintu garasinya terbuka. Sambil mengucapkan salam, aku ngeloyor pergi  ke dalam dapur sambil berteriak lantang memanggil namanya. Senangnya hatiku karena saat itu si ayu kebetulan bikin lontong mie sayur dan oncom. Kuborong semua tanpa sisa. Namun, aku ingin lontong itu dalam kondisi hangat. Si ayu menyanggupi untuk mengantar lontong panas itu tepat pada pukul 4.30 WIB!!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ela dah nunggu aku di Metro. Ya, rencananya kami harus tiba di bandara Cengkareng sekitar pukul 8-an. Pesawat yang akan kami tumpangi akan berangkat pada pukul 10.15. Well, sedikit macet di dalam tol kota sempat membuat kami kebat-kebit. Namun, rupanya jalur ke bandara terhalang arus kendaraan yang akan menuju ke Grogol. Well, akhirnya celah menuju jalur bandara pun terkuak dan bis kita bisa melaju lancar hingga di mulut terminal A. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ihhhh, dasar orang udik, ke mana-mana kita gak bisa ngilangin keudikkannya. Hee … heee ….. kita semua kelaparan tuh dan menggelar lesehan di lorong terminal A6. Kebetulan saat itu tempat tunggu terisi penuh penumpang dengan jalur penerbangan ke Yogyakarta.  Setelah mereka bubar, baru kita mendapatkan dua baris tempat duduk yang, lagi-lagi, kita jadikan sebagai warung dadakan. Lumayan, setengah porsi lontongku akhirnya ludes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, perjalanan ini lancar. Kita tiba di Bandara Selaparang, Mataram pukul 13.45 WITA. Hee … heee … rupanya Jeng Ela kurang bisa menikmati her first time flight-nya. Kayaknya dia jet lag tuuhhh. Setelah itu, ia jadi nggak ngebet lagi naik pesawat. Nggak lama di hotel,  kita nyari makan siang ke barisan toko-toko yang letaknya tidak jauh dari sana. Oh, ya, rombongan kita bertambah satu orang, Susi dari Balai Bahasa Palembang. Dia transit di Jakarta dengan pesawat yang sama. Kembali ke makan siang, kita agak kecewa dengan ayam taliwang dan plecing kangkungnya. Rasanya kurang mantap! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah makan, kita langsung jalan-jalan ke malnya orang Mataram, ya, mirip-mirip di kita lah, tapi kesan megahnya agak kurang terasa. Tanpa sengaja, kita menemukan papan nama waterpark. Langsung aku dan Ela yang keranjingan renang, berlari ke lantai 2 nyari baju stretch karena sama-sama nggak bawa dari rumah. Nyesel juga!! Setelah  hunting, kita kembali ke hotel dang anti kostum. Waterpark itu cukup sore. Ada satu-dua orang yang berenang di tempat itu. Kita diperbolehkan renang sampai pukul 7 malam!!!!!!! Ihhhh, mungkin Allah nggak ridlo kita ngeforsir tenaga buat tampil besok. Baru renang sebentar, aku kena kram. Anehnya, kram itu nggak bisa hilang meskipun aku dah bengkok-bengkokin jempol jari. Jadilah Ela renang agak lama sendirian sementara aku segera mencari tempat ganti baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berkali-kali kram itu muncul. Berkali-kali itu pula aku harus membengkokkan ujung jempol dan jari kakiku. Beda dengan aku, Ela merasakan kepalanya pusing. Mungkin jet lag-nya masih bersisa. Akhirnya kami berdua kembali ke hotel, sesekali kami menatap pajangan di barisan toko souvenir. Menjelang maghrib, kita mencari makan dan mulai hunting oleh-oleh di tempat itu. Kaos-kaos bertuliskan Lombok dalam berbagai gaya mulai menyesak dalam tas kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau lagi ngumpul sama temen, biasa tuh, kita jarang bisa tidur cepet, tapi ngobrol ngalor ngidul ke mana-mana (tapi bukan tak gendong, ya!) sampai tengah malam. Susi yang tadinya pengen tidur di rumah salah seorang teman kami di Mataram, akhirnya meringkuk di atas kasurku. Ya, deh, kita bersempit-sempit. Nah, tuh,  asalnya dia mau nginep di tempat salah saeorang temenku di Kantor Bahasa Mataram, tetapi ia menunggu jemputan dari orang itu. Rupanya, lewat petang dia dapat berita bahwa temen dari Medan sudah lebih dulu tinggal di tempat itu. Jadilah Susi tinggal berdesak-desakkan denganku. Ia memutuskan untuk menyewa ekstra bed yang harganya hampir setengah harga kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi-pagi beberapa peserta yang menginap di Hotel Handika bersiap-siap untuk sarapan pagi di hotel. Uff, kita menunggu lumayan cukup lama. Satu hal yang tcukup idak kusukai adalah suguhan teh manis ala Jawa!! Aku lebih suka teh pahit.  Aku sudah memesannya terlebih dulu, tetapi dasar tangan yang sudah distel budaya, teh yang datang ya… manis lagi … manis lagi. Kureguk juga akhirnya pesanan tak sesuai naluri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari pembukaan seminar berjalan cukup alot. Ya, biasalah, panitia disibukkan dengan registrasi peserta. Mulut-mulut cerewet peserta ditanggapi dengan santun dan profesional oleh panitia. Biasalah, banyak peserta yang daftar dadakan, nama di daftarnya salah, belum dapat seminar kit, dan tidak terdaftar. Acara pembukaan seminar juga berjalan agak merayap, bahkan, sempat diwarnai mogoknya aliran listrik di hotel itu. Ufff, seharusnya hotel memiliki sistem lapis tiga. Listrik lapis satu mati dalam hitungan detik yang lain nyala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kota Mataram kota kecil. Kita bisa menjangkau ke tepian kota dengan mudah. Gak perlu ganti-ganti angkot! Pake taksi juga murah! Asal jalannya sekalian. He… he… jalan-jalan di kota ini semudah jalan di sebuah mal besar di Kota Bandung. Namun, ada yang nggak bisa di temui di kota kembang. Antimacet!!!! Ya, aku belum pernah menemukan kata macet di kota ini. Kemana, ya, penduduk dan kendaraan itu. Jalanan lengang dan nyaman. Banyak pula tanah-tanah kosong yang luas belum digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Makanan di Kota Mataram cukup beraroma. Ya, jenis makanannya berbumbu banyak. Salah satu makanan khas di kota ini adalah sate bulayak, sate ayam atau kerang dengan lontong yang berbentuk seperti kue celorot, seperti sosis yang memanjang tetapi mengecil di ujung yang satu dan dibalut dengan daun kelapa. Rasanya memang agak aneh di lidah kita karena sudah terbiasa dengan rasa sate di Pulau Jawa. Namun, sebagai tamu, kita menghargai makanan khas daerah setempat dan … karena tak ada pilihan lain. Hee … he….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tampil pada hari kedua. Alhamdulillah, seminarku sukses en banyak merespon naskahku. Ada pula yang menawarkan untuk tampil di acara bulan bahasa dan sastra, kalau tidak salah dari sebuah kota di Jawa Tengah. Namun, aku nggak  tuh! Nggak mengharap banyak! Setelah tampil, aku diantarkan teman-teman dari Kantor Bahasa Mataram pergi mencari oleh-oleh. Kami diantar ke sentra pembuatan dodol rumput laut dan toko mutiara. Ya, lumayanlah buat oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bersama teman-teman dari sesama kantor dan balai bahasa se-Indonesia yang mengikuti kegiatan seminar itu,  kami memutuskan untuk berwisata pada malam hari ke Pantai Senggigi. Pantai itu ternyata sangat gulita, tetapi di tepiannya terhampar kilapan lampu-lampu kafe dan perahu. Namun, barisan hotel yang berjajar di tepi tanjakan yang melingkar itu membuat ingatanku tertambat pada suasana lembang dan sekitar Jalan Setiabudi atas. Di tempat itu, lagi-lagi kami makan sate bulayak. &lt;br /&gt; Hari ketiga setelah usai seminar itu, kami (kecuali Umi dan T, Yeni) memutuskan untuk pergi ke Gili Trawangan. Gili Trawangan adalah salah satu dari tiga pulau kecil ternama di Lombik yang dijadikan sebagai tempat tujuan wisata. Kami bergabung dengan keluarga Ratnawati, temanku dari Balai Bahasa Ujung Pandang. Kami terbagi ke dalam dua mobil. Perjalanan menuju Gili kami lewati via Pusuk, yang artinya puncak. Jalur ini merupakan jalur yang sangat indah. Kita melaju mengelilingi jalan yang meliuk indah dengan udara yang sangat segar. Di puncak itu, kita akan menemukan replika Sangeh, tempat kera di Pulau Bali. Namun, jumlah kera di tempat itu tidak sebanyak di Pulau Bali. Hanya satu dua kera saja yang mau menyambangi kami. Yang lainnya hanya menatap kami dari kejauhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak lama di tempat itu, kita melanjutkan perjalanan menuruni jalanan yang menuju ke pelabuhan. Di tempat itu, kita harus berjalan sekitar 300 meter untuk menuju ke tempat pembelian tiket. Sebenarnya, peraturan itu dibuat untuk memberdayakan cidomo. Namun, kita memilih untuk berjalan kaki. Biaya perorang Rp.12.500,00. Tidak sampai setengah jam kita sudah tiba di bibir pantai Gili Trawangan. Di tempat itu tidak akan kita temui kendaraan bermotor, kecuali dalam perahu yang mengangkut penumpang pulang-pergi Lombok-Gili Trawangan-Lombok. Kendaraan yang ada di sana adalah sepeda dan cidomo (cikar, dokar, dan motor). Cidomo adalah perkawinan antara delman, dokar, pedati, dan sepeda motor yang ditarik seekor kuda. Harga yang dipatok untuk mengelilingi pulau itu Rp.75.000,00. &lt;br /&gt;Wuiihhh, kita semua merasa kemahalan, padahal kita belum tahu seberapa jauh jarak pulau ini. Akhirnya, kita bertiga, Ratna-aku-Susi, memutuskan untuk menyewa sepeda yang tarifnya Rp.20.000,00/jam. Yang lain memutuskan untuk rebahan di bawah tenda dan tempat istirahat yang lain. Ternyata acara sewa sepeda itu menjadi bibit petualangan kami bertiga yang tidak akan pernah kami lupakan selama hidup kami. Kami tidak pernah mengetahui bahwa tidak semua keliling pulau ini jalanannya berlapis aspal. Hanya bagian-bagian tertentu saja, terutama pada bagian muka saja yang jalannya dipoles aspal. Selebihnya, bagian lain pulau ini, terutama bagian belakang pulau itu yang berupa hutan. Kami mengawali perjalanan ini dengan lancar sampai ke tempat yang menjadi tempat favorit para bule untuk berjemur. Tampak beberapa pasangan asing sudah menandai lapak untuk mencokelatkan dan menggelapkan  kulit mereka. Ihhh, pengen cokelat! Kita aja mati-matian pengen putih, hee … hee. &lt;br /&gt;Melalui barisan pantai utama yang dipagari dengan rangkaian hotel dengan aneka bentuk yang menarik, kita melaju ke ujung jalan beraspal di tempat itu. jalur selanjutnya mulai bergulat dengan tanah dan pasir. Kami berpapasan dengan sebuah cidomo yang mengangkut penumpang. Kusir cidomo itu memberikan peringatan kepada kami bahwa jalanan di depan penuh pasir dan meminta kami untuk kembali. Namun, kami yang rupanya sama-sama Bengal dan keras kepala, bersikeras untuk melanjutkan perjalanan kami. Rasanya rugi jika kami bayar Rp.20.000,00 untuk beberapa menit saja. Kami tidak mengindahkan peringatan si kusir tadi dan melanjutkan perjalanan kami. &lt;br /&gt;Ternyata apa yang dikatakan kusir itu benar. Sebelumnya, kami sempat berhenti di sebuah lokasi. Kami mendapati sebuah kapal yang penumpang yang baru saja dicat dengan cat yang berwarna putih. Selain itu, kami juga mendapati sebuah pohon bercabang dua. Kami sempat berfoto di dua lokasi itu. Jalur selanjutnya yang kami tempuh adalah jalur berpasir. Perjalanan kami mulai menemui hambatan. Kami harus pandai-pandai memilih jalur agar bisa dilalui sepeda kami. Jika tidak, kami akan terkunci atau jatuh tanpa diduga karena kayuhan kami tertahan pasir itu. Wow, pasirnya cukup tebal, sekitar 15—25 centi. Ratna lebih ahli rupanya karena ia tinggal tidak jauh dari pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam setengah kita telah menjelajahi tepian pantai Gili Trawangan yang belum terjamah oleh investor. Sekeliling tempat kami berhenti dihuni semak-semak dan pepohonan jati, kelapa, dan pohon lainnya. Beberapa papan bertuliskan “tanah ini dijual” kami temukan di tempat itu. Beberapa kavling di antaranya sudah dipagari. Ada pula yang tidak dipagari dan dipakai untuk menggembala kambing. Perjalanan ini seharusnya bisa kita lakukan dalam tempo yang lebih cepat. Namun, apa daya kubangan pasir demikian mendominasi jalur yang kami lalui. Tidak jarang kami mendorong sepeda hingga 100—200 meter jauhnya sementara mengayuh sepeda hanya dalam hitungan beberapa meter saja. Tibalah kami di puncak kelelahan. Wajah kami sudah memerah. Matahari di pulau berpantai indah itu sangat garang. Sinarnya seperti ujung pisau yang siap menyayat inci demi inci  kulit tubuh kita. Di salah satu jalur yang dilalui, kami mendapati sebuah tanah berpasir yang landai dan berumput. Ratna dan Susi duduk di tempat itu. Sementara itu, aku tetap duduk di atas sepedaku. Sebelumnya, kami juga sempat beristirahat di sebuah tembok yang mungkin dibuat untuk membuat lahan peristirahatan. Ya, di pulau ini kita dengan bebas bisa duduk santai di tepi pantai dan memilih tempat atau kursi santai bertenda atau beratap rami. Beberapa di antaranya dibuat di tempat yang telah ditinggikan dari permukaan jalan dan pantai untuk memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk memandang bebas ke arah lautan.&lt;br /&gt; Di tempat ini kita juga mendapati beberapa bagian pantai penuh karang yang cukup berbahaya sehingga wisatawan tidak diperkenankan untuk berjalan-jalan di tempat itu, bahkan tidak dapat digunakan untuk perahu nelayan.  Sekilas batu karang itu tampak lembut menyembul berserakan di pantai. Jarak pantai di tempat itu tampak lebih luas daripada pantai di bagian utama pulau itu. Namun, tempat itu masih belum tertangani.&lt;br /&gt;Kembali ke tembok tadi, di tempat itu kami berjumpa dengan salah seorang turis asing. Ia mengatakan bahwa perjalanan kita masih jauh, sekitar satu setengah atau dua jam perjalanan lagi. Kita tidak bisa membatalkan perjalanan ini karena kita sudah berada di tengah-tengah. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus melanjutkannya. Oh, ya, bule itu dengan tulus memberikan sisa air minumnya ketika kami mengatakan bahwa kami tidak punya air minum dan kehausan. Bule itu pun berlalu sambil meninggalkan senyum di hati kami. Susi mendadak kehausan dan kehabisan air minumnya, tetapi ia tidak mau menenggak pemberian si bule tadi. Ratna mengatakan bahwa ia masih punya air minum. Disodorkannya botol itu kepada Susi yang tanpa ba-bi-bu langsung menyambar dan menenggak isi botol itu. Namun, dalam hitungan detik ia menyemburkan air dalam mulutnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brrrrrrrrrrrrr!!! Wahhh, airnya asin banget!” ujarnya menggerutu sambil meludah-ludahkan sisa air yang ada di dalam rongga mulutnya.&lt;br /&gt;“Hmmm … iya … tadi aku isi botolnya dengan air laut karena habis. Ohhh, maaf sepertinya aku tidak sengaja bawa botol yang salah perasaan sih botol ini bukan yang kuisi, he … he …,” ujar Ratna dengan cueknya. Tanpa dosa!!!&lt;br /&gt;“Huuuhh, dasar!” umpat Susi sambil ingin menahan tawanya. &lt;br /&gt;Susi pun beranjak ke atas sepedanya dan mengajak kami pergi. Rupanya jalur yang harus kita tempuh masih berlumur pasir, bahkan dengan kedalaman yang lebih parah. Sayang, di beberapa bagian kami temukan onggokan sampah. Sayang sekali!&lt;br /&gt;Kami menemukan tempat transit di sebuah tanah landai berumput. Ratna dan Susi duduk. Aku malas dan duduk di atas sepedaku. Ratna lalu memutuskan untuk menelepon suaminya dan mengabarkan kondisi mereka. Namun, kami semua terkejut karena Ratna engatakan bahwa kami tersesat, satu orang pingsan, dan satu orang lagi terlepas rantainya. Aku yang merasa gemas menendang beberapa bulir pasir kepadanya. Ia malahan tertawa. Kemudian ia mengatakan bahwa ia minta dikirim Cidomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya, beberapa saat sebelum kami berstirahat di tempat itu, rantai sepeda Susi terlepas. Susi dan Ratna berusaha keras memperbaiki rantai itu. Namun, setelah cukup lama berusaha, mereka tidak berhasil. Namun, Allah Mahakuasa, dari kejauhan kami melihat tiga orang laki-laki berjalan ke arah kami. Kusarankan kedua temanku untuk meminta bantuan kepada mereka. Ternyata salah seorang di antara mereka dalam hitungan detik bisa memperbaiki rantai itu dengan mudah. Kami mengucapkan terima kasih kepada mereka. Ketiga orang itu rupanya perantau dari tanah Jawa yang bekerja membangun sebuah hotel di bagian lahan yang tadi telah kami lewati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan yang rupanya masih cukup jauh dan bergelimang jeratan selimut pasir di jalanan. Cukup lama, hampir menelan waktu satu jam, kami harus mengayuh pedal. Sempat kami berpapasan dengan seorang pria bule yang bersepeda. Ia mengatakan bahwa jarak ke tempat kami semula masih cukup jauh. Yah, nasi sudah menjadi bubur. Kami masih harus melanjutkan petualangan yang berkesan ini. Lama sekali kami mengayuh pedal hingga akhirnya kami melihat sebuah pemondokan yang letaknya cukup terpisah dan tampak menyendiri di sini. Beberapa orang bule tampak asyik bernaung di bawah sebuah gubuk kayu beratapkan jerami. Gubuk itu terletak di seberang pemondokkan itu. Ufff, kami tidak ubahnya udang rebus panas yang masuk ke dalam gua es. Kami masuk dan memarkirkan sepeda kami di halaman pondok itu.  Kami mendengar suara perempuan menyahut panggilan kami, dari jauh kami bertanya apakah ia menjual minuman dingin. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Minuman yang kami inginkan ada. Ratna memilih aqua dingin dalam botol besar, aku mmemilih Sprite, dan juga Susi. Namun, akhirnya, Susi memberikan Sprite itu kepadaku. Nggak kuat perutnya! Soal harga jangan ditanya deh! Aku beli Sprite Rp.9.000,00 dan Rp.7.000,00 untuk Aquanya Ratna. Nilai itu masih tergolong lebih murah daripada harga untuk minuman yang sama di pantai bagian muka pulau itu. Temanku, Mbak Rini harus merogoh kocek Rp.18.000,00 untuk sebotol Coca Cola!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah tidak berhenti sampai di sana! Rasa haus kami memang sudah terobati, tetapi tidak untuk sepeda Ratna. Ketika ia akan mengayuh sepedanya, ia mendapati bahwa rantai sepedanya putus. Dengan memakai telepon genggam milik Susi, pulsa Ratna habis, Ratna mengabarkan kondisi sepedanya itu dan meminta kerabatnya untuk membawa sepeda gantinya. Kami melanjutkan perjalanan sambil menenteng sepeda. Lima belas menit kemudian, Mbak Ipung datang bersepeda sambil membawa si abang pemilik sepeda. Si abang juga menenteng rantai pengganti. Ratna memakai sepeda yang dibawa si abang. Mbak Ipung datang sambil membawakan kami berbotol-botol minuman. Kejadian ini membuat kami diuntungkan karena kami tidak diwajibkan membayar denda. Rupanya perjalanan kami menelan waktu hampir tiga jam!!! Sambil pulang, kami sempat berfoto di sebuah tempat peristirahatan, tampaknya sempat dipakai untuk pesta miras dengan banyaknya tumpukan botol bir di tempat itu. Tempat itu cukup bagus hanya saja tidak banyak digunakan. Hal itu terlihat dari tebalnya debu di sana-sini. Pantainya tidak dapat digunakan karena banyaknya onggokan batu karang di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami dari tempat itu lumayan agak jauh juga, sekitar 15—20 menit dengan bersepeda. Kami akhirnya tiba di Hotel Ombak Biru tempat kami meminjam sepeda itu. Ingin rasanya kami langsung menghilangkan panas di tubuh kami dan nyemplung langsung ke kolam renang. Namun, kami dihadang waktu. Kami harus kembali ke Mataram. Teman-teman kami rupanya sangat mencemaskan kami dan menanyakan apakah benar aku pingsan. Mereka rupanya menduga aku yang pingsan. Aku menyangkal hal itu. Kulihat wajah-wajah mereka penuh gumpalan kusut antara gembira dan kesal karena bualan Ratna itu. Ratna orangnya cuek bebek, wajahnya tampak tidak berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Kami harus membeli tiket pulang dengan harga yang sama. Perahu yang kami tumpangi penuh, jadi kami harus menunggu perahu berikutnya. Aku dan Ela sempat membeli es krim pada seorang penjual es krim yang rupanya akan ikut menyeberang juga. Tanpa sengaja aku merogoh kantong-kantong dalam tasku. Hapeku nggak ada! Aku minta Ela untuk menelepon ke nomor aku! Tidak ada bunyi sama sekali. Aku mencari di tempat sekitar, tidak ada! Akhirnya kuputuskan untuk mencari di tempat kami tadi beristirahat dan hotel tempat peminjaman sepeda. Aku bergegas pergi ke tempat kami tadi dan menitipkan barang kepada Ela. Aku berjalan cepat sambil sesekali mendengar godaan dari beberapa pria iseng di sisi kiri dan kanan. Ya, jika pergi ke Gili Trawangan, posisi kita menjadi orang asing di pulau di negeri sendiri. Kebanyakan penghuni pulau itu, ya, wisatawan asing itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahku kuiringi dengan segudang harapan untuk mendapatkan kembali hape itu. Namun, di satu sisi aku membisikkan kepasrahan kepada Allah swt, seandainya hape itu tidak bisa kutemukan, aku menyadari jika hal itu sudah menjadi kehendak-Nya. Aku tidak diperkenankan untuk bertamak-tamak di dengan satu benda kecil itu. Kususuri tempat istirahat itu. Tidak kutemukan! Beberapa orang wisatawan telah menduduki tempat kami. Kualihkan langkahku kembali ke hotel tempat kami menyimpan sepeda itu.  kulihat si abang penjaga sedang bermain tenis meja di halaman hotel tidak jauh dari kolam renang dan tempat penyewaan sepeda itu. Kutanyakan kepada si abang tentang hapeku itu. Ia menjawab tidak. Aku pun mohon maaf dan perlahan beranjak dari tempat itu. Namun, si abang memanggilku kembali dan disuruhnya aku menunggu sejenak. Ia segera berlari kea rah sepeda yang tadi kusewa itu. Subhanallah, hape itu rupanya masih terbaring indah di dalam keranjang sepeda itu dan tidak seorang pun yang menyewanya setelah kami. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadanya. Kemudian aku segera berbalik meninggalkan hotel. Kulihat panggilan dan deretan sms Ela di layar hape. Disuruhnya aku segera ke pantai karena perahunya siap berangkat. Ela tidak sabar menunggu beritaku. Aku sempat kaget karena barang-barangku tidak ada. Ela menyampaikan bahwa barang-barangku semua sudah dibawakan oleh Pak Cece, mitra instansi kami. Duh, aku malu karena hanya membuat mereka menderita. Semua teman-temanku menanyakan perihal hapeku itu. Ahhh, tidak ada pembawa berkah terbesar selain Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sore ini kami lanjutkan ke Pantai Senggigi karena jalur ini yang kami pilih. Kami menunda makan siang kami di pantai ini dengan santapan jagung baker dan sate bulayak. Senja di pantai ini tampak cukup indah karena laut berhias beberapa kapal boat dan perahu. Sementara itu, di kejauhan tampak barisan kapal terbang berbanjar di lapangan Selaparang. Aku tidak menduga jika bandara itu terletak di tepi pantai seperti halnya pantai Kuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sore itu, kami melanjutkan perjalanan ke Lapangan Merdeka. Lapangan ini ditetapkan sebagai tempat orang-orang menghabiskan senja dan sore nongkrong di tempat itu. Barisan kedai makan siap memberikan pelayanannya kepada Anda. Sayang, makanan yang disuguhkan rasanya sangat berbeda dengan yang biasa kami temui di Bandung. Setelah itu, kami sempat diajak ke tempat penjualan mutiara. Sayang, kebanyakan dari kami sudah lebih dulu berbelanja di tempat lain. Kami hanya melihat dan hanya Herryana yang berbelanja di tempat itu. Sebelum kami menuju ke rumah kerabat Ratna di Praya, kami mengunjungi rumah Harryanto—salah seorang teman kami di Kantor Bahasa Mataram untuk mengambil barang-barang yang telah dititipkan sejak pagi tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sepakat untuk pulang melalui jalan laut ke Pulau Dewata dengan menumpang kapal ferry. Kapal tersebut akan berangkat pada pukul 02.00 pagi. menjelang kepargian itu, kami singgah di rumah kerabat Ratna, Sitti Ari. Pukul 12.00 kami berangkat dari rumah itu. Tanpa sengaja kakiku menginjak mangkuk gula (tentu saja berantakan isisnya!), lalu, aku sedikit mundur dan tanpa sengaja pula menginjak baki plastik hingga patah. Ufff aku merasa sangat berdosa. Dalam hatiku aku berniat untuk mengganti baki itu. Kelak, alhamdulillah, aku mendapatkan sedikit rezeki dan bisa mengirimkan penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pengalaman pertamaku naik kapal laut. Di bagian bawah badan kapal dipenuhi dengan kendaraan berbagai jenis. Kendaraan itu diatur dengan sangat ketat agar bisa menampung sesuai dengan kapasitasnya. Penumpang duduk di bagia atasnya. Menjelang maju, kami disewakan kasur oleh Ratna. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 4 jam. Kelelahan begitu menghadang kami. Ombak mulai memainkan tariannya seiring tarian mimpi membawa kami pergi jauh. Di tengah perjalanan, aku terbangun dan merasakan ayunan ombak yang begitu tinggi. Rasanya aku lebih merasa tenang dengan permainan ayunan. Aku ingin pergi ke luar dan melihat deburan ombak dini hari. Namun, apa daya mataku terlalu akrab menggayut berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh, kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Setelah melaksanakan salat Subuh, kami menyewa sebuah mobil elf menuju Kantor Bahasa Denpasar. Agak sulit juga kami mencari kantor itu. Namun, kesulitan itu tidaklah lama setelah kami mendapatkan sambutan dan pelayanan yang sangat baik dari Kepala Kantor itu dan juga teman-temanku di tempat itu. Salah seorang temanku, Belik Made, dan juga KTU setempat Bu Eka mengantar kami melihat isi Kota Denpasar. Setelah mencari makan pagi yang tertunda, kami pergi ke Sukawati Erlangga, sebuah sentra oleh-oleh khas Bali. Bu Eka mengantar kami sampai di sini. Selanjutnya, kami diantar Made ke pantai Kuta dan Legian. Di pantai Kuta, temanku sempat menuntaskan impiannya berbelanja di toko Joger. Dengan tulisan dan pernak-pernik khasnya, Joger sangat dikenal di negeri ini bahkan mancanegara. Tokonya tiada henti disesaki rombongan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Menurutku, produk kaus dan pernak-perniknya sih kagak jauh-jauh dari yang di Bandung. Namun, kecintaan pada nama produk itulah yang mendorong mereka rela berjejal-jejal di toko yang tidak mau membuka cabang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat meluangkan waktu bermain dan berfoto di Pantai Kuta. Ahhh, kami terlanjur melihat pantai-pantai indah di Lombok lebih dulu. Bagi kami, suasana di Pantai Kuta tidak jauh berbeda dengan Pantai Pangandaran. Pantainya kurang resik, dan dijejali bule yang ingin menghitamkan dirinya. Waktu itu, banyak sekali rombongan anak sekolah yang menyesak di pantai sambil menunggu tenggelamnya matahari. Sepulang dari Kuta, kami diajak Made melihat bekas ledakan bom Bali I dan II. Kini kami mengerti bagaimana peristiwa itu bisa menelan jumlah korban yang sangat luar biasa jika melihat situasi kedua tempat itu yang sangat padat dengan pengunjung. Kini bekas ledakkan itu dijadikan sebuah kafe tidak jauh dari sebuah monumen yang didirikan pemerintah setempat untuk mengenang para korban ledakan. Pada salah satu dinding monumen itu terdapat deretan nama korban tewas dalam peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami pulang dan sempat menyaksikan kemacetan di Kota Denpasar. Kulihat banyaknya bangunan pura dan patung-patung serta monumen yang berdiri megah di kota itu. Kami sempat melihat salah satu kegiatan yang diikuti kepala balai setempat, yaitu seminar BIPA. Selain itu, kami juga sempat menyaksikan antusiasme masyarakat Bali pada kegiatan seni. Saat itu merupakan pembukaan pekan kesenian Bali.&lt;br /&gt;Kami telah membook tiket travel tujuan Surabaya yang akan berangkat pukul 7 malam. Kami sempat mandi dan berganti pakaian. Rasa terima kasih yang tidak terhingga kami ucapkan kepada kepala balai beserta stafnya atas segala kebaikan yang diberikan kepada kami. Rombongan kami terpecah sampai di sini. Ratna, suaminya, dan Herryana akan menginap di rumah kerabatnya, sementata Cucu ikut bersama mereka sampai besok pagi. Ia telah membeli tiket ke Bandung karena mendapat kabar tentang sakit ibunya. Kami yang pergi ke Surabaya tinggal bertiga, aku, Ela, dan Susi. Kami tiba di pelabuhan dan Gilimanuk dan menaiki perut ferry. Jarak yang kami tempuh dari pelabuhan ke Surbaya cukup singkat, setengah jam. Setelah itu, kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk menuju ke Surabaya hingga akhirnya benar-benar kami diantar ke dalam halaman terminal. Kami menuju ke lajur bis tujuan Madiun. Setelah itu, kami naik bis jurusan Yogyakarta agar bisa sekalian dengan Susi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, inilah pertama kalinya aku naik bis ala bis yang ditumpangi Harry Potter, Sumber Kencana. Bis itu meluncur deras seolah tidak ada aral melintang di depannya. Dua jam perjalanan cukup membawa kami tiba di terminal Madiun dan inilah saatnya kami berdua, aku dan Ela, berpisah dengan Susi. Aku telah berjanji sebelumnya untuk berkunjung ke rumah orang tua Ela di Magetan. Ayahnya Ela telah berdiri di halaman luar terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai ke rumahnya, ayah Ela mengajak kami makan siang di Rumah Makan  Bu Kus.  Ayahnya Ela mengatakan bahwa dulu, pemilik rumah  makan itu telah membuka cabang di Surabaya dan sangat diminati pelanggan. Namun, karena sakit berkepanjangan yang dideritanya, usaha itu menemuii jalan buntu. Kini ia tidak membuka cabang lagi. Nasi pecel sebagai menu andalan khas rumah makan Jawa Timur itu cukup bisa diandalkan sebagai pengobat rasa lapar kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan anak Ela, Rafi, tidak ikut menjemput kami karena berbenturan dengan acara piknik di sekolah. Kami baru bertemu beberapa jam setelah kedatangan kami di rumah. Kedatangan kami ke rumah itu bertepatan dengan acara syukuran yang akan dilakukan oleh kedua orang tua Ela. Tentu saja, banyak saudara dan tetangga Ela yang datang membantu sang ibu. Semua saudara Ela sudah tinggal terpisah. Rafi, anaknya Ela, tinggal di rumah itu menjadi ajang hiburan bagi neneknya. Well, anyway, syukuran tersebut lumayan memudahkan aku untuk mengenal keluarga besar Ela, terkecuali kakaknya yang tinggal di Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara syukuran ini terbilang unik. Aku baru mengalami adat tradisi seperti itu. pada umumnya, di Bandung, syukuran biasa dilakukan dengan acara pengajian yang cukup berpanjang-panjang. Setelah itu, untuk pengisi acara, tuan rumah menyediakan nasi dus dan kue atau pernik-pernik lainnya. Sementara itu, di Magetan, tempat Ela tinggal, para pengisi acara resminya adalah kaum laki-laki, santri dan lelaki dewasa. Namun, tanpa diundang, kaum wanita juga mendatangi rumah si empunya hajatan. Uniknya, kaum ibu masing-masing membawa sebuah keranjang anyam atau keranjang lain yang kebanyakan sudah diberi nama dengan berbagai cara dan ditutupi dengan kain pada bagian atasnya. Isinya, berbagai macam bahan pokok mentah. Dari pengamatanku, kebanyakan yang mereka bawa adalah mi kering, kentang, bawang putih, gula pasir, dan beras. Banyaknya, ya, bergantung kemampuan. Uniknya, bawaan tersebut dicatat dalam sebuah buku. Nanti menjelang pulang, kaum wanita akan dibekali dengan bungkusan nasi dan lauk-pauknya. Jumlahnya hampir sama. Sementara itu, selama duduk di rumah si empunya hajatan, mereka disuguhi nasi yang diambil sendiri dan diberi alas makan sepiring soto daging. Porsinya cukup unik, hanya beberapa sendok saja! Mereka mengambil nasi sendiri sesuai selera. Ketika kutanyakan hal itu kepada Ela, ia menjawab bahwa di tempat itu ada keharusan untuk menghabiskan hidangan yang disuguhkan. Untuk menghindari mubazir, porsi yang diberikan dalan suguhan hidangan tersebut tidak diberikan banyak. Aku melihat suguhan tersebut sebagai syarat penyambutan dan penghormatan kepada tamu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum laki-laki juga dibuatkan bekalan nasi untuk dibawa pulang. Uniknya di tempat ini tidak menggunakan dus sebagai pembungkus makanan melainkan dalam sebuah bakul mini plastik yang diisi nasi dan diatasnya ditutup cup plastik untuk menyimpan lauk-pauknya. Wadah tersebut dimasukkan ke dalam kresek putih. Penganan tersebut diberikan kepada bapak-bapak. Ya, aku telah membuktikan begitu banyak kekayaan seni dan budaya di nusantara. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal selama tiga hari di tempat ini. Ada satu hal yang membuatku betah di tempat itu, selain keramahan penghuninya, yaitu masih banyaknya tukang pijit andal. Wah, Bandung wajib menaruh rasa iri tuh karena dukun pijit jumlahnya menyusut drastis, setelah pengembangan kelompok kader PKK dan posyandu. Beruntung aku dapat dipijit setiap malam oleh dua pakar massage di tempat itu. Namun, yang paling cocok bagiku adalah pijitan paripurna Mbak Sukati. Pokoknya, top abis deh!&lt;br /&gt;Tadinya, aku hanya akan tinggal semalam saja di tempat itu. Namun, ayahnya Ela melarangku untuk pulang cepat dengan alasan belum mengantar aku ke mana-mana. Yo, wis toh, aku jadi tinggal lebih lama di tempat itu. Tidak jauh dari rumah itu juga tinggal mertua Ela. Kebetulan mertuanya itu bersahabat baik dengan orang tuanya. Ya, Ela dan suaminya dipersatukan di pelaminan dengan asal-mula sebuah perjodohan. &lt;br /&gt;Ayah Ela memenuhi janjinya. Ia mengantar aku dan Ela berenang di Waterboom “Banyu Biru”. Wuiihhh, senangnya hatiku setelah renang terakhir kami di Lombok itu. Aku merasa sangat senang karena bisa pulang dalam keadaan bugar. Setelah renang itu, malamnya aku dipijit oleh Mbah Sukati. Wuiihhh, betapa senangnya hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pulang pada hari Rabu, 24 Juni 2009, dengan bis jurusan Bandung yang berangkat cukup telat dari Madiun. Sekitar jam 3 kami bis yang kami tumpangi baru berangkat meninggalkan kantor agen penjualan tiket. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Hitung-hitung mengenang perjalanan malam saat aku mengikuti reuni ITT tahun 1990 silam di Yogyakarta. Kamis subuh aku telah kembali ke kota kelahiranku, kota kembang. Kota yang telah memberikan warna dan kisah dalam hidupku. Firdan tidak menyambut kedatanganku karena sedang berlibur di Tasikmalaya bersama nenek dan kakeknya. Ya, Allah swt, Engkaulah yang Mahapemberi atas segala ridlo dan berkah di ala mini, di dalam kehidupan umat-Mu, di dalam kehidupan kami, di dalam kehidupanku. &lt;br /&gt;Aku hanya beristirahat beberapa jam saja di rumah sekadar melepaskan penat dan sempat membawaku ke alam mimpi yang indah karena kepulangan kami ke Bandung bertepatan dengan acara syukuran kelahiran anak salah seorang teman kami, Devi. Duuuh, kapan ya, aku bisa bertualang.*****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-665392193685872097?