
SEMBURAT JINGGA MENTARI
Saat itu masih pagi, beberapa putaran jam yang lalu mentari malu-malu menampakkan diri di ufuk timur. Ahh, mentari memang pemalu pada awal kebangkitannya. Namun, ia akan berangsur-angsur berubah menjadi garang di tengah hari. Lihat! Bulatan bola emas ciptaan Tuhan tampak begitu sempurna. Ia biarkan laut menikmati keindahan warnanya. Gurat lebar bayangan berwarna emas seolah menunjukkan jalur tetap sang mentari agar tidak tersesat menyimpang menyusuri jalur orbit.
Semula, awan berupaya membungkus si bola emas agar ia tidak memberikan tariannya pada dunia. Mentari sangat tersiksa dengan balutan erat sang mega. Sementara di bawah sana makhluk bumi merasa sangat sedih karena tidak sempat menyaksikan tarian indah sang mentari. Mentari berontak karena tarian itu harus ia tunjukkan dengan pongah kepada barisan penggemarnya. Ia berhasil melepaskan ringkusan sang mega yang sebenarnya sangat iri kepadanya. Ya, mega tidak punya cahaya. Ia hanya memiliki butir air di tubuhnya. Ia ingin meminta sebagian kecil semburat cahayanya agar ia tidak terlalu gelap. Tentu saja, mentari enggan membagi kekayaannya itu. Ia tidaksang mega memiliki sejumput cahayanya. Mentari tidak rela jika nanti sang mega enggan menampug uap air bumi dan berlomba menyorotkan cahaya ke muka bumi. Uffff, pasti bumi akan kepanasan!!!
“Tidak!! Pekiknya. Aku tidak rela membagi cahayaku kepadanya. Laut pun hanya kuberikan bayanganku saja karena ia berjanji memantulkan keindahanku di atas permukaannya. Laut tidak menolak hal itu meskipun semula ia ingin memiliki cahayaku juga. Kukatakan padanya bahwa jika ia memiliki sekeping cahayaku, ia akan kehilangan semua penghuni lautan. Wajahnya akan mendidih. Laut sangat mencintai seisi perutnya. Ia rela mengalah demi kehidupan banyak nyawa dan menyisihkan ambisinya untuk memiliki sahaya seperti bintang di langit,” gumam mentari dalam hati.
Mentari berontak hebat. Gembok ketat sang mega hancur berantakkan. Mega terkejut tidak pernah menduga melihat perjuangan mentari sehebat itu. Mentari melompat mengitari orbit. Membuka selimut malam yang kelam. Menggores bayangan indah di raut wajah sahabatnya, lautan. Ahhh, penduduk bumi menyambut diriku. Haii, lihat itu speed boat terikat rapi di dekat dermaga yang dibangun darurat di atas penahan gelombang. Ya, lihat bebatuan itu tampak jelas menumpuk rapi meredam amukan gelombang pasang samudera di selatan muka bumi. Tampak beberapa kepiting berlari sembunyi di bebatuan hitam itu. lagi-lagi kepiting nggak pernah mau mengahangatkan dirinya dengan balutan sinar hangatku.
Ahh, tampak seorang wanita bergaya di depanku. Hmmm … ia sengaja ingin menonjolkan diriku dalam foto yang diambilnya. Ia membiarkan dirinya menghitam dan tampak sebagai sebuah siluet gelap dalam sebuah gambar yang indah. Langit tampak indah terang benderang. Keindahan itu tampak berpadu harmonis dengan gurat keabuan wajah tua sang lautan. Tampak bayanganku jelas terhampar di belakang wanita yang sedang berpose itu. Ahh, bumi seakan memiliki dua mentari. Mentari yang tiada pernah enggan membagi cahaya pada dunia. Akankah keharmonisan ini berjalan selamanya?









0 komentar:
Poskan Komentar