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/665392193685872097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/petualanganku_10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/665392193685872097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/665392193685872097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/petualanganku_10.html' title='PETUALANGANKU'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/So0YO1LKEHI/AAAAAAAAAHs/AA5hM8hxh7o/s72-c/DSC02699.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-6905925674067396092</id><published>2009-08-10T16:04:00.002+07:00</published><updated>2009-08-24T15:06:05.734+07:00</updated><title type='text'>PETUALANGANKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_lhyAv-mI/AAAAAAAAAEM/TlgiAW4tvwE/s1600-h/DSC02628.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_lhyAv-mI/AAAAAAAAAEM/TlgiAW4tvwE/s320/DSC02628.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368261649372281442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_lht2XlQI/AAAAAAAAAEE/dYTg3Tdqr6k/s1600-h/DSC02641.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_lht2XlQI/AAAAAAAAAEE/dYTg3Tdqr6k/s320/DSC02641.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368261648254997762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_lhXz7HmI/AAAAAAAAAD8/2Iwd6MCdcbw/s1600-h/DSC02699.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_lhXz7HmI/AAAAAAAAAD8/2Iwd6MCdcbw/s320/DSC02699.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368261642339163746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_k7BlZ46I/AAAAAAAAAD0/DKEgsiG4InQ/s1600-h/DSC02563.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_k7BlZ46I/AAAAAAAAAD0/DKEgsiG4InQ/s320/DSC02563.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368260983537656738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_kkPgtnII/AAAAAAAAADs/oI0JgOtTosc/s1600-h/DSC02573.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_kkPgtnII/AAAAAAAAADs/oI0JgOtTosc/s200/DSC02573.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368260592139082882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 4 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG-JAKARTA-MATARAM-DENPASAR-SURABAYA-MADIUN-MAGETAN-BANDUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Well, friend, aku mau cerita nih tentang pengalamanku menjadi si bolang waktu seminar di kota Mataram dulu. Dulu?  Iya, tuh, peristiwanya sudah berlalu lama sekali, tepatnya bulan Juni lalu. Tapi, nggak apa-apa kan? Mudah-mudahan cerita berjalan seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah medapat kepastian diterimanya makalah kita di seminar nasional di Mataram, so pasti kita kalang kabut mencari referensi yang bisa kita pakai untuk nambah kaya makalah. Nah, menjelang deadline, aku bela-belain pulang lewat maghrib dari kantor karena makalahnya baru selesai saat itu dan dikirim via email ke kantor Mataram. Setelah itu? Nah, itu pula yang sangat penting. Kita harus pontang-panting nyari isi dompet  untuk beli tiket pesawat dan akomodasi selama di sana. Terutama aku tuh, jatahku untuk ikut seminar atas biaya kantor dah lewat. Mau tidak mau kali ini harus menjadi perjalanan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Well, kalau Allah sudah berkehendak selalu ada ribuan jalan ke Roma … eh Mataram. Kami rombongan kecil dari Balai Bahasa Bandung, Umi, Teh Yeni, Cucu, Aku, Nia, kudu peras keringat juga demi kepergian ini. Well, Nia dah beli baju baru buat main ke pantai. Iya, inilah perjalanan impian Nia tuk pergi ke Lombok dan Bali. Rencananya kita mau traveling keliling Lombok, Bali, Surabaya, dll. Sayang seribu sayang, impian Nia harus terjegal peristiwa yang sangat tidak terduga. Sabtu, Nia mengabarkan bahwa ia kemungkinan besar tidak akan bisa pergi dan berharap tiketnya bisa dijual lagi. Aku sangat terkejut. Rupanya suaminya demam tinggi dan akan diantar ke dokter dan lab. Hari Minggu, ia memberikan kabar yang lebih menyedihkan lagi. Suaminya terkena gejala tifus. Keputusan yang hampir terlambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di kantor, hal itu menjadi pembicaraan kita. Di satu sisi kita menyayangkan bahwa keputusan itu datang menjelang saat kepergian. Namun, di sisi yang lain kita dapat memaklumi bahwa tidak mungkin meninggalkan suami dalam kondisi sakit yang tergolong serius itu. Ketika aku mendapatkan kabar kepastian gagal berangkat dari Nia, telah terpoikir dalam ingatanku agar Ela mau menggantikan Nia. Ternyata, kelompok kita telah menawarkan hal yang sama kepadanya. Semula Ela memang berniat ikut. Namun, ia merasa malas karena enggan kalau cuma jadi peserta. Nah, ketika tiket yang satu itu dilelangkan kepadanya tentu saja ia merasa gembira. Serta merta ia menghubungi suaminya via telepon sampai akhirnya  surat izin suami kelar dalam sekejap. Kebetulan, dia memang hendak pulang ke Madiun. Nah, tuh ia mengajukan syarat kepadaku mau ikut asal aku mau mampir ke rumahnya. Wisshhh, yo sekalian toh! Aku pun menyanggupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Well, Ela nyaris sedih karena aku nggak janji pergi bareng  subuh-subuh  sama dia. Gara-garanya, sampai maghrib aku belum menemukan tukang lontong. Aku janji mau bawa lontong oncom dan lontong ayam untuk bekal sarapan selama perjalanan menuju bandara. Nah, sebelumnya aku sudah memesan sama Nci Dessie, Bandar kue langganan aku jauh-jauh hari sebelum keberangkatanku. Namun, betapa kecewanya hatiku, tiba-tiba sehari sebelum berangkat aku mendapatkan kabar bahwa ia nggak bisa memenuhi pesananku. Ia mendapatkan sebuah order besar, jadi nggak bisa jualan sehari itu. Uffff sedihnya, aku. Aku nggak mau ngecewain temen-temen yang sudah mengandalkan aku jadi seksi konsumsi. Pulang ke rumah lewat maghrib karena aku harus membeli bekal ke Mataram dan juga bekal buat jagoanku di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setibanya di rumah, setelah solat maghrib, aku tiba-tiba teringat Si Ayu tukang jamu yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Ia juga suka bikin lontong dan makanan ringan lain yang tidak kalah enaknya dengan lontong buatan si Nci Dessi. Karena suamiku mau pergi, aku minta sekalian didrop di depan rumah si Ayu. Nah, aku lihat pintu garasinya terbuka. Sambil mengucapkan salam, aku ngeloyor pergi  ke dalam dapur sambil berteriak lantang memanggil namanya. Senangnya hatiku karena saat itu si ayu kebetulan bikin lontong mie sayur dan oncom. Kuborong semua tanpa sisa. Namun, aku ingin lontong itu dalam kondisi hangat. Si ayu menyanggupi untuk mengantar lontong panas itu tepat pada pukul 4.30 WIB!!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ela dah nunggu aku di Metro. Ya, rencananya kami harus tiba di bandara Cengkareng sekitar pukul 8-an. Pesawat yang akan kami tumpangi akan berangkat pada pukul 10.15. Well, sedikit macet di dalam tol kota sempat membuat kami kebat-kebit. Namun, rupanya jalur ke bandara terhalang arus kendaraan yang akan menuju ke Grogol. Well, akhirnya celah menuju jalur bandara pun terkuak dan bis kita bisa melaju lancar hingga di mulut terminal A. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ihhhh, dasar orang udik, ke mana-mana kita gak bisa ngilangin keudikkannya. Hee … heee ….. kita semua kelaparan tuh dan menggelar lesehan di lorong terminal A6. Kebetulan saat itu tempat tunggu terisi penuh penumpang dengan jalur penerbangan ke Yogyakarta.  Setelah mereka bubar, baru kita mendapatkan dua baris tempat duduk yang, lagi-lagi, kita jadikan sebagai warung dadakan. Lumayan, setengah porsi lontongku akhirnya ludes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, perjalanan ini lancar. Kita tiba di Bandara Selaparang, Mataram pukul 13.45 WITA. Hee … heee … rupanya Jeng Ela kurang bisa menikmati her first time flight-nya. Kayaknya dia jet lag tuuhhh. Setelah itu, ia jadi nggak ngebet lagi naik pesawat. Nggak lama di hotel,  kita nyari makan siang ke barisan toko-toko yang letaknya tidak jauh dari sana. Oh, ya, rombongan kita bertambah satu orang, Susi dari Balai Bahasa Palembang. Dia transit di Jakarta dengan pesawat yang sama. Kembali ke makan siang, kita agak kecewa dengan ayam taliwang dan plecing kangkungnya. Rasanya kurang mantap! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah makan, kita langsung jalan-jalan ke malnya orang Mataram, ya, mirip-mirip di kita lah, tapi kesan megahnya agak kurang terasa. Tanpa sengaja, kita menemukan papan nama waterpark. Langsung aku dan Ela yang keranjingan renang, berlari ke lantai 2 nyari baju stretch karena sama-sama nggak bawa dari rumah. Nyesel juga!! Setelah  hunting, kita kembali ke hotel dang anti kostum. Waterpark itu cukup sore. Ada satu-dua orang yang berenang di tempat itu. Kita diperbolehkan renang sampai pukul 7 malam!!!!!!! Ihhhh, mungkin Allah nggak ridlo kita ngeforsir tenaga buat tampil besok. Baru renang sebentar, aku kena kram. Anehnya, kram itu nggak bisa hilang meskipun aku dah bengkok-bengkokin jempol jari. Jadilah Ela renang agak lama sendirian sementara aku segera mencari tempat ganti baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berkali-kali kram itu muncul. Berkali-kali itu pula aku harus membengkokkan ujung jempol dan jari kakiku. Beda dengan aku, Ela merasakan kepalanya pusing. Mungkin jet lag-nya masih bersisa. Akhirnya kami berdua kembali ke hotel, sesekali kami menatap pajangan di barisan toko souvenir. Menjelang maghrib, kita mencari makan dan mulai hunting oleh-oleh di tempat itu. Kaos-kaos bertuliskan Lombok dalam berbagai gaya mulai menyesak dalam tas kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau lagi ngumpul sama temen, biasa tuh, kita jarang bisa tidur cepet, tapi ngobrol ngalor ngidul ke mana-mana (tapi bukan tak gendong, ya!) sampai tengah malam. Susi yang tadinya pengen tidur di rumah salah seorang teman kami di Mataram, akhirnya meringkuk di atas kasurku. Ya, deh, kita bersempit-sempit. Nah, tuh,  asalnya dia mau nginep di tempat salah saeorang temenku di Kantor Bahasa Mataram, tetapi ia menunggu jemputan dari orang itu. Rupanya, lewat petang dia dapat berita bahwa temen dari Medan sudah lebih dulu tinggal di tempat itu. Jadilah Susi tinggal berdesak-desakkan denganku. Ia memutuskan untuk menyewa ekstra bed yang harganya hampir setengah harga kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi-pagi beberapa peserta yang menginap di Hotel Handika bersiap-siap untuk sarapan pagi di hotel. Uff, kita menunggu lumayan cukup lama. Satu hal yang tcukup idak kusukai adalah suguhan teh manis ala Jawa!! Aku lebih suka teh pahit.  Aku sudah memesannya terlebih dulu, tetapi dasar tangan yang sudah distel budaya, teh yang datang ya… manis lagi … manis lagi. Kureguk juga akhirnya pesanan tak sesuai naluri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari pembukaan seminar berjalan cukup alot. Ya, biasalah, panitia disibukkan dengan registrasi peserta. Mulut-mulut cerewet peserta ditanggapi dengan santun dan profesional oleh panitia. Biasalah, banyak peserta yang daftar dadakan, nama di daftarnya salah, belum dapat seminar kit, dan tidak terdaftar. Acara pembukaan seminar juga berjalan agak merayap, bahkan, sempat diwarnai mogoknya aliran listrik di hotel itu. Ufff, seharusnya hotel memiliki sistem lapis tiga. Listrik lapis satu mati dalam hitungan detik yang lain nyala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kota Mataram kota kecil. Kita bisa menjangkau ke tepian kota dengan mudah. Gak perlu ganti-ganti angkot! Pake taksi juga murah! Asal jalannya sekalian. He… he… jalan-jalan di kota ini semudah jalan di sebuah mal besar di Kota Bandung. Namun, ada yang nggak bisa di temui di kota kembang. Antimacet!!!! Ya, aku belum pernah menemukan kata macet di kota ini. Kemana, ya, penduduk dan kendaraan itu. Jalanan lengang dan nyaman. Banyak pula tanah-tanah kosong yang luas belum digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Makanan di Kota Mataram cukup beraroma. Ya, jenis makanannya berbumbu banyak. Salah satu makanan khas di kota ini adalah sate bulayak, sate ayam atau kerang dengan lontong yang berbentuk seperti kue celorot, seperti sosis yang memanjang tetapi mengecil di ujung yang satu dan dibalut dengan daun kelapa. Rasanya memang agak aneh di lidah kita karena sudah terbiasa dengan rasa sate di Pulau Jawa. Namun, sebagai tamu, kita menghargai makanan khas daerah setempat dan … karena tak ada pilihan lain. Hee … he….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tampil pada hari kedua. Alhamdulillah, seminarku sukses en banyak merespon naskahku. Ada pula yang menawarkan untuk tampil di acara bulan bahasa dan sastra, kalau tidak salah dari sebuah kota di Jawa Tengah. Namun, aku nggak  tuh! Nggak mengharap banyak! Setelah tampil, aku diantarkan teman-teman dari Kantor Bahasa Mataram pergi mencari oleh-oleh. Kami diantar ke sentra pembuatan dodol rumput laut dan toko mutiara. Ya, lumayanlah buat oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bersama teman-teman dari sesama kantor dan balai bahasa se-Indonesia yang mengikuti kegiatan seminar itu,  kami memutuskan untuk berwisata pada malam hari ke Pantai Senggigi. Pantai itu ternyata sangat gulita, tetapi di tepiannya terhampar kilapan lampu-lampu kafe dan perahu. Namun, barisan hotel yang berjajar di tepi tanjakan yang melingkar itu membuat ingatanku tertambat pada suasana lembang dan sekitar Jalan Setiabudi atas. Di tempat itu, lagi-lagi kami makan sate bulayak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari ketiga setelah usai seminar itu, kami (kecuali Umi dan T, Yeni) memutuskan untuk pergi ke Gili Trawangan. Gili Trawangan adalah salah satu dari tiga pulau kecil ternama di Lombik yang dijadikan sebagai tempat tujuan wisata. Kami bergabung dengan keluarga Ratnawati, temanku dari Balai Bahasa Ujung Pandang. Kami terbagi ke dalam dua mobil. Perjalanan menuju Gili kami lewati via Pusuk, yang artinya puncak. Jalur ini merupakan jalur yang sangat indah. Kita melaju mengelilingi jalan yang meliuk indah dengan udara yang sangat segar. Di puncak itu, kita akan menemukan replika Sangeh, tempat kera di Pulau Bali. Namun, jumlah kera di tempat itu tidak sebanyak di Pulau Bali. Hanya satu dua kera saja yang mau menyambangi kami. Yang lainnya hanya menatap kami dari kejauhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak lama di tempat itu, kita melanjutkan perjalanan menuruni jalanan yang menuju ke pelabuhan. Di tempat itu, kita harus berjalan sekitar 300 meter untuk menuju ke tempat pembelian tiket. Sebenarnya, peraturan itu dibuat untuk memberdayakan cidomo. Namun, kita memilih untuk berjalan kaki. Biaya perorang Rp.12.500,00. Tidak sampai setengah jam kita sudah tiba di bibir pantai Gili Trawangan. Di tempat itu tidak akan kita temui kendaraan bermotor, kecuali dalam perahu yang mengangkut penumpang pulang-pergi Lombok-Gili Trawangan-Lombok. Kendaraan yang ada di sana adalah sepeda dan cidomo (cikar, dokar, dan motor). Cidomo adalah perkawinan antara delman, dokar, pedati, dan sepeda motor yang ditarik seekor kuda. Harga yang dipatok untuk mengelilingi pulau itu Rp.75.000,00. &lt;br /&gt;Wuiihhh, kita semua merasa kemahalan, padahal kita belum tahu seberapa jauh jarak pulau ini. Akhirnya, kita bertiga, Ratna-aku-Susi, memutuskan untuk menyewa sepeda yang tarifnya Rp.20.000,00/jam. Yang lain memutuskan untuk rebahan di bawah tenda dan tempat istirahat yang lain. Ternyata acara sewa sepeda itu menjadi bibit petualangan kami bertiga yang tidak akan pernah kami lupakan selama hidup kami. Kami tidak pernah mengetahui bahwa tidak semua keliling pulau ini jalanannya berlapis aspal. Hanya bagian-bagian tertentu saja, terutama pada bagian muka saja yang jalannya dipoles aspal. Selebihnya, bagian lain pulau ini, terutama bagian belakang pulau itu yang berupa hutan. Kami mengawali perjalanan ini dengan lancar sampai ke tempat yang menjadi tempat favorit para bule untuk berjemur. Tampak beberapa pasangan asing sudah menandai lapak untuk mencokelatkan dan menggelapkan  kulit mereka. Ihhh, pengen cokelat! Kita aja mati-matian pengen putih, hee … hee. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui barisan pantai utama yang dipagari dengan rangkaian hotel dengan aneka bentuk yang menarik, kita melaju ke ujung jalan beraspal di tempat itu. jalur selanjutnya mulai bergulat dengan tanah dan pasir. Kami berpapasan dengan sebuah cidomo yang mengangkut penumpang. Kusir cidomo itu memberikan peringatan kepada kami bahwa jalanan di depan penuh pasir dan meminta kami untuk kembali. Namun, kami yang rupanya sama-sama Bengal dan keras kepala, bersikeras untuk melanjutkan perjalanan kami. Rasanya rugi jika kami bayar Rp.20.000,00 untuk beberapa menit saja. Kami tidak mengindahkan peringatan si kusir tadi dan melanjutkan perjalanan kami. &lt;br /&gt;Ternyata apa yang dikatakan kusir itu benar. Sebelumnya, kami sempat berhenti di sebuah lokasi. Kami mendapati sebuah kapal yang penumpang yang baru saja dicat dengan cat yang berwarna putih. Selain itu, kami juga mendapati sebuah pohon bercabang dua. Kami sempat berfoto di dua lokasi itu. Jalur selanjutnya yang kami tempuh adalah jalur berpasir. Perjalanan kami mulai menemui hambatan. Kami harus pandai-pandai memilih jalur agar bisa dilalui sepeda kami. Jika tidak, kami akan terkunci atau jatuh tanpa diduga karena kayuhan kami tertahan pasir itu. Wow, pasirnya cukup tebal, sekitar 15—25 centi. Ratna lebih ahli rupanya karena ia tinggal tidak jauh dari pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam setengah kita telah menjelajahi tepian pantai Gili Trawangan yang belum terjamah oleh investor. Sekeliling tempat kami berhenti dihuni semak-semak dan pepohonan jati, kelapa, dan pohon lainnya. Beberapa papan bertuliskan “tanah ini dijual” kami temukan di tempat itu. Beberapa kavling di antaranya sudah dipagari. Ada pula yang tidak dipagari dan dipakai untuk menggembala kambing. Perjalanan ini seharusnya bisa kita lakukan dalam tempo yang lebih cepat. Namun, apa daya kubangan pasir demikian mendominasi jalur yang kami lalui. Tidak jarang kami mendorong sepeda hingga 100—200 meter jauhnya sementara mengayuh sepeda hanya dalam hitungan beberapa meter saja. Tibalah kami di puncak kelelahan. Wajah kami sudah memerah. Matahari di pulau berpantai indah itu sangat garang. Sinarnya seperti ujung pisau yang siap menyayat inci demi inci  kulit tubuh kita. Di salah satu jalur yang dilalui, kami mendapati sebuah tanah berpasir yang landai dan berumput. Ratna dan Susi duduk di tempat itu. Sementara itu, aku tetap duduk di atas sepedaku. Sebelumnya, kami juga sempat beristirahat di sebuah tembok yang mungkin dibuat untuk membuat lahan peristirahatan. Ya, di pulau ini kita dengan bebas bisa duduk santai di tepi pantai dan memilih tempat atau kursi santai bertenda atau beratap rami. Beberapa di antaranya dibuat di tempat yang telah ditinggikan dari permukaan jalan dan pantai untuk memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk memandang bebas ke arah lautan.&lt;br /&gt; Di tempat ini kita juga mendapati beberapa bagian pantai penuh karang yang cukup berbahaya sehingga wisatawan tidak diperkenankan untuk berjalan-jalan di tempat itu, bahkan tidak dapat digunakan untuk perahu nelayan.  Sekilas batu karang itu tampak lembut menyembul berserakan di pantai. Jarak pantai di tempat itu tampak lebih luas daripada pantai di bagian utama pulau itu. Namun, tempat itu masih belum tertangani.&lt;br /&gt;Kembali ke tembok tadi, di tempat itu kami berjumpa dengan salah seorang turis asing. Ia mengatakan bahwa perjalanan kita masih jauh, sekitar satu setengah atau dua jam perjalanan lagi. Kita tidak bisa membatalkan perjalanan ini karena kita sudah berada di tengah-tengah. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus melanjutkannya. Oh, ya, bule itu dengan tulus memberikan sisa air minumnya ketika kami mengatakan bahwa kami tidak punya air minum dan kehausan. Bule itu pun berlalu sambil meninggalkan senyum di hati kami. Susi mendadak kehausan dan kehabisan air minumnya, tetapi ia tidak mau menenggak pemberian si bule tadi. Ratna mengatakan bahwa ia masih punya air minum. Disodorkannya botol itu kepada Susi yang tanpa ba-bi-bu langsung menyambar dan menenggak isi botol itu. Namun, dalam hitungan detik ia menyemburkan air dalam mulutnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brrrrrrrrrrrrr!!! Wahhh, airnya asin banget!” ujarnya menggerutu sambil meludah-ludahkan sisa air yang ada di dalam rongga mulutnya.&lt;br /&gt;“Hmmm … iya … tadi aku isi botolnya dengan air laut karena habis. Ohhh, maaf sepertinya aku tidak sengaja bawa botol yang salah perasaan sih botol ini bukan yang kuisi, he … he …,” ujar Ratna dengan cueknya. Tanpa dosa!!!&lt;br /&gt;“Huuuhh, dasar!” umpat Susi sambil ingin menahan tawanya. &lt;br /&gt;Susi pun beranjak ke atas sepedanya dan mengajak kami pergi. Rupanya jalur yang harus kita tempuh masih berlumur pasir, bahkan dengan kedalaman yang lebih parah. Sayang, di beberapa bagian kami temukan onggokan sampah. Sayang sekali!&lt;br /&gt;Kami menemukan tempat transit di sebuah tanah landai berumput. Ratna dan Susi duduk. Aku malas dan duduk di atas sepedaku. Ratna lalu memutuskan untuk menelepon suaminya dan mengabarkan kondisi mereka. Namun, kami semua terkejut karena Ratna engatakan bahwa kami tersesat, satu orang pingsan, dan satu orang lagi terlepas rantainya. Aku yang merasa gemas menendang beberapa bulir pasir kepadanya. Ia malahan tertawa. Kemudian ia mengatakan bahwa ia minta dikirim Cidomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya, beberapa saat sebelum kami berstirahat di tempat itu, rantai sepeda Susi terlepas. Susi dan Ratna berusaha keras memperbaiki rantai itu. Namun, setelah cukup lama berusaha, mereka tidak berhasil. Namun, Allah Mahakuasa, dari kejauhan kami melihat tiga orang laki-laki berjalan ke arah kami. Kusarankan kedua temanku untuk meminta bantuan kepada mereka. Ternyata salah seorang di antara mereka dalam hitungan detik bisa memperbaiki rantai itu dengan mudah. Kami mengucapkan terima kasih kepada mereka. Ketiga orang itu rupanya perantau dari tanah Jawa yang bekerja membangun sebuah hotel di bagian lahan yang tadi telah kami lewati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan yang rupanya masih cukup jauh dan bergelimang jeratan selimut pasir di jalanan. Cukup lama, hampir menelan waktu satu jam, kami harus mengayuh pedal. Sempat kami berpapasan dengan seorang pria bule yang bersepeda. Ia mengatakan bahwa jarak ke tempat kami semula masih cukup jauh. Yah, nasi sudah menjadi bubur. Kami masih harus melanjutkan petualangan yang berkesan ini. Lama sekali kami mengayuh pedal hingga akhirnya kami melihat sebuah pemondokan yang letaknya cukup terpisah dan tampak menyendiri di sini. Beberapa orang bule tampak asyik bernaung di bawah sebuah gubuk kayu beratapkan jerami. Gubuk itu terletak di seberang pemondokkan itu. Ufff, kami tidak ubahnya udang rebus panas yang masuk ke dalam gua es. Kami masuk dan memarkirkan sepeda kami di halaman pondok itu.  Kami mendengar suara perempuan menyahut panggilan kami, dari jauh kami bertanya apakah ia menjual minuman dingin. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Minuman yang kami inginkan ada. Ratna memilih aqua dingin dalam botol besar, aku mmemilih Sprite, dan juga Susi. Namun, akhirnya, Susi memberikan Sprite itu kepadaku. Nggak kuat perutnya! Soal harga jangan ditanya deh! Aku beli Sprite Rp.9.000,00 dan Rp.7.000,00 untuk Aquanya Ratna. Nilai itu masih tergolong lebih murah daripada harga untuk minuman yang sama di pantai bagian muka pulau itu. Temanku, Mbak Rini harus merogoh kocek Rp.18.000,00 untuk sebotol Coca Cola!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah tidak berhenti sampai di sana! Rasa haus kami memang sudah terobati, tetapi tidak untuk sepeda Ratna. Ketika ia akan mengayuh sepedanya, ia mendapati bahwa rantai sepedanya putus. Dengan memakai telepon genggam milik Susi, pulsa Ratna habis, Ratna mengabarkan kondisi sepedanya itu dan meminta kerabatnya untuk membawa sepeda gantinya. Kami melanjutkan perjalanan sambil menenteng sepeda. Lima belas menit kemudian, Mbak Ipung datang bersepeda sambil membawa si abang pemilik sepeda. Si abang juga menenteng rantai pengganti. Ratna memakai sepeda yang dibawa si abang. Mbak Ipung datang sambil membawakan kami berbotol-botol minuman. Kejadian ini membuat kami diuntungkan karena kami tidak diwajibkan membayar denda. Rupanya perjalanan kami menelan waktu hampir tiga jam!!! Sambil pulang, kami sempat berfoto di sebuah tempat peristirahatan, tampaknya sempat dipakai untuk pesta miras dengan banyaknya tumpukan botol bir di tempat itu. Tempat itu cukup bagus hanya saja tidak banyak digunakan. Hal itu terlihat dari tebalnya debu di sana-sini. Pantainya tidak dapat digunakan karena banyaknya onggokan batu karang di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami dari tempat itu lumayan agak jauh juga, sekitar 15—20 menit dengan bersepeda. Kami akhirnya tiba di Hotel Ombak Biru tempat kami meminjam sepeda itu. Ingin rasanya kami langsung menghilangkan panas di tubuh kami dan nyemplung langsung ke kolam renang. Namun, kami dihadang waktu. Kami harus kembali ke Mataram. Teman-teman kami rupanya sangat mencemaskan kami dan menanyakan apakah benar aku pingsan. Mereka rupanya menduga aku yang pingsan. Aku menyangkal hal itu. Kulihat wajah-wajah mereka penuh gumpalan kusut antara gembira dan kesal karena bualan Ratna itu. Ratna orangnya cuek bebek, wajahnya tampak tidak berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Kami harus membeli tiket pulang dengan harga yang sama. Perahu yang kami tumpangi penuh, jadi kami harus menunggu perahu berikutnya. Aku dan Ela sempat membeli es krim pada seorang penjual es krim yang rupanya akan ikut menyeberang juga. Tanpa sengaja aku merogoh kantong-kantong dalam tasku. Hapeku nggak ada! Aku minta Ela untuk menelepon ke nomor aku! Tidak ada bunyi sama sekali. Aku mencari di tempat sekitar, tidak ada! Akhirnya kuputuskan untuk mencari di tempat kami tadi beristirahat dan hotel tempat peminjaman sepeda. Aku bergegas pergi ke tempat kami tadi dan menitipkan barang kepada Ela. Aku berjalan cepat sambil sesekali mendengar godaan dari beberapa pria iseng di sisi kiri dan kanan. Ya, jika pergi ke Gili Trawangan, posisi kita menjadi orang asing di pulau di negeri sendiri. Kebanyakan penghuni pulau itu, ya, wisatawan asing itu. &lt;br /&gt;Langkahku kuiringi dengan segudang harapan untuk mendapatkan kembali hape itu. Namun, di satu sisi aku membisikkan kepasrahan kepada Allah swt, seandainya hape itu tidak bisa kutemukan, aku menyadari jika hal itu sudah menjadi kehendak-Nya. Aku tidak diperkenankan untuk bertamak-tamak di dengan satu benda kecil itu. Kususuri tempat istirahat itu. Tidak kutemukan! Beberapa orang wisatawan telah menduduki tempat kami. Kualihkan langkahku kembali ke hotel tempat kami menyimpan sepeda itu.  kulihat si abang penjaga sedang bermain tenis meja di halaman hotel tidak jauh dari kolam renang dan tempat penyewaan sepeda itu. Kutanyakan kepada si abang tentang hapeku itu. Ia menjawab tidak. Aku pun mohon maaf dan perlahan beranjak dari tempat itu. Namun, si abang memanggilku kembali dan disuruhnya aku menunggu sejenak. Ia segera berlari kea rah sepeda yang tadi kusewa itu. Subhanallah, hape itu rupanya masih terbaring indah di dalam keranjang sepeda itu dan tidak seorang pun yang menyewanya setelah kami. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadanya. Kemudian aku segera berbalik meninggalkan hotel. Kulihat panggilan dan deretan sms Ela di layar hape. Disuruhnya aku segera ke pantai karena perahunya siap berangkat. Ela tidak sabar menunggu beritaku. Aku sempat kaget karena barang-barangku tidak ada. Ela menyampaikan bahwa barang-barangku semua sudah dibawakan oleh Pak Cece, mitra instansi kami. Duh, aku malu karena hanya membuat mereka menderita. Semua teman-temanku menanyakan perihal hapeku itu. Ahhh, tidak ada pembawa berkah terbesar selain Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sore ini kami lanjutkan ke Pantai Senggigi karena jalur ini yang kami pilih. Kami menunda makan siang kami di pantai ini dengan santapan jagung baker dan sate bulayak. Senja di pantai ini tampak cukup indah karena laut berhias beberapa kapal boat dan perahu. Sementara itu, di kejauhan tampak barisan kapal terbang berbanjar di lapangan Selaparang. Aku tidak menduga jika bandara itu terletak di tepi pantai seperti halnya pantai Kuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sore itu, kami melanjutkan perjalanan ke Lapangan Merdeka. Lapangan ini ditetapkan sebagai tempat orang-orang menghabiskan senja dan sore nongkrong di tempat itu. Barisan kedai makan siap memberikan pelayanannya kepada Anda. Sayang, makanan yang disuguhkan rasanya sangat berbeda dengan yang biasa kami temui di Bandung. Setelah itu, kami sempat diajak ke tempat penjualan mutiara. Sayang, kebanyakan dari kami sudah lebih dulu berbelanja di tempat lain. Kami hanya melihat dan hanya Herryana yang berbelanja di tempat itu. Sebelum kami menuju ke rumah kerabat Ratna di Praya, kami mengunjungi rumah Harryanto—salah seorang teman kami di Kantor Bahasa Mataram untuk mengambil barang-barang yang telah dititipkan sejak pagi tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sepakat untuk pulang melalui jalan laut ke Pulau Dewata dengan menumpang kapal ferry. Kapal tersebut akan berangkat pada pukul 02.00 pagi. menjelang kepargian itu, kami singgah di rumah kerabat Ratna, Sitti Ari. Pukul 12.00 kami berangkat dari rumah itu. Tanpa sengaja kakiku menginjak mangkuk gula (tentu saja berantakan isisnya!), lalu, aku sedikit mundur dan tanpa sengaja pula menginjak baki plastik hingga patah. Ufff aku merasa sangat berdosa. Dalam hatiku aku berniat untuk mengganti baki itu. Kelak, alhamdulillah, aku mendapatkan sedikit rezeki dan bisa mengirimkan penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pengalaman pertamaku naik kapal laut. Di bagian bawah badan kapal dipenuhi dengan kendaraan berbagai jenis. Kendaraan itu diatur dengan sangat ketat agar bisa menampung sesuai dengan kapasitasnya. Penumpang duduk di bagia atasnya. Menjelang maju, kami disewakan kasur oleh Ratna. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 4 jam. Kelelahan begitu menghadang kami. Ombak mulai memainkan tariannya seiring tarian mimpi membawa kami pergi jauh. Di tengah perjalanan, aku terbangun dan merasakan ayunan ombak yang begitu tinggi. Rasanya aku lebih merasa tenang dengan permainan ayunan. Aku ingin pergi ke luar dan melihat deburan ombak dini hari. Namun, apa daya mataku terlalu akrab menggayut berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh, kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Setelah melaksanakan salat Subuh, kami menyewa sebuah mobil elf menuju Kantor Bahasa Denpasar. Agak sulit juga kami mencari kantor itu. Namun, kesulitan itu tidaklah lama setelah kami mendapatkan sambutan dan pelayanan yang sangat baik dari Kepala Kantor itu dan juga teman-temanku di tempat itu. Salah seorang temanku, Belik Made, dan juga KTU setempat Bu Eka mengantar kami melihat isi Kota Denpasar. Setelah mencari makan pagi yang tertunda, kami pergi ke Sukawati Erlangga, sebuah sentra oleh-oleh khas Bali. Bu Eka mengantar kami sampai di sini. Selanjutnya, kami diantar Made ke pantai Kuta dan Legian. Di pantai Kuta, temanku sempat menuntaskan impiannya berbelanja di toko Joger. Dengan tulisan dan pernak-pernik khasnya, Joger sangat dikenal di negeri ini bahkan mancanegara. Tokonya tiada henti disesaki rombongan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Menurutku, produk kaus dan pernak-perniknya sih kagak jauh-jauh dari yang di Bandung. Namun, kecintaan pada nama produk itulah yang mendorong mereka rela berjejal-jejal di toko yang tidak mau membuka cabang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat meluangkan waktu bermain dan berfoto di Pantai Kuta. Ahhh, kami terlanjur melihat pantai-pantai indah di Lombok lebih dulu. Bagi kami, suasana di Pantai Kuta tidak jauh berbeda dengan Pantai Pangandaran. Pantainya kurang resik, dan dijejali bule yang ingin menghitamkan dirinya. Waktu itu, banyak sekali rombongan anak sekolah yang menyesak di pantai sambil menunggu tenggelamnya matahari. Sepulang dari Kuta, kami diajak Made melihat bekas ledakan bom Bali I dan II. Kini kami mengerti bagaimana peristiwa itu bisa menelan jumlah korban yang sangat luar biasa jika melihat situasi kedua tempat itu yang sangat padat dengan pengunjung. Kini bekas ledakkan itu dijadikan sebuah kafe tidak jauh dari sebuah monumen yang didirikan pemerintah setempat untuk mengenang para korban ledakan. Pada salah satu dinding monumen itu terdapat deretan nama korban tewas dalam peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami pulang dan sempat menyaksikan kemacetan di Kota Denpasar. Kulihat banyaknya bangunan pura dan patung-patung serta monumen yang berdiri megah di kota itu. Kami sempat melihat salah satu kegiatan yang diikuti kepala balai setempat, yaitu seminar BIPA. Selain itu, kami juga sempat menyaksikan antusiasme masyarakat Bali pada kegiatan seni. Saat itu merupakan pembukaan pekan kesenian Bali.&lt;br /&gt;Kami telah membook tiket travel tujuan Surabaya yang akan berangkat pukul 7 malam. Kami sempat mandi dan berganti pakaian. Rasa terima kasih yang tidak terhingga kami ucapkan kepada kepala balai beserta stafnya atas segala kebaikan yang diberikan kepada kami. Rombongan kami terpecah sampai di sini. Ratna, suaminya, dan Herryana akan menginap di rumah kerabatnya, sementata Cucu ikut bersama mereka sampai besok pagi. Ia telah membeli tiket ke Bandung karena mendapat kabar tentang sakit ibunya. Kami yang pergi ke Surabaya tinggal bertiga, aku, Ela, dan Susi. Kami tiba di pelabuhan dan Gilimanuk dan menaiki perut ferry. Jarak yang kami tempuh dari pelabuhan ke Surbaya cukup singkat, setengah jam. Setelah itu, kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk menuju ke Surabaya hingga akhirnya benar-benar kami diantar ke dalam halaman terminal. Kami menuju ke lajur bis tujuan Madiun. Setelah itu, kami naik bis jurusan Yogyakarta agar bisa sekalian dengan Susi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, inilah pertama kalinya aku naik bis ala bis yang ditumpangi Harry Potter, Sumber Kencana. Bis itu meluncur deras seolah tidak ada aral melintang di depannya. Dua jam perjalanan cukup membawa kami tiba di terminal Madiun dan inilah saatnya kami berdua, aku dan Ela, berpisah dengan Susi. Aku telah berjanji sebelumnya untuk berkunjung ke rumah orang tua Ela di Magetan. Ayahnya Ela telah berdiri di halaman luar terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai ke rumahnya, ayah Ela mengajak kami makan siang di Rumah Makan  Bu Kus.  Ayahnya Ela mengatakan bahwa dulu, pemilik rumah  makan itu telah membuka cabang di Surabaya dan sangat diminati pelanggan. Namun, karena sakit berkepanjangan yang dideritanya, usaha itu menemuii jalan buntu. Kini ia tidak membuka cabang lagi. Nasi pecel sebagai menu andalan khas rumah makan Jawa Timur itu cukup bisa diandalkan sebagai pengobat rasa lapar kami. &lt;br /&gt;Ibu dan anak Ela, Rafi, tidak ikut menjemput kami karena berbenturan dengan acara piknik di sekolah. Kami baru bertemu beberapa jam setelah kedatangan kami di rumah. Kedatangan kami ke rumah itu bertepatan dengan acara syukuran yang akan dilakukan oleh kedua orang tua Ela. Tentu saja, banyak saudara dan tetangga Ela yang datang membantu sang ibu. Semua saudara Ela sudah tinggal terpisah. Rafi, anaknya Ela, tinggal di rumah itu menjadi ajang hiburan bagi neneknya. Well, anyway, syukuran tersebut lumayan memudahkan aku untuk mengenal keluarga besar Ela, terkecuali kakaknya yang tinggal di Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara syukuran ini terbilang unik. Aku baru mengalami adat tradisi seperti itu. pada umumnya, di Bandung, syukuran biasa dilakukan dengan acara pengajian yang cukup berpanjang-panjang. Setelah itu, untuk pengisi acara, tuan rumah menyediakan nasi dus dan kue atau pernik-pernik lainnya. Sementara itu, di Magetan, tempat Ela tinggal, para pengisi acara resminya adalah kaum laki-laki, santri dan lelaki dewasa. Namun, tanpa diundang, kaum wanita juga mendatangi rumah si empunya hajatan. Uniknya, kaum ibu masing-masing membawa sebuah keranjang anyam atau keranjang lain yang kebanyakan sudah diberi nama dengan berbagai cara dan ditutupi dengan kain pada bagian atasnya. Isinya, berbagai macam bahan pokok mentah. Dari pengamatanku, kebanyakan yang mereka bawa adalah mi kering, kentang, bawang putih, gula pasir, dan beras. Banyaknya, ya, bergantung kemampuan. Uniknya, bawaan tersebut dicatat dalam sebuah buku. Nanti menjelang pulang, kaum wanita akan dibekali dengan bungkusan nasi dan lauk-pauknya. Jumlahnya hampir sama. Sementara itu, selama duduk di rumah si empunya hajatan, mereka disuguhi nasi yang diambil sendiri dan diberi alas makan sepiring soto daging. Porsinya cukup unik, hanya beberapa sendok saja! Mereka mengambil nasi sendiri sesuai selera. Ketika kutanyakan hal itu kepada Ela, ia menjawab bahwa di tempat itu ada keharusan untuk menghabiskan hidangan yang disuguhkan. Untuk menghindari mubazir, porsi yang diberikan dalan suguhan hidangan tersebut tidak diberikan banyak. Aku melihat suguhan tersebut sebagai syarat penyambutan dan penghormatan kepada tamu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum laki-laki juga dibuatkan bekalan nasi untuk dibawa pulang. Uniknya di tempat ini tidak menggunakan dus sebagai pembungkus makanan melainkan dalam sebuah bakul mini plastik yang diisi nasi dan diatasnya ditutup cup plastik untuk menyimpan lauk-pauknya. Wadah tersebut dimasukkan ke dalam kresek putih. Penganan tersebut diberikan kepada bapak-bapak. Ya, aku telah membuktikan begitu banyak kekayaan seni dan budaya di nusantara. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal selama tiga hari di tempat ini. Ada satu hal yang membuatku betah di tempat itu, selain keramahan penghuninya, yaitu masih banyaknya tukang pijit andal. Wah, Bandung wajib menaruh rasa iri tuh karena dukun pijit jumlahnya menyusut drastis, setelah pengembangan kelompok kader PKK dan posyandu. Beruntung aku dapat dipijit setiap malam oleh dua pakar massage di tempat itu. Namun, yang paling cocok bagiku adalah pijitan paripurna Mbak Sukati. Pokoknya, top abis deh!&lt;br /&gt;Tadinya, aku hanya akan tinggal semalam saja di tempat itu. Namun, ayahnya Ela melarangku untuk pulang cepat dengan alasan belum mengantar aku ke mana-mana. Yo, wis toh, aku jadi tinggal lebih lama di tempat itu. Tidak jauh dari rumah itu juga tinggal mertua Ela. Kebetulan mertuanya itu bersahabat baik dengan orang tuanya. Ya, Ela dan suaminya dipersatukan di pelaminan dengan asal-mula sebuah perjodohan. &lt;br /&gt;Ayah Ela memenuhi janjinya. Ia mengantar aku dan Ela berenang di Waterboom “Banyu Biru”. Wuiihhh, senangnya hatiku setelah renang terakhir kami di Lombok itu. Aku merasa sangat senang karena bisa pulang dalam keadaan bugar. Setelah renang itu, malamnya aku dipijit oleh Mbah Sukati. Wuiihhh, betapa senangnya hatiku. &lt;br /&gt;Kami pulang pada hari Rabu, 24 Juni 2009, dengan bis jurusan Bandung yang berangkat cukup telat dari Madiun. Sekitar jam 3 kami bis yang kami tumpangi baru berangkat meninggalkan kantor agen penjualan tiket. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Hitung-hitung mengenang perjalanan malam saat aku mengikuti reuni ITT tahun 1990 silam di Yogyakarta. Kamis subuh aku telah kembali ke kota kelahiranku, kota kembang. Kota yang telah memberikan warna dan kisah dalam hidupku. Firdan tidak menyambut kedatanganku karena sedang berlibur di Tasikmalaya bersama nenek dan kakeknya. Ya, Allah swt, Engkaulah yang Mahapemberi atas segala ridlo dan berkah di ala mini, di dalam kehidupan umat-Mu, di dalam kehidupan kami, di dalam kehidupanku. &lt;br /&gt;Aku hanya beristirahat beberapa jam saja di rumah sekadar melepaskan penat dan sempat membawaku ke alam mimpi yang indah karena kepulangan kami ke Bandung bertepatan dengan acara syukuran kelahiran anak salah seorang teman kami, Devi. Duuuh, kapan ya, aku bisa bertualang.*****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-6905925674067396092?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/6905925674067396092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/petualanganku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6905925674067396092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6905925674067396092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/petualanganku.html' title='PETUALANGANKU'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_lhyAv-mI/AAAAAAAAAEM/TlgiAW4tvwE/s72-c/DSC02628.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-8191238985118325158</id><published>2009-08-10T16:02:00.001+07:00</published><updated>2009-08-10T16:04:38.809+07:00</updated><title type='text'>CERITA  PELATIHAN 2</title><content type='html'>Bandung, 1 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENULISAN CERITA ANAK: DARI SKENARIO KE NOVEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wuiihhh, ini dia acara yang sejak awal Juli sudah kutunggu-tunggu dan kuregistrasikan. “Pelatihan Penulisan Skenario ke Novel” yang lebih merupakan sebuah pelatihan kelas kecil. Kelas kecil? Ya, Nggak seperti yang pertama dulu yang berjejal sampai melebihi kuota karena beremberl-embel gratong, kelas pelatihan kali ini hanya diikuti oleh 7 orang peserta. Peserta dari Jakarta (tiga orang, yaitu Mbak Titi yang gelisahan takut ditinggal travelnya, Mbak Ratih yang periang dan tertawanya renyah, dan Mbah Erna yang cuek bebek tapi ramah), Depok (satu orang, yaitu Mas Hadi Pranoto—penulis Metal Boy), Cimahi (satu orang, Mbak Eka yang kalem dan penasaran pengen jadi penulis), dan Bandung (tiga orang, aku yang …, Mas Krisna yang pintar nyusun plot dadakan, dan Mbak Dina—yang iri sama Kirana karena anaknya itu sudah jadi penulis duluan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun kita cuma kelas kecil, nggak berarti kelasnya gak seru. Lumayan aja sih!! Kalau keramaian kelasnya nanti gak konsen! Kata Mas Ali bagusnya kelas kecil biar terfokuskan!!!! Kelas kecil ini dibuka oleh Mas Ali sekaligus menjadi saat perkenalan. Selanjutnya beralih ke acara inti dengan penyampaian materi oleh dua pakar penulisan novel anak, Mas Benny dan Mas Iwok. Mas Benny adalah penulis novel anak prkuel adaptasi Mimpi Sang Garuda sedangkan Iwok adalah penulis novel adaptasi King.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari kedua pembicara itu, kita menjadi tahu dan paham bahwa penulisan novel adaptasi yang berawal dari sebuah scenario itu tidak mudah. Penulisan tersebut bukan hanya memindahkan isi percakapan dan paparan latar skenario ke dalam bentuk sebuah novel, melainkan harus penuh pemikiran. Bukan tidak mungkin scene yang telah tersusun rapi dalam skenario harus diobrak-abrik dan dialihpindahkan  ke dalam scene lain. Dan yang lebih mengerikan lagi, tenggat waktu penulisan novel tersebut sangat singkat 7 hari. Bukan hanya termasuk penulisan saja melainkan berikut segala perintah revisi yang bisa datang kapan saja dan di mana saja. Untuk penulisan novel King, Mas Iwok terpaksa obral pulsa ke Bangkok demi berhubungan dengan pihak Alenia Production untuk urusan revisi. Novel tersebut harus selesai tepat waktu karena akan diluncurkan bersamaan waktunya dengan peluncuran filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah paparan selesai, tibalah saat untuk tanya-jawab. Mas Benny segera beranjak dari tempat itu sekitar Ashar karena anaknya sakit. Selanjutnya, acara pelatihan membuat plot sebuah novel yang layak tayang berikut pembahasan yang dilakukan oleh Mas Ali dan Mas Iwok. Dari pembahasan tersebut, kita mengetahui bahwa untuk menulis novel anak saat ini kita dilarang untuk gaptek terhadap pergaulan anak sekarang, bahasa, budaya, dan perangkat canggih yang nempel dalam kehidupannya. Nah, tuhh kita harus masuk ke dunia yang super fantasi biar kebawa fantasi. Pokoknya biar kelas kecil, pelatihan kemaren cukup berkesan dan aku jadi banyak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Trims Mas Ali (kutunggu, ya, pelatihan selanjutnya!), Mas Iwok dan Mas Benny. See you next. Mbak Titi (nggak ketinggalan travelnya kan?), Mbak Ratih dan Mbak Erna (gimana sukses jalan-jalannya? Dapat apa?), Bunda Dina (Met ber-Iran mania!), Mbak Eka (Yuuukk kita nulisssssyyy!), Mas Hadi (bagi-bagi novelnya donnnnngg!), Mas Krisna (Daaahhh!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-8191238985118325158?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/8191238985118325158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/cerita-pelatihan-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8191238985118325158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8191238985118325158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/cerita-pelatihan-2.html' title='CERITA  PELATIHAN 2'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-5139061182661140559</id><published>2009-08-10T15:37:00.009+07:00</published><updated>2009-08-10T16:40:36.818+07:00</updated><title type='text'>CERITA  PELATIHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_q9B-pYiI/AAAAAAAAAFU/Yx8yochkKHo/s1600-h/06-06-09_1106.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_q9B-pYiI/AAAAAAAAAFU/Yx8yochkKHo/s320/06-06-09_1106.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368267615073034786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_qe6CX_YI/AAAAAAAAAFM/01C2P259RNc/s1600-h/06-06-09_1508.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_qe6CX_YI/AAAAAAAAAFM/01C2P259RNc/s320/06-06-09_1508.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368267097545112962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_qemIoZvI/AAAAAAAAAFE/hqQogVafIw8/s1600-h/06-06-09_1101.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_qemIoZvI/AAAAAAAAAFE/hqQogVafIw8/s320/06-06-09_1101.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368267092202645234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_qeehx6kI/AAAAAAAAAE8/uBvuJEh6awM/s1600-h/06-06-09_1044.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_qeehx6kI/AAAAAAAAAE8/uBvuJEh6awM/s320/06-06-09_1044.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368267090160642626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 6 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;WORKSHOP PENULISAN BUKU ANAK NONFIKSI DENGAN TEORI MATRIKS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Weleh, weleh&lt;/span&gt;, pagi-pagi kudu bangun nih, siap-siap buat tolabulilmi. Ihhh  geer banget. Iya aku memang hendak tolabul ilmi bersama komunitas penulis-bacaan-anak! Ya, ini kali kedua aku bergabung dengan teman-teman di komunitas itu. setelah kurang lebih dua atau tiga belakangan silam, saya ikut pertemuan pertama dengan komunitas itu di STIKOM Bandung. Ikut komunitas itu telah membukakan mata lahir dan batin bahwa membuat tulisan anak itu tidak mudah dan butuh proses. Namun, dalam tanya-jawab interaktif kebanyakan bertanya tentang seluk-beluk prosedur percetakan. Wah, aku iri saat itu dengan rekan-rekan yang karyanya sudah berjajar dari Sabang sampai Merauke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk itulah kuputuskan mendaftar buru-buru setelah membaca email masuk dari Kang Ali. Pelatihan tersebut dilakukan untuk mengasah kemampuan para penulis anak dan juuga membuka wawasan newcomer seperti aku. Pelatihan tersebut bertajuk “metode menulis buku anak nonfiksi dengan teori matriks”. Mendengar kata matriks itu, saya jadi teringat ilmu matematika. Namun, rupanya dugaan saya tidak terlalu meleset. Sistem penulisan dengan metode matriks juga berkaitan dengan hitung menghitung. Namun, yang menjadi sasaran penghitungan adalah jumlah halaman. Jumlah halaman yang berlaku dalam dunia penerbitan adalah angka genap karena sehelai kertas memiliki dua halaman. Cara penghitungan tersebut dibuat skema bedah buku dalam bentuk tabel. Dalam penulisan itu, kita harus mencermati beraaa jumlah halaman untuk lembar pendahuluan, bagian isi, dan bagian akhir. Sedapat mungkin kita dapat memberikan naskah kepada penerbit dalam bentuk ‘dami’ atau model buku. Kita sudah menentukan dan memberikan contoh lay out per halaman. Kita dituntut untuk dapat memadukan kotak untuk teks, kotak untuk gambar, dan kotak untuk border atau hiasan buku lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Metode matriks yang disampaikan oleh Pak Bambang Trim, tokoh perbukuan Indonesia, itu mudah dan tidak mudah. Mudah karena kita tidak dibingungkan oleh masalah kekurangan atau kelebihan halaman, tidak mudah karena kita harus menentukan ancang-ancang jumlah halaman sebelum kita menuangkan ide-ide ke dalam kertas. Namun, dibalik itu, metode matrik semakin membuka mata kita bahwa melakukan sesuatu hal itu perlu perhitungan yang matang. Kekurangan atau kelebihan yang kita temui tentu membutuhkan kecakapan kita sebagai pelaksana metode itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Usai menelan teori Matrix by Mas Bambang, peserta diajak berkeliling di sekitar kawasan perbukuan Salamadani untuk mengenal proses percetakkan dan agency. Kayaknya Mbak Riyawati sangat berminat mencetak buah karyanya di tempat ini. Thanks, Mas Bambang, Mas Ali, dan teman-teman PBA lainnya. Kalian membuat acara tambah semarak, terutama acara senam penulis ala Mas Ali dan wisata keliling Salamadani book center.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-5139061182661140559?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/5139061182661140559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/cerita-pelatihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5139061182661140559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5139061182661140559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/cerita-pelatihan.html' title='CERITA  PELATIHAN'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sn_q9B-pYiI/AAAAAAAAAFU/Yx8yochkKHo/s72-c/06-06-09_1106.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-915718512949039001</id><published>2009-08-10T11:38:00.001+07:00</published><updated>2009-08-10T11:38:09.628+07:00</updated><title type='text'>FISH TIME</title><content type='html'>&lt;div&gt;Ingat waktu!!!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://widgia.com" target="_blank"&gt;Fish Time &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://widgets.clearspring.com/o/48d4db874da1c6ee/4a7fa431415eebb2/4a7f9a4d91eeea00/236a906b/widget.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://widgia.com" target="_blank"&gt;A widget from widgia.com &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-915718512949039001?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/915718512949039001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/fish-time.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/915718512949039001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/915718512949039001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/08/fish-time.html' title='FISH TIME'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-3906061984633268208</id><published>2009-06-01T08:52:00.004+07:00</published><updated>2009-06-01T08:59:56.273+07:00</updated><title type='text'>RESENSI "MURANG-MARING"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SiM2AUCTeSI/AAAAAAAAAC8/fMHsFJfhh1Y/s1600-h/MURANG-MARING.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 76px; height: 113px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SiM2AUCTeSI/AAAAAAAAAC8/fMHsFJfhh1Y/s320/MURANG-MARING.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342172961997814050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SiM2AJ2qn0I/AAAAAAAAAC0/Dvceg5J3KAE/s1600-h/GODI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 78px; height: 104px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SiM2AJ2qn0I/AAAAAAAAAC0/Dvceg5J3KAE/s320/GODI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342172959264644930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REFLEKSI PENGUASA &lt;br /&gt;DALAM KUMPULAN CARITA PONDOK&lt;br /&gt;“MURANG-MARING” KARYA GODI SUWARNA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abstrak:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwarna merupakan sastrawan Sunda yang sangat produktif dan multitalenta. Selain sebagai penyair, Suwarna juga kerapkali menulis kumpulan carita pondok (disingkat carpon, ‘cerita pendek’), esai, atau novel. Kecintaannya pada sastra Sunda tampak pada mayoritas buah karyanya yang selalu menggunakan bahasa Sunda dan mengusung elemen budaya Sunda. Dalam beberapa esainya, meskipun menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia, Suwarna selalu menggunakan istilah dalam bahasa Sunda untuk memberikan penegasan tentang gagasan yang ingin disampaikannya &lt;br /&gt;kepada pembaca.&lt;br /&gt;Salah satu karya Suwarna yang penulis jadikan sebagai sumber data adalah kumpulan carpon yang berjudul Murang-Maring. Kumpulan carpon tersebut terdiri atas sembilan carpon, yaitu “Kalangkang Budah”, “Stop! Stop! Stop!”, “Gonjang-Ganjing”, “Burak-Barik”, “Aswatamakurda”, “Purwadaksi”, “Murang-Maring”, “Panjang-Punjung”, dan “Gual-Guil”. Pada umumnya, isi dari kumpulan carpon  tersebut adalah sindiran atas perilaku penguasa pada masa kini. Namun, refleksi penguasa tersebut dihadirkan dalam kelas bahasa menengah (cenderung kasar karena ditujukan kepada sebaya) yang mengalir lancar. Karakter yang menyampaikan isi carpon merupakan tokoh-tokoh cerita ternama dalam kisah legendaris yang ternama pula, misalnya Sangkuriang, Guruminda, beberapa tokoh Mahabarata, tokoh Ramayana, tokoh pewayangan Sunda, dan Si Kabayan. Meskipun tokoh yang dihadirkan merupakan tokoh angkatan jadul, Suwarna mampu mengawinkan mereka dengan wacana modern, misalnya kendaran UFO yang digunakan Guruminda, Cepot yang piaway mengendarai motor, atau Kabayan yang terseret arus money politic.&lt;br /&gt;Dalam makalah berjudul “Refleksi Penguasa dalam Kumpulan Carita Pondok “Murang-Maring” Karya Godi Suwarna tersebut, penulis akan memaparkan refleksi satir penguasa di mata sang pengarang melalui karya-karyanya itu. Bagaimana sikap penguasa dalam memenuhi obsesinya? Apa yang ia lakukan jika ia mengalami kendala dalam pemenuhan obsesinya itu? Apakah akibat yang ia terima? Intinya, refleksi penguasa seperti apa yang terkuak dalam Murang-Maring  itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kata Kunci&lt;/span&gt;: penguasa, frustasi, angkuh, amarah, zalim, dan labil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penguasa merupakan nomina yang bermakna sebagai berikut, (1) orang yg menguasai; orang yg berkuasa (untuk menyelenggarakan sesuatu, memerintah, dsb; dan (2) pemegang kekuasaan. Penguasa dapat berkiprah pada berbagai tingkatan profesi dan ranah misalnya penguasa di dunia atau wilayah  tertentu. Kedudukan sebagai seorang penguasa bukan tidak mungkin kerapkali menimbulkan kesan seperti dua sisi mata uang, kesan negatif dan positif. Kata preman selalu mengundang makna konotasi yang buruk dalam benak kita. Kosmetik dan desainer kerapkali mengundang makna positif karena senantiasa menghadirkan kesan indah dalam benak kita. Kosmetik merupakan penguasa yang tidak terbantahkan dalam industri kecantikan. Desainer merupakan penguasa dunia fesyen karena dapat menentukan sebuah  tren busana dalam kurun periode tertentu.&lt;br /&gt;Kiprah penguasa senantiasa mengundang reaksi pro dan kontra, terutama dari masyarakat. Hal tampak dalam sikap masyarakat terhadap peristiwa pesta demokrasi yang baru saja dilaksanakan di negeri ini. Ada beberapa kelompok masyarakat yang peduli dengan profil penguasa yang ditawarkan dalam lembar kartu suara, ada yang bersikap biasa-biasa saja, dan ada pula yang bersikap antipati. Banyaknya isu yang berkembang di masyarakat tentang latar dan kiprah sang penguasa, mengundang polemic bahkan konflik di antara mereka. Bukan tidak mungkin terjadi bentrokan yang mengundang datangnya barisan korban, baik korban luka-luka maupun korban jiwa. Kisruh dalam kehidupan sang penguasa akan senantiasa menghantui setiap langkahnya.&lt;br /&gt;Kiprah dan sepak terjang sang penguasa senantiasa mengundang reaksi dalam setiap lapisan masyarakat, termasuk para sastrawan. Sastra sebagai titik cerminan kehidupan masyarakat juga tidak membuang kesempatan untuk menunjukkan profil sang penguasa ke tengah masyarakat melalui karya sastra. Reaksi masyarakat juga terangkum dalam buah karya para sastrawan, seperti kumpulan puisi yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia karya Taufik Ismail atau, yang lain, beberapa novel/cerpen yang mencerminkan profil sang penguasa.  &lt;br /&gt;Bukan hanya dalam sastra modern,. profil tentang penguasa dalam sastra sesungguhnya telah lama diungkapkan dalam beberapa karya sastra kuno, seperti Mahabarata, Ramayana, Roman Pangeran Kornel, dan Mantri Jero (Salahudin, 2009:27). Dua karya sastra terakhir merupakan karya sastra kuno yang ditulis sekitar abad ke-18—19. Salahudin menyatakan bahwa terdapat 13 karakter ideal yang wajib dimiliki oleh sang penguasa jika ingin berhasil dalam memegang tampuk kekuasaannya. Ketigabelas karakter tersebut adalah &lt;br /&gt;(1) teu ningkah (tidak bertingkah),&lt;br /&gt;(2) teu adigung kamagungan (tidak pongah dan memperlihatkan sikap tinggi hati kepada orang lain),&lt;br /&gt;(3) paya ku katugenahan (tidak mudah bersedih),&lt;br /&gt;(4) pinuh ku karumasaan (penuh oleh rasa kekurangan pada diri sendiri),&lt;br /&gt;(5) teu paya diagreng-agreng (tidak suka dimeriahkan dengan kemegahan),&lt;br /&gt;(6) nyaah kanu masakat (mencintai yang melarat),&lt;br /&gt;(7) agung maklum sarta adil (arif dan adil),&lt;br /&gt;(8) landung kandungan laer aisan (memiliki perspektif yang luas),&lt;br /&gt;(9) lemes basana hade lentongna (halus bahasanya, bagus tutur katanya), &lt;br /&gt;(10) peta basajan (hidup sederhana),&lt;br /&gt;(11) bersih manah (hatinya bening),&lt;br /&gt;(12) sinatria (bersikap seperti seorang ksatria), dan&lt;br /&gt;(13) pinandita (taat beribadah).&lt;br /&gt;Dalam sumber yang sama, Salahudin menyampaikan bahwa sosok Pangeran Kornel dalam roman berjudul sama dan Pangeran Yogaswara dalam roman Mantri Jero merupakan tipe penguasa yang ideal karena senantiasa mengeluarkan kebijakan yang berkiblat pada kepentingan rakyat. Namun, selain mengungkapkan rangkaian karakter ideal sang penguasa, Salahudin juga menyampaikan beberapa hal yang dapat meruntuhkan tampuk kekuasaan sang penguasa sebagai berikut, yaitu &lt;br /&gt;(1) lampah sasar (sesat),&lt;br /&gt;(2) miceuceub (saling membenci),&lt;br /&gt;(3) sirik pidik (iri hati),&lt;br /&gt;(4) mitnah (menyebarkan fitnah),&lt;br /&gt;(5) nuasih di pulang sengit (air susu di balas air tuba),&lt;br /&gt;(6) nyiduh ka langit (pongah),&lt;br /&gt;(7) malar kauntungan jeung kaagungan (selalu bekerja atas nama pamrih dan hanya mengejar popularitas),&lt;br /&gt;(8) ngangsongan kana kaawonan (berkolusi untuk melakukan kejahatan), dan &lt;br /&gt;(9) ati mungkir beungeut nyagharareup (mengembangkan sikap hipokrit).&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, penulis mengangkat salah satu karya modern karya sastrawan berdarah Sunda, Godi Suwarna yang berjudul “Murang-Maring”. “Murang-Maring” merupakan sebuah kumpulan cerpen (Sunda: carpon) yang mengangkat isu tentang profil penguasa. Konsep penguasa dalam kumpulan carpon “Murang-Maring” tersebut sangat beragam. Penguasa dikabarkan sangat labil, haus harta, tidak adil, dan lemah. Keburukan sang penguasa juga digambarkan berbuntut panjang pada sikap masyarakat. Masyarakat dalam kumplan capron itu digambarkan sangat apatis, anarkis, dan tidak stabil. Profil penguasa digambarkan melalui serangkaian tokoh legendaris yang hadir dalam rangkaian carpon tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Ringkasan Cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memahami profil penguasa dalam kumpulan carpon  tersebut, penulis memberikan sepenggal ringkasan rangkaian carpon tersebut. Berikut merupakan ringkasan cerita pada kumpulan carpon  dalam Murang-Maring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.1 “Kalangkang Budah”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carpon tersebut menceritakan kondisi Sangkuriang pada puncak kemarahannya setelah kehilangan Dayang Sumbi, ibu sekaligus wanita yang sangat dicintainya (sebagai kekasih). Kemarahannya itu semakin memuncak ketika seisi jagat raya mengejek dan menertawakan dirinya. Dalam kondisi tersebut, Sangkuriang bertemu dengan sosok yang mengalami hal yang sama (mencintai ibu sendiri) yang berasal dari legenda mitologi Yunani, yaitu Oidipus. Perbedaannya, Sangkuriang tidak sempat mengawini ibunya sementara Oidipus sempat mengawini ibunya dan mempunyai empat orang anak. Perkawinan menyimpang itu rupanya mengundang bencana berkepanjangan sehingga menimbulkan frustasi yang hebat dalam diri Oidipus. Oidipus berlabuh di pantai tempat Sangkuriang menumpahkan segala kekesalannya pada dewa dan seisi bumi dan langit. Sangkuriang sempat merasa heran dengan tamu tak diundang yang ciri-ciri fisiknya digambarkan penulis sangat mirip dengannya. Pertemuan itu membuahkan dialog panjang di antara keduanya. Dialog itu ditanggapi Sangkuriang dengan pertentangan batin yang berkepanjangan hingga ia kehilangan jejak Oidipus yang telah hengkang dari tempat itu.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.2 “Stop! Stop! Stop!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carpon tersebut mengisahkan puncak kekecewaan seorang polisi gaek, penjaga satu-satunya perempatan di sebuah kota. Kondisi materi yang tidak seimbang dengan pengabdian selama puluhan tahun yang telah ia jalani berujung pada tekadnya untuk mengajukan pensiun paksa kepada Bupati. Bupati yang merasa kecewa dengan keputusan polisi itu akhirnya menderita shock yang sangat parah. Derita yang melanda Bupati tersebut belakangan mengundang kericuhan massal penduduk wilayah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.3 “Gonjang-Ganjing”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carpon tersebut mengisahkan kehadiran kembali tokoh cerita legendaris Jawa Barat, yaitu Lutung Kasarung (Lutung yang Tersesat), Guruminda di dunia modern. Guruminda hadir dalam cerita sebagai utusan para dewa atau Tuhan untuk membimbing keturunannya ke jalan yang lurus. Namun, ia harus menelan rasa kecewa yang sangat dalam karena reaksi yang ia terima dari keturunannya itu jauh di luar perkiraannya. Penduduk kota berbalik memburunya dan melakukan tindakan anarkis kepadanya. Dialog yang ia lakukan menemui kegagalan hingga akhirnya Guruminda memutuskan untuk hengkang dari tempat itu dan kembali ke tempatnya semula, kahyangan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;2.4 “Burak-Barik”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carpon tersebut menceritakan tentang perseteruan tiga penguasa jagad yang dalam agama Hindu dikenal dengan sebutan Trimurti, Batara Brahma, Batara Wisnu, dan Batara Siwa. Batara Brahma merupakan pencipta alam semesta, Batara Wisnu merupakan pemelihara alam semesta, sedangkan Batara Siwa merupakan pelebur alam semesta. Ketiga penguasa tersebut memiliki opini masing-masing yang menimbulkan konflik berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.5 “Aswatamakurda”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carpon tersebut mengisahkan sekelumit petikan akhir hidup Aswatama, salah satu tokoh dalam pewayangan, dengan latar belakang kisah Mahabarata. Aswatama sebagai anak kandung Dorna, guru perang para Pandawa dan Kurawa, harus menemui ajal dengan cara yang sangat tragis akibat kegagalannya ambisinya untuk memusnahkan Pandawa dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.6 “Purwadaksi”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carpon tersebut mengisahkan tentang kepercayaan yang kuat di kalangan masyarakat Sunda, dalam cerita diwakili oleh tokoh Ki Lurah dan Olot Karis sang juru pantun, terhadap legenda Prabu Siliwangi dan Lodaya (macan jelmaan Prabu Siliwangi). Kepercayaaan magis tidak dapat dijauhkan dari kehidupan masyarakat Sunda yang tergambarkan dalam perubahan wujud tokoh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.7 “Murang-Maring”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carpon tersebut mengisahkan parodi kedudukan DPR dalam masyarakat. Petinggi DPR dan tokoh masyarakat lain yang ditampilkan dalam cerita dalam wujud keluarga Punakawan ala pewayangan Sunda, Semar dan Cepot. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.8 “Panjang-Punjung”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carpon tersebut mengisahkan pertarungan antara Sang Bargawa dan Sri Rama. Sang Bargawa dikisahkan sebagai satria yang tidak terkalahkan. Pertarungan dengan Sri Rama tersebut berujung pada kemenangan telak Sang Bargawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.9 “Gual-Guil”&lt;br /&gt;Carpon tersebut mengisahkan tentang parodi Si Kabayan. Tokoh kocak legendaris dalam budaya Sunda itu digambarkan sebagai penguasa yang lalim dan haus harta. Berbagai cara ia gunakan untuk ‘menggemukkan diri’. Ambisi tersebut harus ia tebus dengan cara yang sangat mahal, kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Refleksi Penguasa dalam Kumpulan Carpon “Murang-Maring” Karya Godi Suwarna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penguasa dalam kumpulan carpon “Murang-Maring” tersebut digambarkan sebagai berikut, (1) penguasa frutasi, (2) penguasa haus harta, dan (3) penguasa angkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3.1 Penguasa Frustasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sikap penguasa yang mudah frustasi di antaranya digambarkan dalam carpon berikut, yaitu “Kalangkang Budah” , “Stop! Stop! Stop!”,  “Gonjang-Ganjing”, dan “Murang-Maring”.&lt;br /&gt;Carpon “Kalangkang Budah” diawali dengan kondisi emosi Sangkuriang yang berada di puncak kemarahan dan keteganggan. Hal itu terjadi ketika Sangkuriang menemui kegagalan memenuhi kehendak ibu sekaligus kekasih yang sangat dicintainya sebagai syarat untuk mengawininya. Cinta buta Sangkuriang tidak mampu melihat kenyataan bahwa wanita yang diburunya sepenuh hati itu adalah ibu kandungnya sendiri, Dayang Sumbi. Cinta buta tersebut juga menyeret Sangkuriang pada sebuah kegagalan. Ia tidak berhasil menyelesaikan perahu dan bendungan sungai Citarum dalam semalam karena doa Dayang Sumbi dan kehendak para dewa. Memuncaklah amarah Sangkuriang. Ia tidak rela melepaskan Dayang Sumbi. Para dewa menyelamatkan ibu yang malang itu dan menyembunyikannya di suatu tempat. Sangkuriang mengejar sampai ke tepian pantai. Kemarahannya semakin memuncak karena seisi langit dan bumi menertawakan dan mengejek perilakunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadéngé sora nu saleuseurian tukangeun langit bangun nu mupuas. Manéhna ngedégdég nahan amarah nu méh mudal teu katadah. (MM, 2004:11)&lt;br /&gt;Terdengar suara tawa dibalik cakrawala yang bernada mengejek. Ia (Sangkuriang) hampir tak sanggup menahan amarah yang bergolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah Sangkuriang semakin memuncak ketika ia melihat sikap para dewa yang justru melenyapkan Dayang Sumbi. Sangkuriang menghamburan segenap umpatan kasar kepada para dewa penghuni cakrawala. Laut mendukung tindakan para dewa dan membawa hanyut Sangkuriang. Lelaki pemarah itu berjuang keras melawan ombak hingga akhirnya ia bias mencapai garis pantai. Namun, di pantai itu, ia melihat sebuah perahu besar berlabuh. Seseorang turun dari perahu. Ternyata Sangkuriang terpana melihat tamu yang mendatanginya. Ciri fisik yang hampir sama seluruhnya membuatnya terheran-heran. &lt;br /&gt;Tamu itu rupanya Oidipus, yang dalam mitologi Yunani merupakan cikal bakal peristiwa perkawinan inses dengan ibu kandung di dunia. Pertemuannya dengan Oidipus menimbulkan pertentangan yang hebat dalam hatinya. Sangkuriang seperti berhadapan dengan sebuah cermin. Perbedaannya, Sangkuriang tidak berhasil menikahi Dayang sumbi sementara Oidipus berhasil mengawini Jocasta, ibunya sendiri, dan dikaruniai empat orang anak. Oidipus mengatakan bahwa kondisi Sangkuriang lebih beruntung daripada dirinya. Oidipus mengalami bencana berkepanjangan pascapernikahannya yang tidak lazim itu. Oidipus dilanda kecewa dan memutuskan untuk meninggalkan negerinya dan mencari sebuah tempat perenungan untuk menyalurkan frustasinya itu. Sementara itu, Sangkuriang tidak mampu menerima kenyataan status dirinya yang lebih baik itu. Kekecewaannya terhadap Dayang Sumbi dan para dewa tidak mampu membuka mata hatinya agar ia dapat berpikir jernih. Pertentangan batin Sangkuriang tergambarkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oidipus anak raja! Aing anak anjing! Anak raja jadi raja! Anak sato jadi sato! Tapi naha bener kitu? Naha aing moal bisa hanjat tina leutak rurujit? Mun cocoba datang ti déwa, naha jalan kaluarna ogé datang ti déwa deuih? Naha …?&lt;br /&gt;Rupa-rupa pasualan bulat-beulit dina uteukna. Antara narima jeung nolak. Antara keukeuh jeung léah. Jeung antara séjénna pulang anting ngeusian haténa. (MM, 2004: 20)&lt;br /&gt;Oidipus anak! Aku anak anjing! Anak raja jadi anak raja! Anak hewan tetap anak hewan! Namun, benarkah itu? Apakah aku bisa bangkit dari kubangan Lumpur ini? Jika ujian datang dari dewa, mengapa jalan keluar permasalahan juga datang dari dewa? Mengapa demikian …? &lt;br /&gt;Rupanya berbagai persoalan berkecamuk di dalam kalbunya. Antara keinginan untuk menerima dan menolak. Antara bertahan dan menyerah, serta berbagai hal lain yang wara-wiri di dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangkuriang ingin mengobati rasa kecewa dengan bertukar pikiran kepada Oidipus. Sayang keesokan harinya, Sangkuriang tidak mendapati lagi tamu agungnya itu. Frustasi yang belum terobati akibat kehilangan “kekasihnya” itu kini semakin bertambah dengan kehilangan teman senasibnya. Frustasi yang berujung amarah itu membulatkan tekat untuk mencari Oidipus meski harus berenang ke tengah lautan.&lt;br /&gt;Penguasa frustasi juga tergambarkan dalam carpon “Stop! Stop! Stop!” . Carpon tersebut menghadirkan seorang peolisi gaek penguasa sebuah perempatan jalan di salah satu kabupaten. Meskipun telah mengabdi selama puluhan tahun, polisi itu tidak mampu menikmati pekerjaannya. Ia merasa frustasi dengan profesi yang dijalaninya hanya karena upah yang diterimanya sangat minim. Hal itu juga ditambah dengan perilaku para pemakai jalan yang tidak menghormati polisi. Akibatnya polisi tua itu menderita beragam penyakit yang disebabkan terlalu sering menyimpan kesal, seperti dalam kutipan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teu rék keuheul kumaha, atuda Bupati! Beuki palinter téh jelema lain beuki ngarti kana palaturan. Méh kabéh beuki maceuh ngarempak aturan lalu lintas. Hareupeun irung aki karituna téh. Aki téh dianggap arca ku saréréa, nyeri …,” cék pulisi dipungkas ku ceurik ngagukguk (MM, 2004:24)&lt;br /&gt;“Pak Bupati! Bagaimana tidak kesal? Semakin pintar manusia tidak berarti semakin memahami aturan. Kebanyakan semakin menunjukkan pelanggaran terhadap aturan lalu lintas. Hal itu kerapkali ditunjukkan di depan mata saya. Saya dianggap sebagai sebuah arca oleh semua orang. Sakit hati saya …,” ujar polisi itu sambil menangis sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak kekesalan polisi tua berujung pada tekadnya untuk mengundurkan diri secara paksa dari profesinya itu. Bupati terpaksa turun tangan dan berusaha menahan keinginan polisi tua itu. Namun, upayanya tidak berhasil. Polisi tua itu bersikukuh dengan keinginannya, bahkan menyerahkan segala atributnya ke tangan sang bupati. &lt;br /&gt;Bupati sebagai penguasa di wilayah itu kini dilanda kerepotan. Ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu menangani masalah lalu lintas tersebut di tengah-tengah tumpukkan pekerjaannya. Kesadarannya itu berujung frustasi. Penyakit jantungnya kambuh. Rakyat tidak mampu berbuat apa-apa. Patih selaku ajudan juga tidak dapat menggantikan tugas polisi gaek yang frustasi itu. Penawarannya yang ia ajukan kepada rakyat kabupaten tidak mendapat tanggapan. Hanya satu orang yang menerima tawaran itu. Orang yang tuli itu rupanya tidak mampu menangani masalah lalu-lintas. Kecelakaan senantiasa terjadi setiap hari. Bupati yang tidak mau ambil pusing mendatangkan lampu stopan impor dari luar negeri. Namun, masalah baru muncul. Lampu itu tidak dapat bekerja dengan sempurna. Kemacetan dan amarah para pengendara meningkat hingga akhirnya terjadi baku hantam di segenap wilayah kabupaten itu, termasuk antara Patih dan Bupati yang saling tuding.&lt;br /&gt;Penguasa yang mudah kecewa juga ditunjukkan oleh tokoh Guruminda, tokoh dalam legenda Lutung Kasarung, dalam carpon “Gonjang-Ganjing” . Carpon tersebut menceritakan turunnya Guruminda, seorang pangeran tampan yang mendapat kutukan dari ibu kandungnya dan berubah menjadi seekor lutung, ke muka bumi. Tempat yang ia tuju di muka bumi tersebut tidak lain adalah tempat yang pernah ia tinggali selama masa “kasarung”. Selain itu, Guruminda juga ingin melihat keadaan anak-keturunannya saat ini. &lt;br /&gt;Kehadirannya mendatangkan kesan di luar perkiraan Guruminda sebelumnya. Hutan tempat ia kesasar telah berubah menjadi kota. Akibatnya, gaya hidup keturunan Guruminda pun berubah sangat drastis. Keturunannya bukan manusia yang ramah. Tiada manusia yang mengenali nenek moyangnya, kecuali si jurupantun. Hanya jurupantun yang mengenal sejarah nenek moyang manusia.&lt;br /&gt;Guruminda nyaris kehilangan nyawa karena serangan penduduk kota itu. Beruntung ia disusul oleh seseorang yang berjubah putih (gambaran malaikat atau orang bijak) dalam menghadapi kebrutalan penduduk di kota itu. Mereka tidak mampu menerima maksud kedatangan nenek moyang mereka, Guruminda, di tengah-tengah kehidupan modern yang mereka jalani. Padahal, Guruminda telah berusaha meyakinkan masyarakat dengan kata-katanya sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngahaja kula téh turun ti jabaning langit hayang ngalongok leuweung tempat baheula kula kasarung, bari sakalian haying jonghok jeung turunan. Kula teu nyangka, leuweung gerotan téh horéng geus robah jadi kota geledegan. Ngan hanjakal anak-incu nu ku kula dipisono bet téga rék ménta nyawa!” cék Guruminda. (MM, 2004:36)&lt;br /&gt;“Sengaja aku turun dari langit untuk melihat hutan tempat dulu aku tersesat. Sekalian aku ingin bertemu langsung dengan keturunanku. Aku tidak pernah menduga bahwa hutan belantara itu kini telah berubah menjadi sebuah kota besar. Sayangnya, anak-cucuku yang sangat kurindukan itu tega hendak mencabut nyawaku!” ujar Guruminda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kata-kata Guruminda seperti dianggap angin lalu saja. Dukungan si Jurupantun dan manusia berjubah itu juga tidak mampu membuat penduduk kota bergeming. Mereka berusaha untuk terus memburu Guruminda dan manusia berjubah. Guruminda menaruh rasa kecewa yang sangat dalam. Bersama manusia berjubah yang mengendarai sebuah piring terbang, dengan sedih Guruminda meninggalkan penduduk kota yang sudah tidak bermoral itu.&lt;br /&gt;Carpon “Murang-Maring” mengisahkan tentang frustasi para penguasa. Tokoh keluarga Pandawa dan Punakawan digambarkan mengalami lemah fisik dan mental karena sikap penduduk di wilayah kekuasaan mereka yang tidak peduli. Mereka tidak peduli jika selama ini para penguasa telah bekerja keras demi rakyat, sementara rakyat sendiri tampak berleha-leha dan tidak pernah ambil pusing dengan kehidupan para penguasa itu. Kerja keras para penguasa tampak pada latar kemakmuran rakyat di wilayah itu. Rakyat baru dapat membuka mata setelah melihat derita para penguasa. Perubahan sikap rakyat di wilayah itu disikapi para penguasa dengan sikap yang anarkis dan tidak terpuji. Mereka berbalik mengajak rakyat untuk menghancurkan kembali lambang-lambang kehancuran di wilayah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gur-ger nagara dihuru. Seuneu ngelétakan langit. Gumuruh sora nu bungah, sakabéh pangeusi nagri, gegedén katut rahayat. Ukur Semar nu ngaheruk, neuteup bandéra Amarta. Sagala tanya, sagala rasa pagaliwota na dada Semar. (MM, 2004:86)&lt;br /&gt;Gemuruh bunyi api membakar negeri. Jilatan api mencapai langit. Gemuruh suara seluruh penduduk penghuni negeri itu yang bergembira ria, termasuk para penguasa dan rakyat. Hanya Semar saja yang termenung, menatap sedih bendera Amarta. Segala tanya dan perasaan berkecamuk tiada henti di dalam dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3.2 Penguasa Haus Harta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Profil penguasa haus harta terdapat dalam carpon “Gual-Guil”. Carpon tersebut mengisahkan parodi kehidupan Si Kabayan, tokoh kocak legendaris dalam budaya Sunda. Dalam cerita tersebut Si Kabayan digambarkan bertubuh sangat kurus cenderung membungkuk. Karena tubuhnya yang berbentuk seperti itu, Si Kabayan dijuluki Si Regang, yang berarti sebilah rotan tipis melengkung yang ditarik agar menjadi lurus. Rupanya Si Kabayan beranimo untuk menambah berat badannya dengan cara yang cepat. &lt;br /&gt;Cara yang ia gunakan untuk menambah bobot tubuhnya terbilang aneh. Pertama, ia melakukan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme untuk mengalahkan rekan sekampungnya, Si Lamsijan dalam pesta demokrasi pemilihan Kuwu (Lurah).Si  Lamsijan juga merupakan tokoh legendaris kocak dalam budaya Sunda. Masyarakat yang mengetahui hasil pemilihan yang dilakukan secara langsung itu merasa heran ketika akhirnya Si Kabayan dinyatakan keluar sebagai pemenang. Mereka mengetahui bahwa dalam pemilihan langsung tersebut, yang mendapatkan lidi terbanyak adalah Si Lamsijan. &lt;br /&gt;Kemenangan yang diperoleh si Kabayan berbuntut panjang. Ia semakin mudah mengumpulkan keping demi keping uang yang ia gunakan untuk menambah bobot tubuhnya. Pertama ia melibatkan diri dalam kolusi beberapa proyek pembangunan di wilayah kekuasaannya, di antaranya, pengurangan ketebalan aspal, pembangunan taman-taman desa ala urban, dan pembangunan masjid. Ketiga proyek ranum tersebut mempercepat tercapainya cita-cita Si Kabayan. Bobot tubuh Si Kabayan dalam waktu singkat bertambah. Rupanya, keuntungan dari proyek itu ia tentukan dalam jumlah kepingan dan lembaran uang yang ia telan seluruhnya dan menjadi penghuni kantung perutnya. Bobotnya semakin melonjak sehingga ia harus mendobrak dan melebarkan ambang pintu rumahnya dan mengganti ranjang setiap hari. Melihat kondisi Si Kabayan yang sangat parah, Camat, Wadana,  dan Bupati sepakat untuk memberikan piagam penghargaan kepada lelaki aneh itu. Tepatnya, sebelum kematian menjemput Si Kabayan.&lt;br /&gt;Upacara pemberian penghargaan dilakukan di alun-alun. Si Kabayan diusung dengan tandu. Tubuh Si Kabayan ibarat sebuah bola beliter raksasa yang tiba-tiba menggelinjang hebat di atas panggung. Tubuh bulatnya itu menabrak ketiga rekannya (Camat, Wadana, dan Bupati) yang juga bertubuh superbulat, karena terlibat KKN dengan Si Kabayan. Keempat tubuh laksana bola raksasa itu berangsur terbang ke arah langit biru di atas alun-alun. Tanpa di duga tepat di ketinggian, keempat bola manusia itu tiba-tiba meledak hebat. Tubuh Si Kabayan, Camat, Wadana, dan Bupati hancur luluh-lantak dan mengeluarkan asap tebal serta kepingan uang yang menjadi biang kericuhan massal rakyat di tempat itu. Detik-detik ledakan keempat tubuh penguasa haus harta itu terungkap dalam kutipan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balaréa taranggah. Geleger! Opat beliter buta baritu méh bareng. Alun-alun eundeur. Haseup mulek. Balaréa ngayekyek. Sanggeus haseup nyingray, duit tingkalayang ti awang-awang. Ti mimiti duit récéh nepi ka duit rébuan maruragan ka alun-alun.&lt;br /&gt;[…]&lt;br /&gt;Rahayat giak mulungan duit nu mancawurea tina beuteung opat gegedén téa. Rahayat beuki tarik tinggorowok. Kolot-budak, awéwé-lalaki, maraceuh parebut duit. Saréréa silih séréd, silih, dupak, silih tongtak, silih tonjok, silih jenggut, silih rewég, silih cekék, silih kadék, silih …. (MM, 2004:104)&lt;br /&gt;Orang-orang menengadah. Duarrrr! Empat bola bliter raksasa meledak bersamaan. Asap menggumpal. Rakyat padat berkumpul. Setelah asap mulai menghilang, hujan uang tampak turun dari langit, baik berupa uang logam maupun lembaran ribuan.&lt;br /&gt;[…]&lt;br /&gt;Rakyat giat memungut uang yang berasal dari perut empat orang pejabat tadi. Rakyat saling berteriak. Tua-muda, pria-wanita saling berebut uang. Mereka saling dorong, saling tabrak, saling pukul, saling tonjok, saling jambak, saling baku hantam, saling cekik, saling menyiku, saling ….&lt;br /&gt;Si Kabayan harus menebus segala daya cara yang ia lakukan untuk memenuhi ambisiny, menambah berat badan, harus ia tebus dengan harga yang sangat mahal—kehilangan nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3.3 Penguasa Angkuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keangkuhan sang penguasa tampak tergambar dalam beberapa carpon berikut, yaitu “Burak-Barik”, “Aswatamakurda”, “Purwadaksi”, dan “ Panjang-Punjung”.&lt;br /&gt;Carpon “Burak-Barik” mengisahkan perseteruan antara tiga dewa utama dalam agama Hindu yang dikenal dengan sebutan Trimurti. Tiga dewa yang tergabung dalam Trimurti, dalam pewayangan Sunda dikenal dengan sebutan Batara,  adalah Batara Brahma, Batara Wisnu, dan Batara Siwa. Ketiga penguasa jagat itu memiliki tugas sendiri, yaitu Batara Brahma bertindak sebagai pencipta jagat, Batara Wisnu sebagai pemelihara jagat, dan Batara Siwa sebagai penghancur jagat. &lt;br /&gt;Carpon tersebut menyampaikan seolah-olah kurang matangnya pembagian tugas ketiga Batara itu. Kehidupan manusia yang digambarkan dalam latar berkecamuknya perang akbar di Kurusétra, tepatnya pada peristiwa kematian Abimanyu. Sebelum kematian anak Arjuna tersebut telah banyak tokoh lain yang mengalami kematian. Batara Siwa sebagai pelebur jagat merasa senang jika banyak tokoh-tokoh yang mengalami kematian. Namun, Batara Wisnu mengalami hal sebaliknya. Sebagai pemelihara jagat raya, ia memiliki rasa iba yang cukup tinggi. Kematian demi kematian tokoh-tokoh ke dalam kotak ajal semakin menusuk perih dalam kantung belas kasihnya. Ia tidak menyukai sikap Batara Siwa yang bergembira di atas penderitaan orang lain. Batara Wisnu mengajukan gugatan kepada Batara Siwa.  Batara Siwa tentu saja merasa sangat tersinggung. Ia menyampaikan apa yang ia lakukan adalah sesuai dengan perjanjian Trimurti sebelumnya. Dalam cerita, batara yang bertugas sebagai pelebur jagat itu menyampaikan hal tersebut dengan nada tinggi dan bahasa yang kasar. Wisnu tidak mampu mengelak dari kenyataan yang telah ia sepakati bersama itu, seperti yang terungkap dalam kutipan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batara Wisnu ngahuléng. Enya! Manéhna gé lain teu inget kana pasini nu geus dipaheutkeun ti saméméh jagat katut pengeusi digelarkeun. Manéhna jeung dua batara séjén pada-pada ngabogaan garapeun séwang-séwangan. Tapi manéhna teu nyangka sacongo buuk bakal kieu balukarna. Najan jagat tacan bujrad pisan, manéhna teu wéléh bingung mikiran nasib sakabéh pangeusina. Komo mun seug jagat geus cunduk kana titis tulisna, burak-barik. Mana teuing … (MM, 2004:48—49)&lt;br /&gt;Batara Wisnu termenung. Benar! Ia bukan tidak ingat pada janji yang telah terucap sebelum penciptaan jagat raya beserta seluruh isinya. Mereka bertiga, Trimurti, telah memiliki tugas masing-masing. Namun, ia tidak pernah menduga jika akibatnya akan seperti ini. Meskipun jagat raya belum hancur seluruhnya, tetapi ia merasa bingung memikirkan nasib seluruh penghuni jagat itu. Ia tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika jagat ini telah sampai pada titik penghabisannya ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Batara Brahma dalam cerita tersebut semakin menambah runyam perseteruan di antara kedua rekannya itu. Perkelahian sengit bukan hanya terjadi di antara tokoh-tokoh yang terlibat dalam peperangan, melainkan di antara ketiga Batara itu. &lt;br /&gt;Carpon “Aswatamakurda” mengisahkan latar akhir hidup Aswatama. Aswatama merupakan anak tunggal Dorna, guru perang keluarga Kurawa dan Pandawa. Kecenderungan ayah dan anak itu untuk memilih pihak Kurawa menuai bencana bagi Aswatama. Ia kehilangan ayahnya di Kurusétra. Ia kehilangan semua sahabat Kurawanya. Dalam carpon  tersebut Aswatama didatangi arwah para Kurawa yang menuntut dirinya untuk membalaskan dendam terhadap Pandawa. Aswatama berjanji untuk melakukan pembalasan itu dan membaca mantra tertentu yang memungkinkan ruhnya muncul di tempat lain, kediaman Pandawa dan keluarganya. Versi asli menyatakan bahwa Aswatama batal melakukan pembunuhan masal atas desakan Kresna (MHBT, 1992:372). Namun, dalam carpon tersebut kegagalan Aswatama disebabkan oleh tendangan Parikesit, cucu Pandawa, pada senjata sakti Pasopati. Pasopati tersebut mengakhiri aksi balas dendam Aswatama yang berlaku angkuh, baik terhadap Pandawa maupun tokoh-tokoh panutan dalam Mahabarata. Sikap angkuh Aswatama salah satu penyebabnya adalah rasa kecewa dirinya kepada penghuni Kahyangan yang cenderung mendukung kepada Pandawa, seperti yang terjadi dalam kutipan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aswatama ngagidir. Pasir lir nu kabawa eundeur, ngageber. Beuki karasa déwa téh pilih kasih. Aswatama beuki ceuceub ka eusining Kahiangan. (MM, 2004:66)&lt;br /&gt;Aswatama gemetar menahan amarah. Bukit seolah turut terguncang hebat. Semakin dalam ia rasakan para dewa pilih kasih (kepada Pandawa). Aswatama semakin membenci seisi Kahyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Purwadaksi” bercerita tentang penguasa Padjadjaran, Prabu Siliwangi, yang masih ingin menunjukkan kekuasaannya. Lodaya, harimau jelmaan Prabu Siliwangi, dianggap sebagai penguasa hutan di tanah Pasundan. Masih banyak orang yang memujanya, di antaranya Ki Lurah dan Olot Karis sang juru tarawangsa, sejenis alat musik gesek khas Parahyangan. Tarawangsa yang dimainkan Olot Karis rupanya merupakan benda ajaib. Alat musik itu juga berfungsi sebagai antena pemanggil ruh Prabu Siliwangi berupa Lodaya. Tepat ketika Olot Karis sedang memainkan dan menyanyikan tembang bernuansa magis, ia berubah wujud menjadi seekor Lodaya. Pada bagian akhir cerita, Lodaya jelmaan itu melenggang indah menuju hutan di Gunung Handeuleum Hieum. Gunung tersebut merupakan habitat hewan sejenis, entah harimau sesungguhnya atau berupa jelmaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lodaya ngagaur tarik naker, sorana ngaweuhan ka madhab papat. Ti lebah Gunung Handeuleum, hawar-hawar, kad éng é nu patinggalaur. Lodaya ngal énghoi muru ka Gunung Handeuleum Hieum diabringkeun ku pirang-pirang cicika. (MM, 2004:77)&lt;br /&gt;Lodaya mengaum dahsyat. Suaranya terdengar sampai ke empat penjuru wilayah itu. Dari arah Gunung Handeuleum samar-samar terdengar suara auman kawanan harimau bersahut-sahutan. Lodaya melenggang indah menuju Gunung Handeuleum Hieum diterangi kelap-kelip cahaya kawanan kunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panjang-Punjung” bercerita tentang keangkuhan Sang Bargawa, salah seorang ksatria di Kurusétra yang tiada terkalahkan. Telah banyak ksatria yang ia kalahkan dalam berbagai medan pertempuran. Kali ini giliran Sri Rama yang akan ia hadapi. &lt;br /&gt;Sang Bargawa tinggal di sebuah telaga di Kurusétra. Isi telaga itu berupa ruh para ksatria yang pernah dikalahkannya. Pada suatu hari, tiba-tiba air di telaga itu bergolak hebat. Tiba-tiba salah satu mahluk yang muncul dari perut telaga itu mengatakan bahwa Sang Bargawa akan mendapati ajalnya esok hari. Namun, seekor burung gagak mengatakan bahwa ia akan mendapatkan kemenangan abadi dan berumur panjang. Sang Bargawa termenung dibuatnya. Ia mulai merasa letih denganmasa hidupnya yang lama itu. Ia mulai dilanda rasa jenuh dengan kesehariannya, sebagai petarung dan penghuni tepian telaga. Sang Bargawa rupanya telah mengikat janji dengan para dewa untuk mengakhiri hidupnya besok. Namun, setelah pertarungan antara dirinya dan Sri Rama terjadi, kemenangan itu tidak jadi diberikannya kepada lawannya yang agung itu. Sri Rama menemui ajalnya, mayatnya tergeletak di tepian telaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah poé. Manuk bangké récok di sisi talaga aya nu diparebutkeun. Sang Bargawa ngabadega dina batu, di tengah talaga. Sang Bargawa euceuy kapulas  getih talaga. Taraté mangkak di tengah-tengah talaga. Kembang taraté mangkak na haté Sang Bargawa. (MM, 2004:94)&lt;br /&gt;Siang hari.  Kawanan burung  pemakai bangkai berkumpul di tepian telaga untuk memperebutkan seonggok mayat. Sang Bargawa sendiri berdiri gagah di atas batu, di tengah telaga. Tubuhnya memerah berbalut lapisan darah. Bunga teratai bermekaran di tengah telaga di sekitar Sang Bargawa. Sebuah kembang teratai lainnya sedang mekar di kalbu Sang Bargawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Simpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan carpon “Murang-Maring” karya Godi Suwarna menampilkan rangkai profil penguasa dalam berbagai tipe karakter. Penulis membagi tipe karakter penguasa tersebut menjadi tiga bagian, yaitu (1) penguasa frustasi, (2) penguasa haus harta, dan (3) penguasa angkuh. Penguasa frustasi terdapat dalam “Kalangkang Budah” , “Stop! Stop! Stop!”,  “Gonjang-Ganjing”, dan “Murang-Maring”. Penguasa haus harta terdapat dalam carpon “Gual-Guil”. Penguasa angkuh terdapat dalam carpon “Burak-Barik”, “Aswatamakurda”, “Purwadaksi”, dan “ Panjang-Punjung”.&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh legendaris yang ditampilkan dalam kumpulan carpon tersebut tidak satu pun yang memenuhi ke-13 karakter ideal sang penguasa tersebut. Hanya satu dua karakter saja yang dapat dipenuhi tokoh-tokoh tersebut, atau tidak sama sekali. Selain itu, ada beberapa hal penghancur kekuasaan yang ‘terpenuhi’ dalam kumpulan carpon “Murang-Maring”  tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-3906061984633268208?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/3906061984633268208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/06/resensi-murang-maring.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/3906061984633268208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/3906061984633268208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/06/resensi-murang-maring.html' title='RESENSI &quot;MURANG-MARING&quot;'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/SiM2AUCTeSI/AAAAAAAAAC8/fMHsFJfhh1Y/s72-c/MURANG-MARING.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-5281386165357396145</id><published>2009-05-05T14:21:00.002+07:00</published><updated>2009-05-05T14:23:11.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>ADA SINGA DALAM DIRIMU: Step-by-Step Menggali Potensi dalam Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_pUaBAfuI/AAAAAAAAACo/M6M3f0yX5w4/s1600-h/SINGA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 76px; height: 108px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_pUaBAfuI/AAAAAAAAACo/M6M3f0yX5w4/s400/SINGA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332237020620160738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ADA SINGA DALAM DIRIMU:&lt;br /&gt;Step-by-Step Menggali Potensi dalam Diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data buku:&lt;br /&gt;Judul  : Ada Singa dalam Dirimu&lt;br /&gt;Penulis : Asa Mulchias&lt;br /&gt;Penerbit : ProYou (kelompok Pro-U Media)&lt;br /&gt;Halaman : 292 halaman&lt;br /&gt;Cetakan : 2008&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Sekilas, sampul buku yang berjudul Ada Singa dalam Dirimu tersebut tampak seperti sampul sebuah novel. Dalam sampul tersebut, seorang pria sedang bercermin. Namun, cermin yang ia lihat bukanlah cermin biasa. Bayangan yang ia lihat di dalam cermin bukan bayangan dirinya, melainkan bayangan seekor singa jantan yang memasang mata tajam ke arah lelaki itu. Tentu saja, pemandangan seperti itu bukanlah pemandangan biasa, tetapi lebih merupakan sesuatu hal yang perlu ditelusuri. &lt;br /&gt;Kekuatan singa dan manusia sangat jauh berbeda. Tenaga manusia, tanpa berbagai alat bantu, tidak akan mampu menandingi kekuatan singa. Karena kekuatannya itu, singa senantiasa ditempatkan di tempat tertinggi dalam kawasan hutan, Raja Hutan julukannya. Dalam cerita, semua hewan senantiasa tunduk kepada makhluk yang kokoh itu. &lt;br /&gt;Pria yang sedang bercermin itu rupanya dipaksa cermin untuk menelusuri makna kehadiran bayangan singa di dalamnya. Singa dalam cermin bukanlah singa yang sesungguhnya, melainkan merupakan simbol atas kekuatan, kemampuan, dan kelebihan yang ada di dalam diri manusia. Allah swt tidak sekadar menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna jika tidak dibekali dengan hal-hal yang mampu membedakannya dari makhluk lainnya. Keunikan yang diturunkan Allah kepada benda ciptaan-Nya  adalah tiadanya persamaan di antara makhluk yang diciptkan-Nya itu, sekalipun terlahir atau tercipta sebagai kembar identik. &lt;br /&gt;Manusia tidak terlepas dari hal itu. Kekuatan, kemampuan, dan kelebihan setiap manusia berbeda-beda. Ketiga hal itu dapat disandarkan sebagai bekal hidup di dunia dan di akhirat. Sayangnya, tidak semua manusia mampu mengenali ketiga bekalnya itu. Kebanyakan hanya dapat meraba-raba “bekal” yang lain yang belum tentu dapat dikuasainya. Sebagian lagi justru hanya berdiam diri dan menyia-nyiakan “bekal” tersebut. Hasilnya, manusia tampak seperti korban bencana kelaparan yang terdampar di tengah-tengah hamparan gurun pasir yang tidak bertepi. Penulis merasa iba dengan kondisi sesamanya yang demikian. Melalui buku ini, ia ingin mengajak teman-teman, terutama sesama Muslim, untuk belajar step-by-step menggali potensi diri.&lt;br /&gt;Penulis mengawali proses penggalian diri dengan sebuah ilustrasi cerita berjudul “Raksasa Baik Hati, Serigala-Serigala Kelaparan, dan Domba-Domba yang Ketakutan”.  Kisah tentang tiga makhluk berbeda jenis  itu terbagi atas tiga bagian. Kisah yang pada episode selanjutnya melibatkan tokoh si Kancil yang sudah menjadi profesor  tersebut memberikan gambaran bahwa seseorang yang ingin “pulih” dari penderitaannya harus memiliki kesadaran dan daya juga yang sangat tinggi. Berkat bantuan si Kancil itulah, kawanan domba selamat dari amukan serigala lapar.  Serigala yang berkali-kali ingin melahap kawanan domba empuk itu tidak pernah berhasil mendapatkan impiannya karena desa domba itu senantiasa dijaga oleh seorang raksasa bernama Hugan. Untuk mewujudkan impiannya, serigala mencari siasat dengan melumpuhkan Hugan dengan obat tidur yang dahsyat buatan ular kobra kepala tiga. Namun, usahanya itu ternyata tidak membuahkan hasil karena kancil mampu membuat ramuan penangkalnya. Hugan yang telah pulih mendapati kenyataan bahwa ia kini tidak mampu berdiri apalagi menghadapi serigala seperti biasanya. Namun, kancil dan kawanan domba memberikan semangat yang tiada putusnya kepada raksasa yang malang itu. Akhirnya, Hugan pun terbuka mata hatinya dan ia berupaya keras untuk memupuk kekuatan hati maupun tubuhnya. Upaya kerasnya itu membuahkan hasil. Hugan mampu bangkit dan mengalahkan kawanan serigala. Pada akhir cerita, si Kancil membuka rahasia yang sebenarnya bahwa bukan ramuan mujarab yang mampu membangkitkan Hugan, melainkan keinginan kuat dalam diri raksasa itu untuk melawan sisi lemah dalam dirinya.&lt;br /&gt;Profesor Kancil menatap Doba dengan pandangan tak jenuh. Anak muda, katanya dalam hati, jika saja, mereka menemukan tujuan hidupnya dan mengerahkan segenap tenaga untuk menjadikannya sesuatu yang luar biasa, akan selalu memancarkan sinar yang kulihat seperti di wajah domba ini. Mengagumkan….. (ASDD: 277)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain cerita itu, masih ada ilustrasi lain yang diberikan penulis yang diilhami kisah fabel universal, yaitu “Bebek Buruk Rupa”. Dalam cerita aslinya, seekor anak bebek mengalami keterlambatan dalam masa penetas. Ia tertinggal oleh ibu dan saudara-saudara yang lain. Tiba-tiba, datanglah seekor induk betina dan membawanya ke kandang. Di tempat itu, telur bebek itu menetas bersama telur-telur ayam itu. Pada waktu selanjutnya, bebek itu lebih mengenal budaya ayam dari pada budayanya sendiri. Dalam buku tersebut, penulis menorehkan sebuah kisah serupa yang berjudul “An Eagle Who Thinks He’s a Chicken”.  Cerita tentang burung elang itu berawal dari kecerobohan seorang induk elang yang terbang meninggalkan sarangnya. Tubuhnya terbang terlalu rendah dan menepuk dahan tempat sarang itu berada. Akibatnya, satu dari dua telur itu terjatuh ke dalam kumpulan telur ayam di bawahnya tanpa cacat. Kemudian, telur-telur itu menetas dan bayi elang selanjutnya mengarungi kehidupan dalam budaya ayam. Meskipun sempat melihat makhluk sejenisnya yang dapat terbang, bayi elang itu tidak memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru yang sebenarnya akan mengembalikan kondratnya sebagai seekor elang. Namun, ia tidak memiliki daya coba yang tinggi serta dukungan dari lingkungan yang rendah, elang itu selamanya “menjadi ayam”.  Kisah anak elang tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri sendiri dan potensi diri. Setelah itu, kita perlu mengembangkan sayap selebar-lebarnya ke muka dunia dengan cara mencari ilmu. &lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti, si Anak elang  mulai melupakan yang sempat menimpanya. Ya, dia adalah ayam, bukan elang. Dia tak bisa terbang setinggi burung elang, tak perlu menukik tajam dari angkasa untuk menerkam mangsa. Cukup menggali tanah, menemukan binatang penggembur, mencaploknya, nyam-nyam, telan, kenyang. Selama ini dia bisa menerima hidup yang seperti itu, dan selalu menganggap itulah takdirnya. Tak perlu membuang energi untuk mencoba. Hasil akhirnya sudah pasti. (ASDD: 218)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, aktivitas mencari ilmu tersebut juga memiliki norma-norma tersendiri (hlm. 143—160), yaitu (1) ikhlas lillahita’ala, (2) tujuan mencari ilmu: menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan orang lain, (3) berniat menuntut ilmu berpijak pada aqidah, (4) lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat, (5) menghormati dan memuliakan kaum ulama, dan (6) mencari kebenaran dan sabar.&lt;br /&gt;Penulis, mengawali proses ini dengan memperkuat hati dan mengenali kesadaran diri. Manusia harus mengenali dengan baik siapa dirinya dan apa yang ada di dalam dirinya itu.  Dengan mengenali diri dan potensi diri, Penulis mengajak manusia untuk menikmati hidup sebagai suatu anugerah (hlm. 55). Sebagai “doping” untuk memperkuat diri, manusia yang sudah dianugerahi dengan kemampuan untuk meniru, layak untuk mencari sosok teladan yang benar-benar dapat diteladani. Dalam buku ini, Penulis memberikan banyak sosok yang dapat diteladani oleh kaum muslimin dan muslimat, di antaranya Rasulullah, Khalid bin Walid, dan Abu Bakar Ash-shiddiq. Selain tokoh Islam, Penulis juga memberikan ilustrasi negeri sakura yang mampu menggeliat hebat dari keterpurukan akibat PD II di Nagasaki dan Hiroshima. Kerasnya minat dan daya juang para penghuni negeri sakura itu layak dijadikan sebagai cermin oleh kita. &lt;br /&gt;Setelah itu, penulis pun beralih pada langkah-langkah penggalian potensi tersebut dengan rangkaian langkah yang disebut tarbiyah dzatiyah (hlm. 117). Tarbiyah dzatiyah yang ditawarkan  penulis lebih merupakan sarana untuk menggali potensi secara Islami yang menyeluruh melalui enam langkah berikut, yaitu muhasabah, thalabul ‘ilmi, praktik, pemanfaatan waktu, berdoa, dan melawan penyakit mental. Muhasabah adalah penelusuran pada diri sendiri melalui tiga tahapan berikut, yaitu niat dan kesiapan diri, menentukan mana yang hak dan yang batil, dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Kedua, kaum muslimin digenjot Islam untuk menggeruk ilmu seluas mungkin untuk memperkuat diri sendiri. Ketiga, setelah menangguk ilmu, kaum muslimin diwajibkan untuk mengamalkan ilmu yang ia peroleh. Keempat, ilmu yang diperoleh semata-mata untuk ibadah bukan untuk kesombongan. Sehubungan dengan itu, manusia diwajibkan menundukkan kesombongan karena ilmu dengan sujud kepada Allah swt. yang telah memberikan anugerah tersebut kepada kita. Semakin tinggi ilmu yang kita peroleh semakin tinggi keharusan kita untuk melipatgandakan diri kepada Sang Pemberi Ilmu tersebut. &lt;br /&gt;Penulis mengakhiri tulisan ini dengan anjuran untuk segera melaksanakan pengenalan diri dan penggalian potensi diri secepat mungkin. Jangan sampai keinginan dan angan yang setinggi langit akhirnya terkalahkan oleh hadirnya “kereta ekspres Penyesalan” yang selalu hadir lebih cepat dari jadwal seharusnya. &lt;br /&gt;      Life Begins at Young!&lt;br /&gt;Masak sih? Bukannya “at 40”? emang ada yang bilang beitu. Tapi, buat kamu yang masih muda…, yakin mau nunggu selama itu? Bagi yang nggak mau, yuk ikut gerakan “Life Begins at Young!”  Asyik, lho! Mau tahu asyiknya di mana?&lt;br /&gt;Dengan mengikuti gerakan ini, kamu bakal diajarin buat bikin hidup lebih hidup! Siapa sih yang nggak mau? Sama dong! Kita semua menginginkan hal itu terjadi dalam hidup kita di dunia. Siapa juga yang nggak mau? Pasti kurang waras. Tapi, apa hanya dengan “menginginkan”, lalu sekonyong-konyong terwujud? Bakal ujug-ujug jadi warna dalam episode-episode kehidupan kamu di dunia nan indah ini? Nggak, kan? Selain menginginkan, kamu juga harus “meraihnya” dan berusaha mewujudkannya! (ASDD: 280)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Singa dalam Dirimu merupakan obat yang mujarab yang aman dikonsumsi oleh berbagai kalangan yang sedang mengalami pudarnya identitas diri dan mengalami peningkatan kebuntuan hidup. Dengan bahasa gaul yang sangat lancar mengalir bak air turun dari hulu ke lembah, buku ini layak dikonsumsi tanpa dihinggapi rasa cemas, takut, dan antipati. Bahasa gaul yang dipakai dalam buku ini memang masih menyimpang dari kaidah EYD, tetapi hal itu justru mempermudah pemahaman isi buku itu, seperti dalam contoh berikut. &lt;br /&gt;Sebagai (calon) penulis, ada beberapa hal yang kudu kamu list: banyak membaca, harus menulis setiap hari, sering-sering mengedit (mengedit tulisan siapa? Ya, tulisan kamu!), bergabung dengan komunitas penulis, dan menyiapkan buku khusus atau lebih bagus komputer. (ASDD: 207)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sasaran yang lebih tepat dari buku ini adalah pusat benak dan kalbu kaum ABG atau remaja. Buku ini layak dijadikan sebagai kitab suci ketiga—selain al Quran dan hadist-- sebagai pembangkit dan penguat spirit dalam diri kaum remaja yang cenderung terjerat ke dalam arus kehidupan serbaglobal, serbainstan, dan serbahedonis. Meskipun, buku ini ditujukan untuk remaja muslim, tetapi intisari di dalamnya bersifat universal dan dapat diterapkan oleh remaja yang berlatarkan keyakinan yang lain. Satu pesan utama dalam buku karya Mulchias tersebut adalah upaya pencarian jati diri yang biasa dialami oleh remaja harus berlandaskan pada sumber keimanan, yaitu agama. Dengan demikian, remaja akan mampu melalui tahapan yang paling labil dari seluruh tahap perkembangan manusia tanpa mengalami personality gap atau cultural gap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-5281386165357396145?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/5281386165357396145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/ada-singa-dalam-dirimu-step-by-step.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5281386165357396145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5281386165357396145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/ada-singa-dalam-dirimu-step-by-step.html' title='ADA SINGA DALAM DIRIMU: Step-by-Step Menggali Potensi dalam Diri'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_pUaBAfuI/AAAAAAAAACo/M6M3f0yX5w4/s72-c/SINGA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-1283453523190231898</id><published>2009-05-05T13:20:00.001+07:00</published><updated>2009-05-05T13:24:32.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Umum'/><title type='text'>KONSEP KEMATIAN DAN KEHIDUPAN PASCAKEMATIAN  DALAM LIRIK LAGU RELIGIUS</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KONSEP KEMATIAN DAN KEHIDUPAN PASCAKEMATIAN &lt;br /&gt;DALAM LIRIK LAGU RELIGIUS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABSTRACT: Mostly death is considered as the last phase of  the cyclus of the human’s and other creatures’ life. Whereas, firstly on the Islamic religion, the death is considered as the first phase of the other ones, called the life after the death. Some people forget that the endable life in the world is likely a facility to catch or save preparations of the life after the death itself.&lt;br /&gt; Exploring this topic, the writer had taken three objects. &lt;br /&gt;The object of the riset is the three religious lyrics below,Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick), Ketika Tangan dan Kaki Bicara (Chrisye),and Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo). Those that were  written bythe Koranic or the words of the Prophet’s based telling us about the death itself and the life afterwards. What should be doneby the human beings, especially for the Moslems, before and after the coming of the death?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt; Dunia laksana sebuah sarana hiburan fantasi. Dunia laksana sebuah megastore perhiasan. Manusia adalah pengunjung setianya. Keindahan dan kebahagiaan yang disajikan dalam tempat hiburan dan megastore itu begitu melekat dalam ingatan manusia. Akibatnya, manusia menjadi senang dan berlama-lama untuk tinggal di kedua tempat itu. Ia tidak berniat untuk hengkang dan meninggalkan tempat itu. Manusia demikian asyik dengan kehidupannya, sehingga ia lupa bahwa ada sesuatu yang senantiasa mengintai dirinya setiap saat setiap waktu. Gazalba (1984:11) mengatakan bahwa ada hal yang tidak dapat ditolak oleh manusia, yaitu sirnanya periode kehidupan dan kedatangan sakratul maut. Kepastian datangnya maut merupakan hal yang nyata, tetapi manusia cenderung lalai untuk mempersiapkan dan menghadapinya. Kenapa manusia melupakan saat-saat akan kematiannya, sehingga ia tidak sempat mempersiapkan dirinya? Saat-saat kematian datang menjemput manusia dan apa yang akan dialami oleh manusia pascakematian, akan penulis bahas pada poin selanjutnya. Tepatnya, pada tiga objek penelitian berikut, yang berupa tiga lirik religius, yaitu Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick), Ketika Tangan dan Kaki Bicara (Chrisye), dan Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo). Ketiga lirik tersebut menyinggung soal kematian dan hal-hal yang akan dialami setelah itu. Pembahasan akan penulis lakukan disertai dengan sejumlah refernsi buku keagamaan yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Konsep Kematian dan Kehidupan Pascakematian dalam Lirik Lagu Religius&lt;br /&gt; Pembahasan tentang konsep kematian dan kehidupan pascakematian dalam lirik lagu religius ini akan terbagi dua. Pertama, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa dan peringatan tentang kematian, sedangkan yang kedua, mengenai hal-hal yang terjadi setelah kematian—terutama ketika manusia sedang berhadapan dengan pengadilan Allah swt untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick) dan Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo)&lt;br /&gt;Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick) merupakan lirik yang berkisah tentang hal-hal yang membuat manusia terlena dengan segala keindahan kehidupan duniawi dan melalaikan kehidupan akhirat. Penyesalan manusia mendorong dirinya untuk memohon kepada Ilahi untuk dikembalikan ke dunia, tetapi Allah tidak mengizinkannya. Ia terperosok dalam kesedihan dan kesepian di alam kubur. Lirik lagu Bila Waktu Tlah Memanggil tersebut selengkapnya sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kau merasa bangga &lt;br /&gt;Akan dunia yang sementara&lt;br /&gt;Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi&lt;br /&gt;Meninggalkan dirimu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah bila saatnya&lt;br /&gt;Waktu terhenti tak kau sadari&lt;br /&gt;Masihkah ada jalan bagimu untuk  kembali&lt;br /&gt;Mengulang ke masa lalu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia dipenuhi dengan hiasan&lt;br /&gt;Semua dan segala yang ada akan &lt;br /&gt;Kembali pada-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila waktu tlah memanggil &lt;br /&gt;teman sejati hanyalah amal&lt;br /&gt;Bila waktu telah terhenti &lt;br /&gt;teman sejati tinggallah sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lirik lagu tadi terdiri atas empat bait. Setiap bait terdiri atas empat larik. Pada bait pertama, larik pertama yang berbunyi / Bagaimana kau merasa bangga / merupakan sebuah pertanyaan satir atau sindiran terhadap salah satu sifat manusia yang cenderung membanggakan apa yang dimilikinya. Jika manusia telah menggenggam sesuatu hal ia akan cenderung mempertahankannya, membanggakannya, dan menunjukkannya kepada orang lain. Kata  bangga  dalam larik tersebut menunjukkan eufemismus  terhadap sikap angkuh, sombong, dan tamak dalam diri manusia. Hal itu tercermin dalam petikan ayat berikut.&lt;br /&gt;  “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang yang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin  agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS, 2:96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dibanggakan oleh manusia, tercermin pada larik kedua yang berbunyi    / Akan dunia yang sementara /. Ternyata apa yang menjadi kebanggaan manusia adalah dunia yang telah memberinya kenikmatan hidup. Jerat keindahan dunia telah membuat manusia terlena dan melupakan adanya kehidupan lainnya yang lebih utama, yaitu kehidupan di alam barzah dan alam akhirat. Padahal, dunia ini hanyalah tempat persinggahan manusia sebelum menuju kehidupan yang sesungguhnya. Adanya kehidupan setelah kematian tersebut terdapat dalam petikan ayat berikut. &lt;br /&gt;  “Dan kehidupan dunia ini tidak lain dari senda gurau dan permainan saja dan bahwa negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS, 29:64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  “[…] Kehidupan dunia ini hanya kesenangan sementara dan kahirat itulah negeri yang kekal.” (QS, 40:39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari ayat tadi, dapat kita pahami bahwa umur dunia ini sangat pendek bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat kelak. Kealpaan manusia terhadap kehidupan paskakematian diperingatkan dalam larik ketiga dan keempat bait pertama yang berbunyi / Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi/ Meninggalkan dirimu /. Bunyi larik tersebut berupa pertanyaan yang tajam kepada kita tentang apa yang akan kita lakukan jika pada suatu saat kita ditinggalkan kebanggaan kita? Ingatkah kita siapa yang mengambil hal-hal yang menjadi kebanggaan kita? Manusia kerapkali melupakan semua yang kita banggakan akan kembali kepada Penciptanya.&lt;br /&gt; Isi bait pertama menyambung pada bait ketiga. Larik pertama yang berbunyi / Dunia dipenuhi dengan hiasan /  menyiratkan gambaran tentang hal-hal yang selalu dibanggakan dalam kehidupan manusia itu. Kata hiasan merupakan part pro toto terhadap apa saja yang selalu membuat manusia terlena dalam kehidupan duniawi, yaitu wanita, anak-anak, dan harta. Hal itu telah ditetapkan Allah swt dalam petikan ayat berikut. &lt;br /&gt;  “Manusia itu diberi perasaan berhasrat atau bernafsu, misalnya kepada perempuan, anak-anak, kekayaan yang melimpah-limpah, dari mas dan perak, kuda yang bagus, binatang ternak dan sawah lading; itulah kesenangan hidup di dunia. […]” (QS, 40:39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Manusia telah dibekali kesenangan terhadap keindahan, terutama kepada perempuan, anak-anak, serta harta benda. Namun, semua itu tiada yang abadi. Gazalba (1984:195) mengatakan bahwa istri yang cantik pada suatu saat akan kehilangan kecantikannya. Anak-anak yang dibanggakan akan pergi meninggalkan kita atau, sebaliknya, kita yang meninggalkan mereka. Harta benda akan habis entah dibelanjakan atau diwariskan kepada orang lain. Saat kita mati benda-benda yang kita banggakan hanya akan menjadi saksi bisu di tempat kita bukan di dalam kubur kita. Semuanya akan habis dan kembali kepada Sang Pencipta, yaitu Allah swt. Hal itu tercermin dalam larik kedua dan ketiga pada bait ketiga yang berbunyi / Semua dan segala yang ada akan / Kembali pada-Nya /. Larik tersebut merupakan isi dari petikan ayat berikut ini.&lt;br /&gt;  “Kepada Allahlah kembalimu, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS, 11:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri yang cantik atau suami yang gagah lama kelamaan akan layu dan mati, harta akan habis dengan jalan apa pun, atau anak-anak yang kita banggakan akan pergi dari pelukan kita atau kita tinggalkan. Semua merupakan kehendak Illahi. Hanya Dia yang Mahapenentu.&lt;br /&gt; Bait ketiga tersebut lebih tepat bila disambungkan dengan bait kedua. Setelah terlena dengan keindahan dunia, manusia dihadapkan dengan segala kejutan ketika saat ajal menjemput. Larik pertama dan kedua  yang berbunyi / Bagaimanakah bila saatnya / Waktu terhenti tak kau sadari / merupakan pertanyaan yang kerapkali diabaikan oleh manusia. Dalam keterkejutan ketika bersua dengan sang pemutus kenikmatan dunia, manusia hanya dapat bersikap diam terpaku karena mereka merasa tidak siap untuk “berangkat” ke tujuan akhir itu. Keasyikan hidup di dunia membuatnya lupa akan momen transisi menuju tempat sebaik-baiknya tempat. Larik ketiga dan keempat pada bait yang sama berbunyi / Masihkah ada jalan bagimu untuk  kembali / Mengulang ke masa lalu / merupakan pertanyaan satir terhadap manusia yang mati dalam keadaan merugi dan tanpa persiapan. Kaum yang demikian merasa sangat menyesal dan memohon untuk dikembalikan ke dalam kehidupan dunia untuk memperbaiki amal perbuatannya. Namun, pintu untuk kembali tidak pernah terbuka dan terkunci untuk selamanya. &lt;br /&gt; Penyesalan manusia yang merugi itu digambarkan pada bait keempat berikut.&lt;br /&gt;Bila waktu tlah memanggil &lt;br /&gt;teman sejati hanyalah amal&lt;br /&gt;Bila waktu telah terhenti &lt;br /&gt;teman sejati tinggallah sepi&lt;br /&gt;Apa yang dibanggakan semasa hidup di dunia sama sekali tidak berarti dalam kehidupan di alam kubur. Manusia hanya berteman dengan amalannya dan kesepian yang tiada terhingga di alam barzah. Ajal digambarkan secara pleonasme atau berlebihan dengan frasa berikut, yaitu / Bila waktu tlah memanggil / dan / Bila waktu telah terhenti /.&lt;br /&gt; Isi yang hampir sama juga terdapat dalam lirik Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo). Lirik tersebut berbunyi sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo)&lt;br /&gt;Lirik: Miftah Faridl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I II&lt;br /&gt;Hidup bagaikan garis lurus&lt;br /&gt;Tak pernah kembali ke masa yang lalu&lt;br /&gt;Hidup bukan bulatan bola yang&lt;br /&gt;Tiada ujung dan tiada  pangkal&lt;br /&gt; Tiga rahasia Illahi&lt;br /&gt;Yang berkaitan dengan hidup manusia&lt;br /&gt;Kesatu tentang kelahiran, &lt;br /&gt;kedua pernikahan, ketiga kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini melangkah terus&lt;br /&gt;Semakin mendekat ke titik terakhir&lt;br /&gt;Setiap langkah hilangkan jatah&lt;br /&gt;Menikmati hidup nikmati dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff:&lt;br /&gt;Pesan Nabi tentang mati&lt;br /&gt;Janganlah takut mati&lt;br /&gt;Karena pasti terjadi&lt;br /&gt;Setiap insan pasti mati&lt;br /&gt;Hanya soal waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Nabi tentang mati&lt;br /&gt;Janganlah minta mati datang kepadamu&lt;br /&gt;Dan janganlah kau berbuat&lt;br /&gt;Menyebabkan mati &lt;br /&gt;penuhi hidup dengan cinta&lt;br /&gt;ingatkan diri saat untuk berpisah &lt;br /&gt;tegakkan shalat 5 waktu&lt;br /&gt;dan ingatkan diri saat dishalatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff:&lt;br /&gt;Pesan Nabi tentang mati&lt;br /&gt;Janganlah takut mati&lt;br /&gt;Karena pasti terjadi&lt;br /&gt;Setiap insan pasti mati&lt;br /&gt;Hanya soal waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Nabi jangan takut mati&lt;br /&gt;Meski kau sembunyi dia menghampiri&lt;br /&gt;Takutlah pada kehidupan setelah kematian&lt;br /&gt;Renungkanlah itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kehidupan manusia bukan merupakan suatu siklus, terutama dalam pandangan agama Islam. Jika digambarkan, kehidupan manusia itu laksana sebuah garis lurus yang ditarik pada titik awal maupun titik akhir. Kehidupan manusia sejak di alam ruh, dilahirkan dan kembali ke hadirat Ilahi bukan merupakan gambaran sebuah siklus. Yang berawal dari tempat yang sama dan berakhir di tempat yang sama. Larik pertama yang berbunyi / Hidup bagaikan garis lurus / merupakan simile dan larik ketiga / Hidup bukan bulatan bola yang / merupakan metafora terhadap bentuk perjalanan kehidupan manusia itu.&lt;br /&gt; Penjelasan tentang hal tadi terdapat dalam bait kedua. Larik pertama dan kedua yang berbunyi / Hidup ini melangkah terus / Semakin mendekat ke titik terakhir / menyiratkan bahwa semakin lama langkah manusia senantiasa menuju pada ajalnya. Yang membedakan adalah cepat-lambat atau panjang-pendeknya jarak dari titik awal kehidupan ke titik akhir. Semua terserah kepada kehendak Illahi. Jika selama ini tradisi perayaan ulang tahun dikenal istilah “panjang umur”, sudah seharusnya istilah itu diganti dengan “berkah umurnya” (Hidayat, 2005:4). Akan lebih baik lagi jika perayaan ulang tahun itu dijadikan sebagai momen untuk merenungkan perjalanan hidup dan penentuan untuk menetapkan langkah di masa depan. Hidayat dalam sumber yang sama mengatakan bahwa makna panjang umur pada manusia berusia 60-an dirasakan kurang pas. Pada fase tersebut, manusia senantiasa merasakan bahwa ia telah mendekati akhir hidupnya, seperti yang tergambar pada larik ketiga / Setiap langkah hilangkan jatah / dan / Menikmati hidup nikmati dunia /.&lt;br /&gt; Hidayat (2005:118) mengatakan bahwa kematian kerapkali mengundang rasa takut pada diri manusia dan juga makhluk lainnya. Terutama pada manusia, rasa takut itu muncul karena ia enggan meninggalkan segala “perhiasan” dan keindahan dunia. Ia tidak siap menghadapi dan menjalani kehidupan baru yang serbamisterius itu. Namun, rasa takut itu harus dikubur jauh-jauh sementara kematian harus kita persiapkan sejak dini. Peringatan tentang datangnya kematian tersebut tercantum dalam bait ketiga berikut.&lt;br /&gt;Pesan Nabi tentang mati&lt;br /&gt;Janganlah takut mati&lt;br /&gt;Karena pasti terjadi&lt;br /&gt;Setiap insan pasti mati&lt;br /&gt;Hanya soal waktu&lt;br /&gt;  Nabi Muhammad saw menegaskan kepada kaumnya agar tidak bersifat fobia terhadap kematian. Kematian mutlak adanya hanya soal kedatangannya saja yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Setiap makhluk hidup pasti akan merasakan kematian. Hal itu tercermin dalam petikan ayat berikut.&lt;br /&gt;  “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS, 21:35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun menakutkan, kematian pun kerap dianggap sebagai “hoping land” atau tanah harapan sebagai ujung dari suatu permasalahan. Hal itu tercermin dalam larik pertama dan kedua bait keempat berikut.&lt;br /&gt;Pesan Nabi tentang mati&lt;br /&gt;Janganlah minta mati datang kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin manusia melakukan hal yang diluar akal untuk menuntaskan masalah yang dihadapinya, misalnya karena putus cinta, putus asa, dan lain-lain. Allah sangat melaknat perbuatan manusia yang menyebabkan mati, seperti membunuh atau bunuh diri. Eufemesmus pada larik ketiga dan keempat berikut ditujukan untuk aktivitas membunuh dan bunuh diri.&lt;br /&gt;Dan janganlah kau berbuat&lt;br /&gt;Menyebabkan mati&lt;br /&gt; Selain kematian, manusia dihadapkan dengan dua hal lain yang senantiasa menjadi misteri dalam kehidupannya, yaitu perjodohan atau pernikahan dan kelahiran, seperti yang tercantum dalam bait kelima berikut.&lt;br /&gt;Tiga rahasia Illahi&lt;br /&gt;Yang berkaitan dengan hidup manusia&lt;br /&gt;Kesatu tentang kelahiran, &lt;br /&gt;kedua pernikahan, ketiga kematian&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Manusia tidak pernah mengetahui kapan ia akan dilahirkan dan siapa yang akan ia lahirkan. Manusia tidak akan mengenali jodohnya. Seringkali terjadi, pasangan yang telah melakukan approaching selama bertahun-tahun ternyata pada akhirnya bubar dan masing-masing menemukan jodohnya dalam tempo yang sangat cepat.&lt;br /&gt; Bait keenam merupakan “usulan” atau advise kepada umat manusia untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. &lt;br /&gt;penuhi hidup dengan cinta&lt;br /&gt;ingatkan diri saat untuk berpisah &lt;br /&gt;tegakkan shalat 5 waktu&lt;br /&gt;dan ingatkan diri saat dishalatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekal yang dapat ditabung oleh manusia adalah memenuhi hidup dengan “penuh cinta”. Istilah tadi meruapakan part pro toto terhadap cinta Illahi, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada makhluk lainnya. Cinta yang terbaik adalah cinta karena Allah swt, yaitu cinta yang senantiasa didasari nilai-nilai ibadah. Ibadah yang utama bagi kaum Muslim adalah solat lima waktu. Jika ibadah itu tidak sempurna, rusaklah seluruh amalannya. Ibadah solat bukan hanya harus dilaksanakan melainkan “ditegakkan”, yaitu dengan menerapkan nilai-nilai solat ke dalam kehidupan sehari-hari. Lakukan ibadah solat dengan sungguh-sungguh seraya mengingat bahwa pada suatu saat solat kita akan terhenti, tepatnya saat ajal menjemput. Tibalah saat bagi kita untuk disalatkan orang lain.&lt;br /&gt; Bait keenam merupakan repetisi utuh bait ketiga. Repetisi tersebut merupakan wujud stressing terhadap kepastian datangnya kematian dan misteri kedatangannya. Bait ketujuh menyiratkan bahwa kematian itu mutlak. Jika tiba waktunya, ia tidak akan pergi. Kemana pun kita berusaha bersembunyi, kematian pasti akan mendapatinya, seperti yang tercermin pada larik pertama dan kedua yang berbunyi / Pesan Nabi jangan takut mati / Meski kau sembunyi dia menghampiri /. Hal itu tercermin pula dalam petikan ketiga ayat berikut.&lt;br /&gt;  “[…] Kematian yang dari padanya kamu melarikan diri sesungguhnya akan menemui kamu, kemudian itu kamu dibawa kembali kepada Tuhan yang tahu hal yang gaib dan yang nyata.” (QS, 62:8)&lt;br /&gt;  “Kami telah menentukan kematian kepada kamu dan Kami tidak dapat dikalahkan.” (QS, 56:60)&lt;br /&gt;  “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu  berada di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh, […].” (QS, 21:35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pascakematian, manusia tidak akan habis masanya begitu saja. Namun, ia akan melalui kehidupan yang lain, yaitu di alam barzah dan alam akhirat, seperti yang diungkapkan dua larik terakhir yang berbunyi / Takutlah pada kehidupan setelah kematian / Renungkanlah itu /. Kata renungkanlah itu menyiratkan agar umat Islam tidak lagi berleha-leha dan terlena di dunia serta mulai bersiaga menabung amalan sebagai teman dan sahabat pascakehidupan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Ketika Tangan dan Kaki Bicara (Chrisye)&lt;br /&gt;Lirik yang berjudul Ketika Tangan dan Kaki Bicara merupakan buah karya Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh alm. Chrisye. Lirik ini ditulis berdasarkan isi ayat suci Al-Quran, yaitu QS Yaasiin ayat 65 berikut.&lt;br /&gt;  “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS, 36:65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik ini menggambarkan kondisi manusia pada kehidupan pascakematian, terutama ketika mereka menghadapi hisab di pengadilan yang mahaadil itu. Pada saat itu, lidah dan mulut seolah terkunci rapat dan tidak mampu mengelak menangkis kesaksian anggota tubuh lain, tangan dan kaki, atas perbuatan selama di dunia. Hal itu terungkap di dalam kutipan berikut.&lt;br /&gt;Akan datang hari &lt;br /&gt;Mulut dikunci &lt;br /&gt;Kata tak ada lgi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tiba masa &lt;br /&gt;Tak ada suara &lt;br /&gt;Dari mulut kita &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata tangan kita &lt;br /&gt;Tentang apa yang dilakukannya &lt;br /&gt;Berkata kaki kita &lt;br /&gt;Kemana saja dia melangkahnya &lt;br /&gt;Tidak tahu kita &lt;br /&gt;Bila harinya &lt;br /&gt;Tanggung jawab, tiba... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait keempat merupakan petikan doa agar terhindar dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kita pada akhirat nanti.&lt;br /&gt;Rabbana &lt;br /&gt;Tangan kami &lt;br /&gt;Kaki kami &lt;br /&gt;Mulut kami &lt;br /&gt;Mata hati kami &lt;br /&gt;Luruskanlah &lt;br /&gt;Kukuhkanlah &lt;br /&gt;Di jalan cahaya &lt;br /&gt;Sempurna &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon karunia &lt;br /&gt;Kepada kami &lt;br /&gt;HambaMu &lt;br /&gt;Yang hina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat (2005:161—162) mengatakan bahwa hidup di dunia ibarat rekreasi dan shopping. Dalam perjalanan kita dianjurkan untuk membeli barang-barang yang berguna, bukan sembarang barang yang hanya akan mempersulit jalan pulang kita. Hidup juga ibarat sebuah lemari pakaian yang kita isi dengan pakaian dan perhiasan yang indah dan layak pakai. Sementara itu, pakaian yang sudah usang dan tak layak pakai kita buang saja. Dengan demikian lemari kita akan selalu terlihat rapih dan bersih. Bahkan, Rasulullah pernah bersabda bahwa kehidupan ini ibarat masa tanam yang hasil panennya baru akan kita nikmati kelak pada kehidupan pascakematian. &lt;br /&gt;Segala aktivitas kita akan terekam kuat di dalam sebuah disket berupa ruh. Rekaman data itulah yang kelak akan diolah di pengadilan akhirat nanti. Disket itu pula yang akan menjadi sahabat atau, sebaliknya, menjadi bumerang bagi pemiliknya. Semua bergantung pada amal perbuatan pemiliknya selama hidup di dunia.&lt;br /&gt;Wahai kematian, selamat datang! Selamat menjemput kami dan kami akan menerima kedatanganmu dengan lapang dada. Jangan butakan mata dan hati kami terhadap kilaunya perhiasan dunia dan melupakan pembelian perhiasan akhirat. Wanita cantik, lelaki gagah, anak-anak yang lucu, dan harta yang melimpah bukan merupakan malaikat pelindung bagi pemiliknya di akhirat. Sahabat dan pelindung manusia di alam akhirat hanyalah amal perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Simpulan&lt;br /&gt;Dunia dan kehidupan di dalamnya laksana kilauan perhiasan yang mampu menjerat manusia untuk merebutnya. Dunia dan perhiasannya itu laksana semilir harumnya hidangan kelas atas yang mendorong manusia untuk selalu lapar lahir dan batin untuk mencicipinya. Kehidupan di dunia tidak ubahnya seperi rekreasi ke tempat wisata. Kita selalu terdorong untuk memborong oleh-oleh yang ada di tempat itu. Kehidupan itu laksana sebuah almari yang penuh dengan jejalan pakaian dan aksesoris. &lt;br /&gt;Namun, tempat rekreasi itu bukanlah tempat tinggal yang abadi. Tempat itu hanyalah persinggahan untuk melepas lelah. Lemari bukan tempat baju dan aksesori yang permanent. Baju dan perhiasan yang sudah tidak layak pakai tentu harus dikeluarkan dari tempat itu. Kehidupan di dunia bukanlah surga abadi, tetapi ada yang kehidupan lain yang lebih abadi, yaitu kehidupan pascakematian.&lt;br /&gt;Kehidupan pascakematian memerlukan bekal yang sangat banyak dan akurat agar kita tidak tersesat di sana. Sedini mungkin kita harus bersosialisasi dengan sahabat yang akan mengangkat kita ke tempat yang mulia, yaitu amal perbuatan.&lt;br /&gt;Sebagai sarana dakwah yang santun dan tidak menggurui, lagu religius dapat dijadikan sebagai acuan untuk bertakwa. Tiga lagu berikut berisi ajakan untuk merenungkan apa yang akan kita persiapkan dan kita perbuat dalam menyambut datangnya kematian (Bila Waktu Tlah Memanggil (Opick) dan Hidup dan Pesan Nabi (Bimbo)) dan kehidupan pascakematian (Ketika Tangan dan Kaki Bicara (Chrisye)). Lirik tersebut biasanya ditulis berdasarkan petikan ayat suci atau sabda Nabi Muhammad saw yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Baiquni, N.A. 1996. Indeks Al-Qur’an: Cara Mencari Ayat Al-Qur’an. Surabaya: Arkola.&lt;br /&gt;Depag RI. 2000. Al-‘Aliyy: Al-Quran dan Terjemahannya. Bandung: Penerbit Diponegoro.&lt;br /&gt;Gazalba, Sidi. 1984. Maut Batas Kebudayaan dan Agama. Jakarta: PT Tintamas Indonesia.&lt;br /&gt;Hidayat, Komaruddin. 2005. Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme. Bandung: Penerbit Hikmah.&lt;br /&gt;Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pustaka Sumber&lt;br /&gt;Bimbo. “Hidup dan Pesan Nabi” dalam album Shalawat. Jakarta: PT. Musica Studio.&lt;br /&gt;Chrisye. “Ketika Tangan dan Kaki Bicara” dalam album Kala Cinta Menggoda. Jakarta: PT. Musica Studio.&lt;br /&gt;Opick. “Bila Waktu Tlah Memanggil” dalam album Opick Istighfar. Jakarta: PT. Musica Studio.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-1283453523190231898?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/1283453523190231898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/konsep-kematian-dan-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/1283453523190231898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/1283453523190231898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/konsep-kematian-dan-kehidupan.html' title='KONSEP KEMATIAN DAN KEHIDUPAN PASCAKEMATIAN  DALAM LIRIK LAGU RELIGIUS'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-8584325751816953942</id><published>2009-05-05T12:32:00.003+07:00</published><updated>2009-05-05T13:03:56.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Umum'/><title type='text'>BAHASA DALAM BUDAYA PUTIH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_WiL0RlXI/AAAAAAAAACQ/RPy_0DqLd_s/s1600-h/KOSMETIK+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 86px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_WiL0RlXI/AAAAAAAAACQ/RPy_0DqLd_s/s320/KOSMETIK+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332216366605899122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_Wh0ddWXI/AAAAAAAAACI/Yb08G0lLVw8/s1600-h/KOSMETIK+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 107px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_Wh0ddWXI/AAAAAAAAACI/Yb08G0lLVw8/s320/KOSMETIK+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332216360336185714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_WhiGoYlI/AAAAAAAAACA/3QBRNmfh0bI/s1600-h/KOSMETIK+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 126px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_WhiGoYlI/AAAAAAAAACA/3QBRNmfh0bI/s320/KOSMETIK+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332216355408601682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHASA DALAM BUDAYA PUTIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah, S.S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Necholase (2007) mengatakan bahwa banyak orang yang sependapat dengan ungkapan berikut, yaitu makin tinggi atau rumit suatu bahasa semakin tinggi pula budaya yang terkandung. Ya, bagi sebagian kalangan yang percaya dengan hal itu, pasti akan menyatakan bahwa bahasa saling berkaitan erat dengan budaya. Makalah ini akan menggambarkan hal-hal yang berkaitan erat dengan bahasa dan budaya. Namun, budaya yang akan penulis kemukakan dalam tulisan tersebut adalah kaitan erat antara bahasa dan budaya putih. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;Budaya putih adalah istilah yang penulis gunakan atas fenomena yang sedang membumi, terutama di kalangan kaum hawa, secara universal. Budaya putih adalah budaya yang berkaitan dengan hal-hal yang serbaputih. Kalau dahulu kita hanya mengenal budaya melabur tembok rumah atau gedung dengan cairan kapur berwarna putih atau perendaman baju dengan zat tertentu agar kembali menjadi putih. Kini warna putih pun merebak hebat dalam berbagai hal terutama di dunia kecantikan. Banyak istilah tertentu yang  digunakan untuk menyatakan ‘putih’ sebagai cara untuk membombardir kesan atau standar cantik tertentu di dunia yang paling digemari kaum hawa tersebut.&lt;br /&gt;Bahasan utama dalam makalah ini adalah tumbuhnya beberapa istilah yang dipakai dalam dunia kecantikan, terutama, budaya putih tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Key words:  budaya putih, putih, cantik, Anti Aging, whitening, kosmetik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt; Budaya putih adalah istilah yang penulis tempatkan pada kebudayaan manusia yang sangat mengagungkan segala hal yang berbau putih. Selain baju, kini hal-hal berbau putih pun semakin bermunculan, di antaranya sabun cuci, tepung, kosmetik, termasuk bahan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu beras. Namun, meskipun mengalami pertumbuhan pesat dalam berbagai bidang kehidupan, budaya putih yang saya sebutkan tadi hanya akan saya kaitkan salah satu bidang saja, yaitu  bidang kecantikan terutama yang berkaitan dengan kosmetik.  Penyebabnya, di dunia yang paling digandrungi kaum hawa itu, budaya putih  mengalami perkembangan yang paling pesat. Sebagai gambaran singkat, jika dahulu para di Jepang, seorang  geisha (untuk meningkatkan status sosial) atau pemain opera China (untuk mempertegas karakter peranan) hanya mengenal satu kiat menjadi putih, yaitu dengan menggunakan kosmetik sejenis pasta padat yang disebut oshirei (Sylado, KJ:12), kini kaum hawa telah memiliki beragam pilihan kosmetik yang mampu menjanjikan nuansa putih pada diri mereka. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi merasa malu atau minder hanya karena memiliki cangkang yang berbeda dari pihak tertentu.&lt;br /&gt; Mengapa demikian? Budaya putih bermula dari timbulnya rasa takut yang berlebihan, disadari atau tidak. Seorang wanita yang kebetulan memiliki kulit khas kebanyakan (terutama penduduk benua Asia) kerapkali mendapatkan sorotan dari lingkungan sekitar dan desakan untuk menghilangkan ciri “kebanyakannya itu” menjadi “tidak kebanyakan” atau ideal. Tekanan hebat tersebut menumbuhkan  paranoia (rasa takut yang cenderung berlebihan) dan rendah diri atas sisi buruknya itu (Soekanto, 2008:29). Bukan tidak mungkin lama kelamaan tekanan dan rasa takut yang berlebihan tersebut akan menggeser akal sehatnya terhadap sikap penerimaan kodrat Illahiah. Terlebih, datangnya serangan arus globalisasi yang tiada henti-hentinya memborbardir psikis si wanita itu untuk membuka mata dan memfokuskan pada sosok ideal yang menyuarakan “kecantikan  bernilai universal atau global” dalam tempo singkat tersebut. Piliang (2006:398) mengatakan bahwa globalisasi merupakan monster yang dianggap semakin mempercepat tempo kehidupan manusia  yang dengan lihai mampu menggiring “korbannya” ke arah kehidupan konsumerisme dan konsumtivisme. Selain itu, globalisasi juga melesatkan anak panah penjajahan pada selera lokal menjadi universal. &lt;br /&gt;Dalam serangan yang, terutama, dikendalikan oleh media dengan segala bentuk advertisingnya baik berupa argumentatif, persuasif, maupun visual yang dengan intens menyuarakan “kesempurnaan” sosok yang ditampilkan. Ditunjang janji masa perolehan menjadi “ideal” yang singkat, mangsa pariwara tersebut akhirnya akan mudah berpaling dari pendiriannya semula dan beralih pada produk yang ditawarkan tersebut. Akibatnya, menurut Adlin &amp;  Kurniasih (2006:235) di satu pihak kaum hawa dipaksa agar mereka memuja sekujur tubuhnya, sementara di lain pihak dan pada saat yang sama ia dituntut untuk berbuat keji dengan memperbudak tubuhnya itu. Salah satu sebab yang sulit dirasakan oleh kaum hawa adalah akibat yang harus diterima tubuh karena upaya keras untuk mempercantik diri itu. &lt;br /&gt;Dalam dunia pariwara, hal itu akan terjadi karena  promosi yang bersifat jor-jor-an tersebut tiada lain bertujuan akhir  untuk mendongkrak penjualan produk, terutama yang berkaitan  aneka ornamen budaya putih. Selain itu, tujuan lain yang ingin dicapai dunia advertising tersebut adalah menjaring komunitas atau umat pemuja sosok idola atau model yang ditampilkan serta pemakai produk tersebut.&lt;br /&gt; Demikian kuatnya arus globalisasi yang ditunjang dengan lemahnya pendirian, kaum hawa pun tidak lagi sempat berpikir panjang, terutama, yang berkaitan dengan hal-hal yang terjadi sesudah perkenalan mereka dengan ornamen tersebut. Ibarat dalam permainan judi, seseorang tidak akan mampu menduga nasib yang akan ia terima, kalah atau menang. Bagi kelompok yang beruntung, mereka akan mendapatkan janji manis sang promotor, di antaranya mendapatkan sedikit/banyak  porsi keindahan yang dimiliki sang idola. Namun, bagi kelompok yang tidak beruntung, hal itu akan menjadi peristiwa yang menorehkan jejak traumatis sepanjang hidupnya. Sikap antipati terhadap produk, produsen, atau, bahkan, si model iklan akan menjadi hadiah terindah bagi sang pemakai atau pihak produsen. &lt;br /&gt; Pada akhirnya, budaya putih hanya akan menghasilkan kecantikan semu atau kecantikan yang hampa makna (Adlin &amp; Kurniasih, 2006:237). Saat berdiri di depan sebuah cermin, seseorang mau tidak mau dipaksa untuk menanggalkan dirinya dan mengenakan topeng yang “bukan dirinya” demi memenuhi standar cantik ala industri kosmetik yang menyerangnya tiada henti. Wanita menampilkan sosok kecantikan industri yang ditujukan, tidak lain, untuk menarik perhatian lingkungan di sekitarnya, sahabat, keluarga, terutama lawan jenisnya (Arianto: 2007). Padahal, Sarwono (2008) memberikan sebuah gambaran kecantikan yang “bijaksana”, yaitu kecantikan yang bersifat harmonis dan seimbang antara lahir dan batin. Sementara itu, Baudrillard dalam Adlin &amp; Kurniasih (2006:236) memberikan penegasan bahwa kecantikan hakiki adalah kecantikan yang mampu menimbulkan harga diri. Untuk menumbuhkan harga diri, seorang wanita wajib menumbuhkan rasa cinta pada diri sendiri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hal itu akan menimbulkan  penampilan yang berkesan, yaitu penampilan yang prima dari ujung rambut sampai ujung kaki.&lt;br /&gt; Demikian latar timbulnya budaya putih, yaitu budaya yang memiliki kekayaan identitas tersendiri. Identitas budaya tersebut di antaranya berwujud  istilah-istilah tertentu  yang akrab di telinga konsumen dunia kecantikan, terutama para pemuja budaya putih itu sendiri. Istilah yang muncul dalam budaya tersebut adalah yang berkaitan dengan segala hal yang berbau putih atau kondisi yang menjanjikan putih kepada penganutnya. Dalam subbab berikut, penulis akan membahas istilah-istilah bernuansa putih tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bahasa dalam Budaya Putih&lt;br /&gt; Bahasa dalam budaya putih bermain pada serangkaian istilah ornamennya budaya itu. Ornamen budaya tersebut, di antaranya, berupa istilah yang digunakan untuk menamai sejumlah produk yang memberikan “tabir putih” atau “janji putih” kepada pemakaiannya, dalam hal ini kebanyakan berasal dari kaum hawa. Ornamen budaya putih penulis bagi ke dalam dua bagian, yaitu (1) Anti Aging dan (2) whitening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Anti Aging &lt;br /&gt; Anti Aging, dalam wikipedia, merupakan addresses how to prevent, slow, or reverse the effects of aging and help people live longer, healthier, happier lives (kiat untuk mencegah, memperlambat, atau meredam efek penuaan serta membantu seseorang agar dapat hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih bahagia). Kosmetik Anti Aging digunakan untuk meremajakan atau membuat kulit yang sudah menua menjadi muda kembali. Kemunculan ragam kosmetik tersebut tiada lain dilandaskan pada ketakutan manusia dalam menghadapi kondisi lansia. Seseoang, disadari atau tidak, mulai ingin menolak kenyataan (yang tidak sesuai dengan harapannya) di wajahnya. Di depan cermin, ia menaruh rasa benci pada diri sendiri. Ditanggalkannya topeng murni dirinya yang mulai dihiasi kerut merut itu dan dipakainya topeng lain (disadari atau tidak) yang membuat dirinya tidak lagi menjadi diri sendiri. Industri kecantikan menangkap kehawatiran mendalam tersebut dan dengan intensif menawarkan produk yang mampu memberikan janji kepada calon konsumennya bahwa kosmetik yang ditawarkan itu mampu mengusir tanda-tanda ketuaan dalam tempo yang singkat itu. Promosi yang jor-joran dengan menampilkan sosok model yang beraksi seolah-olah ia telah berhasil mengenyahkan tanda-tanda ketuaan  tadi, ditambah dengan cerita dari mulut ke mulut antar pemakai, mendorong hasrat dalam kalbu seseorang untuk menjamah produk tersebut. Tentunya, ia berharap dengan memakai produk itu ia akan mampu memenuhi standar yang ditawarkan model industri tadi. &lt;br /&gt; Penekanan utama industri kecantikan tersebut dalam menentukan ragam kosmetik adalah istilah yang dipakai sebagai merek dagang. Beberapa istilah yang bermakna “meremajakan” atau “menjadikan sesuatu menjadi muda” digunakan sebagai merek kosmetik Anti Aging. Ragam kosmetik yang tergolong ke dalam kelompok Anti Aging  tersebut, antara lain, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anti Wrinkle, anti-stretch, regenerist, rejuvenate, revival, serum, botox, age defense, reversing, nourishing, firming, Anew, revitalift, anti-ageing, dan regenerist. flawless&lt;/span&gt;, misalnya Blue Anti Aging Day Creme-SPF 12, Belkosmex /Mirielle Cosmetic Rejuvenating Fruit Cream, Bare Escentuals Rare Minerals Skin Revival Treatment, Sk-II Lxp Ultimate Revival Cream, dan Dr. Hauschka Revitalizing Eye Cream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pada contoh yang penulis paparkan tadi, kosakata yang tergolong ke dalam kelompok anti aging  tadi merupakan bagian dari trade mark  suatu produk kosmetik. Kosakata tersebut sengaja dicantumkan dengan gamblang agar konsumen menaruh kepercayaan pada kosmetik tersebut bahwa produk kecantikan itu akan mengembalikan masa muda mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.2 Whitening&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Sementara itu, whitening dalam Alexander (2003:1436) berasal dari verba to whiten yang bermakna to make or become white (mengubah  atau menjadikan sesuatu menjadi putih).&lt;br /&gt;Kelompok whitening memiliki istilah yang lebih banyak. Whitening adalah  ragam kosmetik yang menawarkan konsep kulit putih dan menjadikan hal itu sebagai standar kecantikan global di seantero dunia. Penawaran konsep tersebut tampak lebih dahsyat daripada penawaran ragam kosmetik sebelumnya. Model dan kemasan yang ditawarkan pun lebih beraneka. Konsep iklan yang dihadapkan kepada para konsumen lebih bombastis, baik dalam bentuk argumentatif, persuasif, maupun visual.  Dari sisi argumentatif, iklan—sebagai salah satu ciri budaya komunikasi global--menyuarakan konsep dan standar kecantikan global yang mampu mengarahkan kaum hawa pada pemaknaan bahwa wanita cantik nan modern adalah wanita yang langsing, putih tanpa noda, dan sebagainya (Rustandi, 2007:17).  Salah satu contoh, dalam Prabasmoro (2003:33), terdapat sebuah analisis iklan sabun LUX pada zaman dulu yang dibintangi oleh aktris Susan Hayward. Prabasmoro menyatakan dalam iklan itu mengandung sebuah argumen bahwa  menjadi cantik tidak hanya ditunjang dengan fitur wajah yang cantik, tetapi—lebih penting dari itu—harus ditunjukkan dengan kulit yang putih. Hal itu  ditunjukan bukan hanya kepada wanita nonkulit putih melainkan pula kepada wanita yang sudah berkulit putih. Dengan kata lain, melalui argumentasi, baik yang tersirat maupun yang tersurat, iklan tersebut memaksa kaum hawa untuk menghilangkan citra kecantikan menurut masyarakat tradisional menjadi citra kecantikan menurut masyarakat global. Sisi persuasif iklan, terutama melalui slogan atau ungkapan, yang ditanamkan kepada kaum hawa agar mereka mau mengikuti kiat yang ditawarkan oleh model iklah tersebut. Pada sisi visual, iklan Anti Aging tersebut menampilkan seorang model indo yang notabene ditahbiskan sebagai pembawa standar kecantikan global tersebut—berkulit putih, misalnya sosok Tamara Bleszinsky dan Sofia Latjuba.&lt;br /&gt; Selain peran dunia advertising yang nyaris sempurna dalam membombardir benak kaum hawa dengan konsep cantik globalnya, peran dunia industri pun tidak kalah hebatnya. Mereka berlomba-lomba menghadirkan kemasan dan merek yang menarik untuk menjerat konsumennya agar ke dalam dunia berbau “putih”. Aneka istilah, yang kebanyakan menggunakan bahasa asing, selain white juga digunakan untuk menegaskan kepada konsumen bahwa produk mereka merupakan benda ajaib yang mampu memberikan “citra putih yang global”. Berikut adalah istilah yang digunakan oleh industri kecantikan dalam kampanye putih mereka, misalnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aulia Whitening Day Cream II, Apple Whitening Cosmetic Set, Theraderm Whitening Cosmetics, Star Smile Advanced Light Tooth Whitening System,Jericho Face Lightening Mineral Cream, Chanel Lightening Makeup Remover, Too Faced Mini Starry Eyed Liner Set, Starry Diamond Lipstick, Starry-Eye Liquid liners, Becca Cosmetics Glossy Lip Tint, Ard Glossy Lips, Sisley - Glossy Lipgloss, Aquolina Pink Sugar Glossy Body Gel, White Jade Pearls Paste Moisture &amp; Health,&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kelly Pearl Cream&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa contoh yang penulis paparkan tadi dapat penulis simpulkan bahwa beragam kosakata yang menunjukkan makna putih, bersih, dan bercahaya tadi dicantumkan sebagai bagian dari (1)  trade mark yang memberikan keyakinan sepenuhnya kepada konsumen bahwa produk tersebut benar-benar akan memberikan nuansa putih  kepadanya, seperti Chanel Lightening Makeup Remover, Elizabeth Arden Flawless  Finish Sponge-On Makeup, dan Morning Glory - Fairness Cream ;  (2) jenis warna yang memberikan keyakinan kepada konsumen bahwa warna yang ia pilih benar-benar mampu menjadikan dirinya lebih putih atau lebih bersinar, seperti Christian Dior Nail Enamel - No. 799 Gleaming Copper, Estee Lauder Pure Color Crystal Gloss - 349 Golden Nude, dan He Face Gloss #02 Polished Amber. Selain itu, produsen kosmetik kerapkali mencantumkan lebih dari satu kata yang bermakna putih atau cerah dalam trade mark produk mereka. Hal itu semata-mata dilakukan untuk mempertegas fungsi produk yang mereka luncurkan tersebut kepada konsumen bahwa produk mereka benar-benar mampu mengembalikan sinar pada wajah atau tubuh mereka, misalnya Star Smile Advanced Light Tooth Whitening System, Garnier Light Brightening Eye Roll-O, Chen Yu-Biolia Lightening &amp; Whitening Night Cream, Pretty Glossy Luscious Lipshine, Elizabeth Arden Bronzing Shimmer Powder, Glossy And Dustless Bleaching Powder, Skin White Bleaching Cream, dan Stila Shine On Gift of Glaze Lip Gloss Set.&lt;br /&gt; Data tadi juga menunjukkan bahwa merek kosmetik lebih didominasi bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Di Indonesia ada pula beberapa produsen kosmetik yang setia menamai produk mereka dalam bahasa Indonesia, misalnya Sariayu Putih Langsat Body Lotion, Sariayu Putih Langsat Pelembab / Moisturizer, Sariayu Putih Langsat Lulur Spa 2 In 1, Viva Pelembab Bengkuang, dan Purbasari Lulur Wangi Rempah.&lt;br /&gt;Sebagai tambahan, akar timbulnya budaya putih yaitu paranoid, iklan produk kecantikan yang sangat bombastik, dan serangan arus globalisasi yang mengusung konsep kecantikan global juga ditunjang oleh satu faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu budaya instan sebagai dampak era globalisasi. Konsumen tidak lagi dituntut untuk melakukan perawatan dalam tempo yang cukup lama dan melelahkan karena budaya global telah menyajikan produk industri kecantikan yang sarat janji serbaekspres dan serbamudah.. konsumen yang kurang teliti akan dengan mudah terjerat ke dalam perangkap industri tanpa memikirkan akibat yang akan ia terima kelak. Bukan tidak mungkin, seandainya tidak cocok dengan produk tersebut, ia akan menerima risiko yang berat, seperti cacat permanen, alergi, keracunan, atau bahkan kematian. Menghadapi serangan budaya instan yang terusung dalam sejumlah produk kosmetik, konsumen perlu mengetahui beberapa hal berikut, di antaranya, (1) teliti dan hati-hati dan (2) percaya dan cintai diri sendiri. Tidak ada salahnya penulis mengulang kata-kata mutiara Baudrillard dalam Adlin &amp; Kurniasih (2006:236) berikut.&lt;br /&gt;“Cintai diri Anda hingga ke ujung kaki. &lt;br /&gt;Penampilan mengesankan adalah &lt;br /&gt;penampilan prima dari ujung rambut &lt;br /&gt;hingga ujung kaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penutup&lt;br /&gt; Budaya putih lahir dari pertemuan antara sel paranoid yang berlebihan dan cairan hasrat yang membuncah untuk meraih kecantikan global. Melalui pertolongan dokter iklan, industri (yang berperanan sebagai induk) mampu menohok benak konsumen untuk menjerat mereka agar terjerumus ke dalam dunia cantik global dan mau tidak mau menghilangkan citra kecantikan ala masyarakat tradisional. Bukan hanya iklan dan kemasan yang menarik, industri juga menohok perhatian konsumen dengan mempermainkan istilah yang bermakna “muda” atau “putih”. Dalam tulisan ini, penulis membagi istilah yang dipakai oleh industri kecantikan menjadi dua bagian, yaitu istilah yang berkaitan dengan Anti aging dan whitening. Dalam kelompok Anti Aging tersebut terdapat serangkaian istilah berikut, yaitu anti aging, anti wrinkle, anti-stretcht, regenerist, rejuvenate, revival, serum, botox, age defense, reversing, nourishing, firming, Anew, revitalift, dan anti-ageing. Sementara itu, dalam kelompok whitening terdapat brightening, lightening, light, starry, glowing, gleaming, glittering, glossy, illuminated/illuminating, golden, pearl, luminous, lustrous, polished, shimmer, sparkling, shining/shiny, vanishing, gleaming, sheer, bleaching, fairness, glaze, dan flawless.&lt;br /&gt; Kosakata yang tergolong ke dalam kelompok anti aging  tadi merupakan bagian dari trade mark  suatu produk kosmetik. Kosakata tersebut sengaja dicantumkan dengan gamblang agar konsumen menaruh kepercayaan pada kosmetik tersebut bahwa produk kecantikan itu akan mengembalikan masa muda mereka, misalnya Lancome Absolue Teint Revitalizing Nourishing Makeup SP dan Valie Anti-Ageing System. Dari beberapa contoh yang penulis paparkan tadi dapat penulis simpulkan bahwa beragam kosakata yang menunjukkan makna putih, bersih, dan bercahaya tadi dicantumkan sebagai bagian dari (1)  trade mark yang memberikan keyakinan sepenuhnya kepada konsumen bahwa produk tersebut benar-benar akan memberikan nuansa putih  kepadanya, seperti Chanel Lightening Makeup Remover, Elizabeth Arden Flawless  Finish Sponge-On Makeup, dan Morning Glory - Fairness Cream ;  (2) jenis warna yang memberikan keyakinan kepada konsumen bahwa warna yang ia pilih benar-benar mampu menjadikan dirinya lebih putih atau lebih bersinar, seperti Christian Dior Nail Enamel - No. 799 Gleaming Copper, Estee Lauder Pure Color Crystal Gloss - 349 Golden Nude, dan He Face Gloss #02 Polished Ambe . Selain itu, produsen kosmetik kerapkali mencantumkan lebih dari satu kata yang bermakna putih atau cerah dalam trade mark produk mereka. Hal itu semata-mata dilakukan untuk mempertegas fungsi produk yang mereka luncurkan tersebut kepada konsumen bahwa produk mereka benar-benar mampu mengembalikan sinar pada wajah atau tubuh mereka, seperti Star Smile Advanced Light Tooth Whitening System, Garnier Light Brightening Eye Roll-O, Chen Yu-Biolia Lightening &amp; Whitening Night Cream, Pretty Glossy Luscious Lipshine, Elizabeth Arden Bronzing Shimmer Powder, Glossy And Dustless Bleaching Powder, Skin White Bleaching Cream, dan Stila Shine On Gift of Glaze Lip Gloss Set. Kebanyakan merek kosmetik ditulis dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris, termasuk di Indonesia. Hanya beberapa produsen kosmetik yang menamai produk mereka dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti dari berbagai sumber***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Naskah ini telah diseminarkan di PLU-6 Medan 2-3 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-8584325751816953942?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/8584325751816953942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/bahasa-dalam-budaya-putih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8584325751816953942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/8584325751816953942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/bahasa-dalam-budaya-putih.html' title='BAHASA DALAM BUDAYA PUTIH'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf_WiL0RlXI/AAAAAAAAACQ/RPy_0DqLd_s/s72-c/KOSMETIK+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-5251787965791845839</id><published>2009-05-04T14:45:00.003+07:00</published><updated>2009-05-04T14:53:25.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>LELAKI DI AMBANG PINTU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6euHrx86I/AAAAAAAAAB4/swaypicS9Kk/s1600-h/LELAKI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 87px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6euHrx86I/AAAAAAAAAB4/swaypicS9Kk/s320/LELAKI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331873524027093922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LELAKI DI AMBANG PINTU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti N.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah! Seperti biasanya, lelaki itu duduk bersimpuh di ambang pintu berbentuk tangga di bagian samping rumah kami. Ambang pintu itu lebih merupakan sebuah gerbang kecil yang letaknya agak tinggi dengan beberapa anak tangga kecil khas rumah jawa pada masa lalu. Lelaki yang seringkali bersimpuh di tangga pintu itu penampilannya sangat kusam. Rambutnya panjang melewati bawah bahu dengan helaian rambut yang menyatu alias gimbal di beberapa bagiannya. Kulitnya laksana berselaput jelaga tidak merata. Entah beberapa waktu lamanya ia tidak tersentuh air mandi dan sabun. Bajunya, jangan tanya! Jelas tidak kalah kusamnya dengan warna kulitnya yang telah lama terbakar habis sang surya. Meskipun demikian, ia tidak pernah memakai baju yang compang-camping. Layaknya gembel di berbagai tempat di negeri ini, lelaki itu juga bertelanjang kaki dengan telapak yang telah menebal karena lama tercium tanah, batu, dan kerikil.&lt;br /&gt;Lelaki itu setia bersimpuh setiap dua minggu sekali di ambang pintu itu. Entah sejak kapan ia lakukan hal itu. Yang jelas, aku mengingat kehadirannya sejak alat rekam di otakku mulai bekerja dengan sempurna. Namun, ada satu hal yang mengusik pikiranku adalah lelaki itu selalu menunggu ibuku. Ia dengan setia menanti kehadiran ibuku di ambang pintu. Ia baru akan pergi jika ibu sudah memberikannya bekal sebungkus nasi dan sehelai pakaian laki-laki. Ibu sering mengajaknya berbicara seolah lelaki itu teman akrabnya. Terkadang kulihat ibu meneteskan air mata menatap kepergian lelaki itu. Anehnya, jika aku mendekat, lelaki itu tampak ketakutan dan berangsur-angsur beringsut menjauh dari rumah kami. Matanya basah bersimbah air mata. Akhirnya, ibu mengatakan kepadaku bahwa aku tidak diperkenankan untuk mendekati lelaki itu. Apalah daya, aku masih terlalu kecil saat itu dan terpaksa menuruti kemauan ibuku. Si Mbok yang telah lama menjadi pengasuhku mendapatkan mandate dari ibu untuk menjauhkan diriku dari mereka. Apalah daya si Mbok yang sangat menuruti kemauan majikannya itu. Ia hanya bisa patuh terhadap perintah itu. Alhasil, aku tidak pernah diperkenankan lagi untuk mendekati mereka dan mendengarkan apa isi pembicaraan mereka. Aku hanya dapat menatap ibu dan lelaki itu dari jendela kamar yang jaraknya lumayan jauh dari ambang pintu samping.&lt;br /&gt;Ribuan pertanyaan seakan menumpuk di dalam otakku. ‘Siapa lelaki itu, Ibu? Mengapa ia sering datang menemui Ibu? Mengapa Ibu seringkali menangisi kepergian lelaki itu? Mengapa lelaki itu takut kepadaku? Mengapa ia menolak kudekati? Mengapa ia segera beringsut menjauh jika melihatku? Apakah lelaki itu hanya ingin menemui Ibu? Apakah ia juga melakukan hal yang sama di rumah lain seperti yang dilakukan oleh kaum pengemis lainnya?’ Namun, pertanyaan itu seakan layu dengan sendirinya jika ibu sudah memberikan isyarat telunjuk jarinya sebagai tanda bahwa aku dilarang bertanya kepadanya tentang hal itu. Tidak ubahnya si Mbok, aku pun hanya bisa menuruti kemauan ibu. Anehnya, apa yang ibu lakukan itu selalu tanpa sepengetahuan nenek! Ya, setiap dua minggu sekali nenek pergi ke kampung untuk melihat hamparan sawah dan kebun miliknya. Waktu kunjungan ke kampung itu bertepatan dengan jadwal kedatangan lelaki itu ke rumah. Sepertinya ibu sudah mengatur jadwal kedatangan lelaki itu ke rumah! Ah, lupakan saja, tidak baik jika aku berprasangka buruk kepadanya.&lt;br /&gt;Pertemuan dwimingguan itu selama ini selalu berjalan dengan lancar. Sepertinya momen seperti itu merupakan puncak kebahagiaan ibu. Wajah ibu akan berubah menjadi cerah meskipun terasa berat melepas kepergian lelaki itu. Sekali waktu mulutku yang selama ini telah tersumpal dari pertanyaan satu itu akhirnya tak taha juga. Aku yakin si Mbok pasti mengetahui hal itu. Kutanyakan hal itu pada si Mbok. Tentu saja, jawaban yang kuterima dari si Mbok adalah gelengan kepala dan bisikan kata ‘tidak!’ yang ia ucapkan dengan halus. Wanita tua yang setia mengabdi kepada keluaga nenekku itu berusaha bertahan dengan kepatuhannya pada ibuku untuk tidak membocorkan rahasia lelaki itu. Ah, si Mbok, kau hanyalah jongos ibu dan nenekku yang hanya dapat menerima perintah tanpa penolakan. &lt;br /&gt;Berkali-kali aku menanyakan hal itu, si Mbok masih juga bertahan. Tanpa sepengetahuanku, si Mbok mengatakan hal itu. Ibu tampak agak cemas mendengar hal itu. Namun, ia berusaha menenangkan diri dan mengatakan pada si Mbok bahwa ia harus bungkam tentang hal itu kepadaku. Lagi-lagi si Mbok mematuhi hal itu. Jadilah pintu penasaranku terkatup rapat kembali karena keputusasaanku.&lt;br /&gt;Selama ini, pertemuan rahasia itu bisa berjalan dengan rapi. Namun, ibu tidak pernah mengingat bahwa Tuhan tidak selamanya memberikan makhluknya dengan kesenangan. Tuhan juga sesekali melimpahkan makhluknya dengan kesedihan dan penderitaan. Sialnya, hari itu nenek batal pergi ke kampung. Entah mengapa ia membatalkan kepergian rutinnya itu. Biasanya, hujan, badai, dan penyakit seberat apa pun tidak pernah menjadi halangan baginya untuk  melawat harta kekayaannya itu. Kali ini sangat berbeda. Nenek tampak enggan pergi. Padahal, Mbok Nah—pelayan setia nenek—telah mempersiapkan diri sejak dini hari. Sebaliknya, hari ini ibu tampak sangat cemas dan gelisah. Padahal, ia telah mempersiapkan bekal rutinnya untuk lelaki itu sejak dini hari pula. Berkali-kali ibu berjalan hilir mudik dari kamar tidur ke taman samping. Matanya sesekali menatap ambang pintu. Raut wajahnya yang tegang menyiratkan bahwa ia dilanda rasa bimbang, di satu sisi mengharap kehadiran lelaki itu sementara di sisi yang lain ia tidak mau pertemuan rutinnya itu diketahui oleh nenek. Aku enggan bertanya kepadanya dan kucurahkan perhatianku pada hamparan mainanku.&lt;br /&gt;Rupanya nenek cukup jeli melihat tingkah putrinya itu. Nenek pun bertanya kepada ibu. ‘Nduk apa kamu sakit? Mengapa sikapmu sangat berbeda hari ini?’ Ibu yang dilatih sejak kecil sebagai putri penurut itu duduk di hadapan ibunya dan hanya dapat menjawab seraya berumam sambil menundukkan kepalanya. Ya, peraturan di rumah ini sangat ketat. Nenek masih menerapkan aturan ala priyayi dan kolonial di rumah ini.jangankan untuk tertawa lepas terbahak-bahak, bicara lantang pun sangat terlarang dilakukan. Huuuuhh kadang aku pun merasa sangat tersiksa dengan segudang aturan itu, tetapi sudahlah! Aku tidak mau memikirkan hal itu lebih lama lagi. Kukembalikan perhatianku pada mainanku saja.&lt;br /&gt;Nenek semakin intens bertanya kepada ibuku. Tampaknya nenek merasa sangat khawatir dengan keadaan ibu yang tidak biasanya itu. Ibu hanya mampu menjawab rentetan pertanyaan nenek itu dengan jawaban, ‘tidak apa-apa!’. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara ketukan di pintu samping. Wajah ibu memucat sambil menoleh ke arah suara ketukan tadi. Nenek, yang pendengarannya masih bagus, juga mendengar suara itu. Ia menggerutu, ‘Siapa yang berani mengetuk pintu rumahku?’ Pintu samping adalah sarana komunikasi penghuni rumah ini dengan masyarakat awam atau, dengan kata lain, khusus untuk anggota masayarakat kelas bawah. Mereka dilarang nenek untuk masuk dari gerbang pintu depan rumah yang bergaya jawa klasik itu. &lt;br /&gt;Mbok Nah pun dipanggil dan diperintahkan untuk membuka pintu samping. Wanita yang umurnya sebaya dengan si Mbok itu pun menuruti perintah majikannya itu. Dibukanya pintu itu dan wajahnya menyiratkan rasa terkejut yang luar biasa. Mbok Nah tidak berbicara sedikit pun dengan lelaki itu. Lelaki itu pun terkatup rapat mulutnya. Dua pasang mata itu saling menatap tak bermakna. Lama hal itu terjadi sehingga membuat nenek terusik. Ia berteriak dari dalam rumah bertanya tentang tamu yang datang itu. Mbok Nah hanya menoleh sekilas ke arah suara nenek, lalu beralih lagi pada lelaki itu. Lama kelamaan nenek habis kesabarannya. Nenek mengulangi pertanyaannya yang sama dengan nada dua tingkat lebih tinggi. Mbok Nah menoleh dengan rona bingung, tetapi mulutnya seakan terkunci. Nenek tidak sabar lagi dan segera beranjak dari kursinya. Selintas kulihat ibu semakin gelisah. Wajahnya pucat pasi. Syaraf di sekujur tubuhnya mendadak kaku. Bibirnya bergetar mengatup rapat. Mati-matian ia menahan gejolak rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Kutanya ibu. Namun, selapis tebal perekat tampak berhasil menjepit dua bibirnya yang tipi situ.&lt;br /&gt;Nenek berjalan dengan tergesa menuju pintu samping. Rasa kesal yang memuncak sudah melebihi titik ubun-ubunnya. Tapi langkahnya mendadak terhenti hebat ketika melihat siapa sosok yang hadir di ambang pintu itu. Mata tajamnya menghantarkan sinyal amarah di dalam otak. Seketika rona wajahnya berubah tegang. Kulit wajahnya memerah hebat meletupkan emosi yang telah lama reda dan terkubur ke dalam relung pemakaman jiwa dalam kalbu. Kini sukma emosi itu bangkit kembali dan bereinkarnasi kembali menjadi iblis yang ganas dan menguasai  ruang kendali di benak wanita tua itu. Dengan mudahnya, ia memerintahkan lidah nenek memainkan rangkaian kata-kata yang sarkastis hiperbolis. Kata-kata yang tak ubahnya menjadi hujaman tombak raja Majapahit tepat ke ulu hati lelaki itu. Mbok Nah pun tidak luput dari hujaman umpatan nenek. Ia bersimpuh dan menundukkan wajahnya. Kata-kata ‘indah’ terus menghujam lelaki itu, tetapi kedua kaki lusuhnya seakan kaku tertanam ke dalam bumi. Iblis pun kini menguasai tangan nenek. Secepat kilat diraihnya sebilah tongkat yang biasa dipakai untuk mengunci pintu itu. Diayunkannya tongkat itu ke arah lelaki yang sepertinya pernah ia kenali dulu.  Melihat hal itu, ibu segera pergi berlari ke arah nenek. Dipeluknya kedua kaki ibunya dan memohon kepada wanita yang tidak pernah ia berani membantahnya untuk menghentikan hal itu. Si Mbok mengikuti ibu. Nenek tidak bergeming dan berbalik mendorong ibu dengan kayu itu hingga ia terjerembab hampir menindih tubuh si Mbok. Lelaki itu semakin terpaku. Mulutnya ternganga melihat hal itu, tetapi ia tidak mampu membuka sekat suaranya. &lt;br /&gt;Ayunan kayu jati itu semakin hampir mengenai pelipis kanan lelaki itu. Beruntung, ia sempat menggelinding dan menghindari ayunan itu. Lelaki itu sempat menatap ibu lekat-lekat sebelum berlalu cepat menjaduh dan berlari entah ke mana. Ibu berteriak, “Tidddaaaaaaaaaaaaakkkkk!” Ingin ia bangkit dan berlari mengejar lelaki itu. Namun, kedua kakinya dirasakannya lumpuh layu. Ibu hanya bisa menangisi kepergian lelaki yang selalu ditunggunya itu. Nenek menghardik Mbok Nah dan memrintahkannya dengan kasar untuk mengunci pintu itu rapat-rapat, lalu ia berlalu dan mengurung diri di dalam kamar. Kedua kaki ibu benar-benar melemah. Kami harus membopongnya ke tempat tidur. Tangisannya tidak mampu kami hentikan. Ibu akhirnya pingsan lama sekali. Baru menjelang malam ia terjaga. Menangis lagi, meski kini tiada lagi bulir air mata yang dapat ia alirkan. Mulutnya hanya mampu menelan dua sendok the nasi. Hanya satu dua tetes air saja yang menggelinding ke kerongkongannya. &lt;br /&gt;Ibu jatuh sakit semenjak peristiwa itu. Suhu badannya agak naik. Semangat hidupnya seakan luput dari tubuhnya seiring lenyapnya kesempatan bersua dengan lelaki itu. Ibu, siapakah lelaki itu sebenarnya, Bu. Sesekali Nenek menjenguk ibu. Namun, reaksi ibu hanyalah tatapan kosong yang sayu. Sepertinya telah terbentang jarak yang sangat jauh di antara mereka. Aku mengajak ibu ke rumah sakit. Aku merasa khawatir dengan bobot tubuhnya yang terus menyusut seiring datangnya pergantian hari. Ibu menggeleng. Dokter Suryantini, langganan keluarga kami, akhirnya tepaksa mengiyakan keinginan ibu untuk dirawat di rumah. Tampaknya ia memahami bahwa sebenarnya jiwa ibulah yang sakit bukan fisiknya. Hanya berbungkus-bungkus obat multivitamin sajalah yang diberikannya kepada ibuku. &lt;br /&gt;Si Mbok dan Mbok Nah bergantian menjaga ibuku. Para pelayan setia itu selalu menungguku. Oh,ya, sejak kejadian itu, nenek jarang menegur Mbok Nah. Hanya sesekali saja nenek menyuruhnya. Tampaknya nenek masih menyimpan kekesalan tentang peristiwa itu. Ohh, nenek siapakah lelaki itu sebenarnya. Lelaki yang sempat memompa gumpalan amarah dalam dirimu. Dosa apakah yang telah ia perbuat hingga kau sanggup menghidupkan kembali putri emosi dan pangeran dendam dalam tidurnya. Jangankan bertanya kepada nenek, kepada ibu pun aku tidak pernah mendapatkan jawaban tentang itu. Si Mbok? Oh tidak. Kedua Mbok yang kukenal demikian setia mengatup rapat mulutnya jika aku bertanya-tanya. &lt;br /&gt;Hari demi hari berlalu. Kondisi ibu tidak pernah berubah. Bobotnya terus menyusut. Matanya kian sembab karena seringnya ia mengundang tangisan. Tangis tanpa harapan. Ingin rasanya kucari lelaki itu agar ia dapat bertemu dengan ibuku. Tapi di mana? Sedikit pun informasi itu tidak kudapatkan. Hampir dua minggu ibu terbaring lemah di tempat tidur. Kali ini bertepatan dengan jadwal kunjungan nenek ke kampung. Anehnya, nenek tidak serta merta mengajak Mbok Nah bersamanya. Nenek hanya pergi dengan sopir setia di keluarga kami, Pak Ngadiman. Nenek hanya melihat ibu  sejenak di ambang pintu kamar, lalu pergi. &lt;br /&gt;Beberapa jam setelah kepergian nenek, terdengar lagi suara ketukan pintu samping. Mata ibu yang terpejam lemah sejak pagi mendadak terbuka. Senyumnya mengembang. Sepertinya ibu sudah dapat menduga siapa yang akan datang siang itu. Ia menatap Mbok Nah dan si Mbok sebagai tanda pengharapan ibu kepada keduanya untuk membukakan pintu. Kedua pelayan itu saling menatap. Keduanya tampak bimbang  karena terjepit antara setia pada nenek dan iba pada ibu. kumohon kepada si Mbok untuk membukakan pintu itu. Dengan berat hati, si Mbok beranjak dan berjalan menuju pintu samping. Tentu saja karena inilah pelanggaran pertama yang mereka lakukan terhadap nenek selama rentang pengabdian yang sangat panjang yang telah mereka lakoni sejak belia. Perlahan si Mbok membuka palang pintu. Selanjutnya, ia membuka daun pintu yang terbagi dua itu. &lt;br /&gt;Ternyata lelaki itu! Mbok tampak kebingungan. Anehnya kedatangannya seperti tercium dari jauh oleh ibu. mendadak ingin bangkit, meskipun sulit. Terpaksa kami membopong ibu dengan susah payah dan mendudukkannya pada sebuah balai-balai gantung besar yang terbuat dari rotan di bawah pohon sawo. Ibu menatap si Mbok. Lengannya memberi tanda agar mengajak lelaki itu mendekatinya. Mbok berkata dengan halus kepada lelaki itu agar ia menemui ibu di dalam. Semula lelaki itu tidak mau. Si Mbok mengatakan bahwa nenek tidak ada di sini dan ia tidak perlu merasa takut. Dikatakan pula oleh wanita tua itu bahwa ibu dalam keadaan sakit sejak peristiwa dua minggu silam. Berkali-kali lelaki itu diyakinkan bahwa nenek tidak ada di rumah. Akhirnya, lelaki itu beranjak dari ambang pintu. Untuk pertama kali ia melangkahkan kakinya di halaman rumah ini. Masih besar rasa ragu melingkupi sekujur tubuhnya, tampak dari sorot mata dan sikapnya. Namun, rasa sedih menyergap cepat pada dirinya tatkala ia melihat ibu terkulai lemas dibalai-balai itu. Langkahnya dipercepat dan bersimpuh di kaki ibu. Tangis lelaki itu pun pecah tanpa kata. Ibu menggenggam tangan lelaki itu dengan lemah dan memintanya duduk di sisinya. Lelaki itu menatapku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain beringsut menjauhi ibu. lelaki itu menuruti kemauan ibu, duduk di sisinya. Tanpa ragu ibu bersandar di bahu kurus lelaki itu. Lelaki itu membalasnya dengan pelukan penuh kasih. Kulihat sorot mata keduanya memancarkan indahnya kenangan masa lalu yang harus terkubur jauh ke dalam relung isi perut bumi. Lama ibu tersenyum sambil menikmati kenangan indah itu. Tiba-tiba mata ibu terpejam, bibirnya mengulas senyum indah, raut wajahnya berubah menjadi cerah, dan kepalanya terkulai lemas. Iiiibbbuuuuuuuuu! Hanya itulah yang keluar dari mulutku. Kupeluk ibu. lelaki itu memeluk dan mengelus kepala dan wajah ibu teriring rasa duka tiada tara. Tangisnya pecah lagi. Si Mbok dan Mbok Nah tak kuasa menahan haru. &lt;br /&gt;Kami membopong tubuh ibu yang tak bernyawa ke atas pembaringan. Tak kusangka pertemuan ibu dengan lelaki yang sangat ditunggunya itu pertanda ajal baginya. Lelaki lusuh itu seolah tidak mau beranjak dari sisi ibu. Linangan air matanya tak henti mengalir. Aku masih dibungkam rasa heranku. Lelaki itu terpaksa beranjak  ketika didengarnya suara kendaraan yang milik nenek  di parker di garasi. Dengan beban duka yang sangat berat, ia pergi tergesa-gesa menuju pintu samping. Pembantu lain segera menutup dan mengunci pintu itu dengan rapi. &lt;br /&gt;Aneh tak kulihat raut sedih di wajah nenek. Ia datang seperti tidak ada apa-apa. Seperti tidak ada satu kehilangan. Ada apa sebenarnya? Pertanyaan itu tak pernah terjawab.&lt;br /&gt;Tiga hari setelah kematian ibu. Kubuka lemari baju antik kesayangan ibu. Kubuka salah satu laci di lemari itu dan kutemukan sebuah buku harian milik ibu bersampul merah darah berhiaskan kata diary  dengan tinta emas. Lembar demi lembar halaman berhiaskan lukisan kembang setaman itulah yang membukan pintu jawaban bagiku. Ya, jawaban tentang siapa lelaki itu, siapa ibu, dan siapa nenek sebenarnya. &lt;br /&gt;Satu bulan setelah kematian ibu. Tak sengaja aku berlindung dari sengatan matahari di sebuah kios penjual koran. Tak sengaja pula berputar menatap lay out koran dan majalah yang dipajang padat di dinding kios itu. Tak sengaja pula mataku tertuju pada sebuah headline satu terbitan koran hari itu lengkap dengan sebuah foto: Seorang Lelaki Tak Dikenal Tewas Tertabrak Sebuah Truk di Jalan Sukoharjo. Ya, kutatap lekat-lekat foto itu. Ya, foto lelaki itu. Lelaki di ambang pintu. *****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-5251787965791845839?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/5251787965791845839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/lelaki-di-ambang-pintu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5251787965791845839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5251787965791845839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/lelaki-di-ambang-pintu.html' title='LELAKI DI AMBANG PINTU'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6euHrx86I/AAAAAAAAAB4/swaypicS9Kk/s72-c/LELAKI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-5982450168880739574</id><published>2009-05-04T14:42:00.001+07:00</published><updated>2009-05-04T14:45:01.130+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>“KEPRIBADIAN ALINA”: MEMBELAH SISI KELAM  DUNIA YANG RAPUH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“KEPRIBADIAN ALINA”: MEMBELAH SISI KELAM &lt;br /&gt;DUNIA YANG RAPUH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber Resensi:&lt;br /&gt;Judul  : “Kepribadian Alina”&lt;br /&gt;Penulis  : Suminaring Prasojo&lt;br /&gt;Penerbit : Diva Press (Yogyakarta)&lt;br /&gt;Cetakan : pertama, September 2008&lt;br /&gt;Tebal  : 370 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dendam akan menelusup ke relung kesadaran seorang anak akibat kekerasan yang dilakukan orang tuanya di masa kecil. Dendam membalas dan dendam kompensasi. Pada dendam membalas, anak akan melakukan tindak kekerasan yang pernah dialaminya terhadap orang lain. Sedangkan pada dendam kompensasi, anak akan bereaksi dengan sebaliknya. Ia menjadi overprotektif dan mengasihi secara berlebihan orang-orang terdekatnya. (KA:114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kutipan itu terdapat dalam sebuah buku yang dibaca oleh Reyssa, sahabat Alina, atas “keanehan” yang ia temukan pada sahabatnya yang kelak ingin ia miliki sebagai seorang pendamping hidupnya itu. Buku itu seakan mampu memberikan jawaban atas pengamatannya pada sosok Alina. Kutipan itu pula yang memberikan pemahaman pada sikap tokoh Alina dan Reyssa itu sendiri.&lt;br /&gt; Membaca “Kepribadian Alina” dari halaman awal sampai halaman akhir seperti kita menelusuri sebuah lorong panjang gelap yang berliku, turun-naik dengan terjal, dan saling menyambung. Dengan demikian, kita akan diajak untuk melatih ketajaman naluri dalam menentukan arah cerita. Adakalanya kita salah memilih jalan yang membuat kita memutar ke kekelaman sebuah lembaran sejarah yang keji. Namun, adakalanya kita terlempar begitu pada masa depan yang terselubung kabut pekat. Lorong itu bukan hanya hadir dalam dunia cerita, tetapi kerapkali muncul dalam realita. Lorong yang tidak ubahnya seperti sebuah labirin tak berakhir itu dimiliki oleh seorang Alina dalam “Kepribadian Alina”. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jika sebagian besar orang sangat terobsesi dengan domain putih di dalam kehidupannya dan begitu ingin disebut orang baik atau suci, mungkin Alina adalah satu pengecualian. Gadis itu lebih memilih  labirin asing dengan warna kelabu. Perpaduan antara hitam dan putih. (KA:16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alina laksana seorang bidadari yang membungkus sebuah bom granat raksasa. Granat itu sesekali akan meledak hebat jika tekanan yang datang dari dunia di sekelilingnya sedemikian besar. Bidadari itu akan memuntahkan ledakkannya meskipun bukan untuk orang lain, tetapi karena orang lain. Jika Alina mendapatkan sandungan, tubuhnya akan mengejang hebat seperti ia sedang berhadapan dengan sebuah sosok makhluk yang sangat mengerikan. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya sebelum meledak dengan hebat. Pemandangan berikutnya adalah Alina yang mengamuk seperti seekor singa yang marah karena didatangi rivalnya. Tak ayal barang-barang di sekitarnya akan melayang hebat ke segala arah. Setelah itu, ia akan kehilangan segalanya, stamina dan kesadarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah buku melayang di udara, lalu menubruk vas keramik hingga terbanting ke lantai. Pecah. Buku yang lain menyusul  dan menimpa monitor komputer, lantas teronggok di meja komputer. Buku-buku yang lain pun berhamburan, bertebaran ke berbagai arah dan bagian kamar. Suara robohnya rak buku terdengar kemudian. Berdebam keras, terantuk lantai. Berantai. Semua buku tak lagi berada di tempatnya semula. Sebagian halaman terkoyak, banyak yang sampulnya terlepas. (KA:34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah Alina, seorang bidadari muda yang terbungkus selembar kertas kado eksklusif dan berhiaskan jalinan pita yang berkilauan. Performan yang indah itu mampu menyedot atensi, baik dari lawan jenis maupun sesama jenis. Ya, Alina memang cantik … sangat cantik. Kecantikan hampir sempurna yang berpadu indah dengan kecerdasan yang sangat luar biasa. &lt;br /&gt; Alina terlahir sebagai putri sulung (anak kedua) dari pasangan Raharjo dan Setiawati. Alina memiliki seorang kakak laki-laki dan tiga adik perempuan. Kehidupan masa kecil Alina sangat suram. Raharjo adalah jurangan nelayan di sebuah daerah pesisir di Cilacap. Raharjo ternyata merupakan seorang lelaki pesakitan yang menanggung sejarah kelam masa lalu (hlm. 165—169). Masa lalu itu berpadu dengan tanaman fitnah yang ditancapkan sang ayah jauh ke ulu hati. Akibatnya, Raharjo sejak secil telah menaruh kebencian kepada sosok yang seharusnya ia sayangi seumur hidupnya, ibunya. Ya, ibunya memilih untuk hengkang dari kehidupan rumah tangganya dan keluarga kecilnya hanya karena sebuah penolakan atas satu hal yang paling menyakitkan dalam kehidupan wanita, poligami. Sejak itu, Raharjo memandang bahwa ibunya tidak lebih dari seorang wanita binal, yang bejat, hina-dina. Sejak saat itu, Raharjo menaruh benci pada lawan jenisnya, terkecuali kepada Setiawati—satu-satunya wanita yang bersedia untuk menikahinya.pernikahan tidak menyurutkan kebencian Raharjo pada wanita, ia meperlakukan istrinya dengan semena-mena. Selain itu, Raharjo juga berlaku sama pada anak-anaknya. Raharjo merasa kecewa karena ia hanya mendapatkan seorang anak laki-laki dalam pernikahannya. Selebihnya, ia didominasi kehadiran tiga anak perempuan. Perempuan! Sumber kebencian Raharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak perirtiwa itu, Raharjo tumbuh menjadi lelaki keras, sama dengan ayahnya, dan berpandangan miring terhadap perempuan. (KA:168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kesetiaan Setiawati tidak pernah melunturkan kebencian Raharjo. Meskipun siksaan kerapkali diterima dari suaminya, ia tetap mencintai Raharjo. Meskipun Raharjo pernah tergiur oleh godaan sahabat istrinya sendiri dan menggerus harta yang notabene milik Setiawati, tetapi wanita tabah itu bersedia menerima kembali lelaki kejam itu. Kekejaman Raharjo yang juga berlaku kepada keempat anak-anaknya juga. Akibatnya, dua anak Raharjo, Alina dan Sarah, bertekat untuk hengkang dari rumah ibarat neraka itu. Sarah pergi karena rasa kecewa yang sedemikian tinggi saat kehilangan calon suaminya, Damar. Damar batal mempersunting Sarah karena dianggap belum layak sebagai seorang suami di mata Raharjo. Sarah melarikan diri dan menikah dengan seseorang yang asing baginya. Sejak saat itu, Sarah tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah sekalipun Sarah menelepon. Sama sekali tak pernah. Hingga akhirnya, lewat email ke Alina, ia mengabarkan tentang perkawinannya dengan seorang pria yang sama sekali asing bagi keluarganya. Tak seorang pun mengetahui siapa dia. Sejak saat itu pula, Sarah memutuskan hubungan dengan keluarga besarnya. (KA:56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina merupakan gadis pemberontak yang bersikeras untuk menghirup indahnya dunia seni. Seni bagi Raharjo merupakan pekerjaan tak layak bagi seorang bangsawan seperti dirinya dan keluarganya. Ia menentang keras keinginan Alina. Meskipun telah dihujani hukuman keras, tekat Alina tidak luntur sedikit pun. Dari sebuah kamar mandi usang di rumah neraka itu, Alina melayangkan surat pada sang bibi di kota seni agar ia membantu dirinya. Tangan halus dan curahan kasih sayang bibinya itulah  ia mampu mengasah kepekaan dalam dirinya dan mewujudkan cita-citanya. Di sinilah ia mampu merasakan sentuhan halus dan pendidikan mental yang luar biasa. Ia seakan mendapatkan pengganti ibunya yang lebih banyak meleburkan diri dalam deritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu, Raharjo tumbuh menjadi lelaki keras, sama dengan ayahnya, dan berpandangan miring terhadap perempuan. (KA:168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal bibinya, Alina seperti serpihan kapas yang melayang tak tentu tujuannya. Alina memutuskan untuk hengkang ke metropolitan dan berkutat dengan tulisan-tulisannya yang kerap meraih kategori best-seller. Hanya dalam tulisannya itulah Alina mendapatkan tempat untuk menyampaikan segala siksaan emosi yang demikian telah membeku dalam dirinya. Meskipun demikian, Alina belum mampu menemukan obat untuk membunuh penyakit kronis yang ada dalam dirinya. &lt;br /&gt;Penderitaan Alina semakin bertambah dengan ketidakberesannya dalam menjalin hubungan asmara. Sederetan nama hadir dalam kehidupannya. Namun, Alina seakan terbentur dengan tembok kekecewaan yang demikian tebal. Sejak perlakuan buruk ia terima dari ayahnya, Alina telah menghapus sedikit demi sedikit kekagumannya pada lawan jenisnya. Ia tidak dapat menerima superioritas lelaki. Ia tidak dapat menerima kelebihan lawan jenisnya yang tidak dimilikinya. Ia menganggap lelaki tidak mau mengerti dirinya dan kemauannya. Kekecewaan terbesar ia temukan pada sosok Biru—lelaki yang paling dikaguminya. Berjuta harapan telah ia gantungkan ke langit ketujuh demi menjelang kebahagiaan bersama sang pujaan. Namun, Biru seakan tidak mengerti harapan tinggi Alina dan meninggalkan bidadari yang terkapar dalam deraan depresi itu tanpa kabar berita. Kelak, pertemuan kembali dengan Biru yang sudah mapan semakin memperlebar luka lama Alina—yang sebenarnya ingin memulihkan dirinya bersama lelaki itu kembali. Kebiasaan buruk Biru yang ia saksikan sendiri telah memupuskan harapan indah miliknya yang muncul untuk kedua kalinya. Sejak saat itu, Alina berperanan sebagai seorang penguji atas kesabaran lelaki yang mau mendekatinya. Kebanyakan menemui kegagalan mutlak. &lt;br /&gt;Sepeninggal Biru untuk pertama kalinya, Alina sempat berlabuh di pelukan Sapta, seorang seniman lukis yang berjuang keras untuk mewujudkan galeri impiannya. Sayang alina harus menelan kekecewaan besar karena Sapta tidak dapat memenuhi janjinya. Alina harus kehilangan Sapta untuk selama-lamanya. Nama Frans sempat hadir dalam kehidupan gadis penyendiri itu. Namun, lelaki itu dengan berat hati harus mengalah pada keinginan Alina untuk berpisah. Padahal, Frans sepenuhnya telah menaruh hati pada gadis cantik kelahiran pesisir selatan pulau Jawa itu. Alina sempat berjumpa dengan sang Captain—julukan yang ia berikan pada seorang duda cerai yang berkepribadian sangat matang. Pemahaman Captain pada Alina sangat tinggi, bahkan melebihi kepekaan Biru. Namun, entah mengapa Captain tidak berhasil menyunting Alina. Selain itu, nama Bram pun hadir sebagai lelaki terakhir dalam hidupnya. Bram seperti Captain, ia mampu memahami gejolak yang senantiasa berkecamuk dalam diri  Alina. &lt;br /&gt;Sebenarnya Bram dan Captain bersedia mendampingi Alina dalam suka dan duka sebagai pasangan resmi. Namun, Alina yang sudah menaruh rasa cintanya pada kedua lelaki itu tidak menginginkan mereka untuk terlibat lebih jauh ke dalam dunia kelam traumatisnya. Ia tidak ingin membiarkan mereka menyerahkan kebahagiaan sendiri demi mengobati penderitaannya. Padahal, sesungguhnya Alina membutuhkan sosok mereka—baik Captain maupun Bram—sebagai sarana terapi penyembuhan sakit batinnya itu. Sepenggal kata hati Alina untuk Bram juga mewakili harapan yang sama gadis itu, seperti yang ia tujukan juga kepada Captain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, Bram. Aku terpaksa meninggalkanmu sedemikian cepat karena aku tak ingin kau ikut tergelincir hingga hanyut dan terluka dalam buram masa laluku. Aku harus pergi untuk membuatnya jernih agar tak lagi membuatku takut bercermin. Entah apa yang akan terjadi nanti, esok, ataupun di masa datang. Apa pun itu, aku harus memutuskan pergi darimu, Bram …. (KA:329)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina yang sesungguhnya memerlukan perlindungan dari lawan jenisnya itu, terpaksa menekan impiannya dalam-dalam ke sebuah dasar yang tiada terukur. Demi mengamankan diri, Alina pergi melarikan diri dari kekasihnya itu. Ia kembali ke rumah bibinya di Yogyakarta, tempat ia merasa menjadi penghuni surga. Meskipun demikian, tekanan emosi yang ia bawa dari kota metropolitan sudah sedemikian tidak terukur dan tidak tertahankan. Alina menderita depresi berat dan menjadi pelanggan seorang psikiater di sebuah rumah sakit jiwa. Ternyata, obat-obatan yang diberikan bukan menjadikan Alina sembuh melainkan semakin tertekan jauh ke kedalaman yang terrendah di dasar permukaan bumi. Alina semakin menderita. Bahkan satu-satunya jalan tempat mencurahkan hatinya, menulis, tidak dapat ia lakukan. Obat-obatan antidepresan telah menutup imajinasi dan konsentrasinya. Alina tidak dapat mencurahkan isi hatinya. Ia merasa kecewa. Kebenciannya pada obat itu semakin menjadi. Obat-obatan yang harganya tidak murah itu akhirnya hanya menjadi penghuni kloset di kamar mandi rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar, tanpa mempedulikan apa pun, secepat kilat Alina beralih ke sebuah kotak obat. Diraihnya obat-obatan antidepresan, lantas tergesa-gesa ia berlari ke toilet. Dibukanya penutup kloset dengan kasar. Tanpa berpikir panjang, Alina menumpahkan butiran-butiran obat itu, membuangnya ke lubang kloset. Tak puas dengan gelontoran air dari sistem keran di kloset, dia menyiramkan bergayung-gayung air ke lubang kloset. Rasanya begitu ingin Alina menjungkirkan seisi bak ke sana, untuk memusnahkan obat yang membelenggu jiwanya itu. (KA:339)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain masalah besar yang ia usung dari kamppung halamannya dan kisah cintanya yang kelabu, Alina juga memendam rasa kecewa yang luar biasa pada sebuah kehilangan yang lain. Kehilangan Rey, sahabatnya, yang selama ini cukup membuatnya mendapatkan tempat untuk curahan hatinya. Meskipun Rey menganggap kehadirannya dengan pandangan yang berbeda—Rey seorang lesbian maskulin yang menganggap Alina sebagai pasangan hidupnya yang abadi, Alina tetap menganggap Rey sebagai pelindung bagi dirinya. Meskipun yang menganggap Rey sebagai sahabat karibnya, Alina bersedia berjuang demi gadis tomboy korban perkosaan kekasihnya itu. Ketika Rey—ketua sebuah LSM yang membina PSK di kota metropolitan—mengalami kesulitan finasial karena tersandung hubungan politis dengan pihak penyantun (hingga ia tersereet ke pengadilan), Alina bersedia  menyerahkan hati nuraninya demi mendapatkan dana besar yang dapat menyelesaikan masalah Rey. Sayangnya, Alina datang terlambat. Rey yang tidak mampu menahan rasa malu dan tekanan batinnya memutuskan untuk bertindak lebih cepat dari perkiraan Alina. Ia melakukan tindakan bunuh diri untuk melepaskan diri dari masalah yang melilitnya. Sekali lagi sebuah beban berat menghantam kehidupan Alina ke dalam kehancuran.&lt;br /&gt;Perkawinan sejuta jalinan kekecewaan dalam novel “Kepribadian Alina” sangat memadati alur cerita. Tokoh-tokoh yang tampil dalam tidak mendapatkan ruh danau kasih sayang, terutama dari kalangan terdekatnya. Sesuai dengan salah satu sub bab yang terdapat dalam “Kepribadian Alina”, yaitu Jiwa-Jiwa yang Terpasung, seperti itulah kondisi tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Secara umum, “Kepribadian Alina” merupakan sebuah refleksi lingkungan yang isinya sarat makhluk dahaga—dahaga akan kasih sayang, dahaga akan pemahaman, dan dahaga akan penghormatan harga diri. Kini dalam kondisi yang serbaglobal dan serba instan, bukan tidak mungkin banyak bibit kehidupan yang sarat dahaga itu karena mereka telah kehilangan tokoh yang seharusnya berada di sisi mereka, ayah, ibu, saudara, atau kerabat. Berkaitan dengan kasus Alina, hal itu terjadi karena adanya salah penanganan hubungan antaranggota keluarga. Sejak awal, hubungan itu sudah rapuh dan lebih banyak dibumbui hujan kekerasan yang sangat dahsyat. Kondisi tersebut lambat laun telah memupuskan rasa hormat terhadap kedua orang tua. Lambat laun hal itu akan menanam bibit kebencian yang dapat tumbuh dengan cepat dalam waktu yang tidak terlampau lama. Kebencian yang memuncak itulah yang berperan sebagai pemicu pemberontakan radikal, seperti yang dilakukan oleh Alina dan Sarah.&lt;br /&gt;Hanya saja, pemberontakan tersebut rupanya berbuntut panjang. Pemberontakan itu sempat berbuahkan kebahagiaan ketika (1) tokoh Alina bertemu dengan Biru dan Bram serta (2) tokoh Sarah bertemu dengan Doni. Namun, kebahagiaan yang seharusnya diterima mereka rupanya tidak ubahnya sebuah fatamorgana, semakin dikejar semakin menjauh. Biru ternyata tidak lebih dari seorang malaikat penjilat yang senang mengumbar janji kepada setiap makhluk terindah yang bersedia diajaknya berkencan. Padahal, pada saat yang sama, Alina telah menggantungkan sejuta harapan pada kekasihnya itu. Alina telah menghujamkan segala negative thinking yang telah dipatoknya kepada setiap lelaki. Bram sebenarnya lelaki yang baik, tetapi Alina merasa khawatir kebaikan lelaki itu akan sirna jika terseret terlampau jauh pada kekelaman dirinya. Sementara itu, Sarah sangat terobsesi dengan mendiang suaminya yang mati terbunuh tanpa terungkap kasus kematiannya itu. Sarah selalu merasa bahwa Doni itu ada dan hadir di depan mata, tetapi tatkala ia akan menjamah bayangan itu menjadi absurd dan menghilang menjejakkan duka. (Resti Nurfaidah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-5982450168880739574?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/5982450168880739574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/kepribadian-alina-membelah-sisi-kelam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5982450168880739574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5982450168880739574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/kepribadian-alina-membelah-sisi-kelam.html' title='“KEPRIBADIAN ALINA”: MEMBELAH SISI KELAM  DUNIA YANG RAPUH'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-5149650864149297502</id><published>2009-05-04T14:09:00.001+07:00</published><updated>2009-05-04T14:10:44.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6U3cdPi_I/AAAAAAAAABw/Li7LKfDQ8Rw/s1600-h/ISTANA+KEDUA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 86px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6U3cdPi_I/AAAAAAAAABw/Li7LKfDQ8Rw/s320/ISTANA+KEDUA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331862689105808370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Hati terhenyak pasca membaca novel ini karena telah menyelami permainan alur dan barisan kalimat lancar sejak awal sampai akhir cerita. Hati turut terhenyak dan terhempas ke dalam bantalan pasir luas berbatu kerikil tajam mengingat penderitaan seorang perempuan bernama Arini yang tergantung dan terkatung pada akhir cerita. Hati turut tercabik dan lelah seketika mengingat jalan Arini masih sangat panjang tanpa sempat terucapkan dalam cerita. Arini masih harus ber-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juang antara bertekad memperbaiki keadaan atas pengalaman yang sama yang pernah diderita seorang perempuan yang selama ini dipanggil ibu. Pengalaman yang tidak kalah dramatis yang dialami ibunya kini mendera dirinya setelah sepuluh tahun perkawinannya.&lt;br /&gt; Arini? Siapa Arini sebenarnya? Ya, dialah tokoh utama dalam Istana Kedua karya Asma Nadia yang bertutur tentang pergolakkan dahsyat seorang perempuan yang berkedudukan sebagai istri dan ibu dari buah perkawinan dengan lelaki yang sangat dicintainya itu. Arini merupakan refleksi dari jutaan wanita yang mengalami badai dahsyat rumah tangganya. Arini merupakan cerminan antara nafsu dan sabar, gelegak amarah dan tabah, serta deburan ombak cemburu dan kebisuan. Arini merupakan wakil para wanita yang tidak pernah menduga bahwa tembok cinta sekokoh apa pun akan luruh karena desakan sebaris kecil akar tanaman gulma yang sekedar ingin menampakkan diri. Arini adalah seorang wanita yang tidak pernah menduga bahwa cinta terkaribnya pada suatu saat akan tercabik dan terengut dari kalbunya.&lt;br /&gt; Arini dikisahkan terbiasa dengan keindahan kisah atau dongeng sebelum tidur yang senantiasa berakhir bahagia. Selama menempuh pendidikan tingginya ia pun terbiasa dengan goresan cerita yang indah. Pada saat menikah menjelang wisuda pun ia masih terseret arus keindahan dongeng yang dihadapinya. Namun, sebagai putri di dalam kisah impiannya, Arini lupa bahwa cerita perkawinan memiliki ribuan arus yang bias antara yang lurus dan yang menyimpang. Ia terhanyut ke dalam keindahan dan impian yang memabukkan hingga ketiga buah perkawinan itu hadir menjadi pelipur pasangan itu. Arini lengah bahwa daun tempat ia berlayar bersama belahan jiwanya memiliki setitik celah yang semakin lama semakin lebar. Arini tidak pernah mempersiapkan bahwa banyak pihak yang mengintai untuk mencabut ketenangan pelayaran dirinya. Arini lupa bahwa dunia dongeng pun memiliki banyak titik hitam yang dapat mengakhiri keindahan kisahnya. &lt;br /&gt; Pasca perkawinannya, Arini seakan berperanan sebagai seorang putri raja yang bersanding dengan seorang pangeran idaman yang telah memenangkan pertarungan. Ia jadikan bahu sang pangeran sebagai sandaran ternyaman di dunia untuk tempatnya berlabuh  dan menenangkan segala angan dan impiannya. Ia tidak menyadari bahwa pada suatu waktu, bahu sandaran itu akan aus dan pegal sehingga mau tidak mau harus mengganti posisinya. Ia tidak menyadari bahwa di luar pagar rumahnya, banyak pula bidadari lain yang iri dan menginginkan bahu yang sama yang selama ini telah diklaim Arini sebagai miliknya seumur hidup. &lt;br /&gt; Akibatnya, ketika celah pagar memuai semakin lebar dan sesosok bidadari berhasil melewati celahnya, Arini benar-benar terkesiap kaget. Ketika celah dalam bahtera daun impian Tumbelina terbuka semakin lebar, Arini merasa dihujam ribuan sembilu. Ketika aura kebahagiaan terpaksa memecah belah, Arini seakan terhempaskan ke dalam dasar jurang yang mahadalam. Ketika bahu sandaran bergeser jauh ke seberang, Arini pun tidak mampu lagi menjejakkan kedua kakinya yang kini dirasakan tidak berotot dan bertulang.&lt;br /&gt; Ya, Arini alpa besar bahwa Andika Prasetia bukanlah miliknya secara mutlak seumur hidupnya. Arini lupa bahwa ribuan pasang mata perempuan lain mengincar tempat yang sama di dalam kalbu sang pangeran yang ia miliki dengan hampir tanpa hambatan yang berarti itu. Arini lupa bahwa sang pangeran hanyalah titipan Illahi yang, ibarat sebuah wayang golek, dapat digerak-gerakkan sang pencipta oleh siapa saja. Arini alpa bahwa sang pangeran bukanlah hadiah eksklusif yang Allah berikan kepadanya. Arini khilaf bahwa sang pangerang hanyalah pinjaman sesaat dari sang pencipta. &lt;br /&gt; Arini yang tidak siap dengan peristiwa ‘kehilangan’ besar dalam sejarah perkawinannya itu, dihadang oleh berbagai aral melintang di depan matanya. Arini tidak bisa bersikap leluasa untuk menumpahkan segala deritanya, terutama, jika ia sedang berada di depan anak-anaknya yang memiliki ‘sensitivitas’ tinggi. Terlebih, si sulung yang bernama Nadia. Ia harus rela mencuri dan menunggu waktu yang tepat untuk menumpahkan air mata dan kekesalannya yang seakan menyodok keras rongga dada dan kelopak matanya tiada ampun. Arini pun dihadang kenyataan bahwa ‘suri teladan kemesraan’ yang selama ini ditunjukkan oleh kedua orangtuanya, ternyata dibentuk atas dasar dosa pada masa lalu yang kini menimpa dirinya. Arini akhirnya berlabuh di pangkuan ibunya setelah menyaksikan sendiri kemesraan sang pangeran kepada belahan hati yang lain. Dari wanita itulah Arini akhirnya mendapat kekuatan untuk berjuang mengambil kembali keeping-keping impiannya. Titik-titik semangat pun mulai terjalin menjadi helaian benang harapan yang ia pastikan mudah ditenunkan. Namun, semangat itu kandas  di tengah kebimbangan atas situasi  yang ia rasakan di dalam ‘istana kedua’ suaminya.&lt;br /&gt; Istana Kedua mencerminkan gugatan seorang wanita bernama Arini terhadap salah satu hukumullah. Namun, gugatan tersebut seakan tidak pernah tersampaikan seiring menggantungnya nasib Arini pada akhir cerita. Semangat juang untuk menarik kembali sang pangeran ke dalam pelukannya terhadang situasi yang sangat tidak memungkinkan saat itu. Lidah Arini pun seakan kelu untuk menjalin kata yang dianggap ‘ampuh’ untuk merekatkan kembali fragmen sang pangeran dalam kalbunya.&lt;br /&gt;Putri raja kedua dalam dunia sang pangeran rupanya sudah terpaut erat hatinya kepada lelaki pujaannya itu. Ia melakukan berbagai cara agar malaikat penolongnya itu tidak pernah menjauh dari perangkapnya. Hal itu dilakukannya karena merasa mendapatkan figur yang ia dambakan yang selama ini seakan sebuah fatamorgana dalam sejarah hidupnya. Didera trauma berkali-kali oleh beberapa kaum lelaki yang telah mempermainkannya laksana sebuah boneka usang yang koyak, sang putri, Mei Rose, tidak ingin kehilangan lagi pangeran impiannya yang ia nilai ‘berbeda dan istimewa’ itu. Lidah sang putri yang diwarisi aura kesombongan  itu dengan tegas menyatakan ketidakinginan dirinya untuk melepas ‘tawanannya’ dan, bahkan, dengan terang-terangan ia menyatakan isyarat perang  kepada pesaingnya dalam kalimatnya sebagai berikut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sementara satu-satunya hal baik yang pernah terjadi seumur hidupku hanya Pras!” (IK, 2007:242)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kalimat itulah  sang putri mengunci sang pesaing. Sang putri tidak ingin melepaskan nikmatnya tetes-tetes embun cinta yang tidak kuasa lagi dibendung benteng pertahanan sang pangeran. Ia berhasil membuat sang pangeran merasa terenyuh dengan kisah garis hidupnya yang mahadrastis itu. Jeratan itulah yang berhasil membuat sang tawanan tidak berkutik dan hampir tidak mampu melihat kehadiran ‘sang penjemput’ yang sudah di ambang batas kelelahan penantian dan harapannya untuk membawa pulang pangeran impiannya itu. &lt;br /&gt;Ia menampik pernyataannya dalam sebuah pesan penuh harapan yang ia kirimkan ke sembarang pos-el bahwa ia tidak menuntut sebagai pihak full-timer kepada pasangan hidup yang berminat kepadanya (hlm.12). Ya, ia hanyalah manusia biasa dengan segala kelemahan. Ketika kenikmatan telah direguknya, tentu saja ia tidak ingin melepaskan sumber kenikmatannya itu. Arini yang semula senantiasa pasrah dengan peristiwa yang dihadapinya, terutama jika di depan sang pangeran pujaannya yang bernama Pras, tidak mampu memperjuangkan semangatnya dan kembali ketitik ketidakberdayaan. Sementara itu, pangeran yang bernama Pras tidak mampu memegang janjinya sendiri untuk menahan tembok cintanya untuk Arini ketika pada saat yang sama rekan-rekan asyik mengumbar alasan untuk mendua hati. Namun, sang pangeran bukanlah makhluk yang tercipta dari besi dan baja yang mampu bertahan dari badai yang berhembus dahsyat dari kedalaman lautan. Ia tidak mampu menahan hasrat dan mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa ia telah jatuh cinta lagi kepada putri yang lain, putri yang kedua yang tidak lain berwujud ‘itik buruk rupa’ bernama Mei Rose.&lt;br /&gt;Membaca Istana Kedua seakan membaca keindahan tentang ketidakberdayaan makhluk yang bernama manusia. Ketidakberdayaan manusia untuk menahan hasrat, baik hasrat bak malaikat maupun hasrat bak setan, ketidakberdayaan terhadap kenyataan hukumullah, ketidakberdayaan untuk mengalahkan angan, dan ketidakberdayaan terhadap fakta kehidupan. Ketidakberdayaan tersebut sebenarnya telah tampak pada sampul luar novel tersebut, yaitu (1) warna kelam pada tembok kokoh sebuah istana menyiratkan duka yang menggayut di tempat itu, (2) gurat reta pada tembok menyiratkan dalamnya perih luka menari di relung kalbu penderita yang tidak lain Arini—si tokoh utama, (3) jendela indah yang temboknya terbelah menggambarkan bahwa peristiwa tersebut bisa menimpa siapa saja baik dari kalangan yang telah mapan maupun tidak, serta (4) jalinan batang mawar rambat dengan duri tajam adalah simbol dari peristiwa ‘mendua’ yang menjadi penyebab ‘kesuraman’ itu. Peristiwa mendua itu merupakan suatu keindahan pada satu pihak, biasanya diarahkan kepada kaum lelaki, yang digambarkan dengan indahnya barisan bunga mawar pada batang melingkar. Sebaliknya, peristiwa tersebut menoreh kepedihan yang tiada tara dan tiada akhir  pada pihak yang lain, biasa ditujukan kepada perempuan yang tidak lain adalah istri pertama. Hal itu digambarkan dengan panjangnya batang mawar yang sarat duri tajam.&lt;br /&gt;Selain sarat dengan ketidakberdayaan, Istana Kedua juga sarat dengan gugatan, yaitu gugatan terhadap fakta dan hukumullah. Hal itu tersermin dalam kutipan suara hati Arini berikut.&lt;br /&gt;Jika cinta bisa mencukupkan seorang perempuan hingga setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan? (IK, 2007:242)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, gugatan Arini merupakan cerminan  gugatan sang penulis sendiri terhadap aturan hidup mendua itu. Gugatan lain juga datang dari tokoh Pras yang menganggap bahwa hubungan intim yang dilakukan setelah ikrar pernikahan merupakan ‘suatu kesalahan’ (hlm. 238—239). Namun, kesalahan itu disikapi secara munafik karena Pras tidak mampu menahan hasratnya kepada Mei Rose, si putri kedua dalam hatinya itu. Kalau saya boleh berasumsi, pendapat Pras terhadap ‘kesalahan’ tersebut merupakan pendapat penulis sendiri yang tidak merelakan si madu mendapatkan hal yang sama dengan istri pertamanya. Apa benar hal itu merupakan ‘suatu kesalahan’ jika hubungan intim dilakukan pascaikrar pernikahan?&lt;br /&gt; Novel Istana Kedua merupakan penolakan terhadap kehidupan serbamendua yang disampaikan dengan halus dalam  rangkaian kalimat indah yang terangkum setebal 248 halaman. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah, S.S.&lt;br /&gt;Pengamat sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber data:&lt;br /&gt;Nadia, Asma. 2007. Istana Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;"Sunny" ambon@tele2.se&lt;br /&gt;"Kartono Mohamad" kmjp47@indosat.net.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-5149650864149297502?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/5149650864149297502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/gugatan-dalam-istana-kedua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5149650864149297502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/5149650864149297502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/gugatan-dalam-istana-kedua.html' title='GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6U3cdPi_I/AAAAAAAAABw/Li7LKfDQ8Rw/s72-c/ISTANA+KEDUA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-4737739349459700122</id><published>2009-05-04T13:59:00.002+07:00</published><updated>2009-08-24T15:06:09.493+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6TjAHU-wI/AAAAAAAAABo/_kb9WneHP64/s1600-h/ISTANA+KEDUA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 86px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6TjAHU-wI/AAAAAAAAABo/_kb9WneHP64/s320/ISTANA+KEDUA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331861238388685570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 	Hati terhenyak pasca membaca novel ini karena telah menyelami permainan alur dan barisan kalimat lancar sejak awal sampai akhir cerita. Hati turut terhenyak dan terhempas ke dalam bantalan pasir luas berbatu kerikil tajam mengingat penderitaan seorang perempuan bernama Arini yang tergantung dan terkatung pada akhir cerita. Hati turut tercabik dan lelah seketika mengingat jalan Arini masih sangat panjang tanpa sempat terucapkan dalam cerita. Arini masih harus ber-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juang antara bertekad memperbaiki keadaan atas pengalaman yang sama yang pernah diderita seorang perempuan yang selama ini dipanggil ibu. Pengalaman yang tidak kalah dramatis yang dialami ibunya kini mendera dirinya setelah sepuluh tahun perkawinannya.&lt;br /&gt;	Arini? Siapa Arini sebenarnya? Ya, dialah tokoh utama dalam Istana Kedua karya Asma Nadia yang bertutur tentang pergolakkan dahsyat seorang perempuan yang berkedudukan sebagai istri dan ibu dari buah perkawinan dengan lelaki yang sangat dicintainya itu. Arini merupakan refleksi dari jutaan wanita yang mengalami badai dahsyat rumah tangganya. Arini merupakan cerminan antara nafsu dan sabar, gelegak amarah dan tabah, serta deburan ombak cemburu dan kebisuan. Arini merupakan wakil para wanita yang tidak pernah menduga bahwa tembok cinta sekokoh apa pun akan luruh karena desakan sebaris kecil akar tanaman gulma yang sekedar ingin menampakkan diri. Arini adalah seorang wanita yang tidak pernah menduga bahwa cinta terkaribnya pada suatu saat akan tercabik dan terengut dari kalbunya.&lt;br /&gt;	Arini dikisahkan terbiasa dengan keindahan kisah atau dongeng sebelum tidur yang senantiasa berakhir bahagia. Selama menempuh pendidikan tingginya ia pun terbiasa dengan goresan cerita yang indah. Pada saat menikah menjelang wisuda pun ia masih terseret arus keindahan dongeng yang dihadapinya. Namun, sebagai putri di dalam kisah impiannya, Arini lupa bahwa cerita perkawinan memiliki ribuan arus yang bias antara yang lurus dan yang menyimpang. Ia terhanyut ke dalam keindahan dan impian yang memabukkan hingga ketiga buah perkawinan itu hadir menjadi pelipur pasangan itu. Arini lengah bahwa daun tempat ia berlayar bersama belahan jiwanya memiliki setitik celah yang semakin lama semakin lebar. Arini tidak pernah mempersiapkan bahwa banyak pihak yang mengintai untuk mencabut ketenangan pelayaran dirinya. Arini lupa bahwa dunia dongeng pun memiliki banyak titik hitam yang dapat mengakhiri keindahan kisahnya. &lt;br /&gt;	Pasca perkawinannya, Arini seakan berperanan sebagai seorang putri raja yang bersanding dengan seorang pangeran idaman yang telah memenangkan pertarungan. Ia jadikan bahu sang pangeran sebagai sandaran ternyaman di dunia untuk tempatnya berlabuh  dan menenangkan segala angan dan impiannya. Ia tidak menyadari bahwa pada suatu waktu, bahu sandaran itu akan aus dan pegal sehingga mau tidak mau harus mengganti posisinya. Ia tidak menyadari bahwa di luar pagar rumahnya, banyak pula bidadari lain yang iri dan menginginkan bahu yang sama yang selama ini telah diklaim Arini sebagai miliknya seumur hidup. &lt;br /&gt;	Akibatnya, ketika celah pagar memuai semakin lebar dan sesosok bidadari berhasil melewati celahnya, Arini benar-benar terkesiap kaget. Ketika celah dalam bahtera daun impian Tumbelina terbuka semakin lebar, Arini merasa dihujam ribuan sembilu. Ketika aura kebahagiaan terpaksa memecah belah, Arini seakan terhempaskan ke dalam dasar jurang yang mahadalam. Ketika bahu sandaran bergeser jauh ke seberang, Arini pun tidak mampu lagi menjejakkan kedua kakinya yang kini dirasakan tidak berotot dan bertulang.&lt;br /&gt;	Ya, Arini alpa besar bahwa Andika Prasetia bukanlah miliknya secara mutlak seumur hidupnya. Arini lupa bahwa ribuan pasang mata perempuan lain mengincar tempat yang sama di dalam kalbu sang pangeran yang ia miliki dengan hampir tanpa hambatan yang berarti itu. Arini lupa bahwa sang pangeran hanyalah titipan Illahi yang, ibarat sebuah wayang golek, dapat digerak-gerakkan sang pencipta oleh siapa saja. Arini alpa bahwa sang pangeran bukanlah hadiah eksklusif yang Allah berikan kepadanya. Arini khilaf bahwa sang pangerang hanyalah pinjaman sesaat dari sang pencipta. &lt;br /&gt;	Arini yang tidak siap dengan peristiwa ‘kehilangan’ besar dalam sejarah perkawinannya itu, dihadang oleh berbagai aral melintang di depan matanya. Arini tidak bisa bersikap leluasa untuk menumpahkan segala deritanya, terutama, jika ia sedang berada di depan anak-anaknya yang memiliki ‘sensitivitas’ tinggi. Terlebih, si sulung yang bernama Nadia. Ia harus rela mencuri dan menunggu waktu yang tepat untuk menumpahkan air mata dan kekesalannya yang seakan menyodok keras rongga dada dan kelopak matanya tiada ampun. Arini pun dihadang kenyataan bahwa ‘suri teladan kemesraan’ yang selama ini ditunjukkan oleh kedua orangtuanya, ternyata dibentuk atas dasar dosa pada masa lalu yang kini menimpa dirinya. Arini akhirnya berlabuh di pangkuan ibunya setelah menyaksikan sendiri kemesraan sang pangeran kepada belahan hati yang lain. Dari wanita itulah Arini akhirnya mendapat kekuatan untuk berjuang mengambil kembali keeping-keping impiannya. Titik-titik semangat pun mulai terjalin menjadi helaian benang harapan yang ia pastikan mudah ditenunkan. Namun, semangat itu kandas  di tengah kebimbangan atas situasi  yang ia rasakan di dalam ‘istana kedua’ suaminya.&lt;br /&gt;	Istana Kedua mencerminkan gugatan seorang wanita bernama Arini terhadap salah satu hukumullah. Namun, gugatan tersebut seakan tidak pernah tersampaikan seiring menggantungnya nasib Arini pada akhir cerita. Semangat juang untuk menarik kembali sang pangeran ke dalam pelukannya terhadang situasi yang sangat tidak memungkinkan saat itu. Lidah Arini pun seakan kelu untuk menjalin kata yang dianggap ‘ampuh’ untuk merekatkan kembali fragmen sang pangeran dalam kalbunya.&lt;br /&gt;Putri raja kedua dalam dunia sang pangeran rupanya sudah terpaut erat hatinya kepada lelaki pujaannya itu. Ia melakukan berbagai cara agar malaikat penolongnya itu tidak pernah menjauh dari perangkapnya. Hal itu dilakukannya karena merasa mendapatkan figur yang ia dambakan yang selama ini seakan sebuah fatamorgana dalam sejarah hidupnya. Didera trauma berkali-kali oleh beberapa kaum lelaki yang telah mempermainkannya laksana sebuah boneka usang yang koyak, sang putri, Mei Rose, tidak ingin kehilangan lagi pangeran impiannya yang ia nilai ‘berbeda dan istimewa’ itu. Lidah sang putri yang diwarisi aura kesombongan  itu dengan tegas menyatakan ketidakinginan dirinya untuk melepas ‘tawanannya’ dan, bahkan, dengan terang-terangan ia menyatakan isyarat perang  kepada pesaingnya dalam kalimatnya sebagai berikut. &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;“Sementara satu-satunya hal baik yang pernah terjadi seumur hidupku hanya Pras!” (IK, 2007:242)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kalimat itulah  sang putri mengunci sang pesaing. Sang putri tidak ingin melepaskan nikmatnya tetes-tetes embun cinta yang tidak kuasa lagi dibendung benteng pertahanan sang pangeran. Ia berhasil membuat sang pangeran merasa terenyuh dengan kisah garis hidupnya yang mahadrastis itu. Jeratan itulah yang berhasil membuat sang tawanan tidak berkutik dan hampir tidak mampu melihat kehadiran ‘sang penjemput’ yang sudah di ambang batas kelelahan penantian dan harapannya untuk membawa pulang pangeran impiannya itu. &lt;br /&gt;Ia menampik pernyataannya dalam sebuah pesan penuh harapan yang ia kirimkan ke sembarang pos-el bahwa ia tidak menuntut sebagai pihak full-timer kepada pasangan hidup yang berminat kepadanya (hlm.12). Ya, ia hanyalah manusia biasa dengan segala kelemahan. Ketika kenikmatan telah direguknya, tentu saja ia tidak ingin melepaskan sumber kenikmatannya itu. Arini yang semula senantiasa pasrah dengan peristiwa yang dihadapinya, terutama jika di depan sang pangeran pujaannya yang bernama Pras, tidak mampu memperjuangkan semangatnya dan kembali ketitik ketidakberdayaan. Sementara itu, pangeran yang bernama Pras tidak mampu memegang janjinya sendiri untuk menahan tembok cintanya untuk Arini ketika pada saat yang sama rekan-rekan asyik mengumbar alasan untuk mendua hati. Namun, sang pangeran bukanlah makhluk yang tercipta dari besi dan baja yang mampu bertahan dari badai yang berhembus dahsyat dari kedalaman lautan. Ia tidak mampu menahan hasrat dan mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa ia telah jatuh cinta lagi kepada putri yang lain, putri yang kedua yang tidak lain berwujud ‘itik buruk rupa’ bernama Mei Rose.&lt;br /&gt;Membaca Istana Kedua seakan membaca keindahan tentang ketidakberdayaan makhluk yang bernama manusia. Ketidakberdayaan manusia untuk menahan hasrat, baik hasrat bak malaikat maupun hasrat bak setan, ketidakberdayaan terhadap kenyataan hukumullah, ketidakberdayaan untuk mengalahkan angan, dan ketidakberdayaan terhadap fakta kehidupan. Ketidakberdayaan tersebut sebenarnya telah tampak pada sampul luar novel tersebut, yaitu (1) warna kelam pada tembok kokoh sebuah istana menyiratkan duka yang menggayut di tempat itu, (2) gurat reta pada tembok menyiratkan dalamnya perih luka menari di relung kalbu penderita yang tidak lain Arini—si tokoh utama, (3) jendela indah yang temboknya terbelah menggambarkan bahwa peristiwa tersebut bisa menimpa siapa saja baik dari kalangan yang telah mapan maupun tidak, serta (4) jalinan batang mawar rambat dengan duri tajam adalah simbol dari peristiwa ‘mendua’ yang menjadi penyebab ‘kesuraman’ itu. Peristiwa mendua itu merupakan suatu keindahan pada satu pihak, biasanya diarahkan kepada kaum lelaki, yang digambarkan dengan indahnya barisan bunga mawar pada batang melingkar. Sebaliknya, peristiwa tersebut menoreh kepedihan yang tiada tara dan tiada akhir  pada pihak yang lain, biasa ditujukan kepada perempuan yang tidak lain adalah istri pertama. Hal itu digambarkan dengan panjangnya batang mawar yang sarat duri tajam.&lt;br /&gt;Selain sarat dengan ketidakberdayaan, Istana Kedua juga sarat dengan gugatan, yaitu gugatan terhadap fakta dan hukumullah. Hal itu tersermin dalam kutipan suara hati Arini berikut.&lt;br /&gt;Jika cinta bisa mencukupkan seorang perempuan hingga setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan? (IK, 2007:242)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, gugatan Arini merupakan cerminan  gugatan sang penulis sendiri terhadap aturan hidup mendua itu. Gugatan lain juga datang dari tokoh Pras yang menganggap bahwa hubungan intim yang dilakukan setelah ikrar pernikahan merupakan ‘suatu kesalahan’ (hlm. 238—239). Namun, kesalahan itu disikapi secara munafik karena Pras tidak mampu menahan hasratnya kepada Mei Rose, si putri kedua dalam hatinya itu. Kalau saya boleh berasumsi, pendapat Pras terhadap ‘kesalahan’ tersebut merupakan pendapat penulis sendiri yang tidak merelakan si madu mendapatkan hal yang sama dengan istri pertamanya. Apa benar hal itu merupakan ‘suatu kesalahan’ jika hubungan intim dilakukan pascaikrar pernikahan?&lt;br /&gt;	Novel Istana Kedua merupakan penolakan terhadap kehidupan serbamendua yang disampaikan dengan halus dalam  rangkaian kalimat indah yang terangkum setebal 248 halaman. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah, S.S.&lt;br /&gt;Pengamat sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber data:&lt;br /&gt;Nadia, Asma. 2007. Istana Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;"Sunny" ambon@tele2.se&lt;br /&gt;"Kartono Mohamad" kmjp47@indosat.net.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-4737739349459700122?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/4737739349459700122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/gugatan-dalam-istana-kedua_04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4737739349459700122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/4737739349459700122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/gugatan-dalam-istana-kedua_04.html' title='GUGATAN DALAM ISTANA KEDUA'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf6TjAHU-wI/AAAAAAAAABo/_kb9WneHP64/s72-c/ISTANA+KEDUA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-7421054080284132607</id><published>2009-05-04T11:37:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T12:50:09.179+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERITA  ANAK'/><title type='text'>BOOTS YANG ANGKUH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BOOTS YANG ANGKUH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari itu, Billy diajak ibunya ke sebuah toko sepatu di Eastern Park. Ibu  ingin membelika Billy sepatu yang baru. Betapa senang hati Billy mendengar hal itu. Ia jadi teringat sepasang sepatunya yang dulu kini sudah tidak bisa digunakan lagi. Bagian depan sepatunya yang sebelah kiri koyak karena gigitan Dormy, seekor anjing puddle milik tetangga. Sepatu itu sudah tidak nyaman lagi karena bagian solnya sudah aus. Bukan sekali dua kali Billy mengalami jatuh jika sedang berjalan.&lt;br /&gt; Toko sepatu itu terletak di pojok jalan. Kebetulan saat itu toko tidak dipadati pengunjung. Billy dan ibunya leluasa memilih dan mencoba sepatu itu. Setelah memilah-milah model yang ditawarkan di toko itu, Billy akhirnya memilih sepasang sepatu boot berwarna hijau kecokelatan. Sepatu itu sangat bagus. Kulitnya tebal, tetapi lentur. Sebuah gesper yang kokoh menjadi penghias bagian depannya. Solnya sangat tebal sehingga aman dipakai Billy jika ia akan naik gunung atau kegiatan lainnya. Wajah senang Billy tampak terpancar dari wajahnya. Ia memeluk erat sepatu barunya selama dalam perjalanan pulang.&lt;br /&gt; Sementara itu, di dalam sebuah kotak sepatu terjadi percakapan yang menyedihkan berikut ini. Sepasang sepatu yang koyak tadi berkata lirih kepada kawan-kawannya yang berjejer rapi di tempat itu. &lt;br /&gt;“Duh, aku sedih. Aku sudah rusak. Billy tidak mau memakaiku lagi.”&lt;br /&gt;Sepasang sepatu lain milik Billy menjawab.&lt;br /&gt;“Ya. Kau tidak akan dipakai majikanmu lagi. Wajahmu sudah berlubang dan bagian pijakanmu sudah aus. Billy tidak aman bersamamu.”&lt;br /&gt;Sepatu malang itu berkata, “ Ya… kawan, aku tahu itu. Namun, aku merasa sangat sedih karena sebentar lagi aku tidak akan tinggal di sini lagi. Billy atau ibunya pasti akan melemparku ke rak usang di gudang.”&lt;br /&gt;“Di gudang? Masih beruntung majikanmu akan menyimpanmu di tempat itu. Kalau di tempat sampah bagaimana?” kata sepasang sepatu milik ibu Billy.&lt;br /&gt;“Ahhh … kalian hanya menakut-nakuti diriku saja. Aku tidak dapat membayangkan hal itu. Aku takuuut!” ujar sepatu malang itu sambil terisak. “Aku pasti kehujanan dan kepanasan. Aku pasti bercampur dengan sampah rumah. Aku ngeri!”&lt;br /&gt;“Ya … mau bagaimana lagi, kawan! Itulah nasib kita semua,” ujar sepasang sepatu ballet milik Nancy, kakak Billy.&lt;br /&gt;“Dan … dan … tempatku akan digantikan sepatu baru. Kau tahu hari ini billy diajak ibunya membeli sepatu.”&lt;br /&gt;“Hmmmm ….,” serempak beberapa pasang sepatu menghela nafasnya. Mereka tidak dapat berbicara apa-apa kepada kawannya yang malang itu.&lt;br /&gt;Sepasang sepatu pesta berwarna perak dan bertabur manik-manik berkilauan tiba-tiba berkata.&lt;br /&gt;“Hai… dengarkan!” serunya, “Itu suara mobil ibunya Billy.”&lt;br /&gt;“Ya … kita lihat  … siapa yang datang dan tinggal bersama kita di sini,” ujar  sepasang sepatu milik ayahnya Billy.&lt;br /&gt;Terdengar seruan riang Billy dengan tentengan di tangannya. Dibukanya isi kantong itu dan dikeluarkannya sepatu baru itu. Dipakainya sepatu itu. Billy berputar-putar dengan riang. Ia berjalan bak seorang model di atas pentas. Kemudian, ia beraksi sebagai seorang koboy cilik. Dooorrrrr! Katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Setelah puas memakainya, Billy melepaskan sepatu itu dan menyimpannya di dalam rak sepatu. Ya, sudah tiba waktunya bagi Billy untuk mempersiapkan pelajaran besok.&lt;br /&gt;Setelah rak itu ditutup, sepatu boot yang baru itu menatap sekeliling dengan angkuh. &lt;br /&gt;“Hai … kau penghuni baru di sini,” ujar sepatu milik ayah, “Kami mengucapkan selamat datang.”&lt;br /&gt;Sepatu itu menjawab.&lt;br /&gt;“Hmmhhhh … ya … terimakasih.”&lt;br /&gt;“Semoga kau senang tinggal bersama kami di sini,” ujar sepatu pesta milik ibunya.&lt;br /&gt;“Hmmm … biasa saja. Tempat ini tidak begitu menyenangkan bagiku. Sumpek. Bau. Gelap,” uajrnya dengan angkuh dan rona wajah yang masam.&lt;br /&gt;“Kau tidak perlu bersikap seperti itu. Kami semua sama. Berasal dari pajangan di toko yang mewah dan terbuka, tetapi kini terdampar di rak ini,” ujar sepatu ballet.&lt;br /&gt;“Mungkin! Namun, aku berbeda dengan kalian.”&lt;br /&gt;“Kali in kau boleh berbangga hati. Namun, kalau kau mengalami kejadian yang menimpa dirinya?” ujar sepatu olahraga Billy.&lt;br /&gt;Sepatu boot yang angkuh itu menatap sepatu yang malang itu dan berkata dengan sinis.&lt;br /&gt;“Huuuhh … malang sekali nasibmu, kawan!” ujarnya sambil mendekati sepatu itu. Matanya menatap leka-lekat pada lubang menganga akibat gigitan anjing itu dan berkata, “Tampaknya kau tidak layak disimpan di sini. Kau lebih pantas tinggal di dalam kotak barang-barang usang di gudang. Kau lebih layak menjadi santapan para tikus pengunjung setia gudang atau … khmmmm … kau lebih pantas menjadi sarang kecoa!”&lt;br /&gt;“Kau tega berkata buruk kepadaku!” ujar sepatu yang malang itu, “Kau tega!”&lt;br /&gt;“Kau memang tidak pantas tinggal di tempat ini! Aku tidak sudi bersanding denganmu,” ujar sepatu angkuh itu.&lt;br /&gt;Ia mendekati sepatu yang malang itu dan mendorong tutup rak itu hingga terbuka lebar.&lt;br /&gt;“Apa … apa yang akan kau lakukan padaku?” ujar sepatu malang itu dengan penuh keheranan.&lt;br /&gt;“Aku tidak ingin kau berdampingan denganku!” ujarnya dengan angkuh. Secepat kilat, sepatu boot itu menendang pasangan sepatu malang itu.&lt;br /&gt;Billy yang sedang belajar dengan tekun di meja makan itu, mendengat suara gaduh dari arah rak sepatu. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke rak sepatu. Dilihatnya pintu rak sudah terbuka lebar dan sepasang sepatu malang yang tergeletak di lantai. Dipungutnya sepatu itu dan dibawanya ke halaman belakang. Dibuangnya sepatu yang tak layak itu ke dalam bak sampah, lalu Billy kembali ke dalam rumah.&lt;br /&gt;Lengkap sudah penderitaan sang sepatu. Ia sangat menderita. Ia hanya berharap kalau ia masih berguna bagi majikannya. Namun, angannya itu harus ia telan mentah-mentah. Kini ia hanya dapat merenungi nasibnya yang malang itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tidak lama setelah Billy menutup pintu belakang rumahnya, datanglah seorang pengemis tua yang senang mengais barang-barang usang di sekitar tempat itu. Seperti biasa, ia selalu berjalan mendekati bak-bak sampah di setiap rumah dan mengais-ngais benda usang yang ada di dalamnya. Ketika ia mendatangi tempat sampah di rumah Billy, ia menatap sepasang sepatu yang malang itu. Diambilnya benda yang telah koyak di bagian depannya itu.  Diamatinya lekat-lekat benda itu. Sejenak ia tampak berpikir, lalu, sebuah sunggingan tampak dari sudut bibirnya yang keriput itu. Tampaknya, sebuah ide cemerlang sudah terkumpul di dalam benaknya.&lt;br /&gt;Dibawanya sepasang sepatu yang malang itu, lalu dimasukkannya ke dalam tas besar yang selalu ditentengnya. Setelah itu, ia melanjutkan ritual hariannya, mengais sampah. Setelah dirasakannya cukup, pengemis tua itu kembali ke gubuknya yang ia dirikan di sebuah banguan tua bekas pabrik yang sudah lama tidak digunakan. Di tempat itu, ia mendirikan sebuah gubuk yang terbuat dari berlembar-lembar tirai dan kardus bekas yang ia temukan di bak-bak sampah yang ia aduk. Ia tidak sendirian tinggal di tempat itu. Berpuluh-puluh orang yang senasib dengannya juga tinggal di yang luas dan bertingkat tiga itu. &lt;br /&gt;Gubuk pengemis tua itu sangat sempit. Ya, sekadar cukup untuk membuat pengemis tua itu dapat duduk dan tidur dengan nyenyak. Di depan gubuknya terdapat sebuah drum yang sudah ia potong setengahnya. Tempat itu ia isi dengan kayu-kayu dan kertas bekas yang berfungsi sebagai arang. Ia menyalakan tungku dari drum itu untuk menghilangkan hawa dingin yang kerapkali menggigiti sekujur tubuhnya. &lt;br /&gt;Pengemis tua itu menurunkan bawaannya. Dipihnya sepatu yang ia temukan tadi. Di bawanya sepatu itu ke arah kran yang dulu berfungsi sebagai tempat cuci tangan para buruh. Dicucinya sepatu itu hingga bersih, lalu dikeringkan. Ia menjemur sepatu itu sampai benar-benar kering. Setelah itu, ia memotong bagian depan dan membuat lubang yang sama pada sepatu sebelah kanan yang masih utuh. Hasilnya, jadilah sepasang sepatu berlubang di bagian depannya. Kemudian, pengemis tua itu mengambil sepotong busa yang sudah ia bentuk sesuai dengan lekuk sepatu itu. Dimasukkannya busa itu ke dalam sepatu.&lt;br /&gt;“Apa yang akan dilakukan pengemis tua itu kepadaku?” tanya sepatu dalam hatinya. Ia tidak mengerti.&lt;br /&gt;Setelah menjejalkan busa tadi, pengemis tua itu memasukkan serbuk kayu pada bagian atasnya. Kemudian diambilnya beberapa batang bunga aneka warna dan ditancapkannya pada lubang yang dilapisi serbuk kayu itu. Rupanya, pengemis tua itu pandai merangkai bunga. Meskipun bunga yang dirangkainya itu merupakan barang-barang usang, rangkaian itu tampak indah. Sepasang sepatu berlubang yang malang itu kini menjelma menjadi sepasang vas dengan rangkaian bunga yang cantik di atasnya.&lt;br /&gt;Sepatu itu tersenyum dalam hati. Kin, ia tidak bersedih lagi. Kini, ia bukan sepasang sepatu malang yang telah dicampakkan pemiliknya ke dalam bak sampah, melainkan telah menjelma menjadi sepasang vas bunga yang cantik. &lt;br /&gt;Pengemis tua itu tersenyum bangga dengan hasil karyanya itu. Dipandanginya tiada henti vas bunga dari sepatu usang itu lekat-lekat. Ketika malam telah tersibak, kedua kelopak matanya yang berhiaskan gurat keriput itu tidak kuasa lagi untuk bertahan. Pengemis tua itu akhirnya terlelap sambil memeluk buah karnyanya yang indah itu. Sepanjang malam ia terhanyut dalam impiannya. Di dalam mimpinya itu, ia sibuk mengerjakan banyak pesanan rangkaian bunga yang vasnya terbuat dari sepatu bekas.&lt;br /&gt;Keesokkan harinya, ia membawa sepasang vas sepatu itu ke Eastern Park. Pengemis tua itu ingat bahwa hari ini merupakan hari pertama festival musim panas. Setiap tahun selalu diselenggarakan di tempat itu. Ia ingin menjual vas unik buatannya itu. &lt;br /&gt;“Kalau vas ini laku terjual, aku bisa mendapatkan sedikit tabungan,” gumam pengemis tua itu dengan penuh harap. &lt;br /&gt;Festival musim panas itu sangat meriah. Pengunjung tumpah-ruah memadati pelataran Eastern Park yang indah. Banyak stan yang menjual aneka makanan, minuman, dan produk-produk lainnya didirikan di tempat itu. Selain itu, sebuah panggung besar didirikan di tengah pelataran dan dipadati kaum muda pecinta musikl. Ya, silih berganti kelompok pemusik tampil di atas panggung memamerkan  kepiawaian mereka. Aneka permainan pun digelar di berbagai tempat, seperti pertunjukkan badut dan sulap, akrobat, bianglalau, seluncuran, komidi putar, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;Pengemis tua itu duduk di sebuah bangku kecil dan meletakkan kedua vas unik itu di depannya. Secarik kertas kecil bertuliskan “dijual” diletakkan di tepi barang dagangannya. Hampir lama ia menunggu ketika dilihatnya seorang wanita setengah baya dan cucunya yang sudah remaja datang menghampirinya. Wanita itu mengamati lekat-lekat pada buah karya pengemis tua itu agak lama. &lt;br /&gt;“Nenek, vasnya unik sekali, tetapi serasi dengan bunga-bunga yang di atasnya,” ujar cucunya.&lt;br /&gt;“Hmmmm, ya… kupikir juga demikian,” ujar sang nenek sambil terus mengamati vas bunga itu. “Kalau kuletakkan di kedua meja sudut, pasti ruang tamuku akan semakin menarik,” gumamnya dalam hati.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, beli saja, Nek!” ujar cucunya itu.&lt;br /&gt;“Hmmmm … ya … ya ..., aku juga setuju. Aku akan membeli kedua vas itu.”&lt;br /&gt;Tawar-menawar harga pun terjadi antara wanita itu dan pengemis tua. sejumlah uang akhirnya tercabut dari balik dompet tebal wanita itu. Pengemis tua pun menerima lembaran uang itu dengan gembira. Beberapa waktu lamanya, ia tidak perlu lagi mengais sampah karena kini memiliki uang simpanan yang lumayan besar baginya.&lt;br /&gt;Sepatu yang beruntung itu kini tersenyum lebar. Ia berkata dalam hati, “Hmmmm … Dormy telah membuatku menjadi sepatu yang sangat beruntung di dunia.” &lt;br /&gt;Sepatu malang yang kini telah menjelma menjadi benda pajangan yang unik itu kini bertengger di atas dua buah meja sudut di sebuah ruang tamu yang indah milik wanita pembeli itu. Hampir setiap tamu yang berkunjung ke rumah itu mengagumi sepasang vas yang unik itu.&lt;br /&gt;Sementara itu, ketika pengemis tua itu tengah beranjak pulang, beberapa pengunjung yang menyukai hasil karyanya itu memintanya membuat kembali vas bunga serupa.  Ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Beberapa hari kemudian, ia sudah tampak mengais mencari benda usang di tempat sampah milik penduduk. Beruntung beberapa sepatu usang yang masih dapat ia sulap menjadi benda unik. Berbekal uang yang ia dapat, pengemis tua itu membeli beberapa bunga. &lt;br /&gt;Kemudian, ia kembali membuat beberapa rangkaian bunga yang tidak kalah indahnya dengan benda serupa buatan para floris ternama. Di bawanya buah karyanya itu ke tempat festival. Barang-barang yang ia jajakan laku keras. Gemerincing uang memadati saku jaket kumalnya. Bahkan, tidak sedikit yang memesan barang-barang itu kepadanya. Beberapa waktu kemudian, pengemis tua itu tidak lagi tinggal di dalam bangunan tua itu. Kini ia telah hidup berkecukupan dan mampu menyewa sebuah tempat kontrakan di pinggiran kota. Jika sedang memandang kehidupan sekitar dari balik jendela, ia akan teringat pada sepasang sepatu usang yang telah mengubah jalan hidupnya.&lt;br /&gt;“Terima kasih,” gumamnya pada sepatu usang itu. Ya … sepatu usang berlubang menganga pada bagian depannya yang telah memberikannya kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Minggu, Billy dan beberapa kawan sekelasnya pergi mendaki gunung. Billy pandai memanjat tebing-tebing yang terjal. Ia sangat menyukai pemandangan yang indah yang dilihatnya dari puncak gunung. Biasanya, ia selalu mengabadikan hal itu dengan kamera sakunya. &lt;br /&gt;Sore itu, Billy sudah menyimpan kamera sakunya ke dalam kantung kecil jaketnya. Kemudian, ia bersama kawan-kawannya mulai menuruni bukit yang curam dan berbatu-batu itu.  Tiba-tiba angin bertiup kencang mendorong Billy dan kawan-kawannya dengan kuat. Satu per satu saling menubruk. Kaki Billy terjerembab dan terjepit di antara bebatuan tajam. Ia meringis menahan rasa sakit yang tiada tara. Tangan dan wajahnya dihiasi luka lecet yang cukup banyak.&lt;br /&gt;Perlahan-lahan ia berusaha mengangkat kedua kakinya yang terjepit itu. Rupanya jepitan bebatuan tajam itu sangat kuat hingga sepatu boot yang dikenakan Billy koyak di sana-sini. Melihat kondisi sepatu barunya itu, Billy merasa sangat sedih. Namun, meskipun dalam keadaan yang tidak layak, Billy dengan tertatih-tatih berusaha menyelesaikan perjalannya itu.&lt;br /&gt;Setibanya di rumah ibu menyambut Billy dengan penuh kasih sayang. Dibukanya sepatu Billy dan dirawatnya luka-luka di tubuh anak lelakinya itu. Setelah itu, Billy beristirahat. Ibu meraih sepatu boot yang sudah hancur itu dan membawanya ke luar rumah. &lt;br /&gt;Nasib sepatu yang angkuh itu tidak berbeda dengan temannya yang dulu. Kini ia teronggok sedih di atas tumpukan sampah rumah Billy sambil merenungi sikapnya yang sangat angkuh itu. Keesokan harinya, petugas kebersihan meraup isi bak sampah itu dan menjejalkannya pada mesin pengumpul sampah di bagian belakang mobil pengangkut sampah. Sepatu boot yang malang itu tertindih gunungan sampah yang menyesak dan menyengat. Sepatu boot yang angkuh itu kini bernasib malang.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber gambar: &lt;br /&gt;• http://images.google.co.id/images?client=firefox-a&amp;rls=org.mozilla%3Aid%3Aofficial&amp;hl=id&amp;q=boots&amp;btnG=Telusuri+Gambar&amp;gbv=2&amp;aq=f&amp;oq=&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-7421054080284132607?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/7421054080284132607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/boots-yang-angkuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/7421054080284132607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/7421054080284132607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/boots-yang-angkuh.html' title='BOOTS YANG ANGKUH'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6278926786995360951.post-6796593950114743168</id><published>2009-05-04T11:15:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T11:24:47.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Umum'/><title type='text'>BUKU MULTIPROFESI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5t-v1E_tI/AAAAAAAAABI/MRLWD6Gds2Q/s1600-h/BUKU2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 96px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5t-v1E_tI/AAAAAAAAABI/MRLWD6Gds2Q/s200/BUKU2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331819933611654866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5t-M6vo2I/AAAAAAAAABA/1yJm-Mh7CY8/s1600-h/BUKU.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 106px; height: 123px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5t-M6vo2I/AAAAAAAAABA/1yJm-Mh7CY8/s200/BUKU.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331819924240180066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BUKU: BERBAGAI PROFESI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Buku …. Mendengar kata buku, mengingatkan kita pada lembaran kertas berisi rangkaian kata-kata sarat makna. Buku selama ini dijadikan sebagai sarana untuk mencari makna sesuatu benda atau sesuatu hal yang kita butuhkan. Adakalanya  buku menjadi pelipur lara dikala kita merasa jenuh. Kadangkala, buku menjadi menjadi tumpahan perasaan kita atas segala persoalan. &lt;br /&gt;Ya, buku bukan sekadar bahan bacaan. Ia bisa menjelma menjadi sesosok makhluk yang multiprofesi. Ia bukan sekadar informan, sebagai ladang pencarian informasi, melainkan sebagai komunikan, dokter, paranormal, guru, ulama, pengasuh bayi, inspirator, penasihat, bahkan penjahat. Bagaimana bisa? Kita simak metamorfosa buku sebagai makhluk multiprofesi itu.&lt;br /&gt;Buku sebagai seorang komunikan sangat mungkin terjadi. Dalam hal ini buku berfungsi sebagai penyambung tali silaturahmi antarmanusia. Pada abad yang lalu, gaya pacaran anak muda sangat berbeda dengan anak-anak sekarang. Kebanyakan bergaya aristokratis, salah satunya adalah melalui peminjaman buku. Seorang pemuda berpura-pura meminjam buku pada seorang gadis yang diinginkannya, lalu ia mengembalikan benda itu setelah sebelumnya menyelipkan sepucuk surat pendekatan yang ditujukan kepada si pemilik buku. Selain hal itu, buku juga dapat mempererat tali kasih antara orangtua dan anak. Membacakan buku cerita menjelang tidur merupakan hal yang sangat menentukan bagi perkembangan anak. Membacakan dongeng, kisah teladan, biografi tokoh-tokoh terkenal, ilmu pengetahuan sederhana, atau keterampilan akan meningkatkan sisi kedekatan anak dan orang tua. Membahas dengan cara sederhana mungkin materi yang baru saja dibacakan juga dapat meningkatkan kedekatan antaranggota keluarga. &lt;br /&gt;Buku sebagai seorang dokter, artinya, buku dapat meningkatkan kesehatan pembacanya. Di negeri sakura telah menjadi kebiasaan untuk membunuh perasaan bosan seseorang dalam perjalanan panjang menuju tempat tujuan dengan membaca. Dalam kondisi jenuh pun, buku dapat dijadikan sebagai obat, terutama untuk segmen kejiwaan. Bahkan, kalangan medis banyak menyarankan kepada lansia untuk tetap melakukan aktivitas membaca yang interaktif agar terhindar dari risiko kepikunan—teka-teki silang dan sudoku. &lt;br /&gt;Buku juga dapat berfungsi sebagai seorang paranormal. Betapa tidak! Banyak hal yang tidak logis dan tidak lazim telah diungkapkan dalam beberapa buku fenomenal. Banyak hal yang kini terjadi telah dikonfirmasikan kepada pembacanya sejak beberapa tahun atau berabad yang lalu. Banyak kisah-kisah kuno yang menyampaikan peristiwa dahsyat pada masa lalu yang kini terjadi kembali. Banyak pula kisah-kisah manusia masa kini yang terungkap  sejak peradaban modern lahir.&lt;br /&gt;Buku dapat berfungsi sebagai seorang guru. Buku mengajarkan banyak hal yang sangat berguna bagi manusia. Sejarah jepang membuktikan hal itu. Kehancuran pasca PD II mendorong semangat hidup penduduk negeri sakura untuk mencari guru yang termudah dan termurah, buku. Penerjemahan dan penghisapan ilmu pengetahuan di segala bidang pun terjadi secara besar-besaran hingga akhirnya negeri itu mampu bangkit menjadi raksasa Asia.&lt;br /&gt;Buku bisa berperanan sebagai seorang ulama. Buku dapat kita jadikan sebagai seorang ulama yang mampu menanamkan sisi-sisi halus ke dalam benak manusia. Banyak pembaca yang mendapatkan hidayah dan mampu menemukan pencerahan setelah membaca buku. Buku-buku pengembangan diri, agama, psikologi, kisah-kisah teladan, biografi tokoh merupakan salah satu yang dapat dijadikan sebagai pembuka pintu pengembangan diri yang lebih baik. &lt;br /&gt;Buku bisa beraksi sebagai seorang pengasuh bayi. Buku dapat menuntun seseorang untuk meraih satu tujuan. Buku dapat membersihkan hati seseorang dari prasangka buruk. Buku dapat meninabobokan seseorang. Buku dapat memberikan asupan zat gizi ke dalam otak kita. Bahkan, buku dapat mencuci otak kita.&lt;br /&gt;Buku sebagai inspirator, mengapa tidak? Buku dapat memberikan pemahaman  baru kepada seseorang dalam memandang hidup. Buku dapat membuka mata hati seseorang tentang fakta yang terjadi dalam kehidupan. Buku dapat mendorong seseorang untuk melakukan atau menemukan hal-hal yang baru. Buku dapat membuka impian baru seseorang. Karya dahsyat Harry Potter atau The Lord of The Rings bukan tidak mungkin merupakan hasil hunting terhadap sumber bacaan inspiratif.&lt;br /&gt;Buku bisa menjadi penasihat. Adakalanya kita menemukan jawaban atas segala permasalahan yang kita hadapi. Adakalanya buku memberikan kepada kita arahan yang harus kita pilih dalam mengatasi persoalan hidup. Buku dapat kita jadikan acuan sebagai pengokoh benteng keimanan kita.&lt;br /&gt;Buku sebagai penjahat? Mana mungkin? Mungkin saja! Banyak manusia tergelincir dari benteng keimanannya justru setelah membaca buku inspiratif. Banyaknya buku golongan kiri yang menyuarakan bahaya laten yang sanggup memutarbalikkan fakta kepada pembacanya. Satanic Versis atau Adik Baru merupakan salah satu buku yang fenomenal materinya, tetapi mengusung misi yang sangat berbahaya bagi tatanan etika di berbagai belahan bumi.&lt;br /&gt;Kini, Anda tinggal memilih mana fungsi buku yang kerap Anda rasakan. Fungsi buku tidak hanya sekadar menjadi tempat mencari informasi saja. Ia bisa lebih hidup dan lebih leluasa lagi berkiprah dalam kehidupan manusia. Buku bisa kita jadikan sebagai sahabat atau psikopat! Tinggal pilih!*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resti Nurfaidah&lt;br /&gt;Peminat sastra&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6278926786995360951-6796593950114743168?l=cahayapenaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/feeds/6796593950114743168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/buku-multiprofesi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6796593950114743168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6278926786995360951/posts/default/6796593950114743168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayapenaku.blogspot.com/2009/05/buku-multiprofesi.html' title='BUKU MULTIPROFESI'/><author><name>Goresan Penaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12063954167535016665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5omZmZGjI/AAAAAAAAAAM/GbfxmpY_MzE/S220/25-01-09_1312.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JX70tFYKPvQ/Sf5t-v1E_tI/AAAAAAAAABI/MRLWD6Gds2Q/s72-c/BUKU2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
